Diwawancarai Itu…

Diwawancarai itu rasanya aneh. Sepertinya saya mulai banyak diwawancarai sejak menerbitkan buku pertama kali pada tahun 2016 lalu. Cerita perjalanan saya bisa dibaca di sini kalau kamu berminat.

Dalam rangka promosi buku pertama saya “Randomness Inside My Head”, sepanjang tahun 2016 sampai dengan 2017 saya sering diwawancarai.

Pertama kali diwawancarai secara resmi adalah pada saat book launching buku pertama saya. Setelah itu datang tawaran untuk menjadi tamu di segmen bedah buku di sebuah stasiun radio di Jakarta dan morning talkshow di sebuah stasiun televisi yang berbahasa Inggris.

Ketika berbagai tips dan pengalaman menjadi penulis pemula di beberapa webinar secara tidak langsung saya juga diwawancarai, ditanya-tanya dasar pemikiran dan tindakan saya, diulik-ulik hal-hal yang tercakup di dalam kehidupan pribadi dan profesional saya.

Saya tidak pernah keberatan diwawancarai. Beginilah saya apa adanya; what you see is what you get.

Satu hal yang saya sadari betul sejak mulai berkarya di dunia kepenulisan adalah tidak ada yang mengalahkan authenticity. Menjadi otentik, menjadi diri sendiri itu sangat penting.

Jaga image, membentuk persona baru, mati-matian mengupayakan personal branding hanya akan melelahkan dalam jangka panjang. Bagi diri saya, personal branding adalah siapa saya sebenar-sebenarnya, bukan siapa saya yang saya ingin orang lain lihat.

Personal branding yang jujur akan menghemat segala macam tenaga, waktu, dan biaya untuk me-maintain apa yang seharusnya tidak perlu di-maintain. Sekali lagi, itu pendapat pribadi saya, ya. Orang lain mungkin berpikir berbeda.

Sepanjang tahun ini saya sudah beberapa kali diwawancarai. Yang paling berkesan tentunya adalah pada saat peluncuran buku kumpulan cerpen saya “The Cringe Stories” pada bulan Maret lalu.

“The Cringe Stories” adalah buku ke-3 yang saya tulis dan “anak” pertama yang ditulis dalam bahasa Indonesia. Bagi saya pribadi, dia sangat istimewa karena merupakan saksi perjalanan saya menjadi anggota Kelas Literasi Ibu Profesional (KLIP).

Kesembilan cerpen yang ada di dalam “The Cringe Stories” adalah tulisan-tulisan yang menjadi setoran harian saya untuk KLIP sepanjang tahun 2020. Kamu dapat membaca dua cerpen berjudul “Gendut” dan “Mobil di Pengkolan” yang diambil dari buku itu di blog ini.

Beberapa waktu lalu saya mendapat email dari Eva di Jerman yang sedang mengikuti proyek buku antologi di rumah belajar yang dia ikuti. Eva tahu saya dari Halida, teman saya di KLIP yang pernah membantu saya mengoperasikan Streamyard saat peluncuran buku “The Cringe Stories”.

Tema dari buku antologi itu adalah public speaking. Eva ingin tahu bagaimana saya yang seorang penulis bisa beralih menjadi seorang podcaster, beralih dari media tulisan ke media suara.

Iya, selain blog ini saya juga memiliki akun siniar (podcast) sendiri sejak 6 Mei 2021 lalu. Akun yang saya beri nama seperti buku saya yang pertama bisa didengarkan di aplikasi Anchor, Spotify, Google Podcast, Apple Podcast, dan lain-lain.

Dengan slogan “Humanities, Parenting, Reviews” saya berbagi hal-hal yang saya pikirkan, baik secara monolog maupun secara dialog dengan mendatangkan bintang tamu yang merupakan teman-teman saya di berbagai komunitas yang saya ikuti.

Sejauh ini saya sudah mengerjakan 30 episode dengan beberapa segmen seperti “How’s Life in…” (wawancara dengan penduduk kota besar dan membahas kota mereka pascapandemi), “Parade Penulis Asia” (mengulik beberapa penulis Asia yang bukunya saya baca), review drama-drama Korea, dan tentu saja hal-hal yang terkait dengan humanities and parenting.

Berhubung saya tidak ingin kehilangan konten momen, saya menawarkan Eva untuk menjadi bintang tamu di podcast saya. Jadi, rencananya saya yang akan diwawancarai oleh tamu saya, dan bukan sebaliknya.

Sekali rekam, dua tiga tujuan tercapai. Eva bisa mendapat bahan untuk penulisan buku antologinya dan saya bisa merekam momen ketika saya diwawancarai. Saya jarang sekali memiliki rekaman dari wawancara yang saya lakukan padahal saya ingin mewariskannya untuk anak-anak saya kelak.

Wawancara berlangsung selama kurang lebih 50 menit pada hari Jumat lalu. Saya dan Eva memang connected, rasanya seperti sudah kenal lama padahal kami baru sekali berbalasan email dan pembicaraan selanjutnya dilakukan melalui Whatsapp.

Kalau kamu ingin tahu bagaimana penulis bisa menjadi podcaster, kamu bisa mendengarkan episode “From Writer to Podcaster” di link di bawah ini. Pada intinya semua hal mungkin terjadi dan bisa dilakukan, kalau dilakukan dengan cinta.

Sebab cinta mengenal usaha.

– Rijo Tobing –

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s