Belajar Bahasa Itu Seperti Belajar Matematika

Halooo! Kembali lagi dengan tantangan ngeblog dari komunitas Mamah Gajah Ngeblog yang saya ikuti.

Sebagai seorang polyglot, tema tantangan bulan September ini sangat menarik hati saya.

Pengalaman Berbahasa Seumur Hidup

Kalau saya menuliskan pengalaman hidup saya dalam berbahasa, mungkin kumpulan tulisan itu bisa menjadi buku tersendiri. Begitu luas, mendalam, dan kaya pengalaman saya dalam mempelajari, menggunakan, dan termasuk melupakan berbagai bahasa yang saya pernah temui sepanjang hampir empat dekade.

Sebagai informasi awal, saya sudah pernah mempelajari delapan buah bahasa.

Empat buah bahasa masih saya gunakan secara aktif sampai sekarang, dengan keahlian membaca, menulis, berbicara, dan mendengar. Keempat bahasa yang masih saya gunakan secara aktif adalah bahasa Indonesia, Inggris, Jerman, dan Korea, berdasarkan urutan waktu saya mulai belajar.

Empat bahasa lagi sudah menuju kepunahan karena tidak ada lingkungan pendukung dan rekan penutur yang “memaksa” saya tetap menggunakan keempat bahasa tersebut. Keempat bahasa yang menuju kepunahan di dalam hidup saya adalah bahasa Batak, Sunda, Jepang, dan Perancis, berdasarkan urutan kosakata yang saya masih ingat dari banyak ke sedikit.

Bisa karena biasa dan itu berlaku buat bahasa.

Saya memberi judul tulisan ini belajar bahasa seperti belajar matematika berdasarkan pengalaman saya berbahasa. Sebelum memaparkan lebih lanjut, mari saya ceritakan sedikit tentang latar belakang keluarga saya.

1. Benarkah Anak Polyglot Karena Orang Tua Polyglot?

Apa arti kata polyglot?

Seorang polyglot adalah seseorang yang mengetahui dan mampu menggunakan berbagai bahasa.

Kata orang, menguasai berbagai bahasa itu sebuah bakat, sebuah hal yang diturunkan dari orang tua ke anak. Meskipun rajin mencari ketika sedang senggang, saya belum pernah menemukan artikel atau jurnal yang meneliti kemampuan berbahasa sebagai salah satu DNA yang diwariskan secara genetik.

Yang saya alami sendiri dan yang saya amini adalah latar belakang keluarga itu ibarat tanah yang subur bagi tanaman yang bernama kemampuan berbahasa dapat bertumbuh kuat dan berkembang.

Kedua orang tua saya adalah polyglot secara alamiah karena lingkungan tempat mereka lahir dan dibesarkan. Ayah saya pernah mempelajari bahasa Batak Toba, Batak Karo, Batak Simalungun, Indonesia, Inggris, Jerman, Ibrani, Yunani, Latin, Belanda, Perancis, Jawa, dan Sunda. Ibu saya pernah mempelajari bahasa Batak Toba, Batak Karo, Batak Simalungun, Indonesia, Inggris, Jerman, dan Sunda.

Akan tetapi, sebagai polyglot mereka memiliki prinsip unik: harus mantap dulu di satu bahasa sebagai mother tongue sebagai bekal untuk mempelajari bahasa-bahasa lain.

Demi kemaslahatan bersama, kedua orang tua saya memilihkan bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu anak-anak mereka, tapi itu tidak menghentikan pemakaian dan eksposur terhadap berbagai bahasa di rumah kami secara bergantian, mulai dari bahasa Batak Toba, Batak Simalungun, Sunda, Inggris, dan Jerman.

Yang saya pelajari sejak tahun-tahun awal kehidupan saya adalah sebagai berikut:

  1. penggunaan bahasa membutuhkan rekan penutur, bahan bacaan, media untuk menulis, dan eksposur terhadap percakapan dalam bahasa itu,
  2. berganti bahasa tidak berarti menerjemahkan kata per kata, tapi hanya mengganti “alat” (bahasa) yang dipakai dalam situasi/konteks yang sama,
  3. keluwesan berganti bahasa bukanlah bakat; ia adalah produk dari disiplin, kerja keras, dan pembiasaan diri yang membutuhkan alokasi waktu, tenaga, biaya, dan pikiran.

Saya adalah seorang polyglot, bukan karena bakat, tapi karena didikan untuk menjadi demikian dari kedua orang tua saya yang sudah lebih dulu menjadi polyglot.

Koleksi kamus: dari bahasa Inggris ke bahasa Korea.

Seperti perpustakaan di rumah orang tua saya yang mengoleksi banyak kamus dari berbagai bahasa, demikian pula dengan perpustakaan di rumah saya. Kata ibu saya, memiliki kamus adalah langkah pertama untuk mulai belajar bahasa asing.

2. Dari Bahasa Indonesia ke Bahasa Korea

Bahasa Indonesia adalah bahasa ibu saya, bahasa saya yang pertama, dan bahasa Korea adalah bahasa asing kelima yang sedang saya pelajari secara formal selama setahun terakhir. Perjalanan dari bahasa Indonesia ke bahasa Korea mencakup di antaranya pembelajaran dua bahasa daerah (Batak dan Sunda) dan empat bahasa asing lainnya (Inggris, Jerman, Jepang, dan Perancis).

Saya tidak ingat betul kapan mulai belajar bahasa Batak dan Sunda; sepertinya itu terjadi secara natural karena keberadaan penutur kedua bahasa itu di sekitar saya. Namun, saya ingat betul kapan mulai belajar lima buah bahasa asing sepanjang 33 tahun terakhir.

1. Bahasa Inggris

Saya mempelajarinya sejak berusia 6 tahun dengan menonton serial “Sesame Street” di stasiun televisi RCTI ketika itu. Pada saat bersamaan saya disuruh untuk mulai menulis fiksi oleh walikelas saya akibat sebuah insiden.

Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Walhasil saya disuruh oleh ayah saya untuk mulai menulis fiksi dalam bahasa Inggris di buku harian, sebuah diary yang bergambar beruang imut pada sampulnya, sejak kelas 1 SD.

Tantangan terbesar dalam berbahasa Inggris adalah ketika saya mengikuti program penelitian di Tokyo Insitute of Technology (Tokyo Tech) pada tahun 2003.

Bahasa pengantar sepanjang program, ekskursi, dan penelitian adalah bahasa Inggris. Untuk kuliah sehari-hari, saya dan 20 orang exchange students dari Young Scientist Exchange Program dapat mengambil kelas-kelas yang disediakan untuk mahasiswa internasional program pascasarjana.

Bahasa Inggris yang digunakan dalam percakapan sehari-hari dan dalam karya sastra yang saya sering baca tentu sangat berbeda dengan bahasa Inggris di bidang keilmuan tertentu. Sambil meneliti rasanya seperti belajar bahasa Inggris dari nol untuk bidang studi total quality management and engineering.

Saya menggunakan bahasa Inggris secara aktif ketika bekerja di multinational corporation (MNC) dengan pekerja dari berbagai bangsa dan bahasa. Bahkan setelah memutuskan menjadi ibu rumah tangga, saya tetap menulis, berbicara, membaca, dan mendengar dalam bahasa Inggris. Oleh karena itu, tak heran jika buku pertama saya, kumpulan cerpen berjudul “Randomness Inside My Head” (2016), ditulis dalam bahasa Inggris.

Saat ini saya menggunakan bahasa Inggris secara aktif untuk berkomunikasi di rumah dengan ketiga anak saya yang menempuh pendidikan di sekolah yang bilingual. Anak saya yang kedua malah secara sadar memilih bahasa Inggris daripada bahasa Indonesia sebagai mother tongue baginya, seperti anaknya Uril yang jago menulis fiksi dalam bahasa Inggris (kolaborasi, yuk, hehe).

Satu-satunya buku pembelajaran bahasa Inggris yang ada di rumah yang merupakan hadiah dari teman.

2. Bahasa Jerman

Ketika saya berusia 7 tahun, ibu saya memasukkan saya ke kursus bahasa Jerman untuk anak-anak di Goethe Institut Bandung. Selain mengajar di UPI, ibu saya juga adalah bagian dari staf pengajar di Goethe Institut sampai beliau pensiun pada usia 65 tahun. Beliau berprinsip semua anaknya harus pernah belajar bahasa Jerman. Mengenai apakah sampai tingkat advanced atau tidak, itu perkara belakangan.

Bahasa Jerman sendiri mengantar saya ke Jepang. Kemampuan berbahasa asing lebih dari satu adalah salah satu faktor penentu keberhasilan mendapatkan beasiswa untuk Young Scientist Exchange Program di Tokyo Tech yang saya jelaskan di atas.

Berhubung YSEP tidak sekedar soal penelitian, tapi juga soal kemampuan berkomunikasi dan menjalin persahabatan dengan orang-orang dari berbagai bangsa, budaya, dan bahasa, saya satu-satunya kandidat yang lulus waktu itu karena menguasai bahasa asing selain bahasa Inggris.

Sebagian dari setumpuk buku pembelajaran bahasa Jerman yang ada di rumah. Saya mengalami belajar mulai dari buku Themen Neu dengan ujian internasional bernama ZD, sampai ke buku Studio D dengan ujian internasional berjenjang mulai dari A, B, sampai C. Ujian ZD yang saya tempuh setara dengan B1 di sistem baru.

3. Bahasa Jepang

Bahasa Jerman mengantar saya mendapatkan beasiswa ke Jepang. Meskipun bahasa pengantar di program dan di laboratorium adalah bahasa Inggris, saya wajib mengambil mata kuliah bahasa Jepang yang disediakan di kampus Tokyo Tech.

Sebelum mendarat di Tokyo, saya mendapat paket buku pengantar belajar bahasa Jepang, yang tentunya terlalu sederhana bagi pemula seperti saya. Begitu mendarat di Tokyo tiba-tiba saya menjadi orang buta, tuli, dan bisu.

Bahasa Jepang tidak menggunakan aksara Latin. Sewaktu masih di Indonesia saya sudah menyempatkan diri mempelajari Hiragana dan Katakana, tapi kemampuan saya membaca Kanji nol besar. Ke mana pun saya menoleh, saya tidak mendengar orang berbicara dalam bahasa Inggris. Papan petunjuk dalam bahasa Inggris pun sangat minim (dan sangat melimpah dalam bahasa Mandarin dan Korea).

Sumber gambar: fun-japan.jp

Belajar bahasa Jepang itu susah-susah-susah, tidak seperti bahasa Jerman yang menggunakan aksara Latin. Rasanya seperti belajar baca-tulis dari dasar sekali. Menurut teman-teman di laboratorium saya, bahasa Inggris itu susahnya kebangetan, padahal tidak sama sekali menurut saya. Mentor yang menjadi pembimbing saya selama program sampai belajar bahasa Inggris di summer course di Australia selama 2 bulan sebelum saya datang supaya nantinya bisa membantu saya menyesuaikan diri.

Bahasa Jepang saya sudah menuju kepunahan, tapi ia telah memberi saya berbagai kesempatan. Di Swis saya berkawan akrab dengan tetangga yang orang Jepang. Beberapa kali saya menolong turis Jepang yang tersesat di Jungfraujoch atau Zermatt Matterhorn (puncak gunung yang gambarnya ada di bungkus cokelat Toblerone). Mereka terheran-heran bagaimana bisa bertemu dengan seorang Indonesia yang berbahasa Jepang di gunung di Swis.

Buku-buku pembelajaran bahasa Jepang yang saya bawa ke mana pun saya pindah: Tokyo – Bandung – Surabaya – Balikpapan – Jakarta – Bekasi.

4. Bahasa Perancis

Setelah Jepang, saya kemudian berkesempatan tinggal di kota Neuchâtel, Swis karena pekerjaan suami saya. Swis menggunakan tiga bahasa resmi yaitu Jerman, Perancis, dan Italia, dan kota tempat kami tinggal adalah bagian dari Swis yang berbahasa Perancis.

Ketika tiba di Swis, saya hanya bisa mengucapkan merci beaucoup, bonjour, au revoir, je m’appele Rijo, anglais, dan je t’aime (terima kasih banyak, halo, selamat tinggal, nama saya Rijo, English, dan saya cinta kamu). Dalam beberapa bulan saya sudah bisa mencari taksi yang menyediakan baby car seat untuk anak saya yang pertama yang ketika itu masih berusia di bawah 12 tahun.

Kemampuan bahasa Jerman memang sangat membantu saya dalam mempelajari bahasa Perancis. Kemampuan itu juga membuat saya bisa survive di tengah kota yang mayoritas penduduknya berbahasa Perancis dan minoritasnya berbahasa Jerman dan Italia.

Seperti bahasa Jerman, bahasa Perancis memiliki artikel (maskulin dan feminin), berubah sesuai pronoun (kata ganti orang: saya, kamu, kita, dst.), berubah sesuai tenses, dan seterusnya. Oleh karenanya saya maklum dengan berbagai aturan dalam bahasa Perancis. Saya tidak lagi mempertanyakan mengapa artikel untuk bulan adalah la (feminin) dan bukan der (maskulin) seperti di bahasa Jerman.

Ya, aturannya memang begitu. Terima saja.

Bahasa Perancis saya terasah kembali ketika kami bertetangga dengan keluarga dari Perancis yang lama tinggal di Guangzhou. Tetangga saya yang merupakan seorang guru di Paris sebelum pindah ke Cina dan kemudian Indonesia mengikuti suaminya, menawarkan diri untuk mengajari saya bahasa Perancis sebagai ganti saya mengajarinya bahasa Indonesia.

Selama hampir dua tahun saya berkutat lagi dengan bahasa Perancis dan belajar dengan menggunakan buku dari tempat les saya ketika di Swis dan materi tambahan dari fun-mooc.fr, semacam Coursera yang berbahasa Perancis.

Eksposur saya terhadap bahasa Perancis sekarang hanya dari berkomunikasi dengan guru saya di Whatsapp dan Instagram. Kebalikan dengan bahasa Jepang, untuk bahasa Perancis saat ini saya lebih bisa membaca dan menulis daripada berbicara dan mendengar. Akan tetapi, bahasa Perancis seperti bahasa Jepang sama-sama menuju kepunahan di otak saya.

Buku-buku pembelajaran bahasa Perancis yang merupakan hadiah-hadiah dari guru/tetangga saya dan teman-teman saya di Swis. Belajar bahasa Perancis harus sangat kuat di ortografi (sistem ejaan suatu bahasa atau gambaran bunyi bahasa yang berupa tulisan dan lambang), grammar, dan konjugasi.

5. Bahasa Korea

Pada tahun 2016 saya mulai belajar taekwondo bersama anak saya yang pertama. Dojang (tempat latihan taekwondo) dipimpin oleh seorang Korea dan semua muridnya adalah orang Korea. Hanya ada saya dan guru bahasa Perancis saya yang bukan orang Korea dan berbicara dalam bahasa Inggris.

Saya merasa wajib mulai belajar bahasa Korea supaya bisa berkomunikasi dengan guru, senior, dan teman saya berlatih taekwondo. Selama empat tahun saya belajar bahasa Korea dari teman-teman taekwondo saya sambil minum kopi, dan belajar secara otodidak dari menonton drama Korea dan video klip K-Pop.

Proses belajar saya terlalu serabutan. Saya terbiasa membaca, berbicara, dan mendengar, tapi nyaris tidak bisa menulis. Grammar yang saya ketahui pun sangat terbatas, hanya seputar percakapan sehari-hari yang memakai ragam formal dan sopan karena lawan bicara saya adalah guru dan para senior yang notabene lebih tua dari saya.

Pada awal tahun ini saya memantapkan hati untuk belajar secara formal di kursus. Untunglah saya diterima di King Sejong Institute yang dikelola oleh Korean Cultural Center Indonesia. Pada bulan Juni lalu saya lulus dari level Sejong 1 dengan nilai rata-rata 97 dari 100 untuk tes membaca, mendengar, berbicara, dan menulis. Saya melanjutkan ke level Sejong 2 sejak bulan Agustus lalu dan mengambil kelas conversation di tempat les lain (KSIC) untuk mempercepat proses belajar saya.

Seperti halnya bahasa Inggris dan Jerman, saat ini saya menggunakan bahasa Korea secara aktif. Rasa cinta pada segala hal kokoriyaan itu membuat saya berani mendaftar dan terpilih menjadi honorary reporter untuk periode 2021-2022 untuk Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata Korea Selatan. Perjalanan belajar bahasa Korea masih sangat panjang di depan, dan saya sangat bersemangat menjalaninya.

Sertifikat penugasan saya sebagai honorary reporter selama 1 tahun (2021-2022)
Sebagian dari buku-buku pembelajaran bahasa Korea yang ada di rumah. Dua buku di sebelah kiri adalah warisan dari adik saya yang sudah lebih dulu belajar di King Sejong Insitute yang dikelola oleh KCCI.

3. Belajar Bahasa Itu Seperti Belajar Matematika

Tahun lalu saya menulis ini untuk Mas Menteri Pendidikan mengenai perlunya penyederhanaan kurikulum di negara kita. Di situ saya mengemukakan alasan mengapa matematika dan bahasa itu setali tiga uang. Dalam matematika dan bahasa kita melakukan tiga hal berikut:

  1. Melihat pola.
  2. Melakukan pengelompokan.
  3. Membentuk formula.

Contoh sederhana dalam matematika adalah penentuan bilangan genap dan ganjil.

Kita melihat pola: ada bilangan yang kalau dibagi dua ada bagian dari bilangan itu yang tidak mempunyai pasangan. Contohnya adalah angka 3. Tiga unit jika dibagi 2 akan menghasilkan 1 set pasangan (yang terdiri dari 2 unit) dan 1 unit yang tidak punya teman. Demikian pula dengan angka 5. Lima unit jika dibagi 2 akan menghasilkan 2 set pasangan (yang terdiri dari 2 unit) dan 1 unit yang sendirian.

Dari situ kita melakukan pengelompokan: bilangan yang habis dibagi 2 dan tidak habis dibagi 2 berderet secara berselang-seling. Ada jarak 2 bilangan di antara bilangan-bilangan yang sama-sama habis dibagi 2, atau sama-sama tidak habis dibagi 2.

Terakhir kita menentukan formula. Formula untuk bilangan genap adalah 2n dengan n = bilangan cacah yang dimulai nol. Oleh karena itu, bilangan genap dimulai dari 0, lalu, 2, 4, dan seterusnya. Formula untuk bilangan ganjil adalah 2n + 1 dengan n = 0, 1, 2, …. Angka 1 di sini menunjukkan keadaan tanpa pasangan dari unit yang tersisa setelah bilangan itu dibagi 2. Bilangan ganjil dimulai dari 1, 3, 5, dan seterusnya.

Bagaimana dengan bahasa? Semua bahasa yang saya pernah pelajari dan masih kuasai (bahasa ibu, bahasa daerah, bahasa asing) tidak terlepas dari ketiga langkah itu: melihat pola, melakukan pengelompokan, dan membentuk formula.

Mengapa dalam bahasa Indonesia kita tahu kata dasar “baca” harus ditambahi imbuhan “me-” kalau ingin dijadikan kata kerja aktif? Mengapa kita menerima bentuknya yang kemudian berubah menjadi “membaca” dan bukan “mebaca”?

Itu karena para bapak dan ibu yang memelopori bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan kita merumuskan tata bahasa dengan melihat pola, melakukan pengelompokan, dan membentuk formula.

Mereka menentukan bahwa kata dasar yang ditambahi imbuhan “me-” akan menjadi kata kerja aktif (FORMULA). Persoalannya sekarang, huruf awal kata dasar berbeda-beda, apakah kata kerja yang terbentuk harus berubah bentuk dan bunyinya karena pelafalan, atau dibiarkan saja seperti semula?

Mereka lalu mengelompokkan kata-kata dasar berdasarkan huruf awalnya (KELOMPOK). Lalu mereka memutuskan huruf sisipan untuk mempermudah pelafalan kata itu (POLA dan FORMULA). Sebagai contoh:

me- + kata dasar berawalan huruf “c” dan “d” = me(n) + kata dasar

me- + kata dasar berawalan huruf “b” = me(m) + kata dasar

dan seterusnya.

Mudah sekali mempelajari bahasa Inggris sebagai bahasa asing pertama untuk sebagian besar orang jikalau kita bisa melihat kelompok dan formula. Kata kerja di dalam bahasa Inggris dikelompokkan menjadi tiga: verb 1, 2, dan 3. Formulanya jelas untuk setiap kelompok (kata kerja ditambah akhiran “-ing” atau akhiran “-ed” untuk regular verb). Semua bentuk ada pakemnya dan bisa dikalkulasi.

Bahasa Jerman dan bahasa Perancis pun demikian. Semakin lama mempelajari kedua bahasa ini, kemampuan kita menebak pola dan mengikuti formula akan semakin meningkat.

Sebagai contoh, dalam bahasa Jerman kata kerja dasar akan berakhiran “-en” atau “-n”.

gehen = pergi

trinken = minum

Dalam bahasa Jerman (dan Perancis) kata kerja berubah menurut kata ganti orang (pronoun) dan tenses. Contohnya kata kerja gehen pada present tense. Untuk saya (ich) gehen menjadi gehe. Untuk dia (he/she –> er/sie) gehen menjadi geht.

Dengan melihat sebuah pola yang berulang saya bisa memikirkan formula yang membuat saya bisa menebak perubahan bentuk kata kerja (konjugasi) untuk kata trinken.

Ich trinke. –> hilangkan akhiran “-n”

Er/sie trinkt. –> hilangkan akhiran “-en” dan ganti dengan akhiran “-t”

Tentu saja ada perkecualian di mana-mana, itu terjadi di berbagai bahasa, tapi ada standar dan pakem, pola dan formula yang secara umum sangat membantu mempelajari sebuah bahasa baru.

Ketika mulai mempelajari bahasa Korea, saya merasa sangat terbantu karena pernah belajar bahasa Jepang. Kedua bahasa ini selain menggunakan aksara tersendiri, juga berangkat dari konsep verb stem.

Verb stem adalah unit paling dasar dari sebuah kata yang berkonjugasi tergantung  pada pemakaiannya. Belajar bahasa yang menggunakan verb stem adalah belajar bahasa dengan terus menerus melihat pola dan mengaplikasikan formula.

Semua kata kerja dasar dalam bahasa Korea menggunakan akhiran “다” (baca: da/ta). Verb stem adalah susunan huruf yang mendahului akhiran “다” tersebut dan berkonjugasi mengikuti berbagai aturan.

Berikut ini adalah contohnya :

Makan = to eat = 다 (Romanisasi: meogda)

Susunan huruf “” adalah verb stem dari kata “다” yang berarti “makan” itu sendiri. Kata kerja “다” akan berubah tergantung tujuan pemakaiannya. 

Saya akan memberikan contoh perubahan kata “다” dengan mengacu pada aturan tenses dalam bahasa Inggris dan dalam penulisan aksara Korea (Hangeul).

1. Penanda simple present tense pada percakapan kasual: 다 (meogda) menjadi 어요 (meogeoyo).

2. Penanda simple present tense pada percakapan formal: 다 (meogda) menjadi 습니다 (meogseumnida).

3. Penanda simple past tense pada percakapan kasual: 다 (meogda) menjadi 었어요 (meogeosseoyo).

4. Penanda simple past tense pada percakapan formal: 다 (meogda) menjadi 었습니다 (meogeossseumnida).

5. Penanda present continuous tense pada percakapan kasual: 다 (meogda) menjadi 고 있어요 (meoggo isseoyo).

6. Penanda ajakan pada percakapan kasual: 다 (meogda) menjadi 자 (meogja).

7. Dan seterusnya.

Di dalam bahasa Jepang yang juga menggunakan verb stem, semua kata kerja berakhiran “る” (baca: ru). Contohnya adalah kata 食べる, taberu yang berarti makan. Verb stem-nya adalah kata tabe (食べ).

Kata taberu dalam percakapan formal di masa kini menjadi tabemasu (食べます), dalam percakapan formal di masa lampau menjadi tabemashita (食べました). Untuk menandakan keinginan untuk makan: taberu menjadi tabetai (食べたい).

Jadi, perubahan kata kerja berangkat dari satu verb stem (tabe-, 食べ). Akhirannya saja yang berubah untuk menandakan berbagai kondisi dan makna, dan di situlah kita mengidentifikasi pola dan formula.

4. Attitude yang Diperlukan Ketika belajar Bahasa

Hanya ada satu attitude yang diperlukan ketika mempelajari berbagai bahasa, secara bersamaan ataupun tidak.

Terima saja semua aturan berbahasa yang sudah ditentukan, baik itu grammar, tenses, konjugasi, letak predikat dalam kalimat, dan sebagainya.

Terima saja.

Dengan attitude ini kita membuka hati, membuatnya selapang mungkin untuk menerima informasi dan pengetahuan baru. Kosongkan dulu gelas kemampuan berbahasa kita untuk menerima air kemampuan berbahasa yang baru, kurang lebih seperti itu.

Waktu saya les bahasa Jerman semasa SMA, saya sekelas dengan seorang pebisnis dari India. Terus terang saya tidak tahu bagaimana struktur kalimat di bahasa India, apakah seperti bahasa Indonesia yang memakai struktur S-P-O-K, atau tidak. Yang saya ingat jelas adalah bagaimana dia sedikit-sedikit memprotes mengapa predikat dalam bahasa Jerman ditaruh di bagian akhir kalimat.

Misalnya begini:

Ich habe das Rindfleisch gegesen. (Saya sudah makan daging sapi).

ich = saya –> subjek

habe gegesen = sudah makan –> predikat

das Rindfleisch = daging sapi –> objek

Di struktur bahasa Indonesia dan bahasa Inggris susunan S-P-O dari kalimat itu berurutan.

Saya sudah makan daging sapi. I have eaten beef. –> S-P-O

Selama 1 tahun (2 semester, karena saya satu kelas dengan bapak itu selama 2 level), saya mendengar keluhan demi keluhan “mengapa begini, mengapa begitu” yang selalu ditanggapi dengan santai oleh guru kami. Sampai suatu ketika dia bertemu dengan ibu saya di level ketiga (Grundstufe 2.1).

Waktu itu kami sedang belajar membuat anak kalimat. Misalnya:

Ich kann nicht gehen, weil ich schläfrig bin. Saya tidak bisa pergi karena saya mengantuk.

Predikatnya adalah kann gehen (bisa pergi) dan bin schläfrig (mengantuk).

Si bapak heboh. “Kenapa tidak seperti bahasa Inggris yang predikatnya persis setelah subjek?” protesnya (lagi).

Ibu saya menjawab, “Anda ‘kan sedang belajar bahasa Jerman dengan semua aturannya, bukan sedang belajar bahasa Inggris.”

Semester berikutnya si bapak tidak melanjutkan les lagi, hahaha.

Predikat dalam bahasa Korea pun diletakkan di akhir kalimat, persis seperti bahasa Jerman. Lucunya, struktur kalimat dalam bahasa Korea dipandang sudah lengkap jika mengandung predikat saja (dan objek, jika ada). Hal ini tidak mungkin terjadi di pemakaian bahasa Jerman.

Begitulah bahasa, unik dengan caranya masing-masing. Kita sebagai pembelajar baru harus merangkul semua perbedaan dan persamaan dengan apa yang kita sudah ketahui sebelumnya. Tidak usah diprotes; terima saja.

5. Mau Belajar Bahasa Apa?

Belajar bahasa tak kenal usia dan penguasaan bahasa sangat rewarding seperti halnya belajar musik. Belajar bahasa baik untuk utilisasi otak. Kalau kamu menyukai matematika, mudah melihat pola dan mengikuti formula, pasti kamu tidak akan kesulitan dalam belajar bahasa (daerah atau asing sekalipun).

Ada satu tips bermanfaat dari guru bahasa Jepang saya di Tokyo dan atasan suami saya ketika kami tinggal di Swis.

Mulailah dengan menghafalkan kata kerja dasar dan kata benda.

Menghafalkan kata kerja yang berangkat dari verb stem (bahasa Jepang dan Korea) dan berkonjugasi menurut pronoun dan tenses (bahasa Jerman dan Perancis) tentu akan terasa overwhelming. Akan tetapi, semua orang mengerti kata kerja dasar, anak-anak pun mulai belajar dari kata kerja dasar. Jadi, tak ada salahnya memulai dari situ.

Semoga tulisan ini in a way bermanfaat untuk kamu. Sampai jumpa di tulisan tantangan bulan depan!

11 thoughts on “Belajar Bahasa Itu Seperti Belajar Matematika

      1. Aku lulus d LIA kelas 1 atau 2 SMU, tp utk jd guru di LIA dulu itu harus dr S1. Ada tempat kursus lain yang punya kelas persiapan jd guru, aku jg baru tau pas dapet beasiswanya. Aku ajuin, eh diterima.

        Like

  1. Dear God, Rijo, (me and) my son would be very honoured to do that collaboration. Shall we schedule it? 😍

    Btw, content-nya luar biasa, Rijo. Sangat menginspirasi. 👏👏

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s