Belajar Membuat Keramik

Beberapa minggu lalu saya bermimpi seorang teman lagi sakit. Seperti biasa, setiap kali saya bermimpi seperti itu saya akan cek langsung kondisi orangnya. Saya kontak dia via WA dan kami pun ngobrol panjang-lebar. Ujung-ujungnya kami janjian untuk ketemu hari Minggu ini sebelum dia pergi sekolah ke negara lain.

Kami berjanji ketemu di Cafe Batavia di kawasan Kota Tua, Jakarta. Buat orang Jakarta atau yang sudah pernah ke kawasan Kota Tua pasti tahu dong ya gimana ruwetnya situasi lalu-lintas dan perparkiran di sekitar kawasan itu. Sepulang gereja saya bilang ke suami kalau saya lelah jika harus nyetir ke sana, bagaimana kalau saya naik bis saja? Kontan saya dikasih pandangan meragukan oleh suami. Kalau saya ingat-ingat, terakhir kali pakai angkutan umum di Jakarta seorang diri itu tahun 2003 waktu saya kerja praktek di Siemens, Jakarta Pusat. Tahun 2008 saya sempat bekerja dan kost di Jakarta Selatan, tapi waktu itu ada mobil jadi tidak pernah pakai bis/angkot/ojek. Jadi hari ini saya beranikan diri untuk pakai kendaraan umum menuju ke dan di dalam kota Jakarta setelah sekian lama tidak mencobanya.

Tahap 1: siapkan kartu Flazz untuk membayar tiket busway. Tahap 2: bawa minum, cemilan, dan jaket karena AC di bis sering dingin banget. Saya naik bis jam 11 siang dan ternyata bis penuh walau kondektur kasih tahunya setelah saya naik (errr ….). Akhirnya saya duduk di lantai di sebelah pintu bis selama 1 jam-an. Saya turun di Komdak bawah dan menyeberang ke halte busway untuk ambil bis ke arah Kota. Nunggu bis 25 menit, perjalanan di bisnya 15 menit ūüėÖ. Di dalam bis saya ga dapat tempat duduk juga, huhu. Setiba di halte Kota Tua saya ¬†menderita karena panas terik dan udara yang lembab, bener-bener kebalikan dari udara dingin nan sejuk dari AC di dalam 2 bis yang saya tumpangi.

Dari perhentian bis saya menyeberang jalan ke arah alun-alun di depan Museum Fatahillah untuk menuju Cafe Batavia. Masuk cafe ini berasa seperti ada di negara lain (Eropa) dengan interior yang klasik, dinding yang ramai dengan foto-foto yang dipajang artistik, dan chandelier-chandelier yang bikin ngiler.

IMG_7644.JPG

Hallo, liebe Freundin! ūüėė

Setelah kenyang makan dan puas ngobrol, kami pun berjalan ke Museum Senin Rupa dan Keramik yang berada di arah jam 10 dari pintu masuk Cafe Batavia. Tiket masuknya Rp 5.000,00. Kalau tidak salah sedang ada pameran sesuatu di dalam museum, tapi saya dan teman saya langsung menuju ke tempat membuat keramik.

Kenapa saya ingin belajar membuat keramik? Waktu tante saya meninggal akhir bulan Juli lalu, saya sedang membaca buku “The Happiness Project” karangan Gretchen Rubin. Seperti Gretchen pada waktu dia memulai project ini, hidup saya juga tidak sedang tidak bahagia. Namun ada 2 hal penting yang saya tangkap dari buku ini, yaitu tentang: 1) menghargai masa kini yang sedang saya jalani (enjoying the present) dan 2) mendorong diri saya untuk mencoba hal-hal baru untuk mendapat perspektif-perspektif baru. Naik kendaraan umum – CHECKED. Sekarang saya mau mencoba membuat barang dari tanah liat.

Biaya proyek ini Rp 50.000,00 untuk 1 kg tanah liat dan instruktur. Dari awal saya sudah kasih tahu pengajar saya kalau saya mau membuat 2 buah mug untuk 2 anak saya (suami ga kebagian, hehe). Ada beberapa hal yang saya pelajari di sini:

1. Membentuk keramik intinya adalah tentang memanfaatkan momentum yang diciptakan oleh roda pemutar. Roda pemutar digerakkan oleh kaki (secara bergantian), dan gaya sentrifugal yang diakibatkan putaran roda itu kita manfaatkan untuk membentuk tanah liat ke atas atau ke samping. Dalam proses ini sebenarnya tangan kita tidak bekerja banyak dan ini membuat saya sedikit frustasi. Saya sering bekerja dengan tangan (menjahit, menggambar, dan sederetan pekerjaan rumah tangga), jadi saya asing dengan konsep bekerja dengan tangan tanpa banyak mengeluarkan tenaga. Kedua tangan saya cuma menempel di tanah liat, tapi karena momentum yang diciptakan oleh roda bentuk mug yang saya inginkan terwujud juga.

2. Letting go dan giving up itu beda tipis (Danke, Maria!). Waktu membentuk mug saya suka gemes kalau bagian pinggirnya tidak sama rata, bagian dalamnya ada yang coak, dll. Dan saya yang perfeksionis ini sangat stres waktu mengukir nama anak-anak di permukaan mug. Saya mengukir nama dengan tusuk gigi dan pasti ada tanah liat yang tercongkel dan permukaan yang jadi tidak halus lagi. Waktu membuat mug pertama, saya kurang perfeksionis karena belum familiar banget dengan tanah liat. Waktu membuat mug kedua, saya menghabiskan waktu jauh lebih banyak karena saya sudah tahu cara memutar roda dan menghapus bagian yang sudah saya ukir. Akibatnya saya mengukir nama anak ke-2, yang cuma 3 huruf, sebanyak 3 kali karena saya bolak-balik menghapusnya. Akhirnya saya memutuskan bahwa “It’s enough” karena jam kunjung museum yang hampir berakhir, haha.

Kedua mug yang masih basah dimasukkan ke dalam kotak nasi Padang dan saya bawa dengan hati-hati sekali di perjalanan pulang (kali ini dengan taksi lalu dengan bis). Apa daya, waktu turun dari bis di dekat rumah kotak di tangan saya tersenggol orang di sebelah saya dan mug anak-anak agak penyok (nangis bombay). Katanya saya harus menjemur mug di bawah sinar matahari tidak langsung selama 3 hari supaya tanah liatnya kering benar.  Wah, saya sudah tidak sabar! Oya, instruktur di museum ini bisa dipanggil lho untuk mengadakan workshop membuat keramik di luar museum (misalnya workshop untuk ibu-ibu arisan, ehehehe). Jumlah instruktur yang bisa mengajar ada 3 orang dan mereka akan membawa 3 roda pemutar yang ukurannya besar itu.

 

 

Advertisements

Saling Memahami Antara Suami-Istri

Setiap hari Senin pagi biasanya mood saya ga bagus. Akhir pekan terlalu cepat berlalu, dan saya ga bisa lagi bangun siang dan tidur subuh demi menulis, hehe. Udah mood ga bagus, males pergi latihan taekwondo, pagi ini saya dan suami sedikit berdebat pula tentang makanan.

S(uami)            : Mam, ini ada nasi sisa tadi malam. Mau bikin nasi goreng tapi ga ada bumbunya nih.

I(stri)               : Bumbu jadi maksudnya? Bukannya kita ga suka pake bumbu jadi?

S                      : Bukan bumbu jadi. Kemiri ada, bawang merah ada, tapi cabe merah ga ada.

I                       : Ada, kok, di kulkas. Cabe merah kecil dan cabe hijau kecil ada semua.

S                      : Ga bisa cabe merah kecil. Harus cabe merah besar, biar nasi gorengnya enak dan lebih wangi.

I                  : (mengernyitkan dahi dalam-dalam) Serius? Jadi gimana nih nasinya? Aku makan aja buat makan siang?

S                 : Jangan, tar kamu beli cabe merah besar dulu. Aku masak nasi goreng malam aja buat makan malam.

ASTAGAAA … percakapan yang panjang banget ya hanya untuk masak nasi goreng, Saudara-saudara? Buat suami saya yang suka masak dan yang hampir selalu mengejar rasa masakan terbaik, ketersediaan dan kualitas bahan makanan (termasuk bumbu-bumbu printilan) itu penting banget banget. Buat saya yang prinsipnya adalah¬†eat and be done with it, semua kerepotan demi memasak satu masakan selalu saya hindari sebisa mungkin. Mau masak nasi goreng? Asal ada mentega, telur, garam, bawang putih, nasi goreng pun jadi. Bumbunya pun dipotong kecil-kecil dan cepat-cepat, ga seperti suami yang harus blender semua bumbu, tumis dulu dengan minyak zaitun sedikit, barulah nasinya dimasukkan terakhir. Rasa nasi goreng bikinan dia saya harus akui memang enak banget banget, tapi saya ga berminat meniru cara dia. Bumbu-bumbu buat bikin nasi goreng ga ada? Ya sudah, makan nasi polos aja. Masak itu sesuai dengan bahan makanan yang tersedia di kulkas. Saya sudah menyerah coba membuat menu mingguan, karena biasanya masak sesuai mood dan sesuai permintaan anak-anak per harinya.

Gara-gara percakapan pagi hari ini saya jadi teringat dengan konseling pranikah yang kami ikuti 11 tahun lalu. Sesaat setelah kami memutuskan berpacaran, kami segera mengikuti kelas konseling pranikah yang diadakan oleh gereja tempat suami berjemaat. Dari awal pacaran kami memang sudah yakin mau menikah jadi lebih cepat ikut konseling, lebih baik. Kelasnya sendiri bukan one-on-one session dengan pendeta, tapi seperti kelas umum dengan peserta 10 ‚Äď 20 orang setiap hari Sabtu malam. Saat pertemuan kedua atau ketiga (saya lupa tepatnya) kami yang keras kepala dan sok tahu ini sudah menghadap pendeta untuk memprotes konsep dia yang mengatakan kalau mau menikah cari orang yang berbeda dari kamu. Hah, mana mungkin? Bukankah karena ada kesamaan minat, hobi, dll. dua orang bisa saling tertarik dan akhirnya memutuskan jalan bersama? Lalu bapak pendeta yang sangat sabar tersebut memberikan analogi roda gigi. Kalau 2 roda gigi punya ukuran dan tekstur yang persis sama, roda hanya akan berjalan di tempat. Kalau roda gigi punya ukuran dan tekstur yang berbeda dan saling melengkapi, roda pasti akan berjalan dengan lancar. Karena penasaran dengan maksud bapak pendeta, kami pun selalu rajin mengikuti kelas demi kelas konseling pranikah.

Sampai pada akhirnya konseling dilanjutkan ke sesi hanya antara pendeta dan pasangan yang mau menikah. Ini terjadi beberapa saat sebelum kami berpisah kota dan pacaran jarak jauh (fyi, kami hanya bersama di satu kota selama 6 bulan dan menghabiskan 1.5 tahun berikutnya pacaran antar kota Surabaya-Balikpapan, Cikarang-Balikpapan, Cikarang-Jakarta, sebelum akhirnya menikah 2 tahun pas setelah jadian). Nah di sesi ini kami disuruh pak pendeta untuk menuliskan hal-hal dalam diri pacar saya yang saya harus terima dan tidak bisa saya ubah, dan hal-hal dalam diri saya yang dia harus terima dan tidak bisa dia ubah. Pacar saya juga menuliskan hal-hal yang sama. Akhirnya kami pergi ke Mal PTC di Surabaya, duduk di restoran A & W, dan sibuk menuliskan di kertas folio bergaris hal-hal yang diinstruksikan oleh pak pendeta.

Beberapa jam berlalu dan kami pun kebingungan. Kertas di hadapan kami masih relatif kosong karena kami tidak bisa menuliskan hal-hal apa yang kami harus terima/tidak bisa ubah dari diri pasangan kami. Ternyata ya selama usia pacaran yang seumur jagung kami lebih sering membicarakan hal-hal di luar diri kami, tentang si ini/si itu, kejadian ini/kejadian itu, dan sangat jarang membicarakan tentang diri kami sendiri, bagaimana sikap/tindakan saya dan dia jika menghadapi suatu kondisi. Waktu itu kami masih menutup-nutupi siapa diri kami sebenarnya, dan tidak tahu sama sekali tentang diri pasangan kami. Latihan itu membongkar semua kepura-puraan dan pencitraan sedari dini. Kata orang, 6 bulan pertama dalam pacaran, kotoran pun akan terasa seperti coklat. Kalau buat kami, semua aib terungkap sudah dalam 6 bulan pertama. Saya yakin hal itu yang membuat kami bisa bertahan menjalani pacaran jarak jauh, dan pernikahan dimana 4 dari 9 tahun menikah dijalani dengan tinggal terpisah di dua kota. Konseling pranikah yang kami jalani selama dua tahun memberi kami bekal untuk memahami diri sendiri kami sendiri dan pasangan kami.

Banyak orang yang kaget setelah menikah dan bisa bertengkar karena masalah sepele seperti kebiasaan mengorok saat tidur, mengeluarkan odol dari ujung atas/ujung bawah tub, dan lain sebagainya. Konseling pranikah yang kami jalani tidak meniadakan perbedaan-perbedaan dan argumen karena perbedaan-perbedaan itu kok, tapi membuat kami lebih bersikap santai dalam menghadapinya. Contoh kasus: suami saya sudah maklum kalau saya ini paling malas memanaskan makanan dari kulkas. Saya sering memasak rendang/semur dalam jumlah banyak untuk lauk makan beberapa hari. Tiap kali saya mau makan saya tambahkan saja rendang/semur itu ke nasi yang masih panas mengepul, nanti kan rendang/semur jadi ikutan hangat. Suami saya selalu geleng-geleng kepala sambil mendesis, ‚ÄúMales banget sih‚ÄĚ. Kalau dia juga mau ikut makan, baru deh saya panasin lauknya. Seringnya sih dia yang dengan baik hati memanaskan lauk untuk saya. Jadi dia sadar kalau ini hal yang tidak bisa diubah dan harus diterima dari diri saya, dan dia memposisikan diri sebagai penolong dalam kemalasan saya.

Lain saya, lain dia. Suami saya itu paling ga bisa menutup pintu lemari/laci setelah mengambil pakaian/barang di gudang. Kami menikah hampir 9 tahun dan ini kebiasaan dia yang bikin saya geleng-geleng kepala minimal 2 kali sehari. Setelah dia berangkat ke kantor, tugas saya adalah menutup semua pintu yang dia tinggalkan terbuka. Menjengkelkan tapi harus saya terima karena itu sifat dia yang nyaris tidak bisa diubah. Kenapa nyaris? Kadang-kadang dia ingat sih menutup pintu lemari, dll. kalau saya berjaga-jaga di dekat dia untuk mengingatkan, ha-ha. Eh ngomong-ngomong soal menutup pintu, lama-lama saya curiga kalau ini kebiasaan yang mendarah-daging di diri laki-laki. Saya sudah menemui dua orang teman kami laki-laki yang punya kebiasaan serupa, dan istri-istri mereka juga mengeluhkan hal ini seperti saya. Sekarang anak kami yang laki-laki mulai kelihatan suka lupa menutup pintu. Ada apakah antara laki-laki dan kemampuan/kemauan menutup pintu?

Kembali ke nasi goreng. Jadi suami saya mengharapkan saya membeli cabe merah besar untuk dia masak nasi goreng tar malam. Apa daya, teman-teman saya siang ini datang ke rumah dan nasi yang akan dibuat nasi goreng sudah ludes kami habiskan. Sebagai gantinya, ada sambal krecek buatan teman saya buat makan malam nanti ya, sayang. Hehehe.

Trekking di Kebun Raya Bogor

Kebun Raya Bogor (KRB) terletak bersebelahan dengan Istana Bogor yang menjadi tempat kediaman Presiden Jokowi. Tahun ini Kebun Raya Bogor memperingati 200 tahun usianya sebagai pusat konservasi tumbuhan di bawah naungan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Pada kunjungan kami yang pertama kali ke KRB pada bulan Januari tahun 2014, suami saya langsung suka dengan kota Bogor dan anak-anak juga betah berjalan-jalan berjam-jam di sini. Saya sendiri sudah berkali-kali datang ke kota ini karena ada saudara yang tinggal di sini.

Pada kunjungan kami yang pertama kali, anak saya yang bungsu masih berumur 4 bulan, dan di usianya yang 4 tahun sekarang kesukaan dia pada alam dan trekking semakin terasah. KRB adalah kebun/taman yang mempunyai banyak tempat atraksi dan bisa dijelajah berjam-jam. Berkali-kali datang ke sini seringkali kami menghabiskan waktu di hamparan rumput hijau di depan satu-satunya cafe di KRB, namun hari ini kami cukup surprised karena kami menemukan jalur trekking di dalam KRB.

Peta KRB kurang lebih adalah sebagai berikut:

peta-kebun-raya-bogor

Terus terang kami belum pernah berkunjung ke laboratorium/museum/perpustakaan/herbarium yang ada di dalam kompleks KRB karena anak-anak belum menunjukkan minat ke arah sana. Tempat-tempat yang kami rutin datangi adalah tempat-tempat yang asyik dijelajahi dengan berjalan kaki, yaitu: lapangan di depan cafe, kolam bunga teratai yang berseberangan dengan Istana Presiden, hutan bambu, kuburan Belanda, dan jembatan gantung di bagian utara KRB. Hari ini kami masuk lewat Pintu 4 di bagian timur KRB. Kami berkendara ke bagian tengah KRB, parkir sejenak untuk makan siang, dan tiga kali harus memindahkan mobil ke jalan lain karena ditegur oleh anggota Paspampres (Bapak Presiden ada acara apa ya hari ini?). Setelah itu kami parkir di bagian utara KBR dekat dengan Jembatan Gantung. Setelah menyeberangi Jembatan Gantung yang berkapasitas maksimal 10 orang dengan deg-degan (ada 7 orang egois yang sibuk selfie dan tidak mau bergeser dari jembatan. Orang-orang yang mau menyeberang dari kedua arah jembatan harus hitung-hitungan untuk mengira-ngira apakah kapasitas jembatan masih memadai. Menyebalkan sekali), kami menemui area terbuka di mana banyak pohon tinggi besar dengan diameter lebih dari 1 meter. Pohon favorit kami berasal dari Papua dengan batang tinggi menjulang, akar yang berlipat-lipat seperti lipatan pakaian, dan pucuk pohon yang ditumbuhi daun-daun lebar. Sayang sekali, seperti kebanyakan pohon besar seperti ini, ada banyak sekali goresan dengan pisau di kulit batang pohon dan sampah botol plastik segala rupa yang diselipkan di antara lipatan akar. Sedih dan sebal melihatnya, kenapa sih orang-orang tidak bisa membuang sampah mereka di tempat sampah?

IMG-1469

Setelah area ini kami mengikuti jalan menanjak dengan elevasi sekitar 100 meter dan kemiringan sekitar 45 derajat. Suami dan anak-anak dengan gagah dan cepat sampai di puncak, sementara saya terengah-engah di paling belakang. Jalan yang kami lalui adalah jalan batu yang tertimbun daun rontok dan ranting patah; harus ekstra hati-hati di sini supaya kaki tidak terluka. Tongkat hiking yang kami bawa ternyata sangat berguna untuk mencek kemulusan jalan yang kami lewati dan untuk menyelidiki benda asing seperti jamur/benalu yang menempel di pohon dan kumpulan telur kodok yang menempel di pinggir kolam. Kami menyusuri jalan yang ternyata persis bersebelahan dengan area di Istana Bogor di mana rusa-rusa cantik sedang merumput. Kami juga sempat melewati kandang kambing yang dipelihara oleh Bapak Presiden. Kata anak saya yang sulung, kandangnya bauuuu sekali. Ya iyalah, haha.

Jalanan mulai menurun dan kami tiba di kolam bunga teratai yang berseberangan dengan Istana Bogor. Di pinggir kolam ini suami dan anak-anak menghabiskan cukup banyak waktu. Anak yang kecil pura-pura memancing dengan tongkat hikingnya, padahal dia menakut-nakuti ikan mas yang ada di kolam itu, hehe. Saking semangatnya, sandalnya sampai tercebur ke dalam kolam dan untungnya bisa diambil karena permukaan kolam yang dangkal di sebelah pinggir. Lama tidak ke KBR, hari ini kami melihat penambahan viewing deck ke arah kolam dan track dari kayu/konkrit untuk para pejalan kaki. Saya dan suami berkesempatan selfie dengan latar belakang Istana Bogor (terakhir selfie yang bagus kayaknya 5 tahun lalu deh, hehe).

Dari pinggir kolam teratai kami menuju area Taman Teysmann yang lebih sepi dari kerumunan orang. Di taman ini kami merebahkan diri di atas rumput sambil menunggui anak yang besar belajar bahasa Mandarin di Google Translate (random banget ya). Setelah kedua anak kami selesai memanjati obelisk di tengah taman, kami pun berjalan pulang melewati daerah yang menyerupai hutan dengan suara kicauan burung yang keras sekali. Dari Gerbang Utama KRB di bagian selatan kami berlari-lari di bawah gerimis ke bagian tengah KRB di mana mobil kami diparkir.

Setiap kali kami ke KRB pasti kami pulang pada waktunya KRB tutup (sekitar pukul 5 sore). Ga mau rugi banget ya, haha. Waktu berjalan pulang menuju parkiran kami sempat melihat Taman Meksiko yang terletak dekat dengan Gerbang Utama, di mana banyak pohon palem dan tanaman yang khas padang gurun/tidak memerlukan banyak air. Wah bertambah lagi nih area yang hendak kami jelajahi kalau datang lagi ke sini. Setelah menikmati trekking ke bukit yang bersebelahan dengan Istana Bogor, kita juga bisa menjajal track pejalan kaki yang cukup menarik di sepanjang sungai yang membelah KRB dari utara ke selatan. Saran saya, berjalanlah sambil menatap lurus ke depan, tidak usah melihat ke bawah sungai kalau tidak mau melihat tumpukan sampah plastik, makanan, dan popok bekas pakai (!) di antara bebatuan besar yang sebenarnya cakep banget buat difoto.

Book Review: RANDOMNESS INSIDE MY HEAD

My dear third cousin went to the same university with me, but we never really got connected with each other until a few years ago when I visited her and her family abroad.

She has been a great supporter, a comforter, and an honest critic for my works. It’s been a tremendous joy to answer her questions regarding the backgrounds and the plots in my first book, because those questions make me think more, contemplate more, and write better.

Today I am deeply humbled to have her reviewing “Randomness Inside My Head” (2016).

Enjoy!

http://blog.compactbyte.com/2017/09/01/review-buku-randomness-in-my-head/

Furnitur untuk Rumah: Beli Jadi atau Bikin Custom?

Setelah selesai menempuh pendidikan di sekolah, kebanyakan dari kita akan mulai mencari pekerjaan dan berburu tempat tinggal untuk diri kita sendiri. Jenis tempat tinggal ada bermacam-macam, seperti: kamar kos, apartemen, rumah petak, rumah kompleks, dll. Tempat tinggal itu bisa disewa atau dibeli, bisa berbentuk vertical housing atau landed house, bisa semi-furnished atau full-furnished atau kosong sama sekali. Membeli furnitur menjadi sebuah keharusan karena kita memerlukan produk untuk menyimpan barang-barang milik kita. Saat hendak mengisi rumah dengan furnitur, pertanyaan seperti ini sering hinggap di kepala: mending beli produk jadi atau bikin produk custom ya?

Keputusan untuk membeli produk jadi atau membuat produk sesuai pesanan akan tergantung beberapa faktor:

  1. Jangka waktu tinggal di suatu tempat

Jika kamu memiliki pekerjaan yang mengharuskanmu sering berpindah lokasi dan akhirnya berpindah tempat tinggal, maka membeli produk jadi adalah pilihan yang lebih efektif. Lain halnya jika kamu sudah menikah, berkeluarga, dan menetap di satu tempat. Membeli produk custom mungkin pilihan yang lebih hemat dan lebih bijaksana secara jangka panjang, karena bisa mempertimbangkan pertumbuhan jumlah dan kebutuhan masing-masing anggota keluarga.

  1. Budget

Sebelum membeli produk furnitur yang: 1) berukuran besar, 2) digunakan dalam jangka waktu lebih dari 5 tahun, 3) sulit untuk di-dispose, seperti lemari pakaian, lemari buku, dan kitchen set, hitunglah budget berdasarkan harga jual produk ditambah faktor-faktor lain seperti keunikan/kecocokan design dengan kebutuhanmu, ketersediaan jasa pengiriman dan instalasi, dan ketersediaan jasa servis.  Produk custom bisa berharga lebih mahal karena design-nya yang tidak pasaran dan kamu jadi dapat akses ke bengkel untuk memperbaiki furnitur yang rusak atau meng-upgrade furnitur yang usang. Di sisi lain, produk jadi bisa berharga lebih mahal kalau produk tersebut diimpor utuh dari luar negeri.

Membeli produk jadi atau produk custom sebenarnya hanya memiliki dua asas:

  1. Kenali dirimu sendiri.

Kamu lebih suka menggantung daripada melipat baju? Beli lemari pakaian dengan space yang besar untuk batangan penggantung baju. Kamu tidak suka/jarang membersihkan rumah? Jangan memilih furnitur dengan finishing berserat yang cenderung sulit dibersihkan; pilihlah furnitur dengan finishing duco atau HPL glossy yang lebih mudah dilap. Dan jangan membeli lemari buku dengan rak terbuka; belilah lemari dengan pintu tertutup untuk meminimalkan debu yang masuk ke dalam lemari. Seisi rumahmu memiliki tinggi badan rata-rata namun kamu ingin lemari buku yang tingginya mencapai plafon? Letakkan tangga dekat dengan atau integrasikan tangga dengan design lemari buku supaya barang-barang yang berada di rak atas lemari masih dapat diakses dan tidak terlupakan gara-gara sulit dijangkau.

Kunci dalam memilih furnitur adalah mengenali dirimu dan kebutuhanmu. Jika kamu punya banyak barang, punya barang-barang koleksi dari hobi, ingin barang-barang kamu tersimpan rapi dan tidak terlihat berantakan di seluruh bagian rumah, siap-siaplah berinvestasi pada furnitur selain lemari yang bisa juga menjadi tempat penyimpanan, seperti gambar kursi di bawah ini:Storage bench

Kursi di atas diletakkan di sebelah pintu masuk rumah dan dijadikan tempat penyimpanan tas sekolah anak-anak.

Contoh lain adalah jika jumlah kamar tidur di rumahmu terbatas dan kamu sering kedatangan tamu/keluarga, bersiaplah berinvestasi pada tempat tidur tingkat/sorong bawah. Tempat tidur seperti ini menggunakan space yang tidak banyak (lebar tempat tidur berukuran single bervariasi mulai dari 90 sampai 120 cm, dengan panjang tempat tidur pada umumnya 200 cm).

Bunkbed

Tempat tidur tingkat/sorong bawah banyak dijual sebagai produk jadi. Namun jika kamu ingin tempat tidur tingkat/sorong bawah yang pas banget dengan space yang kamu punya, ditambah (misalnya) ada fitur laci penyimpanan barang di bagian bawah tempat tidur, ada baiknya kamu mempertimbangkan membuat tempat tidur custom.

Mengenali diri sendiri juga mencakup mengenali kemampuan ekonomi. Kalau kamu menginginkan produk impor berharga tinggi tapi budget-mu tidak mencukupi, ada 2 alternatif yang kamu bisa ambil: 1) menabung sampai danamu cukup, 2) membeli produk lokal (baik produk jadi ataupun produk custom) yang secara design kira-kira mendekati produk impor yang kamu inginkan. Selama saya bergerak di bidang ini saya menemui orang-orang yang tidak keberatan memiliki sedikit furnitur namun berkualitas tinggi; dan ada juga orang-orang yang gemar berganti-ganti furnitur sesuai dengan kiblat musim di Eropa sana/toko mana yang sedang sale.

Jika memungkinkan, tambahkanlah fitur unik berupa suatu ruangan/furnitur/aksesoris yang bisa menjadi ciri khas rumahmu. Fitur unik ini bisa membuat kamu merindukan rumah saat sedang bepergian, dan bisa juga menjadi sumber inspirasi bagi orang-orang yang datang berkunjung ke rumahmu. Contohnya adalah gambar di bawah ini:

Homelibrary_completed

Home library di atas dibangun di atas panggung tatami dengan inspirasi ruangan di rumah tradisional Jepang. Di tengah-tengah library diletakkan meja pendek dan di bawahnya ada lubang untuk tempat menaruh kaki (posisi duduk dengan kaki masuk ke dalam lubang tentunya lebih nyaman dibandingkan posisi duduk bersila). Tatami juga bisa dipakai untuk tidur siang jika kamu suka tidur di atas permukaan yang keras. Panggung terbuat dari batangan kayu, tripleks, dan baja ringan untuk menambah kekuatan panggung menanggung beban dari 3 buah lemari buku dan segala isinya, dengan finishing HPL bertekstur dan berwarna kayu.  Apakah home library ini menggunakan produk jadi atau produk custom? Jawabannya adalah kami menggunakan keduanya. Tatami adalah produk custom karena mustahil menemukan produsen yang membuat panggung dengan spesifikasi bahan sesuai yang kami minta dengan dan dimensi sesuai ruangan yang kami punya. Dua dari tiga buah lemari buku adalah produk jadi dengan rak terbuka. Kami menambahkan lemari buku ketiga di paling kiri library enam tahun setelah dua lemari pertama, untuk mengisi penuh space yang ada dan meminimalkan debu dan kegiatan bersih-bersih. Pintu lemari buku kami buat custom untuk mendapatkan tampilan eksternal yang sama persis dan mengalir dari ketiga buah lemari buku. Library ini selalu menarik perhatian teman-teman yang pertama kali datang ke rumah kami. Teman baru saya kemarin malah berpura-pura sedang berada di restoran Jepang dan langsung pesan minum ocha, hehe.

Furnitur rumah tangga lainnya yang lebih baik dibuat secara custom adalah kitchen set. Ada hypermarket yang menjual kabinet dapur dengan ukuran, bahan, dan finishing standar (kayu partikel/plastik, finishing HPL/duco) dengan harga relatif terjangkau. Namun jika kamu sudah menikah dan menetap, ada baiknya kamu berinvestasi di kabinet yang memiliki bahan yang tahan lebih lama (kayu multipleks yang dioven dan dilapis anti rayap, finishing HPL/duco/plitur) dan dimensi yang pas dengan ukuran dapur kamu, mengingat dapur adalah ruangan yang memiliki fungsi krusial dalam kehidupan rumah tangga sehari-hari. Kitchen set yang dibuat custom dijamin tidak akan mengecewakan kebutuhan penggunanya dan bahkan bisa menjadi fitur yang paling menarik dari rumah tempat dapur itu berada. Pembaharuan tampilan luar kitchen set yang dibuat custom juga lebih mudah dengan cara mengganti finishing kabinet dapur.  

  1. Menerima keadaan.

Menerima keadaan ini bisa mencakup: 1) menerima budget kamu yang terbatas, 2) menerima space kamu yang terbatas, 3) menerima kalau ada barang-barang yang harus kamu singkirkan (donasikan ke orang lain/buang) karena space kamu yang terbatas itu. Saat sedang negosiasi design dengan klien, biasanya saya akan tanya possibility anggota keluarga yang bertambah dan barang-barang yang bertambah karena hobi/pekerjaan/hal lainnya. Contohnya saya akan menyarankan klien membuat lemari pakaian anak dengan dimensi yang mendekati dimensi lemari pakaian dewasa karena: 1) anak-anak tumbuh sangat cepat dan barang-barang mereka akan bertambah banyak, dan 2) supaya lemari bisa dipakai lebih lama. Saya juga akan menyarankan untuk membuat kitchen set dengan ketinggian mencapai plafon supaya ruangan kosong di bagian atas kabinet tidak menjadi sarang debu dan kardus-kardus yang kadang tidak jelas kegunaannya. Tips lain adalah: 1) jika memungkinkan, ukurlah dimensi barang-barang yang kamu sudah punya untuk memastikan lemari yang akan kamu beli akan pas menampung semua barang itu, 2) jika memungkinkan, sisakanlah 1 rak/laci kosong pada lemari yang ada untuk mengantisipasi pertambahan barang-barang dan untuk memberikan kesan ruangan yang bernafas dan masih leluasa.

Selamat menimbang-nimbang apakah akan membeli atau membuat furnitur untuk rumahmu. Untuk pembuatan produk¬†custom¬†yang berbasis kayu, seperti: lemari, tempat tidur, dan¬†kitchen set, yuk mari hubungi saya di Instagram¬†jolie_homedecor. ūüôā

Tips Ber-WA Group untuk Ibu-ibu

Tulisan kali ini khusus ditujukan untuk ibu-ibu. Mengapa? Karena saya sudah termasuk ibu-ibu, dan ada perilaku dari kelompok ini yang membuat saya gelisah.

Sampai saat ini saya belum pernah ketemu ibu-ibu yang tidak familiar dengan Whatsapp Group (WAG). Setelah BBM Group ditinggalkan orang karena sering bikin HP hang, ibu-ibu yang saya tahu beralih ke WAG untuk tetap menjalin komunikasi dengan komunitasnya. Tipe relasi dan komunikasi antara orang-orang yang tergabung dalam WAG agak berbeda dibandingkan mereka yang berinteraksi lewat Facebook (FB) dan Instagram (IG).

Di FB, interaksi terjadi antara pemilik akun dan orang-orang yang ada di Friends List-nya. Bisa jadi pemilik akun tidak kenal dekat atau bahkan tidak kenal sama sekali dengan semua friends-nya (untuk akun yang dipakai untuk berjualan online atau fandom artis, misalnya). Update dari kehidupan pemilik akun dan semua aktivitas medsosnya, seperti sharing informasi/berita/tips, bisa dilihat/disembunyikan dari timeline orang-orang yang menjadi friends-nya. Informasi/berita/tips yang di-share bisa jadi menarik tapi tidak signifikan di jagat raya timeline orang lain, kalau akun FB orang itu punya sedikit friend atau di-follow oleh sedikit orang. Lain di FB, lain di IG. Di IG, interaksi lebih tidak personal lagi. Kita bebas untuk follow/unfollow, mengikuti/tidak mengikuti update dari  suatu akun, bahkan tanpa disadari oleh pemilik akun IG tersebut.

Kalau di WAG, orang-orang yang ada di dalamnya minimal sudah jadi kenalan, walaupun belum jadi teman. Ada WAG yang terbentuk karena orang-orang di dalamnya dulu satu sekolah, ada juga yang karena orang-orang di dalamnya punya anak-anak yang satu sekolah atau mengikuti les yang sama. Berbeda dengan FB dan IG dimana kita bisa memilih untuk tidak melihat update dari pihak lain, di WAG hal ini hampir mustahil dilakukan. Jenis komunikasi di dalam WAG sangat mendekati aktivitas mengobrol langsung antara manusia di dunia nyata, ditambah fitur bisa berbagi informasi lewat foto/video, dan ada chat history yang bisa disimpan.

Di sini berbagi informasi/berita/tips bisa jadi meresahkan.

Minggu lalu, dalam 1 hari yang sama saya melihat video “Nasi Mengandung Plastik” dari 3 WAG yang isinya mayoritas ibu-ibu. Dalam video ini ada 1 orang yang “sepertinya” membentuk bola dari nasi yang dibeli dari sebuah rumah makan Padang (nama rumah makannya terpampang jelas), lalu orang itu melempar-lempar bola nasi itu ke permukaan meja untuk membuktikan kalau nasi tersebut dicampur dengan plastik. Untuk menguatkan argumennya, ada 2 rekan dia yang berdiri di sebelahnya, 1 orang mencoba membuat bola nasi tapi bolanya hancur dan 1 lagi ikut mengomentari. Pelakon kedua yang hanya terdengar suaranya (wajah dan identitas lainnya tidak tampak di video ini) mengatakan bahwa nasi yang di tangannya adalah – quote, unquote – “nasi beneran bukan nasi plastik karena ga bisa dibuletin dan hancur di tangan”.

Ada 3 hal janggal yang saya perhatikan:

  1. Harga biji plastik itu lebih mahal dari beras, Ibu-ibu, jadi tidak masuk akal mencampur beras dengan biji plastik untuk mendapatkan harga beras per liter/per kg yang lebih murah.
  2. Di dalam video, laki-laki yang membuat bola nasi plastik tidak pernah terlihat mengambil langsung nasi dari kemasan nasi Padang yang terbuka di atas meja. Sejak awal video, bola nasi itu sudah berada di tangan kanannya. Sungguh aneh kalau mau membuktikan nasi dari nasi Padang itu mengandung plastik tanpa menunjukkan langsung nasi diambil dari bungkusan sebelum dibentuk menjadi bola. Wanita yang mencoba membuat bola nasi lain juga tidak menunjukkan identitas diri dan tidak menjelaskan sumber nasi yang dia pegang, apakah nasi itu dari kemasan lain, nasi yang baru dimasak, atau bagaimana.
  3. Identitas orang-orang yang berada di dalam video tidak jelas. Ada 1 wajah yang ditampilkan dan 3 suara yang terdengar, tapi tidak ada informasi tambahan siapakah mereka, apa pekerjaan mereka/latar belakang mereka, apa alasan mereka membuat video seperti itu (terlepas dari fakta apakah mereka/bukan mereka yang membuatnya menjadi “viral” dan menyebar di banyak sekali WAG), dan apa kesimpulan akhir yang ingin mereka capai. Kalau tujuan mereka hanya untuk membuat resah, wah, mereka ini sangat berhasil. Komen yang muncul dari posting video itu di setiap WAG dimana saya tergabung sungguh beruntun dan beragam, yang bisa disimpulkan dengan kalimat-kalimat berikut: “Ya ampun, serem ya”, “Wah, harus lebih hati-hati sekarang”, “Aku ga mau lagi makan nasi Padang (nah lho!),” dan sebagainya. Sadar ga sih, kalau banyak waktu dan tenaga terbuang untuk mengomentari suatu hal yang tidak masuk akal secara logika dan belum terbukti kebenarannya, untuk mengomentari sebuah¬†HOAX.

 

Informasi/berita yang kita lihat di WAG kadang tidak bisa lepas dari benak kita (we cannot unsee it), jadi sungguh disayangkan kalau info hoax seperti ini yang hinggap lama di kepala kita, menyita perhatian, tenaga, dan waktu kita, padahal ada banyak hal lain yang lebih penting untuk kita lakukan sehari-hari.

Saya mau merangkum langkah-langkah yang semoga berguna sebelum ibu-ibu sharing informasi/berita/tips di WAG:

  1. Lihat sumber informasi/berita/tips-nya.

Kredibilitas suatu media (konvensional seperti koran & TV, dan non-konvensional seperti situs berita online) tidak dibangun dalam satu hari. Masyarakat yang menjadi penyerap informasi yang melakukan verifikasi apakah suatu media memang mengabarkan berita benar/hoax. Walaupun kita akui kualitas reporter/wartawan akhir-akhir ini cenderung menurun, koran seperti Kompas dan stasiun televisi seperti Metro TV mengukuhkan dirinya sebagai sumber informasi terpercaya karena mereka berhati-hati sebelum menurunkan berita.

  1. Lihat siapa penulis/pembuat informasi/berita/tips itu.

Jika nama penulis/pembuat informasi/berita/tips tercantum, coba Google reputasi dan kredibilitas dari orang tersebut. Kualitas tulisan/video tidak akan jauh-jauh dari kualitas orang itu sebagai manusia dalam kehidupannya sehari-hari. Jika penulis berita hanya dicantumkan sebagai “redaksi” atau “dari berbagai sumber”, tambah porsi kita untuk bersikap curiga terhadap kesahihah informasi/berita/tips yang kita lihat.

  1. Jangan telan mentah-mentah.

Selalu cek alur logika dan kemasukakalan informasi/berita/tips yang kita baca. Seperti berita hoax beras plastik, jika kita memakai akal sehat saja kita bisa menyanggah argumen kalau beras dicampur dengan biji plastik yang harganya lebih mahal dari beras untuk menurunkan harga beras. BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) Republik Indonesia sendiri sudah menanggapi video nasi plastik itu melalui akun FB resminya, dengan link berikut: https://www.facebook.com/BadanPengawasObatdanMakananRI/photos/a.1660990617519761.1073741828.1497463813872443/1950845458534274/?type=3&theater. Penjelasan dari BPOM memenuhi kriteria 1 dan 2 (kredibilitas sumber berita dan penulis berita), dan terakhir kriteria 3 mengenai mengapa nasi bisa dikepal menyerupai bentuk bola. Semua ini ada kaitannya dengan komponen penyusun pati dalam butir beras dan efeknya terhadap bentuk beras yang sudah dimasak jadi nasi. Informasi tentang komponen ini semuanya ada di internet, lho; kita bisa mengaksesnya dengan mudah. Kalau kita masih ragu, selalu ada berbagai cara untuk meminta pendapat profesional dari para ahli yang kompeten di suatu bidang.

Saya lihat ibu-ibu di WAG cenderung kaget dan panik kalau lihat informasi/berita/tips tentang suatu abnormalitas, sesuatu yang kita jarang temui sehari-hari. Komentarnya juga biasanya cepat sekali (dan banyak sekali) untuk menanggapi foto/video sharing dari orang lain.

Yuk ah, Ibu-ibu, mari kita lebih giat mencari informasi, lebih kritis dalam menyaring informasi apa yang sebanding dengan waktu kita untuk membaca/melihat dan menanggapinya, supaya pada akhirnya kita semua lebih pintar dan lebih bertanggung jawab sebelum menyebarkan informasi/berita/tips.

 

 

Masih Tentang Nam Joo Hyuk dan Bride of The Water God

Mengapa saya menaruh foto dari manhwa Bride of The Water God karya Yoon Mi Kyung di awal post ini? Karena menurut saya cerita manhwa BOTWG jauh lebih bagus dari versi dramanya yang baru tamat di tvN tanggal 22 Agustus lalu.

Saya sudah pernah mereview drama ini setelah selesai menonton 7 episode pertama (link: https://rijotobing.wordpress.com/2017/07/25/review-drama-korea-bride-of-the-water-god/). Dalam review tersebut saya optimis versi drama akan memiliki jalan cerita yang tidak kalah menarik dari versi manhwa. Perbedaan mendasar antara drama dan manhwa sudah terlihat sejak episode pertama, di mana So Ah aslinya adalah gadis yang dikorbankan untuk membuat Dewa Air, Habaek, menurunkan hujan di suatu desa yang sedang kekeringan. Di dalam drama, So Ah adalah seorang psikiater keturunan dari keluarga yang sudah berjanji akan melayani para dewa seumur hidup mereka. Episode ke-8 dibuka dengan Habaek yang baru sadar kalau koordinat yang dia cari ternyata terpatri di peta Vanuatu yang selalu dibawa So Ah di sakunya. Setelah itu Habaek bertemu dengan Dewa Bumi yang sempat kehilangan ingatan (kota Seoul begitu luas, tapi bisa ya mereka bertemu di satu titik di taman itu). Setelah ingatannya kembali, Dewa Bumi memberikan batu dewa miliknya kepada Habaek sehingga tidak ada lagi alasan buat Habaek untuk tetap tinggal di dunia manusia. Adegan yang meluluhkan hati di episode ini adalah saat So Ah memeluk Habaek dari belakang sambil menangis karena dia tidak ingin Habaek kembali ke Negeri Air.

Jalan ceritanya masih bagus ya?

Yuk, kita lanjut. Setelah itu mulailah tarik-ulur perasaan antara So Ah dan Habaek. So Ah ga berani mengakui perasaannya pada Habaek, dia tahu Habaek akan segera meninggalkannya, dia tidak ingin bergantung pada Habaek dan kemudian dikecewakan (seperti ayahnya dulu mengecewakan dia), dia berulang-ulang bilang ingin ada perpisahan yang indah antara mereka berdua, tapi … semua tindak-tanduknya tidak menunjukkan kerelaan hati yang sebenarnya. Lain di mulut, lain di sikap gitu lho. Gemes kan? Habaek juga sama aja. Ga berani menyatakan perasaan secara langsung, cuma nanya: bolehkah aku memulainya? Habis itu dia mabuk-mabukan ditemani Bi Ryeom dan meracau sampai meluk So Ah segala. Drama Korea ya, mau tokoh utama ceritanya adalah dewa atau manusia pasti ada satu adegan frustasi-mabuk-mengakui perasaan. Betapa membosankan. Setelah itu banyak adegan di mana mereka seperti pacaran: membersihkan rumah sama-sama, ketemuan di cafe, punya mug couple (#eaaaa), bikin gimbap sama-sama untuk rencana piknik di tepi pantai. Apa daya sebelum mereka pergi ke pantai Moo Ra datang dan menculik So Ah. Di atas sebuah gedung sangat tinggi yang sering jadi lokasi syuting drama ini (saya penasaran dengan nama gedungnya), Moo Ra memberitahu So Ah tentang Nak Bin.

Siapakah Nak Bin?

Nak Bin di manhwa adalah istri pertama Habaek. Latar belakangnya sama dengan di drama: seorang gadis yang dikorbankan untuk Habaek dan ternyata Habaek malah jatuh cinta padanya. Di drama dijelaskan kalau Nak Bin mengkhianati Habaek dengan cara bersekongkol dengan Raja dari Negeri Langit. Raja itu menjanjikan hidup abadi pada Nak Bin asalkan dia membantunya untuk merebut kekuasaan dari Habaek yang sudah ditakdirkan untuk menjadi kaisar negeri para dewa. Di manhwa Nak Bin tidak mati; dia hidup sebagai zombie dan tidak bisa meninggalkan Negeri Langit karena jiwanya ditahan oleh Raja Negeri Langit. Di drama, Habaek tidak memaafkan Nak Bin walaupun Nak Bin beralasan dia ingin hidup abadi supaya dia bisa terus bersama Habaek, dan Nak Bin pun dibunuh dengan cara ditenggelamkan di laut. Tidak hanya itu, Sri Ratu negeri para dewa (ga jelas apakah ini ibunya Habaek) memaksa kakak laki-laki dari Nak Bin dan semua keturunannya untuk bersumpah menjadi pelayan para dewa. Nah, So Ah adalah keturunan dari kakak laki-laki Nak Bin itu. Apakah So Ah cemburu dengan kisah cinta pertama Habaek? Sepertinya iya. Yang jelas dia menyuruh Habaek untuk segera kembali ke Negeri Air dan dia berpura-pura kalau dia baik-baik saja. Yeah, right. Di sini akting So Ah bagus deh; dia benar-benar keliatan sekuat tenaga menyembunyikan kesedihannya. Entah karena make-up atau akting yang kuat, yang jelas wajahnya memang keliatan jadi lebih kusam dan kurus selama masa dia ditinggal Habaek.

Oya, Habaek kembali lagi ke dunia manusia, lho.

Wait, what? Bukankah dia ke dunia manusia untuk mengambil tiga batu dewa terus harus kembali ke Negeri Air untuk pengukuhan tahtanya?

Ternyata oh ternyata Habaek dikasih tugas lagi sama pendeta tertinggi untuk mencari jawaban kenapa ketiga batu dewa sengaja diletakkan di dunia manusia. Apakah Habaek berhasil menemukan jawabannya? ENGGAK TUH. Sejak Habaek kembali ke rumah So Ah, kerjaannya pacaraaannnn melulu. Dan konyolnya saat dia datang untuk kedua kali dia tetap menjadi seorang dewa tanpa kekuatan supranatural. Kekuatan dia yang menciptakan perisai air untuk melindungi So Ah waktu So Ah terancam bahaya hanya ditunjukkan dua kali di episode-episode awal. Sesudah itu Habaek cuma duduk di belakang setir, ga jelas sehari-harinya ngapain. So Ah juga begitu, ga jelas kerja atau enggak di kliniknya. Tiba-tiba udah malam aja dan mereka bertemu di gang yang menuju rumah So Ah (adegan Habaek menunggu So Ah di bawah lampu jalan memang sangat romantis sih. Hati saya aja bergetarrrr).

Udah mulai bosan?

Sama. Karena perpindahan antar adegannya ga halus dan tarik-ulur antara Habaek dan So Ah terlalu lama. Saya udah pengen teriak ke HP saya: putuskan dong, mereka bisa bersama atau enggak. Fakta #1: Habaek itu dewa, dia hidup abadi dan tidak akan pernah menua dan mati, dia harus kembali ke Negeri Air karena tanpa Negeri Air dia akan mati (begitu pula sebaliknya). Fakta #2: So Ah itu manusia, dia menua dan suatu saat dia akan mati, dia tidak bisa ikut Habaek ke Negeri Air. Kalau begitu jelas kan kesimpulannya, pisahkan saja mereka berdua. Eh tapi eng-ing-eng di episode 15 dan 16 mulai keliatan titik terang solusi jalan tengah yang dipikirkan oleh So Ah.

Apakah itu?

Begini, Habaek hanya bisa mengabulkan satu keinginan So Ah yang paling-paling dia inginkan. Dan So Ah tahu kalaupun dia hidup lama dia hanya akan hidup 40 – 50 tahun lagi (usianya sekarang 30 tahun). Jadi …, dia mengusulkan supaya pengokohan Habaek sebagai kaisar negeri para dewa ditunda sampai dia meninggal. Selama 40 – 50 tahun ke depan dia minta Habaek tinggal bersama dia di dunia manusia, karena apalah artinya sekian tahun itu dibandingkan umur Habaek yang sudah 3.000 tahun?

I was like … WHAT???

Solusinya segitu simple? Benarkah? Apa ga terpikir oleh PD-nim untuk memberikan jawaban terhadap hal-hal yang mungkin terjadi jika mereka berdua ini bersama?

  1. Oleh karena Habaek tidak menua, kebayang ga gimana penampilan pasangan ini waktu So Ah jadi nenek-nenek dan Habaek tetap muda dan singset?
  2. Terus, gimana dengan anak? Bukankah demigod seperti CEO Shin dilarang keberadaannya. Jadi So Ah dan Habaek ga boleh punya anak dong, kalau ya anak itu akan dinamai So Chi (disgrace) seperti nama CEO Shin waktu kecil.
  3. Udah gitu kebayang ga apa yang akan terjadi dengan Habaek setelah So Ah meninggal? Dia akan melupakan So Ah dan jatuh cinta dengan wanita baru yang kemungkinan besar masih ada hubungan keluarga dengan Nak Bin (lihat saja Habaek yang dua kali jatuh cinta dengan dua wanita dimana wanita pertama adalah nenek moyang yang hidup 1.200 tahun sebelum wanita kedua). IYUH! Menyedihkan ya hidup jadi dewa, fisiknya selama beribu-ribu tahun tidak mengalami perubahan tapi cinta yang diberikan harus berubah sesuai dengan wanita yang tersedia pada saat itu.

Aku benar-benar kecewa dengan penutup dari drama ini. Dan juga kecewa dengan Habaek yang sangat mengumbar nafsu seksualnya. Tidak seperti kebanyakan drama korea yang minim adegan ranjang dan adegan-adegan ciumannya pun bisa dibilang indah dan romantis, NJH di BOTWG mah sangat nyosor. Sebel liatnya. Yang cukup menghibur hati adalah kemajuan hubungan antara Moo Ra dan Bi Ryeom. Wow, Krystal dan Gong Myung cakep deh; aku jadi fans baru mereka (*wink*). CEO Shin sayang sekali sampai episode akhir tetap jadi karakter yang ga kuat. Saya kira dia benar-benar akan jadi saingan Habaek untuk memperebutkan So Ah, tapi ternyata tidak begitu. Walaupun dia sudah didorong-dorong supaya jadi jahat beneran oleh Bi Ryeom, CEO Shin tetap jadi orang baik. Ah, karakter dia sama sekali tidak meninggalkan kesan yang mendalam.

Drama yang idenya mungkin bagus (spin-off¬†dari manhwa), tapi sayangnya script-nya lemah, karakterisasi tokoh-tokohnya lemah, dialognya lemah, dan akting bintang-bintangnya pun lemah. Ditambah dengan¬†product placement yang terlalu sering, jadilah drama ini penuh gangguan dan kurang fokus. Kopi instant merk¬†Kanu¬†dan¬†Maxim BERKALI-KALI di-close up di 8 episode terakhir. Terus, di dalam drama ini banyak sekali kalimat “Apa yang kamu bicarakan?”, “Apa yang kamu maksud?”, seakan-akan semua pemeran drama ini memiliki masalah pendengaran sehingga suatu pernyataan/pertanyaan harus diulang berkali-kali. Rating drama ini terbilang sangat rendah dibandingkan drama NJH sebelumnya (Weighlifting Fairy: Kim Bok Joo) dengan angka maksimal di 3.5% untuk episode ke-6 (saya harus akui, episode 6 itu memang paling bagus: ceritanya padat,¬†pace-nya tepat, aktingnya kuat), dan minimal di angka 2.3% untuk episode ke-15 (wah, ini saya sangat setuju. Nonton episode 15 bikin saya ga sabar supaya drama ini cepat berakhir. Bukan karena saya penasaran dengan kesimpulan ceritanya, tapi karena saya harus menyelesaikan apa yang saya sudah mulai tonton).

Demikianlah review dari saya. Hal positif yang saya dapat: melihat Krystal dan Gong Myungyang seperti bintang yang mulai bersinar. Hal negatif: akting dan penampilan Nam Joo Hyuk yang seperti terjun bebas dari drama sebelumnya. Lalu bagaimana dengan Shin Se Kyung yang memerankan So Ah? Apakah saya terkesan dengannya?

Shin Se who?