Who Broke The Cup?

Bulan lalu saya pergi ke Museum Seni Rupa dan Keramik di Kota Tua, Jakarta dengan teman saya untuk belajar membuat keramik. Teman saya sudah pernah ke sana dan berhasil membuat sebuah mangkok besar, sedangkan kali ini adalah kali pertama untuk saya. Di sana saya membuat 2 buah cangkir untuk kedua anak saya dari 1 kilogram tanah liat khusus. Waktu pembuatan sekitar 1 jam dan cangkir dibawa pulang dalam keadaan basah. Cerita perjalanannya bisa diintip di sini.

Nah, karena cangkir yang dibawa pulang masih lembek, bapak yang mengajari saya membuat cangkir memberitahu saya supaya cangkir diangin-anginkan beberapa hari dengan cara ditaruh di tempat terbuka yang tidak mendapat sinar matahari langsung. Saya membawa pulang cangkir dengan kotak nasi Padang dan naik bis. Waktu turun dari bis, kotak yang saya pegang tersenggol orang di depan saya jadi cangkir agak penyok. Rasanya pengen banget nangis deh, tapi untung anak-anak masih antusias dengan cangkir handmade yang saya buat untuk mereka. Di rumah saya berusaha untuk meratakan bagian yang penyok, tapi apa daya, tanpa roda pemutar tanah liat permukaan cangkir mustahil dibentuk menjadi mulus lagi.

Kedua cangkir ini akhirnya kering setelah satu minggu saya letakkan di taman dalam rumah. Bentuk akhirnya berantakan, dengan banyak tanah liat yang mengelupas di sana-sini. Proses final pembuatan perabot dari tanah liat memang dengan cara pembakaran, yang sayangnya tidak dimiliki oleh museum ataupun saya. Saya taruh kedua cangkir ini di tempat yang sama selama satu minggu lagi untuk mendapatkan bentuk yang lebih rigid.

Pada suatu hari Minggu pagi yang tenang, saya bangun dan mendapati handle salah satu cangkir sudah patah seperti di gambar di atas. Kontan saya bertanya: Who did this? Who broke the cup? Wah kalau saya kira pelakunya akan segera mengaku, saya salah besar. Kedua anak saya datang dan sama-sama bilang: I don’t know. It wasn’t me. Hmmm, mencurigakan. Tidak mungkin handle-nya patah sendiri karena tanah liat sudah mengeras setelah 2 minggu. Setelah interogasi selama beberapa menit, anak yang tidak sengaja mematahkan handle karena dia ingin mengamati ukiran namanya pada cangkir akhinya mengaku juga. Tapi …, tetap perlu waktu lho untuk membuat anaknya mengaku dengan embel-embel mamanya harus lebih dulu berjanji tidak akan marah besar dan akan memaafkan dia.

Saya jadi berpikir, kenapa ya manusia berbohong? Siapa yang mengajari kita? Kapan kita mulai melakukannya? Apa tujuan akhir kita?

Waktu saya kelas 1 SD saya pernah mencontek teman sebangku saya waktu ulangan Bahasa Sunda. Waktu itu saya duduk di dekat meja guru tapi saya entah kenapa berani melakukannya. Setelah itu guru saya memanggil saya dan bertanya, “Kamu tadi nyontek ya waktu ulangan?” Jawaban saya waktu itu otomatis adalah: tidak (padahal ibu guru pasti bisa melihat saya melakukan hal itu), hehe. Pada akhirnya saya kemudian mengakui perbuatan saya dengan penuh perasaan bersalah dan malu. Malu karena ketahuan atau malu karena menyesal sudah mencontek? Sepertinya waktu itu sih saya merasa malu karena ketahuan, bukan karena menyesal. Saya bersyukur waktu itu saya ketahuan mencontek dan ketahuan berbohong. Peristiwa itu membuat saya berusaha untuk tidak mencontek lagi seumur hidup (dengan beberapa kegagalan waktu mengerjakan ulangan waktu kelas 1 SMA, hiks.)

Kita berbohong untuk melindungi diri, betul kan? Kita pikir kalau fokus tudingan sudah beralih dari diri kita ke orang lain, maka kita aman, kita akan bebas dari sorotan. Terkadang kita tidak berpikir sebelum kita berbohong, tiba-tiba saja kebohongan itu sudah keluar dari mulut kita. Kita ingin mencari aman untuk reputasi kita, tapi sebenarnya kita merendahkan harga diri kita sendiri. Kebohongan tidak akan menyelesaikan masalah dan kebohongan akan diikuti dengan kebohongan-kebohongan lainnya. Kita bisa berkilah kalau kita ‘kepleset’ berbohong tentang suatu hal di suatu waktu, tapi jika kebohongan itu dibentuk, dipelihara, dan dibiarkan sedemikian rupa sampai akhirnya kita bingung mana yang benar dan mana yang bohong, sesungguhnya kita sedang membangun jalan menuju kehancuran diri kita sendiri. Berbohong adalah salah satu perbuatan natural manusia yang dilakukan tanpa ada yang mengajari dan bisa mulai dilakukan sejak kecil. Terlepas dari agama dan iman apapun yang beredar di bumi ini yang mengkategorikan berbohong sebagai perbuatan dosa, mengucapkan kebohongan termasuk pada pelanggaran nilai moral. Kebenaran adalah nilai moral yang universal, dan kebohongan adalah antitesa dari usaha manusia untuk menjadi pribadi yang berintegritas.

Sampai saat ini saya sudah bertemu banyak orang yang membangun kebohongan untuk menciptakan reputasi diri. Mengaku anak orang kaya, mengaku sering jalan-jalan ke luar negeri, mengaku punya pacar cakep, dll. Dan waktu mereka ketahuan, tiada ampun. Teman-teman hilang satu demi satu dan tidak ada lagi yang mempercayai mereka. Jika kebohongan sudah sistematis seperti itu, itu bukan lagi untuk melindungi diri, tapi ada faktor kejiwaan lain seperti kecenderungan narsisme (perasaan cinta berlebihan pada diri sendiri) dan sifat delusional.

Bagaimanakah mengajari anak-anak supaya tidak berbohong? Langkah pertama yang paling penting menurut saya adalah menciptakan kondisi di mana anak-anak merasa bebas bercerita apa saja pada orang tua. Waktu insting kita memberi peringatan bahwa ada sesuatu yang salah, upayakan untuk tetap tenang dan tidak bertanya dengan nada menuduh. Hal ini penting supaya anak tidak merasa tersudutkan. Efek domino dari perasaan tersudut jelas sekali bukan?

Ada hal yang salah – orang tua bertanya dengan nada menuduh – anak merasa tersudutkan – anak berusaha melindungi diri – anak berbohong – orang tua tambah marah karena tahu anak sudah membohongi mereka.

Kalau orang tua tidak segera menanamkan kepada anak kalau berbohong itu salah, cycle di atas akan terus berulang dan sulit dipatahkan. Akibatnya diskusi menjadi buntu, dengan orang tua tetap merasa anak salah dan anak tetap merasa orang tua berlebihan. Tentu saja hal ini lebih indah secara teori dan sulit (bukan mustahil) untuk dilakukan. Jika orang tua tetap tenang, bertanya dengan nada netral, memberikan gesture yang menandakan bahwa semua akan baik-baik saja, anak akan dengan rela bercerita dan tidak menyembunyikan apa pun dari orang tua. Tantangan pertama dan terberat adalah bagaimana memformulasikan pertanyaan yang bisa membuat anak merasa terbuka, bukan  bagaimana membuat anak cepat-cepat mengakui kesalahan mereka.

Kembali pada kasus cangkir keramik yang pecah tadi. Saya belum mencapai level nada suara dan pertanyaan yang cukup untuk membuat anak nyaman bercerita, tapi saya berusaha untuk menuju ke sana. Saya melihat mekanisme melindungi diri ini semakin kuat seiring dengan pertambahan usia, dan tambah besar anak akan tambah mudah berbohong, apalagi jika tidak ada yang pernah menegur dan memberi tahu kalau berbohong itu salah. Orang tua perlu mendampingi supaya anak tetap menjadi pribadi yang jujur di setiap waktu, di segala kesempatan. Ciptakan suasana yang kondusif untuk anak-anak bercerita, dan jika kebohongan sudah terlanjur diucapkan, ajak anak untuk mendiskusikan hal apa yang salah dan harus diperbaiki. Tentu saja kita sebagai orang tua harus memberikan contoh terlebih dahulu. Anak-anak juga bisa merasakan lho kalau kita tidak sedang berkata yang sebenarnya.

Good luck to all parents.

Advertisements

Why Do You Stay Single?

“Why do you stay single?”

 

Nosy society 

This is one of the most intimidating questions existing on planet earth. This kind of question piques people’s curiosity regardless whatever the answers are. And a single answer will be followed by bombarded sequential questions. Why, why, and why? People are just never tired of being curious. Being single starts to feel like social “curse” when one is in their late 20s or early 30s. Especially in Indonesia where one’s issue is everybody’s issue, and where family (and other social groups) gatherings are common and often. The question pops up too many times. Why do you stay single? You’re smart (or rich, or educated, or whatever), but why can’t you find someone to be with? As if to get into a relationship is the easiest thing to do. And if one doesn’t give straight answer why he is still single, people around him will make up the answers for him. You shouldn’t be too choosy; nobody’s perfect. You should go out and make new friends. You might find a spouse from one of those new communities you’re entering. Do you want me to introduce you to someone? What’s your criteria? One might smile at these naggings, or exit the social groups altogether to keep some inner peace.

 

The Concept of Having to Find THE ONE

This is one-million-dollar question that intrigues me since I was a teenager. Is spouse predestined or a result of choice? I’ve read and observed in many cultures that predestination is used for the base of marriage. Two people meet and get married because they’re predestined for each other; because they’re meant to be with each other. Confusion arises when divorce and death happen. Can there be one or more persons predestined for one person? The Greek says about man trying his whole life to find his other half, who’s separated from him due to the wrath of the gods. Other cultures say about our soulmate is engraved on the palm lines of our hand. Human ages and skin wrinkles. I can say that a soulmate claim based on palm lines is a bit invalid.

These dogmas lead human to always try to find THE ONE. The one that’s a part of him; the one who will complete him; the one who is a perfect match for him. And if that ONE hasn’t been found yet, what does it mean? Should he be looking in another place? Should he be waiting a little bit longer (until when)? Should he just give up the idea of finding that ONE?

But what if THE ONE is not predestined but chosen by the people involved in a relationship? Man chooses to be with someone despite of (or because of, or whatever) something. This will explain when break-up happens along the way. The people just choose not to be together any longer (be it in a dating or a married relationship). I’m more inclined to say that marriage is a result of choice, instead of predestination. It is a hard work that one commits to, that man will undergo until death separates him and his spouse. This means he’s completely aware of what he’s getting into, of what kind of ups and downs he’ll be experiencing, and of how to manage his expectations.

 

Difference and Uncertainty

I am now married and I personally believe that it is not good for someone to be alone. I believe in getting married and growing old with a spouse. But I accept that people remain single for many reasons, and for private justification. Some remain single for religious reason and emotional reason (personal trauma, unwillingness to have children, etc.), and others remain single because they are choosy. I think people are entitled to be choosy when it comes to selecting a partner for life.

Many times society judges the readiness of marriage based on one’s age, career stability, the need to continue the family line, and so on, and so forth. It is likely that a person is more stable, character and financial-wise, as he gets older. When one has been independent enough and is okay to have himself as a company, it will be harder to get into a relationship.

These two questions might stay at the back of one’s head:

  1. How can I handle the differences I have with my future partner? I’m good by myself. Why would I waste my time and energy trying to bridge the differences we have? If the love and commitment are not enough, there will be break-up.
  2. How can I be certain that I will end up marrying her? Why would I be emotionally and physically invested in that person, if at the end of the day we decide not to get married? It will feel like, again, a waste of time and energy.

 

Some single people I’m close with deal with these conflicting thoughts all the time. They don’t want to be alone for the rest of their lives, but they’re reluctant to take that leap of faith. Eventually they just shut off themselves and stop looking, but they never stop hoping and waiting!

I think it’s a personal choice to be single or to be married. Even in this era, marriage is not something we take lightly. We still aim for a lifetime commitment and companionship, and I can understand why my friends are cautious when getting into a relationship, that might eventually lead to marriage.

A question that always breaks my heart whenever I hear it is ‘Will I ever find someone?’. I will solemnly answer him/her, “I do not know, but I hope you will. Don’t lose your faith. Don’t listen to people who keep asking the same question. The only person you need to answer to is yourself.”

Kalimat Bersayap Politikus

Beberapa saat setelah saya meng-upload post berjudul Dikotomi Pribumi dan Nonpribumiseorang pembaca post saya di aplikasi wordpress.com mengirimkan pesan yang isinya kurang lebih sebagai berikut:

Saya sudah baca pidato gubernur anies dan kata pribumi yang dia pakai tidak menunjuk suku apa pun. Mungkin ga pribumi yang dia maksud adalah WNI?

Sejujurnya, pemikiran itu sempat terlintas di benak saya sebelum saya menulis post tersebut. Kita perlu ingat, orang yang menyampaikan pidato politik sebagai pembuka masa jabatannya ini adalah seseorang yang terkenal lihai dengan kata-katanya. Sejak masa beliau menginisiasi Indonesia Mengajar dan menjadi juru bicara kampanye untuk Presiden Jokowi, beliau sudah terkenal dengan kalimat-kalimat yang catchy, bermakna, dan tepat sasaran. Kalimat favorit saya sendiri adalah ‘Lawan debat adalah teman berpikir.’; sebuah frase yang sangat mengena, bukan? Terlepas dari kiprahnya sebagai mantan menteri dan keberhasilannya menjadi Gubernur DKI untuk masa bakti 2017-2022, kekuatan natural beliau memang terletak pada kemampuannya untuk bertutur secara lisan.

Saya menulis post tersebut setelah saya: 1) membaca berbagai berita di media online tentang pidato gubernur baru (yang tentu saja memakai tagline yang membuat penasaran untuk mengundang klik), dan 2) membaca transkrip pidato beliau. Menurut hemat saya, tidak mungkin beliau tidak menyadari jika kata ‘pribumi’ yang dia lontarkan akan mengundang kontroversi. Tidak bisa dipungkiri bahwa penyebutan kata ‘pribumi’ (dan ‘kolonialisme’) akan membangkitkan sentimen tertentu dari orang-orang yang mendengar secara langsung atau membaca teks pidato tersebut. Tidak, kita tidak akan teringat pada jaman Belanda menjajah Indonesia yang sudah berabad-abad dari tahun 2017, tapi kita akan teringat pada kerusuhan Mei 1998 yang mengoyak Jakarta (dan termasuk Bandung, kota tempat saya tinggal waktu itu) dan membawa bangsa ini dari satu kekacauan yang melibatkan darah dan air mata kepada suatu orde yang sangat berbeda dari Orde Baru yang sudah memerintah selama 32 tahun.

Oleh karena itu dengan cerdasnya beliau tidak mengaitkan kata ‘pribumi’ dengan suku bangsa tertentu dalam teks pidatonya. Beliau tidak mengatakan langsung bahwa pribumi yang dia maksud adalah penduduk asli Indonesia, yang suku bangsanya menduduki suatu wilayah di negara Indonesia selama bergenerasi-generasi. Beliau tahu bahwa dirinya akan diserang jika kata ‘pribumi’ didefinisikan demikian, karena semua orang tahu bahwa dia akan termasuk sebagai nonpribumi akibat asal keluarga beliau yang bukan dari salah satu daerah di tanah air kita. Secara alam bawah sadar, manusia akan memikirkan antonim dari suatu kata yang baru didengarnya. Jadi tidak heran kalau kata ‘nonpribumi’ akan tersirat dari dalam pidato yang dengan gagahnya meminta pribumi untuk menjadi tuan rumah di negerinya sendiri.

Siapakah nonpribumi itu? Setiap orang yang sudah pernah melalui tahun 1998 pasti ingat bahwa nonpribumi merujuk pada etnis Tionghoa. Padahal waktu Belanda pertama kali mengemukakan istilah ‘pribumi’ dan ‘nonpribumi’ untuk mengelompokkan suku bangsa-suku bangsa di bawah jajahannya, mereka juga memasukkan etnis Arab, etnis India, orang-orang Eropa, dan bukan hanya etnis Tionghoa sebagai kelompok nonpribumi. Kata ‘pribumi’ dan ‘nonpribumi’ ketika itu dibuat oleh penjajah untuk membedakan kelas sosial seseorang (semacam kasta) yang akan menentukan bagaimana seseorang menerima pelayanan dan diperlakukan di dalam masyarakat. Apakah kita akan kembali kepada masa itu padahal kita sudah 72 tahun merdeka sebagai negara yang berdaulat di tengah negara-negara lain di dunia, padahal sebagai negara kita sudah memiliki 260 juta warga yang diberi identitas sebagai Warga Negara Indonesia?

Pidato bapak gubernur serta-merta menuai caci-maki di dunia nyata dan di dunia maya dan dituduh sebagai pidato yang menekankan rasisme. Padahal jika dicermati, pidato beliau sangat mengambang dan tidak mengkonfirmasi apa pun. Beliau bisa berkilah bahwa kata ‘pribumi’ yang dia usung maksudnya adalah WNI, penduduk asli Indonesia; sebuah pengertian yang kurang lebih sejalan dengan arti kata ‘pribumi’ berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Coba saja kita ganti kalimat beliau menjadi WNI harus menjadi tuan rumah di negerinya sendiri, dan sangkutkan kata ‘kolonialisme’ di belakangnya. Tentu saja seruan ini menjadi ampuh untuk membangkitkan gelora semangat nasionalisme, karena ‘seakan-akan’ ada keadaan darurat bahwa kita ini sedang dalam proses ditaklukkan dan akan dikuasai oleh pihak asing.

Tunggu dulu.

Kenapa ya saat kita mencoba mengerti maksud pidato beliau kita jadi melihat pertentangan yang dimunculkan antara kelompok A dan yang bukan kelompok A ya? Kita tadi melihat istilah ‘pribumi’ dijentikkan begitu rupa dengan istilah ‘nonpribumi’ yang tersirat di dalamnya. Jika kata ‘pribumi’ diganti menjadi kata WNI dan ditambah embel-embel ancaman kolonialisme dari unsur asing, muncul pertentangan baru antara WNI dan WNA. Apakah kita akan dengan mudahnya diperdayai oleh kalimat-kalimat bersayap yang tidak punya keberanian untuk mengatakan ‘ya’ untuk ‘ya’, dan ‘tidak’ untuk ‘tidak’, kalimat-kalimat bersayap yang khas seorang politikus? Apakah kita akan membentuk kubu-kubu dan membenci siapa pun yang berbeda dari kita hanya karena kita mendengar kalimat-kalimat retorika yang digembor-gemborkan tanpa kejelasan maksud dan tujuan?

Saya harap tidak.

Politik (dan kekuasaan yang ingin diraih melalui politik) bisa menjadi alat kebaikan atau alat kejahatan. Dia seperti pedang yang bermata satu, bukan bermata dua, yang bisa dipakai untuk membunuh manusia atau membunuh singa yang akan menyerang manusia. Yang harus diwaspadai adalah pemegang pedang itu sendiri, apakah hatinya mengarah pada kebaikan atau kejahatan. Satu hal yang saya sadari bahwa politik itu culas, dan hanya mengutamakan kepentingan sekelompok orang. Oleh karena itu saya, dan semua yang membaca post ini, sebaiknya selalu waspada supaya kita tidak salah menggunakan hak politik kita, supaya kita tidak salah memilih orang, dan supaya kita tidak menempatkan pedang itu di tangan orang yang motivasinya bukan untuk melayani orang lain.

Sekarang nasi sudah menjadi nasi uduk. Selamat menikmati kalimat-kalimat bersayap selama lima tahun ke depan.

Dikotomi Pribumi dan Nonpribumi

Belum 24 jam sejak beliau dilantik, jagat media sosial sudah gusar dengan pemakaian istilah pribumi (dan juga kolonialisme) dalam pidato politik beliau yang pertama.

Apakah pribumi?

Apakah nonpribumi?

Karena kita orang Indonesia, mari kita merujuk pada acuan berbahasa yang resmi di negara kita yaitu Kamus Besar Bahasa Indonesia. Menurut KBBI, pribumi berarti penghuni asli; yang berasal dari tempat yang bersangkutan (https://kbbi.web.id/pribumi), sedangkan nonpribumi berarti yang bukan pribumi; yang bukan orang (penduduk) asli suatu negara (https://kbbi.web.id/nonpribumi).

Jika mengacu pada definisi menurut KBBI maka seseorang menjadi pribumi karena konteks tempat asalnya. Definisi ini menjadi tidak jelas jika ada pertanyaan lanjutan seperti: yang dimaksud dengan tempat asal seseorang apakah tempat dia lahir atau dibesarkan? Ya, definisi ini menjadi tidak fleksibel jika ada faktor migrasi manusia sepanjang hidupnya. Seseorang yang berasal dari suku bangsa A, lahir di kota B, besar di kota C, bekerja di kota D, menikah dan tinggal menetap di kota E adalah pribumi menurut konteks suku bangsa A, atau konteks kota B, C, D, atau E? Pendefinisian ini bertambah kompleks jika orang itu menikah dengan orang dari suku bangsa F. Anak-anak mereka menjadi pribumi berdasarkan suku bangsa dan kota apa?

Saya mau menceritakan sedikit pengalaman hidup saya.

Saya berasal dari suku bangsa yang dikenal secara umum sebagai suku Batak. Orang tua saya merantau dari Pematang Siantar ke Yogyakarta dan Bandung untuk pendidikan universitas di awal tahun 80-an. Sedari saya kecil banyak saudara jauh yang datang ke rumah kami dan ada beberapa dari mereka yang menyindir ketidakmurnian darah batak saya. Apa pasal? Ayah saya berasal dari suku Batak Toba sedangkan ibu saya berasal dari suku Batak Simalungun. Bagi orang Batak sendiri, saya tidak murni orang suku Batak Toba atau Batak Simalungun, sedangkan bagi orang di luar suku Batak, suku bangsa saya adalah Batak. Titik. Kebingungan identitas itu sudah ada di hidup saja sejak usia sekolah dasar. Ditambah lagi keberadaan kami di lingkungan yang bertetangga dengan orang-orang dari suku Sunda dan Jawa. Walaupun saya lahir dan besar di Bandung dan saya bisa berbahasa Sunda, identitas diri saya tidak sepenuhnya melebur dengan identitas diri teman-teman sepermainan saya yang berasal dari suku bangsa-suku bangsa lain.

Masalah lain muncul saat saya duduk di sekolah dasar dan berusia sepuluh tahun. Usia ini adalah usia pra-remaja (jaman dulu istilah ABG (Anak Baru Gede) belum terlalu populer) dimana orang-orang mulai mencari gang-nya masing-masing. Anak-anak mulai mencari identitas diri dan kelompok dimana dia diterima dan merasa menjadi bagian dari kelompok itu. Kalau kita kira istilah pribumi/nonpribumi cuma beredar dan relevan di jaman kolonialisme, kita salah besar. Di Bandung di awal tahun 90-an pelabelan pribumi dan nonpribumi itu dilakukan oleh anak-anak. Sejak TK sampai dengan SMP saya menempuh pendidikan di sekolah Kristen dengan mayoritas peserta didik berasal dari keturunan Tionghoa. Waktu saya SMP kelas 3 di tahun 1993, hanya saya satu-satunya orang pribumi di angkatan saya. Apa definisi pribumi di benak anak-anak saat itu? Pribumi adalah orang asli Indonesia,datang dari suku bangsa yang punya tempat asal di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Secara fisik saya sangat berbeda dengan teman-teman seangkatan saya; kulit saya gelap, mata saya tidak sipit, dan rambut saya keriting. Sekilas saja bisa terlihat kalau saya dan mereka berasal dari dua kelompok yang berbeda: pribumi dan nonpribumi, walaupun jika saat itu ada pengelompokan menurut agama, saya berada dalam satu kelompok agama yang sama dengan teman-teman saya.

Menyadari dan menerima bahwa saya orang pribumi di tengah-tengah kelompok nonpribumi bukanlah suatu hal yang mudah. Pertanyaan, sindiran, ejekan terutama karena fisik saya adalah hal biasa yang saya terima selama tiga tahun bersekolah di SMP. Di saat-saat sulit dalam mencari jati diri ini saya pernah berada dalam fase tidak menyukai asal saya yang dari suku Batak. Saya sampai bertengkar dengan ayah saya karena saya ingin berasal dari suku Tionghoa seperti teman-teman saya yang lain. Ayah saya, yang merupakan salah satu tetua marga Tobing di kota Bandung, tentu marah besar. Beliau pun menguliahi saya tentang kebanggaan menjadi orang Batak, tentang asal-muasal nenek moyang, adat-istiadat, dan lain sebagainya. Waktu itu saya tentu saja hanya mendengarkan dengan setengah hati, karena yang jauh lebih penting buat saya saat itu adalah saya punya satu kesamaan dengan teman-teman sebaya saya yang membuat saya bisa diterima dengan lebih mudah oleh mereka.

Tiga tahun di SMP adalah tahun-tahun berat dalam menemukan jati diri saya. Pada tahun terakhir akhirnya saya menemukan teman-teman dan lingkungan yang baik, karena memang di setiap bangsa/suku/agama/latar belakang ada saja orang-orang baik dan orang-orang brengsek. Riska dan Natalia adalah dua teman baik yang mau tahu tentang latar belakang saya yang berbeda jauh dengan mereka. Pada tahun ketiga di SMP, ayah saya menyuruh saya melanjutkan SMA di SMA Negeri. Alasannya adalah supaya saya bisa bertemu dengan orang-orang dari berbagai latar belakang. Memang karena saya sekolah di sekolah yang dikelola oleh yayasan, saya bertemu dengan orang-orang itu lagi. Saya tidak memilih SMP yang dipilih oleh hampir semua teman SD saya, tapi saya tahu kalau saya melanjutkan SMA di yayasan yang sama, saya akan bertemu kembali dengan teman-teman dari SD dan SMP. Saya pun menuruti ayah saya, tapi saya sangat gugup. Sepuluh tahun dalam hidup saya, saya bergaul dengan orang-orang dari suku bangsa yang sama dengan perilaku dan sikap yang tipikal. Walaupun secara asal-muasal dan fisik saya berbeda dari teman-teman saya, tapi saya tahu bagaimana berteman dengan mereka. Saya sangat takut tidak bisa punya teman jika bersekolah di sekolah negeri.

Di usia 15 tahun saya mulai bersekolah di sekolah negeri yang siswanya tumpah ruah dari berbagai latar belakang suku bangsa, kota, dan agama yang ada di Indonesia. Dikotomi itu masih ada, tapi kali ini bukan soal pribumi dan nonpribumi, tapi soal agama. Jika ditilik secara fisik, saya masuk dalam kelompok pribumi dan mayoritas dari siswa sekolah itu. Tapi jika ditilik secara agama, saya masuk dalam kelompok agama yang bukan agama mayoritas. Apakah saya pernah berharap saya memeluk agama lain supaya saya bisa lebih diterima oleh lingkungan saya? Tentu saja dan itu wajar karena saya masih remaja yang masih dalam proses mencari jati diri dan tempat saya di tengah-tengah masyarakat di sekitar saya. Tiga tahun di SMA adalah masa dimana saya benar-benar mengerti perbedaan agama dan iman; suatu masa dimana saya menemukan alasan saya hidup dan ke mana saya akan pergi setelah tutup usia. Pelabelan pribumi dan nonpribumi di SMA tidak sekencang saat saya di SMP, tapi saya tahu bahwa pelabelan itu masih ada karena ada teman-teman SMA saya yang berasal dari suku Tionghoa.

Di usia 18 tahun saya kuliah di sebuah kampus yang multidimensi. Mahasiswanya berasal dari latar-belakang yang jauh lebih kompleks daripada waktu di SMA. Orang-orang dari berbagai suku bangsa, agama, bahasa, dan kota asal, semua bercampur di satu tempat dengan satu tujuan untuk menempuh pendidikan. Kampus saya adalah perwujudan Indonesia dalam bentuk mini dan di situ identitas saya sebagai orang dari bangsa apa mulai terwujud. Di tahun ke-3 saya mewakili kampus saya untuk pertukaran mahasiswa di Tokyo. Di tahun itu saya bisa dengan yakin mengatakan saya orang apa. Di mata para profesor, para dosen, dan teman-teman satu program, saya adalah orang Indonesia. Tidak lebih dan tidak kurang. Beberapa teman dari Amerika Serikat yang pernah mendengar tentang keragaman bangsa Indonesia pernah menanyakan suku bangsa/ras saya, tapi itu bukan informasi yang krusial buat mereka. Kebanyakan dari teman-teman satu program mengira agama saya adalah Islam, karena mereka tahu Islam adalah agama dengan pemeluk paling banyak di Indonesia. Terlepas dari semua itu, semua orang yang saya temui di Jepang selama 1 tahun hanya perduli dari bangsa mana saya berasal. Hal ini juga berlaku untuk teman-teman saya yang secara ras berbeda dengan negara asal dia. Ada teman saya dari U.S. yang orang tuanya berasal dari Korea Selatan, tapi dia lahir dan besar di California dan tidak bisa berbahasa Korea. Ada teman saya dari Swedia tapi orang tuanya berasal dari Denmark dan mereka pindah ke Swedia karena faktor pekerjaan. Ada teman lain berbangsa Swedia namun ibunya adalah orang Filipina yang sudah dinaturalisasi menjadi warga negara Swedia. Dunia ini sudah campur-aduk begitu rupa sehingga sulit untuk menemukan suku bangsa dan ras yang masih murni. Orang Jepang sendiri adalah campuran dari suku Ainu dan orang-orang yang bermigrasi dari dataran Mongolia ke Kepulauan Jepang selama beratus-ratus tahun.

Apakah pribumi; apakah nonpribumi itu? Semua itu hanya istilah untuk mengkotak-kotakkan manusia dengan satu tujuan di benak orang yang melakukan pengkotakan. Di saat dunia dan tujuh milyar manusia di dalamnya bergerak menuju global citizenshipdimana orang-orang menembus sekat negara dan zona waktu untuk hidup, tinggal, bekerja, dan berkarya, benarkan kita mau kembali kepada dikotomi primordial seperti istilah pribumi dan nonpribumi? Istilah ini tidak eksklusif ciptaan pemerintah kolonial Belanda pada waktu bangsa Indonesia masih dijajah oleh mereka. Di bahasa Jerman pun dikenal istilah der Auslaender dan der Inlaender,yang kadang diterjemahkan bebas menjadi nonpribumi dan pribumi, untuk memisahkan nasionalitas penduduk suatu negara. Jadi acuannya adalah bangsa dan negara (nation) yang dibangun berdasarkan kesepakatan bersama sekelompok orang pada suatu masa. Oleh karena itu wajar bapak-bapak pendiri bangsa Indonesia yang kebanyakan menempuh pendidikan Barat pada tahun 1945 tidak spesifik menyebutkan satu suku bangsa, melainkan mendeklarasikan diri sebagai satu bangsa, bangsa Indonesia dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dalam kerangka ini istilah pribumi tepat untuk menggambarkan mereka yang merupakan orang-orang Warga Negara Indonesia (WNI), dan istilah nonpribumi untuk mereka yang masih memegang nasionalitas lain dan menjadi Warga Negara Asing (WNA) di tanah air Indonesia.

Hampir tiga dekade sudah berlalu sejak saya dicap pribumi menurut definisi pemerintah kolonial Belanda oleh teman SD saya yang nonpribumi, dan saya sadar bahwa istilah pribumi dan nonpribumi mungkin tidak akan pernah hilang dari kehidupan kita sehari-hari. Dari masa ke masa akan selalu ada orang-orang yang coba membangkitkan sentimen kemurnian ras dengan berbagai motivasi: nostalgia masa lalu, pengawetan budaya dan adat-istiadat, perlindungan kelompok dengan jumlah anggota sedikit di tengah masyarakat majemuk, mendapatkan kekuatan ekonomi, dan lain sebagainya. Namun saya tetap punya harapan bahwa manusia senantiasa berevolusi menjadi lebih cerdas, lebih kritis, lebih bijaksana, lebih terbuka, dan lebih menerima perbedaan-perbedaan yang hadir di sekeliling dirinya.

Usaha untuk membentuk kelompok berdasarkan kemurnian ras adalah absurd untuk dilakukan di masa sekarang. Dalam satu suku bangsa pun akan ada beberapa sub-suku bangsa yang memiliki perbedaan-perbedaan mendasar ataupun tidak. Pengikat yang terbukti relevan bagi 260 juta WNI di tengah 7 milyar penduduk bumi ini adalah identitas sebagai negara dan bangsa yang bernama Indonesia. Pertanyaan-pertanyaan seperti kamu dan orang tua kamu berasal dari suku bangsa apa dan kota apa tidaklah penting untuk memajukan bangsa. Jika pelabelan pribumi dan nonpribumi dilandasi oleh jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu, bagaimana kita memberi label pada anak-anak yang orang tuanya berasal dari dua suku bangsa yang berbeda, atau berasal dari dua negara yang berbeda (Indonesia dan negara lain)? Sebagai contoh: anak-anak saya memiliki ayah dari suku Jawa Timur yang masih “murni” dan ibu dari suku Batak Toba-Simalungun yang juga masih “murni”. Mereka bukan orang Jawa Timur asli, dan bukan pula orang Batak asli. Jika mengacu pada definisi pribumi menurut KBBI, anak-anak saya adalah pribumi Bekasi. Akan tetapi akan selalu ada argumen bahwa orang pribumi Bekasi adalah orang dari suku Betawi dan Sunda yang sudah terlebih dahulu bermukim di sini, jadi anak-anak saya bukan termasuk kelompok ini. Mereka juga tidak bisa digolongkan pribumi Surabaya dan pribumi Bandung walaupun orang tua mereka lahir dan besar di dua kota ini. Ayah mereka adalah pribumi Surabaya, namun ibu mereka berasal dari suku Batak dan sulit diterima sebagai pribumi Bandung. Bisa dilihat bukan kalau dikotomi semacam ini sungguh membingungkan dan tidak membawa manfaat yang nyata bagi kehidupan?

Belum lagi pendefinisian putra daerah dan siapa yang berhak menyandang label putra dari daerah tertentu. Aduh, saya lebih baik membahas hal ini pada lain kesempatan.

Tidak ada pribumi, tidak ada nonpribumi, yang ada hanyalah Warga Negara Indonesia dengan kartu identitas diri dan paspor dengan label bangsa dan negara Indonesia. Tidak masalah apakah seseorang mempunyai orang tua yang berasa dari dua suku bangsa dan dua negara yang berbeda, jika dia memilih untuk menjadi WNI secara natural maupun melalui aplikasi untuk menjadi warga negara, maka dia adalah pribumi Indonesia sesungguhnya.

Letakkanlah Barang Pada Tempatnya!

Awal dari peristiwa ini adalah keberangkatan suami saya ke Surabaya dengan pesawat sore pada hari Selasa lalu. Pagi hari dia berangkat ke kantor seperti biasa dan pulang ke rumah sekitar pukul 1 siang. Hati girang bukan kepalang, jarang-jarang suami pulang siang. Ya kan?? Kami berdua pun masak dan makan siang bersama sampai taksi yang akan mengantar ke bandara datang pada pukul 2. Mobil suami diparkir melintang di depan carport dan menghalangi akses keluar masuk mobil saya yang sudah diparkir duluan di dalam carport. Posisi kedua mobil kurang lebih seperti ini (abaikan bantal-guling yang sedang dijemur ya, hehe):

Saturday Morning

Pada pukul 3 sore saya hendak menjemput anak-anak dari sekolah dan saya baru sadar kalau kunci mobil suami tidak tergantung di tempat biasa. Di manakah tempat biasa itu? Di gantungan berwarna coklat dan berdesain meriah yang dipaku di dinding yang hanya berjarak kurang-lebih 1 meter dari pintu depan rumah. Saya mulai panik, apa kunci mobil dia terselip di suatu tempat (kan susah ketemunya karena kunci tidak bisa di-missed call), atau jangan-jangan masih berada di saku bajunya dan jadi terbawa ke Surabaya? Saya coba telepon suami sambil jalan kaki ke sekolah di bawah cuaca terik dan gerah (untung jarak rumah ke sekolah dengan berjalan kaki cuma sekitar 7 menit kalau berjalan sendiri). Telepon tidak ada nada panggil, telepon tidak aktif, dll. sampai akhirnya telepon tersambung dan suami mengakui kalau kunci mobil masih ada di dalam tas kerjanya yang dia bawa ke Surabaya.

Saya ga tahu harus marah atau ketawa. Pertama, mobilitas di perumahan dan sekitar perumahan untuk aktivitas sekolah/les/belanja itu hampir mustahil dilakukan kalau tidak ada kendaraan pribadi. Sekolah memang terletak dekat dengan rumah (bisa ditempuh dengan 2 menit nyetir atau 7 menit jalan kaki) sehingga saya masih agak lega walau kedua mobil tidak bisa dipakai. Namun masalah timbul jika saya mau pergi  ke tempat lain (les/belanja makanan) dengan angkot. Akses ke angkot: jalan kaki 2 kilometer dari rumah (one way), itupun angkot tidak bisa mengantar sampai tempat les Taekwondo yang letaknya kurang-lebih 6 kilometer dari rumah saya. Kedua, gara-gara posisi mobil suami yang melintang, akibatnya mobil saya ikut-ikutan jadi tidak bisa dipakai padahal kuncinya ada. Suami saya pun berjanji akan menghubungi pihak rental mobil untuk mengantarkan kunci serep, tapi sementara itu anak saya ada les renang pukul 4.15 dan baju & kacamata renangnya ada di dalam mobil suami!

Bukan orang Indonesia kalau tidak bisa mengucap syukur dalam keadaan kritis. Untung tiket masuk kolam renang sudah saya masukkan ke dalam dompet saya hari Minggu lalu. Untung anak saya ada baju renang cadangan. Untung flippers dan pelampung yang wajib dipakai saat les ternyata ada di dalam mobil saya dan bisa diambil. Kurang satu nih, kacamata renang. Untung ada tetangga/teman sekelas anak yang mau meminjamkan kacamata renang miliknya. Untung juga kolam renang terletak hanya kurang-lebih 1.5 kilometer dari rumah saya. Waktu pulang sekolah kami perlu waktu hampir 20 menit untuk berjalan pulang karena kedua anak saya yang sibuk mampir di setiap pekarangan rumah yang kami lewati (untuk mengomentari hewan peliharaan atau bunga), jadi saya cukup menghela nafas berusaha sabar saat kami perlu waktu sekitar 25 menit untuk berjalan dari rumah ke kolam renang bersama anak tetangga kami yang juga ikut les. Memang berjalan kaki dengan 3 anak aktif itu banyak mampirnya!

Oya, untung berikutnya adalah saat tetangga saya datang menjemput ke kolam renang seusai les dan kami bisa nebeng mobilnya. Yang ini untung banget karena anak ke-2 mulai kelihatan ngantuk dan mustahil saya menggendong dia sambil membawa 2 pasang flippers, 2 pelampung, dan 1 ransel besar. Setelah itu muncul deretan hal yang membuat saya terharu. Hal yang mengharukan pertama adalah saat si tetangga baik hati menawarkan saya untuk memakai mobilnya untuk mobilitas selama suami (dan kunci mobil suami) masih berada di Surabaya (4 hari). Hal yang mengharukan kedua adalah saat satu teman yang saya batal temui untuk ngopi bareng karena saya tidak ada kendaraan, langsung memberitahu kondisi saya di Kakaotalk Group Taekwondo sehingga saya bisa nebeng salah satu senior kalau mau pergi ke dojang pada hari Rabu pagi.

Puncak dari semua ucapan “untung” itu adalah saat orang dari rental mobil suami datang ke rumah pukul 8 malam membawa kunci serep mobil. Mobil saya dikeluarkan dari carport dan sebagai gantinya mobil suami dimasukkan ke dalam carport, tak lupa saya mengeluarkan semua keperluan renang anak-anak dari mobil tak berkunci tersebut. Waktu saya minta supaya kunci serep ditinggal di rumah saya, pihak rental mobil menolak. Ternyata di dalam polis asuransi yang mereka ikuti ada klausul bahwa dua buah kunci mobil (1 utama dan 1 cadangan) tidak boleh berada di tangan satu pihak saja untuk mencegah kemungkinan terjadinya persekongkolan yang mengarah pada peristiwa hilangnya mobil. Wih, saya tidak menyangka ada klausul seperti itu, tapi alasan pihak asuransi masuk akal juga ya.

Dua hal yang saya pelajari dari peristiwa ini adalah:

  1. Pertolongan Tuhan tepat pada waktunya dan tidak pernah terlambat.

Mulai hari Selasa malam Cikarang diguyur hujan lebat dan non-stop, dimana hujan berlanjut sepanjang hari Rabu sampai hari Kamis siang. Saya bisa bayangkan kalau mobil saya tidak bisa dikeluarkan bagaimana repotnya saya dan anak-anak beraktivitas normal seperti pergi ke sekolah, tempat les, belanja, dll. dengan berjalan kaki di tengah guyuran hujan. Iya, iya, sejak kembali ke Indonesia tahun 2012 badan saya jadi manja dan malas berjalan kaki; ke Indomaret aja harus pakai mobil, haha.

  1. Letakkanlah barang pada tempatnya!

Semua orang di rumah kami sudah tahu kalau gantungan kunci yang ada di awal post ini adalah tempat menggantungkan: 1) kunci rumah, 2) kunci mobil, 3) ID card/Library card, 4) senter, dan 5) USB flash drive. Kami berempat tahu itu, kami berempat selalu ingat hal itu sampai hari Selasa siang suami saya lupa untuk pertama kalinya. Untunglah (lagi) dia langsung sigap mencari bantuan, dan untunglah (lagi-lagi) mood saya sedang relatif bagus sehingga saya tidak marah-marah berlebihan. Saya ada sih cerita/komplain sama teman-teman dekat dan ujung-ujungnya kami semua ketawa karena ya elah kan konyol banget kunci mobil bisa terbawa sampai ke Surabaya! Jadi ingat ya, letakkanlah barang pada tempatnya (tempat semestinya, tempat seperti biasanya, you name it), entah itu kunci mobil, sampah, ataupun mantan pacar. Hehe.

Perempuan dan Ukuran Badan

Dalam satu minggu ini (hari Rabu pekan lalu ke Rabu pekan ini) ada 3 orang yang mempertanyakan ukuran badan saya.

 

Kejadian 1

Hari Rabu pekan lalu saya makan siang dengan teman-teman Taekwondo di sebuah restoran Korea. Seperti kebanyakan restoran Korea, restoran ini memakai panggung kayu untuk alas duduk dan ada lubang di bawah meja supaya kaki pelanggan bisa menjuntai dengan nyaman. Saya datang terlambat dan duduk di ujung sekali di sebelah senior yang sudah 2 bulanan tidak ketemu. Hari itu saya pakai dress katun dengan motif garis horizontal berwarna biru-putih, dan karena tempatnya yang sempit saya sempat membuat suara gaduh waktu mengambil tempat duduk (seperti suara barang jatuh di papan kayu, padahal itu suara badan saya yang dihempaskan, hehehe). Setelah saya duduk, senior saya itu mengamati saya sambil mengernyitkan dahi dalam-dalam (mungkin sedang mencari kosa kata Bahasa Indonesia yang pas) terus bertanya:

Senior       : Rijo-ya.

Saya          : Ya, Onni?

Senior       : Sekarang gendut?

Saya          : (muka merah menahan malu karena guru Taekwondo kami duduk persis di seberang saya dan beliau ikut ketawa) Iya. (menjawab dengan lirih)

Senior       : Kenapa?

Saya          : (bingung mau menjawab apa)

 

Kejadian 2

Hari Minggu saya dan anak pertama jalan-jalan di sekitar kompleks pakai baju yang ada di awal post ini. Waktu melewati rumah tetangga, saya dipanggil sama yang punya rumah.

Budhe      : Mama Mis

Saya         : Iya, Budhe?

Budhe      : Lagi hamil anak ke-3?

Saya         : (muka shocked dan kepala cepat-cepat menggeleng) Engga, Budhe.

Budhe      : Oh, kirain.

 

Kejadian 3

Kemarin saya ketemu teman setelah mengantar anak ke sekolah dengan berpakaian celana panjang hitam dan kaos warna abu-abu muda. Setelah ngobrol ngalor-ngidul, teman saya itu nanya: Jo, gendutan ya?

Saya         : Iya. (menjawab dengan lirih lagi).

Teman     : Kenapa?

Saya         : (mulai memberi penjelasan panjang-lebar)

 

Kenapa saya sekarang gendut banget?

 

Jadi begini, di awal tahun 2016 berat badan saya pernah mencapai 73 kg (sama seperti berat badan waktu melahirkan anak ke-2 tahun 2013), dimana saya merasa unhealthy, unfit, and unhappy. Di bulan Maret tahun yang sama, saya sakit sampai diopname dan pemulihannya agak lama. Mulai bulan April saya bertekad untuk memperbaiki pola makan dan mulai berolahraga. Dimulai dengan ikut balet 2x seminggu @1 jam, berat badan saya turun 5 kg dalam waktu 1.5 bulan. Bulan Agustus 2016 saya mulai ikut latihan Taekwondo dari basic banget. Latihan di dojang 3x seminggu @1 jam sukses menurunkan lagi berat badan sebesar 5 kg, jadi pada bulan September 2016 berat badan saya jadi 63 kg. Setelah itu berat badan tidak bisa lagi turun karena lemak sudah berganti menjadi otot. Badan saya jadi lebih padat dan lebih sehat, dan nafsu makan juga lebih terkontrol karena sayang kan kalau hasil olahraga dinihilkan oleh 2 piring nasi setiap makan malam, haha.

Nah, pada bulan Desember 2016 anak-anak libur sekolah hampir 5 minggu dan cukup sulit membawa mereka ke dojang untuk menemani saya latihan Taekwondo. Masalah pertama adalah bangun pagi. Selama libur, anak-anak bangun lebih dari jam 8, padahal latihan dimulai pukul 7.55 pagi. Masalah kedua adalah memberikan kegiatan yang bisa menjaga mood mereka selama 1 jam saya latihan. Nah masalah kedua ini yang lebih sering terjadi. Saya pernah bawakan Ipad untuk mereka main game, tapi ujung-ujungnya berantem. Lagi asyik tendang-tendang sama sparring partner, eh saya harus ke bagian belakang dojang untuk melerai anak-anak. Pernah saya ga bawakan Ipad dan saya biarkan anak-anak main-main dengan bola gym dan cone-cone kecil. Kayaknya cuma bertahan 30 menit dan setelah itu mereka berantem lagi memperebutkan entah apa. Akhirnya di bulan Desember 2016, Maret 2017, dan Juni 2017, pokoknya setiap kali anak-anak libur sekolah, saya jadi jarang latihan Taekwondo karena 2 concern di atas. Waktu berat badan saya turun drastis, adik saya sudah memperingatkan: sebaiknya menguruskan badan dulu sebelum membentuk otot. Karena saya langsung membentuk otot, maka waktu saya tidak olahraga tempat si otot dalam badan saya diganti dengan lemak dan badan jadi menggelambir. Hiks-hiks.

Mulai bulan Juli tahun ini anak saya yang ke-2 sekolah siang (mulai jam 10 atau jam 11.30 setiap harinya). Selama sebulan pertama waktu anak saya menyesuaikan lagi jam tidur dan jam aktivitasnya setelah libur sekolah 6 minggu, saya tidak Taekwondo sama sekali (oya saya berhenti balet di bulan Januari 2017 karena jadwal les yang tidak cocok). Saya mulai latihan lagi bulan Agustus dengan mengandalkan suami yang membangunkan dan mengantar anak ke-2 ke dojang sekitar pukul 8.30 sambil suami berangkat ke kantor, supaya saya bisa latihan dengan cukup tenang selama sekitar 30 menit. Masalahnya, suami saya sering traveling, jadi kerja sama seperti ini sesekali saja bisa terjadi. Saya sudah minta ijin guru untuk membawa anak dan beliau mengijinkan asalkan anak bisa tenang. Well, kalau soal ini saya gambling deh. Sekalipun dibawakan Ipad, kalau anak lagi tidak mau main gadget, dia akan ikut latihan sama saya. Agak bahaya kalau lagi sparring pakai mitt, dia tiba-tiba melintas atau memeluk badan saya sehingga dia bisa kena tendang (yang pastinya sakit banget).

mit taekwondo

Mitt Taekwondo

 

Panjang banget ya penjelasan kenapa saya sekarang gendut banget? Padahal intinya adalah berkurangnya waktu untuk latihan Taekwondo karena anak ke-2 yang sekolah siang. Saya berusaha mengencangkan lagi otot dengan sesekali berenang, tapi memang latihan Taekwondo secara rutin memberikan efek yang jauh lebih cepat.

Saya sebenarnya tidak terlalu self conscious dengan berat dan bentuk badan, walaupun saya termasuk makhluk perempuan yang sangat sensitif dengan hal ini. Kata orang, komentar yang paling disukai perempuan adalah pertanyaan ‘Sekarang kurusan ya?’ dan komentar yang paling dibenci perempuan adalah pertanyaan ‘Sekarang gemukan ya?’. Padahal ukuran gemukan/kurusan itu baru ada kalau ada pembandingnya, entah berat dan bentuk badan di masa lalu, atau berat dan bentuk badan orang lain. Karena saya tidak suka ditanya-tanya soal berat/bentuk badan, saya usahakan juga untuk tidak menanyakan hal ini ke orang lain, apalagi orang yang saya tidak begitu kenal. Tapi kalau ada yang bertanya apakah saya kurusan/gemukan, selama ini saya kurang-lebih bisa memberitahu alasan kenapa hal itu terjadi karena ada awareness yang lebih terhadap kesehatan saya sejak tahun lalu.

Untuk menyesuaikan dengan kemampuan metabolisme tubuh dan pencernaan yang menurun seiring dengan pertambahan usia, sudah 10 hari ini saya tidak makan nasi di malam hari. Awalnya berat sekali dan bawaannya lapar melulu, tapi saya sadar kalau harus ada pengurangan asupan makanan untuk mengimbangi jatah olahraga yang berkurang. Sepuluh hari sudah berjalan dengan baik dimana makan malam diisi dengan sayur, buah, dan lauk protein saja. Walhasil badan terasa lebih ringan dan perasaan saya setiap bangun pagi lebih baik, dalam artian tidak kelaparan. Kata teman saya, kalau kita makan banyak pada malam hari, lambung dan usus akan bekerja keras di saat seharusnya mereka beristirahat waktu kita tidur, akibatnya pagi hari biasanya kita akan merasa sangat lapar. Apakah teori itu benar? Hmm, ga tahu ya, yang jelas karena malam saya tidak makan nasi, secara tidak sadar saya jadi mengurangi juga porsi nasi untuk makan siang (dan sesekali untuk makan pagi). Kita lihat saja nanti bagaimana hasil diet ini setelah beberapa bulan.

Jadi untuk teman-teman perempuan semua, jangan khawatir dengan berat dan bentuk badan Anda. Body Mass Index (BMI) lebih penting dari berat badan yang kita lihat di timbangan (silakan Google untuk cara menghitungnya ya), dan bentuk badan tidak selalu harus seperti model di majalah yang kita baca (bentuk badan di media massa bisa di-photoshop dengan mudah sekali). Yang penting adalah menjaga kesehatan dengan:

  1. Be aware dengan gizi dari makanan kita.
  2. Berolahraga cukup dan teratur. Sesuaikan beban latihan dengan limit kekuatan fisik kita dan ga usah lakukan olahraga hardcore kalau badan tidak sanggup (misal: maksain lari padahal punya masalah dengan pergelangan kaki).
  3. Beristirahat dengan cukup untuk menjaga badan tetap fit (saya masih gagal di sini karena setiap hari bergadang untuk nulis, sehingga sudah tiga minggu terakhir saya batuk-pilek bergantian, hehe),
  4. Kelola stres. Bukan hindari stres, karena emosi, negatif maupun positif, harus diterima, dirangkul, dan dimanfaatkan untuk menjadi hal yang baik. Kelola stres yang kita hadapi akibat masalah entah di rumah/pekerjaan/pergaulan/dll. untuk membuat diri kita lebih tahan banting terhadap tekanan dalam kehidupan.

 

Oya, satu hal lagi. Warna dan motif pakaian yang kita pakai sangat menentukan apakah kita terlihat kurusan atau gemukan, sebagai contoh: pakaian berwarna gelap (hitam, abu-abu tua, biru donker) dan motif garis vertikal memberi ilusi badan yang lebih kurus dari sebenarnya. Jadi coba perhatikan baju yang kita pakai terutama saat kita hendak dress to impress  orang lain. Buat saya sendiri, saya ga akan pernah lagi pakai dress biru-putih bermotif garis horizontal itu ke acara makan siang dengan teman-teman Taekwondo!

Saling Memahami Antara Suami-Istri

Setiap hari Senin pagi biasanya mood saya ga bagus. Akhir pekan terlalu cepat berlalu, dan saya ga bisa lagi bangun siang dan tidur subuh demi menulis, hehe. Udah mood ga bagus, males pergi latihan taekwondo, pagi ini saya dan suami sedikit berdebat pula tentang makanan.

S(uami)            : Mam, ini ada nasi sisa tadi malam. Mau bikin nasi goreng tapi ga ada bumbunya nih.

I(stri)               : Bumbu jadi maksudnya? Bukannya kita ga suka pake bumbu jadi?

S                      : Bukan bumbu jadi. Kemiri ada, bawang merah ada, tapi cabe merah ga ada.

I                       : Ada, kok, di kulkas. Cabe merah kecil dan cabe hijau kecil ada semua.

S                      : Ga bisa cabe merah kecil. Harus cabe merah besar, biar nasi gorengnya enak dan lebih wangi.

I                  : (mengernyitkan dahi dalam-dalam) Serius? Jadi gimana nih nasinya? Aku makan aja buat makan siang?

S                 : Jangan, tar kamu beli cabe merah besar dulu. Aku masak nasi goreng malam aja buat makan malam.

ASTAGAAA … percakapan yang panjang banget ya hanya untuk masak nasi goreng, Saudara-saudara? Buat suami saya yang suka masak dan yang hampir selalu mengejar rasa masakan terbaik, ketersediaan dan kualitas bahan makanan (termasuk bumbu-bumbu printilan) itu penting banget banget. Buat saya yang prinsipnya adalah eat and be done with it, semua kerepotan demi memasak satu masakan selalu saya hindari sebisa mungkin. Mau masak nasi goreng? Asal ada mentega, telur, garam, bawang putih, nasi goreng pun jadi. Bumbunya pun dipotong kecil-kecil dan cepat-cepat, ga seperti suami yang harus blender semua bumbu, tumis dulu dengan minyak zaitun sedikit, barulah nasinya dimasukkan terakhir. Rasa nasi goreng bikinan dia saya harus akui memang enak banget banget, tapi saya ga berminat meniru cara dia. Bumbu-bumbu buat bikin nasi goreng ga ada? Ya sudah, makan nasi polos aja. Masak itu sesuai dengan bahan makanan yang tersedia di kulkas. Saya sudah menyerah coba membuat menu mingguan, karena biasanya masak sesuai mood dan sesuai permintaan anak-anak per harinya.

Gara-gara percakapan pagi hari ini saya jadi teringat dengan konseling pranikah yang kami ikuti 11 tahun lalu. Sesaat setelah kami memutuskan berpacaran, kami segera mengikuti kelas konseling pranikah yang diadakan oleh gereja tempat suami berjemaat. Dari awal pacaran kami memang sudah yakin mau menikah jadi lebih cepat ikut konseling, lebih baik. Kelasnya sendiri bukan one-on-one session dengan pendeta, tapi seperti kelas umum dengan peserta 10 – 20 orang setiap hari Sabtu malam. Saat pertemuan kedua atau ketiga (saya lupa tepatnya) kami yang keras kepala dan sok tahu ini sudah menghadap pendeta untuk memprotes konsep dia yang mengatakan kalau mau menikah cari orang yang berbeda dari kamu. Hah, mana mungkin? Bukankah karena ada kesamaan minat, hobi, dll. dua orang bisa saling tertarik dan akhirnya memutuskan jalan bersama? Lalu bapak pendeta yang sangat sabar tersebut memberikan analogi roda gigi. Kalau 2 roda gigi punya ukuran dan tekstur yang persis sama, roda hanya akan berjalan di tempat. Kalau roda gigi punya ukuran dan tekstur yang berbeda dan saling melengkapi, roda pasti akan berjalan dengan lancar. Karena penasaran dengan maksud bapak pendeta, kami pun selalu rajin mengikuti kelas demi kelas konseling pranikah.

Sampai pada akhirnya konseling dilanjutkan ke sesi hanya antara pendeta dan pasangan yang mau menikah. Ini terjadi beberapa saat sebelum kami berpisah kota dan pacaran jarak jauh (fyi, kami hanya bersama di satu kota selama 6 bulan dan menghabiskan 1.5 tahun berikutnya pacaran antar kota Surabaya-Balikpapan, Cikarang-Balikpapan, Cikarang-Jakarta, sebelum akhirnya menikah 2 tahun pas setelah jadian). Nah di sesi ini kami disuruh pak pendeta untuk menuliskan hal-hal dalam diri pacar saya yang saya harus terima dan tidak bisa saya ubah, dan hal-hal dalam diri saya yang dia harus terima dan tidak bisa dia ubah. Pacar saya juga menuliskan hal-hal yang sama. Akhirnya kami pergi ke Mal PTC di Surabaya, duduk di restoran A & W, dan sibuk menuliskan di kertas folio bergaris hal-hal yang diinstruksikan oleh pak pendeta.

Beberapa jam berlalu dan kami pun kebingungan. Kertas di hadapan kami masih relatif kosong karena kami tidak bisa menuliskan hal-hal apa yang kami harus terima/tidak bisa ubah dari diri pasangan kami. Ternyata ya selama usia pacaran yang seumur jagung kami lebih sering membicarakan hal-hal di luar diri kami, tentang si ini/si itu, kejadian ini/kejadian itu, dan sangat jarang membicarakan tentang diri kami sendiri, bagaimana sikap/tindakan saya dan dia jika menghadapi suatu kondisi. Waktu itu kami masih menutup-nutupi siapa diri kami sebenarnya, dan tidak tahu sama sekali tentang diri pasangan kami. Latihan itu membongkar semua kepura-puraan dan pencitraan sedari dini. Kata orang, 6 bulan pertama dalam pacaran, kotoran pun akan terasa seperti coklat. Kalau buat kami, semua aib terungkap sudah dalam 6 bulan pertama. Saya yakin hal itu yang membuat kami bisa bertahan menjalani pacaran jarak jauh, dan pernikahan dimana 4 dari 9 tahun menikah dijalani dengan tinggal terpisah di dua kota. Konseling pranikah yang kami jalani selama dua tahun memberi kami bekal untuk memahami diri sendiri kami sendiri dan pasangan kami.

Banyak orang yang kaget setelah menikah dan bisa bertengkar karena masalah sepele seperti kebiasaan mengorok saat tidur, mengeluarkan odol dari ujung atas/ujung bawah tub, dan lain sebagainya. Konseling pranikah yang kami jalani tidak meniadakan perbedaan-perbedaan dan argumen karena perbedaan-perbedaan itu kok, tapi membuat kami lebih bersikap santai dalam menghadapinya. Contoh kasus: suami saya sudah maklum kalau saya ini paling malas memanaskan makanan dari kulkas. Saya sering memasak rendang/semur dalam jumlah banyak untuk lauk makan beberapa hari. Tiap kali saya mau makan saya tambahkan saja rendang/semur itu ke nasi yang masih panas mengepul, nanti kan rendang/semur jadi ikutan hangat. Suami saya selalu geleng-geleng kepala sambil mendesis, “Males banget sih”. Kalau dia juga mau ikut makan, baru deh saya panasin lauknya. Seringnya sih dia yang dengan baik hati memanaskan lauk untuk saya. Jadi dia sadar kalau ini hal yang tidak bisa diubah dan harus diterima dari diri saya, dan dia memposisikan diri sebagai penolong dalam kemalasan saya.

Lain saya, lain dia. Suami saya itu paling ga bisa menutup pintu lemari/laci setelah mengambil pakaian/barang di gudang. Kami menikah hampir 9 tahun dan ini kebiasaan dia yang bikin saya geleng-geleng kepala minimal 2 kali sehari. Setelah dia berangkat ke kantor, tugas saya adalah menutup semua pintu yang dia tinggalkan terbuka. Menjengkelkan tapi harus saya terima karena itu sifat dia yang nyaris tidak bisa diubah. Kenapa nyaris? Kadang-kadang dia ingat sih menutup pintu lemari, dll. kalau saya berjaga-jaga di dekat dia untuk mengingatkan, ha-ha. Eh ngomong-ngomong soal menutup pintu, lama-lama saya curiga kalau ini kebiasaan yang mendarah-daging di diri laki-laki. Saya sudah menemui dua orang teman kami laki-laki yang punya kebiasaan serupa, dan istri-istri mereka juga mengeluhkan hal ini seperti saya. Sekarang anak kami yang laki-laki mulai kelihatan suka lupa menutup pintu. Ada apakah antara laki-laki dan kemampuan/kemauan menutup pintu?

Kembali ke nasi goreng. Jadi suami saya mengharapkan saya membeli cabe merah besar untuk dia masak nasi goreng tar malam. Apa daya, teman-teman saya siang ini datang ke rumah dan nasi yang akan dibuat nasi goreng sudah ludes kami habiskan. Sebagai gantinya, ada sambal krecek buatan teman saya buat makan malam nanti ya, sayang. Hehehe.