Memaknai Bahwa Hidup Adalah Pilihan

Hidup adalah pilihan.

Frase ini sering sekali kita dengar, tapi apakah kita mengerti betul maknanya?

Malam ini saya dan keluarga diundang makan malam di rumah seorang teman dekat saya. Kami berkenalan satu tahun lalu waktu kedua anak bungsu kami satu kelas di sekolah. Benar kata orang, berteman itu seperti menemukan frekuensi radio. Tanpa banyak basa-basi kami berdua langsung cocok dan sering bertemu di sekolah dan pada akhir pekan.

Teman saya ini seorang yang berkepribadian kuat, tapi kekaguman saya terhadap dia baru mencapai puncaknya hari ini.

Dia seorang istri yang sehari-hari bekerja di pabrik. Dia mengurus kedua anaknya dengan telaten dan sepenuh hati, selalu menyempatkan diri untuk mengantar-jemput sendiri anaknya ke dan dari sekolah, tahu betul apa yang dipelajari anak-anaknya di sekolah. Dia beberapa kali diperdaya oleh asisten rumah tangga padahal hatinya sangat baik dan tidak pernah segan membantu orang lain dalam hal perhatian dan uang, sampai akhirnya dia bertahan dengan satu orang asisten saja untuk mengurus rumah. Dia sabar luar biasa dalam menghadapi tekanan. Dia memegang prinsip bahwa kesusahan akan selalu ada tapi tidak boleh berlama-lama diam dalam kesusahan. Dalam setiap kesusahan dia akan cepat bangkit untuk menemukan jalan keluar; solusi di depan lebih penting daripada berkeluh-kesah sekarang.

Hidup teman saya ini penuh dengan tantangan tapi dia selalu bisa tersenyum dalam menghadapi setiap badai. Selama hampir dua tahun mengenalnya saya hanya satu kali melihatnya menitikkan air mata karena stres, padahal saya kalau curhat ke teman perempuan pasti sudah menangis bombay kalau lagi kalut banget, haha. Dia bisa menceritakan masalah-masalahnya yang sudah lewat ataupun yang masih terjadi dengan sikap santai dan can do spirit yang luar biasa. Dia yakin semua kesulitan pasti akan berlalu dan dia selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk orang-orang di sekitarnya.

Saya tahu pasti kalau saya ada di posisi dia, memegang peranan-peranan yang dia pegang sebagai istri, ibu, dan karyawan di kantor, saya akan remuk-redam.

Saya tidak bisa membayangkan bekerja penuh waktu di kantor sambil tetap memonitor perkembangan anak-anak di sekolah dan mempercayai seorang ART untuk menjaga anak-anak selama saya bekerja. Saya tidak berpengalaman mengurus anak dan saya tahu saya tidak bisa mempercayakan anak saya pada pengasuh/pembantu, sehingga saya langsung mengundurkan diri dari perusahaan setelah melahirkan anak pertama delapan tahun lalu, dan tidak kembali lagi ke dunia korporasi sampai sekarang. Saya mempunyai standar kebersihan yang tinggi dan sedari saya kecil dan masih tinggal bersama orang tua saya kurang mempercayai hasil bersih-bersih seorang ART. Menjadi ibu rumah tangga adalah pilihan yang tepat untuk saya dulu dan saat ini karena saya bisa memfokuskan pikiran dan energi pada hal-hal yang paling penting, yaitu: suami, anak-anak, dan rumah.

Sewaktu saya masih bekerja di perusahaan saya sering membawa masalah di tempat kerja ke rumah. Mengartikulasikan emosi negatif (kemarahan, kekecewaan, kekesalan, kesedihan, dan sejenisnya) secara verbal dan tepat tanpa berujung pada melampiaskan emosi secara searah pada orang yang tidak tahu apa-apa selalu menjadi tantangan buat saya. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana kalau saya bekerja di kantor dengan segudang masalah dan pulang ke rumah untuk menemui segudang masalah lain dengan anak-anak dan ART. Pasti ujung-ujungnya saya bisa meledak karena tekanan yang berat dari dua buah hal yang menjadi tanggung jawab saya.

Tapi teman saya ini tidak. Dia tidak remuk di bawah tekanan; dia mengambil sisi positif dari setiap masalah yang dia hadapi untuk menjadikan dirinya lebih kuat dan tangguh.

Malam ini dia mengajari saya tentang memaknai hidup itu adalah masalah pilihan.

Dia bisa memilih tidak bekerja di kantor dan hanya mengurus rumah tangga, tapi dia memilih untuk tetap bekerja, membagi dirinya dengan orang-orang selain keluarganya, menerima tugas dan tanggung jawab baru, menyelesaikan setiap tugas, dan bersukacita atas pencapaian-pencapaian kecil dan besar. Saat ada banyak masalah di tempat kerja, dia memilih untuk bertahan dan menghadapi masalah-masalah itu. Dia tidak pernah berpikir untuk cepat-cepat mencari pekerjaan di perusahaan lain. “Saya memilih untuk tetap berada di perusahaan ini, jadi setiap masalah yang saya temui adalah bagian dari pilihan saya,” begitu katanya pada saya. Bertolak-belakang sekali dengan sikap banyak orang yang saya tahu yang cepat-cepat resign jika tidak cocok dengan bosnya.

Dia bisa memilih memiliki lebih dari satu asisten rumah tangga untuk membuat pekerjaannya di rumah lebih mudah, tapi dia bertahan dengan satu orang ART saja yang sudah ikut dia bertahun-tahun. Tentu saja dia jadi harus ikut ambil bagian dalam setiap pekerjaan rumah tangga, seperti: mencuci pakaian dan memasak, tapi dia lakukan semuanya tanpa mengeluh. Dia bangun sangat pagi, membereskan semua keperluan suami dan anak-anaknya, mengantar anak-anak ke sekolah, dan kembali ke rumah untuk membereskan pekerjaan rumah sebelum akhirnya dia berangkat ke kantor. Tugasnya begitu banyak dan tekadnya begitu kuat untuk menyelesaikan semuanya dengan sebaik-baiknya.

Saat anaknya kena suatu penyakit yang membuatnya harus mengubah drastis gaya hidup dan pola makan seluruh anggota keluarga, dia melakukannya dengan sigap. Dia membaca banyak buku, mengikuti kursus-kursus, berkonsultasi dengan banyak ahli dan praktisi kesehatan, belajar memasak sendiri makanan-makanan yang selama ini bisa dibeli dengan mudah di restoran. Untuk saya yang tidak pernah suka memasak, hal ini luar biasa. Saya tidak bisa membayangkan diri saya membuat roti sendiri, saus spaghetti sendiri, dan es krim sendiri. Makanan di luar rumah begitu bervariasi dan begitu mudah diakses sehingga saya hampir tidak pernah terpikir untuk membuat sendiri apa yang saya bisa beli. Dari dia saya jadi belajar tentang makanan organik, tentang eating clean, dan tentang memperbaiki gaya hidup untuk menjalani hidup dengan lebih sehat. Dia bisa memilih untuk membeli saja produk makanan organik, tapi dia memilih untuk belajar membuat semuanya sendiri demi kesehatan seluruh anggota keluarganya. Termasuk untuk menanam sayur-mayur sendiri di halaman rumahnya. Memang dia tidak pernah berhenti menginspirasi saya.

Waktu dia, dan saya, merasa lelah dengan semua kewajiban dan rutinitas, kami sering berandai-andai sedang bersantai di pantai, tidur siang, minum jus kelapa muda, dan tidak melakukan apa-apa selama sehari penuh. Sebuah khayalan yang sangat menyenangkan dan ingin saya wujudkan untuk dia. Saya rasa teman saya ini yang sangat tabah, bijak memilih, dan sabar menghadapi setiap konsekuensi dari setiap pilihannya sangat pantas mendapatkan itu.

Advertisements

Mempertanyakan Kelogisan Cerita Drama Korea

Drama Korea pertama yang saya tonton adalah ‘Endless Love’ (2001) yang dibintangi oleh Song Hye Kyo dan Won Bin. Drama ini begitu menyedihkan, getir, melankolis, dan bikin patah hati, tapi saya tetap menontonnya karena tampang para pemainnya yang cakep dan cantik (waktu itu Won Bin belum operasi plastik dan Song Hye Kyo sudah terlihat kinclong seperti sekarang), dan kemampuan akting mereka yang sangat meyakinkan. Teman-teman kuliah saya pada waktu itu sudah memperingatkan kalau menonton drama Korea itu bikin ketagihan. Nasihat itu membuat saya menahan diri untuk tidak selalu mengikuti setiap episode yang ditayangkan, walaupun saya selalu mendapat spoiler dari teman-teman yang juga mengidolakan Won Bin, hehe.

Setelah drama tersebut saya secara kebetulan menonton drama ‘Full House’ (2004) yang dibintangi oleh (lagi-lagi) Song Hye Kyo dan Rain, karena teman-teman saya di lab di kampus berulang-ulang memutar lagu-lagu Original Sound Track (OST) dari drama ini. Terkadang saya menontonnya kalau saya ada waktu, tapi saya tidak suka dengan plot ceritanya. Permulaan cerita dari drama ini sudah tidak masuk akal. Bagaimana mungkin seseorang (karakter yang bernama Han Ji Eun (Song Hye Kyo)) membiarkan rumahnya dijual oleh temannya tanpa sepengetahuan dirinya, dan dia tidak begitu marah pada temannya itu? Teman sih teman, tapi kalau hal ini terjadi pada saya pasti saya sudah melibatkan polisi! Lalu, bagaimana mungkin dua orang jatuh cinta hanya karena mereka tinggal di dalam satu rumah walaupun mereka selalu bertengkar setiap kali mereka bertemu? Kata teman saya, mungkin perasaan cinta itu tumbuh karena mereka sudah terbiasa dengan keberadaan masing-masing karena mereka tinggal di bawah satu atap, jadi perasaan cinta tumbuh karena adanya teman yang secara konstan berada di sekelilingmu. Komentar saya pada waktu itu adalah, perasaan yang tumbuh dengan cara seperti itu patut dicurigai sebagai cinta. Mungkin saja karakter dramanya hanya merasa kesepian dan kemudian jadi jatuh cinta karena sudah terbiasa berinteraksi dengan orang yang sama. Kalau kata orang Jawa: witing tresno jalaran soko kulino, yang artinya cinta tumbuh karena terbiasa.

Dua belas tahun berlalu dan saya mulai menonton lagi drama Korea tahun lalu karena dibujuk oleh teman saya. Drama yang saya tonton adalah ‘Descendants of The Sun’ yang dibintangi oleh Song Joong Ki dan (lagi-lagi) Song Hye Kyo. Saya langsung jatuh cinta pada plot cerita dan pada aktor-aktornya (terutama aktor utama, haha), dan saya ikut bahagia waktu Song Joong Ki dan Song Hye Kyo menikah pada bulan Oktober lalu. Setelah menonton DOTS saya mulai menonton drama-drama dari tahun-tahun sebelumnya untuk menemani kegiatan rutin saya menyetrika baju. Waktu itu saya sudah tidak mengikuti industri film/drama di Korea jadi saya tidak tahu drama mana yang layak ditonton dan aktor mana yang aktingnya bagus. Saya juga tidak membaca review-review yang beredar di internet supaya saya punya pandangan objektif terhadap suatu drama. Akhirnya saya mulai dengan menonton drama-drama yang dibintangi oleh Lee Min Ho, hanya karena saya melihat wajah dia terpampang di iklan sebuah produk kopi instan dari  Indonesia.

Drama-drama pertama yang dibintangi Lee Min Ho (LMH) yang saya tonton adalah ‘Personal Taste’ (2010) dan ‘City Hunter’ (2011), dan seusai menontonnya perasaan dan pendapat saya campur-aduk. Drama yang berjudul ‘Personal Taste’ didasari oleh cerita yang ringan dan sederhana, tentang LMH yang berpura-pura menjadi gay supaya diperbolehkan tinggal di dalam sebuah rumah tradisional Korea yang dimiliki dan didiami oleh seorang wanita muda dan single. Pada akhirnya karakter yang diperankan LMH jatuh cinta pada induk semangnya.

Perhatikan ide utamanya ya; karakter-karakter dalam drama ini tinggal di bawah satu atap pada satu periode waktu untuk memungkinkan mereka saling jatuh cinta. Sayangnya ide utama ini diulang di dalam drama LMH yang berikutnya yaitu ‘City Hunter’, tapi dengan pelintiran plot yang lebih absurd. Di drama ini LMH membeli rumah dari rekan kerjanya yang miskin-tapi-cantik-banget untuk membantu si rekan kerja membayar tagihan rumah sakit ayahnya yang sedang mengalami koma. Akan tetapiiiiii …, berhubung si rekan kerja yang miskin-tapi-cantik-banget itu tidak punya tempat tinggal lain selain rumah yang dia baru jual, akhirnya LMH mengajak si rekan kerja untuk tinggal bersama saja (walaupun sebenarnya LMH sudah punya rumah sendiri). Akhir dari plot seperti ini sudah bisa ditebak ya, LMH jatuh cinta pada teman serumahnya. Dan ide cerita beserta plotnya diulang kembali tanpa malu oleh drama terakhir yang dibintangi LMH sebelum dia pergi wajib militer pada tahun 2016 yang berjudul ‘The Legend of The Blue Sea’.

Saya mengamati dan merenungkan kelogisan cerita drama Korea baru dari tiga drama yang dibintangi Lee Min Ho, seorang bintang Korea (film, drama, iklan) yang katanya sangat terkenal. Kalau saya menonton lebih banyak lagi drama yang dibintangi oleh aktor-aktor lain, mungkin akan ada pengulangan ide dan plot cerita seperti di dalam drama-drama yang dibintangi Lee Min Ho.

Pada akhirnya saya jadi bertanya-tanya:

  1. Kenapa orang berpikir kalau cara tercepat untuk jatuh cinta adalah dengan cara tinggal di bawah satu atap?

Beneran deh, KENAPA? Waktu sedang mengobrol ngalor-ngidul tentang topik ini, seorang teman saya berkata, bagaimana mungkin tidak jatuh cinta kalau teman serumah kita seganteng Lee Min Ho? Saya tertawa lebar sambil bilang, bisa jadi, tapi sering kali kita tidak bisa memilih tampang orang-orang yang harus/memilih tinggal satu rumah dengan kita. Tinggal bersama orang lain di dalam suatu ruang dan waktu perlu trik tersendiri; bentrokan kepribadian dan kebiasaan kemungkinan besar akan terjadi tanpa memandang jenis kelamin maupun kecakepan/kecantikan teman serumah. Kita lebih bisa mentolerir bentrokan kalau kita tinggal dengan anggota keluarga karena ada hubungan darah dan keterbatasan pilihan, tapi tinggal dengan anggota keluarga besar atau bahkan orang asing tentunya lebih rumit dan lebih menantang. Contohnya saya, saya seorang penyendiri dan perlu ruang privat. Sebisa mungkin saya tidak berbagi kamar tidur dengan orang lain, dan saya tidak terlalu suka kalau ada orang-orang selain anggota keluarga inti berkeliaran di rumah saya.

Tiga belas tahun lalu saya tinggal dalam satu apartemen dengan seorang teman kuliah selama enam bulan dan rasanya seperti neraka. Kami datang dari latar belakang yang berbeda dan memiliki karakter dan kebiasaan yang juga berbeda jauh. Teman itu berasal dari keluarga kaya-raya pemilik ladang minyak di Iran. Dia selalu punya seorang asisten pribadi yang menemani dan mengurus kebutuhannya. Dia tidak pernah membersihkan apa pun seumur hidupnya sebelum dia tinggal di apartemen yang sama dengan saya. Sedangkan saya sudah terbiasa membersihkan dan membereskan rumah karena keluarga saya berhenti mempekerjakan pembantu begitu saya beranjak usia delapan tahun.

Saya dan dia berdebat soal banyak hal kecil, seperti: 1) pembalut wanita bekas pakai yang “ketinggalan” di kamar mandi (tebak deh itu punya siapa), 2) remah-remah roti atau makanan apa pun yang selalu “ketinggalan” di meja setiap kali dia selesai makan (dan tidak pernah dibersihkan walaupun saya sudah berulang kali minta tolong), dan banyak hal lainnya.

Tinggal bersama orang lain itu seperti berjudi. Kalau kita menemukan teman serumah yang bisa selaras dengan kita, rasanya seperti dapat jackpot dan kita semua bisa hidup bahagia selamanya. Tapi kalau karakter dan kebiasaan kita sering bentrok, lama-kelamaan kita akan lelah untuk selalu bersikap toleran dan pengertian. Bahkan tampang cakep/cantik teman serumahmu tidak bisa mencegahmu untuk muntah jika melihat wajahnya karena banyak hal dari dirinya yang membuat kamu sebal!

Memang benar, tinggal serumah dengan pria cakep (seperti di dalam drama-drama Korea) bisa membuat hati bergetar dan akhirnya jatuh cinta. Namun akankah degup itu tetap ada kalau si pria cakep suka mengupil di meja makan, tidak pernah mau mencuci piring yang dia pakai, selalu menyalakan AC padahal dia sudah meninggalkan rumah dan membuat tagihan listrik membengkak tak karuan? Kalau saya sih, mustahil untuk menyukai atau jatuh cinta pada teman serumah seperti itu, SECAKEP APAPUN DIA. Jatuh cinta pada teman serumah adalah ide yang kelewat romantis dan tidak masuk akal yang hanya cocok untuk cerita dongeng, yah seperti cerita drama Korea.

 

  1. Waktu karakter-karakter drama berciuman untuk pertama kalinya.

Mereka yang sering menonton drama Korea pasti bisa menebak klimaks dari jumlah episode yang umumnya dimiliki oleh sebuah drama (16 atau 20 episode). Jika drama itu memiliki 16 episode, nantikan pengakuan perasaan cinta dan ciuman pertama pada episode ke-7 dan ke-8. Jika drama itu memiliki 20 episode, nantikan pengakuan perasaan cinta dan ciuman pertama pada episode ke-9 dan ke-10. Nah, bicara tentang ciuman pertama, mungkin tidak dalam kehidupan nyata untuk mencium atau dicium oleh gebetan walaupun belum resmi berpacaran?

Dalam cerita drama Korea, karakter-karakternya sedang dalam tahap pendekatan untuk mengenal satu sama lain lebih jauh dan belum resmi berpacaran. Pantaskah mencium untuk menunjukkan rasa sayang tapi tidak (atau belum) ada kepastian hubungan apa yang sedang dijalani? Pertemanan kah atau pacaran kah? Apa si pria kira semua wanita gampangan?

Tapi eh tapi, ciuman pertama seperti di dalam drama-drama Korea kan romantis, bikin hati bergetar dan berbunga-bunga, kata teman saya. Kalau itu terjadi pada kamu apakah kamu akan diam saja, saya tanya balik. Ciumannya mungkin terasa mendebarkan, tapi coba bayangkan pria itu secara serampangan melakukan hal yang sama pada wanita-wanita lain, termasuk dirimu, karena dia tidak menjanjikan atau berkomitmen apapun pada wanita manapun.

Saya memang masih kolot; menurut saya menunjukkan kasih sayang, entah itu lewat pelukan atau ciuman, harus diawali dengan deklarasi komitmen dari kedua belah pihak. Tanpa komitmen, hubungan yang lebih dari pertemanan tapi belum mencapai pacaran itu akan terlihat seperti main-main tanpa keseriusan dan kesetiaan.

 

Sampai saat ini saya masih menonton drama-drama Korea yang sedang tayang atau yang sudah tayang beberapa tahun lalu sebagai hiburan saat menyetrika baju. Terkadang memang jalan ceritanya (yang tidak melibatkan romansa) sangat menarik, membuat berpikir, dan yang pasti tidak seperti cerita di sinetron-sinetron Indonesia.

Ngomong-ngomong, saya jadi ingin tahu pendapat lain dari sesama pecinta drama Korea, hehe.

 

Sebuah Cangkir Keramik dan Kebohongan yang Disengaja

Bulan lalu saya pergi ke Museum Seni Rupa dan Keramik di Kota Tua, Jakarta dengan teman saya untuk belajar membuat keramik. Teman saya sudah pernah ke sana dan berhasil membuat sebuah mangkok besar, sedangkan kali ini adalah kali pertama untuk saya. Di sana saya membuat dua buah cangkir untuk kedua anak saya dari satu kilogram tanah liat khusus. Waktu pembuatan sekitar satu jam dan cangkir dibawa pulang dalam keadaan basah. Cerita perjalanannya bisa diintip di sini.

Nah, karena cangkir yang dibawa pulang masih lembek, bapak yang mengajari saya membuat cangkir memberitahu saya supaya cangkir diangin-anginkan beberapa hari dengan cara ditaruh di tempat terbuka yang tidak mendapat sinar matahari langsung. Saya membawa pulang cangkir dengan kotak nasi Padang dan naik bis. Waktu turun dari bis, kotak yang saya pegang tersenggol orang di depan saya jadi cangkir agak penyok. Rasanya pengen banget nangis deh, tapi untung anak-anak masih antusias dengan cangkir handmade yang saya buat untuk mereka. Di rumah saya berusaha untuk meratakan bagian yang penyok, tapi apa daya, tanpa roda pemutar tanah liat permukaan cangkir mustahil dibentuk menjadi mulus lagi.

Kedua cangkir ini akhirnya kering setelah satu minggu saya letakkan di taman dalam rumah. Bentuk akhirnya berantakan, dengan banyak tanah liat yang mengelupas di sana-sini. Proses final pembuatan perabot dari tanah liat memang dengan cara pembakaran, yang sayangnya tidak dimiliki oleh museum ataupun saya. Saya taruh kedua cangkir ini di tempat yang sama selama satu minggu lagi untuk mendapatkan bentuk yang lebih kokoh.

Pada suatu hari Minggu pagi yang tenang, saya bangun dan mendapati handle salah satu cangkir sudah patah seperti di gambar di atas. Kontan saya bertanya: Siapa yang bikin ini? Siapa yang matahin handle cangkir? Wah kalau saya kira pelakunya akan segera mengaku, saya salah besar. Kedua anak saya datang dan sama-sama bilang: Ga tau. Bukan aku. Hmmm, mencurigakan. Tidak mungkin handle-nya patah sendiri karena tanah liat sudah mengeras setelah 2 minggu. Setelah interogasi selama beberapa menit, anak yang tidak sengaja mematahkan handle karena dia ingin mengamati ukiran namanya pada cangkir akhinya mengaku juga. Tapi …, tetap perlu waktu lho untuk membuat anaknya mengaku dengan embel-embel mamanya harus lebih dulu berjanji tidak akan marah besar dan akan memaafkan dia.

Saya jadi berpikir, kenapa ya manusia berbohong? Siapa yang mengajari kita? Kapan kita mulai melakukannya? Apa tujuan akhir kita?

Waktu saya kelas 1 SD saya pernah mencontek teman sebangku saya waktu ulangan Bahasa Sunda. Waktu itu saya duduk di dekat meja guru tapi saya entah kenapa berani melakukannya. Setelah itu guru saya memanggil saya dan bertanya, “Kamu tadi nyontek ya waktu ulangan?” Jawaban saya waktu itu otomatis adalah: tidak (padahal ibu guru pasti bisa melihat saya melakukan hal itu), hehe. Pada akhirnya saya kemudian mengakui perbuatan saya dengan penuh perasaan bersalah dan malu. Malu karena ketahuan atau malu karena menyesal sudah mencontek? Sepertinya waktu itu sih saya merasa malu karena ketahuan, bukan karena menyesal. Saya bersyukur waktu itu saya ketahuan mencontek dan ketahuan berbohong. Peristiwa itu membuat saya berusaha untuk tidak mencontek lagi seumur hidup (dengan beberapa kegagalan waktu mengerjakan ulangan waktu kelas 1 SMA, hiks.)

Kita berbohong untuk melindungi diri, betul kan? Kita pikir kalau fokus tudingan sudah beralih dari diri kita ke orang lain, maka kita aman, kita akan bebas dari sorotan. Terkadang kita tidak berpikir sebelum kita berbohong, tiba-tiba saja kebohongan itu sudah keluar dari mulut kita. Kita ingin mencari aman untuk reputasi kita, tapi sebenarnya kita merendahkan harga diri kita sendiri. Kebohongan tidak akan menyelesaikan masalah dan kebohongan akan diikuti dengan kebohongan-kebohongan lainnya. Kita bisa berkilah kalau kita ‘kepleset’ berbohong tentang suatu hal di suatu waktu, tapi jika kebohongan itu dibentuk, dipelihara, dan dibiarkan sedemikian rupa sampai akhirnya kita bingung mana yang benar dan mana yang bohong, sesungguhnya kita sedang membangun jalan menuju kehancuran diri kita sendiri.

Berbohong adalah salah satu perbuatan natural manusia yang dilakukan tanpa ada yang mengajari dan setiap orang mengucapkan kebohongan pertamanya pada usia yang berbeda-beda. Terlepas dari agama dan iman apapun yang beredar di bumi ini yang mengkategorikan berbohong sebagai perbuatan dosa, mengucapkan kebohongan termasuk pada pelanggaran nilai moral. Kebenaran adalah nilai moral yang universal, dan kebohongan adalah antitesa dari usaha manusia untuk menjadi pribadi yang berintegritas.

Sampai saat ini saya sudah bertemu banyak orang yang membangun kebohongan untuk menciptakan reputasi diri. Mengaku anak orang kaya, mengaku sering jalan-jalan ke luar negeri, mengaku punya pacar cakep, dll. Dan waktu mereka ketahuan, tiada ampun. Teman-teman hilang satu demi satu dan tidak ada lagi yang mempercayai mereka. Jika kebohongan sudah sistematis seperti itu, itu bukan lagi untuk melindungi diri, tapi ada faktor kejiwaan lain seperti kecenderungan narsisme (perasaan cinta berlebihan pada diri sendiri) dan sifat delusional.

Bagaimanakah mengajari anak-anak supaya tidak berbohong? Langkah pertama yang paling penting menurut saya adalah menciptakan kondisi di mana anak-anak merasa bebas bercerita apa saja pada orang tua. Waktu insting kita memberi peringatan bahwa ada sesuatu yang salah, upayakan untuk tetap tenang dan tidak bertanya dengan nada menuduh. Hal ini penting supaya anak tidak merasa tersudutkan. Efek domino dari perasaan tersudut jelas sekali bukan?

Ada hal yang salah –> orang tua bertanya dengan nada menuduh –> anak merasa tersudutkan –> anak berusaha melindungi diri –> anak berbohong –> orang tua tambah marah karena tahu anak sudah membohongi mereka.

Kalau orang tua tidak segera menanamkan kepada anak kalau berbohong itu salah, siklus di atas akan terus berulang dan sulit dipatahkan. Akibatnya diskusi menjadi buntu, dengan orang tua tetap merasa anak salah dan anak tetap merasa orang tua berlebihan. Tentu saja hal ini lebih indah secara teori dan sulit (bukan mustahil) untuk dilakukan. Jika orang tua tetap tenang, bertanya dengan nada netral, memberikan gelagat yang menandakan bahwa semua akan baik-baik saja, anak akan dengan rela bercerita dan tidak menyembunyikan apa pun dari orang tua. Tantangan pertama dan terberat adalah bagaimana memformulasikan pertanyaan yang bisa membuat anak merasa terbuka, bukan bagaimana membuat anak cepat-cepat mengakui kesalahan mereka.

Kembali pada kasus cangkir keramik yang pecah tadi. Saya belum mencapai level nada suara dan pertanyaan yang cukup untuk membuat anak nyaman bercerita, tapi saya berusaha untuk menuju ke sana. Saya melihat mekanisme melindungi diri ini semakin kuat seiring dengan pertambahan usia, dan tambah besar anak akan tambah mudah berbohong, apalagi jika tidak ada yang pernah menegur dan memberi tahu kalau berbohong itu salah. Orang tua perlu mendampingi supaya anak tetap menjadi pribadi yang jujur di setiap waktu, di segala kesempatan. Ciptakan suasana yang kondusif untuk anak-anak bercerita, dan jika kebohongan sudah terlanjur diucapkan, ajak anak untuk mendiskusikan hal apa yang salah dan harus diperbaiki. Tentu saja kita sebagai orang tua harus memberikan contoh terlebih dahulu,karena anak-anak bisa merasakan lho kalau kita tidak sedang berkata yang sebenarnya.

Kebohongan bisa dimulai dari ketidaksengajaan karena ada intuisi untuk melindungi diri. Jika terus ditolerir dan diabaikan, lama-kelamaan kebohongan bisa menjadi suatu keahlian yang dipakai dengan sengaja untuk menguntungkan diri sendiri dan merugikan orang lain.

Kita sebagai orang tua adalah guru sepanjang hayat kita untuk mengikis sifat/kebiasaan buruk ini dari dalam diri kita sendiri dan dari dalam diri anak-anak kita.

Mengapa Wanita Itu Tidak Mengenakan Bra?

Pada tahun 2012 kami tinggal di Swis untuk beberapa waktu dan kami berkesempatan merasakan musim semi, musim panas, dan musim gugur di sana. Ketika cuaca mulai hangat, orang-orang akan menanggalkan pakaian tebal dan mengenakan pakaian yang lebih tipis. Pada suatu hari Sabtu sore di bulan Agustus, saya berdiri di sebelah seorang wanita paruh-baya di halte sambil menunggu bus yang akan membawa saya pulang. Wanita itu terlihat biasa meskipun dia tidak mengenakan bra.

Reaksi saya ketika itu adalah cepat-cepat mengalihkan pandangan saya karena saya tidak merasa nyaman dengan apa yang saya lihat. Anehnya, orang-orang di sekitar saya yang melihat hal yang sama bersikap biasa saja, seperti tidak ada hal yang aneh atau mengejutkan. Bahkan teman pria si wanita itu yang sedang mengobrol dengannya tidak memelototi wanita itu. Orang-orang di sekitar kami tidak mengamati wanita itu seakan-akan dia telah berbuat sesuatu yang salah. Hal ini membuat saya menyadari perbedaan nilai-nilai, norma-norma, dan kebiasaan-kebiasaan di setiap negara dan kebudayaan. Saya berandai-andai, jika wanita yang tidak mengenakan bra itu berada di Indonesia, pelecehan dan kekerasan seperti apakah yang dia mungkin alami?

Setiap manusia adalah makhluk individu yang merupakan bagian dari lingkungan sosial. Sebagai makhluk sosial, setiap orang diminta untuk mengikuti norma, perilaku, dan nilai tertentu. Ketidakmampuan untuk mengikuti aturan kelompok akan membuat seseorang diasingkan oleh kelompoknya. Sejak dahulu kala setiap manusia selalu berusaha mencari orang yang punya kesamaan dengan dirinya. Manusia memasukkan banyak faktor untuk menyamakan dirinya dengan orang lain: ras, agama, status sosial, pendidikan, dan seterusnya. Bentrokan antara kelompok sosial terjadi karena kurangnya dua faktor: penerimaan dan rasa hormat terhadap orang lain.

Manusia harus menerima kalau kesamaan dengan orang lain adalah suatu konsep yang tidak real dan tidak jelas tujuannya. Jika kita menempatkan ras sebagai faktor pemersatu kita dengan orang lain, banyak penelitian telah menunjukkan bahwa tidak ada ras yang murni di dunia sekarang ini. Siapakah yang bisa disebut sebagai ras Indonesia murni, ras India murni, ras Korea murni? Ujung dari terbentuknya suatu identitas ras adalah terbentuknya suatu identitas bangsa. Satu atau lebih ras setuju untuk membangun suatu negara dan bangsa, dan untuk menempati lokasi geografis tertentu. Pertanyaannya adalah, siapa yang bisa menjamin kalau semua penduduk negara itu berasal dari satu ras murni? Tidak seorang pun. Bangsa dan wilayah kependudukan saat ini dibangun berdasarkan kesepakatan. Dan kesepakatan itu adalah hasil dari kemampuan untuk menerima dan menghormati orang lain.

Para pendiri suatu bangsa menerima bahwa ada perbedaan di antara orang-orang yang mendirikan bangsa itu. Secara fisik, tidak ada seorang pun yang identik seratus persen dengan orang lain. Warna rambut, kulit, dan mata yang berbeda-beda jelas-jelas menunjukkan hal ini. Para pendiri suatu bangsa menerima dan menghormati fakta ini. Seumpama agama dan ideologi dipakai sebagai faktor pemersatu suatu bangsa, kita semua tahu kalau iman adalah hal yang berbeda sama sekali dengan agama.

Iman bicara tentang pengalaman pribadi dan harapan. Agama bicara tentang sekelompok orang yang punya kesamaan pandangan dan kepercayaan. Agama adalah suatu bentuk pengelompokan dalam kehidupan sosial, dan kelompok ini sebaiknya juga mengikuti prinsip menerima dan menghormati kelompok sosial lain. Kita menerima kalau ada orang-orang yang mempercayai hal yang berbeda dengan yang kita percayai. Kita menghormati apapun yang mereka percayai.

Mungkin kita tidak setuju dengan hal yang mereka percayai, tapi siapakah kita yang bisa menghakimi kalau kepercayaan mereka adalah benar atau salah? Mengapa pemahaman saya akan surga dan neraka (berdasarkan iman saya) menjadi urusan orang lain? Mengapa pemahaman mereka akan surga dan neraka (berdasarkan iman mereka) menjadi urusan saya? Seharusnya itu menjadi urusan masing-masing orang, karena kita semua diciptakan dan bisa memilih untuk menjadi berbeda antara satu dengan yang lainnya. Kita menerima dan menghormati fakta bahwa kita berbeda.

Kembali kepada wanita paruh-baya yang saya lihat tidak mengenakan bra di sebuah halte bus.

Latar belakang saya yang berasal dari Timur dan negara yang (seharusnya) religius membuat saya berpikir kalau tindakan wanita itu tidak sopan. Saya terus bertanya pada diri sendiri saya? Mengapa ya dia melakukan hal itu? Mengapa ya dia tidak mengenakan bra? Mengapa ya dia tidak menutupi dirinya dengan pakaian yang sopan? Bukankah bra dibuat untuk kenyamanan tubuh wanita dan untuk menjunjung nilai-nilai kepatutan? Seandainya pertanyaan-pertanyaan yang berkelebat di benak saya saat itu saya tanyakan kepada wanita paruh-baya tersebut, kira-kira bagaimana dia akan bereaksi? Dia mungkin berargumen bahwa menurutnya cuaca cukup hangat untuk mengenakan pakaian yang tipis (atau tidak mengenakan pakaian dalam, atau apapun).

Dia mungkin tidak punya maksud untuk membuat orang lain resah, risih, atau tersinggung. Cara berpakaiannya (termasuk keputusannya untuk tidak mengenakan bra) hanyalah sebuah wujud dari pilihan dan selera pribadinya, yang dia rasa dia tidak perlu jelaskan pada orang lain. Mengapa pula pilihan dan selera pribadi dari seseorang yang saya tidak kenal sama sekali dan mungkin tidak akan saya lihat lagi, akan saya biarkan mengusik ketenangan hati saya? Seharusnya tidak kan?

Saya jadi teringat perkataan seorang teman saya waktu saya masih sekolah di Tokyo. Orang-orang dari Timur seringkali melihat orang-orang dari Barat sebagai terlalu liberal karena mereka berpandangan terbuka terhadap hal-hal seperti pilihan untuk tidak mengenakan pakaian dalam. Orang-orang dari Barat tidak repot mengurusi hal kecil seperti kode berpakaian dan hal lain yang bersifat fisik, karena penampilan luar seseorang bisa jadi hanya merupakan produk pencitraan dan ilusi semata. Kita bisa benar-benar mengenal seseorang saat kita berusaha menjalin percakapan untuk mengenal karakter dan kepribadiannya.

Orang-orang yang memiliki tato dan tindikan, atau mengenakan bikini seharusnya tidak dinilai berdasarkan penampilan fisiknya; apa yang keluar dari mulut orang itu adalah jauh lebih penting. Waktu teman saya di Tokyo menegur saya tentang hal itu, saya hanya bisa mengangguk walaupun saya tidak setuju. Saya ingat kalau saya beberapa kali masih mengeluh di depan dia, mengapa orang ini dan itu mengenakan/tidak mengenakan ini dan itu. Sampai suatu saat, teman saya itu menegur saya dengan keras dengan berkata: kamu harus mengurusi urusanmu sendiri.

Urus urusanmu sendiri.

Terima dan hargai orang lain.

Saya rasa kedua hal ini bisa menjadi kunci sederhana untuk mencapai masyarakat yang harmonis.

Why Wouldn’t She Wear Any Bra?

In 2012 we lived for a brief time in Switzerland, where we got the chance to experience spring, summer, and autumn there. When the weather was warmer, people started to shed thick clothing and wear lighter one. One Saturday afternoon in August, while waiting for the bus to take me home, I saw a middle-aged lady standing beside me. She looked ordinary except that she didn’t wear any bra. I quickly averted my sight because I didn’t feel comfortable seeing what I saw, but then I noticed that other people didn’t think of it as something peculiar. Her male companion who was talking to her didn’t gawk at that lady. The people around us didn’t eye her as if she had done something wrong. It gave me ideas about how values, norms, common practices are indeed different among countries and cultures. If the same thing had happened back home, I couldn’t even have imagined what kind of harassment that lady might have experienced.

Every human is an individual entity, as well as a part of a larger social picture. As social creature, human is demanded to adhere to certain social norms, behaviors, and values. Incapability to follow the group’s set rules might result in alienation. Since the beginning of time, human strives to find someone being exactly like him. Human includes a lot of factors to justify similarity: race, religion, social status, education, and the lists go on. Clashes between groups happen just because of the lack of two things: acceptance and respect.

Human should accept that similarity is a vague and absurd concept. If we put race as the unification factor, many researches have shown that there’s no such thing as a pure race in the world nowadays. What is pure Indonesian, what is pure Indian, what is pure Korean? An identity of races is only guiding towards the creation of an identity of nations. One or more races agree to build a nation, to reside in a land, but who can guarantee that the residents of that country are all from one pure race? Nobody. Nations and geographical entities are now built based on agreement. And that agreement is the result of acceptance and respect.

They accept that there are differences among people who build a nation. Physically, nobody is identical with another person. The color of hair, skin, and eyes tells that fact loud and clear. They respect that. And when religion and ideology are used to justify similarity, we all know that faith is a totally different thing than religion. Faith speaks about personal experience and hope. Religion talks about collective people with same views and same beliefs. Religion is another grouping in social life, and it should also comply with the same principles of acceptance and respect towards other social groups. We accept that there are people who believe in different things than we do. We respect that they believe those beliefs. We don’t necessarily agree with those beliefs, but who are we to judge whether those beliefs are right or wrong? Why would the idea of heaven and hell in my opinion (based on my faith) matter to other people? Why would their idea of heaven and hell (based on their faith) matter to me? It doesn’t. We accept and respect that we are different, that different. That’s it.

Back to the middle-aged lady who didn’t wear any bra. My background coming from an eastern and (supposedly) religious country made me think that what that lady did was insolent. I did continuously ask myself. Why did she do that? Why wouldn’t she wear any bra? Why didn’t she cover herself properly? Wasn’t bra made for the purpose of sponsoring decency? But from her point of view, she would argue that the weather was nice enough to wear thin clothing (or wear nothing underneath, or whatever). She didn’t mean to annoy or offend anyone. That’s just her choice and personal preference to dress that way. Why should I be bothered? I shouldn’t have.

I remember something a friend said to me when I lived in Tokyo. People from the East often think that people from the West are too liberal because they’re more open to this kind of thing. They don’t sweat over small things like code for outfit and other physical things. I should know that appearance is only a trick for the eye. What matters from a person is only exposed when there are conversation and effort to get to know that person. Tattoos, piercings, bikinis shouldn’t cloud anyone’s judgment. What’s coming out from the mouth, well, that’s more important. At that time I just nodded, but not in agreement. I remember I was still complaining about why these people wore this and that, until one time that friend scolded me by saying: you should mind your own business.

MYOB.

ACCEPTANCE and RESPECT.

I’m starting to think those are the keys to harmonious society.

 

 

 

Collective Misery

Every human being on this earth prefers to be miserable collectively. It’s more irritating when someone is suffering alone. If there is more than one person carrying the weight, there is this illusion (or truth) that the burden is distributed equally among the people. There is this old saying: ‘be happy when other people are miserable, and be miserable when other people are happy’. This saying describes human nature to be egocentric and envious. It describes human instinct to possess the ultimate love, wealth, fortune, luck available to mankind in this lifetime or another, only for oneself. It portrays human effort to make other human’s achievements and accomplishments to appear below his/her own.

There are two interesting encounters we had on this interesting human tendency.

 

1.Climbing up and down the hills to get to Curug Seribu

Curug Seribu (Seribu Waterfall) is located in Gunung Salak National Park in Bogor. We went there last March when it was often raining cats and dogs. It was cloudy and very humid when we arrived, but there was no rain so we were confident enough to explore the tracks. We didn’t quite anticipate the tracks to be THAT difficult though. The tracks went up and down hills with slopes at sixty to ninety degrees. When we’re going down the tracks we had to kneel down to get our footings for the next steps. The same thing happened when we were climbing up. We put our knees first on the step then pushed ourselves, or being pushed, forward. The steps consisted of only soil with uncut stones scattered on top of them. The handrail was only pieces of wood, tied together with old and tired ropes. When descending we hung on to the simple handrail on our right, and to eroded soil wall on our left. It was a challenging adventure for us and our children.

Our eldest had been trained to take this kind of path since she was two years old, so she only needed a little time to adjust then she walked, climbed, knelt, ascended, and descended on her own. We didn’t have hiking shoes/sandals and sticks with us, so she and I used the point of our umbrellas to stabilize our movements. My husband used the tip of his tripod to walk while carrying our youngest on his arm. Our toddler was not used to this kind of adventure. He got tired easily and carrying him was the only option to keep moving forward.

It was around three PM when we were halfway there, and along the way we met people coming back from the waterfall. All of them looked drained. They were exhausted, we could tell from their faces and how they were sweating hard. One thing those strangers had in common was their comments towards us: 1) Are you crazy taking little children through this kind of track? 2) It’s still long way to go; it’s tiring, the road is slippery, all in all it will be difficult for your family. What we heard was discouragement, discouragement, and discouragement. Didn’t they succeed in reaching the waterfall? They surely did because they met us on their way back. So why did they have to be so discouraging? Why didn’t they boost our spirit by saying that we could do what they did, that we too could conquer those impossible tracks and reach the waterfall?

In September 2012 our family, sans our youngest, went to Edinburgh in Scotland. On our last day there we hiked to Arthur’s Seat, the main peak of several groups of hills towering over Edinburgh. The height we took on was 250.5 meters. Our eldest just turned three years old and we saw no other children hiking along us who were as young as she was. Every time we passed strangers on our way up, none of them, who saw our eldest and asked about her age, made comments like the people we met in Curug Seribu. Oh, you’re three years old and you’re hiking with your parents. Good luck on your adventure. Way to go, little girl. What they said was only ENCOURAGEMENT. They didn’t think we, her parents, were crazy. They didn’t think that she was not capable to do the task. They encouraged us and they lifted our spirit.

I wish those people in Curug Seribu had made the same gestures. The first and foremost key to conquer the nature (or anything in life) is mentality. We already lose when we THINK we’ve lost before even going to war. Maybe the people in Curug Seribu felt they didn’t do well enough in tackling the tracks and they felt miserable about it. Then they wanted us who came after them to feel empathy for their misery, or feel miserable as well. I don’t know. Luckily, we were able to tune out those discouraging voices and managed to come back safely to the parking lot, with the thunder and heavy rain above us, and two wet and sleepy kids in tow. All in all, it was a valuable experience. It taught us a lot about mentality, about being prepared (hiking gears for next trip), about persistence, and about ignoring discouragement altogether.

 

2. Driving through flood in Lippo Cikarang

It was the first weekend in April and we were driving to this hotel, at which the Easter Concert from our church was held. About two kilos from the hotel we were suddenly caught up in a traffic jam. You should know that Lippo Cikarang is an emerging town, but it’s quite small. The whole area comprises of 3.300 hectares land, with only 550.000 residents. The lanes on the main road could take up to four cars at once, but it was never required because the number of vehicles utilizing the roads is relatively low. So we were pretty amazed to see there was a traffic jam here in Lippo.

The normally two lanes had been changed into four lanes. The cars were not moving and we couldn’t see any Lippo officials, be it satpam or patrol officers, were around. We drove one kilo in twenty minutes when we met several Lippo officials who all looked anxious. They told us there had been flood but they couldn’t tell where it was exactly. We were suspicious that it was only a hearsay and the truth was actually not like that. The officials applied contra flow on the road and forced the two lanes on the right to make a U-turn. Well the traffic got better for a while. In order to get to the hotel we took a shortcut through a commercial area, where everybody we passed by (the officials from Lippo and the by-standers) looked even more anxious.

They started to yell at the cars who were queuing to enter this area to retreat and take other roads. My husband didn’t believe in their suggestions, because the cars in front of us kept moving. How bad could it be? When the by-standers saw that we and other people wouldn’t listen to them, they started to nag us that we would be caught in the flood and it would be our fault and nobody would help us. Wow, again we thought, how bad could it be? It turned out to be conquerable.

The commercial area was surely flooding (it never had flood ever since its development in 1998), but the by-standers only looked astonished that there was flood in Lippo Cikarang. The flood was roughly forty centimeters high and it was manageable. The water only soaked half of our tires, and as long as we drove with constant speed, there wouldn’t be any problem. We passed the flooding area (about 500 meters long) safely. If we had listened to those by-standers, we might have been panicking to find other alternative ways, and we might have been stuck in an even worse traffic and been late to attend the concert. The attitudes of those by-standers reminded me of the people we met in Curug Seribu. They’re happily discouraging other people. Most of the by-standers were employees of restaurants and other business ventures in that commercial area. With the flood still around it was guaranteed they didn’t get as many customers as on any normal day. So when they’re lacking activities with too much time on their hands, they felt eligible to make other people feel their misery for losing their usual customers.

It annoyed me that on the way home after dropping my husband and our eldest at the hotel, I saw no flood whatsoever on the road that was used for contra flow. There were not even pools of water on the road. The roads were dry but the cars were still slowing down. I guessed several discouraging by-standers have succeeded in creating this anxiety. Anxiety is infectious and is easily reflected on our faces and with our gestures. A quick look at people standing on the side of the road might have triggered a question on our and their minds, had something bad happened? It didn’t matter that nothing important actually happened. The anxiety and discouragement had trapped many people in an unnecessary hassle that afternoon. Thank goodness, our family is good at ignoring discouragement.

 

This contemplation makes me wonder what kind of collective misery that my friends have been led into, and what kind of discouragement they have encountered in their daily life.

 

Sebelas Tahun dan Sepanjang Hayat

Saya dan suami menikah tanggal 8 November 2008 (8-11-8) yang kalau dijumlah sama dengan kelipatan 9 (ketahuan banget cinta mati sama HMS, haha). Tanggal 8 November kemarin adalah ulang tahun pernikahan kami yang ke-9 yang tidak dirayakan sama sekali. Tanggalnya jatuh di tengah minggu jadi hari itu berlalu seperti biasa dengan segala kesibukan pekerjaan di kantor, di rumah, dan membantu PR anak-anak.

Akhir pekan ini suami mengajak untuk liburan, alias leyeh-leyeh, di sebuah hotel di Jakarta. Kami senang sekali karena pemandangan di luar jendela kami adalah gedung-gedung tinggi yang memadati pusat kota Jakarta dan gedung apartemen tempat pengiring pengantin saya tinggal. Anak pertama saya yang sangat dekat dengan tantenya langsung mengenali gedung itu dan menanti-nantikan untuk bertemu hari ini.

Hari ini Sandra datang dengan kejutan. Dia tidak hanya membawa bakpau hadiah untuk anak saya yang pertama karena sudah berhasil mengerjakan tes Matematika soal perkalian dan bakpau berbentuk Totoro untuk anak saya yang kedua, tapi juga membawa hadiah untuk ulang tahun pernikahan kami (foto di awal post ini). Hadiahnya berupa foto selfie kami yang diambil dari FB, dipercantik dengan berbagai macam hiasan dan bunga yang dibentuk dari kertas daur ulang (intip IG: learteid ya untuk inspirasi aksesoris pemanis rumah), dan dibingkai dengan rapi. Tidak hanya itu, pengiring pengantin saya ini juga membuat beberapa bakpau yang dihias dengan tulisan nama kami dan selamat merayakan ulang tahun pernikahan.

Saya dan suami terharu banget sampai mata berkaca-kaca.

Persahabatan saya dengan Sandra dimulai tahun 2005, sekitar satu tahun sebelum saya berkenalan dengan suami. Kami dulu satu kos, satu kantor, dan setelah melalui pindah banyak kota dan banyak perjalanan hidup, kami tetap ada dalam hidup masing-masing. Dia yang membawa kedua cincin pernikahan kami ke altar. Namanya juga kami berikan sebagai nama tengah anak kami yang pertama. Satu hal yang membuat saya sangat mensyukuri pernikahan kami adalah adanya sahabat-sahabat, teman-teman yang ada dalam cerita kami sejak awal. Saya dan suami mulai pacaran tahun 2006 dan menikah tepat 2 tahun kemudian di tanggal kami jadian, artinya kami sudah saling mengenal satu sama lain selama 11 tahun dan menikah selama 9 tahun.

Benar kata pepatah, hari-hari terasa panjang namun tahun-tahun terasa pendek. Sebelas tahun lewat begitu saja padahal sudah banyak sekali yang terjadi. Jatuh cinta, mulai saling mengerti, bertengkar hebat, patah hati, saling mendukung, berjanji sehidup semati, sampai ada anak-anak yang dikaruniakan pada keluarga kami, semuanya telah dilalui selama sebelas tahun dan kami menantikan perjalanan panjang berikutnya di tahun-tahun mendatang.

Semuanya bukan karena kuat gagah kami; semua karena kasih karunia Tuhan. Terima kasih untuk mereka yang sudah dan masih mendoakan kami.

Untuk suami, terima kasih untuk sebelas tahun dan aku menantikan sepanjang hayat bersamamu.

SIQC 9

Waktu kami jadi MC di SIQC ke-9. Semua berawal dari sini.

 

20171111

Saya dan mereka sebelas tahun kemudian.