Wajibkah Pemerintah Menyediakan Lapangan Kerja?

Perdebatan tentang isu kedatangan (atau keberadaan?) TKA buruh kasar dari China menghiasi timeline media sosial saya (terutama Facebook) selama dua pekan terakhir. Sebagai mantan pekerja korporasi yang bergelut di bidang Human Resources sangatlah menarik untuk mengamati sudut pandang dan standpoint dari para bekas kolega, dan juga komentar-komentar yang dilontarkan oleh teman-teman mereka terhadap status-status di medsos yang berkaitan dengan isu ini.

 

Saya tidak akan membahas tentang Perpres yang kontroversial itu, data perbandingan TKA terhadap TKI di Indonesia, data TKI yang bekerja sebagai buruh kasar di luar negeri dan sumbangsih mereka terhadap devisa negara, dan hal lain yang berkaitan, karena sudah terlampau banyak artikel yang ditulis oleh orang-orang dengan sejuta latar belakang dan bahkan semiliar pendapat pribadi, dengan atau tanpa didukung oleh data yang valid.

 

Yang saya ingin soroti kali ini adalah suatu pernyataan yang saya lihat muncul berulang kali secara acak di kolom komentar suatu status. Pernyataan itu muncul pada status beberapa orang yang bukan mutual friends dan dilontarkan oleh kenalan-kenalan mereka yang sejauh yang saya tahu tidak punya kesamaan komunitas yang memungkinkan mereka untuk menyuarakan (atau mengulang-ulang) satu pendapat yang sama. Pernyataan itu berbunyi, “Pemerintah seharusnya menyediakan/melindungi lapangan kerja untuk rakyatnya.”

 

Haruskah? Wajibkah?

 

Coba kita tarik ke belakang ke bagaimana suatu pemerintah bisa terbentuk. Ada sekumpulan orang yang mendiami suatu wilayah. Mereka bisa jadi satu ras, bisa juga tidak, intinya mereka sepakat untuk mendirikan suatu entitas yang bernama negara dengan seperangkat aturan untuk mengatur dirinya sendiri dan mengatur hubungan antara negaranya dengan negara-negara lain. Jumlah rakyat dalam satu negara hitungannya bukan puluhan atau ratusan, tapi lebih dari itu yang mengharuskan munculnya administrator untuk mengatur kehidupan sehari-hari rakyatnya supaya tetap aman, tenteram, sejahtera, dan sederet kualitas baik lainnya.

 

Administrator itu yang disebut pemerintah. Ada yang dipilih dari antara rakyat dan disebut sebagai wakil rakyat dengan masa kekuasaan terbatas. Itulah sistem demokrasi yang banyak dipakai negara di dunia saat ini. Ada juga yang berupa keluarga dan keturunan yang merupakan penghuni mula-mula dari suatu wilayah. Keluarga ini beranak-cucu, bertambah banyak, dan akhirnya punya cukup rakyat untuk mendeklarasikan diri sebagai suatu negara. Masa kekuasaan pemerintah tidak terbatas selama keluarga itu masih menghasilkan penerus, dan tentu saja selama rakyat negaranya tidak ingin menghentikan sistem monarki tersebut. Sistem monarki dewasa ini biasanya sudah dipadankan dengan sistem demokrasi, dengan monarki dipertahankan sebagai lambang negara dan kabinet yang dipilih oleh demokrasi sebagai pelaksana pemerintahan.

 

Oke, cukup sudah gambaran singkat tentang terbentuknya pemerintah dan apa yang mereka lakukan. Salah satu bekas kolega saya mempertanyakan komentar temannya tentang kewajiban pemerintah untuk menyediakan lapangan kerja. Teman dari bekas kolega saya itu menjawab, “Pemerintah kan sudah dibayar dari pajak rakyat, jadi mereka harus kreatif dong menciptakan lapangan kerja. Mereka juga harus pasang badan untuk melindungi buruh kita dari serbuan buruh asing.”

 

Iya, memang betul pemerintah dan seluruh aparaturnya digaji dengan pajak rakyat, uang saya dan Anda yang kita setor untuk memastikan hidup bernegara kita berlangsung teratur. Tapi apa benar pemerintah wajib menciptakan lapangan kerja untuk saya dan Anda?

 

Penyelenggaraan administrasi suatu negara melibatkan berbagai macam jenis pekerjaan dengan beragam job description. Jika negara perlu militer untuk melindungi wilayahnya, maka pemerintah memerlukan tentara. Orang-orang direkrut, diberikan pendidikan dan pelatihan supaya memenuhi job specification seorang tentara. Jika negara perlu orang-orang untuk mengawasi perlintasan barang antar negara, maka pemerintah merekrut orang-orang untuk bekerja di bea cukai. Pemerintah bahkan merasa perlu mendirikan sekolah khusus untuk menghasilkan lulusan yang langsung siap dan sigap bekerja di bidang bea cukai. Jika menilik aktivitas pemerintah sekarang yang sedang giat membangun infrastruktur, maka wajar ada banyak lapangan kerja yang tercipta, mulai dari supplier yang menyediakan material sampai dengan pekerja konstruksi di lapangan.

 

Lapangan kerja yang sudah saya contohkan di atas, mulai dari tentara, petugas bea cukai, supplier dan pekerja infrastruktur dibuat karena ada kebutuhan, bukan karena pemerintah mencari-cari cara untuk membuat lapangan kerja. Lapangan kerja adalah suatu akibat dari sebab yang jelas, bahwa pemerintah menjalankan amanat yang diembannya untuk memfasilitasi kehidupan rakyat di wilayahnya. Lapangan kerja muncul bukan karena pemerintah wajib menyediakannya; dia adalah suatu akibat dari tindak-tanduk pemerintah untuk menyediakan kebutuhan rakyatnya.

 

Pertanyaan lanjutannya adalah, siapakah yang wajib menyediakan lapangan kerja? Pemerintah atau rakyat? Ada pekerjaan-pekerjaan yang disediakan oleh pemerintah karena ada kebutuhan akan pekerja untuk melangsungkan administrasi negara, namun rakyat perlu berpikir dan bertindak kreatif dalam mencari penghidupannya. Dalam hal lapangan kerja yang diciptakan oleh pemerintah atau rakyat, pemerintah bertindak sebagai regulator yang membuat Undang-undang, Peraturan, dan Keputusan-keputusan lain sebagainya yang mendorong terciptanya iklim investasi yang kondusif dan menyatakan kewajiban dan melindungi hak pekerja.

 

Sulitkah berpikir dan bertindak kreatif untuk menciptakan lapangan kerja?

 

Saya lahir di tahun 80-an dengan orang tua yang bekerja sebagai pegawai negeri dan pegawai swasta. Lingkungan bertetangga saat itu di Bandung bisa dikatakan homogen, kelas menengah-cukup dengan suami-istri yang bekerja sebagai pegawai negeri atau pegawai swasta. Saat itu adalah masa pemerintahan Orde Baru dimana kebebasan berserikat dan berpendapat sangat dikekang oleh pemerintah. Satu-satunya serikat pekerja yang ada di berbagai pabrik adalah SPSI, yang tentu saja merupakan bentukan pemerintah. Demo buruh menuntut perbaikan kesejahteraan bisa dibilang tidak ada, apalagi pernyataan bahwa pemerintah wajib menyediakan lapangan kerja.

 

Yang saya lihat dari angkatan orang tua saya adalah kemauan dan kemampuan mereka untuk menciptakan lapangan kerja mereka sendiri. Ayah saya adalah seorang pengacara. Di saat tidak ada klien, yang artinya tidak ada pemasukan, dia memberi les bahasa Inggris pada anak SMA. Ketika itu tidak ada serikat pengacara yang bisa menuntut pemerintah untuk menyediakan lapangan kerja; satu-satunya jalan untuk menambah penghasilan adalah dengan melakukan pekerjaan lain. Ibu saya adalah seorang dosen bahasa asing di sebuah perguruan tinggi negeri dengan take home pay yang sangat bergantung pada golongan pegawai negeri (mengurus kenaikan golongan pegawai negeri bukanlah hal yang mudah). Di saat kebutuhan hidup bertambah karena biaya sekolah anak-anak yang bertambah, beliau rela bekerja ekstra memberikan les bahasa Jerman mulai pukul lima sore sampai pukul sembilan malam dari hari Senin sampai dengan hari Sabtu supaya bisa mengirimkan kami ke sekolah swasta yang bermutu.

 

Tetangga kami adalah seorang pegawai di PT Dirgantara Indonesia (dulu dikenal sebagai Nurtanio) yang hidup sangat berkecukupan. Mereka adalah orang pertama yang memiliki mobil di kompleks perumahan kami. Saat Nurtanio bangkrut dan terjadi pemecatan massal, bapak itu menggunakan uang pesangonnya yang tidak seberapa untuk membeli angkot dan membuka warung kelontong. Awalnya dia menarik sendiri angkotnya sampai lama-lama dia bisa mempekerjakan sopir dan menambah armada angkot, dan tentu saja jumlah sopir. Posisi terakhir bapak itu di Nurtanio adalah manager, tapi beliau tidak ngotot pemerintah harus mencarikan pekerjaan lain untuknya, memberikan solusi keuangan supaya dia bisa tetap membiayai sekolah ketiga anaknya dan mempertahankan gaya hidup yang sudah terlanjur tinggi. Bapak itu bergerak maju dengan apa yang ada, mengerjakan apa saja yang bisa dikerjakan. Hidupnya mungkin tidak senyaman dulu, tapi rasa tanggung jawabnya yang besar terhadap keluarga membuat dia berpikir dan bertindak kreatif. Bahkan di usianya yang kepala enam, seperti kedua orang tua saya sekarang, bapak itu dan istrinya tetap tekun berwirausaha karena mereka ingin mandiri secara finansial di masa tua mereka.

 

Kedua orang tua saya dan tetangga mereka hanyalah sedikit contoh dari sebuah sikap mental yang mungkin tidak akan terbentuk jika saja kelas pekerja pada jaman Orde Baru memiliki suara dan merasa berhak mengajukan tuntutan. Sebuah sikap mental yang tidak mudah menyerah pada keadaan, yang mau berjuang dan bekerja keras untuk masa depan yang lebih baik. Sebuah sikap mental yang percaya bahwa nasib bisa diubah oleh orang-orang yang berusaha dan berdoa.

 

Menurut hemat saya sikap mental seperti itu perlu dipertahankan oleh kita, bangsa Indonesia, kalau kita mau menjadi bangsa yang maju. Siapapun presidennya, siapapun menterinya, kalau kita percaya kita bisa mengubah nasib dengan bekerja keras kita akan jeli untuk mencari peluang kerja, atau bahkan menciptakan lapangan kerja.

 

Sebagai ibu rumah tangga yang memiliki anak-anak yang masih menempuh pendidikan di sekolah, masukan dan kritikan saya pada pemerintah akan saya batasi pada visi dan misi pemerintah untuk dunia pendidikan, yang mereka tuangkan dalam kurikulum pendidikan dasar dan pendidikan tinggi.

 

Kurikulum yang ada saat ini mempersiapkan orang untuk bekerja sebagai spesialis, tapi tidak mempersiapkan orang untuk memiliki life skills. Akan tetapi, walaupun kurikulum dari pemerintah saya lihat kurang memadai untuk memperlengkapi anak-anak saya menghadapi kompetisi di masa depan, saya tidak akan hanya menudingkan jari dan menyalahkan pemerintah. Saya sebagai orang tua, sebagai pendidik utama anak-anak, akan mengupayakan sendiri hal-hal yang saya rasa tidak bisa dicapai/dikuasai dengan pembelajaran yang memakai kurikulum dari pemerintah. Saya akan mencari sekolah dan kegiatan ekstra kurikuler lain yang bisa menjadi mitra saya untuk mendidik anak-anak supaya tidak hanya pintar secara kognitif, namun juga cerdas dalam menjalani kehidupan yang penuh tantangan.

 

Pemerintah memang perlu mendapatkan kritik yang membangun, namun terkadang kita harus membatasi diri memberikan kritik supaya kita punya lebih banyak waktu untuk bersikap mandiri, berinisiatif, dan berusaha sendiri.

 

Kalau kita sekarang merasa tidak menjalani pekerjaan yang sesuai dengan pendidikan, keahlian, minat, atau apalah, selalu ada pilihan untuk mencari pekerjaan baru. Selalu ada pilihan untuk mencari lapangan kerja yang baru, menguasai keahlian baru, bahkan mencari lokasi kerja di luar Indonesia. Tidak ada hal yang mustahil di era globalisasi dengan kemudahan arus informasi seperti saat ini. Kuncinya hanya dua: 1) selalu mau belajar, dan 2) jangan gengsi.

 

Saya tahu seorang lulusan teknik komputer yang banting-setir membuka butik kebaya karena mendapat warisan dari orang tuanya. Sikapnya yang mau belajar hal baru (belajar macam-macam bahan, belajar menjahit, belajar mensupervisi penjahit, dan sebagainya) dan jeli melihat pasar yang memerlukan produknya membuat usahanya cepat berkembang, bahkan lebih sukses dari waktu masih dipegang oleh orang tuanya. Mengubah profesi paling banter mempengaruhi diri dan keluarga kita; tidak usah pusingkan apa kata orang lain.

 

Ini hanyalah two cents saya, pendapat seorang ibu rumah tangga di antara milyaran ibu rumah tangga di muka bumi, menanggapi isu pemerintah dan lapangan kerja. Mungkin terlihat sepele, seperti remah-remah rengginang di dasar kaleng bekas Khong Guan, tapi ibu-ibu rumah tangga yang saya tahu, kenal, dan akrabi punya bekal yang kurang-lebih sama untuk putra-putrinya jika menyangkut masa depan dan pekerjaan.

 

“Nak, belajarlah giat. Gantungkan cita-citamu setinggi langit. Perlengkapi dirimu supaya siap menghadapi kehidupan yang berat. Jangan menggantungkan nasibmu pada siapa pun, termasuk pada orang tua. Masa depanmu akan cerah jika kamu bekerja keras dan berdoa.”

Advertisements

Menyoal EBY yang Membela Dokter Terawan

Saya pertama kali mendengar nama dokter Terawan tahun lalu, sesaat setelah ibu saya mendapat serangan stroke yang pertama. Ibu saya orang yang aktif dan relatif sehat, jadi tidak ada yang menduga serangan stroke ini akan terjadi. Waktu tetangga saya tahu tentang kondisi ibu saya, dia langsung menyarankan kami untuk berobat ke dokter Terawan di RSPAD Gatot Subroto. Ibu dari tetangga saya ini pernah diperiksa oleh dokter tersebut karena pernah lumpuh seluruh badan yang dikira akibat stroke, walaupun akhirnya ketahuan bahwa beliau menderita penyakit autoimun yang tidak ada obatnya.

Dari percakapan singkat dengan tetangga saya, saya mendapat gambaran tentang seorang dokter yang “pasti” bisa menyembuhkan kelumpuhan akibat stroke (tetangga saya ini orang yang sangat optimis) dengan cara menyuntikkan obat ke dalam otak pasien. Saya tidak menggali informasi lebih lanjut tentang sosok dokter Terawan dan metode pengobatannya karena kami tidak berencana berobat ke rumah sakit tempat beliau praktek. Ibu saya hanya mengalami kelumpuhan parsial dan semangatnya untuk pulih sangat tinggi. Dengan pengobatan dan terapi yang teratur dia bisa kembali berjalan dan menggunakan kedua tangannya dua bulan setelah mengalami serangan.

Sejak berita tentang pemecatan dokter Terawan oleh IDI merebak pekan lalu, tanpa sadar saya jadi mengikuti perkembangannya karena saya teringat percakapan dengan tetangga saya itu. Dari sekian banyak berita (dan informasi simpang-siur) yang saya baca, artikel yang ditulis oleh seorang dokter ini paling membantu saya sebagai orang awam untuk lebih memahami kontroversi dari metode pengobatan yang dijalankan oleh dokter Terawan.

Pagi ini saya membaca berita di kompas.com bahwa Kemenkes akan menguji metode cuci darah (atau cuci otak) dokter Terawan. Baiklah, campur tangan pihak yang berwenang dan berkompetensi dalam mengatur praktek kesehatan di Indonesia bisa mengarah kepada akhir dari pro dan kontra seputar metode tersebut, karena kesimpulan dan keputusan dari Kemenkes pasti mempunyai kekuatan hukum.

Nah, selain membaca berita itu pagi ini saya juga mampir di beberapa akun Instagram politisi muda Indonesia, yang salah satunya adalah Ibas Yudhoyono atau EBY. Enam hari lalu EBY mem-post pendapatnya mengenai kasus dokter Terawan sebagai berikut:

Screenshot IG EBY

Di dalam post-nya terlihat EBY menanggapi berita yang diturunkan oleh senayanpost.com (saya baru tahu kalau media ini eksis) yang berjudul: “Dipecat IDI, Dokter Terawan Dikenal Tak Doyan Duit dan Tangani 40 Ribu Pasien Stroke”. EBY menuliskan pendapatnya terhadap berita tersebut dengan kalimat berikut (quote unquote):

“Jika benar seperti ini, sungguh menyedihkan & TERLALU! Semestinya Dokter Terawan mendapatkan gelar tanda jasa bukan justeru sebaliknya malah dipecat. Aneh bin ajaib persaingan masa kini!”. #SaveDokterTerawan – Rakyat Beraspirasi, Negara Menjawab @jokowi @kemenkes_ri @dpr_ri

Posting ini mendapat 16.742 likes dan 211 komentar yang terbagi ke dalam dua kutub: 1) kutub yang menyetujui keputusan IDI untuk memecat dokter Terawan karena belum ada uji klinik terhadap metode pengobatannya, dan 2) kutub yang menyetujui kritik EBY dan menyalahkan rezim ini, pokoknya semua salah Jokowi.

Ijinkanlah saya menghela nafas panjang sebelum saya menggaruk aspal di depan rumah dan mengemukakan beberapa concern saya.

  1. Sumber Berita

Sumber berita yang dikutip oleh EBY adalah sebuah artikel yang diturunkan oleh senayanpost.com enam hari lalu. Judul artikel boleh catchy, namun isi tidak mencerminkan judul. Sepanjang artikel yang terdiri dari 282 kata tersebut tidak ada bukti tentang: 1) klaim dokter Terawan yang dikenal tidak doyan duit, dan 2) bahwa dokter Terawan telah menangani 40 ribu orang pasien stroke.

Yang ada hanya wawancara dengan seorang bekas pasien dokter Terawan yang disebut bernama Bambang Kuncoro. Bapak Bambang ini katanya warga Jakarta – tanpa informasi lain mengenai latar-belakangnya (usia, pekerjaan, riwayat stroke) – dan katanya sudah mengalami stroke sebanyak tiga kali, sudah berobat ke Singapura tanpa hasil, dan malah berhasil disembuhkan oleh dokter Terawan (tidak ada informasi tahun beliau berobat) yang tidak doyan duit (Apakah Pak Bambang memiliki kesulitan keuangan saat berobat? Apakah biaya pengobatan Pak Bambang dibebaskan oleh dokter Terawan? Tidak ada informasi tentang hal ini). Pada akhir artikel sosok Pak Bambang ini menyayangkan (quote unquote) “orang baik seperti dr Terawan harus dianiaya seperti itu.”

Dengan modal logika sederhana yang saya miliki, seratus persen saya akan meragukan validitas isi artikel itu, karena: 1) judul dan isi artikel yang tidak nyambung, 2) karakter bekas pasien yang saya pikir lebih menjurus ke fiktif daripada real akibat minimnya informasi tentang pasien yang bisa membantu kita menyetujui judul dan isi artikel, dan terakhir 3) kalimat penutup artikel dari “katanya” bekas pasien yang menyimpulkan sepihak tentang telah terjadinya sebuah penganiayaan. Sebelum mengambil kesimpulan gegabah, tidak ada salahnya mencari tahu langsung tentang IDI, peraturan mereka, dasar pengambilan keputusan mereka, dan informasi lain seputar kasus dokter Terawan di situs resmi IDI, lho.

Jadi kalau sumber beritanya saja sudah meragukan, buat apa ditanggapi?

Baca juga: Tips Menggunakan Grup Whatsapp untuk Ibu-ibu di kompasiana.com

 

  1. Posisi Penanggap dan Isi Tanggapan yang Tidak Nyambung

Penanggap artikel ini adalah salah seorang anak dari mantan presiden Republik Indonesia, seorang politisi muda yang saat ini menjadi wakil rakyat di DPR dari Partai Demokrat. Reputasi berdasarkan latar belakang keluarga dan pribadinya sendiri tidak diragukan lagi. Beliau aktif di media sosial, terutama Instagram dan Twitter, dengan jumlah follower yang fantastis (555.000 dan 653.000). Apapun yang di-post, positif dan negatif, di media sosial beliau pasti disimak oleh dan bisa mempengaruhi pikiran dan pendapat banyak orang.

Saya terheran-heran dengan kalimat beliau “Aneh bin ajaib persaingan masa kini”. Mohon pembaca budiman memberikan pencerahan jika pernah ada berita di media manapun yang mengungkapkan pemecatan dokter Terawan adalah akibat persaingan (dalam mendapatkan pasien) dengan dokter lain, karena terus-terang saya tidak pernah membaca atau mendengar tentang hal ini sejak berita tersebut bergulir.

Sejauh yang saya tahu dokter Terawan dipecat sementara selama 1 tahun dari IDI, bukan dari RSPAD, karena pelanggaran kode etik, yang ditenggarai berkaitan dengan metode pengobatan stroke yang membuat nama dokter ini melambung. Metode tersebut belum melalui uji klinik, sedangkan kita tahu secara garis-besar bahwa sebuah obat dan metode pengobatan harus melalui uji pre-klinik dan uji klinik sebelum menjadi solusi pengobatan untuk pasien. Uji klinik bicara tentang perlindungan terhadap dokter sebagai praktisi kesehatan dan pasien sebagai pihak yang diobati. Tanpa uji klinik, tidak ada yang memegang akuntabilitas jika pasien mengalami efek samping yang tidak diinginkan.

Kesimpulan saya, posisi komentar EBY kurang tepat – mulai dari mengutip artikel yang kurang valid sampai menyiratkan sebuah “persaingan” yang entah ada atau tiada – mengingat posisi beliau sebagai wakil rakyat yang tindak-tanduk dan perkataannya disorot dan diikuti orang.

 

  1. Tindakan (Seolah-olah) Membela Rakyat

Penutup dari posting EBY adalah berupa sebuah ajakan untuk menyelamatkan dokter Terawan.

#SaveDokterTerawan – Rakyat Beraspirasi, Negara Menjawab @jokowi @kemenkes_ri @dpr_ri

Kelihatan heroik ya? Menyelamatkan dari apa sebetulnya? Dari “penganiayaan” IDI? Masalah pemecatan dokter Terawan sebenarnya adalah masalah internal IDI yang menjadi heboh karena surat pemecatan tersebut bocor (atau dibocorkan?) ke publik. Dokter adalah praktisi kesehatan yang bertanggung jawab pada masyarakat sebagai pasien, dan dokter di Indonesia adalah anggota dari asosiasi dokter yang beroperasi di wilayah NKRI (IDI untuk dokter umum dan dokter spesialis, PDGI untuk dokter gigi).

Jika asosiasi dokter menenggarai ada pelanggaran, kita serahkan saja mekanisme pengkoreksian pelanggaran itu pada asosiasi yang bersangkutan yang: 1) memang tahu betul ranah keilmuan yang dipermasalahkan, dan 2) menuntut loyalitas dari dokter-dokter anggotanya. Gerakan “save …” seperti ini membawa masalah yang spesifik tentang profesionalisme menjadi masalah yang melibatkan emosi (dan pendapat) yang tidak perlu, terlihat dari komentar-komentar terhadap berita ini yang kebanyakan melipir kepada ketidakbecusan penguasa (yaelah, kayak ga ada topik lain aja).

Entah kenapa melihat kalimat EBY itu saya jadi teringat setiap superhero di film/buku komik yang dengan gagahnya berkata, “We have to save the world.” Huh, dunia yang mana? Dunia yang isinya cuma USA?

Atau dalam hal ini, EBY mau membela rakyat yang mana? Rakyat yang merupakan pasien stroke dan perlu bertemu dokter yang tidak mata duitan? Atau rakyat yang perlu dilindungi dari efek samping obat/metode pengobatan dengan cara dipaparkan terhadap obat/metode pengobatan yang memang sudah melalui uji pre-klinik dan uji klinik?

Eta terangkanlah.

 

I Wish You Courage

I wish you courage
To face the vast ocean
To cope with endless rolling waves
To sail to the unknown
To be steadfast in every turn

And when you get lost, you just need to look up
I am there in the rising sun
I am there as the bright evening star
I am there with the wind guiding your ship
I am there on the land you plant your feet

I wish you courage
I wish you wisdom
I wish you strength
With all my love, I wish you those all

Happy White Day!

Happy Valentine’s Day!

Tentu kita sudah familiar dengan seruan di atas untuk merayakan hari kasih sayang/hari cinta yang jatuh pada tanggal 14 Februari setiap tahunnya. Sama seperti tanggal 1 Januari yang dirayakan sebagai penanda tahun yang baru di kalender Masehi yang dipakai secara internasional, Valentine’s Day juga dirayakan secara internasional. Semua orang yang terekspos dengan sumber berita dan informasi pasti tahu semua kehebohan, pernak-pernik, kebiasaan, dan barang/jasa yang diperdagangkan khusus untuk menyambut hari ini.

Asal-usul Valentine’s Day bisa dibaca di sini. Kebenaran dan kesahihan informasi yang ada di artikel tersebut tidak bisa saya konfirmasi ya, karena semua orang bisa menulis apa saja di Wikipedia. Yang pasti Valentine’s Day sejak dua puluh tahun terakhir bukan melulu tentang pasangan kekasih, tapi merambah juga ke ungkapan kasih sayang antar anggota keluarga, saudara, teman, dan lain sebagainya. Yah, pinter-pinternya orang marketing saja untuk mencocokkan produknya dengan momen Valentine’s Day. Jadi jangan heran kalau sebuah produk detergen pun menjanjikan baju yang super harum dan lembut setelah dicuci, demi penampilan terbaik Anda saat makan malam romantis dengan pasangan (halah).

Nah, mari kita membahas White Day sekarang.

Saya pertama kali tahu tentang White Day waktu SMA dan sedang menggandrungi serial cantik komik Jepang. Dari alur cerita beberapa komik saya mendapat informasi kalau di Jepang sana Valentine’s Day adalah hari untuk wanita mengungkapkan rasa cinta pada pria dengan cara memberikan cokelat (atau hadiah lainnya). Rasa hati tak enak dong jika tidak membalas hadiah yang sudah diberikan. Maka ditetapkanlah White Day yang jatuh satu bulan setelah Valentine’s Day sebagai hari di mana pria mempunyai kesempatan untuk membalas cokelat/hadiah tersebut sebagai tanda membalas perasaan si wanita.

Pikiran saya waktu itu ada dua:

  1. Wanita Jepang agresif ya? Mungkin anak-anak jaman now sudah berbeda jauh dengan generasi saya 20 tahun lalu, tapi sepanjang saya menempuh pendidikan SMA di Bandung hampir tidak terdengar ada wanita yang menyatakan suka lebih dulu pada pria. Persepsi waktu itu, ini hal tabu. Pria masih dipandang sebagai pihak yang mengejar dan wanita dipandang sebagai pihak yang menerima/menolak tawaran untuk masuk ke dalam suatu hubungan romansa. Memang sih, ada saja pria-pria pemalu yang sulit untuk berkata suka (walaupun jelas-jelas wanita yang diincarnya mempunyai perasaan yang sama), tapi tetap saja urusan “tembak-menembak” itu masih merupakan dominasi kaum pria. Pernah saya dengar di angkatan adik saya seorang wanita yang menembak duluan dan si pria menerima. Pria itu kemudian curhat ke adik saya kalau harga dirinya turun sedikit karena bukan dia yang menyatakan suka duluan, dan seharusnya wanita itu sabar menunggu sampai si pria siap menaklukkan. Masuk akal sih. Dan lebay. Haha.
  2. Bagaimana kalau si pria tidak suka pada wanita yang memberinya cokelat? Jadi ruwet deh. Kalau cokelat dibalas waktu White Day, nanti si wanita bisa salah paham. Kalau tidak dibalas, rasanya juga tidak enak karena kesannya tidak menghargai pemberian. Untuk menyikapi ini muncul  giri-choco (義理チョコ), sebuah istilah dalam bahasa Jepang yang artinya courtesy chocolate, atau cokelat yang diberikan hanya karena tata-krama. Kalau menerima giri-choco apa perasaan si wanita tidak makin pedih ya? Dapat cokelat tapi tidak jadian dengan si pria pemberi cokelat. Hiks-hiks. Eh tapi katanya wanita juga bisa memberikan giri-choco ini lho, kepada pria yang ia kagumi dan hormati seperti kakak kelas atau atasan di tempat kerja.

Itu informasi yang saya dapat waktu Mbah Google belum ada ya. Mari kita tilik sekarang apa sih yang sebenarnya dirayakan oleh White Day dan dari manakah kebiasaan ini berasal.

Alkisah pada tahun 1977 sebuah perusahaan permen asal Fukuoka, yang bernama Ishimuramanseido, memasarkan marshmallow (yang pada umumnya berwarna putih) untuk pria hadiahkan pada wanita yang berarti baginya pada tanggal 14 Maret, dan menyebut hari itu sebagai Marshmallow Day. Marshmallow secara perlahan digantikan oleh cokelat putih (white chocolate) yang lebih bergengsi dari marshmallow, dan tanggal 14 Maret pun resmi dinobatkan sebagai White Day. White Day pertama kali dirayakan di Jepang pada tanggal 14 Maret 1978 dan penggerak utamanya adalah National Confectionery Industry Association (NCIA) Jepang yang merasa perlu ada satu hari dalam kalender dimana pria membalas cokelat dan hadiah lain yang mereka terima dari wanita pada Valentine’s Day. Dengan kata lain perlu ada satu hari lagi dalam kalender saat orang-orang berbondong-bondong membeli cokelat/makanan manis lainnya.

Jadi berbeda dengan Valentine’s Day yang merujuk pada sosok seseorang yang penuh cinta kasih yang hidup sebelum abad ke-14, White Day ini murni strategi marketing. Dengan tujuan apa? Menjual lebih banyak cokelat, permen, marshmallow, dan semua makanan manis yang bisa digolongkan sebagai confectionery.  Siapa yang diuntungkan? Tentu saja para pedagang, apalagi yang bisa jualan specialty chocolate dua kali dalam setahun, hehehe.

Apalagi tradisi White Day tidak hanya dirayakan di Jepang, tapi sudah menyebar ke negara Asia lain seperti Korea Selatan, Cina, Taiwan, dan Vietnam. Hadiah balasan yang diberikan pada White Day juga tidak terbatas pada cokelat putih saja, tapi bisa juga cokelat hitam, perhiasan, bahkan lingerie.

Saya tidak menemukan penelitian atau data statistik tentang pergerakan komoditi dan uang selama Valentine’s Day di Jepang atau negara lain, namun saya bisa melihat gambaran besarnya hanya dengan melihat semua aktivitas marketing dan gimmick untuk merayakan hari yang katanya spesial ini di Indonesia.

Tidak hanya dari sektor makanan yang manis-manis, sektor pariwisata juga ikut mendulang keuntungan. Sebutlah beberapa website agen perjalanan yang menawarkan romantic traveling, traveling hanya berdua dengan pasangan tepat pada hari Valentine. Belum lagi deretan hotel dan restoran yang menawarkan paket menginap dan candle light dinner nan romantis dengan kekasih hati. Bukan hanya cokelat yang jadi tambah laku dijual, tapi juga kamar hotel, tiket pesawat/kereta, bunga dan minuman beralkohol seperti anggur, dan sederet benda lainnya yang bisa dihubung-hubungkan dengan Valentine’s Day.

Bagaimanakah dengan perayaan White Day di Indonesia? Apakah sudah ada gejala merayakan hari ini, setidaknya di kota-kota besar? Apakah wanita Indonesia saat ini mengacu pada pakem Valentine’s Day (hari menyatakan cinta atau hari memberikan cokelat) – White Day (hari untuk tahu ditolak/diterima oleh si pria atau hari menerima cokelat) seperti di Jepang? Saya jadi penasaran.

Akhir kata, Happy White Day! Wahai para pria yang pernah memberikan cokelat di tanggal 14 Maret pada wanita yang menyukai dirimu, mari berbagi sedikit pengalaman, hehe.

Menonton Sambil Makan di Bioskop Adalah Sebuah Pilihan

Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak pernah lepas dari pengambilan keputusan. Kita membuat keputusan tentang apa yang kita makan, apa yang kita pakai, ke mana kita pergi, siapa yang kita temui, dan seterusnya; daftar ini tak berkesudahan. Saat hendak mengambil suatu keputusan adalah wajar jika kita meminta saran, nasihat, atau bahkan persetujuan, dari pihak lain (seperti: anggota keluarga, guru, rekan kerja, bos di kantor, dll.). Akan tetapi, kita harus selalu ingat bahwa kita bertanggung jawab atas konsekuensi dari setiap keputusan yang kita ambil (mengenai hal apa pun juga).

Kita hidup di negara yang merdeka, tidak ada sistem penjajahan dan perbudakan di tanah air kita. Dalam mengambil keputusan kita memiliki kebebasan yang hanya dibatasi oleh: 1) aturan yang dibuat oleh otoritas yang berwenang, dan 2) kewajiban untuk menghormati dan menjaga hak-hak milik orang lain.

Mau ke sekolah tanpa mengenakan seragam? Bisa saja, kalau itu bagian dari aturan sekolah. Lebih suka makan di mal daripada di warteg? Silakan saja, itu bagian dari preferensi pribadi. Mau mengendarai motor tanpa helm dan ugal-ugalan di jalan raya? Tentu tidak boleh, karena jalan raya adalah fasilitas yang dipakai bersama (HAK) dan ada polisi sebagai wakil dari pemerintah untuk membuat dan menegakkan aturan berkendara (KEWAJIBAN), supaya tercipta ketertiban dan kenyamanan bagi semua pengguna jalan raya.

Mau menonton film Hollywood terbaru? Ada banyak pilihan. Kita bisa pergi ke salah satu jaringan bioskop yang ada, streaming di aplikasi seperti Hooq, atau menunggu film tersebut disiarkan di tv kabel atau televisi swasta nasional (yah, kira-kira menunggu antara satu sampai tiga tahun).

Melihat begitu beragamnya cara untuk mengakses suatu film, apa yang membuat menonton di bioskop tetap terasa lebih menarik dibandingkan di media lain?

  1. Akses terhadap film-film paling baru.
  2. Layar yang lebar dan sound system yang mendukung.
  3. Tempat yang besar dan nyaman jika pergi menonton beramai-ramai.

Menonton di bioskop berarti secara tidak langsung kita menundukkan diri pada aturan-aturan yang diberlakukan oleh pengelola bioskop, seperti:

  1. Anak berusia mulai dari 3 tahun harus membeli tiket tersendiri. Pengelola bioskop tidak mau tahu apakah si anak duduk dipangku oleh orangtuanya, atau bahkan tertidur, selama film berlangsung. Pokoknya waktu petugas di pintu masuk teater melihat fisik anak dan mengetahui umur anak sudah mencapai 3 tahun, anak akan diminta untuk membeli tiket terpisah.
  2. Dilarang merekam film yang sedang berlangsung dalam alat apa pun untuk mencegah pembajakan film.
  3. Menonaktifkan gadget dan tidak mengangkat kaki ke atas kursi untuk kenyamanan penonton lain.
  4. dan yang sedang menjadi perdebatan saat ini: Dilarang membawa makanan dan minuman dari luar area bioskop.

Apakah menjual makanan dan minuman adalah core business dari sebuah jaringan bioskop? Bukan. Snack corner  ini hanyalah usaha sampingan dari pengelola bioskop, karena secara nalar pasti ada penonton yang ingin mengemil selama menonton film yang rata-rata berdurasi lebih dari 1.5 jam. Pengelola bioskop membuat snack corner karena melihat ada peluang, yang kemudian dimanfaatkan untuk mendapatkan profit tambahan dengan menggunakan area yang memang dia sudah sewa untuk operasional usahanya.

Bisnis bioskop memerlukan modal yang besar lho, mulai dari: 1) sewa tempat, 2) pengkondisian ruangan teater supaya kedap suara, 3) pengadaan layar, sound system, kursi penonton, 4) dll. Dan pendapatan dari bisnis ini sangat bergantung pada jumlah penonton yang berfluktuasi dari waktu ke waktu akibat: 1) review/kualitas film yang ditayangkan, 2) efektivitas dari aktivitas promosi film yang ditayangkan, 3) tanggal-tanggal tertentu saat orang-orang baru menerima gaji/bonus/THR dan memiliki pendapatan ekstra yang dialokasikan untuk leisure activities (salah satunya adalah menonton film di bioskop, 4) dsb.

Bagaimana cara pengelola bioskop menentukan harga tiket nonton dan snack yang dijual? Kuncinya hanya dua:

  1. Mengacu pada hasil survey, seperti survey pendapatan dan daya beli masyarakat di sekitar area bioskop. Harga tiket dan snack di pusat kota Jakarta tentu berbeda dengan di kota kecil seperti Cirebon.
  2. Hukum supply and demand. Jika ada banyak supply, dalam artian ada banyak pilihan bioskop di suatu daerah, harga tiket nonton dan snack bisa bersaing antar jaringan bioskop. Jika hanya ada satu pilihan bioskop dan ada banyak demand untuk menonton film di layar lebar, tak heran bila harga yang ditetapkan cenderung tinggi dan terkesan dimonopoli. Cara untuk menurunkan harganya mudah saja: dirikan jaringan pesaingnya di daerah tersebut.

Pengelola bioskop sebagai pemilik usaha berhak menetapkan aturan-aturan bagi orang-orang yang akan menggunakan jasa (menonton film) dan membeli barang yang ia tawarkan (snack). Dan kita sebagai pengunjung bioskop bebas memutuskan kita mau mengikuti aturan-aturan itu atau tidak. Sebagai penduduk sebuah negara yang merdeka kita bebas memilih pemasok untuk berbagai kebutuhan kita, termasuk di antaranya bebas memilih mau menonton film di bioskop atau di media lain, mau menonton film di jaringan bioskop X dan bukan Y, dan seterusnya.

Larangan untuk membawa makanan/minuman dari luar area bioskop bisa dilihat dari beberapa sisi. Sisi pertama, ini langkah pengelola bioskop untuk mengoptimalkan keberadaan snack corner yang ia miliki dengan tujuan untuk memaksimalkan profit. Tidak ada yang salah dari hal ini, karena setiap bisnis pasti bertujuan untuk mencapai profit, bukan?

Sisi kedua, ini langkah pengelola bioskop untuk mencegah kemungkinan terburuk seperti pengunjung bioskop mengalami keracunan makanan. Jika keracunan makanan terjadi di area bioskop, maka siapa yang akan diminta untuk bertanggung jawab? Ya, pengelola bioskop. Namun tanggung jawab ini bisa dituntut jika makanan yang dicurigai mengakibatkan keracunan adalah memang makanan yang dibuat, bisa dikontrol kualitasnya, dan dijual langsung oleh pengelola bioskop. Jika pengunjung bioskop keracunan makanan yang dia bawa dari luar area bioskop, maka hal ini akan menimbulkan kerumitan baik bagi pengelola bioskop maupun bagi pengunjung itu sendiri.

Saya akan protes jika harga tiket nonton digabung dengan harga snack. Saya akan melihatnya sebagai sebuah bentuk pemaksaan, karena tujuan utama saya pergi ke bioskop adalah untuk menonton film, bukan untuk makan/minum. Tapi saya tidak akan protes jika harga snack di dalam area bioskop lebih mahal dari di luar bioskop, karena saya melihatnya sebagai kewenangan penuh dari pengelola bioskop. Yang saya lakukan adalah saya bebas memilih untuk: 1) tidak makan/minum selama menonton film, atau 2) mengeluarkan uang lebih banyak karena saya ingin menonton sambil mengemil.

Akhir kata, menonton bioskop dan membeli snack di area bioskop adalah sama-sama sebuah kebebasan dan keputusan. Sama seperti pengelola bioskop yang bebas untuk memutuskan harga tiket dan snack yang dia jual, saya juga bebas untuk memutuskan menonton di jaringan bioskop mana dan membeli/tidak membeli snack untuk saya konsumsi selama saya menonton. Semua bergantung pada nilai tambah yang saya persepsikan akan saya terima (hiburan dari film yang saya tonton, perut kenyang akibat makan/minum snack), dan tentu saja bergantung pada ketersediaan uang di dalam dompet saya.

*) artikel terkait mengenai kebebasan dan keputusan bisa dibaca di sini: https://rijotobing.wordpress.com/2017/03/03/nobody-holds-a-gun-to-your-head/

Calon Politikus: Mencari Dukungan Lewat Jaringan Pertemanan

Pada tahun 2017 lalu saya diajak mengikuti reuni dengan teman-teman kuliah untuk merayakan 17 tahun sejak pertama kali berkenalan. Sebelum reuni berlangsung saya juga diundang masuk ke group Whatsapp alumni angkatan, dimana saya masih bertahan di situ sampai sekarang. Teman-teman kuliah saya adalah orang-orang yang tidak pernah kontak/berkomunikasi dengan saya selama kurang-lebih 13 tahun sejak saya kembali ke Indonesia dari mengikuti program pertukaran mahasiswa, jadi saya menganggap reuni dan keterlibatan dalam group WA sebagai sebuah kemungkinan awal yang baru dari sebuah pertemanan, tanpa embel-embel nostalgia atau kenangan dari masa kuliah dulu.

Seiring dengan berjalannya waktu saya mulai bisa memetakan isi percakapan di dalam group WA, antara lain sebagai berikut:

  1. Berdagang: informasi, penawaran, dan promosi barang/jasa yang dijual anggota-anggota group.
  2. Pertukaran informasi: mulai dari cara mendapatkan tabung elpiji 3 kg berwarna pink sampai dengan cara menggunakan kartu e-toll.
  3. Mencari informasi: buat yang memerlukan jasa asisten rumah tangga, konfeksi, review film di bioskop yang aman buat anak-anak, dll.
  4. Pertukaran pikiran: berhubung teman-teman seangkatan saya rata-rata sudah memiliki posisi mapan di perusahaan-perusahaan tempat mereka bekerja, group WA menjadi ajang buat mereka bertukar ide tentang tren dan kebutuhan dunia kerja ke depan, mendirikan start-up company, sampai menjadi social entrepeneur.
  5. Politik: diskusi tentang peta politik tanah air (sebuah tindakan yang bisa membuat dikotomi di dalam group WA itu sendiri) sampai ajakan untuk masuk ke dunia politik praktis.

Poin 1 sampai 4 lazim ditemui di group-group WA lain di mana saya tergabung, namun poin 5 baru kali ini saya temui di group WA almamater kuliah ini.

Pancingan utama supaya orang-orang seusia saya ikut terlibat dalam dunia politik praktis adalah ajakan untuk membuat perubahan.

Saya dan teman-teman seangkatan berada di usia produktif dimana kami mulai memikirkan bagaimana cara memberikan kontribusi positif dan menjadi agen perubahan bagi masyarakat di sekitar kami selain bagi keluarga dan tempat kerja. Ada yang memilih berubah dari diri sendiri dan lingkungan terdekat, dan ada juga yang mencari wadah yang lebih besar untuk membawa perubahan pada khalayak yang lebih luas.

Saya sendiri memiliki sikap apatis dan pesimis terhadap dunia politik di Indonesia. Menjadi politikus sebagai agen perubahan untuk menciptakan kehidupan masyarakat yang lebih baik di sekitar kita adalah suatu gagasan yang idealis, romantis, dan tidak praktis.

Republik Indonesia sudah berdiri selama hampir 73 tahun dan sistem pemilihan wakil rakyat di badan legislatif daerah dan pusat masih tetap melalui kendaraan partai politik, walaupun: 1) cara ini telah terbukti tidak efektif dan efisien untuk mendapatkan orang-orang yang benar-benar peduli dengan orang-orang yang diwakilinya, dan 2) cara ini telah terbukti paling mudah dikorupsi untuk kepentingan pribadi.

Yang maju menjadi calon wakil rakyat pada umumnya bukanlah orang-orang yang punya rekam-jejak memperjuangkan kepentingan dan kesejahteraan publik melalui pekerjaan/peran sosialnya di dalam masyarakat tempat ia tinggal, seperti yang dilakukan oleh mantan presiden Amerika Serikat Barack Obama dan perdana menteri Kanada saat ini Justin Trudeau (detailnya bisa dibaca di Wikipedia). Untuk maju menjadi wakil rakyat diperlukan dana besar untuk setoran ke partai dan untuk kampanye; hal yang berujung pada mentalitas “balik modal” saat sudah menjabat, sebuah mentalitas yang menganggap semua uang yang sudah dikeluarkan untuk mencapai posisi wakil rakyat sebagai hutang yang harus dilunasi, dan bukan sebagai bagian dari pengorbanan supaya bisa menjadi agen perubahan.

Tadi pagi pada pukul enam lewat masuk WA dari seorang teman kuliah  yang akan maju sebagai caleg dari sebuah partai baru yang beranggotakan orang-orang muda berusia 20-30 tahun. WA tersebut masuk pada saat saya, dan mungkin kebanyakan orang, sedang sibuk mempersiapkan diri untuk bekerja dan anak-anak untuk sekolah. Dia tidak menyebutkan namanya dan nomor dia tidak ada di phonebook  saya. Satu-satunya alasan saya menanggapinya karena dia menyapa saya dengan nama panggilan saya sewaktu kuliah. Tanpa banyak basa-basi dia meminta tolong saya membuat video dukungan selama 45 detik untuk bekal dia maju sebagai caleg.

Saya yakin kalau saya bukan satu-satunya orang di phonebook dia yang dihubungi untuk dimintai dukungan, dan dari WA singkat itu ada dua hal yang membuat saya cepat memutuskan untuk tidak “menolongnya”.

1. Saya tidak punya ingatan sama sekali tentang kepribadian, sikap, dan tingkah lakunya selama kami menempuh pendidikan di universitas yang sama (17 tahun lalu). Kami tidak pernah sekelas, tidak pernah mengobrol selain bertegur-sapa kalau berpapasan di jalan, hanya tahu nama tapi tidak kenal orang. Saya tidak bertemu dengannya di reuni tahun lalu jadi saya tidak berinteraksi dengan dia untuk tahu kepribadian/sikap/tingkah lakunya saat ini, apalagi motivasinya untuk masuk ke dunia politik praktis. Bagaimana mungkin saya membuat video untuk mendukung orang yang saya tidak kenal baik? Bisa-bisa dukungan saya sebatas lip service yang dapat membentuk pendapat yang keliru tentang dirinya di benak orang lain.

2. Teman saya ini akan maju sebagai caleg dari sebuah provinsi yang saya tahu tidak berhubungan dengan latar belakang keluarga ataupun tempat kerjanya saat ini. Begitulah sistem partai dan pemilihan legislatif di Indonesia. Seseorang bisa maju sebagai caleg dari provinsi yang mungkin tidak pernah dia kunjungi seumur hidup, tidak pernah dia ketahui tentang kehidupan/kebiasaan/masalah-masalah penduduknya, hanya karena partai politik dimana dia tergabung memiliki posisi kosong caleg untuk provinsi itu. Jika teman saya ini benar-benar ingin mendapatkan dukungan, ada baiknya dia terjun langsung ke daerah yang dia berniat untuk wakili. Temui orang-orang di sana, tampung pendapat dan keluh-kesah mereka, buat rencana kerja untuk mengatasi masalah mereka, dapatkan hati mereka. Saya rasa dia akan dengan mudah mendapatkan video dukungan selama 45 detik, atau bahkan lebih, dari setiap penduduk setempat jika dia menunjukkan bahwa dia memang benar-benar mau bekerja untuk orang lain. Usaha seperti itu makan waktu dan biaya dong? Tentu saja! Pertanyaan sekarang adalah: siap, mau, dan mampukah si caleg melakukan semua itu supaya orang-orang memilih dirinya bukan karena diiming-imingi uang, tapi karena si caleg ini memang tulus ingin menjadi agen perubahan bagi daerah yang disodorkan oleh partainya untuk diwakili?

Di tahun politik ini sampai akhir dari pemilihan presiden RI pada tahun 2019, akan ada banyak sekali calon politikus, calon legislatif yang memanfaatkan jaringan pertemanannya untuk mendapatkan dukungan. Saya yakin “permintaan tolong” dari dia hanyalah awal dari permintaan tolong orang-orang lain yang saya tahu punya ambisi di bidang itu, baik melalui media sosial, group WA, maupun pesan langsung. Ada caleg yang menerima penolakan seperti yang saya lakukan dengan ucapan terima kasih dan hati besar, namun ada juga yang jadinya merongrong dan mendesak untuk didukung atas nama pertemanan. Kalau sikapnya jadi berubah seperti itu mau tidak mau saya jadi bertanya, “Anda mau meminta tolong, Anda ingin didukung, atau Anda hanya berniat memanfaatkan orang lain sih?”

Reaksi saya terhadap “permintaan tolong” jenis ini akan konsisten. Selama saya tidak tahu kredibilitas dan kapabilitas orang yang mau maju sebagai caleg, dan selama saya tidak punya interaksi sosial dan ikatan emosional dengan orang tersebut, saya tidak akan mengindahkan dia.

 

Tiga Mentalitas yang Harus Dimiliki Pekerja Freelance

Menurut kamus Merriam Webster yang mulai dijadikan rujukan sejak tahun 1828, pekerja freelance/freelancer adalah seseorang yang melakukan suatu pekerjaan tanpa memberikan komitmen jangka panjang pada sang pemberi kerja. Pekerja freelance tidak memiliki posisi sebagai karyawan dari si pemberi kerja. Pekerjaan yang dia kerjakan bersifat sementara dan situasional saja, sehingga hubungan kerja dan komitmen akan berakhir sesuai dengan jangka waktu atau hasil yang diharapkan yang sudah disepakati sebelumnya oleh si pemberi kerja dan si pekerja freelance.

Freelancing adalah cara bekerja yang menarik buat orang-orang yang menyukai tantangan dan kesempatan baru, dan kurang menyukai hierarki organisasi dan rutinitas pekerjaan di kantor. Saya pernah bekerja sebagai pegawai kantoran dan beralih menjadi freelancer beberapa saat setelah anak pertama lahir karena saya menginginkan fleksibilitas waktu kerja. Sejak saat itu sudah banyak sekali pekerjaan freelancing yang saya lakukan supaya: 1) keahlian dan bakat yang saya miliki tidak terpendam begitu saja, dan 2) supaya saya bisa memberikan kontribusi positif pada orang-orang di sekitar saya (selain pada keluarga inti, tentunya).

Sebelum menjadi pekerja freelance, saya menyempatkan diri membuat analisa SWOT (Strength – Weakness – Opportunity – Threat) untuk memetakan nilai plus dan minus saya sebagai seseorang yang menawarkan keahlian. Dari analisa yang saya buat saya tahu saya bisa mengerjakan beberapa jenis pekerjaan freelance:

  1. Bahasa: saya menguasai bahasa Inggris dan bahasa Jerman sebagai bahasa asing selain bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu. Pekerjaan freelance yang memungkinkan adalah menjadi: 1) guru, 2) penerjemah dokumen, dan terakhir 3) penulis fiksi.
  2. Seni: saya menyukai menggambar, mendesain, dan membuat rumah dan perabotan. Pekerjaan freelance yang memungkinkan adalah menjadi konsultan dan mandor untuk pekerjaan sipil dan desain produk rumah tangga/interior dari rumah-rumah keluarga dan kerabat saya. Sejak tahun 2016 saya lebih menekuni bidang ini dengan mendirikan workshop untuk membuat lemari dan perabot rumah tangga lain yang berbahan dasar kayu.
  3. Jual-Beli: sebuah keahlian yang sudah terintegrasi di dalam darah saya sebagai seorang wanita dan terlatih oleh pekerjaan di bidang procurement di perusahaan terdahulu. Pekerjaan freelance yang memungkinkan adalah menjadi: 1) saleswoman atau 2) membuka toko yang menjual barang-barang yang dibutuhkan/dicari orang.

Selama hampir sepuluh tahun menjadi pekerja freelance saya mencatat TIGA MENTALITAS yang membantu saya tetap bisa menikmati dinamika pekerjaan freelance dengan segala suka-dukanya.

 

1. Tiada Klien = Tiada Uang

Pernyataan di atas mungkin terdengar terlalu menohok, tapi ini kenyataan yang sebenar-benarnya. Berbeda dengan pekerja kantoran pada umumnya, seorang pekerja freelance tidak memiliki pemberi kerja yang tetap. Untuk mendapatkan pekerjaan, yang sama artinya dengan mendapatkan uang, seorang pekerja freelance harus “menebarkan jaring” sebanyak-banyaknya.

Ingatlah, ada tujuh milyar manusia di bumi ini dan pasti ada barang satu atau dua orang dari antara mereka semua yang membutuhkan jasa dan keahlianmu. Sama seperti seorang nelayan yang tidak menebarkan jaringnya untuk mendapatkan ikan untuk dia makan/jual, seorang pekerja freelance yang tidak mempromosikan diri dan keahliannya tidak akan mendapatkan proyek dan gaji untuk menyambung hidup.

Jadi jangan malu untuk mempromosikan diri. Jika kamu yakin kalau pekerjaanmu bisa memberi nilai tambah, kamu harus percaya diri untuk berkata bahwa kamu bisa membantu orang lain dengan bekal keahlianmu. Selain itu, mulailah berpromosi dari orang-orang terdekatmu. Di era media sosial seperti sekarang ini di mana jumlah like dan follower menjadi indikasi semu bahwa seseorang/suatu produk itu diminati orang banyak, tetap tidak ada yang bisa mengalahkan Word-of-Mouth Marketing , atau promosi dari mulut-ke-mulut. Saya memakai cara ini untuk memasarkan produk lemari dan buku yang saya tulis. Cara promosi yang luar biasa efektif dan efisien adalah kesaksian dan rekomendasi dari pemberi kerja yang puas dengan hasil kerja si freelancer.

 

2. Selalu Siap Move On Setelah Proposal Ditolak

Kembali ke perumpamaan pekerja freelance sebagai seorang nelayan. Saat seorang nelayan menebarkan jalanya, pasti ada ikan yang terjaring dan ada ikan yang bisa lolos dari jala. Demikian pula dengan pekerjaan freelance. Saat kita jor-joran berkeliling ke potential customer untuk menawarkan keahlian kita, ada kalanya kita diterima di saat demand meets supply, dan ada kalanya kita ditolak karena tidak ada demand dari si pemberi kerja. Jika hal itu terjadi, terimalah kenyataan. Gunakan feedback dari mantan calon klien untuk memperbaiki cara promosi. Jangan terlalu lama patah hati, apalagi sampai patah semangat.

Selama melaut, seorang nelayan harus menebarkan jalanya beberapa kali di beberapa tempat; hanya itu satu-satunya cara untuk memperbesar probabilitas terjaringnya ikan dalam jumlah besar. Saat berpromosi, seorang pekerja freelance harus sigap menggunakan jaringan hubungan sosial untuk memperbesar probabilitasnya mendapatkan klien yang membutuhkan keahliannya. Namun jika klien belum datang juga, ingatlah: masih banyak ikan di laut. Terus tebarkan jala kamu dan niscaya suatu saat akan ada ikan yang menyangkut.

 

3. Hargai Dirimu Sendiri

Pertanyaan yang paling sering ditanyakan seorang pekerja freelance yang baru terjun di bidang ini adalah, “Berapa Rupiah ya imbalan yang akan saya minta untuk pekerjaan yang saya lakukan?” Jawaban dari pertanyaan ini hanya satu: lakukan survei pasar. Survei pasar berguna untuk melihat: 1) berapa tarif yang dipasang kompetitor kamu, dan 2) berapa tarif yang disanggupi oleh calon klienmu.

Satu hal yang perlu selalu diingat oleh seorang pekerja freelance adalah keharusan untuk menghargai diri sendiri, dalam artian menetapkan tarif yang pantas untuk keahlian/waktu/tenaga yang dikeluarkan untuk mengerjakan suatu pekerjaan.  Bagaimana cara menetapkan tarif yang pantas tersebut? Ya dengan survei pasar,yang bisa dilakukan dengan beberapa cara, seperti: 1) browsing informasi di internet, 2) mencari informasi langsung dari kompetitor, calon klien, atau badan pemegang data statistik.

Sebuah contoh sederhana: saya menetapkan tarif mengajar bahasa Inggris untuk orang dewasa Rp 100.000,00 per jam. Suatu hari ada calon klien yang meminta tarif diturunkan menjadi Rp 50.000,00 saja per jam. Sebelum mengiyakan/menolak permintaan klien saya melakukan survey kecil-kecilan dulu. Saya menemukan bahwa guru bahasa Inggris di tempat lain menetapkan tarif Rp 200.000,00 per jam untuk materi yang sama dengan yang saya tawarkan ke calon klien. Selain itu saya juga menemukan bahwa tarif les bahasa (Inggris, Mandarin, Korea, Jepang) di sekitar tempat tinggal saya dan tempat tinggal klien adalah antara Rp 75.000,00- Rp 200.000,00 per jam. Dari informasi yang saya dapatkan, saya bisa menetapkan ruang untuk bernegosiasi dengan calon klien tersebut.

Mendapatkan klien memang penting buat kita mendapatkan uang, namun jangan sampai kita mengorbankan penghargaan kita terhadap kemampuan dan keahlian yang kita miliki. Mungkin saja satu atau dua kali kita menyanggupi tarif yang jauh di bawah pasar karena kita punya kebutuhan ekonomi, namun hal ini akan menjadi bumerang saat kita bertemu dengan calon klien berikutnya. Tarif normal kita bisa terlihat sangat mahal di mata calon klien baru karena kita banting harga habis-habisan demi klien lama. Hal ini sangat merugikan kita dan bisa merugikan kompetitor kita karena kita “seolah-olah” merusak harga pasar.

Semoga catatan singkat di atas bisa berguna buat para pekerja freelance dan pekerja-pekerja di profesi/bidang usaha yang lain.

Selamat berkarya sepekan ke depan!