Wajibkah Pemerintah Menyediakan Lapangan Kerja?

Perdebatan tentang isu kedatangan (atau keberadaan?) TKA buruh kasar dari China menghiasi timeline media sosial saya (terutama Facebook) selama dua pekan terakhir. Sebagai mantan pekerja korporasi yang bergelut di bidang Human Resources sangatlah menarik untuk mengamati sudut pandang dan standpoint dari para bekas kolega, dan juga komentar-komentar yang dilontarkan oleh teman-teman mereka terhadap status-status di medsos yang berkaitan dengan isu ini.

 

Saya tidak akan membahas tentang Perpres yang kontroversial itu, data perbandingan TKA terhadap TKI di Indonesia, data TKI yang bekerja sebagai buruh kasar di luar negeri dan sumbangsih mereka terhadap devisa negara, dan hal lain yang berkaitan, karena sudah terlampau banyak artikel yang ditulis oleh orang-orang dengan sejuta latar belakang dan bahkan semiliar pendapat pribadi, dengan atau tanpa didukung oleh data yang valid.

 

Yang saya ingin soroti kali ini adalah suatu pernyataan yang saya lihat muncul berulang kali secara acak di kolom komentar suatu status. Pernyataan itu muncul pada status beberapa orang yang bukan mutual friends dan dilontarkan oleh kenalan-kenalan mereka yang sejauh yang saya tahu tidak punya kesamaan komunitas yang memungkinkan mereka untuk menyuarakan (atau mengulang-ulang) satu pendapat yang sama. Pernyataan itu berbunyi, “Pemerintah seharusnya menyediakan/melindungi lapangan kerja untuk rakyatnya.”

 

Haruskah? Wajibkah?

 

Coba kita tarik ke belakang ke bagaimana suatu pemerintah bisa terbentuk. Ada sekumpulan orang yang mendiami suatu wilayah. Mereka bisa jadi satu ras, bisa juga tidak, intinya mereka sepakat untuk mendirikan suatu entitas yang bernama negara dengan seperangkat aturan untuk mengatur dirinya sendiri dan mengatur hubungan antara negaranya dengan negara-negara lain. Jumlah rakyat dalam satu negara hitungannya bukan puluhan atau ratusan, tapi lebih dari itu yang mengharuskan munculnya administrator untuk mengatur kehidupan sehari-hari rakyatnya supaya tetap aman, tenteram, sejahtera, dan sederet kualitas baik lainnya.

 

Administrator itu yang disebut pemerintah. Ada yang dipilih dari antara rakyat dan disebut sebagai wakil rakyat dengan masa kekuasaan terbatas. Itulah sistem demokrasi yang banyak dipakai negara di dunia saat ini. Ada juga yang berupa keluarga dan keturunan yang merupakan penghuni mula-mula dari suatu wilayah. Keluarga ini beranak-cucu, bertambah banyak, dan akhirnya punya cukup rakyat untuk mendeklarasikan diri sebagai suatu negara. Masa kekuasaan pemerintah tidak terbatas selama keluarga itu masih menghasilkan penerus, dan tentu saja selama rakyat negaranya tidak ingin menghentikan sistem monarki tersebut. Sistem monarki dewasa ini biasanya sudah dipadankan dengan sistem demokrasi, dengan monarki dipertahankan sebagai lambang negara dan kabinet yang dipilih oleh demokrasi sebagai pelaksana pemerintahan.

 

Oke, cukup sudah gambaran singkat tentang terbentuknya pemerintah dan apa yang mereka lakukan. Salah satu bekas kolega saya mempertanyakan komentar temannya tentang kewajiban pemerintah untuk menyediakan lapangan kerja. Teman dari bekas kolega saya itu menjawab, “Pemerintah kan sudah dibayar dari pajak rakyat, jadi mereka harus kreatif dong menciptakan lapangan kerja. Mereka juga harus pasang badan untuk melindungi buruh kita dari serbuan buruh asing.”

 

Iya, memang betul pemerintah dan seluruh aparaturnya digaji dengan pajak rakyat, uang saya dan Anda yang kita setor untuk memastikan hidup bernegara kita berlangsung teratur. Tapi apa benar pemerintah wajib menciptakan lapangan kerja untuk saya dan Anda?

 

Penyelenggaraan administrasi suatu negara melibatkan berbagai macam jenis pekerjaan dengan beragam job description. Jika negara perlu militer untuk melindungi wilayahnya, maka pemerintah memerlukan tentara. Orang-orang direkrut, diberikan pendidikan dan pelatihan supaya memenuhi job specification seorang tentara. Jika negara perlu orang-orang untuk mengawasi perlintasan barang antar negara, maka pemerintah merekrut orang-orang untuk bekerja di bea cukai. Pemerintah bahkan merasa perlu mendirikan sekolah khusus untuk menghasilkan lulusan yang langsung siap dan sigap bekerja di bidang bea cukai. Jika menilik aktivitas pemerintah sekarang yang sedang giat membangun infrastruktur, maka wajar ada banyak lapangan kerja yang tercipta, mulai dari supplier yang menyediakan material sampai dengan pekerja konstruksi di lapangan.

 

Lapangan kerja yang sudah saya contohkan di atas, mulai dari tentara, petugas bea cukai, supplier dan pekerja infrastruktur dibuat karena ada kebutuhan, bukan karena pemerintah mencari-cari cara untuk membuat lapangan kerja. Lapangan kerja adalah suatu akibat dari sebab yang jelas, bahwa pemerintah menjalankan amanat yang diembannya untuk memfasilitasi kehidupan rakyat di wilayahnya. Lapangan kerja muncul bukan karena pemerintah wajib menyediakannya; dia adalah suatu akibat dari tindak-tanduk pemerintah untuk menyediakan kebutuhan rakyatnya.

 

Pertanyaan lanjutannya adalah, siapakah yang wajib menyediakan lapangan kerja? Pemerintah atau rakyat? Ada pekerjaan-pekerjaan yang disediakan oleh pemerintah karena ada kebutuhan akan pekerja untuk melangsungkan administrasi negara, namun rakyat perlu berpikir dan bertindak kreatif dalam mencari penghidupannya. Dalam hal lapangan kerja yang diciptakan oleh pemerintah atau rakyat, pemerintah bertindak sebagai regulator yang membuat Undang-undang, Peraturan, dan Keputusan-keputusan lain sebagainya yang mendorong terciptanya iklim investasi yang kondusif dan menyatakan kewajiban dan melindungi hak pekerja.

 

Sulitkah berpikir dan bertindak kreatif untuk menciptakan lapangan kerja?

 

Saya lahir di tahun 80-an dengan orang tua yang bekerja sebagai pegawai negeri dan pegawai swasta. Lingkungan bertetangga saat itu di Bandung bisa dikatakan homogen, kelas menengah-cukup dengan suami-istri yang bekerja sebagai pegawai negeri atau pegawai swasta. Saat itu adalah masa pemerintahan Orde Baru dimana kebebasan berserikat dan berpendapat sangat dikekang oleh pemerintah. Satu-satunya serikat pekerja yang ada di berbagai pabrik adalah SPSI, yang tentu saja merupakan bentukan pemerintah. Demo buruh menuntut perbaikan kesejahteraan bisa dibilang tidak ada, apalagi pernyataan bahwa pemerintah wajib menyediakan lapangan kerja.

 

Yang saya lihat dari angkatan orang tua saya adalah kemauan dan kemampuan mereka untuk menciptakan lapangan kerja mereka sendiri. Ayah saya adalah seorang pengacara. Di saat tidak ada klien, yang artinya tidak ada pemasukan, dia memberi les bahasa Inggris pada anak SMA. Ketika itu tidak ada serikat pengacara yang bisa menuntut pemerintah untuk menyediakan lapangan kerja; satu-satunya jalan untuk menambah penghasilan adalah dengan melakukan pekerjaan lain. Ibu saya adalah seorang dosen bahasa asing di sebuah perguruan tinggi negeri dengan take home pay yang sangat bergantung pada golongan pegawai negeri (mengurus kenaikan golongan pegawai negeri bukanlah hal yang mudah). Di saat kebutuhan hidup bertambah karena biaya sekolah anak-anak yang bertambah, beliau rela bekerja ekstra memberikan les bahasa Jerman mulai pukul lima sore sampai pukul sembilan malam dari hari Senin sampai dengan hari Sabtu supaya bisa mengirimkan kami ke sekolah swasta yang bermutu.

 

Tetangga kami adalah seorang pegawai di PT Dirgantara Indonesia (dulu dikenal sebagai Nurtanio) yang hidup sangat berkecukupan. Mereka adalah orang pertama yang memiliki mobil di kompleks perumahan kami. Saat Nurtanio bangkrut dan terjadi pemecatan massal, bapak itu menggunakan uang pesangonnya yang tidak seberapa untuk membeli angkot dan membuka warung kelontong. Awalnya dia menarik sendiri angkotnya sampai lama-lama dia bisa mempekerjakan sopir dan menambah armada angkot, dan tentu saja jumlah sopir. Posisi terakhir bapak itu di Nurtanio adalah manager, tapi beliau tidak ngotot pemerintah harus mencarikan pekerjaan lain untuknya, memberikan solusi keuangan supaya dia bisa tetap membiayai sekolah ketiga anaknya dan mempertahankan gaya hidup yang sudah terlanjur tinggi. Bapak itu bergerak maju dengan apa yang ada, mengerjakan apa saja yang bisa dikerjakan. Hidupnya mungkin tidak senyaman dulu, tapi rasa tanggung jawabnya yang besar terhadap keluarga membuat dia berpikir dan bertindak kreatif. Bahkan di usianya yang kepala enam, seperti kedua orang tua saya sekarang, bapak itu dan istrinya tetap tekun berwirausaha karena mereka ingin mandiri secara finansial di masa tua mereka.

 

Kedua orang tua saya dan tetangga mereka hanyalah sedikit contoh dari sebuah sikap mental yang mungkin tidak akan terbentuk jika saja kelas pekerja pada jaman Orde Baru memiliki suara dan merasa berhak mengajukan tuntutan. Sebuah sikap mental yang tidak mudah menyerah pada keadaan, yang mau berjuang dan bekerja keras untuk masa depan yang lebih baik. Sebuah sikap mental yang percaya bahwa nasib bisa diubah oleh orang-orang yang berusaha dan berdoa.

 

Menurut hemat saya sikap mental seperti itu perlu dipertahankan oleh kita, bangsa Indonesia, kalau kita mau menjadi bangsa yang maju. Siapapun presidennya, siapapun menterinya, kalau kita percaya kita bisa mengubah nasib dengan bekerja keras kita akan jeli untuk mencari peluang kerja, atau bahkan menciptakan lapangan kerja.

 

Sebagai ibu rumah tangga yang memiliki anak-anak yang masih menempuh pendidikan di sekolah, masukan dan kritikan saya pada pemerintah akan saya batasi pada visi dan misi pemerintah untuk dunia pendidikan, yang mereka tuangkan dalam kurikulum pendidikan dasar dan pendidikan tinggi.

 

Kurikulum yang ada saat ini mempersiapkan orang untuk bekerja sebagai spesialis, tapi tidak mempersiapkan orang untuk memiliki life skills. Akan tetapi, walaupun kurikulum dari pemerintah saya lihat kurang memadai untuk memperlengkapi anak-anak saya menghadapi kompetisi di masa depan, saya tidak akan hanya menudingkan jari dan menyalahkan pemerintah. Saya sebagai orang tua, sebagai pendidik utama anak-anak, akan mengupayakan sendiri hal-hal yang saya rasa tidak bisa dicapai/dikuasai dengan pembelajaran yang memakai kurikulum dari pemerintah. Saya akan mencari sekolah dan kegiatan ekstra kurikuler lain yang bisa menjadi mitra saya untuk mendidik anak-anak supaya tidak hanya pintar secara kognitif, namun juga cerdas dalam menjalani kehidupan yang penuh tantangan.

 

Pemerintah memang perlu mendapatkan kritik yang membangun, namun terkadang kita harus membatasi diri memberikan kritik supaya kita punya lebih banyak waktu untuk bersikap mandiri, berinisiatif, dan berusaha sendiri.

 

Kalau kita sekarang merasa tidak menjalani pekerjaan yang sesuai dengan pendidikan, keahlian, minat, atau apalah, selalu ada pilihan untuk mencari pekerjaan baru. Selalu ada pilihan untuk mencari lapangan kerja yang baru, menguasai keahlian baru, bahkan mencari lokasi kerja di luar Indonesia. Tidak ada hal yang mustahil di era globalisasi dengan kemudahan arus informasi seperti saat ini. Kuncinya hanya dua: 1) selalu mau belajar, dan 2) jangan gengsi.

 

Saya tahu seorang lulusan teknik komputer yang banting-setir membuka butik kebaya karena mendapat warisan dari orang tuanya. Sikapnya yang mau belajar hal baru (belajar macam-macam bahan, belajar menjahit, belajar mensupervisi penjahit, dan sebagainya) dan jeli melihat pasar yang memerlukan produknya membuat usahanya cepat berkembang, bahkan lebih sukses dari waktu masih dipegang oleh orang tuanya. Mengubah profesi paling banter mempengaruhi diri dan keluarga kita; tidak usah pusingkan apa kata orang lain.

 

Ini hanyalah two cents saya, pendapat seorang ibu rumah tangga di antara milyaran ibu rumah tangga di muka bumi, menanggapi isu pemerintah dan lapangan kerja. Mungkin terlihat sepele, seperti remah-remah rengginang di dasar kaleng bekas Khong Guan, tapi ibu-ibu rumah tangga yang saya tahu, kenal, dan akrabi punya bekal yang kurang-lebih sama untuk putra-putrinya jika menyangkut masa depan dan pekerjaan.

 

“Nak, belajarlah giat. Gantungkan cita-citamu setinggi langit. Perlengkapi dirimu supaya siap menghadapi kehidupan yang berat. Jangan menggantungkan nasibmu pada siapa pun, termasuk pada orang tua. Masa depanmu akan cerah jika kamu bekerja keras dan berdoa.”

Advertisements

Menyoal EBY yang Membela Dokter Terawan

Saya pertama kali mendengar nama dokter Terawan tahun lalu, sesaat setelah ibu saya mendapat serangan stroke yang pertama. Ibu saya orang yang aktif dan relatif sehat, jadi tidak ada yang menduga serangan stroke ini akan terjadi. Waktu tetangga saya tahu tentang kondisi ibu saya, dia langsung menyarankan kami untuk berobat ke dokter Terawan di RSPAD Gatot Subroto. Ibu dari tetangga saya ini pernah diperiksa oleh dokter tersebut karena pernah lumpuh seluruh badan yang dikira akibat stroke, walaupun akhirnya ketahuan bahwa beliau menderita penyakit autoimun yang tidak ada obatnya.

Dari percakapan singkat dengan tetangga saya, saya mendapat gambaran tentang seorang dokter yang “pasti” bisa menyembuhkan kelumpuhan akibat stroke (tetangga saya ini orang yang sangat optimis) dengan cara menyuntikkan obat ke dalam otak pasien. Saya tidak menggali informasi lebih lanjut tentang sosok dokter Terawan dan metode pengobatannya karena kami tidak berencana berobat ke rumah sakit tempat beliau praktek. Ibu saya hanya mengalami kelumpuhan parsial dan semangatnya untuk pulih sangat tinggi. Dengan pengobatan dan terapi yang teratur dia bisa kembali berjalan dan menggunakan kedua tangannya dua bulan setelah mengalami serangan.

Sejak berita tentang pemecatan dokter Terawan oleh IDI merebak pekan lalu, tanpa sadar saya jadi mengikuti perkembangannya karena saya teringat percakapan dengan tetangga saya itu. Dari sekian banyak berita (dan informasi simpang-siur) yang saya baca, artikel yang ditulis oleh seorang dokter ini paling membantu saya sebagai orang awam untuk lebih memahami kontroversi dari metode pengobatan yang dijalankan oleh dokter Terawan.

Pagi ini saya membaca berita di kompas.com bahwa Kemenkes akan menguji metode cuci darah (atau cuci otak) dokter Terawan. Baiklah, campur tangan pihak yang berwenang dan berkompetensi dalam mengatur praktek kesehatan di Indonesia bisa mengarah kepada akhir dari pro dan kontra seputar metode tersebut, karena kesimpulan dan keputusan dari Kemenkes pasti mempunyai kekuatan hukum.

Nah, selain membaca berita itu pagi ini saya juga mampir di beberapa akun Instagram politisi muda Indonesia, yang salah satunya adalah Ibas Yudhoyono atau EBY. Enam hari lalu EBY mem-post pendapatnya mengenai kasus dokter Terawan sebagai berikut:

Screenshot IG EBY

Di dalam post-nya terlihat EBY menanggapi berita yang diturunkan oleh senayanpost.com (saya baru tahu kalau media ini eksis) yang berjudul: “Dipecat IDI, Dokter Terawan Dikenal Tak Doyan Duit dan Tangani 40 Ribu Pasien Stroke”. EBY menuliskan pendapatnya terhadap berita tersebut dengan kalimat berikut (quote unquote):

“Jika benar seperti ini, sungguh menyedihkan & TERLALU! Semestinya Dokter Terawan mendapatkan gelar tanda jasa bukan justeru sebaliknya malah dipecat. Aneh bin ajaib persaingan masa kini!”. #SaveDokterTerawan – Rakyat Beraspirasi, Negara Menjawab @jokowi @kemenkes_ri @dpr_ri

Posting ini mendapat 16.742 likes dan 211 komentar yang terbagi ke dalam dua kutub: 1) kutub yang menyetujui keputusan IDI untuk memecat dokter Terawan karena belum ada uji klinik terhadap metode pengobatannya, dan 2) kutub yang menyetujui kritik EBY dan menyalahkan rezim ini, pokoknya semua salah Jokowi.

Ijinkanlah saya menghela nafas panjang sebelum saya menggaruk aspal di depan rumah dan mengemukakan beberapa concern saya.

  1. Sumber Berita

Sumber berita yang dikutip oleh EBY adalah sebuah artikel yang diturunkan oleh senayanpost.com enam hari lalu. Judul artikel boleh catchy, namun isi tidak mencerminkan judul. Sepanjang artikel yang terdiri dari 282 kata tersebut tidak ada bukti tentang: 1) klaim dokter Terawan yang dikenal tidak doyan duit, dan 2) bahwa dokter Terawan telah menangani 40 ribu orang pasien stroke.

Yang ada hanya wawancara dengan seorang bekas pasien dokter Terawan yang disebut bernama Bambang Kuncoro. Bapak Bambang ini katanya warga Jakarta – tanpa informasi lain mengenai latar-belakangnya (usia, pekerjaan, riwayat stroke) – dan katanya sudah mengalami stroke sebanyak tiga kali, sudah berobat ke Singapura tanpa hasil, dan malah berhasil disembuhkan oleh dokter Terawan (tidak ada informasi tahun beliau berobat) yang tidak doyan duit (Apakah Pak Bambang memiliki kesulitan keuangan saat berobat? Apakah biaya pengobatan Pak Bambang dibebaskan oleh dokter Terawan? Tidak ada informasi tentang hal ini). Pada akhir artikel sosok Pak Bambang ini menyayangkan (quote unquote) “orang baik seperti dr Terawan harus dianiaya seperti itu.”

Dengan modal logika sederhana yang saya miliki, seratus persen saya akan meragukan validitas isi artikel itu, karena: 1) judul dan isi artikel yang tidak nyambung, 2) karakter bekas pasien yang saya pikir lebih menjurus ke fiktif daripada real akibat minimnya informasi tentang pasien yang bisa membantu kita menyetujui judul dan isi artikel, dan terakhir 3) kalimat penutup artikel dari “katanya” bekas pasien yang menyimpulkan sepihak tentang telah terjadinya sebuah penganiayaan. Sebelum mengambil kesimpulan gegabah, tidak ada salahnya mencari tahu langsung tentang IDI, peraturan mereka, dasar pengambilan keputusan mereka, dan informasi lain seputar kasus dokter Terawan di situs resmi IDI, lho.

Jadi kalau sumber beritanya saja sudah meragukan, buat apa ditanggapi?

Baca juga: Tips Menggunakan Grup Whatsapp untuk Ibu-ibu di kompasiana.com

 

  1. Posisi Penanggap dan Isi Tanggapan yang Tidak Nyambung

Penanggap artikel ini adalah salah seorang anak dari mantan presiden Republik Indonesia, seorang politisi muda yang saat ini menjadi wakil rakyat di DPR dari Partai Demokrat. Reputasi berdasarkan latar belakang keluarga dan pribadinya sendiri tidak diragukan lagi. Beliau aktif di media sosial, terutama Instagram dan Twitter, dengan jumlah follower yang fantastis (555.000 dan 653.000). Apapun yang di-post, positif dan negatif, di media sosial beliau pasti disimak oleh dan bisa mempengaruhi pikiran dan pendapat banyak orang.

Saya terheran-heran dengan kalimat beliau “Aneh bin ajaib persaingan masa kini”. Mohon pembaca budiman memberikan pencerahan jika pernah ada berita di media manapun yang mengungkapkan pemecatan dokter Terawan adalah akibat persaingan (dalam mendapatkan pasien) dengan dokter lain, karena terus-terang saya tidak pernah membaca atau mendengar tentang hal ini sejak berita tersebut bergulir.

Sejauh yang saya tahu dokter Terawan dipecat sementara selama 1 tahun dari IDI, bukan dari RSPAD, karena pelanggaran kode etik, yang ditenggarai berkaitan dengan metode pengobatan stroke yang membuat nama dokter ini melambung. Metode tersebut belum melalui uji klinik, sedangkan kita tahu secara garis-besar bahwa sebuah obat dan metode pengobatan harus melalui uji pre-klinik dan uji klinik sebelum menjadi solusi pengobatan untuk pasien. Uji klinik bicara tentang perlindungan terhadap dokter sebagai praktisi kesehatan dan pasien sebagai pihak yang diobati. Tanpa uji klinik, tidak ada yang memegang akuntabilitas jika pasien mengalami efek samping yang tidak diinginkan.

Kesimpulan saya, posisi komentar EBY kurang tepat – mulai dari mengutip artikel yang kurang valid sampai menyiratkan sebuah “persaingan” yang entah ada atau tiada – mengingat posisi beliau sebagai wakil rakyat yang tindak-tanduk dan perkataannya disorot dan diikuti orang.

 

  1. Tindakan (Seolah-olah) Membela Rakyat

Penutup dari posting EBY adalah berupa sebuah ajakan untuk menyelamatkan dokter Terawan.

#SaveDokterTerawan – Rakyat Beraspirasi, Negara Menjawab @jokowi @kemenkes_ri @dpr_ri

Kelihatan heroik ya? Menyelamatkan dari apa sebetulnya? Dari “penganiayaan” IDI? Masalah pemecatan dokter Terawan sebenarnya adalah masalah internal IDI yang menjadi heboh karena surat pemecatan tersebut bocor (atau dibocorkan?) ke publik. Dokter adalah praktisi kesehatan yang bertanggung jawab pada masyarakat sebagai pasien, dan dokter di Indonesia adalah anggota dari asosiasi dokter yang beroperasi di wilayah NKRI (IDI untuk dokter umum dan dokter spesialis, PDGI untuk dokter gigi).

Jika asosiasi dokter menenggarai ada pelanggaran, kita serahkan saja mekanisme pengkoreksian pelanggaran itu pada asosiasi yang bersangkutan yang: 1) memang tahu betul ranah keilmuan yang dipermasalahkan, dan 2) menuntut loyalitas dari dokter-dokter anggotanya. Gerakan “save …” seperti ini membawa masalah yang spesifik tentang profesionalisme menjadi masalah yang melibatkan emosi (dan pendapat) yang tidak perlu, terlihat dari komentar-komentar terhadap berita ini yang kebanyakan melipir kepada ketidakbecusan penguasa (yaelah, kayak ga ada topik lain aja).

Entah kenapa melihat kalimat EBY itu saya jadi teringat setiap superhero di film/buku komik yang dengan gagahnya berkata, “We have to save the world.” Huh, dunia yang mana? Dunia yang isinya cuma USA?

Atau dalam hal ini, EBY mau membela rakyat yang mana? Rakyat yang merupakan pasien stroke dan perlu bertemu dokter yang tidak mata duitan? Atau rakyat yang perlu dilindungi dari efek samping obat/metode pengobatan dengan cara dipaparkan terhadap obat/metode pengobatan yang memang sudah melalui uji pre-klinik dan uji klinik?

Eta terangkanlah.

 

I Wish You Courage

I wish you courage
To face the vast ocean
To cope with endless rolling waves
To sail to the unknown
To be steadfast in every turn

And when you get lost, you just need to look up
I am there in the rising sun
I am there as the bright evening star
I am there with the wind guiding your ship
I am there on the land you plant your feet

I wish you courage
I wish you wisdom
I wish you strength
With all my love, I wish you those all

Siapa yang Lebih Pantas Menjadi Lara Croft?

Menilik rentang usia orang-orang yang berada dalam teater bersama saya kemarin, kalau boleh saya ingin menebak: setengah dari penonton adalah orang-orang muda yang belum pernah main game atau menonton film Tomb Raider yang terdahulu, dan setengah lagi adalah penonton Lara Croft – Tom Raider yang diperankan dua kali oleh Angelina Jolie (2001 dan 2003) dan penasaran dengan Tomb Raider yang diperankan oleh Alicia Vikander (2018).

Ya, di benak generasi 90’an yang menginjak usia remaja di permulaan milenium baru, Lara Croft adalah Angelina Jolie dan Angelina Jolie adalah Lara Croft.

Angelina Jolie sudah bermain film sejak tahun 1982, namun film Lara Croft yang pertama lah yang menaikkan namanya sebagai artis yang mumpuni jika berperan di dalam film laga. Image Angelina Jolie sebagai seorang jagoan dan petualang kembali terulang di dalam banyak film setelah Lara Croft – Tomb Raider. Sebut saja:

  1. Lara Croft – Tomb Raider: The Cradle of Life (2003), bersama Gerard Buttler
  2. Mr. and Mrs. Smith (2005), bersama Brad Pitt
  3. Wanted (2008), bersama James McAvoy
  4. Salt (2010), bersama Liev Schreiber
  5. The Tourist (2010), bersama Johny Depp

Film-film aksi tersebut dia bintangi dengan aktor-aktor ternama, dengan hasil penjualan tiket yang rata-rata sukses walaupun mendapat penilaian/review yang beragam dari para kritikus.

Jadi reboot film Tomb Raider mengandung resiko besar, bukan karena urusan jalan cerita (kita tidak pernah bisa berharap banyak pada film aksi yang diangkat dari video game), tapi karena ada keraguan akan kemampuan Alicia Vikander merepresentasikan karakter Lara Croft yang berasal dari game.

Dari sisi fisik, Angelia Jolie lebih cocok karena dia memiliki recognizable shape seperti Lara Croft. Dari sisi latar belakang cerita mengapa Lara Croft terlibat dalam berbagai petulangan, masih ada beberapa kemiripan. Dua karakter Lara Croft yang terpaut 17 tahun ini sama-sama mulai bertualang karena mencari ayah mereka yang menghilang karena terobsesi oleh hal supranatural. Mereka juga sama-sama berhadapan dengan organisasi rahasia: Illuminati untuk dua film terdahulu dan Trinity untuk film tahun ini.

Akan tetapi …, Alicia Vikander lebih bisa menunjukkan kerapuhan anak yatim-piatu yang menunggu kabar dari ayahnya selama tujuh tahun, yang lebih memilih menyelamatkan ayahnya daripada menyelamatkan dunia dengan cara -yada, yada- menutup akses ke kuburan Ratu Himiko. Dari segi aksi berkelahi dia memang masih kalah dari Angelina yang kelihatan sangat natural memegang senjata, tapi dari situ terlihat kalau karakternya memang tidak begitu siap dicemplungkan ke dalam perjalanan untuk -yada, yada- menyelamatkan dunia. Tujuan utama karakter Lara di dalam film ini, yang dijaga dengan apik sampai akhir film, hanyalah menginginkan kepastian apakah ayahnya masih hidup, atau tidak.

Film Tomb Raider (2018) ini sebenarnya dibuka dengan cukup menarik. Alkisah Lara adalah seorang kurir sepeda yang menyembunyikan latar belakangnya dari keluarga kaya. Sebuah perlombaan sepeda dimana dia menjadi “rubah” yang dikejar kurir-kurir sepeda lain untuk mendapatkan uang sebesar 600 Pounds, membuat dia berurusan dengan polisi dan harus bertemu kembali dengan Ana Miller, pegawai ayahnya yang ditugaskan mengawasi Lara selama ayahnya menghilang.

Adegan kejar-kejaran dengan sepeda mengingatkan saya pada film Premium Rush (2012) yang dibintangi Joseph Gordon-Levitt. Film ini sangat bagus dan sangat saya rekomendasikan untuk pecinta film aksi-thriller. Ceritanya sederhana, tapi eksekusinya brilian dan pace-nya tepat, dengan ending yang membuat senang semua orang.

Kembali ke Lara. Ana membujuknya untuk menandatangani surat yang menyatakan Richard Croft sudah meninggal, supaya semua kekayaan dan aset perusahaan Croft tidak dijual dan bisa dialihkan ke Lara. Waktu bertemu dengan pengacara perusahaan, Lara menerima sebuah benda seperti teka-teki dan berhasil mengambil foto keluarga dan petunjuk yang ditinggalkan oleh ayahnya di dalam benda itu. Lara kemudian pergi ke kompleks pemakaman keluarga di mana dia menemukan ruang kerja rahasia ayahnya dan semua dokumen lengkap tentang Ratu Himiko dari Jepang yang kabarnya memiliki kekuatan atas kehidupan dan kematian. Richard ingin mencari makam Ratu Himiko karena dia ingin mencari cara supaya tetap bisa merasakan kehadiran istrinya yang telah meninggal. Pada akhirnya Richard meminta Lara membakar semua dokumen itu karena takut jatuh ke tangan Trinity, tapi Lara penasaran. Dia tidak membakar apa pun dan memutuskan untuk mencari ayahnya.

Oke, mulai dari sini cerita menjadi sangat mudah ditebak dan membosankan. Lara kemudian pergi ke Hong Kong untuk menemui Lu Ren yang memiliki ayah yang hilang bersama dengan Richard tujuh tahun yang lalu. Lu Ren bersedia membantu Lara mencari pulau Yamatai yang ditunjuk oleh dokumen/peta yang dibuat ayah Lara. Badai besar membuat mereka akhirnya sampai di pulau itu dan ditangkap oleh Vogel yang mengaku telah membunuh Richard. Lara, Lu Ren, dan banyak orang lainnya yang katanya nelayan yang terdampar (sebuah fakta yang sungguh tidak meyakinkan), kemudian dipekerjakan paksa oleh Vogel untuk mencari makam Ratu Himiko.

Saya percepat saja ya. Ternyata Richard belum mati. Dia senang bisa bertemu kembali dengan Lara. Vogel bisa menemukan makam Ratu Himiko karena membaca dokumen Richard yang dia ambil dari tas Lara waktu Lara terdampar. Dan Vogel, anak buahnya, Richard, dan Lara akhirnya masuk ke dalam makam Ratu Himiko.

Film baru setengah jalan dan saya sudah ngantuk berat. Pertama, setting kuburan Ratu Himiko terlalu mirip dengan kuburan Ahmanet di film The Mummy (2017). Kedalamannya di bawah tanah, gua-gua, tengkorak manusia berserakan, jebakan-jebakannya, semua terlalu mirip. Tidak ada hal khusus yang membedakan di film situ yang dikubur adalah orang Mesir lho, dan di film sini yang dikubur adalah orang Jepang. Kedua, tanda kerasukannya juga bagai pinang tak dibelah: di The Mummy urat-urat di tubuh muncul karena kerasukan roh Ahmanet, di Tomb Raider urat-urat yang kurang lebih sama muncul karena virus (atau apalah) yang berdiam di dalam tubuh Ratu Himiko. Ah, terkadang Hollywood itu kehabisan kreativitas.

Pikiran saya waktu menonton adegan-adegan yang seharusnya seru di dalam makam dan berlalu begitu saja cuma ada tiga: 1) berapa lama waktu yang diperlukan, 2) apa yang terjadi dengan orang-orang yang membangun (mereka harus menjaga kerahasiaan, kan?), dan 3) berapa banyak uang dan uang siapa yang dipakai untuk membangun makam penuh jebakan yang katanya terkutuk? Itu pertanyaan-pertanyaan yang sama setiap kali saya memikirkan Batman dengan Batcave-nya, hehe.

Akhir cerita dari film ini bisa di-google sendiri ya. Yang jelas, menjelang akhir film saya menguap berulang kali karena BOSAN, BOSAN, dan BOSAN. Perkelahian dengan tangan kosong di film ini cenderung sadis, bahkan beberapa kali saya sempat menutup mata karena tidak tega melihat Lara yang badannya kecil itu seperti disiksa oleh para tentara bayaran segede gaban. Lara yang mencoba melawan penjahat dengan senjata panah juga terlihat absurd. Senapan mesin tetap lebih efektif dan efisien, kan? Angelina Jolie sungguh terlihat lebih tangguh sebagai Lara Croft dengan kepiawaiannya menggunakan senjata.

Satu-satunya hal menarik yang saya ingat dari film ini adalah waktu Lu Ren mau membajak helikopter yang datang ke Yamatai untuk mengangkut kuburan Ratu Himiko. Waktu helikopter itu mendarat, Lu Ren menodongkan pistol ke arah pilot dan berkata, “You’re going to take us home, ya?”

Tunggu dulu. Katanya Lu Ren ini orang Hongkong, kok pakai kata ‘ya’ seperti orang Indonesia saja? Hahaha, saya dan teman saya cuma bisa bertatapan dan kemudian tertawa terpingkal-pingkal. Ah sudahlah, karakter Lu Ren ini memang hanya pelengkap yang kalau dihilangkan dari dalam film pun takkan jadi masalah. Apalagi tidak ada chemistry sama sekali antara karakternya dan karakter Lara.

Jadi, siapakah yang lebih pantas memerankan Lara Croft? Saya masih berpihak pada Angelina Jolie, dan melihat Alicia Vikander seperti seorang impersonator, seorang peniru yang tidak ulung. Dan parahnya, yang muncul di benak saya jika ingat Alicia Vikander sekarang adalah sosok seorang Lara Croft tanpa (maaf) dada.

 

PS: yada, yada itu ungkapan seperti bla bla bla untuk menunjukkan betapa tidak pentingnya suatu hal.

 

 

Happy White Day!

Happy Valentine’s Day!

Tentu kita sudah familiar dengan seruan di atas untuk merayakan hari kasih sayang/hari cinta yang jatuh pada tanggal 14 Februari setiap tahunnya. Sama seperti tanggal 1 Januari yang dirayakan sebagai penanda tahun yang baru di kalender Masehi yang dipakai secara internasional, Valentine’s Day juga dirayakan secara internasional. Semua orang yang terekspos dengan sumber berita dan informasi pasti tahu semua kehebohan, pernak-pernik, kebiasaan, dan barang/jasa yang diperdagangkan khusus untuk menyambut hari ini.

Asal-usul Valentine’s Day bisa dibaca di sini. Kebenaran dan kesahihan informasi yang ada di artikel tersebut tidak bisa saya konfirmasi ya, karena semua orang bisa menulis apa saja di Wikipedia. Yang pasti Valentine’s Day sejak dua puluh tahun terakhir bukan melulu tentang pasangan kekasih, tapi merambah juga ke ungkapan kasih sayang antar anggota keluarga, saudara, teman, dan lain sebagainya. Yah, pinter-pinternya orang marketing saja untuk mencocokkan produknya dengan momen Valentine’s Day. Jadi jangan heran kalau sebuah produk detergen pun menjanjikan baju yang super harum dan lembut setelah dicuci, demi penampilan terbaik Anda saat makan malam romantis dengan pasangan (halah).

Nah, mari kita membahas White Day sekarang.

Saya pertama kali tahu tentang White Day waktu SMA dan sedang menggandrungi serial cantik komik Jepang. Dari alur cerita beberapa komik saya mendapat informasi kalau di Jepang sana Valentine’s Day adalah hari untuk wanita mengungkapkan rasa cinta pada pria dengan cara memberikan cokelat (atau hadiah lainnya). Rasa hati tak enak dong jika tidak membalas hadiah yang sudah diberikan. Maka ditetapkanlah White Day yang jatuh satu bulan setelah Valentine’s Day sebagai hari di mana pria mempunyai kesempatan untuk membalas cokelat/hadiah tersebut sebagai tanda membalas perasaan si wanita.

Pikiran saya waktu itu ada dua:

  1. Wanita Jepang agresif ya? Mungkin anak-anak jaman now sudah berbeda jauh dengan generasi saya 20 tahun lalu, tapi sepanjang saya menempuh pendidikan SMA di Bandung hampir tidak terdengar ada wanita yang menyatakan suka lebih dulu pada pria. Persepsi waktu itu, ini hal tabu. Pria masih dipandang sebagai pihak yang mengejar dan wanita dipandang sebagai pihak yang menerima/menolak tawaran untuk masuk ke dalam suatu hubungan romansa. Memang sih, ada saja pria-pria pemalu yang sulit untuk berkata suka (walaupun jelas-jelas wanita yang diincarnya mempunyai perasaan yang sama), tapi tetap saja urusan “tembak-menembak” itu masih merupakan dominasi kaum pria. Pernah saya dengar di angkatan adik saya seorang wanita yang menembak duluan dan si pria menerima. Pria itu kemudian curhat ke adik saya kalau harga dirinya turun sedikit karena bukan dia yang menyatakan suka duluan, dan seharusnya wanita itu sabar menunggu sampai si pria siap menaklukkan. Masuk akal sih. Dan lebay. Haha.
  2. Bagaimana kalau si pria tidak suka pada wanita yang memberinya cokelat? Jadi ruwet deh. Kalau cokelat dibalas waktu White Day, nanti si wanita bisa salah paham. Kalau tidak dibalas, rasanya juga tidak enak karena kesannya tidak menghargai pemberian. Untuk menyikapi ini muncul  giri-choco (義理チョコ), sebuah istilah dalam bahasa Jepang yang artinya courtesy chocolate, atau cokelat yang diberikan hanya karena tata-krama. Kalau menerima giri-choco apa perasaan si wanita tidak makin pedih ya? Dapat cokelat tapi tidak jadian dengan si pria pemberi cokelat. Hiks-hiks. Eh tapi katanya wanita juga bisa memberikan giri-choco ini lho, kepada pria yang ia kagumi dan hormati seperti kakak kelas atau atasan di tempat kerja.

Itu informasi yang saya dapat waktu Mbah Google belum ada ya. Mari kita tilik sekarang apa sih yang sebenarnya dirayakan oleh White Day dan dari manakah kebiasaan ini berasal.

Alkisah pada tahun 1977 sebuah perusahaan permen asal Fukuoka, yang bernama Ishimuramanseido, memasarkan marshmallow (yang pada umumnya berwarna putih) untuk pria hadiahkan pada wanita yang berarti baginya pada tanggal 14 Maret, dan menyebut hari itu sebagai Marshmallow Day. Marshmallow secara perlahan digantikan oleh cokelat putih (white chocolate) yang lebih bergengsi dari marshmallow, dan tanggal 14 Maret pun resmi dinobatkan sebagai White Day. White Day pertama kali dirayakan di Jepang pada tanggal 14 Maret 1978 dan penggerak utamanya adalah National Confectionery Industry Association (NCIA) Jepang yang merasa perlu ada satu hari dalam kalender dimana pria membalas cokelat dan hadiah lain yang mereka terima dari wanita pada Valentine’s Day. Dengan kata lain perlu ada satu hari lagi dalam kalender saat orang-orang berbondong-bondong membeli cokelat/makanan manis lainnya.

Jadi berbeda dengan Valentine’s Day yang merujuk pada sosok seseorang yang penuh cinta kasih yang hidup sebelum abad ke-14, White Day ini murni strategi marketing. Dengan tujuan apa? Menjual lebih banyak cokelat, permen, marshmallow, dan semua makanan manis yang bisa digolongkan sebagai confectionery.  Siapa yang diuntungkan? Tentu saja para pedagang, apalagi yang bisa jualan specialty chocolate dua kali dalam setahun, hehehe.

Apalagi tradisi White Day tidak hanya dirayakan di Jepang, tapi sudah menyebar ke negara Asia lain seperti Korea Selatan, Cina, Taiwan, dan Vietnam. Hadiah balasan yang diberikan pada White Day juga tidak terbatas pada cokelat putih saja, tapi bisa juga cokelat hitam, perhiasan, bahkan lingerie.

Saya tidak menemukan penelitian atau data statistik tentang pergerakan komoditi dan uang selama Valentine’s Day di Jepang atau negara lain, namun saya bisa melihat gambaran besarnya hanya dengan melihat semua aktivitas marketing dan gimmick untuk merayakan hari yang katanya spesial ini di Indonesia.

Tidak hanya dari sektor makanan yang manis-manis, sektor pariwisata juga ikut mendulang keuntungan. Sebutlah beberapa website agen perjalanan yang menawarkan romantic traveling, traveling hanya berdua dengan pasangan tepat pada hari Valentine. Belum lagi deretan hotel dan restoran yang menawarkan paket menginap dan candle light dinner nan romantis dengan kekasih hati. Bukan hanya cokelat yang jadi tambah laku dijual, tapi juga kamar hotel, tiket pesawat/kereta, bunga dan minuman beralkohol seperti anggur, dan sederet benda lainnya yang bisa dihubung-hubungkan dengan Valentine’s Day.

Bagaimanakah dengan perayaan White Day di Indonesia? Apakah sudah ada gejala merayakan hari ini, setidaknya di kota-kota besar? Apakah wanita Indonesia saat ini mengacu pada pakem Valentine’s Day (hari menyatakan cinta atau hari memberikan cokelat) – White Day (hari untuk tahu ditolak/diterima oleh si pria atau hari menerima cokelat) seperti di Jepang? Saya jadi penasaran.

Akhir kata, Happy White Day! Wahai para pria yang pernah memberikan cokelat di tanggal 14 Maret pada wanita yang menyukai dirimu, mari berbagi sedikit pengalaman, hehe.

Menonton Sambil Makan di Bioskop Adalah Sebuah Pilihan

Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak pernah lepas dari pengambilan keputusan. Kita membuat keputusan tentang apa yang kita makan, apa yang kita pakai, ke mana kita pergi, siapa yang kita temui, dan seterusnya; daftar ini tak berkesudahan. Saat hendak mengambil suatu keputusan adalah wajar jika kita meminta saran, nasihat, atau bahkan persetujuan, dari pihak lain (seperti: anggota keluarga, guru, rekan kerja, bos di kantor, dll.). Akan tetapi, kita harus selalu ingat bahwa kita bertanggung jawab atas konsekuensi dari setiap keputusan yang kita ambil (mengenai hal apa pun juga).

Kita hidup di negara yang merdeka, tidak ada sistem penjajahan dan perbudakan di tanah air kita. Dalam mengambil keputusan kita memiliki kebebasan yang hanya dibatasi oleh: 1) aturan yang dibuat oleh otoritas yang berwenang, dan 2) kewajiban untuk menghormati dan menjaga hak-hak milik orang lain.

Mau ke sekolah tanpa mengenakan seragam? Bisa saja, kalau itu bagian dari aturan sekolah. Lebih suka makan di mal daripada di warteg? Silakan saja, itu bagian dari preferensi pribadi. Mau mengendarai motor tanpa helm dan ugal-ugalan di jalan raya? Tentu tidak boleh, karena jalan raya adalah fasilitas yang dipakai bersama (HAK) dan ada polisi sebagai wakil dari pemerintah untuk membuat dan menegakkan aturan berkendara (KEWAJIBAN), supaya tercipta ketertiban dan kenyamanan bagi semua pengguna jalan raya.

Mau menonton film Hollywood terbaru? Ada banyak pilihan. Kita bisa pergi ke salah satu jaringan bioskop yang ada, streaming di aplikasi seperti Hooq, atau menunggu film tersebut disiarkan di tv kabel atau televisi swasta nasional (yah, kira-kira menunggu antara satu sampai tiga tahun).

Melihat begitu beragamnya cara untuk mengakses suatu film, apa yang membuat menonton di bioskop tetap terasa lebih menarik dibandingkan di media lain?

  1. Akses terhadap film-film paling baru.
  2. Layar yang lebar dan sound system yang mendukung.
  3. Tempat yang besar dan nyaman jika pergi menonton beramai-ramai.

Menonton di bioskop berarti secara tidak langsung kita menundukkan diri pada aturan-aturan yang diberlakukan oleh pengelola bioskop, seperti:

  1. Anak berusia mulai dari 3 tahun harus membeli tiket tersendiri. Pengelola bioskop tidak mau tahu apakah si anak duduk dipangku oleh orangtuanya, atau bahkan tertidur, selama film berlangsung. Pokoknya waktu petugas di pintu masuk teater melihat fisik anak dan mengetahui umur anak sudah mencapai 3 tahun, anak akan diminta untuk membeli tiket terpisah.
  2. Dilarang merekam film yang sedang berlangsung dalam alat apa pun untuk mencegah pembajakan film.
  3. Menonaktifkan gadget dan tidak mengangkat kaki ke atas kursi untuk kenyamanan penonton lain.
  4. dan yang sedang menjadi perdebatan saat ini: Dilarang membawa makanan dan minuman dari luar area bioskop.

Apakah menjual makanan dan minuman adalah core business dari sebuah jaringan bioskop? Bukan. Snack corner  ini hanyalah usaha sampingan dari pengelola bioskop, karena secara nalar pasti ada penonton yang ingin mengemil selama menonton film yang rata-rata berdurasi lebih dari 1.5 jam. Pengelola bioskop membuat snack corner karena melihat ada peluang, yang kemudian dimanfaatkan untuk mendapatkan profit tambahan dengan menggunakan area yang memang dia sudah sewa untuk operasional usahanya.

Bisnis bioskop memerlukan modal yang besar lho, mulai dari: 1) sewa tempat, 2) pengkondisian ruangan teater supaya kedap suara, 3) pengadaan layar, sound system, kursi penonton, 4) dll. Dan pendapatan dari bisnis ini sangat bergantung pada jumlah penonton yang berfluktuasi dari waktu ke waktu akibat: 1) review/kualitas film yang ditayangkan, 2) efektivitas dari aktivitas promosi film yang ditayangkan, 3) tanggal-tanggal tertentu saat orang-orang baru menerima gaji/bonus/THR dan memiliki pendapatan ekstra yang dialokasikan untuk leisure activities (salah satunya adalah menonton film di bioskop, 4) dsb.

Bagaimana cara pengelola bioskop menentukan harga tiket nonton dan snack yang dijual? Kuncinya hanya dua:

  1. Mengacu pada hasil survey, seperti survey pendapatan dan daya beli masyarakat di sekitar area bioskop. Harga tiket dan snack di pusat kota Jakarta tentu berbeda dengan di kota kecil seperti Cirebon.
  2. Hukum supply and demand. Jika ada banyak supply, dalam artian ada banyak pilihan bioskop di suatu daerah, harga tiket nonton dan snack bisa bersaing antar jaringan bioskop. Jika hanya ada satu pilihan bioskop dan ada banyak demand untuk menonton film di layar lebar, tak heran bila harga yang ditetapkan cenderung tinggi dan terkesan dimonopoli. Cara untuk menurunkan harganya mudah saja: dirikan jaringan pesaingnya di daerah tersebut.

Pengelola bioskop sebagai pemilik usaha berhak menetapkan aturan-aturan bagi orang-orang yang akan menggunakan jasa (menonton film) dan membeli barang yang ia tawarkan (snack). Dan kita sebagai pengunjung bioskop bebas memutuskan kita mau mengikuti aturan-aturan itu atau tidak. Sebagai penduduk sebuah negara yang merdeka kita bebas memilih pemasok untuk berbagai kebutuhan kita, termasuk di antaranya bebas memilih mau menonton film di bioskop atau di media lain, mau menonton film di jaringan bioskop X dan bukan Y, dan seterusnya.

Larangan untuk membawa makanan/minuman dari luar area bioskop bisa dilihat dari beberapa sisi. Sisi pertama, ini langkah pengelola bioskop untuk mengoptimalkan keberadaan snack corner yang ia miliki dengan tujuan untuk memaksimalkan profit. Tidak ada yang salah dari hal ini, karena setiap bisnis pasti bertujuan untuk mencapai profit, bukan?

Sisi kedua, ini langkah pengelola bioskop untuk mencegah kemungkinan terburuk seperti pengunjung bioskop mengalami keracunan makanan. Jika keracunan makanan terjadi di area bioskop, maka siapa yang akan diminta untuk bertanggung jawab? Ya, pengelola bioskop. Namun tanggung jawab ini bisa dituntut jika makanan yang dicurigai mengakibatkan keracunan adalah memang makanan yang dibuat, bisa dikontrol kualitasnya, dan dijual langsung oleh pengelola bioskop. Jika pengunjung bioskop keracunan makanan yang dia bawa dari luar area bioskop, maka hal ini akan menimbulkan kerumitan baik bagi pengelola bioskop maupun bagi pengunjung itu sendiri.

Saya akan protes jika harga tiket nonton digabung dengan harga snack. Saya akan melihatnya sebagai sebuah bentuk pemaksaan, karena tujuan utama saya pergi ke bioskop adalah untuk menonton film, bukan untuk makan/minum. Tapi saya tidak akan protes jika harga snack di dalam area bioskop lebih mahal dari di luar bioskop, karena saya melihatnya sebagai kewenangan penuh dari pengelola bioskop. Yang saya lakukan adalah saya bebas memilih untuk: 1) tidak makan/minum selama menonton film, atau 2) mengeluarkan uang lebih banyak karena saya ingin menonton sambil mengemil.

Akhir kata, menonton bioskop dan membeli snack di area bioskop adalah sama-sama sebuah kebebasan dan keputusan. Sama seperti pengelola bioskop yang bebas untuk memutuskan harga tiket dan snack yang dia jual, saya juga bebas untuk memutuskan menonton di jaringan bioskop mana dan membeli/tidak membeli snack untuk saya konsumsi selama saya menonton. Semua bergantung pada nilai tambah yang saya persepsikan akan saya terima (hiburan dari film yang saya tonton, perut kenyang akibat makan/minum snack), dan tentu saja bergantung pada ketersediaan uang di dalam dompet saya.

*) artikel terkait mengenai kebebasan dan keputusan bisa dibaca di sini: https://rijotobing.wordpress.com/2017/03/03/nobody-holds-a-gun-to-your-head/

Dua Kejutan Saat Hendak Berwisata ke Taiwan

Pada bulan Desember tahun lalu terjadi sebuah kesalahan kecil namun fatal yang mengakibatkan rencana liburan keluarga kami mendadak harus dialihkan dari Korea Selatan ke Taiwan. Berhubung jadwal cuti pekerjaan dan liburan sekolah sudah fixed, kami pun mengurus dokumen untuk visa, penukaran mata uang, dan pemesanan hotel selama berada di Taiwan dalam tempo kurang dari satu bulan. Bagaimana dengan persiapan itinerary perjalanan? Lupakan. Kami bahkan baru mencek moda transportasi dari Taoyuan International Airport menuju hotel di area Banqiao saat sudah mendarat di Taipei pada tanggal 21 Desember. Hehe.

Hal pertama yang kami urus adalah visa. Berhubung kami tinggal sekitar 40 km dari lokasi Kedutaan Besar Taiwan dan perlu cuti dari pekerjaan untuk mengurus hal ini, kami benar-benar mempersiapkan terlebih dahulu semua dokumen yang diperlukan untuk mengajukan Visitor Visa.

Di sinilah kami menemukan kejutan pertama.

Suami saya datang ke kedutaan dengan dokumen yang sudah lengkap. Saat hendak mengambil nomor antrian, satpam yang bertugas tiba-tiba bertanya apakah dia pernah mendapat visa dari atau pernah tinggal sementara di USA, UK, Australia, Jepang, Korea, negara-negara Schengen kurang dari sepuluh tahun sebelum bulan Desember 2017. Suami saya menjawab ‘pernah’. Bapak satpam lalu mengarahkan suami saya untuk membuat Travel Authorization Certificate dengan cara mengisi form online.

Pengajuan TAC memerlukan dokumen pendukung berupa visa atau surat keterangan tinggal di salah satu dari negara-negara yang saya sebut di atas. Dokumen pendukung yang suami saya gunakan adalah kartu tanda penduduk kami selama tinggal di Swis.

KTP Swis

Waktu kami tinggal di Swis anak kami yang kedua belum lahir, jadi kami tetap harus mengajukan visa wisata untuk dia. Saat visa selesai diproses kami diberitahu bahwa anak kami tidak memerlukan visa jika dia hendak mengunjungi Taiwan lagi. Dia cukup mem-print TAC dan bisa keluar-masuk Taiwan selama sepuluh tahun sejak tanggal penerbitan visa wisata pertama kali. Bagaimana dengan kami? Kartu tanda penduduk Swis milik kami berakhir pada tahun 2012, jadi kami memiliki kesempatan sampai tahun 2022 untuk masuk ke Taiwan dengan hanya menggunakan TAC. TAC ini berlaku untuk tinggal di Taiwan selama 90 hari berturut-turut sejak tanggal terbit.

Oya, biaya pembuatan TAC adalah gratis, sedangkan biaya pembuatan visa wisata untuk single entry  adalah Rp 650.000,00 per pemohon. Lumayan, kami jadi hemat biaya visa untuk tiga orang, hehe.

Sertifikat Autorisasi Perjalanan

Keberadaan TAC ini adalah usaha Taiwan untuk meningkatkan hubungan bilateral dan kerja sama ekonomi dengan negara-negara di bagian selatan negara Taiwan. Bukan tidak mungkin suatu saat warga negara Indonesia akan bebas visa untuk masuk Taiwan seperti halnya warga negara Filipina saat ini.

Satu hal yang perlu dicermati adalah pada umumnya staf maskapai penerbangan tidak familiar dengan keberadaan TAC. Bahkan staf di counter check-in maskapai penerbangan seperti SQ yang memiliki banyak rute di seluruh dunia kebingungan waktu melihat tidak ada visa Taiwan di paspor kami. Sebagai gantinya kami memberikan TAC, KTP Swis, tiket pulang-pergi, informasi hotel, dan tak lupa link ke website kedutaan Taiwan yang menjelaskan tentang TAC sebagai dokumen untuk masuk ke Taiwan. Berhubung TAC ini termasuk hal baru, staf memerlukan waktu antara 10-20 menit untuk mencari informasi dan memastikan kami menyediakan data yang benar. Waktu ini adalah di luar waktu untuk mem-print boarding pass dan menimbang koper, jadi usahakanlah untuk datang lebih awal untuk check-in.

Penerbangan kami dari Jakarta ke Taipei via Singapura dengan total waktu terbang 6 jam dan transit 6 jam.  Kami berangkat dari rumah pada pukul 2.30 pagi untuk mengejar pesawat pukul 5.30 ke Singapura. Saat transit di Singapura anak kami yang berusia 4 tahun mulai tidak enak badan karena bangun terlalu pagi dan tidak cocok dengan sarapan yang disediakan di dalam pesawat. Selama empat jam penerbangan dari Singapura ke Taipei dia tidur terus dan malas makan.

Walhasil waktu kami mendarat di Taipei kejutan kedua sudah menanti kami.

Kami mendarat sekitar pukul 16.30 waktu setempat dan dengan santai berjalan dari tempat turun pesawat menuju tempat mengambil bagasi. Anak pertama saya gandeng dan anak kedua digendong oleh suami saya. Alangkah kagetnya kami ketika kami tiba-tiba dicegat oleh Critical Diseases Center dari bandara Taoyuan. Tanpa disadari kami telah berjalan melalui kamera thermal dan suhu tubuh anak saya terukur 38.6 derajat Celcius.

Kami mulai diinterview (atau diinterogasi yah?) mengenai asal negara, riwayat kesehatan anak, dan histori perjalanan sebelum tiba di Taiwan. Indonesia ternyata termasuk salah satu negara yang berada dalam pengawasan karena banyak penyakit epidemis yang berasal dari negara kita, seperti: demam berdarah, malaria, flu burung, dll, yang dimulai dengan gejala awal demam. Dan suhu tubuh di atas 37.5 derajat Celcius sudah cukup untuk membangkitkan kecurigaan. Kami susah payah menjelaskan bahwa anak kami ini demam karena lelah dan kurang makan, tapi informasi dari kami cenderung diabaikan.

Sebenarnya sebelum traveling kami sudah menyiapkan obat-obat yang biasa dikonsumsi anak-anak saat sakit ringan (penurun panas, obat batuk, obat flu, obat alergi, multivitamin). Tak lupa kami menyertakan resep dan surat dokter yang menerangkan nama dan fungsi setiap obat dalam bahasa Inggris. Kesalahan kami adalah menyimpan obat-obat anak-anak di bagasi, walaupun resep obat kami bawa di tas handcarry, sehingga tidak bisa langsung memberikan obat penurun panas kepada anak kedua kami saat dia mulai demam di Singapura.

Akhirnya kami menerima surat peringatan dari CDC dengan berat hati. Pihak CDC mencatat hotel tempat kami menginap selama di Taiwan dan mengharuskan kami ke dokter dalam waktu 24 jam sejak mendarat untuk memeriksakan kesehatan anak kami. Kami juga harus segera menelepon kembali ke bandara untuk melaporkan hasil pemeriksaaan dokter.

Surat Peringatan dari CDC

Untungnya staf Hotel Cham-Cham tempat kami menginap selama dua minggu sangat fasih berbahasa Inggris dan sangat membantu kami. Mereka membantu mencarikan dokter yang bisa berbahasa Inggris dan mem-print peta lokasi tepatnya dalam bahasa Mandarin dan Inggris. Mereka juga menelepon ke klinik untuk memastikan dokter sudah datang/sedang praktek/sedang istirahat.

Pada hari berikutnya di Taipei anak kedua kami sudah sehat, segar-bugar, tidak demam, dan mau makan dengan lancar.  Namun demi memberikan laporan ke CDC kami tetap mengunjungi klinik dokter tersebut. Dokternya sudah tua dan sepertinya dokter umum/dokter keluarga. Pasien lain yang kami temui adalah mereka yang membawa anak-anak yang batuk-pilek. Dia memeriksa anak kami dan memberikan surat keterangan sehat dalam bahasa Mandarin dan catatan temperatur tubuh terakhir saat diperiksa. Ketika kembali ke hotel kami meminta staf hotel untuk membantu kami menghubungi CDC dan memberi tahu hasil pemeriksaan dokter. Semua pun beres dengan cepat.

Jika ternyata anak kami menderita salah satu penyakit epidemis yang ada dalam daftar CDC dan jika kami tidak ke dokter dan lalai melaporkan hasil pemeriksaan dokter, saat meninggalkan Taiwan kami bisa didenda antara NTD 10.000 sampai dengan NTD 150.000 (sekitar IDR 5 sampai 75 juta).

Tiga hal yang akan selalu kami ingat jika menghadapi otoritas seperti CDC ini ke depannya adalah:

  1. Memberikan informasi yang jujur. Menyembunyikan informasi hanya akan mempersulit proses kita selanjutnya. Kendala pertama saat berkomunikasi dengan petugas bandara adalah bahasa. Kami berbahasa Inggris dengan aksen Indonesia dan petugas memakai bahasa Inggris dengan aksen bahasa ibunya. Gunakanlah kalimat-kalimat sederhana untuk menghindari menambah keruwetan saat berkomunikasi.
  2. Taat aturan. Jika diperintahkan untuk pergi ke dokter dan melaporkan kondisi kesehatan dalam waktu 24 jam sejak ‘ditangkap’ oleh CDC, maka turuti saja. Kita adalah tamu di negara orang lain yang diwajibkan menuruti aturan setempat. Untuk ke depannya mungkin kami akan mulai membeli asuransi perjalanan yang juga mencakup penggantian biaya pengobatan medis. Tarif periksa dokter umum di Taipei hampir tiga kali lipat tarif periksa di Jakarta.
  3. Selalu sedia paracetamol di tas untuk orang dewasa dan anak-anak, hehehe.

Secara keseluruhan perjalanan wisata kami ke Taiwan menimbulkan kesan yang mendalam mulai dari persiapan, jalan-jalan dan menikmati malam tahun baru 2018 di Taipei, sampai kembali ke tanah air. Semoga kami bisa kembalike Taiwan untuk menjelajahi kota-kota lainnya.