Pertama Kali Jadi Host IG Live

Tahun ini luar biasa. Udah pandemi, sekolah ditutup, order di workshop berkurang, eh kok ya masih sempet nyoba hal baru seperti berkomunitas dan melahirkan blog bersama seputar kekoriyaan?

Itu yang terbersit di benak saya setelah menyelesaikan tugas menjadi host acara IG Live Drakor Class Episode ke-5 malam ini. Perasaan lega begitu membuncah. Yes, I conquered another milestone. Eh, bukan milestone, sih, lebih tepatnya ada satu hal baru lagi yang saya coba malam ini.

Tahun ini luar biasa. Dari yang biasa beraktivitas di luar, saya tiba-tiba harus mendekam di rumah saja dengan anak-anak. Sebelum bulan Maret tahun ini saya bisa bolak-balik rumah dan sekolah/tempat les/rumah orang tua/rumah sakit/ pasar sampai enam kali dalam sehari. Sehari lho! Sekarang? Nada. Nihil. Wong semua-muanya bisa online hari gini.

Bulan Juli lalu saya ditawari jadi narasumber di acara IG Live teman saya waktu SMA, Ririn. Ceritanya Ririn mewawancarai orang-orang yang menurut dia inspiratif, punya kisah yang bisa bermanfaat untuk orang lain. I was humbled, ga nyangka ditawari kesempatan seperti itu.

Sepanjang satu jam itu saya malah berbagi banyak tentang keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak di sekolah. Maklum, masih awal-awal pandemi. Orang-orang masih meraba-raba, Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) itu harusnya kayak gimana sih? Saya berbagi tentang komunikasi dengan guru anak, termasuk tidak tengsin datang langsung ke sekolah untuk minta diajari cara mengajar suatu materi.

Tak kenal maka tak sayang. Kalau ga tahu, atau ga mau tahu, proses edukasi anak, ya gimana mau terlibat? Keterlibatan itu perlu, semasa pandemi, semasa anak-anak masih jauh dari sekolah normal, atau bahkan setelah semua kegilaan ini berakhir. Kita sebagai orang tualah yang memegang kendali penuh atas pendidikan mereka, jadi wajar kalau kita harus banyak tanya dan banyak tahu. Guru boleh mengajar dan mendidik, tapi kita yang punya visi dan misi pendidikan anak-anak kita.

Surprisingly, di tengah pandemi inilah creative writing workshop yang sempat saya hentikan dua tahun karena kesibukan mengurus anak-anak, akhirnya dimulai lagi. Anak-anak saya bisa dibilang belum besar semua sih. Anak yang bungsu masih bayi, tapi puji Tuhan suami sangat mendukung saya mengembangkan bakat ini. Dia selalu siap menjaga dan mengasuh anak-anak saat saya sibuk mempersiapkan dan menyelenggarakan workshop.

Di tengah pandemi justru ada begitu banyak kesempatan. Ketika yang diperlukan hanya gawai dan koneksi internet, workshop yang saya selenggarakan jadi bisa menjangkau banyak tempat dan tidak terbatas pada satu lokasi saja. Sepanjang tahun 2016 sampai 2017, saya harus menyetir berpuluh-puluh kilometer ke sebuah sekolah, menghabiskan maksimal dua jam untuk workshop, dan lima jam berikutnya untuk perjalanan pulang dan pergi.

Sekarang? Cukup dengan akun gratisan di Zoom (yang baru di-upgrade jadi akun premium, btw), saya bisa bikin workshop yang bisa diakses oleh banyak orang. Untuk KLIP saya sudah menyelenggarakan dua workshop. Demikian pula workshop menulis untuk anak remaja. Salah satu murid saya malah dari Singapura dan kami belajar bersama di sebuah kelas privat selama enam kali pertemuan.

Besok saya diajak seorang teman waktu kuliah untuk memberi materi “writing for healing” untuk orang tua dari anak-anak berkebutuhan khusus. Waktu saya mendapat tawaran itu, saya benar-benar humbled, lho. Siapa saya, apa saya, sampai dipercaya sedemikian rupa untuk menyampaikan sesuatu yang saya kuasai betul. Ilmu menulis itu sebenarnya sederhana, kok. Tujuannya adalah supaya seseorang berpikir, berbicara, dan menulis dengan sinkron. Tanpa penyuntingan dan tanpa penyesalan.

Tadi jam empat sore saya mengadakan dry run untuk workshop besok. Yang datang setengah dari total jumlah peserta. Saya sangat senang mendengar ekspektasi dan melihat antusiasme mereka. Sekali lagi saya merasa humbled; saya ini bukan siapa-siapa tapi saya diberi kepercayaan besar. Dan seperti prinsip Alkitab bahwa “dari dia yang diberi banyak akan dituntut banyak”, maka dengan semangat saya akan menggarap ladang yang dipercayakan kepada saya.

Jadi hubungannya dengan menjadi host IG Live gimana?

Duh saya jadi ngomong muter-muter, yang sebenarnya adalah kilas balik ucapan syukur atas semua yang Tuhan berikan sepanjang tahun ini. Saya dan teman-teman pengusung semangat drakor dan literasi (harus satu paket komplit ya, ga bisa salah satu aja) membuat blog http://www.drakorclass.com tanggal 10 Oktober lalu. Dari blog kami juga merambah ke media sosial lain, taruhlah Instagram, Facebook (personal account dan page), Twitter, Podcast, dan … Tik Tok. Iya, Tik Tok, biar bisa menjangkau lebih banyak orang dan mengubah pandangan negatif mereka soal drama Korea.

Serius, lho, apanya yang negatif sih dari drakor? Takut kecanduan? Ya, berarti udah paling bener bisa mengenali kelemahan diri sendiri. Takut kerjaan rumah ga kepegang? Ya, tergantung prioritas dong, say. Tonton pas senggang, tinggalkan pas lagi ada kerjaan. Drakor bisa bikin baper, tapi dia bukan segala-galanya di dalam hidup kita yang sangat singkat ini.

Stigma itu yang coba dihapus oleh Drakor Class. Melalui acara interaktif seperti IG Live yang menghadirkan wawancara dengan para classmates, para founder Drakor Class yang sangat berkarya dalam kehidupan sehari-hari, kami ingin memberi lebih banyak informasi mengenai sisi positif dari menonton drakor. Selain tentu saja visual dan story line-nya yang juara.

Minggu lalu saya sudah menjadi narasumber dalam episode mengulik proses kreatif novelis. Cerita tentangnya lain kali saja ya, sebentar lagi waktu setoran KLIP akan berakhir. Cindy in action, man! Nah untuk episode malam ini saya menawarkan diri menjadi host.

Kenapa tiba-tiba? Karena saya pengen nyoba sesuatu yang baru aja. Jadi narasumber udah pernah, mau dong coba jadi host-nya. Sama kayak waktu saya memberanikan diri menulis novel. Menulis cerpen udah pernah, mau dong coba menulis novel. Habis ini belajar menulis skrip film, wkwkwk.

Narasumber saya malam ini adalah dua classmates kesayangan, Asri dan Neng Nad yang cerpen-cerpennya selalu saya baca. Waktu awal bergabung dengan KLIP, nama mereka berdua langsung nyantol di kepala saya justru karena cerpen-cerpen yang mereka tulis. Alangkah girangnya saya ketika diijinkan menjadi host malam ini dan bisa bertanya banyakkk sekali hal, dan mempelajari proses kreatif mereka yang bisa menyempurnakan proses kreatif saya.

Semua hal baik patut diteladani ya, kan. Dan dari episode malam ini saya belajar … nantikan saja reportase lengkapnya besok, ya. Yang pasti saya bersyukur banget buat Neng Nad sebagai narasumber dan para penonton IG Live malam ini yang udah sabar luar biasa dengan koneksi internet di rumah saya yang mati segan, hidup malu-maluin. Connect/re-connect-nya sampai empat kali, bok!

Akhirnya dengan semangat 45 saya nongkrong di bawah meteran listrik tempat sinyal 3G tertangkap sempurna. Maafkan, tetangga saya yang orang Vietnam kalau tadi suara saya terlalu keras dan tawa saya terlalu berisik. Untunglah 3G bersahabat selama 42 menit menjelang akhir. Badan saya habis digigiti nyamuk, tapi saya sangat bersyukur atas langit indah bertaburkan bintang malam ini.

Ah, perut kenyang setelah makan arsik dan pukul 00.00 sudah di depan mata. Saya akhiri dulu tulisan kali ini. Sampai besok!

Tentang Anata

Hari ini adalah hari ulang tahunnya yang ke-39. Tadi aku sempat menghitung dengan sepuluh jari, ternyata aku perlu lima belas jari untuk menghitung berapa ulang tahun yang dia sudah habiskan bersamaku.

Tentu saja ada beberapa kali di dalam kurun waktu lima belas tahun itu dimana dia berada jauh dari rumah saat berulang tahun. Pernah suatu kali ulang tahunnya dirayakan dengan meriah di Manila oleh rekan-rekan kerjanya. Untunglah perbedaan zona waktu antara Jakarta dan Manila tidak terlalu jauh, sehingga kami masih bisa berbagi sukacita walaupun hari hampir berganti.

Pernah juga sehari sebelum dia berulang tahun kami bertengkar hebat. Akibatnya kami saling mendiamkan pada hari ulang tahunnya, dan dia masih mengingat ulang tahun ke sekian itu sebagai hari paling menyedihkan di dalam hidupnya. Bahkan kue dan nyanyian yang kususulkan beberapa hari kemudian tidak membuatnya begitu saja memaafkanku.

Pada ulang tahunnya yang pertama setelah kami memutuskan untuk berjalan bersama, dia sedang berada di Yogya untuk sebuah seminar. Sehari sebelum dia dijadwalkan pulang, aku dan temanku naik bis dari Surabaya ke Yogya untuk memberinya kejutan. Kami menghabiskan beberapa hari di sana, menjelajahi Keraton dan pusat kota.

Sungguh pengalaman yang tak terlupakan. Kali terakhir aku menginjakkan kaki di Yogya adalah sewaktu aku kuliah tingkat tiga. Aku ingat betul sepanjang perjalanan pulang dan pergi aku mendongkol karena kemelut cinta segitiga. Syukurlah saat ini semua pihak yang terlibat di dalam prahara itu sudah menikah dan memiliki anak. Syukurlah tidak ada yang berminat bernostalgia, mencoba mengingat-ingat kembali masa-masa kelam itu.

Suatu kali dalam perjalanan ke Bogor anak kami yang sulung bertanya, “Siapa sahabat Papa?” Suamiku langsung menunjuk diriku dan diprotes oleh si Kakak. Bukan, sahabat cowok dong, kayak aku dan K yang sama-sama cewek, jelasnya. Anata tidak merasa perlu merevisi jawabannya; dia tetap menunjuk diriku sebagai sahabatnya.

Waktu aku ditanya hal yang sama, aku pun spontan menjawab, “Papa kamu adalah sahabatku.” Lagi-lagi si Kakak protes. Dia melihat sehari-hari aku punya banyak sekali teman, yang sering bertemu untuk makan siang bersama ataupun yang kuhubungi lewat media sosial. Masakkan di antara cewek sebanyak itu ga ada sahabat Mama, keluhnya.

Aku tetap dengan jawabanku: suamiku adalah sahabatku. Teman-teman itu ada yang berstatus kenalan, teman, teman baik, saingan, dan bahkan ada musuh. Tidak, aku tidak suka memancing konfrontasi, tapi aku terbuka dengan semua perbedaan di dalam pergaulan. Jika frekuensi sudah tidak sama lagi, maka lebih baik pecah kongsi, begitu prinsipku. Aku tidak mau membuang waktu mencoba mengubah hati yang sudah mendingin.

Aku mencoba menjelaskan pada si Kakak. Untuk mereka yang sudah menikah, suami/istri harus menjadi sahabat bagi pasangannya. Dia harus menjadi orang yang paling dekat, paling tahu semua, paling bisa mengerti alasan dari sebuah tindakan, paling bisa menyelami isi hati, paling bisa memahami jalan pikiran, dan seterusnya.

Mengapa seorang sahabat dituntut begitu banyak? Karena itulah sahabat, sekeping dari sebuah hati yang berada pada raga yang lain. Sebagai sebuah kepingan hati, dia harus tahu kondisi kepingan lain dari hati itu. Sahabat adalah tempat bersandar, tapi sahabat tidak meniadakan ciri khas identitas sahabatnya.

Beberapa waktu sebelum kami jadian, aku memang memanggil suamiku dengan sebutan “sahabat”. Waktu itu kami belum lama berkenalan, tapi kami bisa berbicara lancar dengan satu sama lain, tentang apa pun juga.

Anata sebenarnya adalah seorang yang tertutup. Dia sulit sekali mengungkapkan isi hatinya kalau tidak terdesak. Baginya lebih baik berpikir dan merenungkan sendiri sebuah solusi, daripada konfrontasi dan menjalin komunikasi. Yang saya jabarkan barusan adalah soal personal ya, kalau soal pekerjaan lain lagi ceritanya.

Pada masa awal kami bersama, topik pembicaraan kami kebanyakan adalah tentang orang lain, tentang apa yang terjadi di sekitar kami. Jarang sekali kami membicarakan diri sendiri. Tentang apa yang kami sukai/tidak sukai, apa yang berharga/tidak berharga buat kami, apa yang menjadi prioritas/bukan prioritas hidup masing-masing, dan seterusnya.

Suatu kali pada sesi bimbingan pranikah, kami berdua diminta untuk membuat sebuah tabel yang berisi tiga kolom:

  1. Apa yang saya bisa ubah dari diri saya.
  2. Apa yang saya bisa ubah dari dirinya.
  3. Apa yang saya harus terima dari dirinya dan diri saya.

Sambil menunggu sesi ke-2 yang diadakan pada sore dari hari yang sama, kami berdua pergi ke toko buku di mal terdekat dan membeli kertas folio bergaris dan alat tulis. Setelah itu kami duduk di sebuah restoran dan mencoba mengisi tabel itu sambil makan waffle dengan topping es krim. Setengah, satu jam berlalu, namun kertas itu tak kunjung penuh.

Kami berdua sungkan mengisi kolom pertama. Kami belum lama berpacaran dan kami khawatir mengungkapkan informasi krusial dan rahasia pada tahap itu hanya akan membuat ilfil, membuat kami saling memandang rendah satu sama lain.

Kami juga tidak bisa mengisi kolom kedua. Karena disuruh oleh Pak Pendeta, kami jadi menyadari bahwa ada begitu banyak hal yang kami belum ketahui dari diri masing-masing. Apa yang saya sangka penting baginya ternyata tidak sesuai dengan apa yang dia pikirkan. Apa yang dia kira saya suka, ternyata saya benci setengah mati dan saya pura-pura sukai supaya menghindari konflik.

Begitu masuk ke kolom ke-3, ambyarlah kesombongan di hati kami bahwa kami adalah orang yang paling mencintai dan memahami pasangan kami. Omong kosong. Kolom ke-1 dan ke-2 saja tidak bisa kami isi, apalagi kolom ke-3.

Mengisi kolom ke-3 berarti menyetok kesabaran dan kasih yang melimpah untuk pasangan kami. Tanpa kedua hal itu, apa yang kami ungkapkan akan rawan menjadi bahan perdebatan, atau bahan untuk menyombongkan diri, atau bahan untuk membuat diri merasa kurang berharga dibandingkan orang lain.

Singkat cerita, pendeta yang membimbing kami menyuruh untuk kami putus saja. Potensi konfliknya terlalu besar, katanya, dan ini gawat kalau terjadi setelah kami berumah tangga. Mendengar komentar itu kami berdua melawan. Tidak, kami akan saling mencintai dalam kondisi apa pun juga, kami pasti sampai ke pelaminan dan hidup bahagia untuk selama-lamanya.

Apakah hidup bahagia adalah akhir dari sebuah perjalanan? Sebuah tujuan yang harus dikejar? Yang harus didapatkan apa pun hambatan dan tantangannya? Tentu tidak. Kebahagiaan hanyalah side effect. Tujuan akhirnya adalah mengerjakan dengan baik semua tugas dari Tuhan, yang harus dipertanggungjawabkan selama kita hidup. Kebahagiaan yang didapat selama proses menuju akhir itu hanyalah sebuah efek samping yang menyenangkan hati.

Pada tahun 2008 kami menikah dan setelah itu dikaruniai anak-anak. Dia yang menjadi sahabatku dulu adalah orang yang berbeda dengan sahabatku sekarang. Ada kematangan yang lebih akibat usia yang bertambah dan pengalaman hidup yang melimpah. Sebagai sahabat, sekarang dia tahu benar kapan harus bicara, kapan harus diam, kapan harus menegurku, kapan harus menjaga jarak denganku supaya kritiknya padaku dapat tersampaikan dengan baik dan tidak dianggap sebagai julid.

Selama lima belas tahun terakhir aku pun berubah. Aku tidak lagi meributkan hal-hal kecil. Don’t sweat over small things, kata adikku. Jadi aku sudah menerima dan tidak lagi merepet untuk hal-hal sepele yang tidak mungkin dia ubah, seperti: tidak pernah menutup pintu lemari yang dia buka, kecuali ada alarm pengingat otomatis seperti kulkas merk LG.

Tahun ini kami mendoakan kesehatan dan hikmat baginya dalam menjalani hari-hari ke depan. Hari-hari yang kelam, namun tetap ada harapan. Karena Tuhan yang memegang hidupnya dan Tuhan tidak pernah ingkar janji. Ketahuilah, masa depan itu ada untuknya dan kami, dan harapannya dan harapan kami tidak akan pernah hilang.

Selamat ulang tahun, Anata. Kata-kataku terbatas untuk mengungkapkan rasa cinta kami padamu. Namun kami mencintaimu, selalu dan sampai selama-lamanya. Beneran.

The Day the Earth Swallowed Me

It was an autumn afternoon when I set my foot again in a place I once called home. The rusty, dark blue gate still stood tall and majestic, defying the humans who had to stretch their necks long enough to see the edge of the spears.

It didn’t open right away as I wished it would. Although I didn’t tell anyone about me coming home, I expected them to have already sensed it. After all, no secret remained secretive in our world.

I touched the metal chain and rattled it loud enough so that anyone in the house uphill could hear me. But nothing happened. Five and ten minutes later, still nothing happened.

I cleared my throat to muster up my courage, then yelled as loud as I could.

“For goodness sake, Argon, open the door for me!”

Blue light shone through the biggest window on the second floor of the house. Then it formed into a little ball of bright blue dots, more like a myriad of snowflakes. It flew to where I stood with the speed of light. Within a blink of the eye, it shifted into a shape.

First the hair. As blonde as I could ever remember. Then the eyes. The bluest ocean I could ever dive into. Then the high-bridged nose, the full lips, and the pointy chin. The wide shoulders, strong arms, and other parts followed through.

He was tall, just like how I remembered from ten decades ago.

“Hazel,” he finally called my name.

“Argon,” I replied with a nod. “What took you so long to open this gate?”

“You know it’s not that simple, Hazel. As far as I’m concerned, you’re still prohibited around here.”

I stomped my feet and threw him a sweet pout. “But, but, it is so unfair, don’t you think, Argon? Kai and Grace have found their way. A bit dramatic I must say but they’re together now nevertheless, and that’s the most important thing. I don’t see why it can’t happen with you and me.”

He chuckled. A long and deep sound resonated from his throat.

“First of all, Hazel, Kai and Grace made their own sacrifices. While we didn’t. We don’t and we never will.”

“I’ve been away for quite a long time, you know.” I lifted up my hands and opened up the ten fingers I had. “Ten decades according to human’s time, but it’s much longer than that in our world here.”

He frowned at me with such coolness in his eyes. “Maybe being away for some time has taken away your memory of our dimension and how things work around here. Ten decades for humans are only ten days for us.”

I gasped; I enjoyed nothing more than a game of words with Argon, my dearest frenemy since memory of a living thing was bestowed upon me.

“And your point is?” I asked him with twinkle in my eyes. “Have you missed me that much during the ten days when we separated?”

He clucked his tongue and shook his head. “A healer can never miss a destroyer.”

“But Grace and Kai did. They did miss each other.”

“We’re not them,” he roared. “Why do you keep bringing this up? There’s no way you could have forgotten about our identity, about the nature of our existence. Yet, here you are ten decades later, still trying to persuade me to have hope for what we had.”

“For what we are still having.”

“No, for what you thought we were having.”

“Argon, you can’t be serious …. After all that we’ve been through, you can’t forget about them that easily, can you?”

“I’m just being logical.”

“And you’re so good at it!” I screamed. “This identity, this job, I never wanted any of them. I’m more prepared to leave everything behind for you. Argon!” I clutched the cold metal and tried to reach for him.

“It’s too late, Hazel,” he said with regret in his voice.

I felt it, I felt it as the ground started making cracking sounds. I looked under me and saw the earth’s veins exploded. The earth was wide open and it was more than ready to swallow me.

“I’m sorry, Hazel, I wish I could find another way.”

“This can’t be, this can’t be, Argonnnn …! Tell her to stop. I won’t come near you anymore. I won’t bring up anything about our past ever again. I promise, Argon, just tell your queen not to make me disappeared. I can’t be gone now, Argon, I have too many things to do.”

“Another destroyer will be brought to replace you.”

“But how about you? Will she also take my place in your heart?”

Tentang “Kairos”

Bukan, tulisan ini bukan tentang drama Korea “Kairos” yang kata teman-teman di Drakor Class sangat bagus dan menegangkan. Ini tentang sebuah istilah dalam bahasa Yunani yang berarti menangkap momen yang tepat.

Bahasa Yunani kuno memiliki dua kata untuk mendefinisikan waktu, yaitu chronos dan kairos. Chronos berarti waktu secara urutan kronologis atau sekuensial. Kairos berarti waktu yang tepat untuk mengambil tindakan. Chronos bicara tentang ukuran kuantitatif, sedangkan kairos bicara tentang ukuran kualitatif.

Kegiatan memanah dan menenun banyak dipakai untuk membantu orang awam mengerti penggunaan kata chronos dan kairos. Di dalam kegiatan memanah, kairos adalah momen ketika sebuah anak panah dilepaskan dengan tenaga yang tepat untuk mengenai target. Kata kuncinya adalah waktu yang tepat untuk memanfaatkan peluang dan membuat pilihan yang tepat.

Karya literatur pada periode klasik menggunakan kata kairos untuk menspesifikkan momen yang tepat ketika sebuah peluang ditindaklanjuti. Setelah periode klasik, istilah kairos sering digunakan untuk memahami momen manusia bertindak, beserta alasan dan konsekuensinya.

Semenjak SMA, saya sering sekali mendengar istilah kairos ini. Saya mendengarnya di gereja, dalam persekutuan remaja dan pemuda serta dalam kebaktian mingguan. Pendeta yang berkhotbah menjelaskan mengenai chronos dan kairos yang dianugerahkan oleh Tuhan secara bersamaan kepada manusia. Yang sering terjadi adalah, chronos, atau waktu, berlalu begitu saja, tapi manusia tidak berhasil menangkap kairos di dalam chronos untuk melakukan tindakan yang tepat pada momen yang tepat.

Waktu saya SMA, telepon genggam masih sangat jarang. Kalaupun ada, harganya mahal sekali. Kondisi ini sangat berbeda dengan sekarang. Sekarang, smart phone ada di mana-mana dan tidak banyak orang yang menyadari bahwa memainkan gawai tanpa tujuan, hanya scrolling tidak jelas atas nama Fear of Missing Out (FOMO) membuat banyak orang kehilangan chronos dan kairos sekaligus.

Waktu terus berjalan, kita semua mengetahui hal itu. Untuk sebagian orang, waktu rasanya seperti berlari. Hari ini Senin, eh kok tiba-tiba sudah hari Sabtu lagi. Dua hari kemudian sudah kembali ke hari Senin dengan segala rutinitas dan tuntutan tanggung jawab yang mewarnai hari demi hari.

Ketika waktu berjalan atau berlari, yang lenyap adalah chronos. Tidak ada satu detik pun yang kita bisa putar ulang, yang kita bisa dapatkan kembali, bagaimana pun kita mencucurkan air mata karena mengharapkannya. Usia menua, tubuh melemah, kekuatan menipis, semua itu adalah konsekuensi dari perjalanan waktu yang disebut chronos. Tidak ada seorang manusia pun yang bisa menghentikan waktu secara kuantitatif itu.

Di dalam setiap detik, setiap porsi chronos yang berlalu, ada kairos, sebuah kesempatan kualitatif yang unik bagi setiap orang. Unik karena sesuai dengan kondisinya, kebutuhannya, keinginan hatinya. Kairos berbeda bagi setiap orang. Kemampuan menyadari kairos dan “menangkapnya” adalah sebuah anugerah tersendiri.

Mari saya beri sebuah contoh.

A hendak menyatakan perasaan pada B. A dan B duduk bersama-sama di sebuah halte bis sambil memandangi hujan yang turun. Lima menit, sepuluh menit berlalu, tidak ada tanda-tanda hujan akan reda. Chronos, waktu terus berjalan. Di situ ada kairos, sebuah peluang atau kesempatan bagi A untuk mengungkapkan perasaannya pada B.

A bisa jadi tahu, atau bisa jadi tidak mengetahui hal itu. Dan A bisa jadi memanfaatkan, atau bisa jadi tidak memanfaatkan momen itu. A menunggu-nunggu momen yang tepat sambil terus melirik ke arah B, mengira-ngira bagaimana tanggapan B jika luapan isi hatinya diutarakan dengan malu-malu di tengah suara hujan yang bertalu-talu menimpa atap halte.

Tiba-tiba hujan berhenti dan bis yang B hendak tumpangi datang mendekat. Tanpa banyak basa-basi, B naik ke atas bis dan meninggalkan A yang tercengang melihat kepergian B. A dan B sudah kehilangan chronos yang mereka habiskan untuk duduk di halte sambil menunggu hujan. A lebih menderita karena dia juga kehilangan kairos, momen yang tepat untuk menyatakan perasaan ketika dia punya kesempatan yang tidak dia pergunakan dengan semestinya.

Semenjak tahu konsep chronos dan kairos, saya jadi sangat berhati-hati dalam menggunakan waktu. Sering kali saya berpikir, apa yang sebaiknya saya lakukan pada suatu kurun waktu, pada suatu momen supaya saya bisa mendapatkan hasil yang maksimal.

Misalnya, sejak dua tahun lalu saya mengalihkan pekerjaan mengurus taman kepada seorang tukang taman yang juga mempunyai toko tanaman hias yang menjadi langganan saya. Sebenarnya taman di bagian depan rumah saya kecil sekali, hanya enam meter persegi luasnya. Pekerjaan yang paling berat hanyalah mencabuti rumput liar dan memangkas dahan dan ranting pohon kamboja yang mulai tumbuh tidak beraturan.

Akan tetapi, membungkuk-bungkuk merawat taman ketika sedang mengandung ketiga kali pada usia yang sudah lewat pertengahan tiga puluh, bukanlah perkara mudah. Chronos saya lewat, tapi saya tidak mendapatkan kairos itu. Merawat taman jadi terlihat seperti kegiatan yang sia-sia, tidak berfaedah, dan tidak memberikan impak apa-apa pada hidup saya.

Saya semakin mengerti soal chronos dan kairos ketika sudah berhenti bekerja di kantor dan menjadi ibu rumah tangga. Saya pikir seorang manajer rumah harus tahu “menangkap” kairos itu, apalagi jika sudah ada anak di tengah-tengah keluarga.

Kapan waktu yang tepat untuk melakukan aktivitas rutin seperti makan dan mandi, kapan waktu yang tepat untuk menyiram rohaninya dengan Firman Tuhan, kapan waktu yang tepat untuk melatih kemampuan motorik halus dan kasarnya, adalah sebagian kecil dari momen menangkap kairos yang saya alami semenjak menjadi ibu dan #dirumahaja padahal tidak ada pandemi, hehehe.

Menangkap kairos yang saya alami juga tentang mengerti kapan waktu yang tepat untuk memasukkan anak pertama kami ke nursery, dan kapan memberhentikan kegiatan sekolahnya dan menggantinya dengan terapi untuk membantu dirinya yang terlambat bicara.

Terkadang kesadaran untuk menangkap kairos itu datang begitu saja, dan bisa lewat begitu saja. Sewaktu kita sedang menimbang-nimbang, overthinking kita membuat chronos dan kairos lenyap sekaligus dan tidak bisa didapatkan kembali.

Saya paling merasakan efek memperhatikan dan menangkap kairos setelah menerbitkan buku “Randomness Inside My Head” pada tahun 2016 silam. Sebagai penulis indie, ada banyak sekali hal yang harus dikerjakan. Terkadang inspirasi dan ide itu datang sekelebat dan harus langsung segera dieksekusi. Kalau tidak, tidak akan ada hasilnya.

Suatu hari pada pertengahan tahun 2016 saya berkunjung ke rumah orang tua dan membuka-buka album foto lama. Sambil bernostalgia, pandangan saya tertumbuk pada sebuah foto ketika saya remaja. Foto itu diambil di rumah salah seorang sepupu Mama saya.

Tulang (paman) itu memiliki empat orang anak. Kami bertujuh (saya dan kedua adik dan mereka berempat) berfoto dengan senyuman manis di lantai dua rumah dinas tentara yang kami kunjungi saban Minggu sejak saya masih kecil. Setelah lahir, adik saya yang bungsu bahkan dibawa ke sana dalam rangka bepergiannya yang pertama.

Tiba-tiba Mama saya menceletuk, “Bang R kalau ga salah kerja di Gr***dia deh. Coba tanya dia, gimana caranya biar kamu bisa majang buku kamu di sana.”

Mama pun segera menanyakan nomor ponsel Bang R ke sepupu iparnya. Setelah mendapatkan nomor itu, saya tidak langsung bertindak. Saya berpikir-pikir lamaaaa sekali. Terakhir kali saya bertemu dengannya adalah pada pernikahan adiknya, dan itu jauh sebelum pernikahan saya. Saya merasa tidak enak jika ujug-ujug muncul dan mau minta tolong pula.

Akan tetapi, keyakinan akan kairos membuat saya bertindak cepat. Saya menghubungi Bang R dan dia kemudian mengenalkan saya pada mantan atasannya di perusahaan yang dulu. Mantan atasannya itu sudah menjadi distributor yang memang memasok buku ke berbagai toko. Singkat cerita, kami pun bermitra untuk mendistribusikan buku saya. Seandainya waktu itu saya menunda-nunda, maka tak mungkin buku saya bisa dijual di sana selama empat tahun terakhir.

Kairos yang saya tangkap pada kesempatan lain adalah ketika saya berada di Bali pada bulan Oktober 2016 untuk sebuah festival. Pada suatu event, saya melihat manajer area Bali untuk sebuah toko yang khusus menjual buku dalam bahasa Inggris. Dengan penuh percaya diri, saya ambil buku saya dan saya minta waktu untuk berbicara dengan beliau. Saya minta diperkenalkan dengan counterpart-nya di Jakarta supaya saya bisa menawarkan buku saya.

Kenekatan saya membuahkan hasil; buku saya diterima untuk dipajang selama tiga tahun di toko yang dia kelola. Waktu di Bali itu saya memahami kairos sebagai kemampuan untuk melihat peluang, bagaimanapun kecilnya, dan memanfaatkan peluang itu, bagaimanapun mepet dan mustahilnya.

Perbincangan di grup WA Drakor Class malam hari ini sangat mengingatkan saya akan kairos dan kemampuan untuk bertindak tepat pada waktu yang tepat. Seize every moment, kata orang, tapi momen yang mana? Jangan-jangan yang tertangkap adalah kairos yang salah karena momen yang diincar juga salah. Bagaimana cara mengantisipasinya?

Ah, hanya waktu (chronos) yang bisa menjawab semua pertanyaan seperti ini.

Review Drama Korea: Life (Part 2)

Setelah selesai menonton drakor “Life” (2017) dan menulis sebagian review-nya di sini, gua mengambil sebuah kesimpulan tragis. Main lead di dalam drama ini sebenarnya adalah Cho Seung Woo, bukan Lee Dong Wook. Lee Dong Wook dibikin sebagai main face promosi drakor ini karena ya dia lebih dikenal secara komersil.

Cho Seung Woo kan aktor yang mumpuni yang mulai dari dunia teater dan musikal. Penampilannya di dalam drama dan film komersil itu sangat terbatas sehingga fansnya mungkin tidak sebanyak Lee Dong Wook. Jadilah Lee Dong Wook didapuk sebagai male lead biar orang pada nonton.

Akan tetapi, dari episode ke episode sangat kelihatan bahwa Cho Seung Woo adalah aktor yang “mengikat” seluruh jalan cerita dan membuat aktor lain berakting lebih baik. Kalau tidak ada Cho Seung Woo di kutub negatif, Lee Dong Wook tidak akan kelihatan menonjol sebagai antitesis di kutub positif.

Karakter Lee Dong Wook di sini (Ye Jin Woo) sangat lembut hati, pengertian sama orang lain, memikirkan kepentingan banyak orang. Sebaliknya, karakter Cho Seung Woo di sini (Mr. Gu) sangat jauh dari kata hangat dan empati sama orang lain. Dia licik, manipulatif, dan berani melakukan apa pun untuk mencapai tujuannya.

Setelah Dr. Oh menjadi direktur rumah sakit, masalah ga selesai begitu aja. Ya iyalah, kalau selesai ya dramanya tamat atuh. Hehehe. Jin Woo sudah berhasil menyingkirkan si deputi direktur rumah sakit yang ditenggarai menyebabkan kematian Uncle-nya. Sebuah praduga yang beralasan namun tidak dapat dibuktikan. Target Jin Woo berikutnya adalah mengembalikan rumah sakit ke misi awalnya: kemanusiaan.

Mr. Gu bolak-balik ketawa melihat kenaifan Jin Woo. Mana ada unit bisnis yang berdiri tidak untuk menghasilkan untung? Lagipula, seperti Jin Woo yang berposisi sebagai bawahan seseorang yaitu kepala Departemen ER, Mr. Gu pun punya atasan, si chaebol yang sangat profit oriented.

Sebagai bawahannya, Mr. Gu harus memastikan rumah sakit dan unit usaha di sekitarnya (perusahaan farmasi dan asuransi) tetap menghasilkan fulus. Kalau ga begitu, dia akan dipecat, disingkirkan. Mudah saja bagi chaebol untuk mencari tenaga kerja lain. Tapi ga mudah buat seorang biasa, yang mendapatkan posisinya yang sekarang karena kepintaran dan kerja keras, untuk mendapatkan pekerjaan sebagai presiden sebuah rumah sakit.

Masalah baru muncul ketika seorang wanita ditemukan pingsan di pinggir jalan dan dibawa ke unit ER rumah sakit tempat Jin Woo bekerja. Setelah gagal membangkitkan kerja jantungnya, Jin Woo menyatakan wanita itu meninggal dunia. Anehnya, tak lama kemudian jasadnya menghilang dan Dr. Oh datang untuk mengotopsi mayat tersebut di sebuah ruang yang tersembunyi di rumah sakit itu.

Usut punya usut, wanita itu bekerja di sebuah pusat kecantikan yang biasa dikunjungi VIP, orang-orang penting di Korea sana. Suatu kali dia menangani istri seorang pejabat yang mendatangi tempat itu karena disponsori oleh sebuah chaebol. Parahnya, si pejabat mengklaim perawatan istrinya sebagai biaya pengobatan dan menagihkannya kepada pemerintah. Udah terima suap dari orang kaya, korupsi uang negara pula. Memalukan!

Wanita yang meninggal itu menjadi informan sebuah situs berita online yang berniat membongkar kelicikan dan kerakusan para VIP. Ketika diwawancara, sosoknya tidak begitu disembunyikan walaupun suaranya disamarkan, sehingga orang-orang langsung bisa mengenali dirinya. Akibatnya, dia dipecat dari tempat kerjanya dan ketika dia bertengkar dengan wartawan yang tidak menjaga identitas dirinya seperti yang dijanjikan, dia pingsan dan mengalami pendarahan otak.

Mengapa Dr. Oh mengotopsi mayat perempuan itu secara diam-diam? Karena chaebol yang membiayai perawatan kecantikan istri pejabat yang gua sebutkan di atas adalah chaebol yang sama yang menjadi atasan dari Mr. Gu, alias pemilik rumah sakit dan semua unit usaha yang berkaitan dengannya. Prinsipnya adalah, gunakan apa yang ada di bawah kekuasaannya untuk menyembunyikan jejak kejahatannya. Kurang lebih begitulah.

Chaebol itu meminta Dr. Oh untuk mengumumkan bahwa si wanita meninggal karena sudah memiliki penyakit bawaan sebelumnya dan bukan karena pertengkaran dengan si wartawan. Tujuannya adalah supaya si chaebol tidak dikaitkan dengan kasus korupsi si pejabat. Sebenarnya Mr. Gu tidak terlalu dilibatkan dalam hal ini, tapi Jin Woo yang sudah kadung tidak percaya mengajukan mosi untuk otopsi ulang oleh pihak di luar rumah sakit.

Untuk menghalangi langkah Jin Woo selanjutnya, Mr. Gu memecat tiga orang: Jin Woo, deputi direktur rumah sakit, dan Noh Eul, si dokter anak yang sedang dekat dengan dirinya. Seisi rumah sakit jelas syok, ga nyangka Mr. Gu akan bertindak seekstrim itu. Tindakan Mr. Gu ini bukan atas perintah chaebol, tapi inisiatifnya sendiri demi melindungi Noh Eul.

What? Nanti ya gua akan ceritakan romansa tipis-tipis yang terjadi di antara dua orang ini.

Jin Woo yang dipecat tak tinggal diam. Dia menghubungi seorang wartawati cantik dari situs berita online itu dan memberikan informasi rahasia. Tujuannya adalah supaya si wartawati menulis artikel untuk menggiring opini publik, bahwa chaebol dan perusahaan di bawahnya, termasuk rumah sakit, melakukan tindakan yang tidak etis dan tidak bermoral.

Masalah lain timbul karena orang tua dari si wanita yang meninggal menolak anaknya diotopsi ulang. Ya iyalah, anaknya udah dimakamkan (untungnya ga dikremasi), eh kuburannya harus dibongkar dan tubuh anaknya akan dibuka, diobok-obok untuk mengecek apa yang salah dengan organ-organnya sehingga mengakibatkan kematian.

Gua mewek pas nonton kedua orang tua mendiang ikut menyaksikan otopsi ulang dari anak mereka. Ga kebayang kalau gua ada di posisi mereka. Jin Woo yang sudah dipecat dan tidak punya akses ke mana pun di dalam rumah sakit, berhasil meminta bantuan fotografer forensik yang mengawasi jalannya otopsi untuk memberikan foto-fotonya pada dirinya dan pada keluarga si wanita, supaya mereka bisa mengambil kesimpulan sendiri. Sebuah tindakan yang sangat beresiko.

Setelah otopsi dari pihak independen selesai dilakukan, semua orang kaget karena Dr. Oh selaku direktur rumah sakit mengumumkan sebuah hasil yang berbeda. Apakah itu? Nonton aja, ya. Yang jelas, gara-gara pengumumannya yang merevisi keputusan otopsi sebelumnya, nyawa Dr. Oh terancam dan Jin Woo dan teman-temannya tetap mendapatkan perlakuan yang tidak adil.

Dr. Oh dan keluarganya dikuntit oleh orang-orang bayaran, wanita-wanita berpakaian serba hitam yang membayangi semua aktivitas mereka. Akibatnya Dr. Oh dan keluarganya jadi takut keluar rumah. Mereka pun mematikan telepon genggam sehingga tidak bisa dihubungi oleh pihak rumah sakit. Siapakah orang-orang itu? Tentu saja suruhan chaebol yang marah karena Dr. Oh membangkang instruksi dari bosnya.

Mr. Gu yang diam-diam ingin melindungi Noh Eul mengirimkan supirnya untuk menguntit mobil dokter itu. Noh Eul yang sudah stres karena dipecat tiba-tiba, tambah meledak begitu tahu dirinya diikuti. Dengan sengaja dia melipir ke sebuah kantor polisi dan memaksa sopir Mr. Gu untuk meminggirkan mobilnya. Tak lama kemudian, Mr. Gu yang gusar datang untuk menjelaskan alasan tindakannya.

Di sini hati gua klepek-klepek ngelihat chemistry dan ketegangan yang terbangun di antara Mr. Gu dan Noh Eul. Noh Eul dengan setengah histeris memaksa Mr. Gu memberikan alasan mengapa dia dipecat. Dia pikir mereka sudah cukup dekat karena pernah beberapa kali berjalan-jalan bersama-sama di rumah sakit supaya Mr. Gu melihat sendiri unit bisnis yang dipimpinnya. Jadi, Noh Eul merasa dikhianati karena ternyata dia tidak seistimewa itu untuk Mr. Gu.

Gua quote di sini ya percakapan mereka yang sukses bikin gua dugeun-dugeun.

Noh Eul           : “Why do you keep showing me the worst part of yourself?”

Mr. Gu            : “You should have left when you had the chance!”

Noh Eul yang melihat Mr. Gu sebagai orang yang pada dasarnya baik merasa kecewa karena prediksi semua orang benar; dia adalah orang yang kejam dan tidak berperasaan. Dengan frustrasi Noh Eul menanyakan mengapa Mr. Gu terus menunjukkan bagian terburuk dari dirinya.

Di sisi lain, Mr. Gu yang sangat logis memecat Noh Eul supaya dia tidak sampai menyaksikan ataupun terlibat dalam pertempuran politis berdarah-darah yang pasti akan terjadi di rumah sakit, antara chaebol sebagai pemilik rumah sakit dan para dokter yang masih bertekad mempertahankan komitmen dan integritas mereka dalam bekerja.

Yang satu merasa dirinya diabaikan, yang satu lagi merasa melakukan semuanya untuk kebaikan orang yang dia sukai. Standing ovation lho buat akting Cho Seung Woo. Diriku gemetar melihat ledakan emosinya. Dan thumbs down buat pemeran Noh Eul. Aktingnya masih kurang matang gitu, maklumlah aktris baru.

Setelah momen pertengkaran itu, ada satu lagi momen “perpisahan” di antara Mr. Gu dan Noh Eul. Mereka pergi berdua untuk menghadiri pemakaman wanita yang diotopsi itu. Selayaknya presiden sebuah perusahaan, dia datang lengkap dengan pengawal ‘kan. Jin Woo yang merupakan sahabat Noh Eul sangat kaget melihat mereka berdua. Dia juga merasa sedikit terkhianati, tidak menyangka sahabatnya dekat dengan musuhnya.

Di depan altar tempat foto mendiang ditaruh, Mr. Gu mengambil setangkai bunga dan memberikannya kepada Noh Eul untuk diletakkan di di atas altar sebagai tanda penghormatan. Anehnya, adegan memberi bunga itu lebih terasa seperti penyampaian perasaan Mr. Gu pada Noh Eul, satu-satunya pegawai di rumah sakit yang tidak takut dan sungkan berada di dekatnya, yang memperlakukannya seperti orang biasa, dan selalu bersikap ramah padanya.

Noh Eul yang menerima bunga itu juga terlihat seperti sedang menyambut perasaan Mr. Gu. Lucu ya, itu ‘kan adegan di sebuah rumah duka, dengan keluarga yang sedang bersedih setengah mati, tapi writer-nim, PD-nim, dan sutradara bisaaa aja membuatnya menjadi seperti adegan cowok nembak seorang cewek.

Namun setelah berpikir keras dan banyak menimbang, termasuk menimbang pendapat Jin Woo dan rekan kerjanya yang lain di rumah sakit, Noh Eul bertekad untuk mengakhiri semuanya dengan Mr. Gu. Mr. Gu mengulurkan tangannya pada Noh Eul ketika mereka hendak meninggalkan rumah duka. Sebuah gesture yang tidak disambut oleh Noh Eul, dan tahulah Mr. Gu bahwa semuanya sudah berakhir di antara mereka berdua.

Ga pernah ada kata suka, ga pernah ada tonggak jadian tanda dimulainya sebuah hubungan, tapi waktu Noh Eul menolak uluran tangan Mr. Gu, gua ngerasa mereka berdua ini kayak baru putus aja. Sedih ….

Pada akhrnya Mr. Gu dipecat oleh chaebol pemilik rumah sakit karena dianggap tidak becus menangani kasus wanita yang diotopsi ulang itu. Pemecatannya ternyata tidak langsung disambut gembira oleh para dokter yang selama ini selalu berseteru dengannya. Banyak dari mereka yang kemudian menyadari, kehadiran Mr. Gu yang membawa sudut pandang dari sisi bisnis justru menjadi pelengkap komitmen mereka sehari-hari untuk melayani kemanusiaan.

Pada hari terakhir Mr. Gu, Dr. Oh sebagai direktur rumah sakit memanggil semua dokter yang dia pimpin dan bekerja sama dengan sekretaris Mr. Gu untuk membawa Mr. Gu terakhir kali ke depan deretan dokter yang selama ini melawannya.

Alih-alih dicaci-maki seperti biasa, para dokter itu malah bertepuk tangan untuk menghormatinya. Alih-alih berterima kasih karena telah diberikan ucapan selamat tinggal, Mr. Gu malah berkata dia akan terus mengawasi rumah sakit dan para dokter itu, untuk memastikan mereka tetap bekerja dengan integritas seorang dokter, tanpa berorientasi pada keuntungan semata.

Bukan Cho Seung Woo namanya kalau tidak memerankan karakter orang pintar. Dipecat dari rumah sakit tidak membuat dia kehilangan akal untuk tetap bekerja pada chaebol yang sudah memberikan kesempatan pendidikan (melalui beasiswa) dan pekerjaan padanya.

Mr. Gu dialihkan ke sebuah perusahaan pembuat apparel di bawah chaebol yang sama, yang membuat produk yang mengintegrasikan data kesehatan pemakainya (detak jantung, temperature tubuh, denyut nadi) dengan layanan prediagnosis dari rumah sakit.

Tadinya chaebol berencana menggandeng sebuah perusahaan pembuat handphone milik chaebol yang lain, supaya handphone buatan mereka bisa memberikan feedback pada rumah sakit untuk menyarankan medical check-up kepada pemilik handphone. Dengan begitu rumah sakit akan menjaring pelanggan baru dan meningkatkan potensi pendapatan.

Pemilik perusahaan handphone juga terkait dengan kasus korupsi si pejabat yang istrinya menerima suap perawatan di sebuah klinik kecantikan. Karena kasus wanita yang meninggal tiba-tiba itu tidak diselesaikan dengan apik, bubar jalanlah rencana kerja sama mereka. Untung Mr. Gu sudah punya rencana cadangan. Cho Seung Woo memang pas banget memerankan orang cerdas.

Ada kejutan pada episode terakhir drakor “Life” ini. Adik dari si chaebol yang menggantikan posisi Mr. Gu di rumah sakit adalah aktor pemeran Seo Dong Jae, frenemy Cho Seung Woo di dalam drakor “Stranger” Season 1 dan 2. Yang berperan menjadi deputi direktur rumah sakit adalah pemeran tokoh antagonis di “Stranger” Season 1. Menonton drakor ini dan memperhatikan aktor-aktor pemerannya memang seperti melihat cikal-bakal lahirnya “Stranger”.

Pada episode terakhir juga ditunjukkan Mr. Gu yang mendatangi rumah sakit baru tempat Noh Eul ditempatkan. Adegan terakhir di mana mereka berjalan berdua sambil saling tersenyum satu sama lain sangat … aneh. Gua udah biasa ngelihat Mr. Gu marah-marah dan sadis sama orang lain. Sama Noh Eul pun dia ga ramah-ramah amat. Jadi ngelihat dia yang kelihatan kasmaran pada Noh Eul bikin gua cringe. Gua emang fans ga profesional when it comes to my abang, hahaha.

Bagaimana dengan Jin Woo dan Sung Woo (Lee Kyu Hyung)? Diceritakan Jin Woo dan adiknya berlibur berdua dan mencoba diving untuk Sung Woo yang kakinya lumpuh. Sayang banget Lee Kyu Hyung kurang diberdayakan di dalam drama ini. Perannya sebagai orang cacat yang cinta sepihak pada Noh Eul membuat gua sangat kasihan padanya dari awal sampai akhir drama.

Atuhlah, writer-nim, tega banget sih sama karakternya. Dia bahagia sihhh, sama abangnya. Mereka berdua tetap tinggal serumah dan Sung Woo bisa menerima kekasih abangnya, yang tak lain dan tak bukan adalah wartawati dari situs berita online yang gua ceritain di awal.

Jin Woo pun bisa lepas dari Sung Woo lain yang selama ini menjadi teman khayalannya. Sung Woo yang berkaki normal, yang sehat dan bisa berjalan dan berlari dengan lincah, adalah teman khayalan Jin Woo sejak Sung Woo mengalami kecelakaan yang menewaskan ayah mereka dan membuat Sung Woo lumpuh. Gua senang karena bagian ini diselesaikan dengan rapi oleh writer-nim.

Sebagai kesimpulan, apakah gua menyukai drakor “Life”? Iya, dan alasan satu-satunya adalah karena Cho Seung Woo. Gua sangat ga suka karakter peragu dan pengadu dari Lee Dong Wook. Gua sampe misuh-misuh sama classmates di www.drakorclass.com saking ga sukanya sama karakter dan akting oppa yang tumben-tumbenan minimalis banget.

Terus chingu gua, Re Ra, bilang kalau kita harus jadi fans yang profesional, yang bisa membedakan mana karakter asli orangnya dan mana karakter karena tuntutan peran. Okeh, gua kadang lupa hal ini saking emotionally invested sama sebuah drama.

Ceritanya menarik lho sebenarnya. Ini bukan drama medis yang membahas dunia medis, tapi lebih kepada praktek bisnis dan concern lain yang tetap mesti diperhatikan supaya sebuah rumah sakit, atau penyedia jasa kesehatan lain, tidak cepat gulung tikar. Tontonlah kalau kamu pengen dapat insight baru tentang praktek pelaku usaha di dunia kesehatan. Worth to watch banget, kok.

Selamat menonton! Pssst … setelah menonton “Life”, jangan lupa nonton “Stranger” Season 1 dan 2 ya. Keduanya ditayangkan di platform Netflix, layanan streaming terpercaya untuk film dan drama Korea yang berkualitas baik.

#inibukaniklan #hanyapenggunajasayangpuas

Berbicara Banyak Itu

… melelahkan. Hahaha. Beneran, lho. Ini tenggorokan mulai terasa ga nyaman karena kebanyakan ngomong dua hari ini.

Antangin, mana Antangin?

Gapapa lah ya nyebut merk. Hehehe.

Dalam sehari sebagai istri dan ibu dan mandor gua ngucapin ribuan kata. Buat bangunin anak-anak, nyuruh mereka mandi, nyuruh mereka nyalain laptop, nanya belajar apa dan tes apa hari ini, nyuruh makan, nyuruh mandi lagi, ngecek tugas dan PR, nyuruh belajar musik, nyuruh keluar rumah buat sepedaan, and the list goes on ….

Gua ngomong banyak banget. Dan itu baru ke anak-anak, belum ke suami dan orang-orang lain yang sehari-hari ada di hidup gua. Kalau ditambah dengan berapa kata yang gua teks dan cerita yang gua buat tiap hari, mungkin nyampe deh sepuluh ribu kata.

Kenapa ya cewek bisa ngomong sebanyak itu? Gua juga penasaran. Di dalam hati dan pikiran gua juga ngomong terus. Ah, semoga kesukaan gua ngomong bisa memberi manfaat bagi orang lain, itu harapan gua dulu banget. Dan bener aja kemarin dan hari ini gua dikasih kesempatan buat berbagi yang berfaedah.

Kemarin gua jadi classmate di acara IG Live ke-4 uri blog http://www.drakorclass.com. Acara IG Live ini rutin mingguan, setiap hari Jumat malam. IG Live yang pertama tentang “Drakor & Blogger”, kedua tentang “Drakor & Penulis Antologi”, ketiga tentang “Drakor & Pulih”, dan keempat kemarin tentang “Drakor & Proses Kreatif Novelis”.

Pertama-tama gua mau bilang, makasih banyak ke sepupu kesayangan gua nun jauh di Chiang Mai sana, Kak Risna. Tanpa dia, gua ga mungkin tahu apa itu KLIP, punya teman-teman baru yang ngobrol seru soal drakor dan hal lain, tergabung di WAG “Drakor & Literasi”, sampe akhirnya jadi pengisi di blog rame-rame http://www.drakorclass.com.

Gua kadang berpikir: oh, why didn’t I find you sooner? Tapi yang namanya hidup kan ga bisa diprediksi meskipun sudah direncanakan jauh-jauh hari. Setelah berpikir itu gua cuma bisa bilang ke diri sendiri: everything happens for a reason and these people came at the right time.

Waktu gua ngerasa buntu dengan hidup gua yang gitu-gitu aja, waktu gua ngerasa harusnya gua melakukan lebih, waktu gua kehilangan gairah menulis dan menelantarkan talenta yang gua punya atas nama kemalasan dan ketakutan berbuat salah, datanglah Kak Risna yang memberi pecutan.

Ayo nulis lagi.

Dan ternyata sistem di KLIP itu cocok buat gua, rabbit yang sangat suka carrot. Tak lama berlalu, gua udah mengukuhkan diri sebagai pengabdi badge. Seneng banget rasanya bisa nulis 10, 20 hari dalam sebulan, atau bahkan 30 hari nonstop! Gua sampe sekarang ga percaya gua pernah bisa nulis setiap hari kayak gini.

Dan gara-gara keharusan nyetor tulisan itu mulailah gua nulis cerpen lagi, sebuah kemampuan yang gua abaikan selama hampir tiga tahun, man! Bukan karena gua kurang ide, tapi karena gua takut salah, takut ga berubah, takut ga jadi lebih baik setelah nerbitin “Randomness Inside My Head”.

Buku pertama itu kayak bayi pertama gua di dunia literasi. Penuh perjuangan, kesakitan buat “melahirkan”. Sesudahnya juga ga mudah. Komentar orang soal “kenapa caesar, ga lahiran normal aja?”, “kenapa kasih susu formula, ASI-nya ga keluar ya?”, dan sejuta “kenapa” yang lain, gua ibaratin sama dengan para pembaca buku pertama gua yang protes: “kenapa sih ga bahasa Indonesia aja?”, “kenapa sih ceritanya sedih melulu dan depressing abis?”, dan seterusnya, dan sebagainya.

Walau berusaha tegar, ya pasti ada bagian hati gua yang terkoyak. Saking terkoyaknya gua putusin hiatus aja dua tahun buat koreksi diri. Dua tahun itu ga gua habisin buat kontemplasi gimana proses kreatif gua sih. Emang di rumah lagi repot banget aja karena kelahiran si bungsu yang jadi kejutan indah buat keluarga kami.

Alasan-alasan itulah yang membuat gua memvalidasi alasan untuk tidak menulis apa pun, fiksi maupun nonfiksi, sepanjang tahun 2018 sampai 2019. Awal bergabung dengan KLIP gua hanya nulis nonfiksi, pengalaman hidup sehari-hari. Perlu setengah tahun setelah bergabung dengan KLIP sampai gua berani menulis cerpen lagi. Masih dalam bahasa Inggris, walaupun 90% tulisan gua buat setoran KLIP udah dalam bahasa Indonesia.

Kemudian datanglah malaikat lain, Mbak Vidy dari Batam yang mengajak ikut lomba cerpen. Duh, pertama kalinya nih gua mau ikut lomba. Sebagai penulis yang kepedean dan udah terlanjur tua waktu masuk ke dunia literasi, gua nekat langsung nerbitin buku. Gua ga setia ngebangun blog, ikut lomba nulis, dan ngebangun basis massa dan penggemar sebelum berani bikin buku, kayak saran adek gua. Gua nekat bikin pintu sendiri karena gua ngerasa udah sangat terlambat memulai di usia pertengahan 30-an.

Gua ga menang lomba itu, tapi gua jadi dipaksa buat nulis cerpen pertama gua dalam bahasa Indonesia setelah hiatus 26 tahun. Dua puluh enam tahun, bok! Emang bener kata orang: the days are long, but the years are short. Ke mane aje 26 tahun itu berlalu? Dan gua ga bisa nyelesaikan itu cerpen dalam sekali tulis. Gua perlu tiga kali nulis, thus cerpen itu terdiri atas tiga babak.

Dari bulan Juli sampai Oktober akhirnya terkumpul sembilan cerpen yang semuanya ditulis dalam babak-babak. Cerpen yang jadi dalam sekali tulis cuma satu biji (di luar yang sembilan itu) dan gua ga masukin ke buku kumpulan cerpen yang baru.

Hah, buku baru?

Iya, sama seperti buku RIMH, kali ini gua nekat juga bikin buku baru. Bahan udah ada, penerbit pake yang lama, jadi tunggu apa lagi? Sekalian gua mau beresin 3 naskah lain yang udah nganggur bertahun-tahun dan nekat nerbitin. Menjelang akhir tahun kegiatan gua malah tambah sibuk. Jadinya gua tambah perlu support dari keluarga.

Jumat, 13 November lalu gua udah diajak buat ngisi Klub Buku KLIP dimana gua boleh promosiin dua buku. Gua bawa RIMH dan si “The Cringe Stories”, kumpulan cerpen pertama yang gua tulis dalam bahasa Indonesia. Duh, prestasi banget deh buat gua pribadi yang selalu keder menulis dalam bahasa ibu gua. Kenapa gitu? Karena ada begitu banyak ketidakbakuan di dalamnya. I’m quite a language nazi, hehehe.

Jumat kemarin gua dan teman baik gua sejak SMA, Cha Ree, gantian jadi host/classmate untuk IG Live ke-4 Drakor Class yang udah gua sebutin di atas tadi. Rehearsal sehari sebelumnya lancar jaya pake zoom. Kemarin, semuanya tiba-tiba ambyar. Gara-gara internet, gara-gara sinyal, padahal lagi ga ada hujan atau cuaca ekstrim lain di sini.

Dari awal gua ga bisa liat gambar Cha Ree dengan jelas. Terus-terusan ada lingkaran tanda loading di atas wajahnya. Dia yang pegang akun IG Drakor Class bolak-balik invite gua buat masuk lagi ke dalam live video-nya. Pas menit ke berapa gitu, modem rumah gua, yang letaknya persis di depan muka gua, mati sendiri. Ya ampun!

Fyi, di rumah gua ga ada sinyal telepon sama sekali. Three G mustahil kerja di sini. Gua mau telepon aja harus keluar rumah, minimal berdiri di bawah meteran listrik. Jadi kebayang kan waktu modem Wifi mati, sinyal 3G ga bisa, apatah yang gua bisa lakukan? Ndak ada.

Gua restart modem secepat-cepatnya, hape juga, dan back online untuk kembali offline dalam hitungan menit. Tanya-jawabnya jadi ga lancar, Ree dan gua saling ga bisa denger. Tetep aja kami berusaha pede sih, karena udah rehearsal kan, udah tau urutan pertanyaannya.

Tapiii … tetep aja kurang kerasa tek-tokannya. Apalagi gua seringnya kepotong pas lagi jelasin pelajaran menulis yang diambil dari nonton drakor, sebuah topik yang gua suka banget. Gua sih berharap ada yang bisa bermanfaat buat mereka yang nonton dan sedang ngerjain karya fiksi.

Nonton drakor itu bukan kegiatan sia-sia yang buang-buang waktu. Penulis fiksi bisa belajar banyak banget hal dari setiap episode yang ditonton, mulai dari menciptakan karakter yang kuat, pembagian adegan, sampai penggunaan teknik zoom in dan zoom out. Detailnya mungkin tar gua jelasin di workshop lain, hehehe.

Anyway, gua kesel banget-banget sama internet yang bermasalah. Ga terkatakan deh gimana keselnya gua. Kalau ini kondisi biasa, mungkin gua udah tinggalin aja IG Live-nya. Tapi ini kan bukan soal gua. Ini soal team gua, teman-teman gua, yang gua ga mungkin abaikan. Orang macam apa gua kalau kabur gitu aja? Gara-gara sinyal parah itu, gua juga lihat follower gua di IG yang udah joined jadi left. Ah, tapi sudahlah, mau bilang apa? Namanya juga tergantung sama teknologi, wkwkwk.

IG Live yang rencananya hanya 1 jam jadi molor 2 jam gara-gara banyak keputusnya. Kayaknya perlu diedit banyak biar layak tayang di Youtube (aku mengandalkanmu, Kak Ris!). Suara gua udah serak at the end of the day. Gua was-was banget gimana bawain dua workshop buat hari ini (Sabtu). Jadi gua banyakin makan dan minum vitamin. Eh Sabtu subuh gua kebangun karena … diare.

Gua stres, gua pasti stres. Gua stres karena badan capek, atau capek karena stres dengan pekerjaan, either way around badan dan pikiran gua ga fit dari Jumat malam sampai Sabtu siang.

Kemarin sebelum IG Live, gua baru dari proyek buat ngawasin finishing kerjaan ngecat. Yang namanya ngawasin tukang itu melelahkan. Mata, telinga harus awas terus-menerus. Habis ngawasin tukang, gua ngebut pulang ke rumah sama anak-anak. Untunglah mereka semua sudah mandi dan makan sore, jadi suami gua ga repot lagi pas jaga mereka. Nyampe rumah, eh, suami belum pulang. Akhirnya gua anter anak-anak ke ruko tempat suami masih kerja dan gua ngebut lagi buat pulang ke rumah.

Gua sangat bersyukur punya support system yang luar biasa, suami dan anak-anak yang mendukung dan bangga karena gua bisa berkarya, orang tua yang selalu nanyain progress gua dalam melakukan apa pun. Kalau mereka ga suka karena waktu gua banyak tersita, mereka akan bilang. Jadi ga ada yang namanya tebak-tebak buah manggis di rumah kami (sebuah hal yang gua ga suka banget); semuanya terbuka dan transparan dengan pikiran dan perasaan masing-masing.

Kemarin dan hari ini mereka dengan gembira membiarkan gua di rumah sendirian buat join IG Live dan bawain workshop. Suami gua bilang ke anak-anak: “Mama perlu fokus, jadi kita pergi dulu sebentar.” Aw, so sweet and understanding. Setelah workshop menulis untuk anak-anak itu selesai jam lima lewat, baru deh gua pergi nyusul ke ruko.

Tadi gua jalan kaki dari rumah ke ruko karena udaranya enak banget. Adem dengan gerimis. Di depan, belakang, kanan, kiri gua ada kilatan cahaya. Bener aja, setelah gua nyampe ruko, hujan angin turun. Untung tadi sempet geser jemuran, jadi ga usah nyuci yang ga perlu. Hehehe.

Selama jalan kaki, gua ngerenungin workshop yang gua bawain tadi. Gua seneng lihat anak-anak yang antusias belajar. Ga ada yang malu nanya, semua punya inisiatif dan semangat untuk berlatih menulis fiksi. Oya, tadi gua bawain workshop berjudul “Fiction Fun Writing” buat anak umur 10 sampai 15 tahun. Pesertanya dari berbagai kota, ada Cikarang, Bandung, dan Bogor. Di situ gua ngajarin cara menggali ide, elemen dan struktur dari storytelling.

Storytelling? Tadi katanya workshop untuk menulis fiksi.

Iya, mau fiksi atau nonfiksi, intinya adalah sama yaitu tentang BERCERITA. Tulisan nonfiksi mengandung unsur fakta, data, dan opini. Tulisan fiksi mengandung unsur fakta, imajinasi, dan opini. Pembeda kedua jenis tulisan ini adalah pada data dan imajinasi, namun keduanya adalah tentang bercerita yang paling efektif untuk memikat hati pembaca. Gua senang karena anak-anak itu ngerti yang gua ajarin dan bisa langsung praktek menulis fiksi dalam satu paragraf yang terdiri atas lima kalimat.

Setelah workshop selesai, gua baca berita baik di WAG Drakor Class. Komunitas kami mendapat hadiah dari acara meet up virtual berbagai komunitas Hallyu yang dibikin oleh Korea Cultural Center Indonesia siang ini. Horeeee!!!

Luar biasa deh chingudeul gua. Kemarin malam habis IG Live baru dapat info dari IG milik KCCI tentang event ini, pagi ini semua yang available langsung berjibaku rembukan di WAG buat bikin slide presentasi. Gua ga ngikutin dari awal, tapi begitu udah ada draft yang hampir final, gua langsung japri Kak Dui buat tek-tokan typo dan sebagainya. Intinya kami pengen presentasi yang kami bikin cakep dan efektif memperkenalkan kami ke KCCI. Tujuannya apa? Supaya jadi partner di kemudian hari, dong. Hahaha.

Sayang banget presentasi Kak Dui ga direkam, sama seperti workshop gua yang juga gua lupa rekam. Ah body yang tidak fit emang bikin gua sangat absentminded. Akhirnya banyak hal yang kelewat deh kemarin dan hari ini.

Berbicara banyak itu melelahkan, jadi sekarang gua mau istirahat. Kerjaan weekend ini belum selesai soalnya, besok masih ada podcast sama chingudeul dari Drakor Class. What? Masih ada podcast, masih ada keperluan buat ngomong banyak?

Iyes, dan besok topik podcast-nya luar biasa dekat dengan hati gu. Tak lain dan tak bukan …(drum roll) … Kapten Ri dari drakor “Crash Landing on You”! Pasti seru lho, karena yang bakal ikut podcast akan mengupas tuntas uri Kapten, yang tabiatnya lain di mulut dan lain di hati. Podcaster-nya ada yang pro Kapten Ri, ada juga yang kontra. Gua termasuk yang mana, ya? Hehehe.

Ugh, walau melelahkan, banyak ngomong itu sangat menyenangkan!

Christmas Tree in February

Christmas Tree in February

Everybody she knew put up their Christmas tree either at the end of November or on the first Sunday of December. But not her. Christmas, the season of jolly, the time for families to go home, gather, and be merry. But not for her. Christmas meant nothing to her, and she waited for nobody but him. The man who had occupied her heart since she was fifteen.

            At the age of twenty-five, Elsa was an ordinary girl living and working in a small town in the middle of America. She had been there all her life, being born and raised in that tiny dot in a grand map. She had also lost her parents and grandparents in that very town.

She knew nothing of outside world; neither did she have the willingness to wander out of her current place. To sail off without a map, some people would say, but she was never interested.

            She was working as a kindergarten teacher, surrounded every day by pure hearts and joys of little children. The hearts which had never been broken. The joys which was gleefully outspoken. She was content with that and never asked for more.

But not Jim, not the love of her life. He was never satisfied. To him, leaving the place where they grew up was never an option. It was a matter of life and death.

            The reason she put up her Christmas tree in February was him. It was the month when he would come back from his other home, from pursuing his dream. It had been seven years since he left her for a better life. Every February he would return for a quick trip down the memory lane. For a bit recharge before going back to my busy life, he would say.

            Elsa always minded his reason for leaving her, but she never refused his return. Even though it’s only over the holidays, even though it’s only done annually, she would gladly embrace him whenever he showed up at her door.

Every Christmas and New Year when the whole town was lit up with lights and decorations, her home was the only one looking pale in comparison to her neighbors’. She didn’t mind the elderly’s talking or the sheriff’s bold suggestion to go with the spirit of the holiday and put up her tree. She chose to wait until February as a statement, that she was waiting for somebody who was yet to come.

            She heard the door of a car slammed when she was about to put the bright star on top of her tree. She didn’t care to turn her head because she knew who it was.

            “Do you need any help?”

            “No, thanks,” she answered coldly. When she descended the ladder, she knew he was waiting for her with his arms wide open.

            “At least give me a welcome smile.”

            She turned around and gazed at his towering height. Their eyes met and she felt it again. The same jolt she felt many years ago, when her heart was innocent, when love was a foreign language to her. She tilted her head and exclaimed, “Your head!”

            “It’s bald now, I know. It’s for a role I’m going to play in my next movie.”

            “What are you going to be this time? A bald professor?”

            He shrugged. “Maybe. I’ll tell you all about it once we start shooting.”

            “How long will it take?”

            “What will?”

            “The filming? A year, two years?”

            “Ten months. Tops. I’ll be home again next year in February, like I always do.”

            The wavy, brown hair she loved to run her fingers through was gone, and she though it was a sign to do something about them. About their relationship.

            “Why did you go with purple this year?” His hand reached out for the plastic balls, the little angels, and the cheerful Dresden.

            “Just because,” she answered with another shrug.

            “It was blue last year and pink the year before. I love how you keep the holiday spirit alive even though it’s been two months after Christmas.”

            She made him turn around to face the wide street where her house was located. “Can you see what I see?”

            He gazed to his right and left, trying to understand what she was saying. “Nothing unusual. Everything looks normal to me.”

            “Do you see another Christmas tree?”

            He chuckled and took her into his arms. “Of course not. Everybody knows yours is the only one still standing.”

            “And still being decorated. While others’ were on their way to fireplaces long before you arrived today.”

            His smile was gone, replaced by a deep frown and an unbreakable stare. She knew what would come next: they would fight about why he left and why she stayed.

            “The neighbors have been talking about me and my purple Christmas tree.”

            “And it never bothered you before. Why does it bother you now?”

            “Maybe because I don’t want to be labeled as a crazy, single lady from the block anymore? We’ve been doing this for seven years, Jim.”

            “And I see no reason why we can’t be doing it for a few more decades,” he said stubbornly.

Her Jim, the only man who could make her love and hate so passionately.

            “What are you saying? That I should come back to this very town, to this very street?”

            “Can’t you? If I am very important for you like you always say, can’t you come back and be with me for the rest of my life?”

            He groaned. “You just don’t understand! I told you so many times that I don’t belong here!” He clutched her shoulders while looking very angry. He was literally shaking her at her front yard. “I will die if I stay, Elsa, I definitely will. Why don’t you come with me and take a look at another city, at another option? There’s so much more to life than this under-populated compound filled with old people and retirees. I can show you that, just give me a chance.”

            She shook her head and stepped back. For the first few years, it was love and longing every time they reunited. But then it turned into a hostility.

She hated him for going, for leaving her all alone. But she hated herself even more for being unable to be completely honest with him. Her dissatisfaction always came up at times like this, at times when they should have been most loving with each other after being separated for another year.

Anakku Sudah Remaja

Waktu berlalu terlalu cepat. Kayaknya baru kemaren si sulung lahir, eh hari ini dia sudah menjadi remaja. Si Kakak tetap ngotot kalau dia masih pre-teenager, tapi perubahan fisik dan psikisnya sudah khas seorang teenager.

Dan saya sebagai mama pun menangis terharu karena ga nyangka hari ini tiba juga.

Membesarkan seorang remaja tentu berbeda dengan membesarkan anak kecil. Yang saya ingat dari waktu saya remaja adalah how difficult I was. Pokoknya saya orang yang sulit, deh. Sering memberontak, melawan orang tua, ga akur sama saudara kandung, merasa paling soro, paling sengsara sendiri.

Tentu saja itu tidak benar. Perasaan saya kalau saya ini tidak disayangi, tidak dimengerti hanyalah masalah komunikasi yang mandek dan emosi yang tak tersalurkan. Orang tua saya waktu itu berusaha semaksimal mungkin untuk memahami semua perubahan yang terjadi. Namun mereka terbatas, dan semesta tidak berputar di sekitar saya saja.

Dari generasi ke generasi saya melihat orang tua yang berusaha memahami anak mereka dengan lebih baik lagi. Generasi kakek-nenek saya tidak mengindahkan perubahan fisik dan psikis dalam diri orang tua saya. Masa mereka adalah masa yang sulit, secara ekonomi, sosial, dan sebagainya. Fokus mereka saat itu adalah mencari nafkah dan menjamin semua kebutuhan tercukupi.

Apakah orang tua saya tumbuh tanpa kasih sayang? Tentu saja tidak demikian. Bentuk kasih sayang kakek-nenek saya adalah atap di atas kepala, lengkap dengan pakaian dan makanan untuk semua mulut, sambil berharap ada uang tersisa untuk menyekolahkan anak-anak mereka di masa awal kemerdekaan Republik Indonesia, pemberontakan PKI, dan semua tragedi politik yang terjadi sesudahnya.

Tidak ada komunikasi yang intensif, dengan waktu yang sengaja dialokasikan untuk setiap anak. Dengan sebelas anak sebagai tanggungan, kakek-nenek dari bapak saya lebih mementingkan mencari uang. Mereka tidak hapal warna kesukaan setiap anak, apalagi cita-cita personal dari sebelas anak tersebut. Demikian pula dengan kakek saya yang semasa hidup sibuk sebagai pendeta dan nenek yang hidup susah setelah menjanda.

Nenek dari ibu saya, Oppung Inang, menjanda pada usia yang masih cukup muda. Kakek meninggalkannya dengan empat orang anak perempuan dan sawah, tanpa rumah. Empat orang anak lainnya sudah meninggal ketika kecil. Fokus nenek saya setelah kakek berpulang adalah bagaimana bisa makan sambil menyekolahkan anak-anaknya. Ibu dan ketiga kakaknya semuanya lulus sarjana di tengah keterbatasan seperti itu.

Momen tersendiri dengan kakek-nenek adalah momen yang langka, kata orang tua saya. Kakek dari pihak bapak, Oppung Doli, selalu membicarakan pengalamannya berperang sebelum tahun 1945 dan filosofi hidup yang dia pegang, sambil berladang dengan anak-anaknya. Jadi sambil menyabit rumput, mulutnya akan bercerita. Itulah kenangan yang tertanam di hati bapak akan bapaknya.

Nenek dari pihak bapak berjualan baju di pajak, istilah untuk pasar di Pematang Siantar sana. Bapak dan abangnya biasanya menemani berjualan. Tugas bapak adalah melap keringat Oppung Boru dan memberinya minum jika dia terlihat kelelahan. Momen mereka berjualan itu adalah kenangan yang terpatri di hati bapak akan ibunya.

Ibu saya kehilangan ayahnya pada usia 11 tahun ketika baru menginjak remaja. Kakak-kakaknya berusia sangat jauh darinya. Waktu kakek meninggal, mereka berusia 24, 19, dan 14 tahun. Ibu yang sangat dekat dengan Oppung Amang merasa sedih bertahun-tahun. Dia merasa sangat kesepian dan kehilangan arah justru pada masa yang sangat penting, beralih dari seorang anak menjadi seorang remaja.

Yang saya ingat dari masa remaja saya adalah perlunya dua hal saja: 1) komunikasi yang baik dengan orang tua, 2) mengisi waktu dengan hal positif. Soal komunikasi, ini kurang sekali saya lakukan karena waktu itu saya sangat egois, fokus saya hanya pada diri sendiri. Soal mengisi waktu, kebetulan kami sekeluarga suka membaca buku, jadi masa remaja saya habiskan dengan banyak membaca di rumah. Sekalinya keluar buat kelayapan cuma buat ke Gramedia, berdiri berjam-jam untuk membaca lusinan komik, hahaha.

Tadi siang kebetulan si Kakak sedang belajar di mata pelajaran Social Studies tentang apa artinya menjadi remaja dan bagaimana mencegah pengaruh negatif semasa remaja. Waktu dia tanya pendapat saya, saya kasih tahu dua hal itu: 1) komunikasi yang baik dengan orang tua, 2) mengisi waktu dengan hal berguna seperti literasi, olahraga dan musik.

Remaja biasanya lebih menutup diri. Pada satu titik mereka jadi jarang ngobrol dengan orang tuanya, lebih senang nongkrong dengan temannya, atau curhat berlembar-lembar di buku harian. Saya melakukan itu semua, saya pernah merasa sangat asing dengan keluarga saya sendiri. Tapi saya ingin si Kakak tidak seekstrim saya.

Pada bulan Juli lalu, jerawat pertama muncul di wajahnya. Saya peluk dia erat-erat dan menangis. Antara terharu dan takut dia tumbuh terlalu cepat. Hati saya masih mengingatnya sebagai bayi yang baru lahir dan masih ditimang-timang. Hari ini kami pergi berbelanja berdua untuk membeli sabun cuci muka khusus untuknya. Saya menangis lagi, namun kali ini tidak kelihatan olehnya biar dia ga ikutan mewek.

Tahapan remaja ini sangat spesial dan menantang. Semuanya berubah pada saat yang bersamaan. Tubuh yang mengalami perubahan dan gejolak hormon membuat remaja sering merasa serba salah. Emosinya mulai lebih sensitif, bisa tiba-tiba jealous luar biasa pada adiknya gara-gara bantal, padahal biasanya akur-akur aja. Bisa tiba-tiba protes kenapa temannya begini, begitu, padahal menurut saya itu hal sepele.

Iya, sepele bagi saya, tapi tidak bagi dia. Oleh karena teman itu sangat penting buat si remaja, jangan pernah menyudutkan temannya. Dengarkan, kasih komentar seperlunya. Jika temannya membawa pergaulan buruk, berdoalah kencang dan minta hikmat gimana mengingatkan si remaja akan value dan prinsip yang dipegang di rumah sendiri.

Intinya adalah, orang tua harus jadi orang pertama yang dia ajak bicara, yang dia curhatin, yang dia mintai pendapat di masa ini. Jangan sampai dia pertama tahu sebuah informasi yang krusial, misalnya soal reproduksi manusia, dari sumber di luar. Kontennya bisa jadi menyimpang dan penyampaiannya juga bisa jadi tidak tepat.

Remaja itu suka sekali bertanya. Jangan lelah meladeni pertanyaan mereka. Mereka akan bertanya mulai dari penciptaan alam semesta sampai kenapa mereka bisa merasa tiba-tiba sedih. Siapkan jawaban, tapi jangan sok tahu. Kalau ga tahu, minta waktu untuk mencari tahu.

Jaman sekarang lebih mudah, ada internet yang bisa membantu. Membantu ya, bukan memberikan jawaban absolut. Saya masih ingat jaman dulu gimana orang tua saya membeli banyak buku pintar dan berlangganan koran Kompas setiap hari supaya mereka banyak tahu dan bisa memberi tahu anak-anaknya yang terus bertanya.

Terkadang saya merasa lelah ditanyai terus-menerus. Dalam sehari saya mengeluarkan puluhan ribu kata dalam rangka pekerjaan dan mengelola rumah, eh saya masih harus menjawab semua pertanyaan dari si Kakak. Waktu saya merasa lelah gitu, saya mengingatkan diri sendiri: paling baik dia tahu dari saya dan bukan orang lain.

Selama sebulan terakhir si Kakak senang sekali menonton film Mulan, kayaknya udah 20 kali puter deh. Dia jadi pengen tahu tentang setting-nya. Gimana sistem kerajaan dan dinasti di Cina pada masa lalu, tentang invasi dari Mongolia, nama-nama keluarga di Tiongkok, dan seterusnya dan sebagainya, sampai ke nama asli setiap aktor yang bermain di film itu.

Udah ga kehitung berapa jam kami habiskan di Wikipedia dan situs lain mencari tahu semua yang dia ingin ketahui. Lelah? Pasti. Worth it? Absolutely. Paling mudah memang sodorin hape dan suruh mereka Google sendiri (duh sangat berbahaya), tapi bukan itu intinya. Pada masa remaja di mana mereka merasa labil dan kesepian, mereka harus diyakinkan bahwa mereka tetap paling menarik dan penting bagi kita.

Minat mereka sebaiknya menjadi minat kita juga. Sebagai contoh, saya ga suka Lego, saya ga pernah tertarik beli atau main Lego. Tapi si Kakak dan adik-adiknya suka sekali. Mereka bisa membangun apa pun sesuai daya imajinasi mereka. Setelah menonton film Mulan, si Kakak membangun sebuah citadel, kota benteng yang mendekati setting di film itu.

Saya tetap menaruh minat pada hobinya dengan cara menawarkan merekam semua karyanya dengan video dan foto. Walaupun saya sungguh ga ngerti gimana dia bisa bikin atap miring-miring ala rumah di Tiongkok dengan beberapa balok Lego. Tawaran saya membuat si Kakak senang, bahagia, karena saya ingin terlibat dan itu berarti dia penting bagi saya.

Komunikasi adalah koentji.

Tidak cepat mengambil kesimpulan dari apa yang dia ceritakan. Tanya mendetail sampai dapat bigger picture-nya. Selalu bertanya bagaimana harinya, apa yang dia rasakan, bagaimana relasinya dengan orang lain. Ikut pertimbangkan saran dan pendapatnya dalam banyak hal. Seperti tadi waktu berbelanja bulanan, sebelum berangkat saya mendiktekan daftar belanjaan. Tugas si Kakak selama berada di hipermarket adalah mencoret nama barang yang sudah masuk ke dalam troli. Dengan begitu saya melibatkan dia dengan cara memberinya tanggung jawab.

One on one session itu penting. Setiap orang tua wajib memiliki waktu pribadi dengan anaknya yang menginjak remaja. Si Kakak suka sekali green tea latte dari Starbucks. Suami saya juga; pokoknya Starbucks adalah kafe favorit mereka. Sesekali mereka pergi berdua dan ngobrol berdua saja. Dengan saya, si Kakak pergi makan siomay dan es teler. Itu adalah aktivitas khas dari setiap orang tua dengan dirinya. Melalui aktivitas-aktivitas itu, kami mengobrol dari hati ke hati, mengingatkan lagi akan nilai-nilai iman, pengharapan, tanggung jawab, cita-cita, dan lain sebagainya.

Bahkan sebelum dia menginjak remaja, kami sudah membekali si Kakak dengan hal positif di bidang literasi, olahraga, dan musik. Buku melimpah di rumah; les taekwondo, piano, dan biola jalan terus bahkan di tengah pandemi. Remaja perlu dikasih banyak kegiatan karena energi mereka sangat berlimpah dan mereka sangat curious dengan dunia di luar sana. Tugas kita sebagai orang tua adalah menunjukkan jalur yang tepat dan menjadi rambu-rambunya supaya mereka ga terpeleset.

Kalau saya pikir-pikir, saya punya lebih banyak resources untuk mendampingi si Kakak, anak saya yang pertama dalam menjalani masa remaja. Waktu saya dulu seumur dia, ibu saya sedang S2 di kota lain. Tiba-tiba saya jadi pengganti ibu untuk mengelola rumah tangga pada usia 14 tahun. Saya tidak ingat banyak momen berbagi yang kami berdua jalani, tapi saya tetap bersyukur karena ibu bekerja di kantor untuk penghidupan keluarga.

Pekerjaan utama saya sekarang adalah ibu rumah tangga, selain mengurus workshop dan buku. Waktu saya paling banyak dihabiskan di rumah. Saya punya banyak sekali tenaga dan waktu untuk mendampingi si Kakak saat becoming teenager menjadi sulit.

Untuk setiap perubahan emosional, kami sudah tunjukkan bahwa ada konsekuensinya. Ga ada ceritanya kurang ajar ke orang tua dengan marah, teriak, atau bentak-bentak. Baik anak maupun remaja perlu diajarkan mana sikap yang baik, mana sikap yang kurang ajar.

Saya selalu tanyakan hal ini pada anak-anak jika mereka mulai gusar dengan anggota keluarga sendiri. Apa kamu berani berkata ketus pada gurumu? Apa kamu berani meneriaki temanmu? Mereka pasti menjawab: tidak. Saya tanya lagi, kenapa? Mereka jawab: karena malu, nanti dimarahi balik atau dimusuhi. Kalau kamu ga gitu ke orang lain, ya jangan gitu ke keluargamu sendiri, kata saya.

Bersikap paling baik, paling manis, paling pengertian, paling menolong adalah pada anggota keluarga sendiri. Jika di dalam rumah beres, maka di luar rumah beres. Jika di rumah sendiri judes, gusar, suka bentak-bentak, maka tinggal tunggu waktu orang di luar rumah tidak sabar dan melawan balik. Orang di luar rumah tentu tidak sepemaaf keluarga sendiri.

Ah tulisan ini jadi panjang, tapi tak apa karena tujuannya untuk mengingat hari ini, salah satu tonggak dalam perjalanan hidup si Kakak, anak saya yang sulung. Oh ya, semakin remaja dia semakin tertarik lho dengan kisah hidup saya, gimana masa kecil dan masa remaja saya dulu. Saya duga dia berharap menemukan contoh, petunjuk, dan bimbingan untuk menghadapi masalah-masalahnya ke depan.

Cinta orang tua memang sangat besar. Dengan segala keterbatasan mereka siap memberikan yang terbaik bagi anak-anak mereka. Kakek-nenek saya dulu mencintai kedua orang tua saya dengan cara mereka sendiri, yang minim komunikasi tapi selalu memastikan kebutuhan ekonomi tercukupi.

Orang tua saya dulu berusaha menyeimbangkan antara mencari nafkah dan mengisi jiwa saya yang sedang bergejolak. Bapak dan mama dulu sering menceritakan masa muda mereka dengan harapan saya akan mengambil pelajaran darinya.

Kini tiba waktunya untuk saya dan suami membesarkan si Kakak, si remaja pertama di rumah kami. Sejauh ini saya tidak melihat keterbatasan saya, yang saya lihat adalah resources yang begitu melimpah untuk saya membersamai si Kakak seoptimal mungkin.

Supaya dia tumbuh menjadi pemudi yang berkenan di hati Tuhan, yang belajar dari orang tua, dan mengasihi orang lain seperti dia mengasihinya diri sendiri.

Ich habe dich sehr Lieb, Kakak. ❤️

Mengapa Anak Perlu Belajar Menulis?

Walaupun ada banyak drama di antara saya dan sekolah anak-anak saya gara-gara PJJ, tak dapat dipungkiri sekolah anak-anak saya ini unggul dalam hal bahasa. Sekolah ini menggunakan sistem bilingual dimana bahasa pengantar yang digunakan adalah bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.

Mata pelajaran seperti math, science, social study, art, music, dan English sendiri memakai bahasa pengantar bahasa Inggris. Sedangkan mata pelajaran lain seperti agama, PPKn, olahraga, komputer, dan bahasa Indonesia sendiri memakai bahasa pengantar bahasa Indonesia.

Dulu saya sering bingung waktu keluarga atau kerabat menanyakan status sekolah anak saya. Apakah swasta, swasta nasional, swasta nasional plus, internasional, atau bagaimana? Sampai sekarang saya tidak tahu jawaban pastinya, apa status sekolah ini di mata Dinas Pendidikan.

Yang saya tahu pasti mereka mengombinasikan kurikulum K-13 dan Cambridge dari Singapore untuk menghasilkan sebuah kurikulum yang unik milik mereka sendiri. Dalam kurikulum ini, anak-anak saya diberi dorongan untuk menulis dan diajari menulis sejak usia sangat dini; bahkan dimulai dengan beberapa kalimat di tingkat Taman Kanak-kanak.

Pendidikan di Indonesia tidak mengajarkan anak untuk menulis. Sepanjang ingatan dan pengetahuan saya, saya bisa lulus dari setiap tahap pendidikan dengan mengerjakan ujian-ujian yang kebanyakan berbentuk pilihan ganda. Pendidikan kita dan sistem pengujian kita tidak membiasakan siswa mengutarakan isi pikirannya, apalagi dengan cara terstruktur.

Pemberian tugas dan pengujian dengan bentuk pilihan ganda dan esai akan memberikan hasil yang jauh berbeda.

Dengan pilihan ganda, pikiran siswa sudah dikungkung terlebih dahulu. Ini ada masalah, bagaimana cara kamu memecahkan masalah tersebut? Pilihlah jawaban yang paling tepat (atau terbaik) dari antara A, B, atau C. Padahal, mungkin saja siswa memikirkan alternatif D, E, dan seterusnya, tapi pendapat itu tidak bisa ditampung. Tentu saja ujian dengan pilihan ganda adalah yang paling mudah untuk dinilai. Beri saja kunci jawaban; jika jawaban tidak cocok, maka beri angka 0 untuk pertanyaan yang diujikan.

Dengan esai, siswa diberi dorongan untuk mengolah apa yang dia tahu dan berpendapat. Tidak masalah jika bahasanya tidak sesuai dengan buku teks atau apa yang diajarkan oleh guru. Ujian dalam bentuk esai menurut hemat saya adalah cara paling baik untuk membuat otak siswa berpikir dan melatih logikanya. Dari masalah A, siswa bisa mengemukakan solusi B, C, bahkan sampai Z tidak masalah, asalkan dia punya reasoning yang kuat. Akan tetapi, guru ketambahan “beban” untuk membaca semua isi pemikiran siswa sebelum bisa memberikan nilai yang sesuai. Ini bisa menjadi sebuah ketidaknyamanan tersendiri.

Saya tidak tahu apakah pendidikan dan sistem pengujian di Indonesia akan berubah suatu hari nanti, entah pada masa Presiden yang mana dengan Menteri Pendidikan yang mana. Yang saya coba lakukan sekarang adalah mengajak pembaca melihat pentingnya mengajarkan cara menulis pada anak.

Menulis yang saya maksud di sini adalah yang mencakup nonfiksi dan fiksi. Laporan membaca buku, laporan praktikum, kliping tentang fenomena alam, karangan tentang kegiatan saat liburan sekolah adalah contoh sederhana kegiatan menulis siswa sebelum duduk di jenjang perguruan tinggi. Di perguruan tinggi, ada tugas-tugas yang sejenis dan puncaknya ada pada penyusunan skripsi pada semester akhir sebelum dinyatakan lulus.

Kemarin saya dan suami memperbincangkan hal ini. Orang yang berpikir terstruktur, pasti bicaranya terstruktur. Orang yang bicaranya terstruktur, pasti menulisnya juga terstruktur. Ini sudah tiga simpul yang bersambung dan tak bisa dipisahkan dari satu benang merah: berpikir – berbicara – menulis.

Kemarin kami juga mengobrolkan email-email yang kami pernah terima, yang terkait dengan pekerjaan dan hobi, yang berisi bahasa yang kami tidak pahami. Bukan soal jenis bahasanya, tapi runtutan latar belakang dan tujuan email itu.

Saya mengingat seorang kolega di kantor lama, yang setiap kali mau minta suatu data isi emailnya bisa memutar ke Mars, keliling Venus, baru to the point. Ini ‘kan email yang bersangkutan dengan pekerjaan, bukan sedang menulis karya fiksi yang harus mengasah rasa.

Kesimpulan dari perbincangan kami malam itu adalah, mengajari orang menulis memang harus dilakukan sejak usia dini, sejak anak-anak. Jangan menunggu sampai dia mengerjakan tugas akhir dan kelabakan sendiri dengan proses menstrukturkan pikiran. Atau sampai dia keburu terjun di dunia kerja dan sulit dipahami oleh koleganya.

Apa sih yang dimaksud dengan berpikir-berbicara-menulis yang terstruktur? Dari tadi saya banyak menggunakan kata “struktur”, mungkin pembaca budiman penasaran, struktur seperti apa yang saya maksud.

Struktur dalam berpikir-berbicara-menulis sebenarnya hanya soal mengurutkan logika sendiri untuk bisa ditanggapi oleh logika orang lain.

Sesederhana itu, kok. Logika sendiri yang mungkin belum beres sehingga salah ditanggapi oleh orang lain, atau logika orang lain yang tidak beres, adalah topik di luar tulisan ini. Ketika bicara logika, kita tahu harus ada background, reasoning, dan purpose. Dalam setiap penguraian logika, ketiga hal ini harus ada.

Ini adalah murni pemikiran saya sendiri, ya. Jika ada konsep yang mirip dengan ini, maka saya hanya bisa bilang: tidak ada yang baru di bawah matahari, namun pengungkapan ide adalah unik bagi setiap orang.

Mari kita menilik sebuah contoh narasi singkat untuk mempelajari logika.

Seorang ibu melihat hujan turun. Dia tidak mengeluarkan payung, tapi mengeluarkan celana pendek anaknya yang berwarna kuning dari dalam tasnya dan menaruhnya di atas pagar sembarang rumah.

Apakah kalimat-kalimat di atas mengikuti kaidah logika yang kita ketahui, pahami, dan sepakati bersama? Sepertinya tidak, ya.

Di saat hujan turun, logikanya orang akan mengeluarkan payung dari dalam tasnya untuk melindungi dirinya sendiri. Kenapa ibu ini malah mengeluarkan celana pendek? Dan jika misalnya dia akan menggunakan celana pendek itu supaya tidak basah kuyup, kenapa dia malah menaruhnya di atas pagar rumah sembarang orang dan bukan di atas kepalanya untuk mencegah kepalanya terkena air hujan?

Contoh yang saya berikan di atas adalah sebuah contoh narasi fiksi yang acak. Sekarang bayangkan sebuah contoh email fiksi yang beredar di sebuah kantor, yang berisi logika yang kurang-lebih serupa.

Kepada: Manajer Departemen Supply Chain

Dari: Manajer Produksi

Perihal: Mempercepat pengiriman material dari Cina karena sebentar lagi UMP naik.

Pihak yang berkepentingan di dalam email tersebut sudah tepat. Akan tetapi, apa hubungannya pengiriman dipercepat dengan Upah Minimum Provinsi (UMP)? Bagaimana jalan pikiran dan logika penulis email? Di mana missing link di sini yang membuat tujuan email itu sulit dimengerti oleh penerima email?

Setelah ditelusuri dan diklarifikasi lewat panggilan telepon, maksud dari si Manajer Produksi adalah sebagai berikut.

Material dari Cina yang tiba di pelabuhan akan disimpan di gudang yang dikelola oleh pihak ketiga selama satu minggu untuk disemprot disinfektan sebelum dikirim ke pabrik kita. Pihak ketiga ini sudah menyepakati dengan serikat pekerjanya untuk mengikuti UMP baru yang akan berlaku mulai tanggal 1 Januari. Selisih upah tenaga kerja akibat UMP baru akan ditagihkan kepada perusahaan kita. Kami meminta Departemen Supply Chain untuk mempercepat pengiriman material dari Cina supaya material tiba di pelabuhan dan disimpan di gudang itu paling lambat dua minggu sebelum UMP baru berlaku. Dengan demikian upah tenaga kerja yang ditagihkan ke pabrik kita tidak akan mengalami perubahan.

Ini adalah logika dari Departemen Produksi yang setelah dijelaskan panjang lebar secara lisan sebenarnya bisa diterima oleh logika dari Departemen Suppy Chain. Akan tetapi, Departemen Produksi bermain dengan asumsi bahwa semua orang mengerti apa yang mereka maksud, bahwa semua orang tahu benar urutan proses yang terjadi. Mereka tidak mempertimbangkan akan selalu ada gap pengetahuan di antara pihak-pihak yang berkomunikasi.

Akibatnya, email mereka dipotong di sana-sini sehingga hanya berisi dua bagian di ujung tentang pengiriman dan tentang UMP (purpose) tanpa menjelaskan urutan logika yang mencakup background dan reasoning. Padahal jika ketiga hal itu (background, reasoning, dan purpose) ada, tidak akan terjadi lagi kesalahpahaman saat mencoba memahami media tulisan yang bersifat dua dimensi (penjelasannya dapat dibaca di sini).

Melatih logika pada dasarnya sederhana. Mari kita bermain dengan contoh yang lain.

Saya lapar jadi saya makan. Saya lapar karena saya baru berlari sejauh sepuluh kilometer. Saya makan supaya saya tidak lapar lagi.

Kalimat di atas bisa dipecah menjadi berikut ini:

  1. Background: Saya baru berlari sejauh sepuluh kilometer.
  2. Reasoning: 1) Berlari sejauh itu membuat saya kehilangan tenaga, 2) kehilangan tenaga akhirnya membuat saya lapar, 3) rasa lapar membuat saya ingin makan.
  3. Purpose: Saya makan supaya saya tidak lapar lagi.

Mereka yang berpikir runut dan yang logikanya terlatih dapat mengerti narasi singkat di atas tanpa perlu memecahnya menjadi background, reasoning, dan purpose. Namun tidak demikian halnya dengan anak-anak (atau orang dewasa yang tidak biasa berpikir terstruktur).

Mereka masih melihat kumpulan informasi, di dalam atau di luar kepala mereka, sebagai ibaratnya gumpalan benang kusut yang sulit terurai. Mereka saja belum bisa menemukan kedua ujungnya, jadi bagaimana mungkin mereka menyerahkan gumpalan benang itu untuk dirapikan oleh orang lain?

Kira-kira begitu analoginya untuk anak-anak (atau orang dewasa yang tidak biasa berpikir terstruktur) yang logikanya belum terlatih dan mencoba menyampaikan logika itu supaya dipahami oleh orang lain. Yang timbul adalah kesalahpahaman dan kekacauan.

Mata pelajaran bahasa Inggris di sekolah anak saya mengajari menulis lewat pembentukan struktur pemikiran. Dari mana ide itu berasal? Bagaimana merunutkan ide supaya menjadi informasi yang berguna bagi pembaca? Semuanya dijelaskan dalam pelajaran bahasa Inggris untuk anak kelas 2 SD. Saya benar-benar kagum karena anak saya mendapat materi yang saya dapat ketika kelas 3 SMP.

Awalnya saya sempat sangsi, apakah materi tersebut tidak terlalu berat untuk anak seusianya. Ternyata tidak. Lebih cepat diajarkan ternyata lebih baik. Anak yang masih muda menyerap materi dengan sangat cepat, dan mereka punya waktu yang sangat lama untuk mempraktekkannya terus-menerus.

Tidak usah menunggu sampai menjadi mahasiswa tingkat akhir yang terkaget-kaget karena menulis skripsi tidak boleh asal jeplak. Menulis skripsi berarti terlebih dahulu mempelajari segala tetek-bengek aturan tata bahasa Indonesia. Mempelajari tata bahasa harus dimulai dari jenjang pendidikan paling dasar, kalau bisa sejak Taman Kanak-kanak.

Saya mengikuti pembelajaran menulis untuk anak saya yang kelas 2 SD ini sejak bulan lalu. Untuk menulis, anak diajarkan pertama untuk mengetahui main idea (ide utama) yang dituangkan ke dalam satu kalimat. Yang kedua, main idea ini harus dijabarkan oleh supporting ideas (ide-ide pendukung) yang dituangkan ke dalam kalimat-kalimat berikutnya. Belajar menulis di tingkat kelas 2 SD tidak usah fancy. Sederhana saja, tapi dasarnya benar dan impaknya berkelanjutan.

Pada waktu yang bersamaan, saya juga mencoba mengaplikasikan Diagram Tulang Ikan Ishikawa untuk merunutkan sebab dan akibat di dalam tulisan-tulisan saya. Detailnya bisa kamu baca di sini tentang cara menulis dua ribu kata dalam sekali duduk. Apa yang saya dan anak saya pelajari jadinya nyambung. Berpikir itu harus dari hal yang global yang diperinci menjadi detail-detail yang lebih kecil.

Soal apakah main idea ditempatkan di awal sebuah paragraf/tulisan (deduksi) atau di akhir sebuah paragraf/tulisan (induksi), adalah perkara lain. Yang penting anak mengerti ada ide utama yang harus dijelaskan oleh ide-ide pendukung lainnya. Latihan menulis yang anak saya kerjakan pun sangat sederhana. Contohnya adalah sebagai berikut.

Theme: All About Shark

Main Idea: Shark is an animal which lives in the sea.

Supporting Ideas:

  1. Shark has sharp, white teeth.
  2. Shark has fins.
  3. Shark breathes with gills.
  4. Shark preys on other fish.
  5. Shark can smell blood and danger.

Setelah menuliskan poin-poin tersebut, anak saya diajari tentang conjuction, atau kata hubung antar kalimat. Jadilah sebuah paragraf yang berisi satu ide utama dan lima ide pendukung yang sudah dirangkai dengan kata-kata penghubung, seperti berikut ini:

Shark is an animal which lives in the sea. It has sharp and white teeth. It has fins and breathes with gills. Shark preys on smaller fish, but it can smell blood and danger.

Selama beberapa minggu, anak saya berlatih terus membuat paragraf-paragraf singkat yang berisi ide utama dan pendukung dari hal/barang yang ia sukai. Sejauh ini dia sudah menulis tentang ular (reptil), kelelawar, anjing, dan lain sebagainya.

Beranjak dari kekaguman saya akan cara belajar menulis seperti yang dilakoni oleh anak saya, saya berniat mengadakan workshop menulis untuk anak-anak berusia 10-15 tahun pada tanggal 28 November 2020.

Mengapa hanya mencakup kelompok usia ini?

Karena dari pengalaman saya mengajar creative writing sejak tahun 2016, anak-anak pada usia ini sudah memiliki rentang konsentrasi yang cukup panjang (bisa sampai satu jam), punya inisiatif, berani berimajinasi, gemar berkolaborasi (workshop yang saya adakan secara offline di sekolah-sekolah meminta siswa untuk mengerjakan tugas menulis secara berpasangan).

Untuk membuatnya lebih menarik, saya akan mengajarkan menulis fiksi. Sebenarnya, tulisan kreatif (creative writing) fiksi dan nonfiksi memiliki empat elemen yang sama. Menulis kreatif pada intinya adalah tentang bercerita, dan itu bisa dilakukan baik dengan fakta/data (tulisan nonfiksi) maupun dengan imajinasi (tulisan fiksi).

Saya juga akan mengajari anak-anak cara menggali ide, memetakan ide itu supaya memiliki struktur yang jelas dan bisa dipahami oleh pembaca, membagi sebuah ide besar menjadi ide utama dan ide pendukung, mencari detail untuk membuat ide pendukung, dan banyak hal lainnya.

Supaya anak bisa menulis dengan baik, saya akan membongkar dari hulunya: mengajari berpikir dengan terstruktur. Pikiran yang terstruktur akan bermuara ke dua hal: pembicaraan dan tulisan yang terstruktur pula.

Untuk mencapai hal itu, saya akan menggunakan alat yang biasa dipakai untuk memecahkan masalah di dunia industri, Diagram Tulang Ikan Ishikawa yang teramat sederhana dan masuk akal sehingga bisa dicerna oleh anak kecil sekalipun.

Workshop akan saya adakan dua kali, dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Informasi lebih lanjut dapat kamu peroleh di sini:

bit.ly/FictionFunWriting_ID (bahasa Indonesia)

atau

bit.ly/FictionFunWriting_EN (bahasa Inggris)

Saya akan sangat senang jika anak-anak yang mengikuti workshop saya pada akhirnya membuat karya fiksi dalam bentuk buku (seperti tujuan salah satu pendaftar). Akan tetapi, bukan itu tujuan utama saya. Yang saya ingin berikan kepada mereka adalah cara berpikir yang terstruktur yang akan mempengaruhi cara mereka berbicara dan menulis yang terstruktur juga.

Kondisi yang paling ideal adalah ketika ada sinergi saat anak-anak berpikir-berbicara-menulis. Dan ketika anak-anak mengeluarkan apa yang mereka pikirkan dalam bentuk lisan ataupun tulisan, semuanya berjalan sinkron. Tanpa penyuntingan dan tanpa penyesalan.

Semoga tulisan ini bermanfaat.

Baby’s Progress

Umur Baby hari ini 2 tahun 6 hari. Ih Mamanya lagi mellow-mellow, jumlah hari aja dihitung, wkwk. Perasaan, kebiasaan menghitung hari gini cuma berlaku buat anak pertama dan ketiga.

Anak pertama karena, ya dia anak pertama. Semua serba pertama kali dan selalu paling istimewa. Umur seminggu dihitung. Sebulan, dua bulan, setahun, dua tahun, ujug-ujug aja sekarang umur si Kakak udah 11 tahun. Ke mana ya tahun-tahun itu berlalu? Kok waktu berlari secepat kilat, hari-hari yang panjang itu banyak yang tidak bisa teringat.

Anak kedua lebih selow, ga semuanya dijadiin momentum/tonggak yang perlu diingat. Walaupun momen-momen penting tetep aja terpatri di benak Mama. Kapan pertama kali berdiri pake pegangan, berdiri tanpa pegangan, melangkah, masuk TK, merakit Lego. Termasuk kata-kata pertama yang dia ucapkan yang sayangnya tidak memasukkan nama Mama di situ. Ihiks.

Buat si anak ketiga ini Mama lebih heboh. Waktu dia berumur 6 hari Mama ambil foto dan bikin caption: “Der erste Sonntag der Sonntag”. Yang artinya, hari Minggu pertama untuk si Baby. Hari itu perlu diperingati karena walaupun namanya berarti hari Minggu, dia lahir pada hari Senin. Hehehe.

Tekad Mama untuk setiap anak sejak mereka lahir adalah mengambil foto setiap anak dalam jumlah yang sama. Untuk semua anak, tanpa terkecuali. Mama inget banget dulu adik Mama yang bungsu sering protes kalau lagi pulkam dan bongkar-bongkar album foto keluarga yang lama-lama.

“Kok foto aku yang paling sedikit?”

Mama sedih banget mendengarnya waktu itu, jadi Mama bertekad mengambil foto yang banyak untuk anak pertama, kedua, dan ketiga. Semuanya istimewa.

Di usianya yang ke-2 si Baby udah makan banyak seperti anggota keluarga yang lain. Mama ingat, kakak dan abangnya baru mencoba makanan di luar rumah pada usia ke-3. Berhubung anak ke-3 koboi banget sejak di kandungan, segala macem udah dimakan sama dia. Bahkan makanan yang ga umum untuk orang dewasa seperti … kimchi jjigae.

What? Serius anak sekecil itu bisa makan kimchi yang rasanya pedas dan asam?

Bisa, Sodara-sodara. Ini pasti gara-gara selama 6-7 bulan di kandungan dia makan kimchi setiap hari. Habis gimana, kalau ga ada itu emaknya ga punya napsu makan. Selain kimchi, waktu itu Mama selalu sedia sambal botol Bu Rudi di kulkas. Satu botol habis dalam 2 hari, bok! Mama ingat, waktu itu setiap minggu Papa anak-anak datang dari Surabaya membawa berdus-dus sambal bawang itu.

Baby juga suka makan bebek Kaleyo, martabak coklat kacang, dan kwetiaw goreng sapi. Minuman kesukaannya milo no ice dari McD dan green tea latte dari Starbucks. Lidah Baby sangat mirip ajunya (adik perempuan Mama) yang suka dairy products. Susu, yogurt, keju, puding semua dilibas. Setiap kali melihat Baby makan pasti cuma ada satu pertanyaan yang terlintas di kepala:

Apa sih yang kamu ga makan, Baby?

Ada banyak juga ternyata. Baby ga suka alpukat. Huhu, padahal waktu masih bayi dia doyan banget. Udah coba dicampur sama susu coklat dan gula, tetep aja ga mau. Dia mirip abangnya kalau udah gitu, menilai makanan dari warna pertama. Abangnya begitu liat warna merah di piringnya, langsung menolak makan. Kalau Baby menolak warna hijau alpukat. Untungnya warna hijau brokoli dan kembang kol masih dia terima.

Baby juga ga suka makan ayam yang ditumis bareng dengan sayur. Mama curiga dia ga suka makan yang lembek, blenyek-blenyek. Eh bener deh, setelah 2 tahun makanan kesukaan Baby bertambah: kulit dari ayam goreng tepung. Dia suka yang renyah-renyah dan asin gitu. Tastebud kamu khas cewek banget deh, Baby.

Baby suka ngebantu menata baju-baju seluruh anggota keluarga yang udah dilipat dan disetrika. Bayi lain belajar nyocokin warna dan bentuk, bayi yang ini nyocokin baju siapa ke kamar mana dan lemari yang mana. Hobinya gitu, sambil ngeliatin Mama ngurus laundry sambil dia nunjuk baju dan teriak:

Papa!

Mama!

Kakak!

Aba(ng)!

Deya! (menunjuk diri sendiri)

Baby orangnya sangat resik. Dia suka vacuum lantai, ngepel, nyiram tanaman, ngelap meja dapur, cuci mobil, dan segudang aktivitas lain yang melibatkan air. Baby juga suka belajar. Kalau kakak dan abang PJJ, Baby akan stand by juga dengan kertas A3 dan pensil warna. Kadang guru dan teman-teman sekelas kakak dan abang ikut dadah-dadah ke si Baby. Cute banget sih, kata mereka. Ho oh, kata Mama.

Berhubung sewaktu di kandungan Mama pertama kali belajar piano dan flute, ga heran kalau Baby itu seorang anak yang sangat musikal. Hobinya adalah mencet-mencet tuts piano dan menggebuk drum. Untung drum elektrik jadi volumenya bisa dikecilin biar ga ganggu anak tetangga yang juga PJJ.

Baby belum bisa ngomong banyak. Kalau dia mau sesuatu dia bakal teriak, terus-terusan teriak sampe keinginannya dipenuhi. Abang dan kakak dia lawan tanpa sungkan. Dia cuma takut sama Papa Mama aja.

Baby sangat pencemburu. Dia bakal marah kalau Papa, kakak, dan abang peluk-peluk Mama. Dia bakal langsung terduduk di lantai dan nangis. Tangisannya berhenti kalau Mama datang dan memeluk dia. Puk, puk, Baby, jangan gitu. Mama ‘kan Mama buat kakak dan abang juga. Si Baby akan membalas kata-kata Mama dengan pelukan sangat erat, seakan berkata: you’re mine and mine alone.

Iya deh, Baby.

Baby sangat suka alam dan beredar di luar rumah. Hobinya ngambil bunga kamboja dan daun kamboja yang berguguran. Dia bakal kelompokin tuh, mana bunga dan mana daun. Kalau udah selesai, Mama tinggal datang bawa pengki. Sapu-sapu dikit, masukin ke tempat sampah, udah deh. You’re very helpful, Baby.

Baby belum bisa lepas dari ASI. Frekuensinya sih udah berkurang, tinggal malam hari saja. Baby perlu Mama supaya bisa tidur lelap. Radarnya setiap pagi selalu nyala setiap kali Mama bangun. Baby pasti langsung membuka mata begitu Mama menjauh dengan membawa sandal dan kacamata. Sensornya otomatis nyala, sensor yang merasakan kehangatan Mama di sampingnya.

Selamat ulang tahun + hari, Baby. Semoga kamu sebentar lagi bisa ngomong lebih banyak, nyanyi lebih sering, dan teriak lebih jarang. Thank you for being the sun of our days. ☀️💛