Memaknai Bahwa Hidup Adalah Pilihan

Hidup adalah pilihan.

Frase ini sering sekali kita dengar, tapi apakah kita mengerti betul maknanya?

Malam ini saya dan keluarga diundang makan malam di rumah seorang teman dekat saya. Kami berkenalan satu tahun lalu waktu kedua anak bungsu kami satu kelas di sekolah. Benar kata orang, berteman itu seperti menemukan frekuensi radio. Tanpa banyak basa-basi kami berdua langsung cocok dan sering bertemu di sekolah dan pada akhir pekan.

Teman saya ini seorang yang berkepribadian kuat, tapi kekaguman saya terhadap dia baru mencapai puncaknya hari ini.

Dia seorang istri yang sehari-hari bekerja di pabrik. Dia mengurus kedua anaknya dengan telaten dan sepenuh hati, selalu menyempatkan diri untuk mengantar-jemput sendiri anaknya ke dan dari sekolah, tahu betul apa yang dipelajari anak-anaknya di sekolah. Dia beberapa kali diperdaya oleh asisten rumah tangga padahal hatinya sangat baik dan tidak pernah segan membantu orang lain dalam hal perhatian dan uang, sampai akhirnya dia bertahan dengan satu orang asisten saja untuk mengurus rumah. Dia sabar luar biasa dalam menghadapi tekanan. Dia memegang prinsip bahwa kesusahan akan selalu ada tapi tidak boleh berlama-lama diam dalam kesusahan. Dalam setiap kesusahan dia akan cepat bangkit untuk menemukan jalan keluar; solusi di depan lebih penting daripada berkeluh-kesah sekarang.

Hidup teman saya ini penuh dengan tantangan tapi dia selalu bisa tersenyum dalam menghadapi setiap badai. Selama hampir dua tahun mengenalnya saya hanya satu kali melihatnya menitikkan air mata karena stres, padahal saya kalau curhat ke teman perempuan pasti sudah menangis bombay kalau lagi kalut banget, haha. Dia bisa menceritakan masalah-masalahnya yang sudah lewat ataupun yang masih terjadi dengan sikap santai dan can do spirit yang luar biasa. Dia yakin semua kesulitan pasti akan berlalu dan dia selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk orang-orang di sekitarnya.

Saya tahu pasti kalau saya ada di posisi dia, memegang peranan-peranan yang dia pegang sebagai istri, ibu, dan karyawan di kantor, saya akan remuk-redam.

Saya tidak bisa membayangkan bekerja penuh waktu di kantor sambil tetap memonitor perkembangan anak-anak di sekolah dan mempercayai seorang ART untuk menjaga anak-anak selama saya bekerja. Saya tidak berpengalaman mengurus anak dan saya tahu saya tidak bisa mempercayakan anak saya pada pengasuh/pembantu, sehingga saya langsung mengundurkan diri dari perusahaan setelah melahirkan anak pertama delapan tahun lalu, dan tidak kembali lagi ke dunia korporasi sampai sekarang. Saya mempunyai standar kebersihan yang tinggi dan sedari saya kecil dan masih tinggal bersama orang tua saya kurang mempercayai hasil bersih-bersih seorang ART. Menjadi ibu rumah tangga adalah pilihan yang tepat untuk saya dulu dan saat ini karena saya bisa memfokuskan pikiran dan energi pada hal-hal yang paling penting, yaitu: suami, anak-anak, dan rumah.

Sewaktu saya masih bekerja di perusahaan saya sering membawa masalah di tempat kerja ke rumah. Mengartikulasikan emosi negatif (kemarahan, kekecewaan, kekesalan, kesedihan, dan sejenisnya) secara verbal dan tepat tanpa berujung pada melampiaskan emosi secara searah pada orang yang tidak tahu apa-apa selalu menjadi tantangan buat saya. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana kalau saya bekerja di kantor dengan segudang masalah dan pulang ke rumah untuk menemui segudang masalah lain dengan anak-anak dan ART. Pasti ujung-ujungnya saya bisa meledak karena tekanan yang berat dari dua buah hal yang menjadi tanggung jawab saya.

Tapi teman saya ini tidak. Dia tidak remuk di bawah tekanan; dia mengambil sisi positif dari setiap masalah yang dia hadapi untuk menjadikan dirinya lebih kuat dan tangguh.

Malam ini dia mengajari saya tentang memaknai hidup itu adalah masalah pilihan.

Dia bisa memilih tidak bekerja di kantor dan hanya mengurus rumah tangga, tapi dia memilih untuk tetap bekerja, membagi dirinya dengan orang-orang selain keluarganya, menerima tugas dan tanggung jawab baru, menyelesaikan setiap tugas, dan bersukacita atas pencapaian-pencapaian kecil dan besar. Saat ada banyak masalah di tempat kerja, dia memilih untuk bertahan dan menghadapi masalah-masalah itu. Dia tidak pernah berpikir untuk cepat-cepat mencari pekerjaan di perusahaan lain. “Saya memilih untuk tetap berada di perusahaan ini, jadi setiap masalah yang saya temui adalah bagian dari pilihan saya,” begitu katanya pada saya. Bertolak-belakang sekali dengan sikap banyak orang yang saya tahu yang cepat-cepat resign jika tidak cocok dengan bosnya.

Dia bisa memilih memiliki lebih dari satu asisten rumah tangga untuk membuat pekerjaannya di rumah lebih mudah, tapi dia bertahan dengan satu orang ART saja yang sudah ikut dia bertahun-tahun. Tentu saja dia jadi harus ikut ambil bagian dalam setiap pekerjaan rumah tangga, seperti: mencuci pakaian dan memasak, tapi dia lakukan semuanya tanpa mengeluh. Dia bangun sangat pagi, membereskan semua keperluan suami dan anak-anaknya, mengantar anak-anak ke sekolah, dan kembali ke rumah untuk membereskan pekerjaan rumah sebelum akhirnya dia berangkat ke kantor. Tugasnya begitu banyak dan tekadnya begitu kuat untuk menyelesaikan semuanya dengan sebaik-baiknya.

Saat anaknya kena suatu penyakit yang membuatnya harus mengubah drastis gaya hidup dan pola makan seluruh anggota keluarga, dia melakukannya dengan sigap. Dia membaca banyak buku, mengikuti kursus-kursus, berkonsultasi dengan banyak ahli dan praktisi kesehatan, belajar memasak sendiri makanan-makanan yang selama ini bisa dibeli dengan mudah di restoran. Untuk saya yang tidak pernah suka memasak, hal ini luar biasa. Saya tidak bisa membayangkan diri saya membuat roti sendiri, saus spaghetti sendiri, dan es krim sendiri. Makanan di luar rumah begitu bervariasi dan begitu mudah diakses sehingga saya hampir tidak pernah terpikir untuk membuat sendiri apa yang saya bisa beli. Dari dia saya jadi belajar tentang makanan organik, tentang eating clean, dan tentang memperbaiki gaya hidup untuk menjalani hidup dengan lebih sehat. Dia bisa memilih untuk membeli saja produk makanan organik, tapi dia memilih untuk belajar membuat semuanya sendiri demi kesehatan seluruh anggota keluarganya. Termasuk untuk menanam sayur-mayur sendiri di halaman rumahnya. Memang dia tidak pernah berhenti menginspirasi saya.

Waktu dia, dan saya, merasa lelah dengan semua kewajiban dan rutinitas, kami sering berandai-andai sedang bersantai di pantai, tidur siang, minum jus kelapa muda, dan tidak melakukan apa-apa selama sehari penuh. Sebuah khayalan yang sangat menyenangkan dan ingin saya wujudkan untuk dia. Saya rasa teman saya ini yang sangat tabah, bijak memilih, dan sabar menghadapi setiap konsekuensi dari setiap pilihannya sangat pantas mendapatkan itu.

Advertisements

Mempertanyakan Kelogisan Cerita Drama Korea

Drama Korea pertama yang saya tonton adalah ‘Endless Love’ (2001) yang dibintangi oleh Song Hye Kyo dan Won Bin. Drama ini begitu menyedihkan, getir, melankolis, dan bikin patah hati, tapi saya tetap menontonnya karena tampang para pemainnya yang cakep dan cantik (waktu itu Won Bin belum operasi plastik dan Song Hye Kyo sudah terlihat kinclong seperti sekarang), dan kemampuan akting mereka yang sangat meyakinkan. Teman-teman kuliah saya pada waktu itu sudah memperingatkan kalau menonton drama Korea itu bikin ketagihan. Nasihat itu membuat saya menahan diri untuk tidak selalu mengikuti setiap episode yang ditayangkan, walaupun saya selalu mendapat spoiler dari teman-teman yang juga mengidolakan Won Bin, hehe.

Setelah drama tersebut saya secara kebetulan menonton drama ‘Full House’ (2004) yang dibintangi oleh (lagi-lagi) Song Hye Kyo dan Rain, karena teman-teman saya di lab di kampus berulang-ulang memutar lagu-lagu Original Sound Track (OST) dari drama ini. Terkadang saya menontonnya kalau saya ada waktu, tapi saya tidak suka dengan plot ceritanya. Permulaan cerita dari drama ini sudah tidak masuk akal. Bagaimana mungkin seseorang (karakter yang bernama Han Ji Eun (Song Hye Kyo)) membiarkan rumahnya dijual oleh temannya tanpa sepengetahuan dirinya, dan dia tidak begitu marah pada temannya itu? Teman sih teman, tapi kalau hal ini terjadi pada saya pasti saya sudah melibatkan polisi! Lalu, bagaimana mungkin dua orang jatuh cinta hanya karena mereka tinggal di dalam satu rumah walaupun mereka selalu bertengkar setiap kali mereka bertemu? Kata teman saya, mungkin perasaan cinta itu tumbuh karena mereka sudah terbiasa dengan keberadaan masing-masing karena mereka tinggal di bawah satu atap, jadi perasaan cinta tumbuh karena adanya teman yang secara konstan berada di sekelilingmu. Komentar saya pada waktu itu adalah, perasaan yang tumbuh dengan cara seperti itu patut dicurigai sebagai cinta. Mungkin saja karakter dramanya hanya merasa kesepian dan kemudian jadi jatuh cinta karena sudah terbiasa berinteraksi dengan orang yang sama. Kalau kata orang Jawa: witing tresno jalaran soko kulino, yang artinya cinta tumbuh karena terbiasa.

Dua belas tahun berlalu dan saya mulai menonton lagi drama Korea tahun lalu karena dibujuk oleh teman saya. Drama yang saya tonton adalah ‘Descendants of The Sun’ yang dibintangi oleh Song Joong Ki dan (lagi-lagi) Song Hye Kyo. Saya langsung jatuh cinta pada plot cerita dan pada aktor-aktornya (terutama aktor utama, haha), dan saya ikut bahagia waktu Song Joong Ki dan Song Hye Kyo menikah pada bulan Oktober lalu. Setelah menonton DOTS saya mulai menonton drama-drama dari tahun-tahun sebelumnya untuk menemani kegiatan rutin saya menyetrika baju. Waktu itu saya sudah tidak mengikuti industri film/drama di Korea jadi saya tidak tahu drama mana yang layak ditonton dan aktor mana yang aktingnya bagus. Saya juga tidak membaca review-review yang beredar di internet supaya saya punya pandangan objektif terhadap suatu drama. Akhirnya saya mulai dengan menonton drama-drama yang dibintangi oleh Lee Min Ho, hanya karena saya melihat wajah dia terpampang di iklan sebuah produk kopi instan dari  Indonesia.

Drama-drama pertama yang dibintangi Lee Min Ho (LMH) yang saya tonton adalah ‘Personal Taste’ (2010) dan ‘City Hunter’ (2011), dan seusai menontonnya perasaan dan pendapat saya campur-aduk. Drama yang berjudul ‘Personal Taste’ didasari oleh cerita yang ringan dan sederhana, tentang LMH yang berpura-pura menjadi gay supaya diperbolehkan tinggal di dalam sebuah rumah tradisional Korea yang dimiliki dan didiami oleh seorang wanita muda dan single. Pada akhirnya karakter yang diperankan LMH jatuh cinta pada induk semangnya.

Perhatikan ide utamanya ya; karakter-karakter dalam drama ini tinggal di bawah satu atap pada satu periode waktu untuk memungkinkan mereka saling jatuh cinta. Sayangnya ide utama ini diulang di dalam drama LMH yang berikutnya yaitu ‘City Hunter’, tapi dengan pelintiran plot yang lebih absurd. Di drama ini LMH membeli rumah dari rekan kerjanya yang miskin-tapi-cantik-banget untuk membantu si rekan kerja membayar tagihan rumah sakit ayahnya yang sedang mengalami koma. Akan tetapiiiiii …, berhubung si rekan kerja yang miskin-tapi-cantik-banget itu tidak punya tempat tinggal lain selain rumah yang dia baru jual, akhirnya LMH mengajak si rekan kerja untuk tinggal bersama saja (walaupun sebenarnya LMH sudah punya rumah sendiri). Akhir dari plot seperti ini sudah bisa ditebak ya, LMH jatuh cinta pada teman serumahnya. Dan ide cerita beserta plotnya diulang kembali tanpa malu oleh drama terakhir yang dibintangi LMH sebelum dia pergi wajib militer pada tahun 2016 yang berjudul ‘The Legend of The Blue Sea’.

Saya mengamati dan merenungkan kelogisan cerita drama Korea baru dari tiga drama yang dibintangi Lee Min Ho, seorang bintang Korea (film, drama, iklan) yang katanya sangat terkenal. Kalau saya menonton lebih banyak lagi drama yang dibintangi oleh aktor-aktor lain, mungkin akan ada pengulangan ide dan plot cerita seperti di dalam drama-drama yang dibintangi Lee Min Ho.

Pada akhirnya saya jadi bertanya-tanya:

  1. Kenapa orang berpikir kalau cara tercepat untuk jatuh cinta adalah dengan cara tinggal di bawah satu atap?

Beneran deh, KENAPA? Waktu sedang mengobrol ngalor-ngidul tentang topik ini, seorang teman saya berkata, bagaimana mungkin tidak jatuh cinta kalau teman serumah kita seganteng Lee Min Ho? Saya tertawa lebar sambil bilang, bisa jadi, tapi sering kali kita tidak bisa memilih tampang orang-orang yang harus/memilih tinggal satu rumah dengan kita. Tinggal bersama orang lain di dalam suatu ruang dan waktu perlu trik tersendiri; bentrokan kepribadian dan kebiasaan kemungkinan besar akan terjadi tanpa memandang jenis kelamin maupun kecakepan/kecantikan teman serumah. Kita lebih bisa mentolerir bentrokan kalau kita tinggal dengan anggota keluarga karena ada hubungan darah dan keterbatasan pilihan, tapi tinggal dengan anggota keluarga besar atau bahkan orang asing tentunya lebih rumit dan lebih menantang. Contohnya saya, saya seorang penyendiri dan perlu ruang privat. Sebisa mungkin saya tidak berbagi kamar tidur dengan orang lain, dan saya tidak terlalu suka kalau ada orang-orang selain anggota keluarga inti berkeliaran di rumah saya.

Tiga belas tahun lalu saya tinggal dalam satu apartemen dengan seorang teman kuliah selama enam bulan dan rasanya seperti neraka. Kami datang dari latar belakang yang berbeda dan memiliki karakter dan kebiasaan yang juga berbeda jauh. Teman itu berasal dari keluarga kaya-raya pemilik ladang minyak di Iran. Dia selalu punya seorang asisten pribadi yang menemani dan mengurus kebutuhannya. Dia tidak pernah membersihkan apa pun seumur hidupnya sebelum dia tinggal di apartemen yang sama dengan saya. Sedangkan saya sudah terbiasa membersihkan dan membereskan rumah karena keluarga saya berhenti mempekerjakan pembantu begitu saya beranjak usia delapan tahun.

Saya dan dia berdebat soal banyak hal kecil, seperti: 1) pembalut wanita bekas pakai yang “ketinggalan” di kamar mandi (tebak deh itu punya siapa), 2) remah-remah roti atau makanan apa pun yang selalu “ketinggalan” di meja setiap kali dia selesai makan (dan tidak pernah dibersihkan walaupun saya sudah berulang kali minta tolong), dan banyak hal lainnya.

Tinggal bersama orang lain itu seperti berjudi. Kalau kita menemukan teman serumah yang bisa selaras dengan kita, rasanya seperti dapat jackpot dan kita semua bisa hidup bahagia selamanya. Tapi kalau karakter dan kebiasaan kita sering bentrok, lama-kelamaan kita akan lelah untuk selalu bersikap toleran dan pengertian. Bahkan tampang cakep/cantik teman serumahmu tidak bisa mencegahmu untuk muntah jika melihat wajahnya karena banyak hal dari dirinya yang membuat kamu sebal!

Memang benar, tinggal serumah dengan pria cakep (seperti di dalam drama-drama Korea) bisa membuat hati bergetar dan akhirnya jatuh cinta. Namun akankah degup itu tetap ada kalau si pria cakep suka mengupil di meja makan, tidak pernah mau mencuci piring yang dia pakai, selalu menyalakan AC padahal dia sudah meninggalkan rumah dan membuat tagihan listrik membengkak tak karuan? Kalau saya sih, mustahil untuk menyukai atau jatuh cinta pada teman serumah seperti itu, SECAKEP APAPUN DIA. Jatuh cinta pada teman serumah adalah ide yang kelewat romantis dan tidak masuk akal yang hanya cocok untuk cerita dongeng, yah seperti cerita drama Korea.

 

  1. Waktu karakter-karakter drama berciuman untuk pertama kalinya.

Mereka yang sering menonton drama Korea pasti bisa menebak klimaks dari jumlah episode yang umumnya dimiliki oleh sebuah drama (16 atau 20 episode). Jika drama itu memiliki 16 episode, nantikan pengakuan perasaan cinta dan ciuman pertama pada episode ke-7 dan ke-8. Jika drama itu memiliki 20 episode, nantikan pengakuan perasaan cinta dan ciuman pertama pada episode ke-9 dan ke-10. Nah, bicara tentang ciuman pertama, mungkin tidak dalam kehidupan nyata untuk mencium atau dicium oleh gebetan walaupun belum resmi berpacaran?

Dalam cerita drama Korea, karakter-karakternya sedang dalam tahap pendekatan untuk mengenal satu sama lain lebih jauh dan belum resmi berpacaran. Pantaskah mencium untuk menunjukkan rasa sayang tapi tidak (atau belum) ada kepastian hubungan apa yang sedang dijalani? Pertemanan kah atau pacaran kah? Apa si pria kira semua wanita gampangan?

Tapi eh tapi, ciuman pertama seperti di dalam drama-drama Korea kan romantis, bikin hati bergetar dan berbunga-bunga, kata teman saya. Kalau itu terjadi pada kamu apakah kamu akan diam saja, saya tanya balik. Ciumannya mungkin terasa mendebarkan, tapi coba bayangkan pria itu secara serampangan melakukan hal yang sama pada wanita-wanita lain, termasuk dirimu, karena dia tidak menjanjikan atau berkomitmen apapun pada wanita manapun.

Saya memang masih kolot; menurut saya menunjukkan kasih sayang, entah itu lewat pelukan atau ciuman, harus diawali dengan deklarasi komitmen dari kedua belah pihak. Tanpa komitmen, hubungan yang lebih dari pertemanan tapi belum mencapai pacaran itu akan terlihat seperti main-main tanpa keseriusan dan kesetiaan.

 

Sampai saat ini saya masih menonton drama-drama Korea yang sedang tayang atau yang sudah tayang beberapa tahun lalu sebagai hiburan saat menyetrika baju. Terkadang memang jalan ceritanya (yang tidak melibatkan romansa) sangat menarik, membuat berpikir, dan yang pasti tidak seperti cerita di sinetron-sinetron Indonesia.

Ngomong-ngomong, saya jadi ingin tahu pendapat lain dari sesama pecinta drama Korea, hehe.

 

Justice League dan Film Superhero yang Basi

Hobi mama saya adalah menonton film di bioskop dan hobi itu dijalankan dengan tekun sewaktu beliau mengandung saya. Seumur hidup saya jadi suka menonton film, di televisi maupun di bioskop, dan hobi itu saya tuaikan sepenuh hati juga waktu mengandung anak pertama dan kedua. Mama saya sudah mengajak menonton sejak akhir pekan lalu, dan kemarin saya cek film Justice League tayang perdana jam 11.30 di Cinemaxx terdekat (pas dengan jam anak-anak sekolah), jadi kami pun cuss meluncur ke sana.

Film ini sudah saya tunggu-tunggu sejak tahun lalu karena ada 3 tokoh baru: The Flash, Cyborg, dan Aquaman. Tapi sejak saya menonton Wonder Woman di pertengahan tahun ini saya jadi pesimis apakah filmnya akan sebagus dan segelap Batmas vs. Superman yang notabene lebih menyegarkan untuk penonton dewasa dibandingkan film-film superhero standar buatan Marvel. Sebelum menonton film ini saya sudah menebak: banyak tokoh = banyak plot cerita = kemungkinan besar satu plot tidak digarap secara detail = perasaan tidak puas seusai menonton; dan ternyata tebakan saya ini bener banget.

Seperti saya tulis di post sebelumnya setiap cerita fiksi punya tujuan akhir/pertanyaan besar yang harus dijawab, dan saya sungguh bingung dengan tujuan akhir/pertanyaan besar dari film ini. Apakah untuk:

  1. memusnahkan Steppenwolf?
  2. menjaga 3 kotak supaya tetap terpisah?
  3. menghidupkan Superman kembali?

Lagi-lagi saya dibikin terkesima dengan ketidaklogisan ide cerita dan cara berpikir hampir semua film superhero. Mengenai tiga kotak yang harus dipisahkan supaya bumi tetap aman-tenteram, bah ide itu tidak baru sama sekali dan sudah dipakai oleh banyak sekali film pendahulunya, seperti Transformers: The Last Knight dan The Mummy versi Tom Cruise dari tahun ini saja. Dan setiap kali selesai menonton film-film yang memakai ide/tema ini, kening saya berkerut seribu kali lebih banyak karena saya jadi bertanya-tanya: yang sebenarnya dewa yang punya sifat ketuhanan yang tidak terbatas itu siapa sih? Karena di dalam semua film itu ada manusia-manusia yang berjuang supaya si dewa-dewa jahat itu tidak merusak bumi, dengan cara memisahkan kotak, menyembunyikan pedang, dll. dsb. Kalau memang yang disebut dewa itu begitu kuat dan berkuasa, pasti semua usaha manusia untuk memberantas dewa dan niat jahat mereka bisa digagalkan dengan mudah, bukan? Nyatanya, seperti di dalam film Transformers dewi pencipta planet Cybertron pun bisa dikalahkan oleh Optimus Prime dan gengnya. Jadi sifat kedewian dan ketuhanannya ada di mana? Dewa-dewa di film superhero sama saja levelnya dengan manusia biasa. Ide basi dan membosankan begini kok digarap berkali-kali?

Dan pertanyaan kedua adalah: apakah bumi hanya berpusat di Amerika Serikat dan ras kaukasia (dan sedikit ras negroid untuk mewakili orang Afrika-Amerika yang berdiam di U.S.A.)? Karena setiap kali superhero bilang ‘We have to save the world’ saya jadi sebel. Huh, dunia? Dunia yang mana? Dunia yang isinya cuma U.S.A.? Terus, kamu superhero ge-er banget berasa diangkat jadi polisi untuk menjaga perdamaian dunia (persis kelakuan U.S.A. di dunia nyata)? Bahkan selipan lokasi selain U.S.A. seperti Rusia di akhir film ‘Justice League’ ini tidak memberikan kesan bahwa yang terancam bukan cuma U.S.A. Dunia superhero memang cuma sebesar daun kelor yang bertempat di benua Amerika bagian utara.

Karakter-karakter baru di film Justice League sebenarnya menarik semua. Sebut saja Aquaman yang katanya berayah manusia dan beribu Ratu Atlanta. Walaupun dia kelihatan keren, gagah, khas superhero material, tapi latar belakang kehidupannya sebelum dia ditemukan oleh Bruce Wayne tidak dikupas mendalam. Adegan yang menurut saya menggantung banget adalah waktu dia kembali ke Atlantis dan meminta sesuatu dari penghuni Atlantis yang baru dikalahkan oleh Steppenwolf. Ternyata dia minta trisula, yang tidak dijelaskan apa fungsinya, dan bikin Aquaman tampil seperti Poseidon. Karakter The Flash/Barry Allen terlalu mengingatkan saya pada Spiderman/Peter Parker di dalam film ‘Spiderman: Homecoming’. Kemunculan Bruce Wayne di dalam hidup Barry Allen sama persis dengan kemunculan Tony Stark di dalam hidup Peter Parker: seorang kaya yang mengangkat seorang superhero muda dan belum berpengalaman untuk menjadi anggota tim dan anak didiknya. Banyaknya komentar aneh dan banyolan dari The Flash  (dan karakter lain) membuat saya bingung, ini film Marvel atau DC ya? Yah, inilah akibat dari pergantian sutradara di tengah proses pembuatan film, dari Zack Snyder yang sukses menggarap film-film DC yang gelap ke Joss Whedon yang sangat tipikal dengan film-film Marvel semacam The Avengers yang bisa ditonton tanpa perlu berpikir. Dialog dan leluconnya terlalu khas superhero Marvel: terlalu ringan, terlalu random, tanpa tujuan, dan selesai begitu saja.

Batman, Wonder Woman, Superman. Apa yang baru dari mereka? Walaupun sempat tersirat kalau Bruce/Batman naksir Diana/Wonder Woman, tapi “kemungkinan” itu tidak dieksplorasi lebih lanjut. Superman yang bangkit dari kubur pun tidak menunjukkan dendam yang gimana gitu sama Batman, angkara murkanya ditunjukkan sama ke semua anggota kelompok Batman. Kesedihan Lois Lane karena ditinggal mati Clark ditunjukkan sebentar banget, apalagi kegembiraan dan kelegaannya setelah dia mendapati Clark hidup kembali. Aghh … me want some romance there. Wonder Woman tetap jadi wanita yang cool dan sesekali bercanda dengan Cyborg dan menjadi penengah waktu Cyborg dan Aquaman bersitegang. Yang paling aneh adalah scene dimana Aquaman tiba-tiba curcol tentang perasaan dia yang sesungguhnya setelah bergabung dengan Justice League. Ternyata dia bisa curhat dengan jujur setelah ditali diam-diam oleh Wonder Woman. Ya elah, adegan apa sih itu? Tempelan banget. Tapi tidak ada yang mengalahkan kekonyolan scene paling paling akhir sebelum closing credits, dimana Superman dan The Flash berlomba lari (?) dengan taruhan mentraktir brunch untuk semua anggota Justice League. PENTING BANGET YA? Di situ saya berharap saya punya bazoka untuk melempar tomat ke layar.

Walaupun superhero-superhero itu punya senjata masing-masing, di tiga puluh menit terakhir kelihatan kalau senjata yang paling ampuh dan paling sering digunakan adalah tangan kosong. Yap, mulai dari Wonder Woman yang katanya sakti sampai Batman yang manusia biasa ujung-ujungnya pake bogem mentah. Mama saya terlalu lelah dengan semua adegan pertarungan itu sampai dia memutuskan untuk meninggalkan bioskop sejenak. Setelah film selesai saya tanya beliau apa menurutnya film ini bagus, kata mama saya dia bosan dengan film yang terlalu bergantung pada efek komputer dan CGI. Mama saya pengen menonton film yang layak ditonton karena ceritanya yang bagus dan bermakna. Ah, saya juga pengen menonton film seperti itu. Justice League menurut saya adalah penyia-nyiaan bakat dari seorang Ben Affleck. Saya tarik omongan saya kalau Affleck cocok jadi Batman; Affleck clueless sebagai Batman. Sayang sekali kemampuan akting dia yang bagus seperti di film Pearl Harbor dan Argo harus go down the drain gara-gara Batman. Saya belum pernah menonton film yang dibintangi Gal Gadot, tapi saya yakin dia cuma cocok sebagai Wonder Woman. Film lain yang dibintangi Henry Cavill (Superman) yang saya tonton adalah Man from U.N.C.L.E. (2015), sebuah film spionase dimana karakter Henry Cavill kelihatan sangat berkiblat pada James Bond (mungkin dia sedang mempersiapkan diri menjadi pengganti Daniel Craig, haha). Dan dalam film ini saya baru pertama kali melihat aktor-aktor yang memainkan karakter The Flash, Aquaman, dan Cyborg, jadi saya tidak bisa mengomentari kemampuan akting mereka.

Di perjalanan pulang mama saya bertanya apa yang berkesan dari film ini buat saya. Saya bilang: kok Batman gendut? Kok Superman punya bulu dada?

Jawaban saya kontan membuat mama saya terpingkal-pingkal; sebuah akhir yang menyenangkan dari kencan menonton film dadakan saya dan mama.

 

 

 

 

Masih Tentang Lee Jong Suk dan While You Were Sleeping

Setiap cerita fiksi pasti punya tujuan akhir yang harus dicapai atau pertanyaan besar yang harus dijawab di akhir cerita.

Setelah menonton 16 episode pertama dari total 32 episode drama Korea ‘While You Were Sleeping’ (review-nya bisa dilihat di sini), saya kira tujuan akhir/pertanyaan besar dari drama ini adalah Jae Chan dan Hong Joo yang bertemu kembali setelah satu hari yang tragis 13 tahun lalu yang merenggut nyawa kedua ayah mereka.

Saya kira saya salah.

Menurut saya tujuan akhir/pertanyaan besarnya terletak pada diri karakter Lee Yoo Beom, mantan jaksa yang menjadi pengacara dan banyak bersinggungan jalan dengan karakter Jae Chan yang diperankan Lee Jong Suk. Tapi … sebelum kita masuk ke bagian yang serius, kita bahas Lee Jong Suk dulu yuk.

Seperti yang saya tulis sebelumnya WYWS adalah drama pertama Lee Jong Suk yang saya tonton. Nah, karena saya cukup suka dengan aktingnya, akhirnya saya memutuskan untuk menonton drama lain yang dia bintangi. Pilihannya ada banyak, mulai dari ‘W: Two Worlds’ (2016), ‘Pinocchio’ (2014), ‘Doctor Stranger’ (2014), dan drama-drama lain sebelum 2014. Setelah membaca beberapa review di internet, saya akhirnya memilih menonton ‘W: Two Worlds’ dulu yang dibintangi Lee Jong Suk dan Han Hyo Joo.

Ide cerita drama ini menurut saya keren banget. Alkisah Kang Cheul (Lee Jong Suk) adalah tokoh dalam cerita webtoon yang berjudul ‘W’ yang digemari seantero Korea selama 10 tahun. Kang Cheul di dalam manghwa (komik) adalah seorang atlet tembak yang memenangkan medali emas di Olimpiade di usia 17 tahun. Nasibnya berubah setelah ayah, ibu, dan kedua adiknya dibunuh bersamaan di rumah mereka oleh seorang penembak misterius. Kang Cheul yang saat itu tidak berada di rumah pun ditangkap dan dituduh sebagai pelaku pembunuhan. Kang Cheul bersikeras kalau dia bukan pelakunya, namun jaksa penuntut yang ambisius dan suka perhatian publik pun bersikeras kalau Kang Cheul adalah dalang di balik semua tragedi itu. Kang Cheul dijebloskan ke penjara selama 1 tahun, dan setelah mengajukan banding dia akhirnya dinyatakan tidak bersalah. Hukum mengampuni dia, tapi tidak dengan masyarakat di sekitarnya. Kang Cheul kembali ke masyarakat dengan menyandang cap pembunuh, dan menghabiskan hari-harinya sendirian dan berusaha untuk menghindari orang lain. Pada satu malam, Kang Cheul memutuskan untuk bunuh diri dengan cara melompat dari Hangang Bridge, namun akhirnya dia berubah pikiran. Dia bertekad untuk hidup, menemukan pembunuh keluarganya, dan memastikan pembunuh yang sebenarnya mendapatkan hukuman yang setimpal.

Alur yang saya tulis di atas adalah setup yang diatur oleh penulis komik ‘W’ yang bernama Oh Sung Moo. Suatu hari, Oh Sung Moo menghilang padahal deadline untuk episode terbaru ‘W’ sudah di depan mata. Akhirnya asisten si komikus menghubungi Oh Yeon Joo, anak perempuan Oh Sung Moo yang berprofesi sebagai dokter, supaya dia bisa membantu menemukan ayahnya dan menyelesaikan komiknya. Oh Yeon Joo (Han Hyo Joo) datang ke rumah ayahnya, dan waktu dia sedang sendirian di ruang kerja ayahnya dia ditarik oleh tangan Kang Cheul yang secara ajaib keluar dari tablet yang dipakai oleh Oh Sung Moo untuk menggambar komik. Oh Yeon Joo pun “masuk” ke dalam manghwa dan mendapati Kang Cheul yang sedang sekarat karena ditusuk di atap sebuah hotel. Saat Kang Cheul mengalami pneumotoraks Oh Yeon Joo menyelamatkannya dengan cara menusuk dada Kang Cheul dengan pulpen. Kang Cheul sempat bertukar pandang dengan Oh Yeon Joo sebelum akhirnya dia pingsan dan diselamatkan oleh staf hotel dan paramediks. Saat hendak dimintai keterangan oleh polisi, tiba-tiba ada tulisan “Bersambung” muncul di dekat Oh Yeon Joo, seperti lazimnya episode sebuah komik yang ceritanya habis dan akan dilanjutkan di episode berikutnya. Sesudah itu Oh Yeon Joo secara misterius kembali ke dunianya di kota Seoul.

Akankah Kang Cheul bertemu kembali dengan Oh Yeon Joo? Bagaimana Oh Yeon Joo mengatasi dirinya yang bolak-balik terseret masuk ke dalam dunia komik yang didiami Kang Cheul? Kalau mau tahu lengkapnya, bisa tonton ‘W: Two Worlds’ di kissasian.ch dengan total 16 episode. Dijamin kamu akan suka dan sering bilang ‘daebak’ (bahasa Inggris: awesome – red) di tengah-tengah episode. Hehe.

Kembali ke WWYS (tapi belum membahas Lee Yoo Beom). Ada dua hal yang bikin ga sreg dari drama ini, yaitu:

  1. Lee Jong Suk dan Suzy tidak ada chemistry-nya.

Blas. Nada. Nihil. Asli ga keliatan rasa tertarik, deg-degan, dan jatuh cinta antara kedua karakter utama ini. Ga ada sama sekali. Mereka kan banyak mengalami peristiwa yang melibatkan pekerjaan Jae Chan sebagai jaksa, Hong Joo sebagai reporter, dan kadang-kadang juga Woo Tak sebagai polisi. Di situ mereka saling memperhatikan, saling mengkhawatirkan, dll, tapi tetep aja ga ada rasa ser-ser-nya. Hubungan mereka berdua itu lebih seperti sahabat yang jadi pacar, tapi tidak punya romansa. Padahal adegan kecup-kecupnya bisa dibilang banyak ya dibandingkan drama lain, cuma ekspresi wajah LJS dan Suzy tuh sama-sama ga meyakinkan. Dan setelah episode ke-16 Suzy tambah sering pasang tampang polos, gemesin, yang ujung-ujungnya jadi nyebelin. Ah, karakter wanita di drama yang paling oke menurut saya masih Kang Mo Yeon (diperankan oleh Song Hye Kyo di ‘Descendants of The Sun’). Kecup-kecup Jae Chan dan Hong Joo di bawah hujan setelah Hong Joo mengakui kalau dia ingat Jae Chan dari 13 tahun lalu pun tidak menggetarkan hati. Kayaknya salah banget LJS dipasangkan dengan Suzy. Saya bandingkan dengan chemistry LJS dengan HHJ di ‘W’, wah jauh banget. Sepanjang 16 episode saya tuh diseret dengan senang hati untuk merasakan perkembangan hubungan mereka dari sesama orang asing, penyelamat hidup, sempat saling membenci karena ada masalah dengan Oh Sung Moo (penulis komik ‘W’), sampai jatuh cinta, dan pura-pura menikah. Perasaan-perasaan mereka dipaparkan secara ekplisit dan implisit, dan konflik antara dunia nyata Oh Yeon Joo dan dunia komik Kang Cheul membuat perasaan-perasaan antara kedua tokoh utama ini jadi lebih gamblang dan lebih romantis. Karena LJS ga ada chemistry sama Suzy, untuk masalah pemeran wanita saya jadi lebih menyukai ‘W’ dibanding ‘WYWS’. Malahan yang lebih terasa deg-degannya adalah Woo Tak yang suka sebelah tangan pada Hong Joo. Adegan di mana Woo Tak memfoto bayangan dia dan Hong Joo cukup membuat hati saya sedih dan kasihan pada Woo Tak, karena saya lebih setuju Hong Joo sama Woo Tak daripada sama Jae Chan.

  1. Mr. Choi yang diselamatkan oleh Jae Chan dan Hong Joo 13 tahun lalu telat munculnya.

Telat banget-banget. Masak di enam episode terakhir baru ada petunjuk kalau Mr. Choi, investigator yang bekerja untuk Jae Chan, adalah kakak dari tentara yang membuat ayah Jae Chan dan Hong Joo terbunuh? Momen pengungkapan identitas Mr.Choi yang sebenarnya adalah saat dia datang menyelamatkan Jae Chan dan Hong Joo yang terperangkap api di rumah seorang tersangka yang mereka datangi. Saya jadi teringat teori Woo Tak tentang Jae Chan yang sering memimpikan Hong Joo dan dirinya sendiri yang sering memimpikan Jae Chan; orang yang hidupnya pernah diselamatkan oleh orang lain akan memimpikan penyelamat hidupnya itu. Karena Mr. Choi tidak bisa menjelaskan kenapa dia bisa tahu Jae Chan dan Hong Joo ada di rumah yang terbakar itu, saya langsung ngeh kalau Mr. Choi ada hubungannya dengan peristiwa 13 tahun lalu. Saya sangat suka dengan kemunculan Mr. Choi di semua kasus yang ditangani Jae Chan, jadi sayang banget kalau peran krusialnya cuma sedikit menjelang drama berakhir. Salah satu adegan yang sukses bikin saya menangis dan melibatkan Mr. Choi adalah saat Mr. Choi ditabrak oleh mobil Lee Yoo Beom. Di situ Jae Chan berlari dengan sekuat tenaga ke tempat kecelakaan dan menangis sesenggukan dengan sepenuh hati supaya Mr. Choi jangan mati. Akting Lee Jong Suk di situ bagus banget deh; saya pun jadi ikut menangis bersama dia, hehehe.

Sekarang tentang Lee Yoo Beom yang diperankan oleh Lee Sang Yeob. Di drama ini Lee Yoo Beom diceritakan sebagai seorang mantan jaksa yang beralih profesi menjadi seorang pengacara terkenal dengan bayaran mahal. Kepribadian Lee Yoo Beom yang licik dan tidak punya integritas sudah diceritakan sedikit demi sedikit, mulai dari kecelakan mobil yang membuat dia menjebak Hong Joo, masa lalunya yang pernah menipu Jae Chan dan keluarganya, dan tipikal klien yang dia tangani (semua kliennya di drama ini adalah orang-orang jahat dengan pelanggaran berat). Ada beberapa adegan di mana hati nurani Lee Yoo Beom terusik, misalnya: dia mencuci tangan sampai tangannya berdarah setelah dia bersalaman dengan seorang pembunuh saudara kandung untuk mendapatkan klaim asuransi. Jadi di sepanjang drama ada kelebatan petunjuk bahwa Lee Yoo Beom sebenarnya masih punya hati nurani. Namun hati nurani itu tidak bekerja lagi ketika kasus lama yang dia tangani kembali dibuka. Dalam kasus itu Lee Yoo Beom memalsukan barang bukti untuk menangkap seorang dokter yang bukan pembunuh sebenarnya. Kasus itu membuat dia diberi penghargaan sebagai jaksa berprestasi dan dokter itu divonis bersalah (di kemudian hari dokter itu memilih untuk bunuh diri di penjara). Anak si dokter adalah teman sekolah dari adik Jae Chan (kalau lihat drama Korea, kota Seoul yang gede itu kesannya cuma satu RT deh, semua muter di situ-situ aja, haha). Jae Chan pun berjanji untuk mengungkap kebenaran kasus itu walaupun ada kemungkinan Mr. Choi yang dia sangat sukai akan tersangkut masalah hukum. Lee Yoo Beom yang terdesak mulai kehilangan akal sehat dan melakukan serangkaian tindakan jahat. Dia membunuh pembunuh berantai sebenarnya dan terakhir dia menabrak Mr. Choi sampai meninggal. Waktu diinterogasi, Lee Yoo Beom bersikeras bahwa dia hanya sial makanya tertangkap, tapi Jae Chan bilang kalau pada dasarnya Lee Yoo Beom sudah berubah menjadi jahat dan menghalalkan segala cara untuk melindungi dirinya sendiri.

Saya kira itulah tujuan akhir/pertanyaan besar drama ini yaitu untuk menggambarkan jiwa Lee Yoo Beom yang terkorupsi oleh pamor, oleh jabatan, dan oleh uang. Entah kenapa melihat Lee Yoo Beom seperti melihat si om yang baru-baru ini menabrak tiang listrik. Apa si om pernah punya hati nurani dan rasa bersalah atas semua kejahatannya? Atau si om sudah mengabaikan hati nuraninya dan memakai semua cara supaya dirinya tetap aman? Semoga pengadilan bisa memberikan jawaban dalam waktu dekat.

Eh kok jadi curhat politik sih? Maaf, maaf, hehe.

PS: Kenapa saya pasang foto di atas? Karena menurut saya Lee Jong Suk sangat keren berperan sebagai jaksa dibandingkan sebagai profesi lain, haha.

Sebuah Cangkir Keramik dan Kebohongan yang Disengaja

Bulan lalu saya pergi ke Museum Seni Rupa dan Keramik di Kota Tua, Jakarta dengan teman saya untuk belajar membuat keramik. Teman saya sudah pernah ke sana dan berhasil membuat sebuah mangkok besar, sedangkan kali ini adalah kali pertama untuk saya. Di sana saya membuat dua buah cangkir untuk kedua anak saya dari satu kilogram tanah liat khusus. Waktu pembuatan sekitar satu jam dan cangkir dibawa pulang dalam keadaan basah. Cerita perjalanannya bisa diintip di sini.

Nah, karena cangkir yang dibawa pulang masih lembek, bapak yang mengajari saya membuat cangkir memberitahu saya supaya cangkir diangin-anginkan beberapa hari dengan cara ditaruh di tempat terbuka yang tidak mendapat sinar matahari langsung. Saya membawa pulang cangkir dengan kotak nasi Padang dan naik bis. Waktu turun dari bis, kotak yang saya pegang tersenggol orang di depan saya jadi cangkir agak penyok. Rasanya pengen banget nangis deh, tapi untung anak-anak masih antusias dengan cangkir handmade yang saya buat untuk mereka. Di rumah saya berusaha untuk meratakan bagian yang penyok, tapi apa daya, tanpa roda pemutar tanah liat permukaan cangkir mustahil dibentuk menjadi mulus lagi.

Kedua cangkir ini akhirnya kering setelah satu minggu saya letakkan di taman dalam rumah. Bentuk akhirnya berantakan, dengan banyak tanah liat yang mengelupas di sana-sini. Proses final pembuatan perabot dari tanah liat memang dengan cara pembakaran, yang sayangnya tidak dimiliki oleh museum ataupun saya. Saya taruh kedua cangkir ini di tempat yang sama selama satu minggu lagi untuk mendapatkan bentuk yang lebih kokoh.

Pada suatu hari Minggu pagi yang tenang, saya bangun dan mendapati handle salah satu cangkir sudah patah seperti di gambar di atas. Kontan saya bertanya: Siapa yang bikin ini? Siapa yang matahin handle cangkir? Wah kalau saya kira pelakunya akan segera mengaku, saya salah besar. Kedua anak saya datang dan sama-sama bilang: Ga tau. Bukan aku. Hmmm, mencurigakan. Tidak mungkin handle-nya patah sendiri karena tanah liat sudah mengeras setelah 2 minggu. Setelah interogasi selama beberapa menit, anak yang tidak sengaja mematahkan handle karena dia ingin mengamati ukiran namanya pada cangkir akhinya mengaku juga. Tapi …, tetap perlu waktu lho untuk membuat anaknya mengaku dengan embel-embel mamanya harus lebih dulu berjanji tidak akan marah besar dan akan memaafkan dia.

Saya jadi berpikir, kenapa ya manusia berbohong? Siapa yang mengajari kita? Kapan kita mulai melakukannya? Apa tujuan akhir kita?

Waktu saya kelas 1 SD saya pernah mencontek teman sebangku saya waktu ulangan Bahasa Sunda. Waktu itu saya duduk di dekat meja guru tapi saya entah kenapa berani melakukannya. Setelah itu guru saya memanggil saya dan bertanya, “Kamu tadi nyontek ya waktu ulangan?” Jawaban saya waktu itu otomatis adalah: tidak (padahal ibu guru pasti bisa melihat saya melakukan hal itu), hehe. Pada akhirnya saya kemudian mengakui perbuatan saya dengan penuh perasaan bersalah dan malu. Malu karena ketahuan atau malu karena menyesal sudah mencontek? Sepertinya waktu itu sih saya merasa malu karena ketahuan, bukan karena menyesal. Saya bersyukur waktu itu saya ketahuan mencontek dan ketahuan berbohong. Peristiwa itu membuat saya berusaha untuk tidak mencontek lagi seumur hidup (dengan beberapa kegagalan waktu mengerjakan ulangan waktu kelas 1 SMA, hiks.)

Kita berbohong untuk melindungi diri, betul kan? Kita pikir kalau fokus tudingan sudah beralih dari diri kita ke orang lain, maka kita aman, kita akan bebas dari sorotan. Terkadang kita tidak berpikir sebelum kita berbohong, tiba-tiba saja kebohongan itu sudah keluar dari mulut kita. Kita ingin mencari aman untuk reputasi kita, tapi sebenarnya kita merendahkan harga diri kita sendiri. Kebohongan tidak akan menyelesaikan masalah dan kebohongan akan diikuti dengan kebohongan-kebohongan lainnya. Kita bisa berkilah kalau kita ‘kepleset’ berbohong tentang suatu hal di suatu waktu, tapi jika kebohongan itu dibentuk, dipelihara, dan dibiarkan sedemikian rupa sampai akhirnya kita bingung mana yang benar dan mana yang bohong, sesungguhnya kita sedang membangun jalan menuju kehancuran diri kita sendiri.

Berbohong adalah salah satu perbuatan natural manusia yang dilakukan tanpa ada yang mengajari dan setiap orang mengucapkan kebohongan pertamanya pada usia yang berbeda-beda. Terlepas dari agama dan iman apapun yang beredar di bumi ini yang mengkategorikan berbohong sebagai perbuatan dosa, mengucapkan kebohongan termasuk pada pelanggaran nilai moral. Kebenaran adalah nilai moral yang universal, dan kebohongan adalah antitesa dari usaha manusia untuk menjadi pribadi yang berintegritas.

Sampai saat ini saya sudah bertemu banyak orang yang membangun kebohongan untuk menciptakan reputasi diri. Mengaku anak orang kaya, mengaku sering jalan-jalan ke luar negeri, mengaku punya pacar cakep, dll. Dan waktu mereka ketahuan, tiada ampun. Teman-teman hilang satu demi satu dan tidak ada lagi yang mempercayai mereka. Jika kebohongan sudah sistematis seperti itu, itu bukan lagi untuk melindungi diri, tapi ada faktor kejiwaan lain seperti kecenderungan narsisme (perasaan cinta berlebihan pada diri sendiri) dan sifat delusional.

Bagaimanakah mengajari anak-anak supaya tidak berbohong? Langkah pertama yang paling penting menurut saya adalah menciptakan kondisi di mana anak-anak merasa bebas bercerita apa saja pada orang tua. Waktu insting kita memberi peringatan bahwa ada sesuatu yang salah, upayakan untuk tetap tenang dan tidak bertanya dengan nada menuduh. Hal ini penting supaya anak tidak merasa tersudutkan. Efek domino dari perasaan tersudut jelas sekali bukan?

Ada hal yang salah –> orang tua bertanya dengan nada menuduh –> anak merasa tersudutkan –> anak berusaha melindungi diri –> anak berbohong –> orang tua tambah marah karena tahu anak sudah membohongi mereka.

Kalau orang tua tidak segera menanamkan kepada anak kalau berbohong itu salah, siklus di atas akan terus berulang dan sulit dipatahkan. Akibatnya diskusi menjadi buntu, dengan orang tua tetap merasa anak salah dan anak tetap merasa orang tua berlebihan. Tentu saja hal ini lebih indah secara teori dan sulit (bukan mustahil) untuk dilakukan. Jika orang tua tetap tenang, bertanya dengan nada netral, memberikan gelagat yang menandakan bahwa semua akan baik-baik saja, anak akan dengan rela bercerita dan tidak menyembunyikan apa pun dari orang tua. Tantangan pertama dan terberat adalah bagaimana memformulasikan pertanyaan yang bisa membuat anak merasa terbuka, bukan bagaimana membuat anak cepat-cepat mengakui kesalahan mereka.

Kembali pada kasus cangkir keramik yang pecah tadi. Saya belum mencapai level nada suara dan pertanyaan yang cukup untuk membuat anak nyaman bercerita, tapi saya berusaha untuk menuju ke sana. Saya melihat mekanisme melindungi diri ini semakin kuat seiring dengan pertambahan usia, dan tambah besar anak akan tambah mudah berbohong, apalagi jika tidak ada yang pernah menegur dan memberi tahu kalau berbohong itu salah. Orang tua perlu mendampingi supaya anak tetap menjadi pribadi yang jujur di setiap waktu, di segala kesempatan. Ciptakan suasana yang kondusif untuk anak-anak bercerita, dan jika kebohongan sudah terlanjur diucapkan, ajak anak untuk mendiskusikan hal apa yang salah dan harus diperbaiki. Tentu saja kita sebagai orang tua harus memberikan contoh terlebih dahulu,karena anak-anak bisa merasakan lho kalau kita tidak sedang berkata yang sebenarnya.

Kebohongan bisa dimulai dari ketidaksengajaan karena ada intuisi untuk melindungi diri. Jika terus ditolerir dan diabaikan, lama-kelamaan kebohongan bisa menjadi suatu keahlian yang dipakai dengan sengaja untuk menguntungkan diri sendiri dan merugikan orang lain.

Kita sebagai orang tua adalah guru sepanjang hayat kita untuk mengikis sifat/kebiasaan buruk ini dari dalam diri kita sendiri dan dari dalam diri anak-anak kita.

Mengapa Wanita Itu Tidak Mengenakan Bra?

Pada tahun 2012 kami tinggal di Swis untuk beberapa waktu dan kami berkesempatan merasakan musim semi, musim panas, dan musim gugur di sana. Ketika cuaca mulai hangat, orang-orang akan menanggalkan pakaian tebal dan mengenakan pakaian yang lebih tipis. Pada suatu hari Sabtu sore di bulan Agustus, saya berdiri di sebelah seorang wanita paruh-baya di halte sambil menunggu bus yang akan membawa saya pulang. Wanita itu terlihat biasa meskipun dia tidak mengenakan bra.

Reaksi saya ketika itu adalah cepat-cepat mengalihkan pandangan saya karena saya tidak merasa nyaman dengan apa yang saya lihat. Anehnya, orang-orang di sekitar saya yang melihat hal yang sama bersikap biasa saja, seperti tidak ada hal yang aneh atau mengejutkan. Bahkan teman pria si wanita itu yang sedang mengobrol dengannya tidak memelototi wanita itu. Orang-orang di sekitar kami tidak mengamati wanita itu seakan-akan dia telah berbuat sesuatu yang salah. Hal ini membuat saya menyadari perbedaan nilai-nilai, norma-norma, dan kebiasaan-kebiasaan di setiap negara dan kebudayaan. Saya berandai-andai, jika wanita yang tidak mengenakan bra itu berada di Indonesia, pelecehan dan kekerasan seperti apakah yang dia mungkin alami?

Setiap manusia adalah makhluk individu yang merupakan bagian dari lingkungan sosial. Sebagai makhluk sosial, setiap orang diminta untuk mengikuti norma, perilaku, dan nilai tertentu. Ketidakmampuan untuk mengikuti aturan kelompok akan membuat seseorang diasingkan oleh kelompoknya. Sejak dahulu kala setiap manusia selalu berusaha mencari orang yang punya kesamaan dengan dirinya. Manusia memasukkan banyak faktor untuk menyamakan dirinya dengan orang lain: ras, agama, status sosial, pendidikan, dan seterusnya. Bentrokan antara kelompok sosial terjadi karena kurangnya dua faktor: penerimaan dan rasa hormat terhadap orang lain.

Manusia harus menerima kalau kesamaan dengan orang lain adalah suatu konsep yang tidak real dan tidak jelas tujuannya. Jika kita menempatkan ras sebagai faktor pemersatu kita dengan orang lain, banyak penelitian telah menunjukkan bahwa tidak ada ras yang murni di dunia sekarang ini. Siapakah yang bisa disebut sebagai ras Indonesia murni, ras India murni, ras Korea murni? Ujung dari terbentuknya suatu identitas ras adalah terbentuknya suatu identitas bangsa. Satu atau lebih ras setuju untuk membangun suatu negara dan bangsa, dan untuk menempati lokasi geografis tertentu. Pertanyaannya adalah, siapa yang bisa menjamin kalau semua penduduk negara itu berasal dari satu ras murni? Tidak seorang pun. Bangsa dan wilayah kependudukan saat ini dibangun berdasarkan kesepakatan. Dan kesepakatan itu adalah hasil dari kemampuan untuk menerima dan menghormati orang lain.

Para pendiri suatu bangsa menerima bahwa ada perbedaan di antara orang-orang yang mendirikan bangsa itu. Secara fisik, tidak ada seorang pun yang identik seratus persen dengan orang lain. Warna rambut, kulit, dan mata yang berbeda-beda jelas-jelas menunjukkan hal ini. Para pendiri suatu bangsa menerima dan menghormati fakta ini. Seumpama agama dan ideologi dipakai sebagai faktor pemersatu suatu bangsa, kita semua tahu kalau iman adalah hal yang berbeda sama sekali dengan agama.

Iman bicara tentang pengalaman pribadi dan harapan. Agama bicara tentang sekelompok orang yang punya kesamaan pandangan dan kepercayaan. Agama adalah suatu bentuk pengelompokan dalam kehidupan sosial, dan kelompok ini sebaiknya juga mengikuti prinsip menerima dan menghormati kelompok sosial lain. Kita menerima kalau ada orang-orang yang mempercayai hal yang berbeda dengan yang kita percayai. Kita menghormati apapun yang mereka percayai.

Mungkin kita tidak setuju dengan hal yang mereka percayai, tapi siapakah kita yang bisa menghakimi kalau kepercayaan mereka adalah benar atau salah? Mengapa pemahaman saya akan surga dan neraka (berdasarkan iman saya) menjadi urusan orang lain? Mengapa pemahaman mereka akan surga dan neraka (berdasarkan iman mereka) menjadi urusan saya? Seharusnya itu menjadi urusan masing-masing orang, karena kita semua diciptakan dan bisa memilih untuk menjadi berbeda antara satu dengan yang lainnya. Kita menerima dan menghormati fakta bahwa kita berbeda.

Kembali kepada wanita paruh-baya yang saya lihat tidak mengenakan bra di sebuah halte bus.

Latar belakang saya yang berasal dari Timur dan negara yang (seharusnya) religius membuat saya berpikir kalau tindakan wanita itu tidak sopan. Saya terus bertanya pada diri sendiri saya? Mengapa ya dia melakukan hal itu? Mengapa ya dia tidak mengenakan bra? Mengapa ya dia tidak menutupi dirinya dengan pakaian yang sopan? Bukankah bra dibuat untuk kenyamanan tubuh wanita dan untuk menjunjung nilai-nilai kepatutan? Seandainya pertanyaan-pertanyaan yang berkelebat di benak saya saat itu saya tanyakan kepada wanita paruh-baya tersebut, kira-kira bagaimana dia akan bereaksi? Dia mungkin berargumen bahwa menurutnya cuaca cukup hangat untuk mengenakan pakaian yang tipis (atau tidak mengenakan pakaian dalam, atau apapun).

Dia mungkin tidak punya maksud untuk membuat orang lain resah, risih, atau tersinggung. Cara berpakaiannya (termasuk keputusannya untuk tidak mengenakan bra) hanyalah sebuah wujud dari pilihan dan selera pribadinya, yang dia rasa dia tidak perlu jelaskan pada orang lain. Mengapa pula pilihan dan selera pribadi dari seseorang yang saya tidak kenal sama sekali dan mungkin tidak akan saya lihat lagi, akan saya biarkan mengusik ketenangan hati saya? Seharusnya tidak kan?

Saya jadi teringat perkataan seorang teman saya waktu saya masih sekolah di Tokyo. Orang-orang dari Timur seringkali melihat orang-orang dari Barat sebagai terlalu liberal karena mereka berpandangan terbuka terhadap hal-hal seperti pilihan untuk tidak mengenakan pakaian dalam. Orang-orang dari Barat tidak repot mengurusi hal kecil seperti kode berpakaian dan hal lain yang bersifat fisik, karena penampilan luar seseorang bisa jadi hanya merupakan produk pencitraan dan ilusi semata. Kita bisa benar-benar mengenal seseorang saat kita berusaha menjalin percakapan untuk mengenal karakter dan kepribadiannya.

Orang-orang yang memiliki tato dan tindikan, atau mengenakan bikini seharusnya tidak dinilai berdasarkan penampilan fisiknya; apa yang keluar dari mulut orang itu adalah jauh lebih penting. Waktu teman saya di Tokyo menegur saya tentang hal itu, saya hanya bisa mengangguk walaupun saya tidak setuju. Saya ingat kalau saya beberapa kali masih mengeluh di depan dia, mengapa orang ini dan itu mengenakan/tidak mengenakan ini dan itu. Sampai suatu saat, teman saya itu menegur saya dengan keras dengan berkata: kamu harus mengurusi urusanmu sendiri.

Urus urusanmu sendiri.

Terima dan hargai orang lain.

Saya rasa kedua hal ini bisa menjadi kunci sederhana untuk mencapai masyarakat yang harmonis.

Why Wouldn’t She Wear Any Bra?

In 2012 we lived for a brief time in Switzerland, where we got the chance to experience spring, summer, and autumn there. When the weather was warmer, people started to shed thick clothing and wear lighter one. One Saturday afternoon in August, while waiting for the bus to take me home, I saw a middle-aged lady standing beside me. She looked ordinary except that she didn’t wear any bra. I quickly averted my sight because I didn’t feel comfortable seeing what I saw, but then I noticed that other people didn’t think of it as something peculiar. Her male companion who was talking to her didn’t gawk at that lady. The people around us didn’t eye her as if she had done something wrong. It gave me ideas about how values, norms, common practices are indeed different among countries and cultures. If the same thing had happened back home, I couldn’t even have imagined what kind of harassment that lady might have experienced.

Every human is an individual entity, as well as a part of a larger social picture. As social creature, human is demanded to adhere to certain social norms, behaviors, and values. Incapability to follow the group’s set rules might result in alienation. Since the beginning of time, human strives to find someone being exactly like him. Human includes a lot of factors to justify similarity: race, religion, social status, education, and the lists go on. Clashes between groups happen just because of the lack of two things: acceptance and respect.

Human should accept that similarity is a vague and absurd concept. If we put race as the unification factor, many researches have shown that there’s no such thing as a pure race in the world nowadays. What is pure Indonesian, what is pure Indian, what is pure Korean? An identity of races is only guiding towards the creation of an identity of nations. One or more races agree to build a nation, to reside in a land, but who can guarantee that the residents of that country are all from one pure race? Nobody. Nations and geographical entities are now built based on agreement. And that agreement is the result of acceptance and respect.

They accept that there are differences among people who build a nation. Physically, nobody is identical with another person. The color of hair, skin, and eyes tells that fact loud and clear. They respect that. And when religion and ideology are used to justify similarity, we all know that faith is a totally different thing than religion. Faith speaks about personal experience and hope. Religion talks about collective people with same views and same beliefs. Religion is another grouping in social life, and it should also comply with the same principles of acceptance and respect towards other social groups. We accept that there are people who believe in different things than we do. We respect that they believe those beliefs. We don’t necessarily agree with those beliefs, but who are we to judge whether those beliefs are right or wrong? Why would the idea of heaven and hell in my opinion (based on my faith) matter to other people? Why would their idea of heaven and hell (based on their faith) matter to me? It doesn’t. We accept and respect that we are different, that different. That’s it.

Back to the middle-aged lady who didn’t wear any bra. My background coming from an eastern and (supposedly) religious country made me think that what that lady did was insolent. I did continuously ask myself. Why did she do that? Why wouldn’t she wear any bra? Why didn’t she cover herself properly? Wasn’t bra made for the purpose of sponsoring decency? But from her point of view, she would argue that the weather was nice enough to wear thin clothing (or wear nothing underneath, or whatever). She didn’t mean to annoy or offend anyone. That’s just her choice and personal preference to dress that way. Why should I be bothered? I shouldn’t have.

I remember something a friend said to me when I lived in Tokyo. People from the East often think that people from the West are too liberal because they’re more open to this kind of thing. They don’t sweat over small things like code for outfit and other physical things. I should know that appearance is only a trick for the eye. What matters from a person is only exposed when there are conversation and effort to get to know that person. Tattoos, piercings, bikinis shouldn’t cloud anyone’s judgment. What’s coming out from the mouth, well, that’s more important. At that time I just nodded, but not in agreement. I remember I was still complaining about why these people wore this and that, until one time that friend scolded me by saying: you should mind your own business.

MYOB.

ACCEPTANCE and RESPECT.

I’m starting to think those are the keys to harmonious society.