Sebuah Cangkir Keramik dan Kebohongan yang Disengaja

Bulan lalu saya pergi ke Museum Seni Rupa dan Keramik di Kota Tua, Jakarta dengan teman saya untuk belajar membuat keramik. Teman saya sudah pernah ke sana dan berhasil membuat sebuah mangkok besar, sedangkan kali ini adalah kali pertama untuk saya. Di sana saya membuat dua buah cangkir untuk kedua anak saya dari satu kilogram tanah liat khusus. Waktu pembuatan sekitar satu jam dan cangkir dibawa pulang dalam keadaan basah. Cerita perjalanannya bisa diintip di sini.

Nah, karena cangkir yang dibawa pulang masih lembek, bapak yang mengajari saya membuat cangkir memberitahu saya supaya cangkir diangin-anginkan beberapa hari dengan cara ditaruh di tempat terbuka yang tidak mendapat sinar matahari langsung. Saya membawa pulang cangkir dengan kotak nasi Padang dan naik bis. Waktu turun dari bis, kotak yang saya pegang tersenggol orang di depan saya jadi cangkir agak penyok. Rasanya pengen banget nangis deh, tapi untung anak-anak masih antusias dengan cangkir handmade yang saya buat untuk mereka. Di rumah saya berusaha untuk meratakan bagian yang penyok, tapi apa daya, tanpa roda pemutar tanah liat permukaan cangkir mustahil dibentuk menjadi mulus lagi.

Kedua cangkir ini akhirnya kering setelah satu minggu saya letakkan di taman dalam rumah. Bentuk akhirnya berantakan, dengan banyak tanah liat yang mengelupas di sana-sini. Proses final pembuatan perabot dari tanah liat memang dengan cara pembakaran, yang sayangnya tidak dimiliki oleh museum ataupun saya. Saya taruh kedua cangkir ini di tempat yang sama selama satu minggu lagi untuk mendapatkan bentuk yang lebih kokoh.

Pada suatu hari Minggu pagi yang tenang, saya bangun dan mendapati handle salah satu cangkir sudah patah seperti di gambar di atas. Kontan saya bertanya: Siapa yang bikin ini? Siapa yang matahin handle cangkir? Wah kalau saya kira pelakunya akan segera mengaku, saya salah besar. Kedua anak saya datang dan sama-sama bilang: Ga tau. Bukan aku. Hmmm, mencurigakan. Tidak mungkin handle-nya patah sendiri karena tanah liat sudah mengeras setelah 2 minggu. Setelah interogasi selama beberapa menit, anak yang tidak sengaja mematahkan handle karena dia ingin mengamati ukiran namanya pada cangkir akhinya mengaku juga. Tapi …, tetap perlu waktu lho untuk membuat anaknya mengaku dengan embel-embel mamanya harus lebih dulu berjanji tidak akan marah besar dan akan memaafkan dia.

Saya jadi berpikir, kenapa ya manusia berbohong? Siapa yang mengajari kita? Kapan kita mulai melakukannya? Apa tujuan akhir kita?

Waktu saya kelas 1 SD saya pernah mencontek teman sebangku saya waktu ulangan Bahasa Sunda. Waktu itu saya duduk di dekat meja guru tapi saya entah kenapa berani melakukannya. Setelah itu guru saya memanggil saya dan bertanya, “Kamu tadi nyontek ya waktu ulangan?” Jawaban saya waktu itu otomatis adalah: tidak (padahal ibu guru pasti bisa melihat saya melakukan hal itu), hehe. Pada akhirnya saya kemudian mengakui perbuatan saya dengan penuh perasaan bersalah dan malu. Malu karena ketahuan atau malu karena menyesal sudah mencontek? Sepertinya waktu itu sih saya merasa malu karena ketahuan, bukan karena menyesal. Saya bersyukur waktu itu saya ketahuan mencontek dan ketahuan berbohong. Peristiwa itu membuat saya berusaha untuk tidak mencontek lagi seumur hidup (dengan beberapa kegagalan waktu mengerjakan ulangan waktu kelas 1 SMA, hiks.)

Kita berbohong untuk melindungi diri, betul kan? Kita pikir kalau fokus tudingan sudah beralih dari diri kita ke orang lain, maka kita aman, kita akan bebas dari sorotan. Terkadang kita tidak berpikir sebelum kita berbohong, tiba-tiba saja kebohongan itu sudah keluar dari mulut kita. Kita ingin mencari aman untuk reputasi kita, tapi sebenarnya kita merendahkan harga diri kita sendiri. Kebohongan tidak akan menyelesaikan masalah dan kebohongan akan diikuti dengan kebohongan-kebohongan lainnya. Kita bisa berkilah kalau kita ‘kepleset’ berbohong tentang suatu hal di suatu waktu, tapi jika kebohongan itu dibentuk, dipelihara, dan dibiarkan sedemikian rupa sampai akhirnya kita bingung mana yang benar dan mana yang bohong, sesungguhnya kita sedang membangun jalan menuju kehancuran diri kita sendiri.

Berbohong adalah salah satu perbuatan natural manusia yang dilakukan tanpa ada yang mengajari dan setiap orang mengucapkan kebohongan pertamanya pada usia yang berbeda-beda. Terlepas dari agama dan iman apapun yang beredar di bumi ini yang mengkategorikan berbohong sebagai perbuatan dosa, mengucapkan kebohongan termasuk pada pelanggaran nilai moral. Kebenaran adalah nilai moral yang universal, dan kebohongan adalah antitesa dari usaha manusia untuk menjadi pribadi yang berintegritas.

Sampai saat ini saya sudah bertemu banyak orang yang membangun kebohongan untuk menciptakan reputasi diri. Mengaku anak orang kaya, mengaku sering jalan-jalan ke luar negeri, mengaku punya pacar cakep, dll. Dan waktu mereka ketahuan, tiada ampun. Teman-teman hilang satu demi satu dan tidak ada lagi yang mempercayai mereka. Jika kebohongan sudah sistematis seperti itu, itu bukan lagi untuk melindungi diri, tapi ada faktor kejiwaan lain seperti kecenderungan narsisme (perasaan cinta berlebihan pada diri sendiri) dan sifat delusional.

Bagaimanakah mengajari anak-anak supaya tidak berbohong? Langkah pertama yang paling penting menurut saya adalah menciptakan kondisi di mana anak-anak merasa bebas bercerita apa saja pada orang tua. Waktu insting kita memberi peringatan bahwa ada sesuatu yang salah, upayakan untuk tetap tenang dan tidak bertanya dengan nada menuduh. Hal ini penting supaya anak tidak merasa tersudutkan. Efek domino dari perasaan tersudut jelas sekali bukan?

Ada hal yang salah –> orang tua bertanya dengan nada menuduh –> anak merasa tersudutkan –> anak berusaha melindungi diri –> anak berbohong –> orang tua tambah marah karena tahu anak sudah membohongi mereka.

Kalau orang tua tidak segera menanamkan kepada anak kalau berbohong itu salah, siklus di atas akan terus berulang dan sulit dipatahkan. Akibatnya diskusi menjadi buntu, dengan orang tua tetap merasa anak salah dan anak tetap merasa orang tua berlebihan. Tentu saja hal ini lebih indah secara teori dan sulit (bukan mustahil) untuk dilakukan. Jika orang tua tetap tenang, bertanya dengan nada netral, memberikan gelagat yang menandakan bahwa semua akan baik-baik saja, anak akan dengan rela bercerita dan tidak menyembunyikan apa pun dari orang tua. Tantangan pertama dan terberat adalah bagaimana memformulasikan pertanyaan yang bisa membuat anak merasa terbuka, bukan bagaimana membuat anak cepat-cepat mengakui kesalahan mereka.

Kembali pada kasus cangkir keramik yang pecah tadi. Saya belum mencapai level nada suara dan pertanyaan yang cukup untuk membuat anak nyaman bercerita, tapi saya berusaha untuk menuju ke sana. Saya melihat mekanisme melindungi diri ini semakin kuat seiring dengan pertambahan usia, dan tambah besar anak akan tambah mudah berbohong, apalagi jika tidak ada yang pernah menegur dan memberi tahu kalau berbohong itu salah. Orang tua perlu mendampingi supaya anak tetap menjadi pribadi yang jujur di setiap waktu, di segala kesempatan. Ciptakan suasana yang kondusif untuk anak-anak bercerita, dan jika kebohongan sudah terlanjur diucapkan, ajak anak untuk mendiskusikan hal apa yang salah dan harus diperbaiki. Tentu saja kita sebagai orang tua harus memberikan contoh terlebih dahulu,karena anak-anak bisa merasakan lho kalau kita tidak sedang berkata yang sebenarnya.

Kebohongan bisa dimulai dari ketidaksengajaan karena ada intuisi untuk melindungi diri. Jika terus ditolerir dan diabaikan, lama-kelamaan kebohongan bisa menjadi suatu keahlian yang dipakai dengan sengaja untuk menguntungkan diri sendiri dan merugikan orang lain.

Kita sebagai orang tua adalah guru sepanjang hayat kita untuk mengikis sifat/kebiasaan buruk ini dari dalam diri kita sendiri dan dari dalam diri anak-anak kita.

Advertisements

Mengapa Wanita Itu Tidak Mengenakan Bra?

Pada tahun 2012 kami tinggal di Swis untuk beberapa waktu dan kami berkesempatan merasakan musim semi, musim panas, dan musim gugur di sana. Ketika cuaca mulai hangat, orang-orang akan menanggalkan pakaian tebal dan mengenakan pakaian yang lebih tipis. Pada suatu hari Sabtu sore di bulan Agustus, saya berdiri di sebelah seorang wanita paruh-baya di halte sambil menunggu bus yang akan membawa saya pulang. Wanita itu terlihat biasa meskipun dia tidak mengenakan bra.

Reaksi saya ketika itu adalah cepat-cepat mengalihkan pandangan saya karena saya tidak merasa nyaman dengan apa yang saya lihat. Anehnya, orang-orang di sekitar saya yang melihat hal yang sama bersikap biasa saja, seperti tidak ada hal yang aneh atau mengejutkan. Bahkan teman pria si wanita itu yang sedang mengobrol dengannya tidak memelototi wanita itu. Orang-orang di sekitar kami tidak mengamati wanita itu seakan-akan dia telah berbuat sesuatu yang salah. Hal ini membuat saya menyadari perbedaan nilai-nilai, norma-norma, dan kebiasaan-kebiasaan di setiap negara dan kebudayaan. Saya berandai-andai, jika wanita yang tidak mengenakan bra itu berada di Indonesia, pelecehan dan kekerasan seperti apakah yang dia mungkin alami?

Setiap manusia adalah makhluk individu yang merupakan bagian dari lingkungan sosial. Sebagai makhluk sosial, setiap orang diminta untuk mengikuti norma, perilaku, dan nilai tertentu. Ketidakmampuan untuk mengikuti aturan kelompok akan membuat seseorang diasingkan oleh kelompoknya. Sejak dahulu kala setiap manusia selalu berusaha mencari orang yang punya kesamaan dengan dirinya. Manusia memasukkan banyak faktor untuk menyamakan dirinya dengan orang lain: ras, agama, status sosial, pendidikan, dan seterusnya. Bentrokan antara kelompok sosial terjadi karena kurangnya dua faktor: penerimaan dan rasa hormat terhadap orang lain.

Manusia harus menerima kalau kesamaan dengan orang lain adalah suatu konsep yang tidak real dan tidak jelas tujuannya. Jika kita menempatkan ras sebagai faktor pemersatu kita dengan orang lain, banyak penelitian telah menunjukkan bahwa tidak ada ras yang murni di dunia sekarang ini. Siapakah yang bisa disebut sebagai ras Indonesia murni, ras India murni, ras Korea murni? Ujung dari terbentuknya suatu identitas ras adalah terbentuknya suatu identitas bangsa. Satu atau lebih ras setuju untuk membangun suatu negara dan bangsa, dan untuk menempati lokasi geografis tertentu. Pertanyaannya adalah, siapa yang bisa menjamin kalau semua penduduk negara itu berasal dari satu ras murni? Tidak seorang pun. Bangsa dan wilayah kependudukan saat ini dibangun berdasarkan kesepakatan. Dan kesepakatan itu adalah hasil dari kemampuan untuk menerima dan menghormati orang lain.

Para pendiri suatu bangsa menerima bahwa ada perbedaan di antara orang-orang yang mendirikan bangsa itu. Secara fisik, tidak ada seorang pun yang identik seratus persen dengan orang lain. Warna rambut, kulit, dan mata yang berbeda-beda jelas-jelas menunjukkan hal ini. Para pendiri suatu bangsa menerima dan menghormati fakta ini. Seumpama agama dan ideologi dipakai sebagai faktor pemersatu suatu bangsa, kita semua tahu kalau iman adalah hal yang berbeda sama sekali dengan agama.

Iman bicara tentang pengalaman pribadi dan harapan. Agama bicara tentang sekelompok orang yang punya kesamaan pandangan dan kepercayaan. Agama adalah suatu bentuk pengelompokan dalam kehidupan sosial, dan kelompok ini sebaiknya juga mengikuti prinsip menerima dan menghormati kelompok sosial lain. Kita menerima kalau ada orang-orang yang mempercayai hal yang berbeda dengan yang kita percayai. Kita menghormati apapun yang mereka percayai.

Mungkin kita tidak setuju dengan hal yang mereka percayai, tapi siapakah kita yang bisa menghakimi kalau kepercayaan mereka adalah benar atau salah? Mengapa pemahaman saya akan surga dan neraka (berdasarkan iman saya) menjadi urusan orang lain? Mengapa pemahaman mereka akan surga dan neraka (berdasarkan iman mereka) menjadi urusan saya? Seharusnya itu menjadi urusan masing-masing orang, karena kita semua diciptakan dan bisa memilih untuk menjadi berbeda antara satu dengan yang lainnya. Kita menerima dan menghormati fakta bahwa kita berbeda.

Kembali kepada wanita paruh-baya yang saya lihat tidak mengenakan bra di sebuah halte bus.

Latar belakang saya yang berasal dari Timur dan negara yang (seharusnya) religius membuat saya berpikir kalau tindakan wanita itu tidak sopan. Saya terus bertanya pada diri sendiri saya? Mengapa ya dia melakukan hal itu? Mengapa ya dia tidak mengenakan bra? Mengapa ya dia tidak menutupi dirinya dengan pakaian yang sopan? Bukankah bra dibuat untuk kenyamanan tubuh wanita dan untuk menjunjung nilai-nilai kepatutan? Seandainya pertanyaan-pertanyaan yang berkelebat di benak saya saat itu saya tanyakan kepada wanita paruh-baya tersebut, kira-kira bagaimana dia akan bereaksi? Dia mungkin berargumen bahwa menurutnya cuaca cukup hangat untuk mengenakan pakaian yang tipis (atau tidak mengenakan pakaian dalam, atau apapun).

Dia mungkin tidak punya maksud untuk membuat orang lain resah, risih, atau tersinggung. Cara berpakaiannya (termasuk keputusannya untuk tidak mengenakan bra) hanyalah sebuah wujud dari pilihan dan selera pribadinya, yang dia rasa dia tidak perlu jelaskan pada orang lain. Mengapa pula pilihan dan selera pribadi dari seseorang yang saya tidak kenal sama sekali dan mungkin tidak akan saya lihat lagi, akan saya biarkan mengusik ketenangan hati saya? Seharusnya tidak kan?

Saya jadi teringat perkataan seorang teman saya waktu saya masih sekolah di Tokyo. Orang-orang dari Timur seringkali melihat orang-orang dari Barat sebagai terlalu liberal karena mereka berpandangan terbuka terhadap hal-hal seperti pilihan untuk tidak mengenakan pakaian dalam. Orang-orang dari Barat tidak repot mengurusi hal kecil seperti kode berpakaian dan hal lain yang bersifat fisik, karena penampilan luar seseorang bisa jadi hanya merupakan produk pencitraan dan ilusi semata. Kita bisa benar-benar mengenal seseorang saat kita berusaha menjalin percakapan untuk mengenal karakter dan kepribadiannya.

Orang-orang yang memiliki tato dan tindikan, atau mengenakan bikini seharusnya tidak dinilai berdasarkan penampilan fisiknya; apa yang keluar dari mulut orang itu adalah jauh lebih penting. Waktu teman saya di Tokyo menegur saya tentang hal itu, saya hanya bisa mengangguk walaupun saya tidak setuju. Saya ingat kalau saya beberapa kali masih mengeluh di depan dia, mengapa orang ini dan itu mengenakan/tidak mengenakan ini dan itu. Sampai suatu saat, teman saya itu menegur saya dengan keras dengan berkata: kamu harus mengurusi urusanmu sendiri.

Urus urusanmu sendiri.

Terima dan hargai orang lain.

Saya rasa kedua hal ini bisa menjadi kunci sederhana untuk mencapai masyarakat yang harmonis.

Why Wouldn’t She Wear Any Bra?

In 2012 we lived for a brief time in Switzerland, where we got the chance to experience spring, summer, and autumn there. When the weather was warmer, people started to shed thick clothing and wear lighter one. One Saturday afternoon in August, while waiting for the bus to take me home, I saw a middle-aged lady standing beside me. She looked ordinary except that she didn’t wear any bra. I quickly averted my sight because I didn’t feel comfortable seeing what I saw, but then I noticed that other people didn’t think of it as something peculiar. Her male companion who was talking to her didn’t gawk at that lady. The people around us didn’t eye her as if she had done something wrong. It gave me ideas about how values, norms, common practices are indeed different among countries and cultures. If the same thing had happened back home, I couldn’t even have imagined what kind of harassment that lady might have experienced.

Every human is an individual entity, as well as a part of a larger social picture. As social creature, human is demanded to adhere to certain social norms, behaviors, and values. Incapability to follow the group’s set rules might result in alienation. Since the beginning of time, human strives to find someone being exactly like him. Human includes a lot of factors to justify similarity: race, religion, social status, education, and the lists go on. Clashes between groups happen just because of the lack of two things: acceptance and respect.

Human should accept that similarity is a vague and absurd concept. If we put race as the unification factor, many researches have shown that there’s no such thing as a pure race in the world nowadays. What is pure Indonesian, what is pure Indian, what is pure Korean? An identity of races is only guiding towards the creation of an identity of nations. One or more races agree to build a nation, to reside in a land, but who can guarantee that the residents of that country are all from one pure race? Nobody. Nations and geographical entities are now built based on agreement. And that agreement is the result of acceptance and respect.

They accept that there are differences among people who build a nation. Physically, nobody is identical with another person. The color of hair, skin, and eyes tells that fact loud and clear. They respect that. And when religion and ideology are used to justify similarity, we all know that faith is a totally different thing than religion. Faith speaks about personal experience and hope. Religion talks about collective people with same views and same beliefs. Religion is another grouping in social life, and it should also comply with the same principles of acceptance and respect towards other social groups. We accept that there are people who believe in different things than we do. We respect that they believe those beliefs. We don’t necessarily agree with those beliefs, but who are we to judge whether those beliefs are right or wrong? Why would the idea of heaven and hell in my opinion (based on my faith) matter to other people? Why would their idea of heaven and hell (based on their faith) matter to me? It doesn’t. We accept and respect that we are different, that different. That’s it.

Back to the middle-aged lady who didn’t wear any bra. My background coming from an eastern and (supposedly) religious country made me think that what that lady did was insolent. I did continuously ask myself. Why did she do that? Why wouldn’t she wear any bra? Why didn’t she cover herself properly? Wasn’t bra made for the purpose of sponsoring decency? But from her point of view, she would argue that the weather was nice enough to wear thin clothing (or wear nothing underneath, or whatever). She didn’t mean to annoy or offend anyone. That’s just her choice and personal preference to dress that way. Why should I be bothered? I shouldn’t have.

I remember something a friend said to me when I lived in Tokyo. People from the East often think that people from the West are too liberal because they’re more open to this kind of thing. They don’t sweat over small things like code for outfit and other physical things. I should know that appearance is only a trick for the eye. What matters from a person is only exposed when there are conversation and effort to get to know that person. Tattoos, piercings, bikinis shouldn’t cloud anyone’s judgment. What’s coming out from the mouth, well, that’s more important. At that time I just nodded, but not in agreement. I remember I was still complaining about why these people wore this and that, until one time that friend scolded me by saying: you should mind your own business.

MYOB.

ACCEPTANCE and RESPECT.

I’m starting to think those are the keys to harmonious society.

 

 

 

Collective Misery

Every human being on this earth prefers to be miserable collectively. It’s more irritating when someone is suffering alone. If there is more than one person carrying the weight, there is this illusion (or truth) that the burden is distributed equally among the people. There is this old saying: ‘be happy when other people are miserable, and be miserable when other people are happy’. This saying describes human nature to be egocentric and envious. It describes human instinct to possess the ultimate love, wealth, fortune, luck available to mankind in this lifetime or another, only for oneself. It portrays human effort to make other human’s achievements and accomplishments to appear below his/her own.

There are two interesting encounters we had on this interesting human tendency.

 

1.Climbing up and down the hills to get to Curug Seribu

Curug Seribu (Seribu Waterfall) is located in Gunung Salak National Park in Bogor. We went there last March when it was often raining cats and dogs. It was cloudy and very humid when we arrived, but there was no rain so we were confident enough to explore the tracks. We didn’t quite anticipate the tracks to be THAT difficult though. The tracks went up and down hills with slopes at sixty to ninety degrees. When we’re going down the tracks we had to kneel down to get our footings for the next steps. The same thing happened when we were climbing up. We put our knees first on the step then pushed ourselves, or being pushed, forward. The steps consisted of only soil with uncut stones scattered on top of them. The handrail was only pieces of wood, tied together with old and tired ropes. When descending we hung on to the simple handrail on our right, and to eroded soil wall on our left. It was a challenging adventure for us and our children.

Our eldest had been trained to take this kind of path since she was two years old, so she only needed a little time to adjust then she walked, climbed, knelt, ascended, and descended on her own. We didn’t have hiking shoes/sandals and sticks with us, so she and I used the point of our umbrellas to stabilize our movements. My husband used the tip of his tripod to walk while carrying our youngest on his arm. Our toddler was not used to this kind of adventure. He got tired easily and carrying him was the only option to keep moving forward.

It was around three PM when we were halfway there, and along the way we met people coming back from the waterfall. All of them looked drained. They were exhausted, we could tell from their faces and how they were sweating hard. One thing those strangers had in common was their comments towards us: 1) Are you crazy taking little children through this kind of track? 2) It’s still long way to go; it’s tiring, the road is slippery, all in all it will be difficult for your family. What we heard was discouragement, discouragement, and discouragement. Didn’t they succeed in reaching the waterfall? They surely did because they met us on their way back. So why did they have to be so discouraging? Why didn’t they boost our spirit by saying that we could do what they did, that we too could conquer those impossible tracks and reach the waterfall?

In September 2012 our family, sans our youngest, went to Edinburgh in Scotland. On our last day there we hiked to Arthur’s Seat, the main peak of several groups of hills towering over Edinburgh. The height we took on was 250.5 meters. Our eldest just turned three years old and we saw no other children hiking along us who were as young as she was. Every time we passed strangers on our way up, none of them, who saw our eldest and asked about her age, made comments like the people we met in Curug Seribu. Oh, you’re three years old and you’re hiking with your parents. Good luck on your adventure. Way to go, little girl. What they said was only ENCOURAGEMENT. They didn’t think we, her parents, were crazy. They didn’t think that she was not capable to do the task. They encouraged us and they lifted our spirit.

I wish those people in Curug Seribu had made the same gestures. The first and foremost key to conquer the nature (or anything in life) is mentality. We already lose when we THINK we’ve lost before even going to war. Maybe the people in Curug Seribu felt they didn’t do well enough in tackling the tracks and they felt miserable about it. Then they wanted us who came after them to feel empathy for their misery, or feel miserable as well. I don’t know. Luckily, we were able to tune out those discouraging voices and managed to come back safely to the parking lot, with the thunder and heavy rain above us, and two wet and sleepy kids in tow. All in all, it was a valuable experience. It taught us a lot about mentality, about being prepared (hiking gears for next trip), about persistence, and about ignoring discouragement altogether.

 

2. Driving through flood in Lippo Cikarang

It was the first weekend in April and we were driving to this hotel, at which the Easter Concert from our church was held. About two kilos from the hotel we were suddenly caught up in a traffic jam. You should know that Lippo Cikarang is an emerging town, but it’s quite small. The whole area comprises of 3.300 hectares land, with only 550.000 residents. The lanes on the main road could take up to four cars at once, but it was never required because the number of vehicles utilizing the roads is relatively low. So we were pretty amazed to see there was a traffic jam here in Lippo.

The normally two lanes had been changed into four lanes. The cars were not moving and we couldn’t see any Lippo officials, be it satpam or patrol officers, were around. We drove one kilo in twenty minutes when we met several Lippo officials who all looked anxious. They told us there had been flood but they couldn’t tell where it was exactly. We were suspicious that it was only a hearsay and the truth was actually not like that. The officials applied contra flow on the road and forced the two lanes on the right to make a U-turn. Well the traffic got better for a while. In order to get to the hotel we took a shortcut through a commercial area, where everybody we passed by (the officials from Lippo and the by-standers) looked even more anxious.

They started to yell at the cars who were queuing to enter this area to retreat and take other roads. My husband didn’t believe in their suggestions, because the cars in front of us kept moving. How bad could it be? When the by-standers saw that we and other people wouldn’t listen to them, they started to nag us that we would be caught in the flood and it would be our fault and nobody would help us. Wow, again we thought, how bad could it be? It turned out to be conquerable.

The commercial area was surely flooding (it never had flood ever since its development in 1998), but the by-standers only looked astonished that there was flood in Lippo Cikarang. The flood was roughly forty centimeters high and it was manageable. The water only soaked half of our tires, and as long as we drove with constant speed, there wouldn’t be any problem. We passed the flooding area (about 500 meters long) safely. If we had listened to those by-standers, we might have been panicking to find other alternative ways, and we might have been stuck in an even worse traffic and been late to attend the concert. The attitudes of those by-standers reminded me of the people we met in Curug Seribu. They’re happily discouraging other people. Most of the by-standers were employees of restaurants and other business ventures in that commercial area. With the flood still around it was guaranteed they didn’t get as many customers as on any normal day. So when they’re lacking activities with too much time on their hands, they felt eligible to make other people feel their misery for losing their usual customers.

It annoyed me that on the way home after dropping my husband and our eldest at the hotel, I saw no flood whatsoever on the road that was used for contra flow. There were not even pools of water on the road. The roads were dry but the cars were still slowing down. I guessed several discouraging by-standers have succeeded in creating this anxiety. Anxiety is infectious and is easily reflected on our faces and with our gestures. A quick look at people standing on the side of the road might have triggered a question on our and their minds, had something bad happened? It didn’t matter that nothing important actually happened. The anxiety and discouragement had trapped many people in an unnecessary hassle that afternoon. Thank goodness, our family is good at ignoring discouragement.

 

This contemplation makes me wonder what kind of collective misery that my friends have been led into, and what kind of discouragement they have encountered in their daily life.

 

Lima Tips Traveling dengan Anak Kecil

Beberapa waktu lalu kami bepergian jauh dan dalam jangka waktu yang cukup lama untuk pertama kalinya setelah si Adek hadir dalam keluarga kami. Berbeda dengan si Kakak yang sudah biasa diajak traveling dalam dan luar kota/negeri sejak usia 6 bulan, si Adek jarang sekali bepergian jauh dan berhari-hari. Penyebabnya yang pertama adalah si Kakak yang sudah sekolah, sehingga waktu untuk liburan keluarga harus mengikuti jadwal liburan sekolahnya. Kedua, sejak si Adek lahir sampai beberapa waktu lalu suami masih commute Surabaya-Jakarta, sehingga waktu senggang di akhir pekan kebanyakan dihabiskan di rumah, bukannya menjelajah tempat baru. Setelah suami kembali bekerja di sini, kami berkomitmen untuk kembali menggiatkan hobi traveling keluarga kami.

Dengan usia si Kakak yang hampir 6 tahun (toddler) dan si Adek yang hampir 2 tahun (infant), tentu perlu trik tersendiri untuk mempersiapkan mereka menjelang dan saat menjalani liburan keluarga. Berikut ini beberapa tips yang saya rangkum seusai perjalanan kami:

 

1. Sounding rencana liburan dari jauh-jauh hari.

Kids are creatures of routines. Di usia 5 tahun si Kakak sudah mengenali dan taat mengikuti rutinitas. Dalam satu minggu ada beberapa les pada hari Senin – Kamis dan akhir pekan (hari Jumat – Minggu) yang fleksibel diisi dengan kegiatan-kegiatan non-rutin. Jadi penting sekali sounding ke si Kakak kalau dalam waktu dekat dan untuk beberapa saat tidak akan ada segala kegiatan rutin yang dia biasa jalani, karena kami akan pergi melihat tempat baru yang jauh.

Sounding di sini dilakukan sekitar 2 minggu sebelum traveling dimulai dan mencakup:
1) kapan kami akan berangkat (tunjukkan kalender),
2) nama kota/negara yang akan dikunjungi, plus bahasa yang dipakai orang-orangnya. Si Kakak bolak-balik bertanya kenapa kami berbahasa Inggris terus-menerus dan orang lain berbahasa berbeda (bahasa Thai),
3) jarak relatif terhadap rumah kami (sebut berapa jam yang dibutuhkan dari Jakarta ke Chiang Mai),
4) transportasi yang akan dipakai untuk menuju ke kota/negara itu. Di permulaan traveling kemarin kami naik mobil rental, naik pesawat, naik skytrain untuk ke terminal-terminal di Changi, naik pesawat lagi, dan kemudian dijemput dengan mobil oleh keluarga sepupu di sana. Dengan menceritakan urutan moda transportasi yang akan kami gunakan si Kakak tidak begitu kaget ketika kami harus menunggu selama transit untuk berganti pesawat, dan bisa dengan nyaman menghabiskan waktu dengan bermain di playground dan belanja mainan (emaknya bangkrut deh).

Kalau sounding ke si Adek sih cukup dilakukan bersamaan dengan sounding ke kakaknya, karena si Adek cuma bisa terkekeh-kekeh kalau dijelaskan sesuatu, hehe.
2. Bawa barang-barang yang biasa anak-anak pakai dan mainkan.

Buat si Kakak artinya kami harus membawa:
1) koper trunky pink-nya (yang janji tinggal janji doang akan digeret sendiri sama si Kakak, fiuh),
2) segerombolan figurines Sophia-Jake-Doc McStuffin,
3) t-shirt, rok, dan celana jeans favoritnya,
4) kuas karena dia senang pura-pura melukis sambil main air di bathtub.

Kami juga membawa kereta mainan buat si Adek, yang sayangnya dicuekin selama seminggu karena anaknya lebih seneng memainkan kabel earphone/telefon di hotel/seat belt di pesawat/dan barang-barang mekanik lainnya.

Membawa barang-barang favorit artinya membawa kenyamanan dan kefamiliaran dari rumah yang mereka akan tinggalkan untuk sementara, dan bisa membantu mengatasi kerewelan anak. Contoh: memakai t-shirt favorit jadi salah satu cara membujuk si Kakak supaya mau cepat mandi dan bersiap meninggalkan hotel.
3. Liburan adalah untuk keluarga, bukan cuma untuk papa-mama.

Traveling sampai si Kakak berusia 4 tahun adalah traveling ke tempat yang papa-mama inginkan, dengan rencana perjalanan yang diatur oleh papa-mama. Sekarang dengan si Kakak yang sudah punya keinginan sendiri dan si Adek yang tidak bisa diam, lupakan deh bisa mengunjungi museum-museum dan kuil-kuil selama berjam-jam! Sampai dua tahun lalu saya bisa menghabiskan minimal 5 jam di 1 museum buat benar-benar menjelajah dan membaca semua keterangan benda-benda yang ada dalam museum. Dengan 2 anak seperti sekarang, 3 museum cukuplah dijalani dalam 2 jam, dan 2 jam itu masih juga dipotong waktu untuk membujuk si Adek yang suka tiba-tiba minta digendong, dan membujuk si Kakak yang menolak masuk ke beberapa ruangan eksibisi karena gelap dan menakutkan (museum di Chiang Mai terasa banyak penunggunya, hiii …). Jadi ke museum manapun kami pergi, saya mesti berburu brosur berbahasa Inggris untuk membaca ulang keterangan barang-barang eksibisi di museum itu, dan minimal 2 buah brosur karena si Kakak juga hobi mengumpulkan brosur.

Di traveling kali ini ujung-ujungnya yang kami cari adalah PLAYGROUND. Di hari ke-3 kami di Chiang Mai kami mengitari Old City dengan niat awal mengunjungi 4 Wat (Buddhist Temple). Yang akhirnya kesampaian cuma 3 Wat dan di Wat terakhir cuma saya yang masuk selama 5 menit dan suami menjaga anak-anak yang sudah kelelahan keluar-masuk kuil. Pada penghujung hari yang melelahkan itu kami terdampar di taman kota yang cantik di Old City. Anak-anak sangat senang main kereta-keretaan dan panjat-panjatan bersama sepupu mereka yang tinggal di Chiang Mai, dan papa-mama bisa duduk-duduk santai sambil mengobrol. Jalan kaki kurang-lebih 5 km di bawah terik sinar  matahari dengan suhu 35 derajat sambil mendorong stroller dan menggendong anak mengingatkan kami bahwa ternyata kami ini SUDAH TUA. Hahahaha ….
4. Berbagi peta/Google Maps dengan anak.

Tujuannya supaya anak-anak (setidaknya si Kakak) mulai mengenal arah dan mendapat kepuasan tersendiri setelah mencapai suatu tempat tujuan. Anak kami yang pertama ini sangat senang mempelajari peta lokasi, apalagi di Chiang Mai Night Safari yang luas sekali dan membuat kami sering berpindah tempat. Si Kakak jadi sering membuka peta dan bertanya ‘Sekarang kita di mana?’. Anak-anak juga senang mengikuti panah di Google Maps di HP orang tua mereka, dan bersorak girang kalau sudah tiba di tujuan. Hal sesederhana ini menambahkan keterlibatan anak-anak dalam rangkaian kegiatan selama liburan. Jadi mereka tidak hanya tahu kalau mereka sudah sampai suatu tempat, tapi juga tahu cara dan urutan peristiwa untuk mencapai tempat tersebut.
5. Realistis saja, pekerjaan rumah tangga akan selalu ada .

Judulnya memang liburan tapi liburan keluarga bukan me-time untuk papa dan mama. Orang tua tidak bisa bangun siang, tidak bisa makan pas sudah lapar saja, tidak bisa leyeh-leyeh main internet, intinya tidak bisa berbuat sesukanya. Anak-anak tetap perlu dimandikan/disuapi/ditemani bermain, pakaian sekeluarga tetap perlu dicuci dan disetrika, dan seluruh anggota keluarga tetap perlu makan teratur tiga kali sehari. Terima fakta itu dan lakukan apa yang harus dilakukan. Dengan begitu tidak ada ekspektasi berlebihan akan liburan yang bebas dari pekerjaan rumah tangga. Mungkin nanti kalau anak-anak sudah besar dan kami bisa pergi bulan madu yang belum juga kesampaian karena setelah menikah kami langsung bekerja kembali seperti biasa di kantor masing-masing.
Semoga lima tips di atas bisa membantu teman-teman yang akan bepergian dengan anak-anak yang masih kecil, dan bisa menikmati waktu liburan sekeluarga.

Oleh-oleh dari Luar Negeri

Ciri khas orang Indonesia kalau ada teman/keluarga/handai taulan yang mau ke luar negeri pasti yang pertama diminta adalah oleh-oleh, bukan mengucapkan selamat bersenang-senang. Saya pernah tinggal di luar negeri dan sering melancong ke tempat lain selama di sana. Ga ada teman-teman/keluarga di sana yang langsung nodong oleh-oleh kayak di Indonesia, dengan ga mempedulikan apakah si teman/keluarga/handai taulan itu ke luar negeri buat kerja (meeting/conference) dengan waktu terbatas, bukan buat plesir (padahal waktu terbatas juga). Permintaan buat tidak lupa bawain oleh-oleh kadang bisa diulang-ulang berkali-kali. Cilakanya banyak yang klaim kalau oleh-oleh juga diminta oleh orang lain. Contohnya: jangan lupa ya beli gantungan kunci buat si Tante X, dia kan sering kirim kue waktu kamu kuliah. Padahal si Tante X mah boro-boro tahu kalau kita mau pergi dan ga pernah bilang pengen oleh-oleh dari kita.

 

Kenapa orang yang bepergian pulang ke negaranya membawa oleh-oleh?

 

1. Karena dia mengingat orang-orang dekatnya dan ingin membawa kenang-kenangan.

Saya pernah denger ada yang ngomong gini: cih bawa oleh-oleh buat pamer kalo udah pernah ke luar negeri. Kalau saya berpikiran positif, bawa oleh-oleh karena ingin berbagi. Kadang oleh-oleh yang dibawa juga kecil, simpel, dan general, kayak gantungan kunci dan tempelan magnet kulkas. Kadang lebih spesifik kalau ingat orang tertentu yang misalnya demen banget sama makanan khas dari satu negara. Motivasi dari alasan pertama ini adalah karena adanya hubungan dekat dengan si penerima oleh-oleh. Kita bersaudara, bersahabat, bertetangga, berelasi kerja, makanya saya ingat kamu dan ingin bawain sesuatu buat kamu. Yang perlu diingat di sini, perasaan dekat itu kadang tidak berbalas. Tidak apa-apa kalau orang yang kita rasa dekat, ternyata tidak merasakan kedekatan yang sama. Itu normal dan manusiawi. Makanya jangan pernah berharap kita akan menerima balasan dari orang yang pernah kita beri oleh-oleh. Kalau motivasi awalnya udah mengharapkan pamrih gitu, mending ga usah ngasih sekalian. Dan kalaupun oleh-oleh kita dibalas, ga usah menaksir-naksir apakah nilai oleh-oleh dia lebih besar/lebih kecil dari oleh-oleh yang kita pernah kasih. Buat apa menyimpan buku “utang-piutang”, saya udah kasih sekian ke si X makanya saya harus menerima persis sekian balasan dari dia.

2. Karena dititipin.

  1. Dititipin spesifik barang apa dan uang untuk membelinya.

Yang kayak gini namanya tahu diri. Ada yang nitip karena barang itu ga ada di Indonesia, atau udah lama ngincer barang yang cuma ada/ternyata lebih murah di luar negeri. Saya mah ga keberatan dititipin gini asal jelas barang apa, nyarinya di mana. Lebih seneng lagi kalau dititipin uangnya, karena ke luar negeri/ke daerah di luar tempat tinggal saya sehari-hari pasti membuat saya punya dua buah keterbatasan: waktu dan biaya. Waktu kita di luar negeri pasti terbatas karena kita sudah punya rencana duluan. Kalau nitip perlu diingat orang yang dititipin itu punya keperluan lain, entah dia mau meeting/conference/kerja/jalan-jalan/bersantai, dll. Dia bukan jasa kurir yang spesifik nyariin barang titipan. Kalau mau yang barang langsung nyampe di rumah setelah dipesan, mending belanja online aja (walaupun artinya mesti impor). Meskipun si penitip udah jelas bilang barang bisa ditemuin di toko mana, orang yang dititipin harus keluar usaha ekstra lho buat nyari lokasi, nyari dan bayar transport ke toko itu, dan bawa-bawa barang titipan (dari toko, ke hotel, ke bandara, belum lagi kalau ganti-ganti moda trasportasi selama di negara wisata). Belum lagi urusan kalau diperiksa sama bea cukai di bandara Soetta. Kalau udah tahu bakal repot begini, sewajarnya orang yang nitip juga ngasih uang buat beli ya. Kan bisa cek kurs dulu kira-kira harga barang berapa kalau dalam Rupiah. Jangan udah ngerepotin buat nyari barang titipan, minta ditalangin dulu pula. Alamak! Dan walaupun udah nitip uang, ingat juga kalau barang baru dibeli kalau si pelancong punya waktu buat nyari dan beli. Jadi jangan ngambek kalau ternyata waktu terbatas dan barang titipan ga sempat dibeli.

      2. Dititipin barang ga spesifik dan ga dititipin uang untuk beli.

Minta barangnya terserah apa aja, ga spesifik merk apa dan tipe apa. Sering kali cuma bilang, pokoknya baju. Terus pas kita WA mau baju kayak apa, keluar tuh syarat-syarat kayak: baju Hard Rock Café ya, tapi harganya di bawah 200 ribu, jangan berkerah V, harus warna gelap karena tar gue keliatan gendut pake warna terang, dan sejuta syarat lainnya. Bah yang model gini bikin kening saya berkerut. Udah kita sengaja meluangkan waktu buat nyari titipan, mesti pula live consulting pas mau beli (yang artinya mesti cari Wifi/pake roaming), kalo ga si penitip bakal ngomel karena barang yang dibeli ga sesuai dengan keinginan. Terus mesti nalangin dulu dengan uang sendiri karena si penitip ga kasih modal. Saya lagi-lagi pasti nyaranin, beli online aja. Jangan ngerepotin yang dititipin dalam hal waktu, biaya, dan kerepotan ekstra. Saya paling ga mau dititipin kayak tas/sepatu. Kalo barangnya ternyata ga ada, saya mesti diskusi panjang-lebar tentang seberapa bagusnya barang substitusi barang yang diincer pertama kali. Belum lagi kotak pembungkus tas dan sepatu kan besar dan makan tempat. Diskusi satu barang titipan aja bisa tiga puluh menit sendiri. Gimana kalau yang nitip lebih dari satu orang, atau satu orang nitip lebih dari satu barang? Kasihan sama teman kita bepergian yang jadi ikut nungguin.

 

Mendingan ubah pola pikir. Orang lain ke luar negeri? Yeay, bagus dong, semoga mereka bisa bersenang-senang di sana. Ga perlu minta oleh-oleh. Kalau dikasih, bersyukur karena udah diperhatikan. Balaslah saat kita sendiri ada kesempatan untuk membalas perhatiannya. Kalau engga dikasih oleh-oleh, ga usah merajuk, mengeluh sampe mengungkit-ungkit di grup WA. Menyedihkan banget deh. Kalau segitu pengennya oleh-oleh dari luar negeri, mendingan belanja aja ke Tanah Abang di pusat Jakarta. Di sana dijual lho segala macem suvenir kecil dari berbagai negara. Gantungan kunci, magnet kulkas, sendok hias, bola salju, jam dinding, kaos, semua ada! Apa sih yang ga ada di Indonesia? Sama-sama buatan China, dan harganya jelas lebih murah dari yang dijual di luar negeri. Lokasi Tanah Abang juga ga susah dicari. Kalau segitu ngebetnya pengen menuhin itu kulkas di rumah pake magnet, beli segepok deh di Tanah Abang yang pake tulisan mulai dari New Zealand sampe Iceland. Terus kalau ada tamu datang ke rumah dan tanya, “Wah baru ke luar negeri ya?” Mesem-mesemlah dikit terus jawablah dengan suara merendah, “Oh enggak, semua ini oleh-oleh.”

Beres kan?

Belajar Membuat Keramik

Beberapa minggu lalu saya bermimpi seorang teman lagi sakit. Seperti biasa, setiap kali saya bermimpi seperti itu saya akan cek langsung kondisi orangnya. Saya kontak dia via WA dan kami pun ngobrol panjang-lebar. Ujung-ujungnya kami janjian untuk ketemu hari Minggu ini sebelum dia pergi sekolah ke negara lain.

Kami berjanji ketemu di Cafe Batavia di kawasan Kota Tua, Jakarta. Buat orang Jakarta atau yang sudah pernah ke kawasan Kota Tua pasti tahu dong ya gimana ruwetnya situasi lalu-lintas dan perparkiran di sekitar kawasan itu. Sepulang gereja saya bilang ke suami kalau saya lelah jika harus nyetir ke sana, bagaimana kalau saya naik bis saja? Kontan saya dikasih pandangan meragukan oleh suami. Kalau saya ingat-ingat, terakhir kali pakai angkutan umum di Jakarta seorang diri itu tahun 2003 waktu saya kerja praktek di Siemens, Jakarta Pusat. Tahun 2008 saya sempat bekerja dan kost di Jakarta Selatan, tapi waktu itu ada mobil jadi tidak pernah pakai bis/angkot/ojek. Jadi hari ini saya beranikan diri untuk pakai kendaraan umum menuju ke dan di dalam kota Jakarta setelah sekian lama tidak mencobanya.

Tahap 1: siapkan kartu Flazz untuk membayar tiket busway. Tahap 2: bawa minum, cemilan, dan jaket karena AC di bis sering dingin banget. Saya naik bis jam 11 siang dan ternyata bis penuh walau kondektur kasih tahunya setelah saya naik (errr ….). Akhirnya saya duduk di lantai di sebelah pintu bis selama 1 jam-an. Saya turun di Komdak bawah dan menyeberang ke halte busway untuk ambil bis ke arah Kota. Nunggu bis 25 menit, perjalanan di bisnya 15 menit 😅. Di dalam bis saya ga dapat tempat duduk juga, huhu. Setiba di halte Kota Tua saya  menderita karena panas terik dan udara yang lembab, bener-bener kebalikan dari udara dingin nan sejuk dari AC di dalam 2 bis yang saya tumpangi.

Dari perhentian bis saya menyeberang jalan ke arah alun-alun di depan Museum Fatahillah untuk menuju Cafe Batavia. Masuk cafe ini berasa seperti ada di negara lain (Eropa) dengan interior yang klasik, dinding yang ramai dengan foto-foto yang dipajang artistik, dan chandelier-chandelier yang bikin ngiler.

IMG_7644.JPG

Hallo, liebe Freundin! 😘

Setelah kenyang makan dan puas ngobrol, kami pun berjalan ke Museum Senin Rupa dan Keramik yang berada di arah jam 10 dari pintu masuk Cafe Batavia. Tiket masuknya Rp 5.000,00. Kalau tidak salah sedang ada pameran sesuatu di dalam museum, tapi saya dan teman saya langsung menuju ke tempat membuat keramik.

Kenapa saya ingin belajar membuat keramik? Waktu tante saya meninggal akhir bulan Juli lalu, saya sedang membaca buku “The Happiness Project” karangan Gretchen Rubin. Seperti Gretchen pada waktu dia memulai project ini, hidup saya juga tidak sedang tidak bahagia. Namun ada 2 hal penting yang saya tangkap dari buku ini, yaitu tentang: 1) menghargai masa kini yang sedang saya jalani (enjoying the present) dan 2) mendorong diri saya untuk mencoba hal-hal baru untuk mendapat perspektif-perspektif baru. Naik kendaraan umum – CHECKED. Sekarang saya mau mencoba membuat barang dari tanah liat.

Biaya proyek ini Rp 50.000,00 untuk 1 kg tanah liat dan instruktur. Dari awal saya sudah kasih tahu pengajar saya kalau saya mau membuat 2 buah mug untuk 2 anak saya (suami ga kebagian, hehe). Ada beberapa hal yang saya pelajari di sini:

1. Membentuk keramik intinya adalah tentang memanfaatkan momentum yang diciptakan oleh roda pemutar. Roda pemutar digerakkan oleh kaki (secara bergantian), dan gaya sentrifugal yang diakibatkan putaran roda itu kita manfaatkan untuk membentuk tanah liat ke atas atau ke samping. Dalam proses ini sebenarnya tangan kita tidak bekerja banyak dan ini membuat saya sedikit frustasi. Saya sering bekerja dengan tangan (menjahit, menggambar, dan sederetan pekerjaan rumah tangga), jadi saya asing dengan konsep bekerja dengan tangan tanpa banyak mengeluarkan tenaga. Kedua tangan saya cuma menempel di tanah liat, tapi karena momentum yang diciptakan oleh roda bentuk mug yang saya inginkan terwujud juga.

2. Letting go dan giving up itu beda tipis (Danke, Maria!). Waktu membentuk mug saya suka gemes kalau bagian pinggirnya tidak sama rata, bagian dalamnya ada yang coak, dll. Dan saya yang perfeksionis ini sangat stres waktu mengukir nama anak-anak di permukaan mug. Saya mengukir nama dengan tusuk gigi dan pasti ada tanah liat yang tercongkel dan permukaan yang jadi tidak halus lagi. Waktu membuat mug pertama, saya kurang perfeksionis karena belum familiar banget dengan tanah liat. Waktu membuat mug kedua, saya menghabiskan waktu jauh lebih banyak karena saya sudah tahu cara memutar roda dan menghapus bagian yang sudah saya ukir. Akibatnya saya mengukir nama anak ke-2, yang cuma 3 huruf, sebanyak 3 kali karena saya bolak-balik menghapusnya. Akhirnya saya memutuskan bahwa “It’s enough” karena jam kunjung museum yang hampir berakhir, haha.

Kedua mug yang masih basah dimasukkan ke dalam kotak nasi Padang dan saya bawa dengan hati-hati sekali di perjalanan pulang (kali ini dengan taksi lalu dengan bis). Apa daya, waktu turun dari bis di dekat rumah kotak di tangan saya tersenggol orang di sebelah saya dan mug anak-anak agak penyok (nangis bombay). Katanya saya harus menjemur mug di bawah sinar matahari tidak langsung selama 3 hari supaya tanah liatnya kering benar.  Wah, saya sudah tidak sabar! Oya, instruktur di museum ini bisa dipanggil lho untuk mengadakan workshop membuat keramik di luar museum (misalnya workshop untuk ibu-ibu arisan, ehehehe). Jumlah instruktur yang bisa mengajar ada 3 orang dan mereka akan membawa 3 roda pemutar yang ukurannya besar itu.