Dua Kejutan Saat Hendak Berwisata ke Taiwan

Pada bulan Desember tahun lalu terjadi sebuah kesalahan kecil namun fatal yang mengakibatkan rencana liburan keluarga kami mendadak harus dialihkan dari Korea Selatan ke Taiwan. Berhubung jadwal cuti pekerjaan dan liburan sekolah sudah fixed, kami pun mengurus dokumen untuk visa, penukaran mata uang, dan pemesanan hotel selama berada di Taiwan dalam tempo kurang dari satu bulan. Bagaimana dengan persiapan itinerary perjalanan? Lupakan. Kami bahkan baru mencek moda transportasi dari Taoyuan International Airport menuju hotel di area Banqiao saat sudah mendarat di Taipei pada tanggal 21 Desember. Hehe.

Hal pertama yang kami urus adalah visa. Berhubung kami tinggal sekitar 40 km dari lokasi Kedutaan Besar Taiwan dan perlu cuti dari pekerjaan untuk mengurus hal ini, kami benar-benar mempersiapkan terlebih dahulu semua dokumen yang diperlukan untuk mengajukan Visitor Visa.

Di sinilah kami menemukan kejutan pertama.

Suami saya datang ke kedutaan dengan dokumen yang sudah lengkap. Saat hendak mengambil nomor antrian, satpam yang bertugas tiba-tiba bertanya apakah dia pernah mendapat visa dari atau pernah tinggal sementara di USA, UK, Australia, Jepang, Korea, negara-negara Schengen kurang dari sepuluh tahun sebelum bulan Desember 2017. Suami saya menjawab ‘pernah’. Bapak satpam lalu mengarahkan suami saya untuk membuat Travel Authorization Certificate dengan cara mengisi form online.

Pengajuan TAC memerlukan dokumen pendukung berupa visa atau surat keterangan tinggal di salah satu dari negara-negara yang saya sebut di atas. Dokumen pendukung yang suami saya gunakan adalah kartu tanda penduduk kami selama tinggal di Swis.

KTP Swis

Waktu kami tinggal di Swis anak kami yang kedua belum lahir, jadi kami tetap harus mengajukan visa wisata untuk dia. Saat visa selesai diproses kami diberitahu bahwa anak kami tidak memerlukan visa jika dia hendak mengunjungi Taiwan lagi. Dia cukup mem-print TAC dan bisa keluar-masuk Taiwan selama sepuluh tahun sejak tanggal penerbitan visa wisata pertama kali. Bagaimana dengan kami? Kartu tanda penduduk Swis milik kami berakhir pada tahun 2012, jadi kami memiliki kesempatan sampai tahun 2022 untuk masuk ke Taiwan dengan hanya menggunakan TAC. TAC ini berlaku untuk tinggal di Taiwan selama 90 hari berturut-turut sejak tanggal terbit.

Oya, biaya pembuatan TAC adalah gratis, sedangkan biaya pembuatan visa wisata untuk single entry  adalah Rp 650.000,00 per pemohon. Lumayan, kami jadi hemat biaya visa untuk tiga orang, hehe.

Sertifikat Autorisasi Perjalanan

Keberadaan TAC ini adalah usaha Taiwan untuk meningkatkan hubungan bilateral dan kerja sama ekonomi dengan negara-negara di bagian selatan negara Taiwan. Bukan tidak mungkin suatu saat warga negara Indonesia akan bebas visa untuk masuk Taiwan seperti halnya warga negara Filipina saat ini.

Satu hal yang perlu dicermati adalah pada umumnya staf maskapai penerbangan tidak familiar dengan keberadaan TAC. Bahkan staf di counter check-in maskapai penerbangan seperti SQ yang memiliki banyak rute di seluruh dunia kebingungan waktu melihat tidak ada visa Taiwan di paspor kami. Sebagai gantinya kami memberikan TAC, KTP Swis, tiket pulang-pergi, informasi hotel, dan tak lupa link ke website kedutaan Taiwan yang menjelaskan tentang TAC sebagai dokumen untuk masuk ke Taiwan. Berhubung TAC ini termasuk hal baru, staf memerlukan waktu antara 10-20 menit untuk mencari informasi dan memastikan kami menyediakan data yang benar. Waktu ini adalah di luar waktu untuk mem-print boarding pass dan menimbang koper, jadi usahakanlah untuk datang lebih awal untuk check-in.

Penerbangan kami dari Jakarta ke Taipei via Singapura dengan total waktu terbang 6 jam dan transit 6 jam.  Kami berangkat dari rumah pada pukul 2.30 pagi untuk mengejar pesawat pukul 5.30 ke Singapura. Saat transit di Singapura anak kami yang berusia 4 tahun mulai tidak enak badan karena bangun terlalu pagi dan tidak cocok dengan sarapan yang disediakan di dalam pesawat. Selama empat jam penerbangan dari Singapura ke Taipei dia tidur terus dan malas makan.

Walhasil waktu kami mendarat di Taipei kejutan kedua sudah menanti kami.

Kami mendarat sekitar pukul 16.30 waktu setempat dan dengan santai berjalan dari tempat turun pesawat menuju tempat mengambil bagasi. Anak pertama saya gandeng dan anak kedua digendong oleh suami saya. Alangkah kagetnya kami ketika kami tiba-tiba dicegat oleh Critical Diseases Center dari bandara Taoyuan. Tanpa disadari kami telah berjalan melalui kamera thermal dan suhu tubuh anak saya terukur 38.6 derajat Celcius.

Kami mulai diinterview (atau diinterogasi yah?) mengenai asal negara, riwayat kesehatan anak, dan histori perjalanan sebelum tiba di Taiwan. Indonesia ternyata termasuk salah satu negara yang berada dalam pengawasan karena banyak penyakit epidemis yang berasal dari negara kita, seperti: demam berdarah, malaria, flu burung, dll, yang dimulai dengan gejala awal demam. Dan suhu tubuh di atas 37.5 derajat Celcius sudah cukup untuk membangkitkan kecurigaan. Kami susah payah menjelaskan bahwa anak kami ini demam karena lelah dan kurang makan, tapi informasi dari kami cenderung diabaikan.

Sebenarnya sebelum traveling kami sudah menyiapkan obat-obat yang biasa dikonsumsi anak-anak saat sakit ringan (penurun panas, obat batuk, obat flu, obat alergi, multivitamin). Tak lupa kami menyertakan resep dan surat dokter yang menerangkan nama dan fungsi setiap obat dalam bahasa Inggris. Kesalahan kami adalah menyimpan obat-obat anak-anak di bagasi, walaupun resep obat kami bawa di tas handcarry, sehingga tidak bisa langsung memberikan obat penurun panas kepada anak kedua kami saat dia mulai demam di Singapura.

Akhirnya kami menerima surat peringatan dari CDC dengan berat hati. Pihak CDC mencatat hotel tempat kami menginap selama di Taiwan dan mengharuskan kami ke dokter dalam waktu 24 jam sejak mendarat untuk memeriksakan kesehatan anak kami. Kami juga harus segera menelepon kembali ke bandara untuk melaporkan hasil pemeriksaaan dokter.

Surat Peringatan dari CDC

Untungnya staf Hotel Cham-Cham tempat kami menginap selama dua minggu sangat fasih berbahasa Inggris dan sangat membantu kami. Mereka membantu mencarikan dokter yang bisa berbahasa Inggris dan mem-print peta lokasi tepatnya dalam bahasa Mandarin dan Inggris. Mereka juga menelepon ke klinik untuk memastikan dokter sudah datang/sedang praktek/sedang istirahat.

Pada hari berikutnya di Taipei anak kedua kami sudah sehat, segar-bugar, tidak demam, dan mau makan dengan lancar.  Namun demi memberikan laporan ke CDC kami tetap mengunjungi klinik dokter tersebut. Dokternya sudah tua dan sepertinya dokter umum/dokter keluarga. Pasien lain yang kami temui adalah mereka yang membawa anak-anak yang batuk-pilek. Dia memeriksa anak kami dan memberikan surat keterangan sehat dalam bahasa Mandarin dan catatan temperatur tubuh terakhir saat diperiksa. Ketika kembali ke hotel kami meminta staf hotel untuk membantu kami menghubungi CDC dan memberi tahu hasil pemeriksaan dokter. Semua pun beres dengan cepat.

Jika ternyata anak kami menderita salah satu penyakit epidemis yang ada dalam daftar CDC dan jika kami tidak ke dokter dan lalai melaporkan hasil pemeriksaan dokter, saat meninggalkan Taiwan kami bisa didenda antara NTD 10.000 sampai dengan NTD 150.000 (sekitar IDR 5 sampai 75 juta).

Tiga hal yang akan selalu kami ingat jika menghadapi otoritas seperti CDC ini ke depannya adalah:

  1. Memberikan informasi yang jujur. Menyembunyikan informasi hanya akan mempersulit proses kita selanjutnya. Kendala pertama saat berkomunikasi dengan petugas bandara adalah bahasa. Kami berbahasa Inggris dengan aksen Indonesia dan petugas memakai bahasa Inggris dengan aksen bahasa ibunya. Gunakanlah kalimat-kalimat sederhana untuk menghindari menambah keruwetan saat berkomunikasi.
  2. Taat aturan. Jika diperintahkan untuk pergi ke dokter dan melaporkan kondisi kesehatan dalam waktu 24 jam sejak ‘ditangkap’ oleh CDC, maka turuti saja. Kita adalah tamu di negara orang lain yang diwajibkan menuruti aturan setempat. Untuk ke depannya mungkin kami akan mulai membeli asuransi perjalanan yang juga mencakup penggantian biaya pengobatan medis. Tarif periksa dokter umum di Taipei hampir tiga kali lipat tarif periksa di Jakarta.
  3. Selalu sedia paracetamol di tas untuk orang dewasa dan anak-anak, hehehe.

Secara keseluruhan perjalanan wisata kami ke Taiwan menimbulkan kesan yang mendalam mulai dari persiapan, jalan-jalan dan menikmati malam tahun baru 2018 di Taipei, sampai kembali ke tanah air. Semoga kami bisa kembalike Taiwan untuk menjelajahi kota-kota lainnya.

 

Advertisements

Black Panther: Sebuah Perkenalan Pada Afrika

Setelah film animasi Coco yang membahas ritual Hari Orang Mati di Meksiko, dan film animasi Ferdinand yang membahas kebudayaan Matador di Spanyol di penghujung 2017 lalu, Hollywood kembali menawarkan angin segar tema film dengan Black Panther yang dibesut oleh Marvel. Sebagai sebuah film, Black Panther adalah spin-off dari film Marvel yang berjudul Captain America: Civil War di tahun 2016. Dikisahkan di dalam film tersebut T’Chaka sebagai Raja Wakanda, sebuah negara dunia ke-3 di benua Afrika, terbunuh dalam serangan teroris di markas PBB. Putranya, T’Challa, mendapat warisan kekuatan Black Panther dari ayahnya dan bersumpah untuk mengejar penjahat yang mendalangi aksi terorisme. Dalam film ini Black Panther sudah ditampilkan utuh sebagai sebuah karakter yang punya latar belakang dan tujuan, yaitu untuk membalas dendam. Penampilannya dengan kostum superheronya dan aksi berkelahinya pun sudah lengkap, sehingga saya sangat mengantisipasi menonton film Black Panther yang baru tayang ini.

Menurut saya Black Panther lebih dari film tentang superhero yang berkulit hitam, karena film ini mewakili pengetahuan dan persepsi kita tentang ras negroid di muka bumi, yaitu:

  1. Mereka yang bermukim di Amerika Serikat, yang disebut sebagai African-American, dan terpapar kepada kita lewat berita dan film. Informasi general tentang mereka sudah cukup terpatri: sebagai bekas budak di dunia Barat, sebagai kelompok yang termarginalkan bahkan sampai sekarang, sebagai kelompok yang berusaha memperbaiki diri lewat jalur pendidikan, dan sebagai kelompok yang ditekan dan dijajah (seperti kata Erik Killmonger, tokoh antagonis di film ini).
  2. Mereka yang berasal dan bermukim di benua Afrika, yang sering diberitakan mengalami perang saudara berkepanjangan dan kelaparan. Informasi seperti kontur alam mereka yang indah dengan gunung-gunung dan padang rumput, suku-suku bangsa yang ada di benua ini dengan pekerjaan masing-masing sebagai orang gunung/penggembala/petani/dll, kebudayaan mereka lewat bahasa, tarian, nyanyian , dan ritual lainnya, bukanlah sesuatu yang terekspos dengan mudah selayaknya informasi tentang negar-negara Barat.

Jadi saya sangat gembira karena selama lebih dari 2 jam film ini terus mengungkapkan keunikan dan keindahan sebagian kecil dari Afrika yang diwakil negara fiktif bernama Wakanda. Eksotisme Afrika sudah dimulai sejak T’Challa akan dinobatkan sebagai Raja Wakanda menggantikan ayahnya T’Chaka yang sudah meninggal. Adegan eye-catching pertama adalah saat penobatan T’Challa dimana dia berdiri di pinggir tebing air terjun. Di tebing gunung di hadapannya berdiri orang-orang yang mewakili empat suku yang mendukung pemerintahan Wakanda; mereka tampil dengan pakaian terbaik, menyanyi, menari, dan bersahut-sahutan untuk menyambut raja mereka yang baru. Keempat suku yang memakai pakaian tradisional dengan berbagai bentuk dan beraneka-warna dan mewakili mata pencaharian orang-orang di benua Afrika adalah sebuah gambaran yang gamblang tentang keragaman di benua Afrika.

Pada saat upacara penobatan itu hak T’Challa atas tahta ditantang oleh M’Baku, pemimpin suku Jabari yang tinggal di pegunungan dan mengasingkan diri dari orang Wakanda lainnya. Adegan perkelahian yang sangat manly dan raw antara T’Challa dan M’Baku adalah adegan eye-catching yang kedua, Tidak sulit membayangkan orang-orang Afrika pada jaman dahulu memang bertarung dengan pedang, tombak, dan tangan kosong untuk memperebutkan kekuasaan. T’Challa menang dan akhirnya duduk sebagai Raja Wakanda yang baru. Setelah itu ada adegan eye-catching ketiga dimana T’Challa meminum suatu ramuan dan dikubur supaya dia bisa bertemu leluhurnya di alam yang lain. Sebuah penggambaran yang tepat tentang Afrika, tata-cara spiritualisme di sana, dan rasa hormat dan kedekatan mereka terhadap arwah leluhur.

Setelah naik tahta T’Challa berusaha untuk menangkap dan mengadili Ulysses Klaue yang membunuh keluarga W’Kabi, teman terdekatnya. Usahanya ini membawa T’Challa, Nakia (kekasihnya), dan Okoye (pengawalnya) ke kota Busan di Korea Selatan, karena mereka dengar di sana Klaue akan menjual mata kapak yang terbuat dari vibranium yang dia curi dari display kebudayaan Afrika di sebuah museum di kota London kepada seorang Amerika. Transaksi jual-beli kapak itu sebenarnya adalah jebakan yang diatur oleh CIA, namun sayangnya rencana itu gagal karena T’Challa, Nakia, dan Okoye ikut campur. Klaue tetap tertangkap dan diinterogasi oleh Agen Ross dari CIA, walaupun T’Challa sudah ngotot mau membawa Klaue ke Wakanda untuk diadili.

Plot lain yang sudah dikembangkan dengan baik sejak awal film adalah tentang Pangeran N’Jobu, adik Raja T’Chaka, yang menyelundupkan vibranium waktu dia tinggal di Amerika Serikat. Pangeran N’Jobu berpikir vibranium jika dijual bisa memberi akses kepada uang dan kekuasaan untuk membantu orang-orang kulit hitam lain yang tertindas di berbagai belahan dunia, sedangkan Raja T’Chaka bersikeras Wakanda harus tetap menjaga kerahasiaan lokasi dan keterbatasan aksesnya dari dunia luar. Akhir dari plot ini adalah Raja T’Chaka yang tak sengaja membunuh adiknya yang saat itu hendak membunuh Zuri, mata-mata yang dikirim Raja T’Chaka untuk menangkap basah kejahatan Pangeran N’Jobu.

Memang Wakanda yang digambarkan di film ini bukanlah tipikal negara Afrika yang miskin dan terbelakang. Diceritakan bahwa di balik rakyatnya yang kebanyakan berprofesi sebagai petani, Wakanda adalah negara yang sangat maju sains dan teknologinya, dengan kota futuristik yang memakai vibranium sebagai bahan dasar untuk hampir semua barang. Sebuah kontras yang dibangun dengan sangat apik melalui adegan kapal canggih milik T’Challa yang melewati padang gersang dimana ada beberapa penggembala untuk menuju Wakanda yang tersembunyi dari penglihatan manusia biasa. Kalau saya jadi Raja T’Chaka yang memiliki vibranium, saya juga akan memiliki kekhawatiran yang sama. Bahkan satu suku bangsa yang memiliki warna kulit yang sama terdiri dari berbagai macam orang dengan tujuan dan pemikirannya masing-masing. Membuka akses terhadap vibranium itu seperti memberikan pedang bermata dua. Bukan karena pedangnya yang memiliki potensi membahayakan orang lain, tapi karena pemegang pedang bisa dibagi menjadi dua jenis: orang baik dan orang brengsek, orang bertanggung jawab dan orang tidak bertanggung jawab, orang tulus dan orang licik, dan seterusnya.

Saat diinterogasi di Busan, Klaue akhirnya diselamatkan oleh anak buahnya, dimana salah satunya adalah Erik Killmonger. Profesi resmi Killmonger adalah agen CIA yang bertugas menginfiltrasi negara-negara yang sedang terguncang pemerintahannya. Pernyataan Agen Ross di film ini membuat saya teringat pada konflik di Timur Tengah saat pemimpin-pemimpin karismatik banyak negara Arab terguling satu-persatu. Memang benar ada “tangan” yang lebih besar yang memainkan dinamika politik dan membentuk pendapat dengan cara menyetir konten media mainstream. Oleh karena itu sebelum pendapat kita terbelah, bangsa kita terbelah, ada baiknya kita pilah informasi yang kita terima. Ini adalah pelajaran yang saya dapat dari latar belakang seorang Erik Killmonger.

Selain sebagai agen CIA, Killmonger sebenarnya adalah anak dari Pangeran N’Jobu. Raja T’Chaka dan Zuri meninggalkan Erik di Oakland dan hal ini mengakibatkan anak itu menaruh dendam kesumat untuk membalas kematian ayahnya. Kedatangan dia di Wakanda dengan membawa jasad Kalue mendapat simpati dari W’Kabi, dan dengan dukungannya Killmonger menantang tahta yang diduduki T’Challa. T’Challa menerima tantangan itu karena dia baru tahu tentang sepupunya yang terbuang itu dari Zuri, dan dia ingin memperbaiki kesalahan yang telah diperbuat ayahnya.

Pelajaran lain yang saya ambil dari sini, dendam bisa menjadi nahkoda hidup seseorang. Sebagai tokoh yang muncul sekilas di awal dan tampil sangat signifikan di paruh terakhir film, Michael B. Jordan bisa menyampaikan perasaan dendam itu dengan sangat baik melalui mimik wajah dan tindak-tanduknya. Di awal film dia menantang petugas museum di London dengan mengatakan bangsa Inggris mencuri artefak orang-orang Afrika. Sebuah pernyataan sederhana yang menyimpulkan perasaan kemungkinan banyak orang Afrika. Orang kulit putih datang ke benua ini, memecah belah suku bangsa, menjadikan mereka daerah kolonial, mengambil artefak kebudayaan Afrika tanpa ijin dan tanpa membeli, menguasai sumber daya alam, menjadikan orang Afrika budak di benua Eropa dan Amerika Utara, dan seterusnya. Sikap Killmonger yang langsung menempatkan diri sebagai bagian dari orang tertindas dan ingin melepaskan quote unquote 2 milyar orang kulit hitam lain dari penindasan adalah motif yang tepat dan masuk akal untuknya menguasai Wakanda dan vibranium.

Akhir dari film ini cukup klise dengan T’Challa membunuh Killmonger dalam pertaruangan satu lawan satu. Adegan dua Black Panther yang bertarung cukup lama namun tidak membosankan menurut saya sangat eksotis, karena seperti menyaksikan dua panther sungguhan berkelahi. Menjelang akhir film T’Challa membawa Erik menyaksikan matahari terbit, sebuah pemandangan paling indah di dunia yang sangat dirindukan oleh ayah Erik. Saya sempat berharap Erik mau disembuhkan dari lukanya dan akan bahu-membahu dengan sepupunya T’Challa memimpin Wakanda, namun ternyata tidak. Mungkin karena ada pepatah people don’t change; they just adapt, jadi sulit membayangkan karakter Erik yang tiba-tiba bertobat dan jadi orang baik setelah dia berusaha membalas dendam dengan begitu brutal.

Di penghujung film ada adegan pertarungan di padang rumput antara suku perbatasan yang dipimpin W’Kabi dan mendukung Erik dan suku Jabari yang dipimpin M’Baku dan mendukung T’Challa. Tentara kerajaan yang dipimpin Okoye pun akhirnya kembali mendukung T’Challa dan bahu-membahu melawan suku perbatasan. Terlihat ya kalau manusia itu makhluk yang setia. Hanya karena ketaatan dan ketundukan pada satu figur pemimpin mereka rela terluka, sakit, dan berdarah-darah. Apakah pernah terlintas di benak pemimpin yang mengajak rakyatnya berperang kalau rakyat mereka punya kehidupan sendiri dan lebih perlu dilindungi daripada dipakai untuk mewujudkan ambisi si pemimpin? Saya penasaran saja.

Pada akhirnya Wakanda di bawah kepemimpinan T’Challa berniat membuka diri terhadap dunia luar, memberikan bantuan kepada mereka yang membutuhkan. Pidato T’Challa di depan anggota PBB menurut saya sangat berkesan.

In the time of crisis, the wise builds bridge, but the fool builds barriers.

Dia juga mengajak mereka yang hadir di rapat itu untuk membenahi dunia dengan mengambil posisi sebagai sebuah suku bangsa, one tribe, alih-alih melihat penduduk bumi sebagai manusia yang sangat beragam warna kulit, suku, dan lain-lainnya.

Catatan terakhir buat film ini dari saya adalah sebagai berikut:

  1. Para pengawal T’Challa yaitu pasukan khusus wanita Dora Milaje benar-benar menarik di mata. Walaupun semua wanita botak dan kekar, mereka tetap tampil feminin dengan seragam merah dan teknik bertarung yang tidak terlalu macho. Diana Prince/Wonderwoman dan para wanita Amazon mah lewat. Saya jauh lebih suka pasukan elit Dora Milaje dari Wakanda.
  2. Percakapan antara orang-orang Wakanda dilakukan dalam bahasa Inggris dan bahasa Wakanda, dimana pergantian bahasa dilakukan secara halus dan sesuai konteks. Misalnya: saat Agen Ross ngotot tidak mau melepas Klaue, T’Challa bicara dalam bahasa Wakanda dengan Okoye, sebuah hal yang masuk akal karena kita sering menggunakan bahasa yang orang lain tidak mengerti untuk menjaga kerahasiaan isi percakapan kita. Walaupun mereka berbahasa Inggris, tapi aksen Afrika-nya sangat kental dan enak didengar. Akhiran -er seperti father, brother diganti dengan bunyi yang lebih terdengar seperti -ah, jadi father, brother terdengar seperti fathah, brothah. Sebuah kebiasaan yang masih dipakai oleh keturunan orang Afrika di Amerika Serikat sana yang seperti membentuk bahasa Inggris mereka sendiri. Jadi tidak usah malu jika berbicara bahasa Inggris dengan aksen Sunda, Jawa, dll. Saya malah heran dengan Youtube Channel seorang Amerika yang meledek orang Indonesia yang berbicara bahasa Inggris dengan aksen bahasa daerah. Bahasa Inggris memang bukan bahasa ibu kita kok, dan tuntutan untuk bertutur di dalamnya dengan cara persis sama dengan orang di benua Amerika atau Eropa sana menurut saya konyol. Orang Afrika di film ini berbicara Inggris dengan lancar, walaupun dengan logika kalimat yang sepertinya terjemahan langsung dari kalimat dalam bahasa mereka, dan tetap terdengar indah.
  3. Saya menonton film ini dengan seorang teman orang Korea yang sedang belajar bahasa Indonesia. Pengalaman ini sangat berkesan bagi dia karena dia jadi belajar membaca subtitle dalam bahasa Indonesia, dan kami mengakhiri acara menonton kami dengan makan martabak telor. Ini kali pertama teman saya makan martabak telor dan dia suka sekali, sampai-sampai menandai tempat abang martabak di Google Maps di HP-nya. Hahaha. Oya, kami juga cukup bahagia saat lokasi film berpindah dari Wakanda ke Busan. Sebagai orang Korea, teman saya cukup merasa nostalgia mendengar orang-orang berbicara bahasa Korea di dalam film dan melihat setting pasar tradisional dan pertokoan di Busan. Sedangkan buat saya yang sudah sering ke Busan, mengenali tempat-tempat yang saya pernah kunjungi (terutama Gwangan Bridge) sungguh membuat hati saya hangat.Dua Ajumma

Di akhir kata, bahkan jika Black Panther bukan bagian dari Marvel Cinematic Universe, film ini sangat layak ditonton karena keunikan setting dan pesan yang hendak ia sampaikan. Saya tidak akan ikut berkomentar tentang film ini sebagai film orang kulit hitam karena sutradara dan aktor-aktornya yang dari ras negroid. Bagi saya film itu bagus karena ide cerita, visualisasi, dan pesan yang saya bisa dapat dari film itu; saya tidak mengindahkan warna kulit dari mereka yang membuat film tersebut.

Film Black Panther adalah awal yang sungguh baik untuk tahun 2018 dimana Marvel Cinematic Universes memperingati sepuluh tahun dia berkarya.

 

Menyambut Tahun Baru 2018 di Taipei

Tahun baru adalah momen bermakna bagi kebanyakan orang. Pada detik-detik menjelang tahun baru, manusia merayakan tahun yang baru saja berlalu dengan baik dan meluapkan optimisme untuk menyambut masa depan yang lebih cerah. Bagi keluarga saya sendiri detik-detik menjelang tahun baru adalah saat-saat untuk merenung, menata diri, dan mempersiapkan mental untuk menghadapi lebih banyak tantangan di hari-hari ke depan. Pada penghujung tahun 2017 lalu keluarga saya memutuskan untuk melakukan suatu hal yang baru pertama kali kami lakukan, yaitu berlibur selama tiga belas hari ke negara dan kota yang belum pernah kami kunjungi sebelumnya.

Mengapa Taipei? Sebenarnya berlibur ke Taipei adalah suatu hal yang tidak pernah kami rencanakan. Selama satu tahun terakhir kami sudah mengatur jadwal perjalanan ke negara lain, namun apa daya, sedikit keterlambatan dalam menebus poin mileage maskapai penerbangan langganan kami membuat harga tiket ke sana melambung sangat tinggi. Di tengah ancaman liburan yang bisa batal, pihak maskapai penerbangan menawarkan empat buah tiket ke Taipei untuk tanggal yang memang cocok dengan rencana kami semula.

Dalam traveling sebelumnya kami terbiasa berpindah kota sampai beberapa kali selama kami berada di suatu negara. Namun untuk liburan keluarga kali ini kami memutuskan untuk menginap di satu hotel selama tiga belas hari berturut-turut. Hal ini ternyata sangat berguna, karena saat mendarat di Taipei pada tanggal 21 Desember 2017 anak kedua kami demam tinggi dan kesehatannya harus dimonitor oleh Critical Diseases Center (CDC) Bandara Internasional Taoyuan. Jika kami mengikuti rencana awal untuk tinggal beberapa hari saja di Taipei kemudian pindah ke kota lain di bagian selatan Pulau Formosa ini, pihak CDC mungkin akan kesulitan untuk menghubungi kami dan mendapatkan update tentang kesehatan anak kedua kami.

Tantangan terbesar kami saat liburan ini adalah membuat anak kedua kami, seorang balita, bisa menikmati liburan sambil mengasah ketangguhannya dalam bepergian. Tidak ada masalah yang berarti untuk anak kami yang pertama yang berusia delapan tahun, karena dia sudah terbiasa traveling di berbagai medan dan dengan berbagai moda transportasi, kecuali masalah otot kaki yang pegal. Bagaimana tidak, dalam satu hari jalan-jalan mengeksplorasi Taipei kami melangkah antara sembilan ribu langkah (jika kami berjalan-jalan di dalam kota) sampai tujuh belas ribu langkah (jika kami hiking ke gunung-gunung yang mengelilingi Taipei).

Sebelum mendarat di Taipei kami sudah mendapatkan informasi bahwa puncak perayaan dan kemeriahan pergantian tahun di kota ini akan dipusatkan di Taipei 101. Taipei 101 adalah gedung pencakar langit tertinggi di Taiwan yang menjulang setinggi 509,2 meter. Rekor sebagai gedung percakar langit tertinggi di dunia dipegang oleh Taipei 101 sampai tahun 2010 ketika Burj Khalifa di Dubai selesai dibangun. Dari berbagai informasi yang kami dapatkan, pada malam pergantian tahun akan ada panggung musik di sekitar Taipei 101 yang dimeriahkan oleh artis-artis kenamaan Taiwan, namun puncak acaranya adalah kembang api yang akan dimulai tepat pada detik ke-1 di tahun 2018.

Enam hari sebelum tahun baru kami mengeksplorasi daerah di sekitar Taipei 101 untuk mengira-ngira tempat untuk mendapatkan view terbaik pertunjukan kembang api. Kami hiking ke Gunung Xiangshan atau Elephant Mountain yang hanya berjarak satu stasiun dari Taipei 101. Perjalanan mendaki Gunung Xiangshan cukup menantang karena tangganya yang sempit dan anak tangga yang sangat banyak dan terletak agak tinggi antara satu dengan yang lain.

Sebelum mencapai viewing pavilion untuk mendapatkan pemandangan terbaik dari Taipei 101 dan landscape di sekitarnya. Gunung Xiangshan menjadi salah satu tempat favorit penduduk Taipei untuk menonton pertunjukan kembang api pada malam tahun baru, namun tempat ini tidak menjadi pilihan kami karena jalan yang sulit untuk dilalui pada malam hari, apalagi sambil membawa anak kecil.

taipei-dari-gunung-xiangshan-5a54f07a16835f1c77246112.jpg
taipei-dari-gunung-xiangshan-5a54f07a16835f1c77246112.jpg
tangga-gunung-xiangshan-yang-curam-jpg-5a5503ad5e137324f9383552.jpg
tangga-gunung-xiangshan-yang-curam-jpg-5a5503ad5e137324f9383552.jpg
viewing-deck-di-atas-gunung-xiangshan-1-jpg-5a5503a4caf7db274b44c502.jpg
viewing-deck-di-atas-gunung-xiangshan-1-jpg-5a5503a4caf7db274b44c502.jpg
wefie-dari-viewing-pavilion-gunung-xiangshan-jpg-5a550383bde57528cd2f8232.jpg
wefie-dari-viewing-pavilion-gunung-xiangshan-jpg-5a550383bde57528cd2f8232.jpg

 

Pada tanggal 31 Desember 2017 kami hiking ke Taman Nasional Yangmingshan yang terletak di bagian utara kota Taipei. Taman nasional ini bisa diakses dengan bis dari stasiun-stasiun MRT yang sangat populer di antara turis, yaitu stasiun MRT Shilin dan Jiantan. Perjalanan dari kota sampai pusat informasi turis di gerbang taman nasional menghabiskan waktu sekitar empat puluh menit. Jalan menuju ke taman nasional diaspal dengan mulus, dan ada banyak restoran dan kedai kopi franchise international yang bisa jadi tempat untuk makan dan melepas lelah otot sebelum melanjutkan hiking ke beberapa tempat atraksi di taman nasional ini.

peta-taman-nasional-yangmingshan-jpg-5a54f77dab12ae247b0d73e2.jpg
peta-taman-nasional-yangmingshan-jpg-5a54f77dab12ae247b0d73e2.jpg
hiking-di-yangmingshan-park-5a54f78fab12ae23bb3427c4.jpg
hiking-di-yangmingshan-park-5a54f78fab12ae23bb3427c4.jpg

 

Pada pukul enam sore kami memutuskan turun dari gunung dan melanjutkan perjalanan ke Taipei 101. Masih ada lima jam menjelang tutup tahun tapi stasiun MRT dan area di sekitar gedung Taipei 101 sudah penuh sesak dengan manusia. Ada begitu banyak polisi dan relawan dikerahkan untuk mengarahkan massa yang membludak supaya tetap bisa keluar dan masuk stasiun dengan mudah. Foodcourt di dalam mal Taipei 101 juga sangat ramai. Kami membutuhkan waktu sekitar tiga puluh menit untuk mendapatkan kursi saja. Walhasil, kami baru bisa keluar dari mal untuk mencari spot terbaik untuk menonton kembang api pada pukul sembilan malam.

penghujung-2017-di-taipei-101-jpg-5a5505af5e137324f748ef32.jpg
penghujung-2017-di-taipei-101-jpg-5a5505af5e137324f748ef32.jpg
wefie-dengan-taipei-101-jpg-5a5505accaf7db23934b9c93.jpg
wefie-dengan-taipei-101-jpg-5a5505accaf7db23934b9c93.jpg
keramaian-tahun-baru-di-taipei-101-jpg-5a5505bfcaf7db28f35ab012.jpg
keramaian-tahun-baru-di-taipei-101-jpg-5a5505bfcaf7db28f35ab012.jpg

 

Taipei pada masa liburan akhir tahun dibanjiri manusia dari berbagai negara. Turis asing yang kami sering jumpai adalah dari Filipina, Korea, Jepang, dan negara Barat, dan banyak dari mereka yang khusus datang untuk menikmati kembang api tahun baru di Taipei 101. Kami sudah mulai lelah karena sudah beraktivitas sejak pagi. Waktunya untuk duduk sejenak dan memperbaharui semangat bergabung dengan kerumunan manusia di sekitar Taipei 101.

duduk-sejenak-jpg-5a5505d3caf7db287028bb32.jpg
duduk-sejenak-jpg-5a5505d3caf7db287028bb32.jpg

 

Semua jalan protokol di sekitar Taipei 101 ditutup untuk pejalan kaki. Sepanjang jalan musik berdentum menghibur penduduk kota dan para turis yang berduyun-duyun mencari tempat terbaik untuk menyaksikan kembang api. Area di bawah gedung Taipei 101 sendiri ditutup dengan radius tiga kilometer sebagai wilayah untuk pelaksanaan kembang api. Kami dan beribu-ribu orang lainnya bergerak menuju ke arah stasiun MRT Taipei City Hall untuk menunggu jam dua belas malam berdentang.

Menjelang tengah malam makin banyak orang yang meringsek ke area yang sudah didiami oleh mereka yang sudah menunggu sejak pukul sembilan atau sepuluh malam, seperti kami ini. Pertengkaran mulut kadang tidak dapat dihindari karena ada banyak orang yang tidak sopan melangkahi para penonton yang sudah duduk nyaman di aspal, namun semua kericuhan dan perasaan tidak enak itu berhenti begitu countdown menuju pergantian tahun dimulai pada detik ke-30. Saat menyaksikan detik-detik hitung mundur mulai dimunculkan di satu sisi gedung Taipei 101, spontan semua pejalan kaki yang masih mencari tempat untuk duduk dan semua penonton yang sudah duduk dengan nyaman di aspal berdiri untuk mengabadikan momen spesial tersebut.

Massa menghitung mundur bersama-sama dengan suara keras mulai dari hitungan ke-sepuluh, dalam berbagai bahasa: Mandarin, Inggris, dan bahasa-bahasa lainnya. Pada detik ke-nol kembang api yang menyilaukan mata dan sangat mengagumkan menghiasi Taipei 101 dan memberikan kegembiraan pada semua orang yang menontonnya dengan langsung.

Inilah momen untuk merayakan waktu yang sudah dianugerahkan untuk kita di masa lalu (tahun 2017) dan merayakan harapan untuk kehidupan yang lebih baik di masa yang akan datang (tahun 2018).

selamat-tahun-baru-2018-jpg-5a550567bde57524706ac262.jpg
selamat-tahun-baru-2018-jpg-5a550567bde57524706ac262.jpg

 

Perjalanan kami kembali ke hotel yang terletak di Banqiao, New Taipei City tidaklah mudah. Jalan protokol masih ditutup untuk kendaraan umum dan pribadi, sehingga kami dan massa lainnya berjalan kaki sekitar tiga kilometer untuk mencapai stasiun MRT terdekat dari Taipei 101 yang dibuka untuk umum. Pada malam pergantian tahun, semua line dari Taipei MRT beroperasi dua puluh empat jam. Namun, tetap perlu pengarahan dan pengaturan dari polisi untuk menjaga kenyamanan semua penumpang MRT.

Calon penumpang diminta untuk mengantri selama tiga kali. Pertama, untuk memasuki stasiun. Kedua, untuk memasuki platform. Dan terakhir, untuk menaiki kereta. Toilet portable sebanyak sepuluh buah tersedia di samping pintu Stasiun MRT Sun Yat Sen Memorial Hall yang menjadi akses kami untuk pulang ke hotel, untuk kenyamanan semua orang yang keluar rumah untuk menikmati kembang api tahun baru di Taipei 101. Saat kami mengantri di pintu masuk stasiun MRT, anak pertama kami sudah sangat mengantuk dan anak kedua kami sudah tertidur pulas sampai saya duduk di aspal karena tidak kuat menggendong dia sambil berdiri mengantri. Para polisi sangat sigap melihat kebutuhan orang-orang seperti kami yang membawa anak, stroller, atau kursi roda untuk mendapatkan prioritas masuk ke dalam stasiun.

capek-mengantri-jpg-5a550573ab12ae276c451e72.jpg
capek-mengantri-jpg-5a550573ab12ae276c451e72.jpg
mengantri-masuk-mrt-jpg-5a5505fa16835f1c7572b494.jpg
mengantri-masuk-mrt-jpg-5a5505fa16835f1c7572b494.jpg

 

Akhirnya kami tiba di hotel di Banqiao pada pukul setengah tiga pagi. Bertolak-belakang dengan Taipei yang sangat ramai dan hidup di malam tahun baru ini, Banqiao sangat sepi dan seperti kota mati saja. Setelah mempersiapkan anak-anak untuk tidur, tak lupa kami mengoleskan balsem di sekujur kaki yang sudah sangat tahan-banting membawa kami menjelajah Taman Nasional Gunung Yangmingshan dan menikmati kembang api di Taipei 101. Sebuah hal yang tak terlupakan pada malam pergantian tahun 2017 ke tahun 2018.

geliga-krim-di-taipei-jpg-5a5505f0cf01b4252164f472.jpg
geliga-krim-di-taipei-jpg-5a5505f0cf01b4252164f472.jpg

 

Selamat Tahun Baru! Semoga tahun ini kita semua menjadi lebih baik.

Sebuah Cangkir Keramik dan Kebohongan yang Disengaja

Bulan lalu saya pergi ke Museum Seni Rupa dan Keramik di Kota Tua, Jakarta dengan teman saya untuk belajar membuat keramik. Teman saya sudah pernah ke sana dan berhasil membuat sebuah mangkok besar, sedangkan kali ini adalah kali pertama untuk saya. Di sana saya membuat dua buah cangkir untuk kedua anak saya dari satu kilogram tanah liat khusus. Waktu pembuatan sekitar satu jam dan cangkir dibawa pulang dalam keadaan basah. Cerita perjalanannya bisa diintip di sini.

Nah, karena cangkir yang dibawa pulang masih lembek, bapak yang mengajari saya membuat cangkir memberitahu saya supaya cangkir diangin-anginkan beberapa hari dengan cara ditaruh di tempat terbuka yang tidak mendapat sinar matahari langsung. Saya membawa pulang cangkir dengan kotak nasi Padang dan naik bis. Waktu turun dari bis, kotak yang saya pegang tersenggol orang di depan saya jadi cangkir agak penyok. Rasanya pengen banget nangis deh, tapi untung anak-anak masih antusias dengan cangkir handmade yang saya buat untuk mereka. Di rumah saya berusaha untuk meratakan bagian yang penyok, tapi apa daya, tanpa roda pemutar tanah liat permukaan cangkir mustahil dibentuk menjadi mulus lagi.

Kedua cangkir ini akhirnya kering setelah satu minggu saya letakkan di taman dalam rumah. Bentuk akhirnya berantakan, dengan banyak tanah liat yang mengelupas di sana-sini. Proses final pembuatan perabot dari tanah liat memang dengan cara pembakaran, yang sayangnya tidak dimiliki oleh museum ataupun saya. Saya taruh kedua cangkir ini di tempat yang sama selama satu minggu lagi untuk mendapatkan bentuk yang lebih kokoh.

Pada suatu hari Minggu pagi yang tenang, saya bangun dan mendapati handle salah satu cangkir sudah patah seperti di gambar di atas. Kontan saya bertanya: Siapa yang bikin ini? Siapa yang matahin handle cangkir? Wah kalau saya kira pelakunya akan segera mengaku, saya salah besar. Kedua anak saya datang dan sama-sama bilang: Ga tau. Bukan aku. Hmmm, mencurigakan. Tidak mungkin handle-nya patah sendiri karena tanah liat sudah mengeras setelah 2 minggu. Setelah interogasi selama beberapa menit, anak yang tidak sengaja mematahkan handle karena dia ingin mengamati ukiran namanya pada cangkir akhinya mengaku juga. Tapi …, tetap perlu waktu lho untuk membuat anaknya mengaku dengan embel-embel mamanya harus lebih dulu berjanji tidak akan marah besar dan akan memaafkan dia.

Saya jadi berpikir, kenapa ya manusia berbohong? Siapa yang mengajari kita? Kapan kita mulai melakukannya? Apa tujuan akhir kita?

Waktu saya kelas 1 SD saya pernah mencontek teman sebangku saya waktu ulangan Bahasa Sunda. Waktu itu saya duduk di dekat meja guru tapi saya entah kenapa berani melakukannya. Setelah itu guru saya memanggil saya dan bertanya, “Kamu tadi nyontek ya waktu ulangan?” Jawaban saya waktu itu otomatis adalah: tidak (padahal ibu guru pasti bisa melihat saya melakukan hal itu), hehe. Pada akhirnya saya kemudian mengakui perbuatan saya dengan penuh perasaan bersalah dan malu. Malu karena ketahuan atau malu karena menyesal sudah mencontek? Sepertinya waktu itu sih saya merasa malu karena ketahuan, bukan karena menyesal. Saya bersyukur waktu itu saya ketahuan mencontek dan ketahuan berbohong. Peristiwa itu membuat saya berusaha untuk tidak mencontek lagi seumur hidup (dengan beberapa kegagalan waktu mengerjakan ulangan waktu kelas 1 SMA, hiks.)

Kita berbohong untuk melindungi diri, betul kan? Kita pikir kalau fokus tudingan sudah beralih dari diri kita ke orang lain, maka kita aman, kita akan bebas dari sorotan. Terkadang kita tidak berpikir sebelum kita berbohong, tiba-tiba saja kebohongan itu sudah keluar dari mulut kita. Kita ingin mencari aman untuk reputasi kita, tapi sebenarnya kita merendahkan harga diri kita sendiri. Kebohongan tidak akan menyelesaikan masalah dan kebohongan akan diikuti dengan kebohongan-kebohongan lainnya. Kita bisa berkilah kalau kita ‘kepleset’ berbohong tentang suatu hal di suatu waktu, tapi jika kebohongan itu dibentuk, dipelihara, dan dibiarkan sedemikian rupa sampai akhirnya kita bingung mana yang benar dan mana yang bohong, sesungguhnya kita sedang membangun jalan menuju kehancuran diri kita sendiri.

Berbohong adalah salah satu perbuatan natural manusia yang dilakukan tanpa ada yang mengajari dan setiap orang mengucapkan kebohongan pertamanya pada usia yang berbeda-beda. Terlepas dari agama dan iman apapun yang beredar di bumi ini yang mengkategorikan berbohong sebagai perbuatan dosa, mengucapkan kebohongan termasuk pada pelanggaran nilai moral. Kebenaran adalah nilai moral yang universal, dan kebohongan adalah antitesa dari usaha manusia untuk menjadi pribadi yang berintegritas.

Sampai saat ini saya sudah bertemu banyak orang yang membangun kebohongan untuk menciptakan reputasi diri. Mengaku anak orang kaya, mengaku sering jalan-jalan ke luar negeri, mengaku punya pacar cakep, dll. Dan waktu mereka ketahuan, tiada ampun. Teman-teman hilang satu demi satu dan tidak ada lagi yang mempercayai mereka. Jika kebohongan sudah sistematis seperti itu, itu bukan lagi untuk melindungi diri, tapi ada faktor kejiwaan lain seperti kecenderungan narsisme (perasaan cinta berlebihan pada diri sendiri) dan sifat delusional.

Bagaimanakah mengajari anak-anak supaya tidak berbohong? Langkah pertama yang paling penting menurut saya adalah menciptakan kondisi di mana anak-anak merasa bebas bercerita apa saja pada orang tua. Waktu insting kita memberi peringatan bahwa ada sesuatu yang salah, upayakan untuk tetap tenang dan tidak bertanya dengan nada menuduh. Hal ini penting supaya anak tidak merasa tersudutkan. Efek domino dari perasaan tersudut jelas sekali bukan?

Ada hal yang salah –> orang tua bertanya dengan nada menuduh –> anak merasa tersudutkan –> anak berusaha melindungi diri –> anak berbohong –> orang tua tambah marah karena tahu anak sudah membohongi mereka.

Kalau orang tua tidak segera menanamkan kepada anak kalau berbohong itu salah, siklus di atas akan terus berulang dan sulit dipatahkan. Akibatnya diskusi menjadi buntu, dengan orang tua tetap merasa anak salah dan anak tetap merasa orang tua berlebihan. Tentu saja hal ini lebih indah secara teori dan sulit (bukan mustahil) untuk dilakukan. Jika orang tua tetap tenang, bertanya dengan nada netral, memberikan gelagat yang menandakan bahwa semua akan baik-baik saja, anak akan dengan rela bercerita dan tidak menyembunyikan apa pun dari orang tua. Tantangan pertama dan terberat adalah bagaimana memformulasikan pertanyaan yang bisa membuat anak merasa terbuka, bukan bagaimana membuat anak cepat-cepat mengakui kesalahan mereka.

Kembali pada kasus cangkir keramik yang pecah tadi. Saya belum mencapai level nada suara dan pertanyaan yang cukup untuk membuat anak nyaman bercerita, tapi saya berusaha untuk menuju ke sana. Saya melihat mekanisme melindungi diri ini semakin kuat seiring dengan pertambahan usia, dan tambah besar anak akan tambah mudah berbohong, apalagi jika tidak ada yang pernah menegur dan memberi tahu kalau berbohong itu salah. Orang tua perlu mendampingi supaya anak tetap menjadi pribadi yang jujur di setiap waktu, di segala kesempatan. Ciptakan suasana yang kondusif untuk anak-anak bercerita, dan jika kebohongan sudah terlanjur diucapkan, ajak anak untuk mendiskusikan hal apa yang salah dan harus diperbaiki. Tentu saja kita sebagai orang tua harus memberikan contoh terlebih dahulu,karena anak-anak bisa merasakan lho kalau kita tidak sedang berkata yang sebenarnya.

Kebohongan bisa dimulai dari ketidaksengajaan karena ada intuisi untuk melindungi diri. Jika terus ditolerir dan diabaikan, lama-kelamaan kebohongan bisa menjadi suatu keahlian yang dipakai dengan sengaja untuk menguntungkan diri sendiri dan merugikan orang lain.

Kita sebagai orang tua adalah guru sepanjang hayat kita untuk mengikis sifat/kebiasaan buruk ini dari dalam diri kita sendiri dan dari dalam diri anak-anak kita.

Mengapa Wanita Itu Tidak Mengenakan Bra?

Pada tahun 2012 kami tinggal di Swis untuk beberapa waktu dan kami berkesempatan merasakan musim semi, musim panas, dan musim gugur di sana. Ketika cuaca mulai hangat, orang-orang akan menanggalkan pakaian tebal dan mengenakan pakaian yang lebih tipis. Pada suatu hari Sabtu sore di bulan Agustus, saya berdiri di sebelah seorang wanita paruh-baya di halte sambil menunggu bus yang akan membawa saya pulang. Wanita itu terlihat biasa meskipun dia tidak mengenakan bra.

Reaksi saya ketika itu adalah cepat-cepat mengalihkan pandangan saya karena saya tidak merasa nyaman dengan apa yang saya lihat. Anehnya, orang-orang di sekitar saya yang melihat hal yang sama bersikap biasa saja, seperti tidak ada hal yang aneh atau mengejutkan. Bahkan teman pria si wanita itu yang sedang mengobrol dengannya tidak memelototi wanita itu. Orang-orang di sekitar kami tidak mengamati wanita itu seakan-akan dia telah berbuat sesuatu yang salah. Hal ini membuat saya menyadari perbedaan nilai-nilai, norma-norma, dan kebiasaan-kebiasaan di setiap negara dan kebudayaan. Saya berandai-andai, jika wanita yang tidak mengenakan bra itu berada di Indonesia, pelecehan dan kekerasan seperti apakah yang dia mungkin alami?

Setiap manusia adalah makhluk individu yang merupakan bagian dari lingkungan sosial. Sebagai makhluk sosial, setiap orang diminta untuk mengikuti norma, perilaku, dan nilai tertentu. Ketidakmampuan untuk mengikuti aturan kelompok akan membuat seseorang diasingkan oleh kelompoknya. Sejak dahulu kala setiap manusia selalu berusaha mencari orang yang punya kesamaan dengan dirinya. Manusia memasukkan banyak faktor untuk menyamakan dirinya dengan orang lain: ras, agama, status sosial, pendidikan, dan seterusnya. Bentrokan antara kelompok sosial terjadi karena kurangnya dua faktor: penerimaan dan rasa hormat terhadap orang lain.

Manusia harus menerima kalau kesamaan dengan orang lain adalah suatu konsep yang tidak real dan tidak jelas tujuannya. Jika kita menempatkan ras sebagai faktor pemersatu kita dengan orang lain, banyak penelitian telah menunjukkan bahwa tidak ada ras yang murni di dunia sekarang ini. Siapakah yang bisa disebut sebagai ras Indonesia murni, ras India murni, ras Korea murni? Ujung dari terbentuknya suatu identitas ras adalah terbentuknya suatu identitas bangsa. Satu atau lebih ras setuju untuk membangun suatu negara dan bangsa, dan untuk menempati lokasi geografis tertentu. Pertanyaannya adalah, siapa yang bisa menjamin kalau semua penduduk negara itu berasal dari satu ras murni? Tidak seorang pun. Bangsa dan wilayah kependudukan saat ini dibangun berdasarkan kesepakatan. Dan kesepakatan itu adalah hasil dari kemampuan untuk menerima dan menghormati orang lain.

Para pendiri suatu bangsa menerima bahwa ada perbedaan di antara orang-orang yang mendirikan bangsa itu. Secara fisik, tidak ada seorang pun yang identik seratus persen dengan orang lain. Warna rambut, kulit, dan mata yang berbeda-beda jelas-jelas menunjukkan hal ini. Para pendiri suatu bangsa menerima dan menghormati fakta ini. Seumpama agama dan ideologi dipakai sebagai faktor pemersatu suatu bangsa, kita semua tahu kalau iman adalah hal yang berbeda sama sekali dengan agama.

Iman bicara tentang pengalaman pribadi dan harapan. Agama bicara tentang sekelompok orang yang punya kesamaan pandangan dan kepercayaan. Agama adalah suatu bentuk pengelompokan dalam kehidupan sosial, dan kelompok ini sebaiknya juga mengikuti prinsip menerima dan menghormati kelompok sosial lain. Kita menerima kalau ada orang-orang yang mempercayai hal yang berbeda dengan yang kita percayai. Kita menghormati apapun yang mereka percayai.

Mungkin kita tidak setuju dengan hal yang mereka percayai, tapi siapakah kita yang bisa menghakimi kalau kepercayaan mereka adalah benar atau salah? Mengapa pemahaman saya akan surga dan neraka (berdasarkan iman saya) menjadi urusan orang lain? Mengapa pemahaman mereka akan surga dan neraka (berdasarkan iman mereka) menjadi urusan saya? Seharusnya itu menjadi urusan masing-masing orang, karena kita semua diciptakan dan bisa memilih untuk menjadi berbeda antara satu dengan yang lainnya. Kita menerima dan menghormati fakta bahwa kita berbeda.

Kembali kepada wanita paruh-baya yang saya lihat tidak mengenakan bra di sebuah halte bus.

Latar belakang saya yang berasal dari Timur dan negara yang (seharusnya) religius membuat saya berpikir kalau tindakan wanita itu tidak sopan. Saya terus bertanya pada diri sendiri saya? Mengapa ya dia melakukan hal itu? Mengapa ya dia tidak mengenakan bra? Mengapa ya dia tidak menutupi dirinya dengan pakaian yang sopan? Bukankah bra dibuat untuk kenyamanan tubuh wanita dan untuk menjunjung nilai-nilai kepatutan? Seandainya pertanyaan-pertanyaan yang berkelebat di benak saya saat itu saya tanyakan kepada wanita paruh-baya tersebut, kira-kira bagaimana dia akan bereaksi? Dia mungkin berargumen bahwa menurutnya cuaca cukup hangat untuk mengenakan pakaian yang tipis (atau tidak mengenakan pakaian dalam, atau apapun).

Dia mungkin tidak punya maksud untuk membuat orang lain resah, risih, atau tersinggung. Cara berpakaiannya (termasuk keputusannya untuk tidak mengenakan bra) hanyalah sebuah wujud dari pilihan dan selera pribadinya, yang dia rasa dia tidak perlu jelaskan pada orang lain. Mengapa pula pilihan dan selera pribadi dari seseorang yang saya tidak kenal sama sekali dan mungkin tidak akan saya lihat lagi, akan saya biarkan mengusik ketenangan hati saya? Seharusnya tidak kan?

Saya jadi teringat perkataan seorang teman saya waktu saya masih sekolah di Tokyo. Orang-orang dari Timur seringkali melihat orang-orang dari Barat sebagai terlalu liberal karena mereka berpandangan terbuka terhadap hal-hal seperti pilihan untuk tidak mengenakan pakaian dalam. Orang-orang dari Barat tidak repot mengurusi hal kecil seperti kode berpakaian dan hal lain yang bersifat fisik, karena penampilan luar seseorang bisa jadi hanya merupakan produk pencitraan dan ilusi semata. Kita bisa benar-benar mengenal seseorang saat kita berusaha menjalin percakapan untuk mengenal karakter dan kepribadiannya.

Orang-orang yang memiliki tato dan tindikan, atau mengenakan bikini seharusnya tidak dinilai berdasarkan penampilan fisiknya; apa yang keluar dari mulut orang itu adalah jauh lebih penting. Waktu teman saya di Tokyo menegur saya tentang hal itu, saya hanya bisa mengangguk walaupun saya tidak setuju. Saya ingat kalau saya beberapa kali masih mengeluh di depan dia, mengapa orang ini dan itu mengenakan/tidak mengenakan ini dan itu. Sampai suatu saat, teman saya itu menegur saya dengan keras dengan berkata: kamu harus mengurusi urusanmu sendiri.

Urus urusanmu sendiri.

Terima dan hargai orang lain.

Saya rasa kedua hal ini bisa menjadi kunci sederhana untuk mencapai masyarakat yang harmonis.

Why Wouldn’t She Wear Any Bra?

In 2012 we lived for a brief time in Switzerland, where we got the chance to experience spring, summer, and autumn there. When the weather was warmer, people started to shed thick clothing and wear lighter one. One Saturday afternoon in August, while waiting for the bus to take me home, I saw a middle-aged lady standing beside me. She looked ordinary except that she didn’t wear any bra. I quickly averted my sight because I didn’t feel comfortable seeing what I saw, but then I noticed that other people didn’t think of it as something peculiar. Her male companion who was talking to her didn’t gawk at that lady. The people around us didn’t eye her as if she had done something wrong. It gave me ideas about how values, norms, common practices are indeed different among countries and cultures. If the same thing had happened back home, I couldn’t even have imagined what kind of harassment that lady might have experienced.

Every human is an individual entity, as well as a part of a larger social picture. As social creature, human is demanded to adhere to certain social norms, behaviors, and values. Incapability to follow the group’s set rules might result in alienation. Since the beginning of time, human strives to find someone being exactly like him. Human includes a lot of factors to justify similarity: race, religion, social status, education, and the lists go on. Clashes between groups happen just because of the lack of two things: acceptance and respect.

Human should accept that similarity is a vague and absurd concept. If we put race as the unification factor, many researches have shown that there’s no such thing as a pure race in the world nowadays. What is pure Indonesian, what is pure Indian, what is pure Korean? An identity of races is only guiding towards the creation of an identity of nations. One or more races agree to build a nation, to reside in a land, but who can guarantee that the residents of that country are all from one pure race? Nobody. Nations and geographical entities are now built based on agreement. And that agreement is the result of acceptance and respect.

They accept that there are differences among people who build a nation. Physically, nobody is identical with another person. The color of hair, skin, and eyes tells that fact loud and clear. They respect that. And when religion and ideology are used to justify similarity, we all know that faith is a totally different thing than religion. Faith speaks about personal experience and hope. Religion talks about collective people with same views and same beliefs. Religion is another grouping in social life, and it should also comply with the same principles of acceptance and respect towards other social groups. We accept that there are people who believe in different things than we do. We respect that they believe those beliefs. We don’t necessarily agree with those beliefs, but who are we to judge whether those beliefs are right or wrong? Why would the idea of heaven and hell in my opinion (based on my faith) matter to other people? Why would their idea of heaven and hell (based on their faith) matter to me? It doesn’t. We accept and respect that we are different, that different. That’s it.

Back to the middle-aged lady who didn’t wear any bra. My background coming from an eastern and (supposedly) religious country made me think that what that lady did was insolent. I did continuously ask myself. Why did she do that? Why wouldn’t she wear any bra? Why didn’t she cover herself properly? Wasn’t bra made for the purpose of sponsoring decency? But from her point of view, she would argue that the weather was nice enough to wear thin clothing (or wear nothing underneath, or whatever). She didn’t mean to annoy or offend anyone. That’s just her choice and personal preference to dress that way. Why should I be bothered? I shouldn’t have.

I remember something a friend said to me when I lived in Tokyo. People from the East often think that people from the West are too liberal because they’re more open to this kind of thing. They don’t sweat over small things like code for outfit and other physical things. I should know that appearance is only a trick for the eye. What matters from a person is only exposed when there are conversation and effort to get to know that person. Tattoos, piercings, bikinis shouldn’t cloud anyone’s judgment. What’s coming out from the mouth, well, that’s more important. At that time I just nodded, but not in agreement. I remember I was still complaining about why these people wore this and that, until one time that friend scolded me by saying: you should mind your own business.

MYOB.

ACCEPTANCE and RESPECT.

I’m starting to think those are the keys to harmonious society.

 

 

 

Collective Misery

Every human being on this earth prefers to be miserable collectively. It’s more irritating when someone is suffering alone. If there is more than one person carrying the weight, there is this illusion (or truth) that the burden is distributed equally among the people. There is this old saying: ‘be happy when other people are miserable, and be miserable when other people are happy’. This saying describes human nature to be egocentric and envious. It describes human instinct to possess the ultimate love, wealth, fortune, luck available to mankind in this lifetime or another, only for oneself. It portrays human effort to make other human’s achievements and accomplishments to appear below his/her own.

There are two interesting encounters we had on this interesting human tendency.

 

1.Climbing up and down the hills to get to Curug Seribu

Curug Seribu (Seribu Waterfall) is located in Gunung Salak National Park in Bogor. We went there last March when it was often raining cats and dogs. It was cloudy and very humid when we arrived, but there was no rain so we were confident enough to explore the tracks. We didn’t quite anticipate the tracks to be THAT difficult though. The tracks went up and down hills with slopes at sixty to ninety degrees. When we’re going down the tracks we had to kneel down to get our footings for the next steps. The same thing happened when we were climbing up. We put our knees first on the step then pushed ourselves, or being pushed, forward. The steps consisted of only soil with uncut stones scattered on top of them. The handrail was only pieces of wood, tied together with old and tired ropes. When descending we hung on to the simple handrail on our right, and to eroded soil wall on our left. It was a challenging adventure for us and our children.

Our eldest had been trained to take this kind of path since she was two years old, so she only needed a little time to adjust then she walked, climbed, knelt, ascended, and descended on her own. We didn’t have hiking shoes/sandals and sticks with us, so she and I used the point of our umbrellas to stabilize our movements. My husband used the tip of his tripod to walk while carrying our youngest on his arm. Our toddler was not used to this kind of adventure. He got tired easily and carrying him was the only option to keep moving forward.

It was around three PM when we were halfway there, and along the way we met people coming back from the waterfall. All of them looked drained. They were exhausted, we could tell from their faces and how they were sweating hard. One thing those strangers had in common was their comments towards us: 1) Are you crazy taking little children through this kind of track? 2) It’s still long way to go; it’s tiring, the road is slippery, all in all it will be difficult for your family. What we heard was discouragement, discouragement, and discouragement. Didn’t they succeed in reaching the waterfall? They surely did because they met us on their way back. So why did they have to be so discouraging? Why didn’t they boost our spirit by saying that we could do what they did, that we too could conquer those impossible tracks and reach the waterfall?

In September 2012 our family, sans our youngest, went to Edinburgh in Scotland. On our last day there we hiked to Arthur’s Seat, the main peak of several groups of hills towering over Edinburgh. The height we took on was 250.5 meters. Our eldest just turned three years old and we saw no other children hiking along us who were as young as she was. Every time we passed strangers on our way up, none of them, who saw our eldest and asked about her age, made comments like the people we met in Curug Seribu. Oh, you’re three years old and you’re hiking with your parents. Good luck on your adventure. Way to go, little girl. What they said was only ENCOURAGEMENT. They didn’t think we, her parents, were crazy. They didn’t think that she was not capable to do the task. They encouraged us and they lifted our spirit.

I wish those people in Curug Seribu had made the same gestures. The first and foremost key to conquer the nature (or anything in life) is mentality. We already lose when we THINK we’ve lost before even going to war. Maybe the people in Curug Seribu felt they didn’t do well enough in tackling the tracks and they felt miserable about it. Then they wanted us who came after them to feel empathy for their misery, or feel miserable as well. I don’t know. Luckily, we were able to tune out those discouraging voices and managed to come back safely to the parking lot, with the thunder and heavy rain above us, and two wet and sleepy kids in tow. All in all, it was a valuable experience. It taught us a lot about mentality, about being prepared (hiking gears for next trip), about persistence, and about ignoring discouragement altogether.

 

2. Driving through flood in Lippo Cikarang

It was the first weekend in April and we were driving to this hotel, at which the Easter Concert from our church was held. About two kilos from the hotel we were suddenly caught up in a traffic jam. You should know that Lippo Cikarang is an emerging town, but it’s quite small. The whole area comprises of 3.300 hectares land, with only 550.000 residents. The lanes on the main road could take up to four cars at once, but it was never required because the number of vehicles utilizing the roads is relatively low. So we were pretty amazed to see there was a traffic jam here in Lippo.

The normally two lanes had been changed into four lanes. The cars were not moving and we couldn’t see any Lippo officials, be it satpam or patrol officers, were around. We drove one kilo in twenty minutes when we met several Lippo officials who all looked anxious. They told us there had been flood but they couldn’t tell where it was exactly. We were suspicious that it was only a hearsay and the truth was actually not like that. The officials applied contra flow on the road and forced the two lanes on the right to make a U-turn. Well the traffic got better for a while. In order to get to the hotel we took a shortcut through a commercial area, where everybody we passed by (the officials from Lippo and the by-standers) looked even more anxious.

They started to yell at the cars who were queuing to enter this area to retreat and take other roads. My husband didn’t believe in their suggestions, because the cars in front of us kept moving. How bad could it be? When the by-standers saw that we and other people wouldn’t listen to them, they started to nag us that we would be caught in the flood and it would be our fault and nobody would help us. Wow, again we thought, how bad could it be? It turned out to be conquerable.

The commercial area was surely flooding (it never had flood ever since its development in 1998), but the by-standers only looked astonished that there was flood in Lippo Cikarang. The flood was roughly forty centimeters high and it was manageable. The water only soaked half of our tires, and as long as we drove with constant speed, there wouldn’t be any problem. We passed the flooding area (about 500 meters long) safely. If we had listened to those by-standers, we might have been panicking to find other alternative ways, and we might have been stuck in an even worse traffic and been late to attend the concert. The attitudes of those by-standers reminded me of the people we met in Curug Seribu. They’re happily discouraging other people. Most of the by-standers were employees of restaurants and other business ventures in that commercial area. With the flood still around it was guaranteed they didn’t get as many customers as on any normal day. So when they’re lacking activities with too much time on their hands, they felt eligible to make other people feel their misery for losing their usual customers.

It annoyed me that on the way home after dropping my husband and our eldest at the hotel, I saw no flood whatsoever on the road that was used for contra flow. There were not even pools of water on the road. The roads were dry but the cars were still slowing down. I guessed several discouraging by-standers have succeeded in creating this anxiety. Anxiety is infectious and is easily reflected on our faces and with our gestures. A quick look at people standing on the side of the road might have triggered a question on our and their minds, had something bad happened? It didn’t matter that nothing important actually happened. The anxiety and discouragement had trapped many people in an unnecessary hassle that afternoon. Thank goodness, our family is good at ignoring discouragement.

 

This contemplation makes me wonder what kind of collective misery that my friends have been led into, and what kind of discouragement they have encountered in their daily life.