Mobil di Pengkolan (Full Story)

Rumahku terletak tepat di tusuk sate dan di depannya ada sebuah pengkolan sempit yang hanya muat untuk paling banyak dua mobil. Di sisi kiri pengkolan itu ada sebuah mobil putih diparkir. Modelnya dari tahun 80-an dan merknya Fiat, merk mobil ternama dari Italia pada jamannya. Mobil itu sudah mendekam di sana selama bertahun-tahun.

Siapa pemilik mobil itu, semua orang tahu. Di kompleks yang hanya berisi lima puluh sembilan rumah ini, semua orang tahu semua hal tentang orang lain. Tidak ada rahasia, tidak ada yang disembunyikan, yang ada hanya gosip yang digosok di belakang.

Setiap kali aku membuka pintu ke arah balkon, pandanganku pasti tertumbuk pada mobil itu. Mataku sakit setiap kali menengok ke bawah. Sial, dia masih saja betah di sana. Butuh keajaiban untuk membuatnya menghilang dalam sekejap. Seperti sulap atau sihir.

Pemilik asli mobil rongsokan itu adalah sepasang suami-istri yang tinggal di sebuah rumah besar berpagar oranye. Kata orang, mereka dibelikan mobil baru oleh anak mereka yang bekerja di luar negeri. Garasi di rumah mereka hanya muat untuk satu mobil. Akibatnya mobil lama harus digusur dan si suami memilih pengkolan itu sebagai perluasan garasinya.

Mengapa ini dibiarkan, aku tak pernah bisa mengerti. Kata orang lagi, pasangan itu adalah penghuni awal di kompleks kami, jadi semua orang sangat menghormati mereka. Mereka dianggap sesepuh, panutan bagi keluarga-keluarga yang lebih muda.

Cih, apakah panutan masyarakat boleh berbuat seenak perutnya? Tidakkah mereka sadar bahwa pengkolan itu, bahwa jalan raya itu adalah milik bersama?

Pemerintah yang membangunnya dan kami yang merawatnya. Seharusnya tidak boleh ada yang memonopoli sepetak lahan sempit yang dilalui oleh ratusan orang setiap harinya. Entah kenapa Ketua RT dan jajarannya bergeming setiap kali aku mengungkit hal ini. Mereka semua bagai kerbau dicocok hidung oleh kehendak dua orang yang sudah tua.

Dalam keadaan kesal aku tertatih-tatih turun ke lantai bawah. Kubanting pintu pagar dan aku bergegas mendekati mobil yang terparkir di pengkolan itu. Aku siap dengan sebatang tongkat di tanganku, kalau-kalau keinginanku terlalu kuat untuk dibendung. Sumpah mati aku sangat ingin memecahkan salah satu kacanya. Mungkin dengan demikian alarmnya akan berbunyi dan pemiliknya akan datang tergopoh-gopoh.

Kutempelkan wajah pada kaca depan untuk mengintip ke bagian dalam. Joknya berlapiskan kain berwarna kelabu. Setelah hampir tiga tahun mangkrak di situ, mungkin warna kelabunya adalah akibat tumpukan debu. Mobil itu tidak menggunakan kaca film, melihat ke dalam rasanya seperti melihat isi akuarium.

Di bagian tengah masih ada radio tape. Di dekat persneling kulihat ada banyak kepingan uang logam. Aku menyipitkan mata untuk melihat tempat sampah di barisan kursi tengah yang penuh dengan plastik, kertas, dan entah barang apa lagi.

Sudah egois, jorok pula, umpatku dalam hati. Masakkan mereka tidak terpikir membersihkan dulu mobilnya sebelum mengonggokkannya di pengkolan yang dimiliki oleh semua orang?

Pengamatanku beralih ke bagian paling belakang dari mobil itu. Seperti minivan pada jaman dahulu, bagian belakang berfungsi sebagai bagasi. Orang jaman sekarang sangat efisien, tempat sesempit apa pun di dalam mobil sekecil apa pun bisa mereka desaki dengan deretan kursi baru. Orang jaman dulu sangat menghargai kelapangan. Hal itu teramat penting apalagi kalau mobil dipakai untuk berkendara ke tempat jauh.

Aku terbatuk sekali, dua kali, karena debu tebal pada kaca paling belakang menempel di hidungku. Wiper depan dan belakang masih utuh, kedua kaca spionnya juga. Luar biasa, batinku. Kalau mobil ini dibiarkan di luar kompleks kami, ia pasti sudah dipreteli sedikit demi sedikit oleh para pemulung yang lewat. Ban dan velg elegan khas mobil Eropa miliknya juga tidak tersentuh oleh tangan jahil.

Ajaib.

Kutiup sedikit debu itu dan kubersihkan sepetak tempat di kaca dengan ujung jariku. Pupus harapanku alarm mobil ini akan meraung-raung jika body-nya kupukuli dengan tongkat. Dari pengamatanku yang sepintas, aku tahu bahwa mobil ini sama purbakalanya denganku. Tidak mungkin dia memiliki alarm atau sistem keamanan lainnya.

Ada ban serep di bagasi bersama dengan tumpukan buku. Beberapa botol minuman dalam kemasan ditaruh sembarangan di pojok ruang sempit itu. Benar-benar deh, kenapa sih orang-orang itu tidak bisa membuang sampah-sampah dari dalam mobil mereka? Mengapa semua barang aneh yang tidak terpikiran olehku bisa berada di dalam situ?

Sejujurnya, aku tidak mengenal mereka secara pribadi. Maklum, aku penghuni baru di kompleks ini, baru sekitar lima tahun, kurang lebih. Aku dan istriku pindah ke sini setelah menantuku meninggal. Sekarang aku tinggal bersama anakku dan membantu mengawasi anak-anaknya.

Aku hanya mengenal Ketua RT dan beberapa keluarga lain. Kebanyakan rumah di sini diisi oleh dua generasi, seperti rumah anakku yang juga didiami oleh aku dan istriku. Generasi mudanya sibuk bekerja, yang tinggal di rumah untuk mengurus para cucu adalah kakek dan neneknya.

Yang sering kutemui dan kusapa saat jalan pagi adalah orang-orang seusiaku. Aku tidak bergaul dengan orang-orang mudanya sebab anakku pun tidak bergaul dengan mereka. Dia terlalu sibuk bekerja mencari nafkah untuk kami semua. Senyum sopan dan anggukan kepala adalah definisi bergaul secukupnya baginya.

Aku terperanjat ketika tiba-tiba ada suara kecil di sampingku, membuyarkan keasyikanku menjadi tukang intip.

“Kakek sedang apa?” Seorang anak kecil berdiri di sebelahku, menatapku dengan pandangan menyelidik. Jari-jarinya berlumuran es krim yang meleleh. Baju birunya belepotan noda coklat. Aku tidak mengenalnya. Mungkin kami pernah berpapasan di jalan, tapi aku tidak ingat benar.

“Kakek sedang lihat-lihat,” jawabku setelah beberapa saat.

“Lihat apa?” Dia ikut-ikutan menempelkan wajah pada kaca dan dia bersiul setelah melihat barang-barang yang tertimbun di dalamnya. “Kayak harta karun.”

“Apanya?”

“Semuanya. Ada mainan ga, ya?” tanyanya kepada diri sendiri.

“Mana mungkin? Yang punya mobil tidak punya anak kecil.”

“Anaknya emang udah besar-besar, tapi cucunya banyak dan masih kecil-kecil. Masak Kakek ga tahu?”

Aku cemberut mendengar pernyataannya yang menohok hati.

Dia berjinjit dan seketika mulutnya menganga. Aku mengikuti arah pandangannya. Ban serep? Apa yang dia lihat dari sebuah ban serep tua?

“Kek, ada uang …,” bisiknya pelan.

“Hah, apa?” Aku kembali menempelkan wajah pada kaca dan segera bersin-bersin tak karuan. Anak kecil itu menepuk-nepuk lenganku untuk membantu menenangkanku. Manis sekali sih dia. “Mana, mana uangnya?’

“Itu …,” dia menempelkan jarinya yang lengket pada kaca di dekat mukaku dan mukanya. “Itu, Kek, di bawah ban.”

Aku mengikuti arah telunjuknya dan terkesiap. Ada segepok kertas berwarna biru terselip di bawah ban. Kusipitkan mata dan kulihat wajah seorang pahlawan pada salah satu sisi kertas itu. Hari belum begitu sore dan aku sedang memakai kacamataku; penglihatanku pasti tidak keliru.

“Benar, ‘kan, Kek, itu uang, ‘kan?” Aku hanya bisa terpaku melihat anak itu tiba-tiba melompat tinggi sambil mengacungkan tinju ke udara dengan sangat bersemangat. Dia berteriak “yes! yes!” berkali-kali.

“Kamu mau ambil?” tanyaku. “Ini bukan mobil kamu.”

Lompatan girangnya berhenti seketika. Wajahnya menunjukkan raut bingung. “Yang punya mobil ‘kan udah ga tinggal di sini.”

“Kata siapa?”

“Kata ayahku, ibuku, kata semua orang. Kakek ga gaul banget, sih,” protesnya lagi.

Aku mengabaikan komentarnya. “Tapi ini ‘kan mobil mereka. Uang di dalam pasti uang mereka.”

“Tapi mobil ini ada di jalan. Bukan di garasi rumah mereka.”

“Terus?”

“Jalan punya semua orang,” lanjutnya lagi.

“Lalu? Uang itu juga punya semua orang?”

Anak kecil itu tertegun mendengar pertanyaanku. Lama kelamaan kusadari bahwa dia bukan anak kecil lagi. Tubuh kurusnya cukup tinggi, setinggi dadaku. Iseng kutanya, “Umur kamu berapa?”

“Sebelas tahun, Kek.”

“Kamu mau uang itu?”

Dia mengangguk kencang-kencang.

“Kamu mau kasih tahu orang tuamu tentang uang itu?”

Dia tidak segera menjawab. Sorot matanya ragu-ragu. Bibirnya cemberut dan wajahnya ditekuk, pertanda otaknya yang sedang berpikir.

“Nanti kamu harus membaginya dengan mereka.”

Dia masih diam.

“Dan dengan orang lain. Ini ‘kan jalan dan pengkolan punya semua orang di dalam kompleks kita. Kamu sendiri yang bilang begitu. Semua orang yang tinggal di sini jadi punya hak, dong.”

“Kita diam-diam saja, Kek,” sarannya. “Kita bikin ini rahasia. Uangnya buat kita berdua aja.”

Aku tertawa terbahak-bahak mendengar rencananya. Anak ini entah kelewat polos atau licik. “Coba, coba kasih tahu Kakek, gimana kamu mau ambil uangnya,” pancingku.

“Bapak si Otong kerja jadi tukang kunci di mal. Otong itu teman sekelasku.”

“Terus?”

“Tukang kunci pasti bisa bongkar kunci ‘kan, Kek? Dia pasti bisa buka mobil ini.”

“Lalu?”

“Setelah kebuka, kita ambil uangnya. Kita bagi dengan om itu.”

Aku tersenyum simpul. Aku tahu siapa bapak si Otong yang dimaksud oleh anak itu. Dia adalah seorang tukang kunci sekaligus mantan narapidana. Satu dekade yang lalu, dia pernah mendekam di penjara tempat aku bekerja sebagai kepala sipir karena terlibat dalam perampokan beberapa toko emas di kawasan Glodok.

Dunia memang selebar daun kelor. Siapa sangka bertahun-tahun kemudian, dua ratus kilometer dari Jakarta, kami akan bertemu kembali? Dan kali ini kami bertetangga karena sekeluarnya dari penjara bapak si Otong pulang ke rumah orang tuanya di kompleks kami.

“Boleh juga. Kapan kamu mau panggil bapaknya si Otong?”

“Setelah aku ngomong dengan ayahku, Kek. Aku mau minta ditemani.”

“Memangnya kenapa? Kamu takut?”

Dia mengangguk berkali-kali. “Tatonya nyeremin, Kek.”

Aku terkekeh. Kupikir anak ini sudah putus urat takutnya, sampai berani melibatkan bekas residivis ke dalam rencana nekatnya.

“Besok jam dua belasan kita ketemu lagi ya, Kek. Aku jemput Kakek dulu ke rumah.”

“Kenapa jam dua belas?”

Dia tersipu malu. “Orang-orang ga ada yang keluar rumah. Semua sibuk kerja dan sekolah. Ga ada yang bakal merhatiin kalau kita deket-deket mobil ini.”

“Memangnya kamu enggak sekolah?”

“Aku mau bolos. Demi rencana kita,” katanya sambil mengedipkan mata.

Aku tertawa terbahak-bahak melihat tingkahnya. Kalau tidak segera diarahkan ke jalan yang benar, anak ini suatu saat pasti akan bernasib yang sama dengan bapak si Otong.

Sebelum kami berpisah, aku tak menyangka anak itu akan mengambil segenggam pasir dari jalan dan melemparkannya ke seluruh badan mobil, terutama kacanya. Mobil itu kini malah terlihat lebih kumal dan terabaikan daripada sebelumnya. Ketika kutanya buat apa, dia menjawab: “Biar ga ada yang curiga mobil ini udah kita periksa.”

Semalam-malaman aku tak tidur memikirkan rencana kami besok. Jantungku berdebar kencang memikirkan apa yang kira-kira bisa berjalan salah. Apakah rencana itu tersusun rapi? Tentu saja tidak. Sembarangan dan nekat, itulah kesimpulanku. Anak kecil yang kutemui tadi masih sangat naif, dia pikir dunia akan berjalan sesuai kemauannya.

Aku membalikkan badan untuk yang kesekian kali. Di sampingku istriku menggerutu di dalam tidurnya, pasti dia merasa terganggu dari tadi oleh gerak-gerikku. Merasa tak tahan dengan kegelisahanku sendiri, aku bangkit dari tempat tidur dan menuju ke balkon. Udara malam hari terasa segar dua puluh tahun lalu. Kini paru-paruku yang berusia enam puluh tahun hanya bisa terasa sesak setelah menghirupnya.

Mobil putih itu masih terparkir di pengkolan. Tidak ada tanda-tanda orang di sekitarnya. Aku tak sanggup membayangkan berapa banyak uang yang terjepit di bawah ban serep. Apakah pemilik mobil itu sengaja atau lupa bahwa mereka meninggalkan harta di dalam mobil mereka? Ini sebuah misteri bagiku.

Keesokan harinya, sebelum jam dinding menunjukkan pukul dua belas siang aku sudah siap di depan teras. Istriku sedang sibuk di dapur. Anakku di kantor dan cucu-cucuku di sekolah. Aku mengintip keadaan sekitar lewat sela-sela pagar besi. Anak itu benar; suasana di kompleks kami sepi sekali.

Dari kejauhan aku melihat anak itu melangkah ke arah rumahku. Dia celingak-celinguk untuk memastikan tidak ada orang yang mengikutinya. Aku menyipitkan mata dan melihat dua sosok lelaki dewasa sudah berdiri di belakang mobil itu.

“Kek, Kakek,” panggilnya lirih. Anak itu cerdas, dia tidak membunyikan bel rumah supaya tidak ketahuan oleh anggota keluargaku yang lain.

“Di sini,” jawabku pelan. Dengan hati-hati aku membuka pagar, melangkah keluar, dan menguncinya lagi. Kami melangkah cepat ke pengkolan yang hanya selemparan batu dari rumahku. Keringat bercucuran deras pada dahi dan punggungku; aku gugup sekali.

Anak kecil itu juga terlihat tidak tenang. Dia tak henti-hentinya meremas-remas kedua tangannya. Ketika kami sudah sampai di samping mobil itu, aku melihat dia segera berlari ke dalam dekapan ayahnya. Ah, seorang anak-anak tetaplah anak-anak.

Di samping mereka berdiri bapak si Otong. Kami berdua memakai masker dan bertatapan untuk waktu yang cukup lama. Sepertinya dia tidak mengenaliku, tapi aku tidak yakin. Kalaupun dia mengenaliku, kami sudah terlanjur bertemu dalam kondisi seperti ini.

Bapak si Otong menempelkan tubuhnya ke bagian belakang mobil dan mengeluarkan peralatannya. Aku, anak kecil itu, dan ayahnya berdiri membelakangi dia. Kami pura-pura asyik mengobrol untuk menyembunyikan tangan bapak si Otong yang bekerja lincah membobol kunci bagasi.

Klek.

Kami bertiga serentak menoleh ke arah bapak si Otong. Matanya menyipit, sepertinya mulutnya menyeringai puas. Dia menyingkirkan peralatannya dan dengan hati-hati membuka pintu bagasi.

Ayah dari anak kecil itu melangkah maju dan mengangkat ban serep, sementara kami membentuk barikade untuk menghalangi pandangan orang. Dia menjerit kecil sambil menahan ban itu. Di hadapannya ada bergepok-gepok uang kertas pecahan lima puluh ribu Rupiah dan pecahan lainnya.

Bapak si Otong tertawa menggelegar. Badanku mendadak panas dingin akibat penemuan kami. Aku memegangi bahu anak kecil itu supaya dia tidak terlihat terlalu bersemangat, supaya dia tidak mengundang kecurigaan.

Sebenarnya pengkolan itu menghadap ke dinding belakang dari rumah-rumah yang berlantai dua atau lebih. Tidak ada rumah yang bagian depannya menghadap langsung ke mobil putih itu, kecuali rumahku. Namun tidak ada salahnya bagi kami untuk tetap berhati-hati.

Kami semua bergantian mengelus dengan rasa sayang tumpukan uang yang kami temukan. Benar kata anak kecil itu, rasanya seperti menemukan harta karun. Tak kami sadari bahwa kami sedang mencuri. Tak kami pedulikan suara hati nurani. Kami terlalu bahagia bisa mendapatkan uang tanpa harus bekerja keras.

Diam-diam aku melirik kepada ketiga orang yang menjadi anggota komplotanku. Binar serakah mulai merebak di mata mereka, satu demi satu. Kurasa di mataku juga.

Setelah puas menyentuh uang yang bertumpuk-tumpuk itu kami semua saling berpandangan. Kunci bagasi mobil itu sudah rusak, apa yang harus kami lakukan dengan uang yang ada di dalamnya? Masakkan kami meninggalkannya begitu saja? Bagaimana kalau ada orang lain yang mengambilnya?

Bapak si Otong menyarankan untuk memasang kunci baru yang hanya bisa dibuka oleh kami bertiga, anak kecil itu tidak dihitung. Akan tetapi, dia butuh waktu untuk membeli dan memasangnya; tidak bisa hari itu juga. Sementara itu, siapa yang bisa menjaga mobil dan memastikan tidak ada orang lain yang membukanya?

Mereka semua serentak menoleh kepadaku.

“Aku?” tanyaku sambil menunjuk diri sendiri.

“Rumah Kakek ‘kan dekat,” kata ayah dari anak kecil itu. Matanya menyapu rumah-rumah di sekitar kami dan tertumbuk pada rumahku. “Ada balkonnya juga. Kakek bisa ngawasin mobil ini dari atas sana.”

Benar juga, pikirku. Aku berada pada posisi yang paling tepat untuk menjaga mobil itu sampai kunci yang baru datang. Satu pertanyaan mengganjal di benakku. “Kita ga hitung dulu uangnya?”

“Bentar lagi anak sekolah bakal pulang lewat sini. Kalau mereka ngeliat kita ngitung uang, mereka bakal curiga,” kata bapak si Otong.

“Lagian ga ada dari kita yang bawa tas. Gimana bawa uang sebanyak itu sekarang?” timpal pria dewasa yang satu lagi.

Aku mengangguk-angguk. Masuk akal juga. Akhirnya kami berpisah dan berjanji untuk bertemu lagi secepat mungkin. Anak kecil itu akan memanggilku kalau kunci barunya akan dipasang.

Aku menawarinya menemaniku berjalan pulang ke rumah. Ia mengiyakan, namun bibirnya cemberut dan mukanya muram. Tadi sempat kudengar dia meminta beberapa helai uang kertas pada ayahnya. Alih-alih diberi uang, dia malah dimarahi. Kita harus membaginya dengan adil dengan yang lain, kata ayahnya. Kamu harus bisa menunggu.

“Kamu perlu uang itu?”

“Iya,” jawabnya tegas. “Aku pengen beli Lego dan ayah juga sudah tahu. Aku sebel, kok aku ga boleh ambil uang itu sedikit saja? ‘Kan aku yang nemuin.”

“Salah, kita yang nemuin.”

“Iya, deh, Kakek juga yang nemuin.” Dia menatapku dengan penuh selidik. “Kakek ga mau uangnya?”

“Mau sih, tapi Kakek masih ngerasa ga tenang.” Aku menggaruk leherku yang tidak gatal. “Yang punya mobil …, kamu tahu sekarang mereka di mana?”

“Kata ayah, di Jakarta, tapi ga ada yang tahu nomor telepon mereka.”

“Rumahnya ga pernah ditengok?”

“Enggak. Rumahnya kosong dan kotor. Baru kemarin sore aku manjat ke dalam sana sama teman-temanku. Metik buah mangga di halamannya.”

Astaga anak ini, sejak kecil sudah dibiarkan mengambil barang yang bukan miliknya.

“Kalau ketahuan kamu nanti dimarahi, lho.”

Dia mengibaskan tangannya tanda tak peduli. “Halah, ga akan ada yang tahu, Kek. Selama ini aman-aman aja, kok.”

Iya, selama ini. Bagaimana kalau pemilik rumah itu tiba-tiba datang dan dia kedapatan sedang berada di dalam tanpa ijin? Tidakkah mereka akan marah besar? Tidakkah dia akan mendapatkan masalah?

Anak itu menghentikan langkah begitu kami tiba di depan pintu pagar rumahku. Tanpa ragu dia membalikkan badan dan mengamati pengkolan yang baru saja kami tinggalkan. Di kejauhan kulihat anak-anak sekolah sedang berjalan pulang. Dia tampak tidak takut ketahuan bolos sekolah; pandangannya hanya terpaku pada mobil itu.

“Ayahmu bilang kamu harus sabar,” aku mengingatkannya.

Dia hanya mengangguk dan berlari meninggalkanku. Mungkin dia pulang ke rumahnya, atau mungkin dia menghampiri teman-temannya. Entahlah. Yang pasti, sampai sekarang aku tak tahu di mana dia dan orang tuanya tinggal.

Begitu masuk ke dalam rumah, istriku memberondong dengan pertanyaan. Dari tadi aku panggil, Bapak dari mana saja? Ayo makan, Bapak mau soto ayam atau sop daging? Cucu kita sebentar lagi pulang sekolah, bersiaplah menemaninya bermain sebelum dia tidur siang.

Aku mendengarkan ocehan istriku dengan sebelah telinga. Aku keluar rumah selama kurang dari satu jam, tapi aku lelah luar biasa. Rasanya tak sanggup menjawab semua pertanyaannya. Dengan lunglai aku menuju ke kamarku di lantai dua dan membaringkan diri di atas kasur. Aku memijiti kepalaku yang berdenyut-denyut sebelum aku jatuh tertidur.

Sinar matahari sore membangunkan aku dari istirahat yang tak nyenyak. Dalam mimpi aku merasa dikejar-kejar. Ada polisi dan banyak orang lain berlari di belakangku. Mereka mau merebut bergepok-gepok uang yang kudekap erat waktu aku berusaha kabur.

Ketika bangun, sekujur tubuhku basah oleh keringat. Aku berjalan tertatih-tatih ke arah balkon untuk menghirup udara segar. Seketika pandanganku tertumbuk pada anak kecil yang berdiri di samping mobil yang diparkir di pengkolan.

Dia tidak sendirian; dia datang bersama dua orang anak yang bertubuh lebih besar darinya. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri sebelum membuka bagasi itu dengan satu gerakan cepat. Beberapa saat kemudian aku mendengar suara anak-anak menjerit-jerit kegirangan.

Secepat itu pintu bagasi dibuka, secepat itu pula dia ditutup. Dari atas balkon aku bisa melihat anak-anak itu terburu-buru memasukkan lembaran-lembaran uang ke dalam saku baju dan celana mereka. Tampang mereka sumringah, seperti baru ketiban durian runtuh.

Mereka segera melarikan diri ketika melihat beberapa orang dewasa berjalan mendekat. Matahari sudah terbenam sempurna dan lampu jalan satu per satu dinyalakan. Aku membetulkan letak kacamataku untuk melihat siapa yang datang kali ini. Ternyata ayah dari anak kecil teman baruku dan Ketua RT.

Kedua orang itu berjalan sambil menundukkan kepala dan berbisik-bisik. Mereka berhenti di belakang mobil, melayangkan pandangan sejenak ke sekitar sebelum buru-buru membuka bagasi di hadapan mereka. Dari tempatku duduk aku bisa melihat cahaya dari telepon genggam menerangi pengkolan yang gelap.

Mereka membawa sebuah tas, aku yakin sekali, dan mereka memasukkan uang yang kami temukan ke dalamnya. Mereka curang! Ini tidak adil! Katanya kami semua akan menunggu sampai kunci baru datang, baru membagi rata uang itu di antara kami.

Aku ingin menghentikan aksi mereka, tapi tak mungkin aku memanggil mereka dari atas balkon. Entah apa yang mereka dapat lakukan padaku dan keluargaku jika mereka marah dan mendendam. Kumonyongkan bibir dan bersiul sekencang-kencangnya.

Ternyata itu cukup untuk membuat mereka panik. Dengan secepat kilat mereka menutup pintu bagasi dan lari dari pengkolan itu. Aku memandang mereka dengan sebal. Dasar pencuri! Tak heran anaknya licik, ternyata ayahnya juga begitu.

Aku menggaruk-garuk kepalaku yang tak berambut, mencoba berpikir. Kalau begini caranya, sudah berapa banyak uang yang diambil dari sana? Tadi anak kecil itu datang, lalu ayahnya bersama Pak RT. Kami tidak menghitung jumlah awalnya, jadi yang kami bisa hitung hanyalah sisanya.

Lalu bagaimana dengan bapak si Otong? Sepertinya dia belum kembali ke mobil itu dan mengambil bagiannya. Lalu bagaimana dengan bagianku?

Hatiku gusar sekali memikirkan hal ini. Aku ingin sekali pergi ke bawah dan mengecek uang yang tersisa, tapi malam terlalu gelap dan aku bisa tersandung setiap saat.

Tidak ada yang dapat kumintai tolong. Aku tahu pasti bagaimana reaksi istri dan anakku jika mereka tahu aku terlibat di dalam apa. Mereka pasti kaget, dan cemas, dan melaporkan hal ini ke polisi. Mereka adalah orang-orang yang terlalu jujur.

 Akhirnya kuputuskan untuk pergi tidur saja. Mungkin besok hatiku lebih tenang dan pikiranku lebih jernih. Semoga.

Keesokan harinya aku bangun sangat siang, pukul sembilan pagi. Aku berjalan mengendap-endap ke balkon, berharap istriku yang sedang menyetrika pakaian di kamar sebelah tidak mencurigai gerak-gerikku. Alangkah kagetnya aku ketika melongok ke bawah.

 Beberapa orang wanita tampak berkerumun di belakang bagasi mobil itu! Dan satu demi satu gepok uang masuk ke dalam kantong-kantong yang mereka bawa.

Apa-apaan ini? Aku pikir penemuan kami adalah rahasia kami berempat. Namun kemarin si anak kecil mengajak teman-temannya dan ayahnya mengajak Pak RT. Ibu-ibu itu pasti tahu tentang uang di dalam bagasi dari salah satu dari mereka.

Aku hanya bisa melongo menyaksikan tumpukan uang yang tidak hanya berwarna biru, tapi juga hijau, ungu, dan cokelat, berpindah sedemikian cepat. Tak lama lagi uang itu pasti habis, gerutuku. Sedangkan bapak si Otong belum nampak batang hidungnya; dia belum datang juga membawa kunci yang baru.

Setelah ibu-ibu itu pergi, beberapa kelompok orang datang lagi. Ada anak-anak yang baru pulang sekolah, beberapa anak remaja, beberapa orang bapak-bapak. Mungkin sebelum aku bangun tadi pagi, sudah ada orang yang datang mengambil uang kami.

Dalam hati aku tertawa miris. Berita memang menyebar sangat cepat, apalagi berita keberuntungan semacam ini. Yang aku heran, tidakkah mereka menyadari bahwa mereka sedang mencuri milik orang lain? Melihat wajah mereka yang sumringah setiap kali berlalu dari pengkolan itu, sepertinya mereka tidak menyadari bahwa mereka sedang berbuat salah.

“Lagi apa?”

Aku membalikkan tubuh untuk menghalangi pandangan istriku ke arah mobil di bawah. “Ga ngapa-ngapain,” jawabku singkat.

“Dari tadi duduk di balkon melulu. Lihatin apa sih?” Istriku ikut bersandar ke pagar balkon dan mendapati tidak ada siapa-siapa di jalan di depan rumah kami. “Kayaknya tadi aku dengar suara orang rame-rame.”

“Ngawur, ga ada suara apa-apa, kok,” timpalku. Telapak tanganku mulai berkeringat dan diam-diam aku melapnya ke celana untuk menyembunyikan kegelisahanku. Jangan sampai istriku melihat, jangan sampai. Dia bisa langsung tahu jika ada sesuatu yang salah denganku.

“Omong-omong, aku dengar dari Mbak kalau Jati jadi kepala polsek di dekat sini. Tolong Bapak telepon untuk ngucapin selamat.”

“Kita undang saja dia makan di rumah,” saranku.

“Boleh. Nomor telepon Jati sudah aku masukin ke telepon genggam Bapak. Suruh dia ke sini hari Sabtu besok, ya?”

Aku cepat-cepat mengangguk dan tersenyum manis supaya dia cepat-cepat meninggalkanku. Namun istriku terus mengamat-amatiku dari ujung kepala sampai ke ujung kaki.

“Ada yang Bapak mau ceritain ke aku?”

“Enggak, kok. Semua biasa-biasa aja,” jawabku gugup.

“Oke.”

Setelah istriku beranjak pergi, aku segera kembali ke posisiku di balkon. Itu dia, akhirnya bapak si Otong datang juga. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri sebelum membuka bagasi mobil. Beberapa detik sesudahnya, dia membanting pintu dengan suara sangat keras.

Bapak si Otong menggeram. Dia kelihatan marah, sangat marah. Aku menduga tidak ada lagi uang yang tersisa di dalam mobil, tidak ada sepeser pun. Bagiannya telah lenyap, bagianku juga.

Dia kemudian pergi dengan menghentak-hentakkan kaki. Aku menduga dia akam mampir ke rumah anak kecil teman baruku untuk melaporkan uang yang hilang. Atau untuk menanyakan bagiannya.

Aku terduduk lemas. Tidak ada harapan untuk mengumpulkan kembali uang yang kami berempat temukan. Sudah terlalu banyak orang yang membuka bagasi mobil putih itu. Orang-orang yang tidak kukenal, orang-orang yang pernah kulihat sepintas wajahnya. Masakkan aku menuduh mereka semua sebagai pencuri? Padahal uang itu sebenarnya bukan milikku, bukan milik kami.

Jati. Apa tadi kata istriku tentang Jati? Ah, keponakanku itu pasti bisa membantuku. Dia pasti punya jalan keluar untuk masalahku.

Aku memutuskan menelepon Jati ketika matahari mulai terbenam. Pada waktu itu pengamatanku telah usai. Beberapa kelompok orang datang lagi untuk memeriksa bagasi mobil di pengkolan. Mereka semua pergi dengan wajah kecewa. Tidak ada uang lagi; mereka tidak kebagian rejeki.

Telepon diangkat setelah dering yang ketiga. Setelah berbasa-basi sejenak aku minta Jati datang pada akhir pekan membawa mobil patroli yang sirinenya dinyalakan.

“Buat apa, Paklik?” tanyanya ingin tahu.

“Ga buat apa-apa, Paklik cuma kepingin pamer ke orang-orang kalau kamu udah jadi kapolsek. Boleh, ‘kan?”

“Oh, boleh banget,” sambutnya dengan tawa. “Siap kalau gitu.”

Tiga hari berlalu dengan cepat dan akhirnya hari Sabtu pun tiba.

Selama tiga hari itu aku melihat orang-orang tak putus-putusnya menyambangi mobil putih di pengkolan. Ketika bagasi mobil itu masih berisi uang, mereka datang sembunyi-sembunyi, tidak ingin ketahuan oleh orang lain. Lama-lama mereka datang beramai-ramai dan bergosip di pengkolan itu.

Ada yang tanpa malu membanggakan uang yang mereka sempat ambil. Ada yang tidak tahu diri marah-marah karena dirinya tidak kebagian uang curian. Semua tingkah polah dan isi percakapan mereka tak luput dari pengamatanku dari atas balkon.

 Pada hari Sabtu siang mobil patroli Jati datang dengan suara meraung-raung dan berhenti di depan rumahku. Dari sudut mataku, kulihat beberapa tetangga keluar ke teras rumah mereka untuk melihat apa yang terjadi.

Di depan pintu pagar aku mendekap erat anak semata wayang dari kakak perempuanku. Suara sirine mobilnya belum juga dimatikan, sehingga lebih banyak orang keluar dari rumah mereka karena penasaran. Aku membisikinya permintaanku yang tidak biasa.

Jati hanya tersenyum tipis, dia antara tidak setuju dengan kekonyolanku dan sungkan menolak permintaan adik ibunya. Aku tidak ambil pusing; pokoknya rencanaku hari ini harus terlaksana.

Dengan ranting kayu aku memukuli pintu pagar rumahku yang terbuat dari besi dan berteriak sekencang mungkin:

“Maling!!! Maling!!! Maling!!!”

Aku mengulangi teriakan itu selama beberapa kali sampai kulihat Pak RT keluar dari rumahnya yang hanya berjarak sepuluh meter dari tempatku berdiri. Aku mengulangi terus teriakan itu sampai kulihat cukup banyak orang datang berduyun-duyun menuju ke rumahku.

Istri dan anak perempuanku pun ikut keluar dari rumah. Wajah mereka datar, seakan-akan menantikan apa yang aku akan lakukan berikutnya. Cucu-cucuku sudah kusuruh untuk tidak keluar rumah, apa pun keadaannya.

“Kenapa, Kek, kenapa?” tanya Pak RT yang datang tergopoh-gopoh. Di belakangnya berdiri beberapa orang tua termasuk kakek si Otong dan ayah dari anak kecil yang menemukan uang bersamaku.

“Ada malingggg …, uang saya hilang …. Tolong, uang saya hilang …,” aku meratap dengan suara keras. Air mataku mengalir. Tidak deras, tapi satu, dua bulir kupaksakan jatuh di pipiku yang kisut dimakan usia.

“Hah, kok bisa? Kapan kejadiannya, Kek? Uangnya ditaruh di mana?” cecar Pak RT.      

Dari tengah kerumunan aku bisa mendengar berbagai komentar dilontarkan padaku.

Kok ga nyimpen uangnya di bank, ya?

Maklum orang tua, ga percaya kali sama bank.

‘Kan bisa minta tolong anaknya. Anaknya sok sibuk banget sih. Sama kita aja sombong, ga pernah mau ngobrol. Huh.

Di sampingku Jati berdiri dengan sikap tegak sempurna. Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apa pun.

“Tolong, Pak Polisi, tolong. Uang saya habis jual tanah raib. Hilang semua. Jumlahnya banyak,” pintaku mengiba. Aku membungkukkan tubuh dan berpegangan pada lengannya. Wajahku memelas semaksimal mungkin untuk menyempurnakan drama yang kutampilkan.

Jati berdehem. Dia mengeluarkan pulpen dan buku catatan kecil dari dalam sakunya. “Bisa Bapak ceritakan ke saya bagaimana kejadiannya dari awal?”

Dari sudut mataku aku melihat tambah banyak orang yang datang. Mereka semua menjulurkan kepala. Bapak-bapak, ibu-ibu, pemuda, remaja, anak-anak, semuanya menunggu penjelasanku dengan raut wajah tak sabar.

“Saya baru jual tanah bulan lalu. Belum sempat ke bank. Mau simpan di rumah, tapi takut maling.”

“Jumlah uangnya berapa? Terus akhirnya Bapak simpan di mana?” tanyanya dengan nada serius. Tangan keponakanku itu sibuk mencoret-coret halaman yang kosong.

“Saya lihat ada mobil nganggur tuh di pengkolan. Mobil putih itu.” Jariku menunjuk mobil Fiat yang mengganggu pemandangan dari balkonku selama bertahun-tahun. Mata semua orang sontak mengikuti arah telunjukku.

“Bapak simpan uang Bapak di situ?” Mata keponakanku membelalak tanda tak percaya.

“Iya, ga akan ada yang curiga toh? Wong cuma mobil rongsokan di pinggir jalan. Pemiliknya katanya udah pindah dari sini.”

Udara di sekitarku mendadak terasa menyesakkan. Orang-orang menahan napas menunggu kalimat-kalimatku berikutnya.

“Pintu mobilnya udah rusak. Saya taruh aja uang saya di bagasinya, di bawah ban serep. Ga akan kelihatan. Ga akan ada orang yang curiga. Jendela mobil itu kotor kena hujan dan debu setiap hari; ga akan ada yang bisa ngintip ke dalam.”

“Oke. Berapa lama uang Bapak tersimpan di situ sampai Bapak sadar uang itu hilang?”

“Lima hari yang lalu semuanya masih ada. Masih lengkap. Saya cek sendiri siang-siang.”

“Lalu?”

“Besoknya ada uang yang diambil. Lima puluh ribuan beberapa gepok. Saya ga tahu siapa yang ambil. Pokoknya ada uang yang hilang.”

“Lalu?”

“Besoknya lagi lebih banyak uang yang lenyap ga berbekas. Dua puluh ribuan, sepuluh ribuan, lima ribuan, pokoknya semua pecahan. Saya cek lagi sore-sore dan semua uang saya sudah hilang!” Aku mulai menangis keras, menangisi uangku yang dicuri orang.

Jati menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya. “Kalau sudah hilang begitu, susah buat dilacak, Pak. Apa Bapak sempat mencatat nomor seri dari semua uang itu?”

Aku membuang ingus dengan sapu tangan yang kugenggam dari tadi. “Ya enggak dong, Pak Polisi, saya mana sempat. Saya pakai cara lebih cepat dan uang saya pasti ketemu dengan cara itu.”

“Cara apa, kalau saya boleh tahu?” Kali ini aku yakin bahwa Jati juga sama penasarannya dengan tetangga-tetanggaku.

“Saya siram setiap gepok uang saya dengan tinta ultraviolet, Pak. Tinta UV. Pak Polisi tahu ‘kan itu tinta apa? Tintanya tidak kasatmata, tapi bakal kelihatan kalau disinari dengan lampu ultraviolet. Pak Polisi tahu ‘kan itu lampu apa? Itu lho, lampu yang biasa dipake buat ngecek uang palsu.” Mulutku perlahan-lahan menyeringai. “Nah, lima hari yang lalu tintanya masih basah, jadi jejaknya pasti ketinggalan pada tangan-tangan jahil yang ambil uang saya.” 

Pekik terkejut terdengar dari arah kanan, kiri, dan depanku. Dari sudut mataku kulihat semua tetangga yang tadinya berkerumun di sekitarku berhamburan dan berlari pulang ke rumah mereka masing-masing.

Jati menutup buku catatannya dan memandangku dengan kagum. “Mereka ya, Paklik?”

Aku mengangguk. “Sesuai dengan yang Paklik ceritakan ke kamu kapan hari. Anak buahmu mana?”

“Sudah menunggu di pintu gapura kompleks. Aku suruh mereka berangkat sekarang?”

“Boleh. Kamu geledah saja setiap rumah. Paklik berani taruhan, yang mencuri uang Paklik belum membelanjakan uang itu. Orang senang menyimpan-nyimpan barang yang mereka dapatkan dengan cara terlarang. Lebih menegangkan. Deg-degannya lebih terasa. ”

“Itu hasil pengamatan Paklik selama bekerja di penjara, ya?”

“Kurang lebih begitu,” tukasku sambil terkekeh. “Yang mencuri uangku pasti tertangkap, yang tidak mencuri pasti merasa lega walaupun mereka sempat menyesal karena tidak kebagian. Kita lihat saja bagaimana hasil kerja anak buahmu, ya.”

“Mas Jati,” panggil anak perempuanku dari belakang kami. “Ayo masuk, makanannya sudah dingin.”

Jati masuk ke dalam rumahku dan aku mengikutinya dari belakang. Aku membalikkan badan sekali lagi dan melihat lampu semua rumah tetanggaku menyala. Terang-benderang. Suara bersahut-sahutan terdengar dari segala penjuru.

Ah, malam ini indah sekali

* * *

Setelah Jati pulang, aku kembali duduk di balkon, menyesap wedang jahe yang sudah istriku siapkan. Beberapa saat kemudian aku mendengar suara langkah kaki. Kuletakkan cangkir yang kupegang di atas meja. Aku siap menjawab semua pertanyaannya.

Anak perempuanku duduk di sampingku dengan wajah sabar. Dia harus tampak sabar, dia harus menjadi sabar. Menjanda pada usia muda adalah ujian kesabaran yang tak ada habisnya untuk dirinya dan anak-anaknya yang masih kecil.

“Pak ….”

“Ya?”

“Aku ga akan tanya berapa uang yang Bapak taruh di mobil itu. Aku juga ga akan tanya dari mana Bapak dapat uangnya.”

“Oke.” Aku menggigil sedikit. Kuraih cangkir dan kusesap wedang jahe kembali dengan perlahan-lahan.

“Tapi aku pengen tahu, kenapa. Kenapa Bapak melakukan ini semua? Apa alasan Bapak? Apa motivasi Bapak?”

Ah, anakku ini. Sekali kuijinkan bertanya, dia tidak akan terbendung. Dia akan terus merongrongku sampai dia mendapat jawaban.

“Karena Bapak bisa,” ucapku beberapa saat kemudian. Tentu saja itu bukan jawaban yang jujur. Tapi cukup, itu jawaban yang cukup.

“Dan?”

Aku menatapnya lekat-lekat. Bagaimana caraku menjelaskan padanya apa yang kurasakan setiap hari, setiap bangun pagi setelah aku pensiun dan pindah ke rumah ini? Sulit. Mustahil untuk memberikan penjelasan terperinci yang akan memuaskan keingintahuannya. Dan dia tidak harus tahu semua isi hatiku.

Jadi kuberikan saja sebuah jawaban singkat. Sebuah jawaban yang tidak memerlukan kalimat-kalimat lanjutan. Sebuah jawaban yang kuharap tidak akan dia ulik lagi. Sebuah jawaban jujur dari lubuk hatiku terdalam.

“Karena Bapak bosan.”

-TAMAT-

Mari bergabung dengan saya dalam acara Book Launching

“The Cringe Stories”

Minggu, 21 Maret 2021 pukul 3 sore

di FBG dan Youtube Kelas Literasi Ibu Profesional

Sampai jumpa!

PS: Cerita lainnya bisa kamu baca di sini.

3 thoughts on “Mobil di Pengkolan (Full Story)

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s