Gendut (Full Story)

Tubuhku tinggi besar. Celana jeans-ku berukuran empat puluh delapan. Di mal di seberang tempat kosku tidak ada satu pun toko yang menjual baju yang bisa masuk melalui leherku. Pipiku montok dan rambutku yang sebahu mengayun setiap kali aku melangkah. Ke mana pun aku pergi, semua orang membuka jalan. Mereka antara takut atau terpesona padaku.

Aku tidak peduli apa kata orang. Aku tidak peduli tatapan mereka yang merendahkan. Aku tidak peduli kasak-kusuk diiringi tawa jahil dari orang-orang di sebelah dan di belakangku. Itu semua hal biasa. Tidak ada yang baru, jadi buat apa bereaksi berlebihan?

Matahari perlahan tenggelam di ufuk barat. Aku menyaksikannya dengan acuh tak acuh. Alam dan benda-benda yang mengisinya tidak kupedulikan. Yang penting bagiku hanya suara gemuruh di dalam perutku, penanda bahwa aku lapar. Lagi.           

Seperti sekarang. Pelan-pelan aku mengunyah donat kelima yang kusantap dalam satu jam terakhir. Kunyah dua puluh kali, aku mengingatkan diriku sendiri. Atau tiga puluh kali ya, aku mulai ragu. Ah, tak masalah, yang penting donat itu tidak tersangkut di dalam tenggorokanku yang sebesar dua kepalan tangan orang dewasa.

Suara sepatu berderap membuatku berhenti mengunyah. Aku tersenyum lebar melihat siapa yang datang.

“Aku kira kamu sibuk.”

Wanita yang menghampiriku itu mendengus sambil menghempaskan bokongnya yang mungil di kursi di hadapanku. Ia mengernyit memandang donat yang ada di tanganku.

“Cemilan ke berapa?” Tak sampai sedetik ia melambaikan tangannya tanda tak peduli. “Lupakan, aku menanyakan hal yang salah. Donat ke berapa?” Pandangannya penuh selidik.

Aku membuka perlahan jari-jari di tangan kananku. Jari kesatu, kedua, dan seterusnya sampai kelima. “Lima,” jawabku sambil nyengir. “Aku ada satu lagi. Mau?”

“Tidak, terima kasih, aku tidak suka gula.”

“Dan karbohidrat, dan pemanis buatan, dan cokelat artifisial. Dan kehidupan.”

Lawan bicaraku hanya tersenyum masam. “Aku sedang diet.”

“Kapan kamu tidak diet? Tubuhmu kurus kering kerontang seperti itu karena kamu kurang makan.”

“Dan kamu sendiri?”

“Aku gendut dan bahagia,” timpalku diiringi tawa menggelegar. “Omong-omong, apa yang membawamu ke sini? Kamu jarang sekali keluar menemuiku setiap kali aku datang.”

“Kolesterol dan asam uratmu …,” katanya sambil menarik sebuah amplop dari dalam saku jas putihnya.

“Apa ada hal baru?”

“Tidak. Angkanya tetap tinggi, tapi ….”

“Angka itu tidak akan berubah, dia akan segitu-segitu saja.”

“Aku khawatir, oke? Sampai kapan kamu akan mempertahankan gaya hidup seperti ini? Sampai kamu mendapat serangan jantung?” Nada suaranya meninggi dan ia terdengar sangat kesal.

“Mungkin.”

“Kalau kena serangan jantung?”

“Aku bisa meninggal atau hidup memerlukan perawatan medis. Itu pilihanku, bukan?”

“Apa kamu mau merepotkan orang lain?”

“Tidak,” aku menggeleng cepat-cepat. “Semuanya sudah kupersiapkan, asuransi dan hal lainnya. Kalau aku tidak selamat, aku tidak akan menyeret orang lain menjadi ikut susah.”

“Itu katamu.”

“Itu rencanaku.”

Langit telah gelap. Satu-satunya sumber cahaya yang menerangi atap rumah sakit tempat kami bercakap-cakap hanyalah beberapa lampu dinding dan hamparan bintang dari kota metropolitan di hadapan kami.

“Apakah ini gara-gara laki-laki?”

Aku tertawa terbahak-bahak. “Yang benar saja, aku begini karena aku ingin, bukan karena orang lain.”

“Makan itu untuk hidup, bukan hidup untuk makan.”

“Katamu.”

“Dan kata milyaran orang di dunia ini,” jawab dokter itu. Lipstiknya yang berwarna merah terang terlihat bersinar di bawah tiang lampu. Kemejanya yang berwarna senada kelihatan mencolok di bawah jasnya. Ia menatapku lekat-lekat, temannya yang sudah terpisah belasan tahun. Aku yang dulu tidak segemuk ini. Dan tidak sebahagia ini.

“Aku tidak apa-apa.” Jempol dan jari telunjukku yang gempal mencubit potongan donat yang terakhir. Kali ini aku mengunyah hanya sepuluh kali saja. Kulitku terasa lembap akibat udara yang gerah. Aku ingin segera pulang, mandi, dan berdiam di bawah pendingin ruangan.

“Apa yang terjadi padamu? Mengapa kamu sekarang seperti ini?”

“Gendut, maksudmu?” Aku meneguk air lemon dari termos biru. Air itu tidak menurunkan berat badan seperti kata orang, tidak membuatku sering ke belakang seperti yang mereka gembar-gemborkan, tapi rasanya enak. Jadi aku tidak kunjung berhenti meminumnya.

“Tidak ada yang berarti yang terjadi. Aku lulus kuliah, satu tahun setelahmu. Bekerja, sibuk, dan tahu-tahu sudah hampir dua puluh tahun sejak kita pertama kali bertemu. Berat badanku terus bertambah, tapi aku baik-baik saja. Aku tidak tak bahagia. Setiap kali bajuku tidak muat lagi, aku membeli baju yang baru. Sesederhana itu.”

“Aku tidak percaya. Kamu pasti makan buat pelampiasan. Karena kamu kecewa akan sesuatu. Jadi kamu makan untuk menenangkan hatimu.”

Aku menggelengkan kepala keras-keras. “Tidak. Aku suka makan saja. Aku suka semua rasa yang enak. Dan aku menikmati yang aku makan.”

“Lihatlah bentuk tubuhmu sekarang,” ucap temanku dengan tatapan getir dan mencemooh.

“Jauh lebih besar dari tubuhmu, tapi memangnya kenapa? Apa bentuk tubuh menentukan jodoh, atau karir?”

“Jangan menyindirku, kamu ‘kan tahu pertunanganku putus karena si brengsek itu berselingkuh.”

“Itu maksudku. Kalau aku gendut dan kamu langsing dan kita sama-sama belum memiliki pasangan, jadi apa gunanya diet itu? Makanlah apa yang kamu mau dan nikmatilah.”

Ia tidak menjawab. Ia pasti berpikir bahwa logikaku benar  juga, tapi ia takut berakhir menjadi gendut dan tidak menarik menurut standarnya. Dari sudut mataku kulihat ia terang-terangan mengamati aku yang sibuk menjilati jari-jari berselimutkan gula. Aku tahu bahwa aku kelihatan bahagia dan tenteram. Dan sekarang temanku itu pasti berpikir, apa iya menjadi gendut benar-benar bukan sebuah masalah?

Aku menyodorkan kantong kertas yang kupegang kepadanya. “Masih ada donat satu lagi, makanlah. Aku bisa mendengar suara perutmu yang keroncongan dari sini.”

Temanku, si dokter cantik, mengintip donat yang berada di dasar kantong dengan air liur yang menetes. Tatapannya bergantian antara donat dan betisnya yang mulus dan langsing. Apakah ia berani menghadapi resikonya?

* * *

Dulu, tidak ada orang yang memperhatikanku. Sedikit orang mengenalku, seorang gadis berhidung bangir, berambut sebahu, dan agak membungkuk karena aku tergolong tinggi untuk remaja seusiaku.

Dari ketinggian aku memperhatikan tubuh teman-teman sebayaku berubah perlahan-lahan. Bagian ini dan itu mulai terbentuk, lekukan terlihat molek, dan mereka jadi rajin bersolek. Satu per satu mereka mulai menjauh dari permainan anak-anak. Mereka menjadi sibuk dengan cermin dan usaha untuk membentuk citra diri.

Sedangkan aku tetap sama. Dari seorang bocah menjadi seorang remaja yang beranjak dewasa, aku tidak istimewa. Parasku biasa saja, prestasiku juga. Keluargaku bukan orang terkenal, apalagi kaya. Ada banyak orang seperti kami; memadati bumi ini dalam jumlah yang banyak untuk berlalu cepat seperti embun pagi hari. Tak berkesan, tak diingat, dan tak berarti.

Dari jarak jauh aku memperhatikan bagaimana orang-orang mulai mengambil tempat pada panggung kehidupan, lengkap dengan lampu sorot, kecil ataupun besar, untuk menunjukkan siapa diri mereka. Aku enggan berebut ruang dengan siapa pun. Aku sudah cukup puas duduk di kursi penonton, memperhatikan deretan aktor yang meributkan hal remeh-temeh atas nama kehausan mereka akan kasih sayang.           

Aku tahu pasti cintaku ditujukan pada siapa. Pada diriku sendiri dan pada makanan yang membuatku tetap hidup sampai pada detik ini. Cintaku pada makanan adalah lambang cintaku pada kedua orang tuaku, yang berhasil memelihara dan membesarkanku di tengah situasi yang sulit.

Makanan adalah simbol kasih sayang di dalam keluargaku yang sederhana. Aku diajarkan untuk menghargai setiap butir nasi. Acap kali hanya nasi dan kecap, bergantian dengan nasi dan garam, yang mengisi perutku. Dalam keadaan lapar aku memimpikan sosis, spageti, dan pizza yang muncul di layar kaca ketika aku tumbuh besar.

Di kala bosan karena menu yang itu-itu saja, diriku menjadi sasaran makian orang tuaku jika menyisakan makanan di piring.

Tidak bersyukur, hah? Tidak menghargai jerih payah orang tuamu, hah?

Mulutku tidak tega berkata bahwa aku ingin makan yang lain. Orang tuaku pergi pagi dan pulang malam untuk memastikan kami selalu punya nasi. Satu-satunya sumber protein kami setiap minggu adalah ayam berbumbu kuning untuk dua orang dewasa dan tujuh orang anak. Selain itu hanya ada sayur, tahu, dan tempe. Aku tak pernah sampai hati untuk meminta lebih dari itu.

Oleh karena itu, aku sangat menikmati makan dan makanan. Aku tahu jerih payah yang terkandung di setiap butir nasi dan teguk soda. Aku bisa berlama-lama menyesap rasa dan menghargai proses pembuatannya. Aku mengucap syukur atas perut yang kenyang dan hati yang sejahtera.

Saat cinta dan perhatian gadis lain seusiaku ditujukan pada deretan penyanyi terkenal bermata biru dan laki-laki keren pebasket di sekolah, cinta dan perhatianku hanya tertuju pada tukang batagor yang berjualan di kantin sekolah.

Aku selalu pergi ke sana beramai-ramai dan hampir tidak pernah membayar. Bukan karena ditraktir, aku hanya tidak punya uang. Uang sakuku sehari hanya cukup untuk ongkos angkot, ditambah dua ratus Rupiah.

Aku selalu ikut berkerumun, berdesak-desakan di belakang si tukang yang sibuk memindahkan batagor dari penggorengan panas dan beraroma sedap ke deretan piring berlukiskan ayam jago. Aku akan ikut-ikutan meneriakkan pesanan, tidak pernah terlalu banyak sehingga orang akan curiga, cukup dua batagor dan dua siomay saja.

Sedari awal aku akan makan pelan-pelan, menikmati saus kacang yang dibumbui rasa kecut jeruk nipis. Batagorku tidak pernah dituangi kecap. Buat apa? Kecap selalu tersedia di rumahku. Aku memanjakan lidah dengan rasa yang mewah dari potongan kacang bercampur cabe. Dan aku akan cepat-cepat selesai makan begitu kulihat teman-temanku hendak beranjak pergi.

Rasa bersalah akibat telah mencuri lama-lama tertepiskan oleh rasa bahagia akibat telah makan enak. Cara itu kucoba juga pada penjaja makanan yang lain di kantin, tapi mereka terlalu sigap. Orang-orang tidak begitu berjubel waktu membeli roti bakar, atau bubur ayam, atau soto sampah. Mereka hanya berjubel di mana gorengan kawin dengan penyedap rasa dan menghasilkan anak dalam bentuk batagor.

Kalau dibiarkan, aku bisa berlama-lama makan. Bisa setengah jam bagiku untuk menghabiskan satu kerucut es krim putih dari restoran merah-kuning. Walau pegawai di situ selalu memandangku tak senang setiap kali aku menempati satu meja di dalam ruangan sendirian, aku tak pernah peduli.

Aku akan duduk di bawah pendingin ruangan, menempatkan kerucut di atas secarik tisu tebal. Vanila itu akan kujilati dengan penuh penghayatan, berhati-hati supaya es krim yang meleleh tidak menetes terlalu banyak ke atas tisu. Pada penghabisan, tisu yang belepotan tetesan krim pun kujilat.

Hanya mereka yang pernah lapar yang akan menghargai makanan.

Itu kata orang bijak. Aku tidak ingat siapa yang benar-benar mengatakan itu. Mungkin Bapak, yang pernah mencabut genjer-genjer dari selokan kotor untuk dimasak dan dimakan pada tahun PKI dianggap memberontak dan akhirnya ditumpas. Atau Ibu, yang sempat lama tidak makan nasi dan hanya makan buah pohon kersen yang tumbuh subur di kampungnya.

Bapak, Ibu, dan keluarga besarku pernah berada dalam kelaparan. Mereka pernah tidak makan apa pun berminggu-minggu, selain ketela yang ditemukan di hutan. Waktu aku remaja, aku sangat sedih melihat mereka menua dan belum juga bisa makan enak, makan apa yang mereka maui, karena terlalu banyak mulut yang harus disuapi.

Makanan memberikan sensasi kemewahan yang berbeda dari materi lain di dunia yang kukenal. Lebih dari celana gombrong bergambar alien, lebih dari pulpen ramping berharga selangit, lebih dari rangkaian empat roda yang membuat orang terbang. Dari makanan aku mengenal pelan-pelan berbagai rasa dan aroma dan aku bahagia dibuatnya.

Kue tart adalah yang paling luar biasa. Kue black forest yang dibeli pada ulang tahunku dua dekade lalu adalah cinta pertamaku.

Serpihan cokelat berpadu sempurna dengan lembutnya krim putih. Kami akan berebut buah ceri yang jumlahnya tak sampai selusin. Bolu padat yang diselingi krim putih lain lumer pelan-pelan di dalam mulut. Seusai makan, aku dan saudara-saudaraku akan saling memandang dengan raut muka bahagia.

Minuman bersoda adalah cintaku yang kedua.

Botol gemuk berwarna hitam, merah, dan hijau adalah salah satu hal yang sangat aku dambakan sedari kecil. Jumlah anak orang tuaku yang banyak tidak membuat botol-botol itu sering muncul di tengah rumah kami. Ulang tahun yang berdekatan akan digabung, bahkan jika terpisah satu bulan, untuk menghemat anggaran membeli kue dan botol-botol itu.

Meskipun dalam hati aku tidak terima dan menginginkan lebih, aku maklum. Aku tetap menghormati dan menyayangi kedua orang tuaku yang sudah berusaha, yang sudah bekerja sangat keras. Setiap kali makan, aku akan mengingat janji untuk mengajak mereka makan enak ketika aku sudah beruang.

Uang adalah cintaku yang ketiga.

Memang benar, pendidikan memutus mata rantai kemiskinan. Aku beruntung menemukan bidang yang kusukai dan kukuasai. Aku beruntung mendapatkan pekerjaan yang menghasilkan banyak uang. Ketika uang mulai datang, aku teringat akan cinta pertama dan keduaku. Dan aku akan menghabiskan banyak uang untuk mendapatkan mereka.

Aku melimpahi meja makan orang tuaku dengan hidangan yang tak biasa. Sate kambing pada satu malam, kwetiaw Medan pada malam yang lain. Sepulang kerja aku akan mampir untuk membeli pempek, gorengan, martabak, apa pun yang bisa membuat Bapak dan Ibu tersenyum dan mengajaknya ikut makan bersama.

Bisa membeli makanan yang kumau membuatku bahagia. Membuat kedua orang tuaku bahagia dengan makanan yang kubeli membuatku seperti berada di langit ketujuh.

Makanan dari semua restoran cepat saji terhidang silih berganti di rumah. Ibu bahkan pernah marah karena diabetes Bapak kambuh akibat asupan karbohidrat yang berlebihan, tapi aku tidak peduli. Aku akan membelikan Bapak apa pun yang dia minta, bahkan berlusin-lusin donat kalau Bapak mau.

Tahun berganti dan tubuhku mulai melebar. Semua orang di sekitarku terkejut akan perubahan itu. Mereka menjadi was-was. Di belakang punggungku mereka bertanya-tanya, mereka mulai menggunjingkanku. Namun aku cuek saja.

Diam-diam aku menikmati perhatian berlebihan yang kudapatkan. Aku menikmati pertanyaan sepele mereka tentang pipiku yang membulat dan pahaku yang membesar.

Aku tidak merasa ada masalah, baik dengan bentuk tubuh maupun dengan berat badanku. Aku punya uang untuk membeli baju baru demi baju baru. Sekarang aku bisa pula beramal, mendonasikan baju-bajuku yang tidak lagi terpakai kepada mereka yang lebih membutuhkan. Hal itu membuatku tambah bahagia dan aku sadar bahwa ujung pangkalnya adalah makanan.

Ingatan demi ingatan akan perjalanan hidup sebelum aku duduk di atap rumah sakit itu memenuhi benakku. Aku mengenang-ngenang masa lalu sembari mencengkeram erat kantong kertas yang tinggal berisi satu buah donat. Temanku, si dokter cantik, sudah terang-terangan menolak memakan donat itu padahal aku rela memberikannya.

Kutatap langit gelap yang hanya berhiaskan bulan purnama malam itu dan menarik napas. Dadaku naik-turun mengikuti usaha kerasku untuk mendapatkan oksigen. Aku memperbaiki letak duduk supaya bisa mendapatkan lebih banyak udara, namun tenggorokanku tiba-tiba gatal.

Sambil gelagapan kuraih botol berisi air lemon dan menghabiskan isinya. Temanku sudah lama beranjak pergi. Atap rumah sakit itu sekarang dipenuhi oleh orang-orang yang baru datang untuk mengobrol atau sekedar mencari udara segar.

Tanpa malu mereka melirikku yang menempati dua buah kursi karena tubuhku yang tambun. Suara batukku yang membahana membuat mereka semua memandangku penasaran.

Aku tidak memedulikan mereka. Yang kupedulikan hanyalah suara kecil sayup-sayup yang perlahan-lahan membesar seperti suara pada leher kodok. Aku paham apa yang sedang terjadi.

Aku lapar. Lagi.

* * *

Lorong rumah sakit itu terasa sangat dingin. Lampunya putih dan menyilaukan mata. Lantainya juga berwarna putih dan memantulkan cahaya. Dindingnya dilapisi wallpaper berwarna abu-abu pucat yang masih beraroma khas produk yang baru keluar pabrik. Semuanya terlalu terang benderang.

Aku merasa seperti hendak masuk ke dalam rumah pejagalan.

Suster yang mengambil nomor antrianku menyuruhku untuk menimbang berat dan mengukur tinggi tubuh. Dengan enggan aku melangkah ke atas timbangan elektronik.

Toh aku selalu tahu berapa angka yang akan tercantum di layar kecil itu. Kurang lebih. Tinggi badanku pun tidak akan bertambah satu milimeter pun. Tubuhku sudah berhenti bertumbuh bertahun-tahun yang lalu.

Terlebih dari itu, aku enggan menjadi tontonan orang-orang. Tubuhku yang gendut membuat semua orang menoleh ketika aku berjalan melewati mereka. Tubuhku yang naik ke atas timbangan membuat semua orang sontak tertawa kecil dan berbisik-bisik.

Membicarakanku. Menilaiku. Menghakimiku..

Satu minggu yang lalu aku tidak akan memedulikan bagaimana pandangan orang, apa ucapan orang. Itu satu minggu yang lalu. Saat ini aku peduli, sangat-sangat peduli.

“Bisa saya skip saja, tidak?” tanyaku pelan pada suster yang menungguiku. Aku bisa merasakan pandangan orang-orang yang mengawasiku, menanti-nanti apa yang akan terjadi sesudahnya.

Suster itu menggeleng dan tersenyum ramah. “Kita perlu tahu berapa pasnya berat badan Ibu, supaya nanti dokter tidak salah memberikan dosis obat.”

Ibu. Apakah tampangku sudah sedemikian tua seperti halnya ibu-ibu? Padahal boro-boro memiliki anak, menikah pun aku belum pernah, dan mungkin tidak akan pernah. Aku menghela napas. Baiklah, aku akan menurut saja. Masa bodo dengan apa kata orang, tekadku bulat.

Tekad itu buyar begitu kedua kakiku menjejak di atas piringan berwarna perak yang terlalu sempit bagiku. Angka di layar meroket. Kuraih tiang yang dipakai untuk mengukur tinggi badan untuk mencegah tubuhku yang limbung jatuh ke lantai. Sayup-sayup aku mendengar orang-orang bergumam:

Wah.

Hampir saja.      

Wajahku merah padam menahan malu. Dengan setengah hati aku menuruti suster yang menyuruhku menggeser-geser kedua kaki supaya pembacaan alat itu tepat. Dari ujung mata aku bisa melihat orang-orang yang menutupi mulut mereka dengan tangan untuk menyembunyikan tawa.

“Coba Ibu gerak sedikit ya supaya angkanya berhenti.” Suster itu memegang pinggangku yang tak berbentuk dan mengarahkan posisi tubuhku. “Seratus lima belas kilogram,” gumamnya sambil menulis data itu di dalam buku pasien milikku. “Biasanya segini, Bu? Pernah kurang atau lebih?”

“Paling kurang lima kilo, Sus. Tapi tidak pernah lebih.”

“Baik.” Suster itu meraih tiang di depanku. “Tinggi Ibu seratus tujuh puluh lima sentimeter. Ibu pernah mengukur BMI, Body Mass Index?”

Aku menggeleng. Tentu saja aku pernah mendengar sepintas tentang BMI dari orang-orang di kantor, dari kuis-kuis di majalah wanita yang selalu mengagungkan bahwa menjadi kurus adalah segalanya, adalah hal terpenting di dunia. Namun aku tak pernah peduli.

“Belum pernah? Itu angka penting lho, Bu. Kalau Ibu pengen tahu BMI itu apa dan gimana cara menghitungnya, nanti bisa tanya langsung ke dokter, ya.” Suster itu mempersilakanku kembali ke kursi tunggu dan mulai memanggil nomor antrian berikutnya.

Aku turun dari alat itu dan kedua kakiku membuat suara berdebum yang sangat keras ketika mendarat di lantai. Pandangan orang-orang di sekitarku mengikutiku lagi. Aku bergegas menuju ke kursi tunggu di ujung lorong yang tidak memiliki akses ke mana pun.

Setidaknya di situ aku aman. Aku terpencil dan jauh dari orang lain.

Tanganku meraih sebuah kantung berwarna cokelat dari dalam tas. Dengan perlahan aku membersihkan tangan dengan tisu basah dan hand sanitizer sebelum jari-jariku yang gempal meraih isi kantong itu.

Donat, makanan kesukaanku akhir-akhir ini, berada di dalam genggamanku. Serbuk gula putih berjatuhan ke pangkuan saat aku memasukkan lingkaran itu ke dalam mulutku.         

Setelah dua kali mengunyah, donat itu lenyap. Sambil bergumam aku menjilati ujung jari yang berselimutkan rasa manis yang hakiki. Nikmat sekali, enak sekali. Aku memejamkan mata untuk meresapi kelezatannya. Sayang sekali, ketika mataku terpejam, peristiwa menakutkan yang terjadi hampir dua minggu lalu kembali menyergap ingatanku.

Aku menarik napas berkali-kali, mencoba menenangkan diri, tapi rasanya percuma saja. Aku harus terlihat tegar. Harus. Aku tidak boleh membuat orang lain membicarakanku, baik di belakangku maupun secara terang-terangan.

Ketika sedang melap tanganku yang dikotori gula, namaku dipanggil oleh suster yang berjaga. Giliranku sudah tiba; giliran untuk masuk ke dalam rumah pejagalan.

Pintu masuk ke dalam ruangan praktek dokter itu sangat pas-pasan untuk kulewati. Di tengah ruangan duduk seorang pria dengan jas putih dan kacamata yang melorot ke ujung hidung. Dia tersenyum sekedarnya sambil menerima buku dari suster yang tadi.

“Silakan, Bu, ada keluhan apa, Bu?” tanyanya membuka pembicaraan.

Aku duduk di hadapannya, merasa tidak nyaman dengan kursi yang terlalu sempit. Aku sungguh ingin menggabungkan dua kursi yang berjejer di situ supaya bokongku bisa beristirahat. Namun, apa nanti kata dokter dan suster yang mengawasiku terus dengan mata elang?

“Bagaimana, Bu, ada keluhan apa?”

Aku ingin menjawab dengan lugas, dengan satu kalimat saja tentang apa yang kukeluhkan, tapi tenggorokanku tercekat. Tanganku memuntiri tisu bekas untuk menyembunyikan serangan panik.

Dokter itu mulai tidak sabar. Dia mulai mengetuk-ngetukkan pulpen di atas meja dan bertanya untuk ketiga kalinya. “Bu …, saya bisa bantu apa?”

“Saya ingin kurus, Dok.” Akhirnya. Akhirnya kalimat yang menunjukkan rasa rendah diriku keluar juga. 

“Kalau gitu Ibu datang ke tempat yang tepat,” balasnya dengan senyum mengembang. “Ibu mau kurus pakai operasi ya? Ibu udah cari-cari di internet mau prosedur seperti apa?”

“Belum, Dok. Saya belum cari tahu. Yang pasti, saya ingin kurus.”

“Oke, Bu, saya mengerti. Tinggi Ibu seratus tujuh puluh lima sentimeter dengan berat seratus lima belas kilogram. Saya hitung-hitung BMI Ibu sekitar 37.6,” dokter itu menjelaskan sambil membolak-balik buku catatan pasien. “Jadi gini, Bu, sebelum kita bisa omongin jenis operasi untuk Ibu, Ibu perlu general medical check-up terlebih dahulu. Tujuannya apa? Untuk memastikan Ibu dalam kondisi sehat wal’afiat, tidak ada penyakit atau keluhan yang bisa membuat operasi nanti berjalan tidak lancar.”

“Saya baru-baru ini med-check, Dok. Paling baru dua minggu lalu.”

“Hasilnya dibawa?”

“Nanti dibawa teman saya; dia dokter di sini. Sebentar lagi dia datang. Omong-omong BMI itu apa, Dok?”

Sebelum dokter itu dapat menjawabku, ada suara ketukan di pintu. Sebuah wajah mungil melongok ke dalam dan tersenyum lebar. “Hai, Ton.”

“Eh, Sil,” dokter di hadapanku berdiri dengan wajah terkejut yang sukar disembunyikan. “Lu ngapain di sini?”

“Gua bawa ini.” Dokter wanita itu melangkah masuk dan melambaikan sebuah amplop putih. “Hasil med-check teman gua. Ga apa-apa ya gua di sini buat nemenin dia konsul?”

Sejenak dokter di hadapanku tampak ragu, namun akhirnya dia mempersilakan temanku duduk. “Oh iya, ga apa-apa, Sil. Silakan, silakan.”

Aku menghela napas lega. Temanku sudah datang, setidaknya ada yang bisa menjelaskan padaku berbagai istilah teknis dan medis.         

Dokter yang bernama Toni itu mengeluarkan lembaran kertas dari dalam amplop dan memeriksanya dengan seksama. “Selain asam urat dan kolesterol, semuanya kelihatan baik. Ibu tidak menderita penyakit asam lambung, jantung, stroke, tekanan darah tinggi, atau gangguan tidur. Ada penyakit bawaan tidak, Bu?”

“Bapak saya punya diabetes melitus, Dok, tapi saya tidak.”

“Ada di lembar terakhir, Ton. Glukosa Darah Puasa, HbA1C, dan glukosa plasmanya normal semua. Teman gua ini juga ga nunjukin gejala diabetes apa pun.”

“Oke …,” gumam dokterku sambil masih membolak-balik kertas. “Jadi …, overall hasil med-check Ibu baik. Sekarang saya mau tanya, Ibu pengen kurus yang bagaimana?”

“Yang tidak ada lagi lemak, Dok. Semua lemak yang berlebih harus dibuang.”

“Semua?”

“Iya, semua-semuanya.”

“Bu, untuk menghilangkan lemak yang tidak diinginkan ada yang namanya prosedur sedot lemak. Kita bisa melakukan ini untuk area leher, perut, paha, pinggul, lutut, bokong, dan pergelangan kaki. Tapi, ini bisa dilakukan dengan catatan Ibu tidak mengalami obesitas.”

“Kayaknya saya obes, Dok.”

“Iya, tampaknya begitu, ini saya jelasin dulu macam-macam prosedurnya,” timpalnya dengan sopan. “Secara umum sih Ibu cukup sehat dan hasil lab menunjukkan Ibu tidak mengidap diabetes walaupun ada riwayat dalam keluarga. Akan tetapi, sedot lemak ini tidak direkomendasikan buat Ibu karena ya itu tadi, Ibu obesitas.”

“Jadi, apa opsi lain buat saya, Dok?”

“Nah, selain sedot lemak, ada juga yang namanya Laparoscopic Sleeve Gastrectomy, atau disebut LSG. LSG ini mengubah bentuk lambung Ibu dari yang bentuknya mengantung menjadi seperti tabung. Dengan ukuran lambung yang lebih kecil, Ibu akan lebih cepat merasa kenyang dan pada akhirnya kehilangan berat badan.”

“Maksudnya, lambung saya bakal dipotong, Dok?’

“Iya, Bu, dipotong lalu dijahit ulang. LSG ini cocok untuk orang yang BMI-nya di atas 35 seperti Ibu. Akan tetapi, perlu saya tekankan lagi di sini bahwa LSG, ataupun prosedur lainnya, tidak akan ada hasilnya kalau Ibu tidak mengatur pola makan dan tidak mulai berolahraga.”

“Maksudnya?”

“Kamu harus mulai diet,” ujar temanku. “Dan olahraga.”

Aku tercenung. “Diet? Tidak boleh makan seperti biasa?”

“Iya, Bu. Ibu bisa saja operasi LSG, tapi sesudahnya Ibu harus diet, harus rajin olahraga. Supaya apa? Supaya hasil LSG itu tidak mubazir. Bayangin, selama empat sampai enam minggu Ibu hanya boleh mengonsumsi cairan, tidak boleh makan makanan padat sama sekali. Ibu juga harus istirahat total selama empat minggu, tidak boleh bekerja atau beraktivitas apa pun. Angka yang saya sebut barusan itu prediksi secara teori ya, Bu, bisa berbeda-beda antar pasien tergantung resiko kesehatan setiap orang. Kalau Ibu tidak diet dan olahraga, semua rasa sakit yang Ibu alami akibat operasi akan menjadi percuma.”

Aku mencengkeram lengan langsing milik temanku. “Kalau aku tidak makan, aku harus bagaimana?” tanyaku sambil meringis.

“Ya, namanya juga pengorbanan. Kamu pengen kurus, ‘kan? Ya itu yang kamu harus lakukan. Aku ulang ya kata Dokter Toni, kamu bisa kurus dengan operasi mengubah bentuk lambung plus diet plus olahraga.”

“Aku tidak bisa diet. Aku bakalan sangat tersiksa. Aku tidak bakal bisa fokus kerja. Mending aku mati saja!” rengekku mengancam.

“Bisa …, pasti bisa! Kalau kamu mau kurus, ini pengorbananmu. Bayangin baju-baju kecil yang bisa kamu pakai nanti. Bayangin tatapan kagum orang-orang setelah kamu jadi kurus.”

“Sekarang aku pake baju-baju besar dan aku baik-baik saja, kok. Dan aku tidak mau dikagumi,” sanggahku.

“Tapi kalau kamu kurus, tidak ada orang yang bisa nginjak kamu lagi. Kamu bisa bergerak lebih bebas, melarikan diri sama cepatnya dengan orang lain dalam keadaan darurat.” Tiba-tiba dia meraih lengan kananku dan membolak-baliknya. “Lebamnya belum hilang juga padahal sudah lebih dari seminggu. Aku tidak bisa bayangin rasa sakitmu diinjak-injak seperti itu.”

“Sisil!” protesku.

“Kok kamu protes? Emang bener, ‘kan? Kamu diinjak-injak parah sama orang-orang tidak berperasaan itu. Semua orang pengen selamat; aku heran kenapa mereka harus mengorbankanmu. Lihat nih, Ton, memar dan lebam di lengan teman gua lama banget hilangnya,” lanjut Sisil.

Aku menyentak lenganku dan memelototinya. Aku merasa malu, sangat malu. Aku hanya ingin dokter Toni tahu bahwa aku mau kurus. Namun aku tidak ingin memberitahunya dengan terperinci apa yang sebenarnya terjadi.

Dokter Toni menatap kami dengan kikuk lalu berdehem. “Jadi, bagaimana, Bu, apakah berminat dengan prosedur itu?”

“LSG itu harus operasi ya, Dok, perut saya harus dibelah?”

“Perut Ibu tidak akan dibelah, hanya dibuat sayatan kecil di beberapa lokasi. Ibu juga tidak akan sadar selama dioperasi karena Ibu harus dibius total. Operasinya sendiri sebentar, kok, hanya antara satu sampai tiga jam, tergantung komplikasi.”

Darahku terkesiap mendengar kata komplikasi. Komplikasi terdengar menyeramkan. Apa maksudnya aku bisa mati di meja operasi?

Temanku menepuk lenganku dan tersenyum. “Tenang saja, Dokter Toni ini dokter bedah plastik terbaik di Jakarta. Kamu tidak akan kenapa-kenapa, percaya deh.”

Dokter di hadapanku mulai menjelaskan lebih lanjut tentang biaya dan rincian tindakan operasi, apa yang aku harus lakukan selama masa penyembuhan, dan sebagainya, dan seterusnya. Namun aku hanya mendengarkan dengan setengah telinga.

Aku takut dioperasi. Aku takut darah. Aku tidak bisa membayangkan tubuhku dibalut dengan perban dan membawa bekas luka selama bertahun-tahun, bahkan seumur hidupku. Keharusan untuk mulai diet dan berolahraga, kedua hal yang sangat kubenci, pascaoperasi membuat aku semakin merasa putus asa. Ah, apakah benar-benar tidak ada cara untuk menjadi kurus?

“Jadi bagaimana, Bu?”

Pertanyaannya membuyarkan lamunanku. “Eh, maaf, Dok, tadi saya ga fokus. Apa boleh saya pikir-pikir dulu?”

“Kalau Ibu mau, saya bisa jelaskan prosedur lain yang namanya Laparoscopic Gastric Band Placement, atau LGBP. Dengan prosedur ini, bagian atas dari perut Ibu akan diikat supaya tidak banyak makanan yang bisa masuk dan Ibu cepat merasa kenyang. LGBP ini lebih aman daripada LSG karena tidak ada pemotongan lambung, pengalihan kerja usus, atau hal lain sejenisnya. Komplikasinya juga lebih minimal.”

Komplikasi. Kata itu keluar lagi dari mulut Dokter Toni, entah sudah yang keberapa kali.

“Saya tidak bisa memutuskan sekarang, Dok, saya perlu berpikir,” kataku dengan suara lemah.

Sisil menepuk-nepuk punggungku untuk memberi semangat. Aku tahu dia melakukannya sambil menatap rekan sejawatnya dengan penuh arti. Tak lama kemudian kami pamit dari situ dengan janji untuk konsultasi selanjutnya. Alih-alih segera kembali ke kantor, aku malah mengikuti temanku itu ke taman kecil di atap rumah sakit.

“Aku bingung,” kataku terus terang.

“Aku tahu,” balasnya. Sisil memberikanku sebuah botol air minum dingin dan tisu. “Ada gula di bagian samping mulutmu.”

“Ah, terima kasih.” Aku melap mulutku dan minum dengan terburu-buru. “Saat ini kamu pasti merasa sangat kasihan padaku.”

“Tidak juga. Penasaran, iya, tapi tidak kasihan. Tidak pernah kasihan.”

Aku menatapnya penuh selidik dan aku tahu bahwa dia berkata jujur. Bagaimanapun dia sering mencemooh bentuk badan dan kebiasaan makanku, dia tidak pernah menganggapku berbeda dari orang lain. Tidak ada yang perlu dikasihani dari pilihan untuk hidupmu sendiri, begitu katanya.

“Apa yang sebenarnya terjadi hari itu?”

“Kamu sudah lihat videonya?”

Dia mengangguk. “Sudah dua juta view terakhir kali aku cek.”

“Padahal sudah hampir dua minggu sejak kejadiannya. Orang-orang kok senang sekali menjatuhkan orang lain?” keluhku.

“Itu yang terjadi, ‘kan? Kamu jatuh dan tidak bisa segera bangun, makanya orang-orang biadab itu menginjak-injakmu?”

Kegeraman dalam suaranya membuatku tersenyum kecil. Rasanya senang setiap kali dia membelaku seperti itu, walaupun aku juga salah mengapa membiarkan diri diinjak-injak.

“Sebenarnya hari itu awalnya seperti hari-hari biasa. Aku mengambil penerbangan pagi ke Balikpapan seperti biasa, seperti setiap Senin selama tiga tahun terakhir. Dan seperti biasa pula, aku memilih kursi di sebelah pintu keluar darurat karena ada ruangan yang lebih lowong untuk tungkaiku yang besar.”

“Lalu?”

“Aku tidak mengacuhkan pandangan ragu para pramugari yang menuntunku ke kursi pagi itu. Aku sudah berlangganan terbang dengan maskapai yang sama selama sepuluh tahun terakhir. Aku tahu bahwa banyak pegawainya yang suka bersikap sok tahu dan berkomentar tidak pada tempatnya. Aku tahu itu semua, jadi aku kalem saja. Namun ketika aku hendak duduk, ada salah satu dari mereka yang bilang bahwa jika aku duduk di situ, maka aku akan menghalangi semua orang yang mesti keluar saat ada keadaan darurat.”

“Kamu tidak marah?”

Aku mengangkat bahu. “Buat apa? Orang yang bilang begitu ada benarnya, tapi aku sudah membeli tiket, tiket untuk dua kursi seperti biasa dan aku berhak duduk di situ. Jika mereka memang punya concern, seharusnya mereka mencegahku mulai dari konter check-in, tapi ini ‘kan tidak.”

“Betul juga.”

“Memang betul,” timpalku sambil cemberut. “Jadi aku duduk, mengencangkan sabuk pengaman, dan menunggu dengan tenang sampai pesawat lepas landas. Di kanan-kiriku tidak ada penumpang lain, aku merasa sangat lega.”

“Tapi lima menit setelah berada di udara ….”

“Bau terbakar mulai tercium dari bagian belakang pesawat. Sepertinya ada masalah di mesin di bagian ekor jadi kami harus mendarat darurat.”

“Kamu tidak menyangka orang-orang bakalan sepanik itu?”

“Mungkin aku sudah menduganya. Masker oksigen keluar tak lama sebelum ban pesawat menyentuh tanah. Aku memandang ke sekelilingku dan semua orang terlihat sangat ketakutan. Aku juga. Jauh sebelum pesawat mendarat, aku sudah melepaskan sabuk pengamanku karena aku takut terlambat menyelamatkan diri.”

“Tindakan yang tepat,” gumamnya.

“Mungkin ya, mungkin tidak. Jika waktu itu ada turbulensi, maka aku sudah membahayakan diriku sendiri. Aku mungkin terlempar dari tempat dudukku ketika ada guncangan. Entahlah,” jelasku sambil mengedikkan bahu.

“Orang-orang barbar, tak berperasaan,” kutuknya geram.

“Tindakan mereka bisa dimengerti. Walaupun pramugari sudah berusaha mengarahkan para penumpang supaya keluar dari pintu darurat dengan tertib, asap dan bau hangus membuat semua orang hilang kendali. Dan tubuhku yang besar ini …,” desahku, “tubuhku yang besar ini adalah penghalang untuk mereka bisa cepat keluar dari pesawat itu.”

“Tetap saja ….”

“Kamu benar,” potongku. “Apa yang kamu katakan di depan Dokter Toni tadi benar. Kalau saja aku tidak segendut sekarang, aku pasti bisa segera bangkit ketika tubuhku didorong dari belakang. Aku pasti bisa melindungi diriku ketika orang-orang mulai menginjak-injak seluruh tubuhku.”

“Aku masih ingat untuk melindungi kepala dan leherku,” desahku frustrasi. “Untungnya. Ah, apalah artinya untungnya kalau aku masih dihantui trauma sampai sekarang?”

Aku meregangkan tubuh dan tanganku tanpa sadar mengaduk-aduk isi tasku untuk mengambil kantong berwarna cokelat.

“Stop. Stop makan. Tanganmu harus berhenti mengambil makanan waktu suasana hatimu sedang tidak enak,” sentaknya.

Aku hanya bisa ternganga. Selama ini Sisil banyak mencemooh atau menyindir untuk mengutarakan ketidaksetujuannya terhadap tindakanku, namun dia tidak pernah terang-terangan membentakku seperti sekarang.

“Kamu bisa saja terluka lebih parah di pesawat itu. Kita harus bersyukur kamu masih hidup, kamu masih relatif sehat sampai sekarang. Tidak ada yang kita bisa lakukan terhadap orang-orang yang memperlakukanmu dengan semena-mena. Kita juga tidak bisa menuntut orang-orang tak berperikemanusiaan yang mengunggah video ketika tubuhmu diinjak-injak oleh puluhan orang. Kita tidak bisa melenyapkan semua warganet yang dengan gampang bilang bahwa kamu adalah pijakan yang empuk. Aku ingin menghajar mereka semua, tapi aku tidak bisa! Kamu tahu itu ‘kan?!”

Matanya membelalak dan napasnya terengah-engah akibat amarah. “Kamu juga tidak bisa. Yang kamu bisa lakukan sekarang adalah menjadi lebih kurus. Berhentilah menjadikan makanan sebagai alat pelampiasan emosimu. Mulailah memperhatikan kesehatan dan bentuk tubuhmu.”

“Tapi, Sil, hidupku cuma sekali,” bisikku lirih. “Aku ingin menjadi kurus dan aku ingin tetap bisa makan apa yang kumau.” Aku memandangnya takut-takut, tidak menyangka aku akan dimarahi sedemikian rupa.

“Justru karena hidupmu cuma sekali, you silly!” bentaknya lagi. “Baik-baiklah dengan badan yang kamu miliki ini. Tolonglah. Kamu orang baik, kamu punya banyak potensi. Kamu tidak boleh kalah dari kondisi ini. Coba pikirkan perasaan orang tuamu, keluargamu, kalau kamu meninggal lebih cepat akibat kegemukanmu. Coba pikirkan tahun-tahun yang kamu bisa jalani dengan lebih bermakna kalau kamu hidup lebih sehat.”

“Tapi aku benci diet dan olahraga,” timpalku lagi dengan suara terisak. “Masak kamu lupa?”

“Demi! Demi kurus. Kita akan mencari dokter ahli gizi terbaik, personal trainer terbaik untukmu, jangan khawatir. Sekarang lakukan saja dulu operasi plastik itu. Menurutku, operasi yang terbaik adalah yang bisa meredam napsu makanmu. Setelah operasi kita akan bekerja sama untuk mencari pola hidup yang terbaik, yang tersehat untukmu.”

Ketika aku tidak menimpalinya, Sisil meraih kedua tanganku dan menggenggamnya erat-erat. “Tolonglah …. Ya?” bujuknya. “Aku akan membantumu. Aku akan mencari prosedur teraman. Aku akan mencoba menjelaskan semua istilah medis dengan sebaik-baiknya supaya kamu bisa bisa mengambil keputusan paling tepat. Kita coba saja, ya?”

Melihat tekad di matanya, aku tidak bisa berkata tidak. Pelan-pelan aku mengangguk. “Tolong aku, ya, Sil?” pintaku memelas. Air mata sudah mengalir di kedua belah pipiku.

Sisil balas mengangguk. “Dan sambil memilih prosedur terbaik, berhentilah menggunakan tanganmu untuk terus mencari dan mengambil makanan,” pintanya. “Kamu sadar tidak, kamu ini sedang berada di dalam lingkaran setan?”

Dari sudut mataku kulihat dia mengambil kantong kertas berisi donat dari dalam tasku dan melemparnya ke dalam tempat sampah di dekat kursi kami.

* * *

Hari yang kunanti-nantikan tiba juga. Setelah bertanya sana-sini, menelusuri internet sampai mataku merah seperti darah, berkonsultasi dengan berbagai dokter spesialis selama puluhan jam, akhirnya aku, dengan dibantu Sisil, memutuskan operasi apa yang akan kujalani supaya menjadi lebih kurus.

Dari semalam aku sudah menginap di rumah sakit tempatnya bekerja. Aku memutuskan untuk tidak memberi tahu orang tuaku yang tinggal di pinggiran Jakarta tentang operasi ini. Mereka pasti akan merasa khawatir dan kecemasan mereka yang berlebihan pasti akan mempengaruhi suasana hatiku.

Satu jam sebelum aku masuk ke ruang operasi,  Sisil datang bersama Dokter Toni. Aku menyambut kedatangan mereka dengan senyum cerah. Kedua orang ini telah menjadi sistem penyanggaku, teman baikku selama satu bulan terakhir. Mereka menuntunku mengeksplorasi pilihan demi pilihan. Aku akan selamanya bersyukur atas kehadiran mereka.

“Gugup?” tanya Sisil dengan senyum manis.

“Sedikit,” jawabku sambil tergelak. “Hidup saya akan berubah setelah ini ‘kan, Dok?” tanyaku pada mereka berdua.

“Pasti, Bu, berubah ke arah yang lebih baik. Ibu jangan khawatir, ya, semuanya akan berjalan baik-baik saja. Sebelum dioperasi, Ibu akan dibius total. Operasinya sendiri berlangsung selama kurang lebih sembilan puluh menit. Setelah Ibu bangun, Ibu baru boleh makan setelah delapan jam. Ingat ya delapan jam pas, tidak boleh kurang. Setelah jam kedelapan, Ibu hanya boleh makan makanan cair pada jam yang sama setiap harinya selama satu minggu penuh. Kira-kira satu minggu lagi setelah itu, Ibu baru makan makanan semipadat. Kita observasi terus nih, Bu, buat menentukan kapan Ibu bisa makan makanan padat lagi seperti biasa.”

Aku mengangguk-anggukkan kepala. Selain Dokter Toni, Sisil juga sudah terus-menerus mengingatkanku tentang apa yang akan terjadi pascaoperasi. Aku tahu dia melakukannya untuk mempersiapkan mentalku.

Setelah operasi, aku tidak bisa lagi makan semua makanan kesukaanku, semua karbohidrat, yang manis, yang gurih, selama kurang lebih satu bulan. Dan aku tidak bisa lagi makan seperti biasa tanpa terkendali. Tentu saja aku harus mempersiapkan diri.  

Endoscopic Sleeve Gastroplasty, atau ESG, ini paling aman, Bu. Tidak ada bagian tubuh yang disayat, semua operasi akan dilakukan pakai alat namanya endoskop yang dimasukkan lewat tenggorokan untuk mencapai perut Ibu. Sama seperti pada LGBP yang saya pernah jelaskan dulu, ESG ini juga mengubah bagian dalam perut Ibu menjadi bentuk tabung yang bisa menerima lebih sedikit makanan. Lebih sedikit Ibu makan, lebih cepat Ibu kurus. Sudah jelas ya?”

“Sudah, Dok, Dokter sudah jelasin ke saya berpuluh-puluh kali,” kataku dengan ceria dan diiringi senyuman.

“Biar khatam, Bu, hehehe,” balasnya dengan tawa berderai.

Sisil dan aku pun ikut tergelak. Aku sungguh merasa lega karena hariku dioperasi tidak dihiasi dengan ketegangan. Sebelum mereka meninggalkanku, Sisil bertanya sekali lagi apakah aku tidak ingin kedua orang tuaku datang. Aku menggelengkan kepala dengan mantap. Tidak, semuanya akan baik-baik saja, aku pasti akan baik-baik saja. Tidak perlu membuat orang lain khawatir.

Bahkan ketika aku sudah berbaring di atas tempat tidur dan didorong masuk ke ruang operasi, suasana hatiku masih riang. Aku membuat keputusan terbaik, pikirku. Aku sudah memilih dokter dan rumah sakit terbaik. Setelah memulihkan diri di rumah sakit selama satu sampai tiga hari, perjalananku untuk menjadi kurus, untuk memperbaiki hidup, dan untuk membungkam mulut orang-orang usil akan dimulai.

Tidak, aku tidak berubah menjadi orang yang mulai memikirkan apa pendapat orang lain. Aku melakukan ini semua untuk diriku sendiri. Untuk mengatasi trauma akibat peristiwa naas itu, untuk mencegah kemungkinan aku diinjak-injak lagi di masa depan, untuk memperkuat diriku dalam menjalani kehidupan yang lebih berarti. Ya, aku melakukan semua ini untuk diriku sendiri dan bukan untuk orang lain.

Aku terbaring di meja operasi dan dengan sabar menanti para dokter berkumpul. Ruangan itu begitu dingin sehingga aku menggigil beberapa kali. Berbagai macam peralatan berjejalan di dekat kepalaku. Bersama semua tenaga kesehatan yang berada di dalam ruangan itu, aku memanjatkan doa terakhir sebelum obat bius mengambil alih kesadaranku.

“Selamat siang, Bu, kita akan mulai operasinya, ya? Saya akan membius total Ibu,” kata seorang dokter sambil memasang sebuah masker di atas mulutku. Aku mengambil napas terakhir sebelum jatuh tertidur.

* * *

Seratus tiga puluh menit sudah berlalu, namun tidak ada tanda-tanda operasi temanku sudah berakhir. Aku melirik jam tangan dan kemudian telepon genggamku. Harusnya ada berita dari Toni kalau ada masalah, tapi lorong di depan ruang operasi sepi selayaknya di kuburan.

Aku mematut-matut diri pada pintu ruang operasi yang berkaca gelap. Hari ini aku mengenakan blus berwarna merah darah dengan lipstik berwarna senada. Rok selutut yang kukenakan berwarna hitam seperti sepatu hak tinggiku. Jasku putih bersih karena baru dicuci. Semuanya serasi, semuanya sepadan. Aku pantang keluar rumah tanpa terlihat rapi dan menawan.

Pintu ruang operasi tiba-tiba terbuka dan Toni keluar dari dalamnya dengan napas tersengal-sengal. Baju operasinya basah bersimbah keringat dan ada jejak air mata di pipinya. Kulihat jakunnya naik-turun setelah dia melepaskan maskernya.

“Keluarganya, mana keluarganya?” tanyanya panik.

Aku bangkit berdiri dengan tenang. “Tidak ada. Dia datang sendiri.”

Toni mengguncang bahuku. “Harus ada. Keluarganya harus ada.”

“Tidak ada, Ton. Teman gua bertindak sebagai wali dirinya sendiri.”

“Tapi …, tapi …,” katanya dengan suara terbata-bata dan dada naik-turun. “Bagaimana ini, Sil, teman lu itu barusan meninggal!”

Aku mendengarkan penjelasannya sambil menatap refleksi diriku pada pintu dari ruangan yang katanya baru merenggut nyawa temanku. Rambut panjangku sudah mulai bercabang, aku harus ke salon akhir pekan ini. Toni ini meracau apa sih, batinku kesal.

Tiba-tiba ada yang salah … tekanan darahnya … jantungnya berhenti … CPR dua jam … gagal ….

Aku hanya mendengar kata-kata itu sambil lalu dan aku sungguh tidak berminat untuk tahu lebih banyak detailnya.

“Ya sudah, gua akan telepon keluarganya,” ucapku santai sambil beranjak pergi.

“Sisil!” panggilnya. Dengan kasar Toni menarik lenganku dan memaksaku menatap matanya. “Apa yang lu udah lakukan? Teman lu baru meninggal, tapi kok bisa reaksi lu cuma gini?” Suaranya yang menggelegar memenuhi lorong yang sunyi itu.

Aku menepis tangannya. “Lu mau nuduh apa, Ton? Gua bisa lakuin apa emangnya? Gua temannya, bukan dokternya. Lu yang dokternya!” cetusku sambil menudingkan jari ke wajahnya.

“Gua tahu, tapi respon lu itu aneh, mencurigakan. Kayaknya lu udah ngira kalau dia bakal mati.”

“Jangan gila, dia itu teman gua!” seruku sambil mendelik. “Jangan nuduh gua sembarangan. Ini gua mau telepon keluarganya. Gua juga ikut bertanggung jawab, tahu, gua yang maksa dia buat operasi!”

“Gua udah jalanin semua tes, semua hasil tes teman lu baik-baik aja. Gua udah cek dua kali, tiga kali. Gua udah lakukan operasi ini ratusan kali. Gua prediksi komplikasi bakal terjadi justru setelah dia bangun karena masalah dia itu sebenarnya di psikisnya. Tapi ini, tapi ini, Sil, sepuluh menit setelah endoskop masuk ke tenggorokannya, jantungnya berhenti!”

Dia mengguncang bahuku lagi. “Gimana gua jelasinnya, Sil? Gimana? Gua ga malpraktek, demi Tuhan, gua udah ikutin semua prosedur, step by step, ga ada yang kelewat. Ga pernah ada pasien gua yang meninggal sampai sekarang!”

“Berarti ini takdir, Ton,” balasku dingin. Aku melangkah mundur dan tersenyum tipis padanya. “Lu ingat ga apa yang lu bilang ke gua waktu lu mau ambil spesialisasi bedah plastik?”

“Apa hubungannya dengan kejadian sekarang?” teriaknya.

“Lu bilang, Ton, ‘Gua mau bedah plastik karena gua pengen ngurangin jumlah orang jelek dan gendut di muka bumi ini. Gua pengen semua orang berwajah dan bertubuh sempurna kayak gua.’”

“Lu sinting! Mana gua inget apa yang gua bilang sepuluh tahun lalu!”

“Tapi gua ingat, Ton, gua ingat banget. Dan hari ini gua bantu lu mewujudkan mimpi lu itu.” Aku berdiri di hadapannya dan mengelus-elus bahunya yang lebar dan kemudian kedua lengannya yang berotot.

Toni yang selalu ingin tampil sempurna; kesibukan seperti apa pun tidak pernah menghentikannya pergi ke gym untuk mendapatkan tubuh yang ideal. Kosmetik dan disiplin yang ketat membantunya mewujudkan fisik seperti Adonis, dewa keindahan dan gairah menurut mitos Yunani.

Ya, dia memang sudah terbukti indah. Mantan tunanganku ini dengan entengnya dan dengan seenaknya berselingkuh sebab dia menganggap dirinya terlalu indah. Dia pikir tidak ada wanita yang bisa menolaknya karena dia adalah Adonis.

Meskipun dia mencampakkanku, dia adalah Adonis milikku seorang. Dan hal itu kubuktikan hari ini.

Aku berjinjit dan mengecup pipi kirinya. “Selamat, Dok, mimpi lu terkabul hari ini,” bisikku.

Aku melangkah pergi sambil mengeluarkan telepon genggam dari dalam saku jas putihku. Aku berdeham sekali, dua kali untuk mendapatkan nada suara yang melukiskan dukaku.

Apakah benar aku berduka? Tentu saja, ya. Aku berduka karena kehilangan seseorang yang bisa kucecar tanpa pikir panjang. Apakah dia temanku? Tentu saja, tidak. Kami tidak pernah berada di dalam satu liga. Di mataku aku cantik, langsing, dan indah seperti Adonis. Tidak seperti si gendut itu.

Aku menghela napas panjang. Dalam hati aku sangat lega karena sudah lepas darinya dan rengekannya. Si gendut yang selalu bersikukuh menikmati hidup dengan makan dan makanan. Huh, yang benar saja. Buktinya dia mau saja menuruti anjuranku, dioperasi supaya lebih kurus, dioperasi supaya bertubuh indah seperti milyaran orang di dunia ini.

Dasar munafik.

Di belakangku aku mendengar Toni memukul kaca, menendang kursi, dan meraung padaku:

“Sisilllll! Lu sempat kasih obat apa ke dia? Sisillllllllll, jawab gua!!!”

– TAMAT –

5 thoughts on “Gendut (Full Story)

    1. Waktu itu aku lagi makan donat dan tiba2 kepikiran karakter si gendut. Pengembangan selanjutnya sambil jalan seingetku, makanya ceritanya dibagi jadi beberapa babak 😆😆

      Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s