I Wish You Courage

I wish you courage
To face the vast ocean
To cope with endless rolling waves
To sail to the unknown
To be steadfast in every turn

And when you get lost, you just need to look up
I am there in the rising sun
I am there as the bright evening star
I am there with the wind guiding your ship
I am there on the land you plant your feet

I wish you courage
I wish you wisdom
I wish you strength
With all my love, I wish you those all

Advertisements

Happy White Day!

Happy Valentine’s Day!

Tentu kita sudah familiar dengan seruan di atas untuk merayakan hari kasih sayang/hari cinta yang jatuh pada tanggal 14 Februari setiap tahunnya. Sama seperti tanggal 1 Januari yang dirayakan sebagai penanda tahun yang baru di kalender Masehi yang dipakai secara internasional, Valentine’s Day juga dirayakan secara internasional. Semua orang yang terekspos dengan sumber berita dan informasi pasti tahu semua kehebohan, pernak-pernik, kebiasaan, dan barang/jasa yang diperdagangkan khusus untuk menyambut hari ini.

Asal-usul Valentine’s Day bisa dibaca di sini. Kebenaran dan kesahihan informasi yang ada di artikel tersebut tidak bisa saya konfirmasi ya, karena semua orang bisa menulis apa saja di Wikipedia. Yang pasti Valentine’s Day sejak dua puluh tahun terakhir bukan melulu tentang pasangan kekasih, tapi merambah juga ke ungkapan kasih sayang antar anggota keluarga, saudara, teman, dan lain sebagainya. Yah, pinter-pinternya orang marketing saja untuk mencocokkan produknya dengan momen Valentine’s Day. Jadi jangan heran kalau sebuah produk detergen pun menjanjikan baju yang super harum dan lembut setelah dicuci, demi penampilan terbaik Anda saat makan malam romantis dengan pasangan (halah).

Nah, mari kita membahas White Day sekarang.

Saya pertama kali tahu tentang White Day waktu SMA dan sedang menggandrungi serial cantik komik Jepang. Dari alur cerita beberapa komik saya mendapat informasi kalau di Jepang sana Valentine’s Day adalah hari untuk wanita mengungkapkan rasa cinta pada pria dengan cara memberikan cokelat (atau hadiah lainnya). Rasa hati tak enak dong jika tidak membalas hadiah yang sudah diberikan. Maka ditetapkanlah White Day yang jatuh satu bulan setelah Valentine’s Day sebagai hari di mana pria mempunyai kesempatan untuk membalas cokelat/hadiah tersebut sebagai tanda membalas perasaan si wanita.

Pikiran saya waktu itu ada dua:

  1. Wanita Jepang agresif ya? Mungkin anak-anak jaman now sudah berbeda jauh dengan generasi saya 20 tahun lalu, tapi sepanjang saya menempuh pendidikan SMA di Bandung hampir tidak terdengar ada wanita yang menyatakan suka lebih dulu pada pria. Persepsi waktu itu, ini hal tabu. Pria masih dipandang sebagai pihak yang mengejar dan wanita dipandang sebagai pihak yang menerima/menolak tawaran untuk masuk ke dalam suatu hubungan romansa. Memang sih, ada saja pria-pria pemalu yang sulit untuk berkata suka (walaupun jelas-jelas wanita yang diincarnya mempunyai perasaan yang sama), tapi tetap saja urusan “tembak-menembak” itu masih merupakan dominasi kaum pria. Pernah saya dengar di angkatan adik saya seorang wanita yang menembak duluan dan si pria menerima. Pria itu kemudian curhat ke adik saya kalau harga dirinya turun sedikit karena bukan dia yang menyatakan suka duluan, dan seharusnya wanita itu sabar menunggu sampai si pria siap menaklukkan. Masuk akal sih. Dan lebay. Haha.
  2. Bagaimana kalau si pria tidak suka pada wanita yang memberinya cokelat? Jadi ruwet deh. Kalau cokelat dibalas waktu White Day, nanti si wanita bisa salah paham. Kalau tidak dibalas, rasanya juga tidak enak karena kesannya tidak menghargai pemberian. Untuk menyikapi ini muncul  giri-choco (義理チョコ), sebuah istilah dalam bahasa Jepang yang artinya courtesy chocolate, atau cokelat yang diberikan hanya karena tata-krama. Kalau menerima giri-choco apa perasaan si wanita tidak makin pedih ya? Dapat cokelat tapi tidak jadian dengan si pria pemberi cokelat. Hiks-hiks. Eh tapi katanya wanita juga bisa memberikan giri-choco ini lho, kepada pria yang ia kagumi dan hormati seperti kakak kelas atau atasan di tempat kerja.

Itu informasi yang saya dapat waktu Mbah Google belum ada ya. Mari kita tilik sekarang apa sih yang sebenarnya dirayakan oleh White Day dan dari manakah kebiasaan ini berasal.

Alkisah pada tahun 1977 sebuah perusahaan permen asal Fukuoka, yang bernama Ishimuramanseido, memasarkan marshmallow (yang pada umumnya berwarna putih) untuk pria hadiahkan pada wanita yang berarti baginya pada tanggal 14 Maret, dan menyebut hari itu sebagai Marshmallow Day. Marshmallow secara perlahan digantikan oleh cokelat putih (white chocolate) yang lebih bergengsi dari marshmallow, dan tanggal 14 Maret pun resmi dinobatkan sebagai White Day. White Day pertama kali dirayakan di Jepang pada tanggal 14 Maret 1978 dan penggerak utamanya adalah National Confectionery Industry Association (NCIA) Jepang yang merasa perlu ada satu hari dalam kalender dimana pria membalas cokelat dan hadiah lain yang mereka terima dari wanita pada Valentine’s Day. Dengan kata lain perlu ada satu hari lagi dalam kalender saat orang-orang berbondong-bondong membeli cokelat/makanan manis lainnya.

Jadi berbeda dengan Valentine’s Day yang merujuk pada sosok seseorang yang penuh cinta kasih yang hidup sebelum abad ke-14, White Day ini murni strategi marketing. Dengan tujuan apa? Menjual lebih banyak cokelat, permen, marshmallow, dan semua makanan manis yang bisa digolongkan sebagai confectionery.  Siapa yang diuntungkan? Tentu saja para pedagang, apalagi yang bisa jualan specialty chocolate dua kali dalam setahun, hehehe.

Apalagi tradisi White Day tidak hanya dirayakan di Jepang, tapi sudah menyebar ke negara Asia lain seperti Korea Selatan, Cina, Taiwan, dan Vietnam. Hadiah balasan yang diberikan pada White Day juga tidak terbatas pada cokelat putih saja, tapi bisa juga cokelat hitam, perhiasan, bahkan lingerie.

Saya tidak menemukan penelitian atau data statistik tentang pergerakan komoditi dan uang selama Valentine’s Day di Jepang atau negara lain, namun saya bisa melihat gambaran besarnya hanya dengan melihat semua aktivitas marketing dan gimmick untuk merayakan hari yang katanya spesial ini di Indonesia.

Tidak hanya dari sektor makanan yang manis-manis, sektor pariwisata juga ikut mendulang keuntungan. Sebutlah beberapa website agen perjalanan yang menawarkan romantic traveling, traveling hanya berdua dengan pasangan tepat pada hari Valentine. Belum lagi deretan hotel dan restoran yang menawarkan paket menginap dan candle light dinner nan romantis dengan kekasih hati. Bukan hanya cokelat yang jadi tambah laku dijual, tapi juga kamar hotel, tiket pesawat/kereta, bunga dan minuman beralkohol seperti anggur, dan sederet benda lainnya yang bisa dihubung-hubungkan dengan Valentine’s Day.

Bagaimanakah dengan perayaan White Day di Indonesia? Apakah sudah ada gejala merayakan hari ini, setidaknya di kota-kota besar? Apakah wanita Indonesia saat ini mengacu pada pakem Valentine’s Day (hari menyatakan cinta atau hari memberikan cokelat) – White Day (hari untuk tahu ditolak/diterima oleh si pria atau hari menerima cokelat) seperti di Jepang? Saya jadi penasaran.

Akhir kata, Happy White Day! Wahai para pria yang pernah memberikan cokelat di tanggal 14 Maret pada wanita yang menyukai dirimu, mari berbagi sedikit pengalaman, hehe.

Dua Kejutan Saat Hendak Berwisata ke Taiwan

Pada bulan Desember tahun lalu terjadi sebuah kesalahan kecil namun fatal yang mengakibatkan rencana liburan keluarga kami mendadak harus dialihkan dari Korea Selatan ke Taiwan. Berhubung jadwal cuti pekerjaan dan liburan sekolah sudah fixed, kami pun mengurus dokumen untuk visa, penukaran mata uang, dan pemesanan hotel selama berada di Taiwan dalam tempo kurang dari satu bulan. Bagaimana dengan persiapan itinerary perjalanan? Lupakan. Kami bahkan baru mencek moda transportasi dari Taoyuan International Airport menuju hotel di area Banqiao saat sudah mendarat di Taipei pada tanggal 21 Desember. Hehe.

Hal pertama yang kami urus adalah visa. Berhubung kami tinggal sekitar 40 km dari lokasi Kedutaan Besar Taiwan dan perlu cuti dari pekerjaan untuk mengurus hal ini, kami benar-benar mempersiapkan terlebih dahulu semua dokumen yang diperlukan untuk mengajukan Visitor Visa.

Di sinilah kami menemukan kejutan pertama.

Suami saya datang ke kedutaan dengan dokumen yang sudah lengkap. Saat hendak mengambil nomor antrian, satpam yang bertugas tiba-tiba bertanya apakah dia pernah mendapat visa dari atau pernah tinggal sementara di USA, UK, Australia, Jepang, Korea, negara-negara Schengen kurang dari sepuluh tahun sebelum bulan Desember 2017. Suami saya menjawab ‘pernah’. Bapak satpam lalu mengarahkan suami saya untuk membuat Travel Authorization Certificate dengan cara mengisi form online.

Pengajuan TAC memerlukan dokumen pendukung berupa visa atau surat keterangan tinggal di salah satu dari negara-negara yang saya sebut di atas. Dokumen pendukung yang suami saya gunakan adalah kartu tanda penduduk kami selama tinggal di Swis.

KTP Swis

Waktu kami tinggal di Swis anak kami yang kedua belum lahir, jadi kami tetap harus mengajukan visa wisata untuk dia. Saat visa selesai diproses kami diberitahu bahwa anak kami tidak memerlukan visa jika dia hendak mengunjungi Taiwan lagi. Dia cukup mem-print TAC dan bisa keluar-masuk Taiwan selama sepuluh tahun sejak tanggal penerbitan visa wisata pertama kali. Bagaimana dengan kami? Kartu tanda penduduk Swis milik kami berakhir pada tahun 2012, jadi kami memiliki kesempatan sampai tahun 2022 untuk masuk ke Taiwan dengan hanya menggunakan TAC. TAC ini berlaku untuk tinggal di Taiwan selama 90 hari berturut-turut sejak tanggal terbit.

Oya, biaya pembuatan TAC adalah gratis, sedangkan biaya pembuatan visa wisata untuk single entry  adalah Rp 650.000,00 per pemohon. Lumayan, kami jadi hemat biaya visa untuk tiga orang, hehe.

Sertifikat Autorisasi Perjalanan

Keberadaan TAC ini adalah usaha Taiwan untuk meningkatkan hubungan bilateral dan kerja sama ekonomi dengan negara-negara di bagian selatan negara Taiwan. Bukan tidak mungkin suatu saat warga negara Indonesia akan bebas visa untuk masuk Taiwan seperti halnya warga negara Filipina saat ini.

Satu hal yang perlu dicermati adalah pada umumnya staf maskapai penerbangan tidak familiar dengan keberadaan TAC. Bahkan staf di counter check-in maskapai penerbangan seperti SQ yang memiliki banyak rute di seluruh dunia kebingungan waktu melihat tidak ada visa Taiwan di paspor kami. Sebagai gantinya kami memberikan TAC, KTP Swis, tiket pulang-pergi, informasi hotel, dan tak lupa link ke website kedutaan Taiwan yang menjelaskan tentang TAC sebagai dokumen untuk masuk ke Taiwan. Berhubung TAC ini termasuk hal baru, staf memerlukan waktu antara 10-20 menit untuk mencari informasi dan memastikan kami menyediakan data yang benar. Waktu ini adalah di luar waktu untuk mem-print boarding pass dan menimbang koper, jadi usahakanlah untuk datang lebih awal untuk check-in.

Penerbangan kami dari Jakarta ke Taipei via Singapura dengan total waktu terbang 6 jam dan transit 6 jam.  Kami berangkat dari rumah pada pukul 2.30 pagi untuk mengejar pesawat pukul 5.30 ke Singapura. Saat transit di Singapura anak kami yang berusia 4 tahun mulai tidak enak badan karena bangun terlalu pagi dan tidak cocok dengan sarapan yang disediakan di dalam pesawat. Selama empat jam penerbangan dari Singapura ke Taipei dia tidur terus dan malas makan.

Walhasil waktu kami mendarat di Taipei kejutan kedua sudah menanti kami.

Kami mendarat sekitar pukul 16.30 waktu setempat dan dengan santai berjalan dari tempat turun pesawat menuju tempat mengambil bagasi. Anak pertama saya gandeng dan anak kedua digendong oleh suami saya. Alangkah kagetnya kami ketika kami tiba-tiba dicegat oleh Critical Diseases Center dari bandara Taoyuan. Tanpa disadari kami telah berjalan melalui kamera thermal dan suhu tubuh anak saya terukur 38.6 derajat Celcius.

Kami mulai diinterview (atau diinterogasi yah?) mengenai asal negara, riwayat kesehatan anak, dan histori perjalanan sebelum tiba di Taiwan. Indonesia ternyata termasuk salah satu negara yang berada dalam pengawasan karena banyak penyakit epidemis yang berasal dari negara kita, seperti: demam berdarah, malaria, flu burung, dll, yang dimulai dengan gejala awal demam. Dan suhu tubuh di atas 37.5 derajat Celcius sudah cukup untuk membangkitkan kecurigaan. Kami susah payah menjelaskan bahwa anak kami ini demam karena lelah dan kurang makan, tapi informasi dari kami cenderung diabaikan.

Sebenarnya sebelum traveling kami sudah menyiapkan obat-obat yang biasa dikonsumsi anak-anak saat sakit ringan (penurun panas, obat batuk, obat flu, obat alergi, multivitamin). Tak lupa kami menyertakan resep dan surat dokter yang menerangkan nama dan fungsi setiap obat dalam bahasa Inggris. Kesalahan kami adalah menyimpan obat-obat anak-anak di bagasi, walaupun resep obat kami bawa di tas handcarry, sehingga tidak bisa langsung memberikan obat penurun panas kepada anak kedua kami saat dia mulai demam di Singapura.

Akhirnya kami menerima surat peringatan dari CDC dengan berat hati. Pihak CDC mencatat hotel tempat kami menginap selama di Taiwan dan mengharuskan kami ke dokter dalam waktu 24 jam sejak mendarat untuk memeriksakan kesehatan anak kami. Kami juga harus segera menelepon kembali ke bandara untuk melaporkan hasil pemeriksaaan dokter.

Surat Peringatan dari CDC

Untungnya staf Hotel Cham-Cham tempat kami menginap selama dua minggu sangat fasih berbahasa Inggris dan sangat membantu kami. Mereka membantu mencarikan dokter yang bisa berbahasa Inggris dan mem-print peta lokasi tepatnya dalam bahasa Mandarin dan Inggris. Mereka juga menelepon ke klinik untuk memastikan dokter sudah datang/sedang praktek/sedang istirahat.

Pada hari berikutnya di Taipei anak kedua kami sudah sehat, segar-bugar, tidak demam, dan mau makan dengan lancar.  Namun demi memberikan laporan ke CDC kami tetap mengunjungi klinik dokter tersebut. Dokternya sudah tua dan sepertinya dokter umum/dokter keluarga. Pasien lain yang kami temui adalah mereka yang membawa anak-anak yang batuk-pilek. Dia memeriksa anak kami dan memberikan surat keterangan sehat dalam bahasa Mandarin dan catatan temperatur tubuh terakhir saat diperiksa. Ketika kembali ke hotel kami meminta staf hotel untuk membantu kami menghubungi CDC dan memberi tahu hasil pemeriksaan dokter. Semua pun beres dengan cepat.

Jika ternyata anak kami menderita salah satu penyakit epidemis yang ada dalam daftar CDC dan jika kami tidak ke dokter dan lalai melaporkan hasil pemeriksaan dokter, saat meninggalkan Taiwan kami bisa didenda antara NTD 10.000 sampai dengan NTD 150.000 (sekitar IDR 5 sampai 75 juta).

Tiga hal yang akan selalu kami ingat jika menghadapi otoritas seperti CDC ini ke depannya adalah:

  1. Memberikan informasi yang jujur. Menyembunyikan informasi hanya akan mempersulit proses kita selanjutnya. Kendala pertama saat berkomunikasi dengan petugas bandara adalah bahasa. Kami berbahasa Inggris dengan aksen Indonesia dan petugas memakai bahasa Inggris dengan aksen bahasa ibunya. Gunakanlah kalimat-kalimat sederhana untuk menghindari menambah keruwetan saat berkomunikasi.
  2. Taat aturan. Jika diperintahkan untuk pergi ke dokter dan melaporkan kondisi kesehatan dalam waktu 24 jam sejak ‘ditangkap’ oleh CDC, maka turuti saja. Kita adalah tamu di negara orang lain yang diwajibkan menuruti aturan setempat. Untuk ke depannya mungkin kami akan mulai membeli asuransi perjalanan yang juga mencakup penggantian biaya pengobatan medis. Tarif periksa dokter umum di Taipei hampir tiga kali lipat tarif periksa di Jakarta.
  3. Selalu sedia paracetamol di tas untuk orang dewasa dan anak-anak, hehehe.

Secara keseluruhan perjalanan wisata kami ke Taiwan menimbulkan kesan yang mendalam mulai dari persiapan, jalan-jalan dan menikmati malam tahun baru 2018 di Taipei, sampai kembali ke tanah air. Semoga kami bisa kembalike Taiwan untuk menjelajahi kota-kota lainnya.

 

Menghadapi Penolakan

Hidup tidak pernah berjalan mulus dan kita tidak selalu mendapatkan hal yang kita inginkan. Terlepas dari apakah seseorang mempercayai keberadaan Tuhan/kekuatan yang lebih besar dari dirinya, ada banyak hal yang di dunia ini yang tidak bisa kita kendalikan. Kita menyebut hal-hal tersebut sebagai sebuah takdir, nasib, kebetulan, dan lain sebagainya. Untuk mencapai tujuan/mimpi/cita-cita tentu diperlukan kerja keras. Walaupun demikian ada saja satu dan lain hal, sebuah faktor X, yang bisa menggagalkan kita dari mencapai tujuan/mimpi/cita-cita tersebut.

Penolakan-penolakan yang umumnya muncul di dalam hidup kita adalah:

  1. Penolakan masuk suatu sekolah.
  2. Penolakan masuk suatu tempat kerja.
  3. Penolakan cinta.

Penyebab dari penolakan-penolakan tersebut sebenarnya bisa dikelompokkan menjadi dua bagian besar:

  1. Penolakan karena kita punya kekurangan (kompetensi, pendidikan, tampang, kekayaan, tinggi badan, dll.).
  2. Penolakan karena hal yang kita tuju punya spesifikasi yang berbeda dengan spesifikasi yang kita punya sekarang,

Yuk, kita bahas satu-persatu.

Misalnya penolakan untuk masuk suatu sekolah. Biasanya sekolah memiliki standar nilai tertentu yang menjadi patokan bagi mereka yang ingin mendaftar masuk ke sekolah itu. Kita bisa ditolak jika nilai kita di bawah standar, yang artinya kita punya kekurangan nilai dan ketidaksesuaian spesifikasi dengan yang diminta oleh sekolah tersebut. Hal yang sama terjadi juga di dunia kerja. Misalnya kita lulus dengan kompetensi sebagai desainer produk, namun dunia kerja yang kita ingin masuki adalah dunia kerja perbankan yang memerlukan lulusan dari jurusan ekonomi. Ketidaksesuaian spesifikasi pendidikan yang kita tempuh dengan pekerjaan yang kita idamkan bisa berujung pada penolakan.

Nah, bagaimana dengan penolakan cinta? Sama halnya dengan dua jenis penolakan yang saya sebut sekelumit di atas, penolakan cinta juga bersifat subyektif (karena keputusan bergantung pada orang yang sedang ingin didapatkan cintanya) dan obyektif (karena keputusan untuk menerima/menolak cinta dibuat setelah melihat spesifikasi orang yang menawarkan cinta). Jadi wajar kalau cinta ditolak karena, misalnya, orang yang sedang mengejar memiliki kekurangan di mata orang yang sedang dikejar (kekurangan tampang/latar belakang keluarga/kekayaan, dll. dsb.), berhubung orang yang sedang dikejar memiliki spesifikasi yang saklek yang harus diketahui dan dipenuhi oleh mereka yang ingin mendapatkan dirinya.

Dalam menghadapi penolakan reaksi pertama kita pastinya adalah kecewa. Hal ini wajar dan manusiawi karena sebagai manusia tentu kita gemas kalau semua usaha yang kita keluarkan (tenaga/pikiran/uang/dll) tidak membuat kita mencapai target. Nah, reaksi kedua kita adalah cerminan kekuatan mental kita.

Apakah kita akan terus kecewa, bermuram-durja, menyalahkan diri sendiri/orang lain/takdir/nasib/faktor X? Atau apakah kita akan menerima kenyataan kalau kita sudah ditolak, cepat bangkit kembali, dan menyusun strategi untuk mencapai target berikutnya?

Saat seseorang ditolak masuk ke suatu sekolah/tempat kerja, lebih cepat dia mengejar ketertinggalan kompetensi dirinya dari standar yang diminta sekolah/tempat kerja yang dia targetkan adalah lebih baik. Saya tahu seseorang yang mencoba UMPTN pada tahun 2000-an sampai tiga kali sampai akhirnya ia diterima di ITB,. Saya juga tahu seseorang yang sangat mengidamkan bekerja di Pertamina namun karirnya setelah lulus kuliah berjalan mulus di dunia perbankan. Hampir satu dekade kemudian dia akhirnya pindah haluan ke industri perminyakan, meninggalkan posisi managerial di bank tempat dia bekerja untuk memulai lagi dari nol sebagai Management Trainee. Begitu pula dengan penolakan cinta. Saya tahu seseorang bermata juling yang mengoperasi mata kirinya di usia 22 tahun (sebuah keputusan yang memiliki resiko kesehatan yang besar) supaya sang pacar dan keluarga besar sang pacar bisa menerima kehadirannya.

Akan tetapi …, jika semua usaha untuk menutup kekurangan/ketidaksesuaian spesifikasi itu dirasa terlalu melelahkan dan mengganggu ketenangan pikiran kita, selalu ada pilihan lain.

Tinggalkan dan bergerak majulah.

Masih banyak ikan di laut. Masih banyak sekolah/tempat kerja yang bisa menerima kita. Masih banyak orang yang mau menerima cinta kita dengan rasa syukur.

Hari Jumat kemarin saya mengalami penolakan yang berkesan karena membuat hati saya hancur.

Sebagai seorang penulis yang memulai lagi aktivitas menulis pada tahun 2016 setelah hiatus selama 16 tahun, saya bermimpi buku saya diterbitkan oleh salah satu penerbit mayor di tanah air. Oleh karena preferensi saya untuk menulis dalam bahasa Inggris tidak cocok dengan preferensi penerbit-penerbit yang ingin menerbitkan buku dalam bahasa Indonesia saja, pada tahun 2016 saya (dengan dukungan keluarga dan sahabat) memutuskan menerbitkan buku kumpulan cerpen berbahasa Inggris berjudul Randomness Inside My Head secara independen/indie. Perjalanan setelah menjadi penulis indie adalah perjalanan naik roller coaster yang saya sangat nikmati, namun ini tidak menyurutkan minat saya untuk menjadi penulis buku yang bekerja sama dengan sebuah penerbit.

Di akhir Desember lalu saya tiba-tiba mendapat WA dari sebuah penerbit mayor yang meminta naskah novel dalam bahasa Inggris. Seperti gayung bersambut, saya langsung bekerja keras meringkas novel setebal 385 halaman yang sudah saya tulis di pertengahan tahun 2017 menjadi sebuah sinopsis setebal 15 halaman saja. Setelah mengirimkan naskah, saya pun menunggu dengan harap-harap cemas. Terus-terang saya tidak berani menanyakan apa alasan penerbit yang dulu menolak naskah saya karena berbahasa Inggris akhirnya sekarang meminta naskah dalam bahasa itu.

Satu minggu berlaku dan jreng jreng jreng saya mendapatkan email yang membuat saya terduduk lemas. Dan sedih. Naskah saya tidak diterima. Bukan karena ceritanya tidak bagus, tapi karena ceritanya tidak sesuai dengan target pembaca yang berusia 13 sampai 25 tahun.

Setelah cukup merasa sedih, kecewa, dan mengasihani diri sendiri, otak saya mulai berputar. Berarti ada permintaan untuk naskah dalam bahasa Inggris, walaupun dengan catatan khusus. Jadi kalau merujuk pada dua hal penyebab penolakan yang saya jabarkan di atas, naskah saya tidak punya kekurangan secara plot cerita NAMUN naskah saya tidak sesuai spesifikasinya sebagai bacaan market yang disasar penerbit tersebut.

Pada akhirnya saya memberanikan diri untuk menawarkan naskah novel lain (dalam bahasa Inggris) yang saya masih kerjakan, dimana tokoh utama dan pergulatannya ada di rentang umur tersebut. Walaupun nanti saya akan menunggu dengan harap-harap cemas (lagi) keputusan dari penerbit, saya masih punya satu mantra ajaib yang selalu berhasil membuka jalan untuk saya mencapai mimpi saya: menulis cerita fiksi yang bisa menghibur dan menginspirasi orang lain.

NASKAH DITOLAK, INDIE BERTINDAK.

Hahaha. Sembari menyempurnakan naskah, biarkan saya makan dua kotak coklat Ragusa yang ada di gambar sambil mengeringkan air mata. Hiks.

Menyambut Tahun Baru 2018 di Taipei

Tahun baru adalah momen bermakna bagi kebanyakan orang. Pada detik-detik menjelang tahun baru, manusia merayakan tahun yang baru saja berlalu dengan baik dan meluapkan optimisme untuk menyambut masa depan yang lebih cerah. Bagi keluarga saya sendiri detik-detik menjelang tahun baru adalah saat-saat untuk merenung, menata diri, dan mempersiapkan mental untuk menghadapi lebih banyak tantangan di hari-hari ke depan. Pada penghujung tahun 2017 lalu keluarga saya memutuskan untuk melakukan suatu hal yang baru pertama kali kami lakukan, yaitu berlibur selama tiga belas hari ke negara dan kota yang belum pernah kami kunjungi sebelumnya.

Mengapa Taipei? Sebenarnya berlibur ke Taipei adalah suatu hal yang tidak pernah kami rencanakan. Selama satu tahun terakhir kami sudah mengatur jadwal perjalanan ke negara lain, namun apa daya, sedikit keterlambatan dalam menebus poin mileage maskapai penerbangan langganan kami membuat harga tiket ke sana melambung sangat tinggi. Di tengah ancaman liburan yang bisa batal, pihak maskapai penerbangan menawarkan empat buah tiket ke Taipei untuk tanggal yang memang cocok dengan rencana kami semula.

Dalam traveling sebelumnya kami terbiasa berpindah kota sampai beberapa kali selama kami berada di suatu negara. Namun untuk liburan keluarga kali ini kami memutuskan untuk menginap di satu hotel selama tiga belas hari berturut-turut. Hal ini ternyata sangat berguna, karena saat mendarat di Taipei pada tanggal 21 Desember 2017 anak kedua kami demam tinggi dan kesehatannya harus dimonitor oleh Critical Diseases Center (CDC) Bandara Internasional Taoyuan. Jika kami mengikuti rencana awal untuk tinggal beberapa hari saja di Taipei kemudian pindah ke kota lain di bagian selatan Pulau Formosa ini, pihak CDC mungkin akan kesulitan untuk menghubungi kami dan mendapatkan update tentang kesehatan anak kedua kami.

Tantangan terbesar kami saat liburan ini adalah membuat anak kedua kami, seorang balita, bisa menikmati liburan sambil mengasah ketangguhannya dalam bepergian. Tidak ada masalah yang berarti untuk anak kami yang pertama yang berusia delapan tahun, karena dia sudah terbiasa traveling di berbagai medan dan dengan berbagai moda transportasi, kecuali masalah otot kaki yang pegal. Bagaimana tidak, dalam satu hari jalan-jalan mengeksplorasi Taipei kami melangkah antara sembilan ribu langkah (jika kami berjalan-jalan di dalam kota) sampai tujuh belas ribu langkah (jika kami hiking ke gunung-gunung yang mengelilingi Taipei).

Sebelum mendarat di Taipei kami sudah mendapatkan informasi bahwa puncak perayaan dan kemeriahan pergantian tahun di kota ini akan dipusatkan di Taipei 101. Taipei 101 adalah gedung pencakar langit tertinggi di Taiwan yang menjulang setinggi 509,2 meter. Rekor sebagai gedung percakar langit tertinggi di dunia dipegang oleh Taipei 101 sampai tahun 2010 ketika Burj Khalifa di Dubai selesai dibangun. Dari berbagai informasi yang kami dapatkan, pada malam pergantian tahun akan ada panggung musik di sekitar Taipei 101 yang dimeriahkan oleh artis-artis kenamaan Taiwan, namun puncak acaranya adalah kembang api yang akan dimulai tepat pada detik ke-1 di tahun 2018.

Enam hari sebelum tahun baru kami mengeksplorasi daerah di sekitar Taipei 101 untuk mengira-ngira tempat untuk mendapatkan view terbaik pertunjukan kembang api. Kami hiking ke Gunung Xiangshan atau Elephant Mountain yang hanya berjarak satu stasiun dari Taipei 101. Perjalanan mendaki Gunung Xiangshan cukup menantang karena tangganya yang sempit dan anak tangga yang sangat banyak dan terletak agak tinggi antara satu dengan yang lain.

Sebelum mencapai viewing pavilion untuk mendapatkan pemandangan terbaik dari Taipei 101 dan landscape di sekitarnya. Gunung Xiangshan menjadi salah satu tempat favorit penduduk Taipei untuk menonton pertunjukan kembang api pada malam tahun baru, namun tempat ini tidak menjadi pilihan kami karena jalan yang sulit untuk dilalui pada malam hari, apalagi sambil membawa anak kecil.

taipei-dari-gunung-xiangshan-5a54f07a16835f1c77246112.jpg
taipei-dari-gunung-xiangshan-5a54f07a16835f1c77246112.jpg
tangga-gunung-xiangshan-yang-curam-jpg-5a5503ad5e137324f9383552.jpg
tangga-gunung-xiangshan-yang-curam-jpg-5a5503ad5e137324f9383552.jpg
viewing-deck-di-atas-gunung-xiangshan-1-jpg-5a5503a4caf7db274b44c502.jpg
viewing-deck-di-atas-gunung-xiangshan-1-jpg-5a5503a4caf7db274b44c502.jpg
wefie-dari-viewing-pavilion-gunung-xiangshan-jpg-5a550383bde57528cd2f8232.jpg
wefie-dari-viewing-pavilion-gunung-xiangshan-jpg-5a550383bde57528cd2f8232.jpg

 

Pada tanggal 31 Desember 2017 kami hiking ke Taman Nasional Yangmingshan yang terletak di bagian utara kota Taipei. Taman nasional ini bisa diakses dengan bis dari stasiun-stasiun MRT yang sangat populer di antara turis, yaitu stasiun MRT Shilin dan Jiantan. Perjalanan dari kota sampai pusat informasi turis di gerbang taman nasional menghabiskan waktu sekitar empat puluh menit. Jalan menuju ke taman nasional diaspal dengan mulus, dan ada banyak restoran dan kedai kopi franchise international yang bisa jadi tempat untuk makan dan melepas lelah otot sebelum melanjutkan hiking ke beberapa tempat atraksi di taman nasional ini.

peta-taman-nasional-yangmingshan-jpg-5a54f77dab12ae247b0d73e2.jpg
peta-taman-nasional-yangmingshan-jpg-5a54f77dab12ae247b0d73e2.jpg
hiking-di-yangmingshan-park-5a54f78fab12ae23bb3427c4.jpg
hiking-di-yangmingshan-park-5a54f78fab12ae23bb3427c4.jpg

 

Pada pukul enam sore kami memutuskan turun dari gunung dan melanjutkan perjalanan ke Taipei 101. Masih ada lima jam menjelang tutup tahun tapi stasiun MRT dan area di sekitar gedung Taipei 101 sudah penuh sesak dengan manusia. Ada begitu banyak polisi dan relawan dikerahkan untuk mengarahkan massa yang membludak supaya tetap bisa keluar dan masuk stasiun dengan mudah. Foodcourt di dalam mal Taipei 101 juga sangat ramai. Kami membutuhkan waktu sekitar tiga puluh menit untuk mendapatkan kursi saja. Walhasil, kami baru bisa keluar dari mal untuk mencari spot terbaik untuk menonton kembang api pada pukul sembilan malam.

penghujung-2017-di-taipei-101-jpg-5a5505af5e137324f748ef32.jpg
penghujung-2017-di-taipei-101-jpg-5a5505af5e137324f748ef32.jpg
wefie-dengan-taipei-101-jpg-5a5505accaf7db23934b9c93.jpg
wefie-dengan-taipei-101-jpg-5a5505accaf7db23934b9c93.jpg
keramaian-tahun-baru-di-taipei-101-jpg-5a5505bfcaf7db28f35ab012.jpg
keramaian-tahun-baru-di-taipei-101-jpg-5a5505bfcaf7db28f35ab012.jpg

 

Taipei pada masa liburan akhir tahun dibanjiri manusia dari berbagai negara. Turis asing yang kami sering jumpai adalah dari Filipina, Korea, Jepang, dan negara Barat, dan banyak dari mereka yang khusus datang untuk menikmati kembang api tahun baru di Taipei 101. Kami sudah mulai lelah karena sudah beraktivitas sejak pagi. Waktunya untuk duduk sejenak dan memperbaharui semangat bergabung dengan kerumunan manusia di sekitar Taipei 101.

duduk-sejenak-jpg-5a5505d3caf7db287028bb32.jpg
duduk-sejenak-jpg-5a5505d3caf7db287028bb32.jpg

 

Semua jalan protokol di sekitar Taipei 101 ditutup untuk pejalan kaki. Sepanjang jalan musik berdentum menghibur penduduk kota dan para turis yang berduyun-duyun mencari tempat terbaik untuk menyaksikan kembang api. Area di bawah gedung Taipei 101 sendiri ditutup dengan radius tiga kilometer sebagai wilayah untuk pelaksanaan kembang api. Kami dan beribu-ribu orang lainnya bergerak menuju ke arah stasiun MRT Taipei City Hall untuk menunggu jam dua belas malam berdentang.

Menjelang tengah malam makin banyak orang yang meringsek ke area yang sudah didiami oleh mereka yang sudah menunggu sejak pukul sembilan atau sepuluh malam, seperti kami ini. Pertengkaran mulut kadang tidak dapat dihindari karena ada banyak orang yang tidak sopan melangkahi para penonton yang sudah duduk nyaman di aspal, namun semua kericuhan dan perasaan tidak enak itu berhenti begitu countdown menuju pergantian tahun dimulai pada detik ke-30. Saat menyaksikan detik-detik hitung mundur mulai dimunculkan di satu sisi gedung Taipei 101, spontan semua pejalan kaki yang masih mencari tempat untuk duduk dan semua penonton yang sudah duduk dengan nyaman di aspal berdiri untuk mengabadikan momen spesial tersebut.

Massa menghitung mundur bersama-sama dengan suara keras mulai dari hitungan ke-sepuluh, dalam berbagai bahasa: Mandarin, Inggris, dan bahasa-bahasa lainnya. Pada detik ke-nol kembang api yang menyilaukan mata dan sangat mengagumkan menghiasi Taipei 101 dan memberikan kegembiraan pada semua orang yang menontonnya dengan langsung.

Inilah momen untuk merayakan waktu yang sudah dianugerahkan untuk kita di masa lalu (tahun 2017) dan merayakan harapan untuk kehidupan yang lebih baik di masa yang akan datang (tahun 2018).

selamat-tahun-baru-2018-jpg-5a550567bde57524706ac262.jpg
selamat-tahun-baru-2018-jpg-5a550567bde57524706ac262.jpg

 

Perjalanan kami kembali ke hotel yang terletak di Banqiao, New Taipei City tidaklah mudah. Jalan protokol masih ditutup untuk kendaraan umum dan pribadi, sehingga kami dan massa lainnya berjalan kaki sekitar tiga kilometer untuk mencapai stasiun MRT terdekat dari Taipei 101 yang dibuka untuk umum. Pada malam pergantian tahun, semua line dari Taipei MRT beroperasi dua puluh empat jam. Namun, tetap perlu pengarahan dan pengaturan dari polisi untuk menjaga kenyamanan semua penumpang MRT.

Calon penumpang diminta untuk mengantri selama tiga kali. Pertama, untuk memasuki stasiun. Kedua, untuk memasuki platform. Dan terakhir, untuk menaiki kereta. Toilet portable sebanyak sepuluh buah tersedia di samping pintu Stasiun MRT Sun Yat Sen Memorial Hall yang menjadi akses kami untuk pulang ke hotel, untuk kenyamanan semua orang yang keluar rumah untuk menikmati kembang api tahun baru di Taipei 101. Saat kami mengantri di pintu masuk stasiun MRT, anak pertama kami sudah sangat mengantuk dan anak kedua kami sudah tertidur pulas sampai saya duduk di aspal karena tidak kuat menggendong dia sambil berdiri mengantri. Para polisi sangat sigap melihat kebutuhan orang-orang seperti kami yang membawa anak, stroller, atau kursi roda untuk mendapatkan prioritas masuk ke dalam stasiun.

capek-mengantri-jpg-5a550573ab12ae276c451e72.jpg
capek-mengantri-jpg-5a550573ab12ae276c451e72.jpg
mengantri-masuk-mrt-jpg-5a5505fa16835f1c7572b494.jpg
mengantri-masuk-mrt-jpg-5a5505fa16835f1c7572b494.jpg

 

Akhirnya kami tiba di hotel di Banqiao pada pukul setengah tiga pagi. Bertolak-belakang dengan Taipei yang sangat ramai dan hidup di malam tahun baru ini, Banqiao sangat sepi dan seperti kota mati saja. Setelah mempersiapkan anak-anak untuk tidur, tak lupa kami mengoleskan balsem di sekujur kaki yang sudah sangat tahan-banting membawa kami menjelajah Taman Nasional Gunung Yangmingshan dan menikmati kembang api di Taipei 101. Sebuah hal yang tak terlupakan pada malam pergantian tahun 2017 ke tahun 2018.

geliga-krim-di-taipei-jpg-5a5505f0cf01b4252164f472.jpg
geliga-krim-di-taipei-jpg-5a5505f0cf01b4252164f472.jpg

 

Selamat Tahun Baru! Semoga tahun ini kita semua menjadi lebih baik.

Memaknai Bahwa Hidup Adalah Pilihan

Hidup adalah pilihan.

Frase ini sering sekali kita dengar, tapi apakah kita mengerti betul maknanya?

Malam ini saya dan keluarga diundang makan malam di rumah seorang teman dekat saya. Kami berkenalan satu tahun lalu waktu kedua anak bungsu kami satu kelas di sekolah. Benar kata orang, berteman itu seperti menemukan frekuensi radio. Tanpa banyak basa-basi kami berdua langsung cocok dan sering bertemu di sekolah dan pada akhir pekan.

Teman saya ini seorang yang berkepribadian kuat, tapi kekaguman saya terhadap dia baru mencapai puncaknya hari ini.

Dia seorang istri yang sehari-hari bekerja di pabrik. Dia mengurus kedua anaknya dengan telaten dan sepenuh hati, selalu menyempatkan diri untuk mengantar-jemput sendiri anaknya ke dan dari sekolah, tahu betul apa yang dipelajari anak-anaknya di sekolah. Dia beberapa kali diperdaya oleh asisten rumah tangga padahal hatinya sangat baik dan tidak pernah segan membantu orang lain dalam hal perhatian dan uang, sampai akhirnya dia bertahan dengan satu orang asisten saja untuk mengurus rumah. Dia sabar luar biasa dalam menghadapi tekanan. Dia memegang prinsip bahwa kesusahan akan selalu ada tapi tidak boleh berlama-lama diam dalam kesusahan. Dalam setiap kesusahan dia akan cepat bangkit untuk menemukan jalan keluar; solusi di depan lebih penting daripada berkeluh-kesah sekarang.

Hidup teman saya ini penuh dengan tantangan tapi dia selalu bisa tersenyum dalam menghadapi setiap badai. Selama hampir dua tahun mengenalnya saya hanya satu kali melihatnya menitikkan air mata karena stres, padahal saya kalau curhat ke teman perempuan pasti sudah menangis bombay kalau lagi kalut banget, haha. Dia bisa menceritakan masalah-masalahnya yang sudah lewat ataupun yang masih terjadi dengan sikap santai dan can do spirit yang luar biasa. Dia yakin semua kesulitan pasti akan berlalu dan dia selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk orang-orang di sekitarnya.

Saya tahu pasti kalau saya ada di posisi dia, memegang peranan-peranan yang dia pegang sebagai istri, ibu, dan karyawan di kantor, saya akan remuk-redam.

Saya tidak bisa membayangkan bekerja penuh waktu di kantor sambil tetap memonitor perkembangan anak-anak di sekolah dan mempercayai seorang ART untuk menjaga anak-anak selama saya bekerja. Saya tidak berpengalaman mengurus anak dan saya tahu saya tidak bisa mempercayakan anak saya pada pengasuh/pembantu, sehingga saya langsung mengundurkan diri dari perusahaan setelah melahirkan anak pertama delapan tahun lalu, dan tidak kembali lagi ke dunia korporasi sampai sekarang. Saya mempunyai standar kebersihan yang tinggi dan sedari saya kecil dan masih tinggal bersama orang tua saya kurang mempercayai hasil bersih-bersih seorang ART. Menjadi ibu rumah tangga adalah pilihan yang tepat untuk saya dulu dan saat ini karena saya bisa memfokuskan pikiran dan energi pada hal-hal yang paling penting, yaitu: suami, anak-anak, dan rumah.

Sewaktu saya masih bekerja di perusahaan saya sering membawa masalah di tempat kerja ke rumah. Mengartikulasikan emosi negatif (kemarahan, kekecewaan, kekesalan, kesedihan, dan sejenisnya) secara verbal dan tepat tanpa berujung pada melampiaskan emosi secara searah pada orang yang tidak tahu apa-apa selalu menjadi tantangan buat saya. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana kalau saya bekerja di kantor dengan segudang masalah dan pulang ke rumah untuk menemui segudang masalah lain dengan anak-anak dan ART. Pasti ujung-ujungnya saya bisa meledak karena tekanan yang berat dari dua buah hal yang menjadi tanggung jawab saya.

Tapi teman saya ini tidak. Dia tidak remuk di bawah tekanan; dia mengambil sisi positif dari setiap masalah yang dia hadapi untuk menjadikan dirinya lebih kuat dan tangguh.

Malam ini dia mengajari saya tentang memaknai hidup itu adalah masalah pilihan.

Dia bisa memilih tidak bekerja di kantor dan hanya mengurus rumah tangga, tapi dia memilih untuk tetap bekerja, membagi dirinya dengan orang-orang selain keluarganya, menerima tugas dan tanggung jawab baru, menyelesaikan setiap tugas, dan bersukacita atas pencapaian-pencapaian kecil dan besar. Saat ada banyak masalah di tempat kerja, dia memilih untuk bertahan dan menghadapi masalah-masalah itu. Dia tidak pernah berpikir untuk cepat-cepat mencari pekerjaan di perusahaan lain. “Saya memilih untuk tetap berada di perusahaan ini, jadi setiap masalah yang saya temui adalah bagian dari pilihan saya,” begitu katanya pada saya. Bertolak-belakang sekali dengan sikap banyak orang yang saya tahu yang cepat-cepat resign jika tidak cocok dengan bosnya.

Dia bisa memilih memiliki lebih dari satu asisten rumah tangga untuk membuat pekerjaannya di rumah lebih mudah, tapi dia bertahan dengan satu orang ART saja yang sudah ikut dia bertahun-tahun. Tentu saja dia jadi harus ikut ambil bagian dalam setiap pekerjaan rumah tangga, seperti: mencuci pakaian dan memasak, tapi dia lakukan semuanya tanpa mengeluh. Dia bangun sangat pagi, membereskan semua keperluan suami dan anak-anaknya, mengantar anak-anak ke sekolah, dan kembali ke rumah untuk membereskan pekerjaan rumah sebelum akhirnya dia berangkat ke kantor. Tugasnya begitu banyak dan tekadnya begitu kuat untuk menyelesaikan semuanya dengan sebaik-baiknya.

Saat anaknya kena suatu penyakit yang membuatnya harus mengubah drastis gaya hidup dan pola makan seluruh anggota keluarga, dia melakukannya dengan sigap. Dia membaca banyak buku, mengikuti kursus-kursus, berkonsultasi dengan banyak ahli dan praktisi kesehatan, belajar memasak sendiri makanan-makanan yang selama ini bisa dibeli dengan mudah di restoran. Untuk saya yang tidak pernah suka memasak, hal ini luar biasa. Saya tidak bisa membayangkan diri saya membuat roti sendiri, saus spaghetti sendiri, dan es krim sendiri. Makanan di luar rumah begitu bervariasi dan begitu mudah diakses sehingga saya hampir tidak pernah terpikir untuk membuat sendiri apa yang saya bisa beli. Dari dia saya jadi belajar tentang makanan organik, tentang eating clean, dan tentang memperbaiki gaya hidup untuk menjalani hidup dengan lebih sehat. Dia bisa memilih untuk membeli saja produk makanan organik, tapi dia memilih untuk belajar membuat semuanya sendiri demi kesehatan seluruh anggota keluarganya. Termasuk untuk menanam sayur-mayur sendiri di halaman rumahnya. Memang dia tidak pernah berhenti menginspirasi saya.

Waktu dia, dan saya, merasa lelah dengan semua kewajiban dan rutinitas, kami sering berandai-andai sedang bersantai di pantai, tidur siang, minum jus kelapa muda, dan tidak melakukan apa-apa selama sehari penuh. Sebuah khayalan yang sangat menyenangkan dan ingin saya wujudkan untuk dia. Saya rasa teman saya ini yang sangat tabah, bijak memilih, dan sabar menghadapi setiap konsekuensi dari setiap pilihannya sangat pantas mendapatkan itu.

Collective Misery

Every human being on this earth prefers to be miserable collectively. It’s more irritating when someone is suffering alone. If there is more than one person carrying the weight, there is this illusion (or truth) that the burden is distributed equally among the people. There is this old saying: ‘be happy when other people are miserable, and be miserable when other people are happy’. This saying describes human nature to be egocentric and envious. It describes human instinct to possess the ultimate love, wealth, fortune, luck available to mankind in this lifetime or another, only for oneself. It portrays human effort to make other human’s achievements and accomplishments to appear below his/her own.

There are two interesting encounters we had on this interesting human tendency.

 

1.Climbing up and down the hills to get to Curug Seribu

Curug Seribu (Seribu Waterfall) is located in Gunung Salak National Park in Bogor. We went there last March when it was often raining cats and dogs. It was cloudy and very humid when we arrived, but there was no rain so we were confident enough to explore the tracks. We didn’t quite anticipate the tracks to be THAT difficult though. The tracks went up and down hills with slopes at sixty to ninety degrees. When we’re going down the tracks we had to kneel down to get our footings for the next steps. The same thing happened when we were climbing up. We put our knees first on the step then pushed ourselves, or being pushed, forward. The steps consisted of only soil with uncut stones scattered on top of them. The handrail was only pieces of wood, tied together with old and tired ropes. When descending we hung on to the simple handrail on our right, and to eroded soil wall on our left. It was a challenging adventure for us and our children.

Our eldest had been trained to take this kind of path since she was two years old, so she only needed a little time to adjust then she walked, climbed, knelt, ascended, and descended on her own. We didn’t have hiking shoes/sandals and sticks with us, so she and I used the point of our umbrellas to stabilize our movements. My husband used the tip of his tripod to walk while carrying our youngest on his arm. Our toddler was not used to this kind of adventure. He got tired easily and carrying him was the only option to keep moving forward.

It was around three PM when we were halfway there, and along the way we met people coming back from the waterfall. All of them looked drained. They were exhausted, we could tell from their faces and how they were sweating hard. One thing those strangers had in common was their comments towards us: 1) Are you crazy taking little children through this kind of track? 2) It’s still long way to go; it’s tiring, the road is slippery, all in all it will be difficult for your family. What we heard was discouragement, discouragement, and discouragement. Didn’t they succeed in reaching the waterfall? They surely did because they met us on their way back. So why did they have to be so discouraging? Why didn’t they boost our spirit by saying that we could do what they did, that we too could conquer those impossible tracks and reach the waterfall?

In September 2012 our family, sans our youngest, went to Edinburgh in Scotland. On our last day there we hiked to Arthur’s Seat, the main peak of several groups of hills towering over Edinburgh. The height we took on was 250.5 meters. Our eldest just turned three years old and we saw no other children hiking along us who were as young as she was. Every time we passed strangers on our way up, none of them, who saw our eldest and asked about her age, made comments like the people we met in Curug Seribu. Oh, you’re three years old and you’re hiking with your parents. Good luck on your adventure. Way to go, little girl. What they said was only ENCOURAGEMENT. They didn’t think we, her parents, were crazy. They didn’t think that she was not capable to do the task. They encouraged us and they lifted our spirit.

I wish those people in Curug Seribu had made the same gestures. The first and foremost key to conquer the nature (or anything in life) is mentality. We already lose when we THINK we’ve lost before even going to war. Maybe the people in Curug Seribu felt they didn’t do well enough in tackling the tracks and they felt miserable about it. Then they wanted us who came after them to feel empathy for their misery, or feel miserable as well. I don’t know. Luckily, we were able to tune out those discouraging voices and managed to come back safely to the parking lot, with the thunder and heavy rain above us, and two wet and sleepy kids in tow. All in all, it was a valuable experience. It taught us a lot about mentality, about being prepared (hiking gears for next trip), about persistence, and about ignoring discouragement altogether.

 

2. Driving through flood in Lippo Cikarang

It was the first weekend in April and we were driving to this hotel, at which the Easter Concert from our church was held. About two kilos from the hotel we were suddenly caught up in a traffic jam. You should know that Lippo Cikarang is an emerging town, but it’s quite small. The whole area comprises of 3.300 hectares land, with only 550.000 residents. The lanes on the main road could take up to four cars at once, but it was never required because the number of vehicles utilizing the roads is relatively low. So we were pretty amazed to see there was a traffic jam here in Lippo.

The normally two lanes had been changed into four lanes. The cars were not moving and we couldn’t see any Lippo officials, be it satpam or patrol officers, were around. We drove one kilo in twenty minutes when we met several Lippo officials who all looked anxious. They told us there had been flood but they couldn’t tell where it was exactly. We were suspicious that it was only a hearsay and the truth was actually not like that. The officials applied contra flow on the road and forced the two lanes on the right to make a U-turn. Well the traffic got better for a while. In order to get to the hotel we took a shortcut through a commercial area, where everybody we passed by (the officials from Lippo and the by-standers) looked even more anxious.

They started to yell at the cars who were queuing to enter this area to retreat and take other roads. My husband didn’t believe in their suggestions, because the cars in front of us kept moving. How bad could it be? When the by-standers saw that we and other people wouldn’t listen to them, they started to nag us that we would be caught in the flood and it would be our fault and nobody would help us. Wow, again we thought, how bad could it be? It turned out to be conquerable.

The commercial area was surely flooding (it never had flood ever since its development in 1998), but the by-standers only looked astonished that there was flood in Lippo Cikarang. The flood was roughly forty centimeters high and it was manageable. The water only soaked half of our tires, and as long as we drove with constant speed, there wouldn’t be any problem. We passed the flooding area (about 500 meters long) safely. If we had listened to those by-standers, we might have been panicking to find other alternative ways, and we might have been stuck in an even worse traffic and been late to attend the concert. The attitudes of those by-standers reminded me of the people we met in Curug Seribu. They’re happily discouraging other people. Most of the by-standers were employees of restaurants and other business ventures in that commercial area. With the flood still around it was guaranteed they didn’t get as many customers as on any normal day. So when they’re lacking activities with too much time on their hands, they felt eligible to make other people feel their misery for losing their usual customers.

It annoyed me that on the way home after dropping my husband and our eldest at the hotel, I saw no flood whatsoever on the road that was used for contra flow. There were not even pools of water on the road. The roads were dry but the cars were still slowing down. I guessed several discouraging by-standers have succeeded in creating this anxiety. Anxiety is infectious and is easily reflected on our faces and with our gestures. A quick look at people standing on the side of the road might have triggered a question on our and their minds, had something bad happened? It didn’t matter that nothing important actually happened. The anxiety and discouragement had trapped many people in an unnecessary hassle that afternoon. Thank goodness, our family is good at ignoring discouragement.

 

This contemplation makes me wonder what kind of collective misery that my friends have been led into, and what kind of discouragement they have encountered in their daily life.