Memaknai Bahwa Hidup Adalah Pilihan

Hidup adalah pilihan.

Frase ini sering sekali kita dengar, tapi apakah kita mengerti betul maknanya?

Malam ini saya dan keluarga diundang makan malam di rumah seorang teman dekat saya. Kami berkenalan satu tahun lalu waktu kedua anak bungsu kami satu kelas di sekolah. Benar kata orang, berteman itu seperti menemukan frekuensi radio. Tanpa banyak basa-basi kami berdua langsung cocok dan sering bertemu di sekolah dan pada akhir pekan.

Teman saya ini seorang yang berkepribadian kuat, tapi kekaguman saya terhadap dia baru mencapai puncaknya hari ini.

Dia seorang istri yang sehari-hari bekerja di pabrik. Dia mengurus kedua anaknya dengan telaten dan sepenuh hati, selalu menyempatkan diri untuk mengantar-jemput sendiri anaknya ke dan dari sekolah, tahu betul apa yang dipelajari anak-anaknya di sekolah. Dia beberapa kali diperdaya oleh asisten rumah tangga padahal hatinya sangat baik dan tidak pernah segan membantu orang lain dalam hal perhatian dan uang, sampai akhirnya dia bertahan dengan satu orang asisten saja untuk mengurus rumah. Dia sabar luar biasa dalam menghadapi tekanan. Dia memegang prinsip bahwa kesusahan akan selalu ada tapi tidak boleh berlama-lama diam dalam kesusahan. Dalam setiap kesusahan dia akan cepat bangkit untuk menemukan jalan keluar; solusi di depan lebih penting daripada berkeluh-kesah sekarang.

Hidup teman saya ini penuh dengan tantangan tapi dia selalu bisa tersenyum dalam menghadapi setiap badai. Selama hampir dua tahun mengenalnya saya hanya satu kali melihatnya menitikkan air mata karena stres, padahal saya kalau curhat ke teman perempuan pasti sudah menangis bombay kalau lagi kalut banget, haha. Dia bisa menceritakan masalah-masalahnya yang sudah lewat ataupun yang masih terjadi dengan sikap santai dan can do spirit yang luar biasa. Dia yakin semua kesulitan pasti akan berlalu dan dia selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk orang-orang di sekitarnya.

Saya tahu pasti kalau saya ada di posisi dia, memegang peranan-peranan yang dia pegang sebagai istri, ibu, dan karyawan di kantor, saya akan remuk-redam.

Saya tidak bisa membayangkan bekerja penuh waktu di kantor sambil tetap memonitor perkembangan anak-anak di sekolah dan mempercayai seorang ART untuk menjaga anak-anak selama saya bekerja. Saya tidak berpengalaman mengurus anak dan saya tahu saya tidak bisa mempercayakan anak saya pada pengasuh/pembantu, sehingga saya langsung mengundurkan diri dari perusahaan setelah melahirkan anak pertama delapan tahun lalu, dan tidak kembali lagi ke dunia korporasi sampai sekarang. Saya mempunyai standar kebersihan yang tinggi dan sedari saya kecil dan masih tinggal bersama orang tua saya kurang mempercayai hasil bersih-bersih seorang ART. Menjadi ibu rumah tangga adalah pilihan yang tepat untuk saya dulu dan saat ini karena saya bisa memfokuskan pikiran dan energi pada hal-hal yang paling penting, yaitu: suami, anak-anak, dan rumah.

Sewaktu saya masih bekerja di perusahaan saya sering membawa masalah di tempat kerja ke rumah. Mengartikulasikan emosi negatif (kemarahan, kekecewaan, kekesalan, kesedihan, dan sejenisnya) secara verbal dan tepat tanpa berujung pada melampiaskan emosi secara searah pada orang yang tidak tahu apa-apa selalu menjadi tantangan buat saya. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana kalau saya bekerja di kantor dengan segudang masalah dan pulang ke rumah untuk menemui segudang masalah lain dengan anak-anak dan ART. Pasti ujung-ujungnya saya bisa meledak karena tekanan yang berat dari dua buah hal yang menjadi tanggung jawab saya.

Tapi teman saya ini tidak. Dia tidak remuk di bawah tekanan; dia mengambil sisi positif dari setiap masalah yang dia hadapi untuk menjadikan dirinya lebih kuat dan tangguh.

Malam ini dia mengajari saya tentang memaknai hidup itu adalah masalah pilihan.

Dia bisa memilih tidak bekerja di kantor dan hanya mengurus rumah tangga, tapi dia memilih untuk tetap bekerja, membagi dirinya dengan orang-orang selain keluarganya, menerima tugas dan tanggung jawab baru, menyelesaikan setiap tugas, dan bersukacita atas pencapaian-pencapaian kecil dan besar. Saat ada banyak masalah di tempat kerja, dia memilih untuk bertahan dan menghadapi masalah-masalah itu. Dia tidak pernah berpikir untuk cepat-cepat mencari pekerjaan di perusahaan lain. “Saya memilih untuk tetap berada di perusahaan ini, jadi setiap masalah yang saya temui adalah bagian dari pilihan saya,” begitu katanya pada saya. Bertolak-belakang sekali dengan sikap banyak orang yang saya tahu yang cepat-cepat resign jika tidak cocok dengan bosnya.

Dia bisa memilih memiliki lebih dari satu asisten rumah tangga untuk membuat pekerjaannya di rumah lebih mudah, tapi dia bertahan dengan satu orang ART saja yang sudah ikut dia bertahun-tahun. Tentu saja dia jadi harus ikut ambil bagian dalam setiap pekerjaan rumah tangga, seperti: mencuci pakaian dan memasak, tapi dia lakukan semuanya tanpa mengeluh. Dia bangun sangat pagi, membereskan semua keperluan suami dan anak-anaknya, mengantar anak-anak ke sekolah, dan kembali ke rumah untuk membereskan pekerjaan rumah sebelum akhirnya dia berangkat ke kantor. Tugasnya begitu banyak dan tekadnya begitu kuat untuk menyelesaikan semuanya dengan sebaik-baiknya.

Saat anaknya kena suatu penyakit yang membuatnya harus mengubah drastis gaya hidup dan pola makan seluruh anggota keluarga, dia melakukannya dengan sigap. Dia membaca banyak buku, mengikuti kursus-kursus, berkonsultasi dengan banyak ahli dan praktisi kesehatan, belajar memasak sendiri makanan-makanan yang selama ini bisa dibeli dengan mudah di restoran. Untuk saya yang tidak pernah suka memasak, hal ini luar biasa. Saya tidak bisa membayangkan diri saya membuat roti sendiri, saus spaghetti sendiri, dan es krim sendiri. Makanan di luar rumah begitu bervariasi dan begitu mudah diakses sehingga saya hampir tidak pernah terpikir untuk membuat sendiri apa yang saya bisa beli. Dari dia saya jadi belajar tentang makanan organik, tentang eating clean, dan tentang memperbaiki gaya hidup untuk menjalani hidup dengan lebih sehat. Dia bisa memilih untuk membeli saja produk makanan organik, tapi dia memilih untuk belajar membuat semuanya sendiri demi kesehatan seluruh anggota keluarganya. Termasuk untuk menanam sayur-mayur sendiri di halaman rumahnya. Memang dia tidak pernah berhenti menginspirasi saya.

Waktu dia, dan saya, merasa lelah dengan semua kewajiban dan rutinitas, kami sering berandai-andai sedang bersantai di pantai, tidur siang, minum jus kelapa muda, dan tidak melakukan apa-apa selama sehari penuh. Sebuah khayalan yang sangat menyenangkan dan ingin saya wujudkan untuk dia. Saya rasa teman saya ini yang sangat tabah, bijak memilih, dan sabar menghadapi setiap konsekuensi dari setiap pilihannya sangat pantas mendapatkan itu.

Advertisements

Collective Misery

Every human being on this earth prefers to be miserable collectively. It’s more irritating when someone is suffering alone. If there is more than one person carrying the weight, there is this illusion (or truth) that the burden is distributed equally among the people. There is this old saying: ‘be happy when other people are miserable, and be miserable when other people are happy’. This saying describes human nature to be egocentric and envious. It describes human instinct to possess the ultimate love, wealth, fortune, luck available to mankind in this lifetime or another, only for oneself. It portrays human effort to make other human’s achievements and accomplishments to appear below his/her own.

There are two interesting encounters we had on this interesting human tendency.

 

1.Climbing up and down the hills to get to Curug Seribu

Curug Seribu (Seribu Waterfall) is located in Gunung Salak National Park in Bogor. We went there last March when it was often raining cats and dogs. It was cloudy and very humid when we arrived, but there was no rain so we were confident enough to explore the tracks. We didn’t quite anticipate the tracks to be THAT difficult though. The tracks went up and down hills with slopes at sixty to ninety degrees. When we’re going down the tracks we had to kneel down to get our footings for the next steps. The same thing happened when we were climbing up. We put our knees first on the step then pushed ourselves, or being pushed, forward. The steps consisted of only soil with uncut stones scattered on top of them. The handrail was only pieces of wood, tied together with old and tired ropes. When descending we hung on to the simple handrail on our right, and to eroded soil wall on our left. It was a challenging adventure for us and our children.

Our eldest had been trained to take this kind of path since she was two years old, so she only needed a little time to adjust then she walked, climbed, knelt, ascended, and descended on her own. We didn’t have hiking shoes/sandals and sticks with us, so she and I used the point of our umbrellas to stabilize our movements. My husband used the tip of his tripod to walk while carrying our youngest on his arm. Our toddler was not used to this kind of adventure. He got tired easily and carrying him was the only option to keep moving forward.

It was around three PM when we were halfway there, and along the way we met people coming back from the waterfall. All of them looked drained. They were exhausted, we could tell from their faces and how they were sweating hard. One thing those strangers had in common was their comments towards us: 1) Are you crazy taking little children through this kind of track? 2) It’s still long way to go; it’s tiring, the road is slippery, all in all it will be difficult for your family. What we heard was discouragement, discouragement, and discouragement. Didn’t they succeed in reaching the waterfall? They surely did because they met us on their way back. So why did they have to be so discouraging? Why didn’t they boost our spirit by saying that we could do what they did, that we too could conquer those impossible tracks and reach the waterfall?

In September 2012 our family, sans our youngest, went to Edinburgh in Scotland. On our last day there we hiked to Arthur’s Seat, the main peak of several groups of hills towering over Edinburgh. The height we took on was 250.5 meters. Our eldest just turned three years old and we saw no other children hiking along us who were as young as she was. Every time we passed strangers on our way up, none of them, who saw our eldest and asked about her age, made comments like the people we met in Curug Seribu. Oh, you’re three years old and you’re hiking with your parents. Good luck on your adventure. Way to go, little girl. What they said was only ENCOURAGEMENT. They didn’t think we, her parents, were crazy. They didn’t think that she was not capable to do the task. They encouraged us and they lifted our spirit.

I wish those people in Curug Seribu had made the same gestures. The first and foremost key to conquer the nature (or anything in life) is mentality. We already lose when we THINK we’ve lost before even going to war. Maybe the people in Curug Seribu felt they didn’t do well enough in tackling the tracks and they felt miserable about it. Then they wanted us who came after them to feel empathy for their misery, or feel miserable as well. I don’t know. Luckily, we were able to tune out those discouraging voices and managed to come back safely to the parking lot, with the thunder and heavy rain above us, and two wet and sleepy kids in tow. All in all, it was a valuable experience. It taught us a lot about mentality, about being prepared (hiking gears for next trip), about persistence, and about ignoring discouragement altogether.

 

2. Driving through flood in Lippo Cikarang

It was the first weekend in April and we were driving to this hotel, at which the Easter Concert from our church was held. About two kilos from the hotel we were suddenly caught up in a traffic jam. You should know that Lippo Cikarang is an emerging town, but it’s quite small. The whole area comprises of 3.300 hectares land, with only 550.000 residents. The lanes on the main road could take up to four cars at once, but it was never required because the number of vehicles utilizing the roads is relatively low. So we were pretty amazed to see there was a traffic jam here in Lippo.

The normally two lanes had been changed into four lanes. The cars were not moving and we couldn’t see any Lippo officials, be it satpam or patrol officers, were around. We drove one kilo in twenty minutes when we met several Lippo officials who all looked anxious. They told us there had been flood but they couldn’t tell where it was exactly. We were suspicious that it was only a hearsay and the truth was actually not like that. The officials applied contra flow on the road and forced the two lanes on the right to make a U-turn. Well the traffic got better for a while. In order to get to the hotel we took a shortcut through a commercial area, where everybody we passed by (the officials from Lippo and the by-standers) looked even more anxious.

They started to yell at the cars who were queuing to enter this area to retreat and take other roads. My husband didn’t believe in their suggestions, because the cars in front of us kept moving. How bad could it be? When the by-standers saw that we and other people wouldn’t listen to them, they started to nag us that we would be caught in the flood and it would be our fault and nobody would help us. Wow, again we thought, how bad could it be? It turned out to be conquerable.

The commercial area was surely flooding (it never had flood ever since its development in 1998), but the by-standers only looked astonished that there was flood in Lippo Cikarang. The flood was roughly forty centimeters high and it was manageable. The water only soaked half of our tires, and as long as we drove with constant speed, there wouldn’t be any problem. We passed the flooding area (about 500 meters long) safely. If we had listened to those by-standers, we might have been panicking to find other alternative ways, and we might have been stuck in an even worse traffic and been late to attend the concert. The attitudes of those by-standers reminded me of the people we met in Curug Seribu. They’re happily discouraging other people. Most of the by-standers were employees of restaurants and other business ventures in that commercial area. With the flood still around it was guaranteed they didn’t get as many customers as on any normal day. So when they’re lacking activities with too much time on their hands, they felt eligible to make other people feel their misery for losing their usual customers.

It annoyed me that on the way home after dropping my husband and our eldest at the hotel, I saw no flood whatsoever on the road that was used for contra flow. There were not even pools of water on the road. The roads were dry but the cars were still slowing down. I guessed several discouraging by-standers have succeeded in creating this anxiety. Anxiety is infectious and is easily reflected on our faces and with our gestures. A quick look at people standing on the side of the road might have triggered a question on our and their minds, had something bad happened? It didn’t matter that nothing important actually happened. The anxiety and discouragement had trapped many people in an unnecessary hassle that afternoon. Thank goodness, our family is good at ignoring discouragement.

 

This contemplation makes me wonder what kind of collective misery that my friends have been led into, and what kind of discouragement they have encountered in their daily life.

 

Sebelas Tahun dan Sepanjang Hayat

Saya dan suami menikah tanggal 8 November 2008 (8-11-8) yang kalau dijumlah sama dengan kelipatan 9 (ketahuan banget cinta mati sama HMS, haha). Tanggal 8 November kemarin adalah ulang tahun pernikahan kami yang ke-9 yang tidak dirayakan sama sekali. Tanggalnya jatuh di tengah minggu jadi hari itu berlalu seperti biasa dengan segala kesibukan pekerjaan di kantor, di rumah, dan membantu PR anak-anak.

Akhir pekan ini suami mengajak untuk liburan, alias leyeh-leyeh, di sebuah hotel di Jakarta. Kami senang sekali karena pemandangan di luar jendela kami adalah gedung-gedung tinggi yang memadati pusat kota Jakarta dan gedung apartemen tempat pengiring pengantin saya tinggal. Anak pertama saya yang sangat dekat dengan tantenya langsung mengenali gedung itu dan menanti-nantikan untuk bertemu hari ini.

Hari ini Sandra datang dengan kejutan. Dia tidak hanya membawa bakpau hadiah untuk anak saya yang pertama karena sudah berhasil mengerjakan tes Matematika soal perkalian dan bakpau berbentuk Totoro untuk anak saya yang kedua, tapi juga membawa hadiah untuk ulang tahun pernikahan kami (foto di awal post ini). Hadiahnya berupa foto selfie kami yang diambil dari FB, dipercantik dengan berbagai macam hiasan dan bunga yang dibentuk dari kertas daur ulang (intip IG: learteid ya untuk inspirasi aksesoris pemanis rumah), dan dibingkai dengan rapi. Tidak hanya itu, pengiring pengantin saya ini juga membuat beberapa bakpau yang dihias dengan tulisan nama kami dan selamat merayakan ulang tahun pernikahan.

Saya dan suami terharu banget sampai mata berkaca-kaca.

Persahabatan saya dengan Sandra dimulai tahun 2005, sekitar satu tahun sebelum saya berkenalan dengan suami. Kami dulu satu kos, satu kantor, dan setelah melalui pindah banyak kota dan banyak perjalanan hidup, kami tetap ada dalam hidup masing-masing. Dia yang membawa kedua cincin pernikahan kami ke altar. Namanya juga kami berikan sebagai nama tengah anak kami yang pertama. Satu hal yang membuat saya sangat mensyukuri pernikahan kami adalah adanya sahabat-sahabat, teman-teman yang ada dalam cerita kami sejak awal. Saya dan suami mulai pacaran tahun 2006 dan menikah tepat 2 tahun kemudian di tanggal kami jadian, artinya kami sudah saling mengenal satu sama lain selama 11 tahun dan menikah selama 9 tahun.

Benar kata pepatah, hari-hari terasa panjang namun tahun-tahun terasa pendek. Sebelas tahun lewat begitu saja padahal sudah banyak sekali yang terjadi. Jatuh cinta, mulai saling mengerti, bertengkar hebat, patah hati, saling mendukung, berjanji sehidup semati, sampai ada anak-anak yang dikaruniakan pada keluarga kami, semuanya telah dilalui selama sebelas tahun dan kami menantikan perjalanan panjang berikutnya di tahun-tahun mendatang.

Semuanya bukan karena kuat gagah kami; semua karena kasih karunia Tuhan. Terima kasih untuk mereka yang sudah dan masih mendoakan kami.

Untuk suami, terima kasih untuk sebelas tahun dan aku menantikan sepanjang hayat bersamamu.

SIQC 9

Waktu kami jadi MC di SIQC ke-9. Semua berawal dari sini.

 

20171111

Saya dan mereka sebelas tahun kemudian.

Lima Tips Traveling dengan Anak Kecil

Beberapa waktu lalu kami bepergian jauh dan dalam jangka waktu yang cukup lama untuk pertama kalinya setelah si Adek hadir dalam keluarga kami. Berbeda dengan si Kakak yang sudah biasa diajak traveling dalam dan luar kota/negeri sejak usia 6 bulan, si Adek jarang sekali bepergian jauh dan berhari-hari. Penyebabnya yang pertama adalah si Kakak yang sudah sekolah, sehingga waktu untuk liburan keluarga harus mengikuti jadwal liburan sekolahnya. Kedua, sejak si Adek lahir sampai beberapa waktu lalu suami masih commute Surabaya-Jakarta, sehingga waktu senggang di akhir pekan kebanyakan dihabiskan di rumah, bukannya menjelajah tempat baru. Setelah suami kembali bekerja di sini, kami berkomitmen untuk kembali menggiatkan hobi traveling keluarga kami.

Dengan usia si Kakak yang hampir 6 tahun (toddler) dan si Adek yang hampir 2 tahun (infant), tentu perlu trik tersendiri untuk mempersiapkan mereka menjelang dan saat menjalani liburan keluarga. Berikut ini beberapa tips yang saya rangkum seusai perjalanan kami:

 

1. Sounding rencana liburan dari jauh-jauh hari.

Kids are creatures of routines. Di usia 5 tahun si Kakak sudah mengenali dan taat mengikuti rutinitas. Dalam satu minggu ada beberapa les pada hari Senin – Kamis dan akhir pekan (hari Jumat – Minggu) yang fleksibel diisi dengan kegiatan-kegiatan non-rutin. Jadi penting sekali sounding ke si Kakak kalau dalam waktu dekat dan untuk beberapa saat tidak akan ada segala kegiatan rutin yang dia biasa jalani, karena kami akan pergi melihat tempat baru yang jauh.

Sounding di sini dilakukan sekitar 2 minggu sebelum traveling dimulai dan mencakup:
1) kapan kami akan berangkat (tunjukkan kalender),
2) nama kota/negara yang akan dikunjungi, plus bahasa yang dipakai orang-orangnya. Si Kakak bolak-balik bertanya kenapa kami berbahasa Inggris terus-menerus dan orang lain berbahasa berbeda (bahasa Thai),
3) jarak relatif terhadap rumah kami (sebut berapa jam yang dibutuhkan dari Jakarta ke Chiang Mai),
4) transportasi yang akan dipakai untuk menuju ke kota/negara itu. Di permulaan traveling kemarin kami naik mobil rental, naik pesawat, naik skytrain untuk ke terminal-terminal di Changi, naik pesawat lagi, dan kemudian dijemput dengan mobil oleh keluarga sepupu di sana. Dengan menceritakan urutan moda transportasi yang akan kami gunakan si Kakak tidak begitu kaget ketika kami harus menunggu selama transit untuk berganti pesawat, dan bisa dengan nyaman menghabiskan waktu dengan bermain di playground dan belanja mainan (emaknya bangkrut deh).

Kalau sounding ke si Adek sih cukup dilakukan bersamaan dengan sounding ke kakaknya, karena si Adek cuma bisa terkekeh-kekeh kalau dijelaskan sesuatu, hehe.
2. Bawa barang-barang yang biasa anak-anak pakai dan mainkan.

Buat si Kakak artinya kami harus membawa:
1) koper trunky pink-nya (yang janji tinggal janji doang akan digeret sendiri sama si Kakak, fiuh),
2) segerombolan figurines Sophia-Jake-Doc McStuffin,
3) t-shirt, rok, dan celana jeans favoritnya,
4) kuas karena dia senang pura-pura melukis sambil main air di bathtub.

Kami juga membawa kereta mainan buat si Adek, yang sayangnya dicuekin selama seminggu karena anaknya lebih seneng memainkan kabel earphone/telefon di hotel/seat belt di pesawat/dan barang-barang mekanik lainnya.

Membawa barang-barang favorit artinya membawa kenyamanan dan kefamiliaran dari rumah yang mereka akan tinggalkan untuk sementara, dan bisa membantu mengatasi kerewelan anak. Contoh: memakai t-shirt favorit jadi salah satu cara membujuk si Kakak supaya mau cepat mandi dan bersiap meninggalkan hotel.
3. Liburan adalah untuk keluarga, bukan cuma untuk papa-mama.

Traveling sampai si Kakak berusia 4 tahun adalah traveling ke tempat yang papa-mama inginkan, dengan rencana perjalanan yang diatur oleh papa-mama. Sekarang dengan si Kakak yang sudah punya keinginan sendiri dan si Adek yang tidak bisa diam, lupakan deh bisa mengunjungi museum-museum dan kuil-kuil selama berjam-jam! Sampai dua tahun lalu saya bisa menghabiskan minimal 5 jam di 1 museum buat benar-benar menjelajah dan membaca semua keterangan benda-benda yang ada dalam museum. Dengan 2 anak seperti sekarang, 3 museum cukuplah dijalani dalam 2 jam, dan 2 jam itu masih juga dipotong waktu untuk membujuk si Adek yang suka tiba-tiba minta digendong, dan membujuk si Kakak yang menolak masuk ke beberapa ruangan eksibisi karena gelap dan menakutkan (museum di Chiang Mai terasa banyak penunggunya, hiii …). Jadi ke museum manapun kami pergi, saya mesti berburu brosur berbahasa Inggris untuk membaca ulang keterangan barang-barang eksibisi di museum itu, dan minimal 2 buah brosur karena si Kakak juga hobi mengumpulkan brosur.

Di traveling kali ini ujung-ujungnya yang kami cari adalah PLAYGROUND. Di hari ke-3 kami di Chiang Mai kami mengitari Old City dengan niat awal mengunjungi 4 Wat (Buddhist Temple). Yang akhirnya kesampaian cuma 3 Wat dan di Wat terakhir cuma saya yang masuk selama 5 menit dan suami menjaga anak-anak yang sudah kelelahan keluar-masuk kuil. Pada penghujung hari yang melelahkan itu kami terdampar di taman kota yang cantik di Old City. Anak-anak sangat senang main kereta-keretaan dan panjat-panjatan bersama sepupu mereka yang tinggal di Chiang Mai, dan papa-mama bisa duduk-duduk santai sambil mengobrol. Jalan kaki kurang-lebih 5 km di bawah terik sinar  matahari dengan suhu 35 derajat sambil mendorong stroller dan menggendong anak mengingatkan kami bahwa ternyata kami ini SUDAH TUA. Hahahaha ….
4. Berbagi peta/Google Maps dengan anak.

Tujuannya supaya anak-anak (setidaknya si Kakak) mulai mengenal arah dan mendapat kepuasan tersendiri setelah mencapai suatu tempat tujuan. Anak kami yang pertama ini sangat senang mempelajari peta lokasi, apalagi di Chiang Mai Night Safari yang luas sekali dan membuat kami sering berpindah tempat. Si Kakak jadi sering membuka peta dan bertanya ‘Sekarang kita di mana?’. Anak-anak juga senang mengikuti panah di Google Maps di HP orang tua mereka, dan bersorak girang kalau sudah tiba di tujuan. Hal sesederhana ini menambahkan keterlibatan anak-anak dalam rangkaian kegiatan selama liburan. Jadi mereka tidak hanya tahu kalau mereka sudah sampai suatu tempat, tapi juga tahu cara dan urutan peristiwa untuk mencapai tempat tersebut.
5. Realistis saja, pekerjaan rumah tangga akan selalu ada .

Judulnya memang liburan tapi liburan keluarga bukan me-time untuk papa dan mama. Orang tua tidak bisa bangun siang, tidak bisa makan pas sudah lapar saja, tidak bisa leyeh-leyeh main internet, intinya tidak bisa berbuat sesukanya. Anak-anak tetap perlu dimandikan/disuapi/ditemani bermain, pakaian sekeluarga tetap perlu dicuci dan disetrika, dan seluruh anggota keluarga tetap perlu makan teratur tiga kali sehari. Terima fakta itu dan lakukan apa yang harus dilakukan. Dengan begitu tidak ada ekspektasi berlebihan akan liburan yang bebas dari pekerjaan rumah tangga. Mungkin nanti kalau anak-anak sudah besar dan kami bisa pergi bulan madu yang belum juga kesampaian karena setelah menikah kami langsung bekerja kembali seperti biasa di kantor masing-masing.
Semoga lima tips di atas bisa membantu teman-teman yang akan bepergian dengan anak-anak yang masih kecil, dan bisa menikmati waktu liburan sekeluarga.

Oleh-oleh dari Luar Negeri

Ciri khas orang Indonesia kalau ada teman/keluarga/handai taulan yang mau ke luar negeri pasti yang pertama diminta adalah oleh-oleh, bukan mengucapkan selamat bersenang-senang. Saya pernah tinggal di luar negeri dan sering melancong ke tempat lain selama di sana. Ga ada teman-teman/keluarga di sana yang langsung nodong oleh-oleh kayak di Indonesia, dengan ga mempedulikan apakah si teman/keluarga/handai taulan itu ke luar negeri buat kerja (meeting/conference) dengan waktu terbatas, bukan buat plesir (padahal waktu terbatas juga). Permintaan buat tidak lupa bawain oleh-oleh kadang bisa diulang-ulang berkali-kali. Cilakanya banyak yang klaim kalau oleh-oleh juga diminta oleh orang lain. Contohnya: jangan lupa ya beli gantungan kunci buat si Tante X, dia kan sering kirim kue waktu kamu kuliah. Padahal si Tante X mah boro-boro tahu kalau kita mau pergi dan ga pernah bilang pengen oleh-oleh dari kita.

 

Kenapa orang yang bepergian pulang ke negaranya membawa oleh-oleh?

 

1. Karena dia mengingat orang-orang dekatnya dan ingin membawa kenang-kenangan.

Saya pernah denger ada yang ngomong gini: cih bawa oleh-oleh buat pamer kalo udah pernah ke luar negeri. Kalau saya berpikiran positif, bawa oleh-oleh karena ingin berbagi. Kadang oleh-oleh yang dibawa juga kecil, simpel, dan general, kayak gantungan kunci dan tempelan magnet kulkas. Kadang lebih spesifik kalau ingat orang tertentu yang misalnya demen banget sama makanan khas dari satu negara. Motivasi dari alasan pertama ini adalah karena adanya hubungan dekat dengan si penerima oleh-oleh. Kita bersaudara, bersahabat, bertetangga, berelasi kerja, makanya saya ingat kamu dan ingin bawain sesuatu buat kamu. Yang perlu diingat di sini, perasaan dekat itu kadang tidak berbalas. Tidak apa-apa kalau orang yang kita rasa dekat, ternyata tidak merasakan kedekatan yang sama. Itu normal dan manusiawi. Makanya jangan pernah berharap kita akan menerima balasan dari orang yang pernah kita beri oleh-oleh. Kalau motivasi awalnya udah mengharapkan pamrih gitu, mending ga usah ngasih sekalian. Dan kalaupun oleh-oleh kita dibalas, ga usah menaksir-naksir apakah nilai oleh-oleh dia lebih besar/lebih kecil dari oleh-oleh yang kita pernah kasih. Buat apa menyimpan buku “utang-piutang”, saya udah kasih sekian ke si X makanya saya harus menerima persis sekian balasan dari dia.

2. Karena dititipin.

  1. Dititipin spesifik barang apa dan uang untuk membelinya.

Yang kayak gini namanya tahu diri. Ada yang nitip karena barang itu ga ada di Indonesia, atau udah lama ngincer barang yang cuma ada/ternyata lebih murah di luar negeri. Saya mah ga keberatan dititipin gini asal jelas barang apa, nyarinya di mana. Lebih seneng lagi kalau dititipin uangnya, karena ke luar negeri/ke daerah di luar tempat tinggal saya sehari-hari pasti membuat saya punya dua buah keterbatasan: waktu dan biaya. Waktu kita di luar negeri pasti terbatas karena kita sudah punya rencana duluan. Kalau nitip perlu diingat orang yang dititipin itu punya keperluan lain, entah dia mau meeting/conference/kerja/jalan-jalan/bersantai, dll. Dia bukan jasa kurir yang spesifik nyariin barang titipan. Kalau mau yang barang langsung nyampe di rumah setelah dipesan, mending belanja online aja (walaupun artinya mesti impor). Meskipun si penitip udah jelas bilang barang bisa ditemuin di toko mana, orang yang dititipin harus keluar usaha ekstra lho buat nyari lokasi, nyari dan bayar transport ke toko itu, dan bawa-bawa barang titipan (dari toko, ke hotel, ke bandara, belum lagi kalau ganti-ganti moda trasportasi selama di negara wisata). Belum lagi urusan kalau diperiksa sama bea cukai di bandara Soetta. Kalau udah tahu bakal repot begini, sewajarnya orang yang nitip juga ngasih uang buat beli ya. Kan bisa cek kurs dulu kira-kira harga barang berapa kalau dalam Rupiah. Jangan udah ngerepotin buat nyari barang titipan, minta ditalangin dulu pula. Alamak! Dan walaupun udah nitip uang, ingat juga kalau barang baru dibeli kalau si pelancong punya waktu buat nyari dan beli. Jadi jangan ngambek kalau ternyata waktu terbatas dan barang titipan ga sempat dibeli.

      2. Dititipin barang ga spesifik dan ga dititipin uang untuk beli.

Minta barangnya terserah apa aja, ga spesifik merk apa dan tipe apa. Sering kali cuma bilang, pokoknya baju. Terus pas kita WA mau baju kayak apa, keluar tuh syarat-syarat kayak: baju Hard Rock Café ya, tapi harganya di bawah 200 ribu, jangan berkerah V, harus warna gelap karena tar gue keliatan gendut pake warna terang, dan sejuta syarat lainnya. Bah yang model gini bikin kening saya berkerut. Udah kita sengaja meluangkan waktu buat nyari titipan, mesti pula live consulting pas mau beli (yang artinya mesti cari Wifi/pake roaming), kalo ga si penitip bakal ngomel karena barang yang dibeli ga sesuai dengan keinginan. Terus mesti nalangin dulu dengan uang sendiri karena si penitip ga kasih modal. Saya lagi-lagi pasti nyaranin, beli online aja. Jangan ngerepotin yang dititipin dalam hal waktu, biaya, dan kerepotan ekstra. Saya paling ga mau dititipin kayak tas/sepatu. Kalo barangnya ternyata ga ada, saya mesti diskusi panjang-lebar tentang seberapa bagusnya barang substitusi barang yang diincer pertama kali. Belum lagi kotak pembungkus tas dan sepatu kan besar dan makan tempat. Diskusi satu barang titipan aja bisa tiga puluh menit sendiri. Gimana kalau yang nitip lebih dari satu orang, atau satu orang nitip lebih dari satu barang? Kasihan sama teman kita bepergian yang jadi ikut nungguin.

 

Mendingan ubah pola pikir. Orang lain ke luar negeri? Yeay, bagus dong, semoga mereka bisa bersenang-senang di sana. Ga perlu minta oleh-oleh. Kalau dikasih, bersyukur karena udah diperhatikan. Balaslah saat kita sendiri ada kesempatan untuk membalas perhatiannya. Kalau engga dikasih oleh-oleh, ga usah merajuk, mengeluh sampe mengungkit-ungkit di grup WA. Menyedihkan banget deh. Kalau segitu pengennya oleh-oleh dari luar negeri, mendingan belanja aja ke Tanah Abang di pusat Jakarta. Di sana dijual lho segala macem suvenir kecil dari berbagai negara. Gantungan kunci, magnet kulkas, sendok hias, bola salju, jam dinding, kaos, semua ada! Apa sih yang ga ada di Indonesia? Sama-sama buatan China, dan harganya jelas lebih murah dari yang dijual di luar negeri. Lokasi Tanah Abang juga ga susah dicari. Kalau segitu ngebetnya pengen menuhin itu kulkas di rumah pake magnet, beli segepok deh di Tanah Abang yang pake tulisan mulai dari New Zealand sampe Iceland. Terus kalau ada tamu datang ke rumah dan tanya, “Wah baru ke luar negeri ya?” Mesem-mesemlah dikit terus jawablah dengan suara merendah, “Oh enggak, semua ini oleh-oleh.”

Beres kan?

Kids These Days

One day I remember them reaching for my hands, being cuddled in my embrace.

Today I see them getting away when I try to hold them still.

One day I remember them hiding behind my back, so afraid of new people they met.

Today I see them going to their teachers, the few adults they trust.

One day I remember them carrying two balls with the crooks of their arms, always stumbling after tens of steps.

Today I see them playing with jump rope, running with all their might, chasing around their friends.

Today I sillily ask myself where the time has gone. Why is it being used up all too quickly?

And every day I remember that the time ticks just the same. It’s my children who are growing up before my eyes.

Sometimes I want to put a leash on the seconds. Don’t grow too fast, spare me more sweet memories to hold onto when I’m old.

Many times I realize that that is a vain wish. Children run with time. It doesn’t hold them back; they don’t let it keep them from the future.

One day I remember looking at my growing belly with wonder. How can I carry a human being inside of me?

Today I hold my precious children close and I always pray blessings for their lives.

Who Broke The Cup?

Bulan lalu saya pergi ke Museum Seni Rupa dan Keramik di Kota Tua, Jakarta dengan teman saya untuk belajar membuat keramik. Teman saya sudah pernah ke sana dan berhasil membuat sebuah mangkok besar, sedangkan kali ini adalah kali pertama untuk saya. Di sana saya membuat 2 buah cangkir untuk kedua anak saya dari 1 kilogram tanah liat khusus. Waktu pembuatan sekitar 1 jam dan cangkir dibawa pulang dalam keadaan basah. Cerita perjalanannya bisa diintip di sini.

Nah, karena cangkir yang dibawa pulang masih lembek, bapak yang mengajari saya membuat cangkir memberitahu saya supaya cangkir diangin-anginkan beberapa hari dengan cara ditaruh di tempat terbuka yang tidak mendapat sinar matahari langsung. Saya membawa pulang cangkir dengan kotak nasi Padang dan naik bis. Waktu turun dari bis, kotak yang saya pegang tersenggol orang di depan saya jadi cangkir agak penyok. Rasanya pengen banget nangis deh, tapi untung anak-anak masih antusias dengan cangkir handmade yang saya buat untuk mereka. Di rumah saya berusaha untuk meratakan bagian yang penyok, tapi apa daya, tanpa roda pemutar tanah liat permukaan cangkir mustahil dibentuk menjadi mulus lagi.

Kedua cangkir ini akhirnya kering setelah satu minggu saya letakkan di taman dalam rumah. Bentuk akhirnya berantakan, dengan banyak tanah liat yang mengelupas di sana-sini. Proses final pembuatan perabot dari tanah liat memang dengan cara pembakaran, yang sayangnya tidak dimiliki oleh museum ataupun saya. Saya taruh kedua cangkir ini di tempat yang sama selama satu minggu lagi untuk mendapatkan bentuk yang lebih rigid.

Pada suatu hari Minggu pagi yang tenang, saya bangun dan mendapati handle salah satu cangkir sudah patah seperti di gambar di atas. Kontan saya bertanya: Who did this? Who broke the cup? Wah kalau saya kira pelakunya akan segera mengaku, saya salah besar. Kedua anak saya datang dan sama-sama bilang: I don’t know. It wasn’t me. Hmmm, mencurigakan. Tidak mungkin handle-nya patah sendiri karena tanah liat sudah mengeras setelah 2 minggu. Setelah interogasi selama beberapa menit, anak yang tidak sengaja mematahkan handle karena dia ingin mengamati ukiran namanya pada cangkir akhinya mengaku juga. Tapi …, tetap perlu waktu lho untuk membuat anaknya mengaku dengan embel-embel mamanya harus lebih dulu berjanji tidak akan marah besar dan akan memaafkan dia.

Saya jadi berpikir, kenapa ya manusia berbohong? Siapa yang mengajari kita? Kapan kita mulai melakukannya? Apa tujuan akhir kita?

Waktu saya kelas 1 SD saya pernah mencontek teman sebangku saya waktu ulangan Bahasa Sunda. Waktu itu saya duduk di dekat meja guru tapi saya entah kenapa berani melakukannya. Setelah itu guru saya memanggil saya dan bertanya, “Kamu tadi nyontek ya waktu ulangan?” Jawaban saya waktu itu otomatis adalah: tidak (padahal ibu guru pasti bisa melihat saya melakukan hal itu), hehe. Pada akhirnya saya kemudian mengakui perbuatan saya dengan penuh perasaan bersalah dan malu. Malu karena ketahuan atau malu karena menyesal sudah mencontek? Sepertinya waktu itu sih saya merasa malu karena ketahuan, bukan karena menyesal. Saya bersyukur waktu itu saya ketahuan mencontek dan ketahuan berbohong. Peristiwa itu membuat saya berusaha untuk tidak mencontek lagi seumur hidup (dengan beberapa kegagalan waktu mengerjakan ulangan waktu kelas 1 SMA, hiks.)

Kita berbohong untuk melindungi diri, betul kan? Kita pikir kalau fokus tudingan sudah beralih dari diri kita ke orang lain, maka kita aman, kita akan bebas dari sorotan. Terkadang kita tidak berpikir sebelum kita berbohong, tiba-tiba saja kebohongan itu sudah keluar dari mulut kita. Kita ingin mencari aman untuk reputasi kita, tapi sebenarnya kita merendahkan harga diri kita sendiri. Kebohongan tidak akan menyelesaikan masalah dan kebohongan akan diikuti dengan kebohongan-kebohongan lainnya. Kita bisa berkilah kalau kita ‘kepleset’ berbohong tentang suatu hal di suatu waktu, tapi jika kebohongan itu dibentuk, dipelihara, dan dibiarkan sedemikian rupa sampai akhirnya kita bingung mana yang benar dan mana yang bohong, sesungguhnya kita sedang membangun jalan menuju kehancuran diri kita sendiri. Berbohong adalah salah satu perbuatan natural manusia yang dilakukan tanpa ada yang mengajari dan bisa mulai dilakukan sejak kecil. Terlepas dari agama dan iman apapun yang beredar di bumi ini yang mengkategorikan berbohong sebagai perbuatan dosa, mengucapkan kebohongan termasuk pada pelanggaran nilai moral. Kebenaran adalah nilai moral yang universal, dan kebohongan adalah antitesa dari usaha manusia untuk menjadi pribadi yang berintegritas.

Sampai saat ini saya sudah bertemu banyak orang yang membangun kebohongan untuk menciptakan reputasi diri. Mengaku anak orang kaya, mengaku sering jalan-jalan ke luar negeri, mengaku punya pacar cakep, dll. Dan waktu mereka ketahuan, tiada ampun. Teman-teman hilang satu demi satu dan tidak ada lagi yang mempercayai mereka. Jika kebohongan sudah sistematis seperti itu, itu bukan lagi untuk melindungi diri, tapi ada faktor kejiwaan lain seperti kecenderungan narsisme (perasaan cinta berlebihan pada diri sendiri) dan sifat delusional.

Bagaimanakah mengajari anak-anak supaya tidak berbohong? Langkah pertama yang paling penting menurut saya adalah menciptakan kondisi di mana anak-anak merasa bebas bercerita apa saja pada orang tua. Waktu insting kita memberi peringatan bahwa ada sesuatu yang salah, upayakan untuk tetap tenang dan tidak bertanya dengan nada menuduh. Hal ini penting supaya anak tidak merasa tersudutkan. Efek domino dari perasaan tersudut jelas sekali bukan?

Ada hal yang salah – orang tua bertanya dengan nada menuduh – anak merasa tersudutkan – anak berusaha melindungi diri – anak berbohong – orang tua tambah marah karena tahu anak sudah membohongi mereka.

Kalau orang tua tidak segera menanamkan kepada anak kalau berbohong itu salah, cycle di atas akan terus berulang dan sulit dipatahkan. Akibatnya diskusi menjadi buntu, dengan orang tua tetap merasa anak salah dan anak tetap merasa orang tua berlebihan. Tentu saja hal ini lebih indah secara teori dan sulit (bukan mustahil) untuk dilakukan. Jika orang tua tetap tenang, bertanya dengan nada netral, memberikan gesture yang menandakan bahwa semua akan baik-baik saja, anak akan dengan rela bercerita dan tidak menyembunyikan apa pun dari orang tua. Tantangan pertama dan terberat adalah bagaimana memformulasikan pertanyaan yang bisa membuat anak merasa terbuka, bukan  bagaimana membuat anak cepat-cepat mengakui kesalahan mereka.

Kembali pada kasus cangkir keramik yang pecah tadi. Saya belum mencapai level nada suara dan pertanyaan yang cukup untuk membuat anak nyaman bercerita, tapi saya berusaha untuk menuju ke sana. Saya melihat mekanisme melindungi diri ini semakin kuat seiring dengan pertambahan usia, dan tambah besar anak akan tambah mudah berbohong, apalagi jika tidak ada yang pernah menegur dan memberi tahu kalau berbohong itu salah. Orang tua perlu mendampingi supaya anak tetap menjadi pribadi yang jujur di setiap waktu, di segala kesempatan. Ciptakan suasana yang kondusif untuk anak-anak bercerita, dan jika kebohongan sudah terlanjur diucapkan, ajak anak untuk mendiskusikan hal apa yang salah dan harus diperbaiki. Tentu saja kita sebagai orang tua harus memberikan contoh terlebih dahulu. Anak-anak juga bisa merasakan lho kalau kita tidak sedang berkata yang sebenarnya.

Good luck to all parents.