Letakkanlah Barang Pada Tempatnya!

Awal dari peristiwa ini adalah keberangkatan suami saya ke Surabaya dengan pesawat sore pada hari Selasa lalu. Pagi hari dia berangkat ke kantor seperti biasa dan pulang ke rumah sekitar pukul 1 siang. Hati girang bukan kepalang, jarang-jarang suami pulang siang. Ya kan?? Kami berdua pun masak dan makan siang bersama sampai taksi yang akan mengantar ke bandara datang pada pukul 2. Mobil suami diparkir melintang di depan carport dan menghalangi akses keluar masuk mobil saya yang sudah diparkir duluan di dalam carport. Posisi kedua mobil kurang lebih seperti ini (abaikan bantal-guling yang sedang dijemur ya, hehe):

Saturday Morning

Pada pukul 3 sore saya hendak menjemput anak-anak dari sekolah dan saya baru sadar kalau kunci mobil suami tidak tergantung di tempat biasa. Di manakah tempat biasa itu? Di gantungan berwarna coklat dan berdesain meriah yang dipaku di dinding yang hanya berjarak kurang-lebih 1 meter dari pintu depan rumah. Saya mulai panik, apa kunci mobil dia terselip di suatu tempat (kan susah ketemunya karena kunci tidak bisa di-missed call), atau jangan-jangan masih berada di saku bajunya dan jadi terbawa ke Surabaya? Saya coba telepon suami sambil jalan kaki ke sekolah di bawah cuaca terik dan gerah (untung jarak rumah ke sekolah dengan berjalan kaki cuma sekitar 7 menit kalau berjalan sendiri). Telepon tidak ada nada panggil, telepon tidak aktif, dll. sampai akhirnya telepon tersambung dan suami mengakui kalau kunci mobil masih ada di dalam tas kerjanya yang dia bawa ke Surabaya.

Saya ga tahu harus marah atau ketawa. Pertama, mobilitas di perumahan dan sekitar perumahan untuk aktivitas sekolah/les/belanja itu hampir mustahil dilakukan kalau tidak ada kendaraan pribadi. Sekolah memang terletak dekat dengan rumah (bisa ditempuh dengan 2 menit nyetir atau 7 menit jalan kaki) sehingga saya masih agak lega walau kedua mobil tidak bisa dipakai. Namun masalah timbul jika saya mau pergi  ke tempat lain (les/belanja makanan) dengan angkot. Akses ke angkot: jalan kaki 2 kilometer dari rumah (one way), itupun angkot tidak bisa mengantar sampai tempat les Taekwondo yang letaknya kurang-lebih 6 kilometer dari rumah saya. Kedua, gara-gara posisi mobil suami yang melintang, akibatnya mobil saya ikut-ikutan jadi tidak bisa dipakai padahal kuncinya ada. Suami saya pun berjanji akan menghubungi pihak rental mobil untuk mengantarkan kunci serep, tapi sementara itu anak saya ada les renang pukul 4.15 dan baju & kacamata renangnya ada di dalam mobil suami!

Bukan orang Indonesia kalau tidak bisa mengucap syukur dalam keadaan kritis. Untung tiket masuk kolam renang sudah saya masukkan ke dalam dompet saya hari Minggu lalu. Untung anak saya ada baju renang cadangan. Untung flippers dan pelampung yang wajib dipakai saat les ternyata ada di dalam mobil saya dan bisa diambil. Kurang satu nih, kacamata renang. Untung ada tetangga/teman sekelas anak yang mau meminjamkan kacamata renang miliknya. Untung juga kolam renang terletak hanya kurang-lebih 1.5 kilometer dari rumah saya. Waktu pulang sekolah kami perlu waktu hampir 20 menit untuk berjalan pulang karena kedua anak saya yang sibuk mampir di setiap pekarangan rumah yang kami lewati (untuk mengomentari hewan peliharaan atau bunga), jadi saya cukup menghela nafas berusaha sabar saat kami perlu waktu sekitar 25 menit untuk berjalan dari rumah ke kolam renang bersama anak tetangga kami yang juga ikut les. Memang berjalan kaki dengan 3 anak aktif itu banyak mampirnya!

Oya, untung berikutnya adalah saat tetangga saya datang menjemput ke kolam renang seusai les dan kami bisa nebeng mobilnya. Yang ini untung banget karena anak ke-2 mulai kelihatan ngantuk dan mustahil saya menggendong dia sambil membawa 2 pasang flippers, 2 pelampung, dan 1 ransel besar. Setelah itu muncul deretan hal yang membuat saya terharu. Hal yang mengharukan pertama adalah saat si tetangga baik hati menawarkan saya untuk memakai mobilnya untuk mobilitas selama suami (dan kunci mobil suami) masih berada di Surabaya (4 hari). Hal yang mengharukan kedua adalah saat satu teman yang saya batal temui untuk ngopi bareng karena saya tidak ada kendaraan, langsung memberitahu kondisi saya di Kakaotalk Group Taekwondo sehingga saya bisa nebeng salah satu senior kalau mau pergi ke dojang pada hari Rabu pagi.

Puncak dari semua ucapan “untung” itu adalah saat orang dari rental mobil suami datang ke rumah pukul 8 malam membawa kunci serep mobil. Mobil saya dikeluarkan dari carport dan sebagai gantinya mobil suami dimasukkan ke dalam carport, tak lupa saya mengeluarkan semua keperluan renang anak-anak dari mobil tak berkunci tersebut. Waktu saya minta supaya kunci serep ditinggal di rumah saya, pihak rental mobil menolak. Ternyata di dalam polis asuransi yang mereka ikuti ada klausul bahwa dua buah kunci mobil (1 utama dan 1 cadangan) tidak boleh berada di tangan satu pihak saja untuk mencegah kemungkinan terjadinya persekongkolan yang mengarah pada peristiwa hilangnya mobil. Wih, saya tidak menyangka ada klausul seperti itu, tapi alasan pihak asuransi masuk akal juga ya.

Dua hal yang saya pelajari dari peristiwa ini adalah:

  1. Pertolongan Tuhan tepat pada waktunya dan tidak pernah terlambat.

Mulai hari Selasa malam Cikarang diguyur hujan lebat dan non-stop, dimana hujan berlanjut sepanjang hari Rabu sampai hari Kamis siang. Saya bisa bayangkan kalau mobil saya tidak bisa dikeluarkan bagaimana repotnya saya dan anak-anak beraktivitas normal seperti pergi ke sekolah, tempat les, belanja, dll. dengan berjalan kaki di tengah guyuran hujan. Iya, iya, sejak kembali ke Indonesia tahun 2012 badan saya jadi manja dan malas berjalan kaki; ke Indomaret aja harus pakai mobil, haha.

  1. Letakkanlah barang pada tempatnya!

Semua orang di rumah kami sudah tahu kalau gantungan kunci yang ada di awal post ini adalah tempat menggantungkan: 1) kunci rumah, 2) kunci mobil, 3) ID card/Library card, 4) senter, dan 5) USB flash drive. Kami berempat tahu itu, kami berempat selalu ingat hal itu sampai hari Selasa siang suami saya lupa untuk pertama kalinya. Untunglah (lagi) dia langsung sigap mencari bantuan, dan untunglah (lagi-lagi) mood saya sedang relatif bagus sehingga saya tidak marah-marah berlebihan. Saya ada sih cerita/komplain sama teman-teman dekat dan ujung-ujungnya kami semua ketawa karena ya elah kan konyol banget kunci mobil bisa terbawa sampai ke Surabaya! Jadi ingat ya, letakkanlah barang pada tempatnya (tempat semestinya, tempat seperti biasanya, you name it), entah itu kunci mobil, sampah, ataupun mantan pacar. Hehe.

Advertisements

Perempuan dan Ukuran Badan

Dalam satu minggu ini (hari Rabu pekan lalu ke Rabu pekan ini) ada 3 orang yang mempertanyakan ukuran badan saya.

 

Kejadian 1

Hari Rabu pekan lalu saya makan siang dengan teman-teman Taekwondo di sebuah restoran Korea. Seperti kebanyakan restoran Korea, restoran ini memakai panggung kayu untuk alas duduk dan ada lubang di bawah meja supaya kaki pelanggan bisa menjuntai dengan nyaman. Saya datang terlambat dan duduk di ujung sekali di sebelah senior yang sudah 2 bulanan tidak ketemu. Hari itu saya pakai dress katun dengan motif garis horizontal berwarna biru-putih, dan karena tempatnya yang sempit saya sempat membuat suara gaduh waktu mengambil tempat duduk (seperti suara barang jatuh di papan kayu, padahal itu suara badan saya yang dihempaskan, hehehe). Setelah saya duduk, senior saya itu mengamati saya sambil mengernyitkan dahi dalam-dalam (mungkin sedang mencari kosa kata Bahasa Indonesia yang pas) terus bertanya:

Senior       : Rijo-ya.

Saya          : Ya, Onni?

Senior       : Sekarang gendut?

Saya          : (muka merah menahan malu karena guru Taekwondo kami duduk persis di seberang saya dan beliau ikut ketawa) Iya. (menjawab dengan lirih)

Senior       : Kenapa?

Saya          : (bingung mau menjawab apa)

 

Kejadian 2

Hari Minggu saya dan anak pertama jalan-jalan di sekitar kompleks pakai baju yang ada di awal post ini. Waktu melewati rumah tetangga, saya dipanggil sama yang punya rumah.

Budhe      : Mama Mis

Saya         : Iya, Budhe?

Budhe      : Lagi hamil anak ke-3?

Saya         : (muka shocked dan kepala cepat-cepat menggeleng) Engga, Budhe.

Budhe      : Oh, kirain.

 

Kejadian 3

Kemarin saya ketemu teman setelah mengantar anak ke sekolah dengan berpakaian celana panjang hitam dan kaos warna abu-abu muda. Setelah ngobrol ngalor-ngidul, teman saya itu nanya: Jo, gendutan ya?

Saya         : Iya. (menjawab dengan lirih lagi).

Teman     : Kenapa?

Saya         : (mulai memberi penjelasan panjang-lebar)

 

Kenapa saya sekarang gendut banget?

 

Jadi begini, di awal tahun 2016 berat badan saya pernah mencapai 73 kg (sama seperti berat badan waktu melahirkan anak ke-2 tahun 2013), dimana saya merasa unhealthy, unfit, and unhappy. Di bulan Maret tahun yang sama, saya sakit sampai diopname dan pemulihannya agak lama. Mulai bulan April saya bertekad untuk memperbaiki pola makan dan mulai berolahraga. Dimulai dengan ikut balet 2x seminggu @1 jam, berat badan saya turun 5 kg dalam waktu 1.5 bulan. Bulan Agustus 2016 saya mulai ikut latihan Taekwondo dari basic banget. Latihan di dojang 3x seminggu @1 jam sukses menurunkan lagi berat badan sebesar 5 kg, jadi pada bulan September 2016 berat badan saya jadi 63 kg. Setelah itu berat badan tidak bisa lagi turun karena lemak sudah berganti menjadi otot. Badan saya jadi lebih padat dan lebih sehat, dan nafsu makan juga lebih terkontrol karena sayang kan kalau hasil olahraga dinihilkan oleh 2 piring nasi setiap makan malam, haha.

Nah, pada bulan Desember 2016 anak-anak libur sekolah hampir 5 minggu dan cukup sulit membawa mereka ke dojang untuk menemani saya latihan Taekwondo. Masalah pertama adalah bangun pagi. Selama libur, anak-anak bangun lebih dari jam 8, padahal latihan dimulai pukul 7.55 pagi. Masalah kedua adalah memberikan kegiatan yang bisa menjaga mood mereka selama 1 jam saya latihan. Nah masalah kedua ini yang lebih sering terjadi. Saya pernah bawakan Ipad untuk mereka main game, tapi ujung-ujungnya berantem. Lagi asyik tendang-tendang sama sparring partner, eh saya harus ke bagian belakang dojang untuk melerai anak-anak. Pernah saya ga bawakan Ipad dan saya biarkan anak-anak main-main dengan bola gym dan cone-cone kecil. Kayaknya cuma bertahan 30 menit dan setelah itu mereka berantem lagi memperebutkan entah apa. Akhirnya di bulan Desember 2016, Maret 2017, dan Juni 2017, pokoknya setiap kali anak-anak libur sekolah, saya jadi jarang latihan Taekwondo karena 2 concern di atas. Waktu berat badan saya turun drastis, adik saya sudah memperingatkan: sebaiknya menguruskan badan dulu sebelum membentuk otot. Karena saya langsung membentuk otot, maka waktu saya tidak olahraga tempat si otot dalam badan saya diganti dengan lemak dan badan jadi menggelambir. Hiks-hiks.

Mulai bulan Juli tahun ini anak saya yang ke-2 sekolah siang (mulai jam 10 atau jam 11.30 setiap harinya). Selama sebulan pertama waktu anak saya menyesuaikan lagi jam tidur dan jam aktivitasnya setelah libur sekolah 6 minggu, saya tidak Taekwondo sama sekali (oya saya berhenti balet di bulan Januari 2017 karena jadwal les yang tidak cocok). Saya mulai latihan lagi bulan Agustus dengan mengandalkan suami yang membangunkan dan mengantar anak ke-2 ke dojang sekitar pukul 8.30 sambil suami berangkat ke kantor, supaya saya bisa latihan dengan cukup tenang selama sekitar 30 menit. Masalahnya, suami saya sering traveling, jadi kerja sama seperti ini sesekali saja bisa terjadi. Saya sudah minta ijin guru untuk membawa anak dan beliau mengijinkan asalkan anak bisa tenang. Well, kalau soal ini saya gambling deh. Sekalipun dibawakan Ipad, kalau anak lagi tidak mau main gadget, dia akan ikut latihan sama saya. Agak bahaya kalau lagi sparring pakai mitt, dia tiba-tiba melintas atau memeluk badan saya sehingga dia bisa kena tendang (yang pastinya sakit banget).

mit taekwondo

Mitt Taekwondo

 

Panjang banget ya penjelasan kenapa saya sekarang gendut banget? Padahal intinya adalah berkurangnya waktu untuk latihan Taekwondo karena anak ke-2 yang sekolah siang. Saya berusaha mengencangkan lagi otot dengan sesekali berenang, tapi memang latihan Taekwondo secara rutin memberikan efek yang jauh lebih cepat.

Saya sebenarnya tidak terlalu self conscious dengan berat dan bentuk badan, walaupun saya termasuk makhluk perempuan yang sangat sensitif dengan hal ini. Kata orang, komentar yang paling disukai perempuan adalah pertanyaan ‘Sekarang kurusan ya?’ dan komentar yang paling dibenci perempuan adalah pertanyaan ‘Sekarang gemukan ya?’. Padahal ukuran gemukan/kurusan itu baru ada kalau ada pembandingnya, entah berat dan bentuk badan di masa lalu, atau berat dan bentuk badan orang lain. Karena saya tidak suka ditanya-tanya soal berat/bentuk badan, saya usahakan juga untuk tidak menanyakan hal ini ke orang lain, apalagi orang yang saya tidak begitu kenal. Tapi kalau ada yang bertanya apakah saya kurusan/gemukan, selama ini saya kurang-lebih bisa memberitahu alasan kenapa hal itu terjadi karena ada awareness yang lebih terhadap kesehatan saya sejak tahun lalu.

Untuk menyesuaikan dengan kemampuan metabolisme tubuh dan pencernaan yang menurun seiring dengan pertambahan usia, sudah 10 hari ini saya tidak makan nasi di malam hari. Awalnya berat sekali dan bawaannya lapar melulu, tapi saya sadar kalau harus ada pengurangan asupan makanan untuk mengimbangi jatah olahraga yang berkurang. Sepuluh hari sudah berjalan dengan baik dimana makan malam diisi dengan sayur, buah, dan lauk protein saja. Walhasil badan terasa lebih ringan dan perasaan saya setiap bangun pagi lebih baik, dalam artian tidak kelaparan. Kata teman saya, kalau kita makan banyak pada malam hari, lambung dan usus akan bekerja keras di saat seharusnya mereka beristirahat waktu kita tidur, akibatnya pagi hari biasanya kita akan merasa sangat lapar. Apakah teori itu benar? Hmm, ga tahu ya, yang jelas karena malam saya tidak makan nasi, secara tidak sadar saya jadi mengurangi juga porsi nasi untuk makan siang (dan sesekali untuk makan pagi). Kita lihat saja nanti bagaimana hasil diet ini setelah beberapa bulan.

Jadi untuk teman-teman perempuan semua, jangan khawatir dengan berat dan bentuk badan Anda. Body Mass Index (BMI) lebih penting dari berat badan yang kita lihat di timbangan (silakan Google untuk cara menghitungnya ya), dan bentuk badan tidak selalu harus seperti model di majalah yang kita baca (bentuk badan di media massa bisa di-photoshop dengan mudah sekali). Yang penting adalah menjaga kesehatan dengan:

  1. Be aware dengan gizi dari makanan kita.
  2. Berolahraga cukup dan teratur. Sesuaikan beban latihan dengan limit kekuatan fisik kita dan ga usah lakukan olahraga hardcore kalau badan tidak sanggup (misal: maksain lari padahal punya masalah dengan pergelangan kaki).
  3. Beristirahat dengan cukup untuk menjaga badan tetap fit (saya masih gagal di sini karena setiap hari bergadang untuk nulis, sehingga sudah tiga minggu terakhir saya batuk-pilek bergantian, hehe),
  4. Kelola stres. Bukan hindari stres, karena emosi, negatif maupun positif, harus diterima, dirangkul, dan dimanfaatkan untuk menjadi hal yang baik. Kelola stres yang kita hadapi akibat masalah entah di rumah/pekerjaan/pergaulan/dll. untuk membuat diri kita lebih tahan banting terhadap tekanan dalam kehidupan.

 

Oya, satu hal lagi. Warna dan motif pakaian yang kita pakai sangat menentukan apakah kita terlihat kurusan atau gemukan, sebagai contoh: pakaian berwarna gelap (hitam, abu-abu tua, biru donker) dan motif garis vertikal memberi ilusi badan yang lebih kurus dari sebenarnya. Jadi coba perhatikan baju yang kita pakai terutama saat kita hendak dress to impress  orang lain. Buat saya sendiri, saya ga akan pernah lagi pakai dress biru-putih bermotif garis horizontal itu ke acara makan siang dengan teman-teman Taekwondo!

Tips Ber-WA Group untuk Ibu-ibu

Tulisan kali ini khusus ditujukan untuk ibu-ibu. Mengapa? Karena saya sudah termasuk ibu-ibu, dan ada perilaku dari kelompok ini yang membuat saya gelisah.

Sampai saat ini saya belum pernah ketemu ibu-ibu yang tidak familiar dengan Whatsapp Group (WAG). Setelah BBM Group ditinggalkan orang karena sering bikin HP hang, ibu-ibu yang saya tahu beralih ke WAG untuk tetap menjalin komunikasi dengan komunitasnya. Tipe relasi dan komunikasi antara orang-orang yang tergabung dalam WAG agak berbeda dibandingkan mereka yang berinteraksi lewat Facebook (FB) dan Instagram (IG).

Di FB, interaksi terjadi antara pemilik akun dan orang-orang yang ada di Friends List-nya. Bisa jadi pemilik akun tidak kenal dekat atau bahkan tidak kenal sama sekali dengan semua friends-nya (untuk akun yang dipakai untuk berjualan online atau fandom artis, misalnya). Update dari kehidupan pemilik akun dan semua aktivitas medsosnya, seperti sharing informasi/berita/tips, bisa dilihat/disembunyikan dari timeline orang-orang yang menjadi friends-nya. Informasi/berita/tips yang di-share bisa jadi menarik tapi tidak signifikan di jagat raya timeline orang lain, kalau akun FB orang itu punya sedikit friend atau di-follow oleh sedikit orang. Lain di FB, lain di IG. Di IG, interaksi lebih tidak personal lagi. Kita bebas untuk follow/unfollow, mengikuti/tidak mengikuti update dari  suatu akun, bahkan tanpa disadari oleh pemilik akun IG tersebut.

Kalau di WAG, orang-orang yang ada di dalamnya minimal sudah jadi kenalan, walaupun belum jadi teman. Ada WAG yang terbentuk karena orang-orang di dalamnya dulu satu sekolah, ada juga yang karena orang-orang di dalamnya punya anak-anak yang satu sekolah atau mengikuti les yang sama. Berbeda dengan FB dan IG dimana kita bisa memilih untuk tidak melihat update dari pihak lain, di WAG hal ini hampir mustahil dilakukan. Jenis komunikasi di dalam WAG sangat mendekati aktivitas mengobrol langsung antara manusia di dunia nyata, ditambah fitur bisa berbagi informasi lewat foto/video, dan ada chat history yang bisa disimpan.

Di sini berbagi informasi/berita/tips bisa jadi meresahkan.

Minggu lalu, dalam 1 hari yang sama saya melihat video “Nasi Mengandung Plastik” dari 3 WAG yang isinya mayoritas ibu-ibu. Dalam video ini ada 1 orang yang “sepertinya” membentuk bola dari nasi yang dibeli dari sebuah rumah makan Padang (nama rumah makannya terpampang jelas), lalu orang itu melempar-lempar bola nasi itu ke permukaan meja untuk membuktikan kalau nasi tersebut dicampur dengan plastik. Untuk menguatkan argumennya, ada 2 rekan dia yang berdiri di sebelahnya, 1 orang mencoba membuat bola nasi tapi bolanya hancur dan 1 lagi ikut mengomentari. Pelakon kedua yang hanya terdengar suaranya (wajah dan identitas lainnya tidak tampak di video ini) mengatakan bahwa nasi yang di tangannya adalah – quote, unquote – “nasi beneran bukan nasi plastik karena ga bisa dibuletin dan hancur di tangan”.

Ada 3 hal janggal yang saya perhatikan:

  1. Harga biji plastik itu lebih mahal dari beras, Ibu-ibu, jadi tidak masuk akal mencampur beras dengan biji plastik untuk mendapatkan harga beras per liter/per kg yang lebih murah.
  2. Di dalam video, laki-laki yang membuat bola nasi plastik tidak pernah terlihat mengambil langsung nasi dari kemasan nasi Padang yang terbuka di atas meja. Sejak awal video, bola nasi itu sudah berada di tangan kanannya. Sungguh aneh kalau mau membuktikan nasi dari nasi Padang itu mengandung plastik tanpa menunjukkan langsung nasi diambil dari bungkusan sebelum dibentuk menjadi bola. Wanita yang mencoba membuat bola nasi lain juga tidak menunjukkan identitas diri dan tidak menjelaskan sumber nasi yang dia pegang, apakah nasi itu dari kemasan lain, nasi yang baru dimasak, atau bagaimana.
  3. Identitas orang-orang yang berada di dalam video tidak jelas. Ada 1 wajah yang ditampilkan dan 3 suara yang terdengar, tapi tidak ada informasi tambahan siapakah mereka, apa pekerjaan mereka/latar belakang mereka, apa alasan mereka membuat video seperti itu (terlepas dari fakta apakah mereka/bukan mereka yang membuatnya menjadi “viral” dan menyebar di banyak sekali WAG), dan apa kesimpulan akhir yang ingin mereka capai. Kalau tujuan mereka hanya untuk membuat resah, wah, mereka ini sangat berhasil. Komen yang muncul dari posting video itu di setiap WAG dimana saya tergabung sungguh beruntun dan beragam, yang bisa disimpulkan dengan kalimat-kalimat berikut: “Ya ampun, serem ya”, “Wah, harus lebih hati-hati sekarang”, “Aku ga mau lagi makan nasi Padang (nah lho!),” dan sebagainya. Sadar ga sih, kalau banyak waktu dan tenaga terbuang untuk mengomentari suatu hal yang tidak masuk akal secara logika dan belum terbukti kebenarannya, untuk mengomentari sebuah HOAX.

 

Informasi/berita yang kita lihat di WAG kadang tidak bisa lepas dari benak kita (we cannot unsee it), jadi sungguh disayangkan kalau info hoax seperti ini yang hinggap lama di kepala kita, menyita perhatian, tenaga, dan waktu kita, padahal ada banyak hal lain yang lebih penting untuk kita lakukan sehari-hari.

Saya mau merangkum langkah-langkah yang semoga berguna sebelum ibu-ibu sharing informasi/berita/tips di WAG:

  1. Lihat sumber informasi/berita/tips-nya.

Kredibilitas suatu media (konvensional seperti koran & TV, dan non-konvensional seperti situs berita online) tidak dibangun dalam satu hari. Masyarakat yang menjadi penyerap informasi yang melakukan verifikasi apakah suatu media memang mengabarkan berita benar/hoax. Walaupun kita akui kualitas reporter/wartawan akhir-akhir ini cenderung menurun, koran seperti Kompas dan stasiun televisi seperti Metro TV mengukuhkan dirinya sebagai sumber informasi terpercaya karena mereka berhati-hati sebelum menurunkan berita.

  1. Lihat siapa penulis/pembuat informasi/berita/tips itu.

Jika nama penulis/pembuat informasi/berita/tips tercantum, coba Google reputasi dan kredibilitas dari orang tersebut. Kualitas tulisan/video tidak akan jauh-jauh dari kualitas orang itu sebagai manusia dalam kehidupannya sehari-hari. Jika penulis berita hanya dicantumkan sebagai “redaksi” atau “dari berbagai sumber”, tambah porsi kita untuk bersikap curiga terhadap kesahihah informasi/berita/tips yang kita lihat.

  1. Jangan telan mentah-mentah.

Selalu cek alur logika dan kemasukakalan informasi/berita/tips yang kita baca. Seperti berita hoax beras plastik, jika kita memakai akal sehat saja kita bisa menyanggah argumen kalau beras dicampur dengan biji plastik yang harganya lebih mahal dari beras untuk menurunkan harga beras. BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) Republik Indonesia sendiri sudah menanggapi video nasi plastik itu melalui akun FB resminya, dengan link berikut: https://www.facebook.com/BadanPengawasObatdanMakananRI/photos/a.1660990617519761.1073741828.1497463813872443/1950845458534274/?type=3&theater. Penjelasan dari BPOM memenuhi kriteria 1 dan 2 (kredibilitas sumber berita dan penulis berita), dan terakhir kriteria 3 mengenai mengapa nasi bisa dikepal menyerupai bentuk bola. Semua ini ada kaitannya dengan komponen penyusun pati dalam butir beras dan efeknya terhadap bentuk beras yang sudah dimasak jadi nasi. Informasi tentang komponen ini semuanya ada di internet, lho; kita bisa mengaksesnya dengan mudah. Kalau kita masih ragu, selalu ada berbagai cara untuk meminta pendapat profesional dari para ahli yang kompeten di suatu bidang.

Saya lihat ibu-ibu di WAG cenderung kaget dan panik kalau lihat informasi/berita/tips tentang suatu abnormalitas, sesuatu yang kita jarang temui sehari-hari. Komentarnya juga biasanya cepat sekali (dan banyak sekali) untuk menanggapi foto/video sharing dari orang lain.

Yuk ah, Ibu-ibu, mari kita lebih giat mencari informasi, lebih kritis dalam menyaring informasi apa yang sebanding dengan waktu kita untuk membaca/melihat dan menanggapinya, supaya pada akhirnya kita semua lebih pintar dan lebih bertanggung jawab sebelum menyebarkan informasi/berita/tips.

 

 

Reunion

IMG_7229Last year I had a reunion with my classmates when I was on the second grade of high school from 1998 to 1999. Some of us became classmates again on our third and final year, and some others even went to the same universities afterwards. The reunion was preceded by, of course, the forming of Whatsapp group, as it is very common in Indonesia. The conversations in the group itself were totally random, covering many topics, and if I might say, fun. The interaction by texts was somehow needed to confirm that we’re still in the same wave length, or not. Could we still converse about something, or would there be an awkward silence creeping in every turn?

We met sometime in August, 2016 in Bandung at a friend’s house. Of all memories I had in high school, the memories I had with those people were the strongest. I had suspected that I might have forgotten almost everything about those days on the second floor of the new school building, but I hadn’t. I still remembered well the names of my former classmates, the hearsays, the gossips, the truths, and pretty much everything circulating in our classroom. After the small reunion, the Whatsapp group had become awfully quiet. Was it because we saw the reunion as a means to quench our thirst for “good, old time”, for youth, for some reminiscence of how life was before we took on more and more responsibilities each day; and after we did meet we said to ourselves that it was good enough but nothing more could be done from there? I really wonder.

Yesterday I had another reunion with my classmates from university. Unlike the classmates in high school which were rotated every year, these people had stayed with me for three years from 2000 to 2003. I went for an exchange program in Tokyo from 2003 to 2004 and came back for my final year from 2004 to 2005, completely missing out the only chance to experience the last year with them. As I looked at one of the souvenirs for the reunion and saw that the picture on the E-toll card was taken during my absence, I suspected that if I came to the event, the reminiscences and the rewinding of the collective memories would be excluding me. It was indeed true.

I had suspected myself to be bitter or sad about it, but the fact was I didn’t feel any of those emotions. What I felt was a mere curiosity and a simple delight that these classmates really did have one of the best times in their lives, that the friendships had deepened along the way as they strove to pursue good grades and the possibility to graduate on time, if not earlier than schedule, and that the bond was strong enough to call for a reunion almost two decades after they all first met. I was happy to see all those memorable and exciting moments they experienced through the old pictures and videos shown during the event, and I felt quite funny because within 14 years I had subconsciously deleted the memories I’d ever had with or about them. Blame it on the age and the giving birth factors (some research showed that plenty of brain cells died after labor. No wonder I’m so forgetful these days!), but I embarrassingly forgot the names of a handful number of people. I didn’t remember that I was in the same sub-class with them (the whole class, consisting of 100 people, was divided into three fixed sub-classes for straight four years), I didn’t remember that I ever worked in the same groups with any of them, and I didn’t remember how the group dynamics were. I didn’t remember if I had argued or disagreed with, liked or disliked anyone. This feeling of neutrality took me by surprise, because the reunion then started to feel like an encounter with new people instead of meeting again the people I was already acquainted with or I befriended years ago.

They say that in a reunion you tend to still like the people you liked back then, and dislike the people you couldn’t stand. People, who used to work well together, will likely be able to work well now, or even better. Considering the fact that I came to this reunion with a clean slate, I found it funny that I managed to strike good, meaningful conversations with people I rarely spoke with during our three years being in the same sub-class.

That led me to another question to contemplate: what kind of person was I?

Why talking and engaging were so effortless this time compared to how they were? How had I changed; how had they changed? Many things had happened within 17 years: classes, graduation, new job, career, dating, break-up, marriage, family, children, you name it. Somewhere along the way I and they had found the common ground to make it interesting enough to interact with each other this time; it was something we didn’t have long time ago. Of course I still managed to chat freely with some people who I felt were pretty close to me (my heart became warm just at the sight of them), but the conversations with some people whom I didn’t greet perhaps more than twenty times within three years had made me feel even more joyful.

Where do we go from here?

After the common “hey, how have you been”, the next question will be: what’s next? Reminiscing the times we spent in school with people we were acquainted or are still friends with, is as wonderful as experiencing the times themselves. But after saying so much “remember what we did/remember when we were”, will we still have the drive to maintain the relationship? What will be our common ground this time after we’re not being in the same classroom, doing the group works anymore? Friendship is a vulnerable and exhausting relationship, is tested by time/distance/the absence of updates, and needs every ounce of effort from every party involved to make it worthwhile. Life happened, friendship grew cold, and getting connected again with people from my life more than 10 years ago surely had its moments. For now I’m just going to celebrate the warm feelings seeping into my heart after the reunion. Thank you for inviting me.

 

Mamatomo

Kata mamatomo dibentuk dari 2 buah kata dasar, yaitu: mama dan tomo (kependekan dari tomodachi yang berarti teman dalam bahasa Jepang). Saya baru tahu istilah ini beberapa minggu lalu dari teman saya yang tinggal di Jepang, dan menurut saya istilah ini tepat untuk menggambarkan hubungan pertemanan yang muncul ketika kita sudah berkeluarga dan mempunyai anak-anak. Secara harafiah mamatomo berarti sekumpulan mama yang menjadi teman karena anak-anak mereka sudah lebih dulu berteman. Mamatomo terbentuk karena aspek kesamaan komunitas dan hubungan baik yang sudah dijalani duluan oleh anak-anak dari mama-mama tersebut.

Orang-orang yang tidak memiliki hubungan darah dengan kita menempati posisi berikut dalam hidup kita: orang asing (stranger), kenalan (acquaintance), teman (friend), sahabat (best friend), kemudian sahabat yang lebih akrab dibandingkan anggota keluarga sendiri. Langkah pertama dalam memiliki hubungan dengan orang lain adalah menjadi stranger dan kemudian acquaintance bagi mereka. Begitu kita ada di dalam komunitas/lingkungan pergaulan tertentu, stranger dan acquaintance adalah dua hal normal pertama yang akan kita temui. Untuk menjadi friend atau bahkan best friend diperlukan waktu dan usaha dari semua pihak yang terlibat. Pertemanan akan terjalin saat kedua belah pihak sama-sama meluangkan waktu untuk saling mengenal karakter dan kebiasaan masing-masing, dan juga bersedia menghabiskan waktu bersama-sama untuk suatu kegiatan yang sama-sama disukai. Waktu pula yang akan menguji apakah pertemanan itu akan langgeng begitu karakter dan kepribadian seseorang pelan-pelan terungkap di hadapan teman barunya. Mempunyai atau tidak mempunyai teman adalah sebuah pilihan.

Orang dewasa lebih sulit untuk memiliki teman baru dibandingkan anak-anak. Ini kenyataan hidup yang tidak bisa dipungkiri. Orang dewasa kenyang dengan pengalaman menyakiti/disakiti dan mengecewakan/dikecewakan oleh orang lain. Oleh karena itu orang dewasa cenderung lebih berhati-hati dalam membina suatu hubungan. Buat mama-mama, kecocokan dengan mama-mama lain diikuti dengan harapan akan ada kecocokan antara para suami dan anak, syukur-syukur kalau seluruh anggota keluarga bisa berteman. Teman-teman yang bertahun-tahun ada dalam hidup kita, dengan siapa kita merasa nyaman, biasanya adalah teman lama yang didapat di sekolah atau tempat kerja karena sempat ada frekuensi berinteraksi yang intens antara kita dengan mereka.

Mama adalah makhluk perempuan paling protektif dan defensif terhadap anak-anaknya. Mama memiliki peran dominan dalam  mendidik dan menanamkan nilai-nilai moral dan etika yang akan dianut oleh anak-anaknya. Jadi wajar saja jika mama sering kali menjadi filter untuk menentukan apakah anak-anak sedang terlibat dalam pergaulan yang baik atau yang buruk. Mama harus tahu teman dari anak-anak mereka, dan juga harus tahu orang tua dari teman-teman tersebut. Di sini mama bisa mengembangkan lingkup pergaulannya. Dari yang sekedar tahu, berinteraksi, banyak mengobrol, sampai akhirnya juga berteman dengan mama dari teman anak mereka. Itu idealnya. Ada juga kasus mama yang keberatan anaknya berteman dengan orang lain karena mungkin ada ketidaksesuaian tata krama, nilai moral dan etika, dan lain sebagainya. Jika ini terjadi, kecil kemungkinan mama akan menjalin pertemanan dengan orang tua dari anak tersebut.

Memiliki mamatomo memiliki tantangan tersendiri karena yang terlibat dalam pertemanan itu bukan hanya mama-mama tapi juga anak-anak. Mustahil menemukan orang dengan karakter dan nilai-nilai yang sama persis dengan kita. Bagaimanapun juga kita harus mempunyai sikap menerima dan toleransi terhadap orang lain, seperti orang lain menerima dan bertoleransi terhadap kita. Misal Mama A selalu membuang sampah pada tempatnya, namun Mama B sering membuang tissue di lantai saat mereka makan bersama. Ketidakcocokan seperti ini bisa berujung kepada empat hal:

1) Mama A menggunjingkan kebiasaaan jelek Mama B dengan mama-mama lain tanpa sepengetahuan Mama B.

2) Mama A menegur langsung Mama B, Mama B tidak terima, dan akhirnya mereka putus pertemanan.

3) Mama A menegur langsung Mama B, Mama B terima dan mengubah perilakunya, mereka berdua tetap berteman.

4) Mama A hanya menyimpan ketidaksukaannya dalam hati, namun secara tidak sadar mempengaruhi anaknya untuk menjauhi anak Mama B karena khawatir anak Mama B juga memiliki kebiasaan buruk itu.

Tantangan bagi mamatomo adalah memisahkan konteks pertemanan anak mereka dengan konteks pertemanan mereka sendiri. Jika misalnya anak-anak bertengkar karena berbeda pendapat, pantaskah mama-mama ikut campur untuk ikut berdebat? Anak-anak adalah individu sendiri yang wajib menyelesaikan masalahnya sendiri. Sikap mama to the rescue hanya akan membuat anak tidak mandiri dalam mempertahankan pendapatnya dan dalam menyelesaikan konflik. Yang penting di sini adalah mama-mama untuk menahan diri, tidak bersikap subjektif terhadap teman si anak, bersikap rendah hati dan terbuka untuk menerima koreksi terhadap kepribadian si anak, tega membiarkan anaknya memiliki dan menghadapi konflik tanpa bantuan orang tua. Kalau mama-mama tidak menahan diri, konflik antar anak bisa melebar kepada konflik antar mama. Perselisihan menjadi lebih runcing dan solusi sulit didapat karena mama-mama cenderung sangat membela anaknya sendiri, menganggap anaknya paling benar dan menganggap anak orang lain paling salah.

Bagaimana jika mama-mama yang bertengkar? Ini lebih pelik karena mama-mama cenderung mau dibela oleh anaknya. Mereka mungkin tidak mengatakan terus-terang kalau mereka sedang ada masalah dengan teman mereka, namun biasanya secara tidak sadar/sadar mereka akan mempengaruhi anak mereka untuk ikut membela mereka. Mama jadi sulit untuk tetap bersikap objektif terhadap teman anak mereka kalau mama punya sikap “it’s us against them”, sebuah sikap yang tidak sehat untuk menjalin pertemanan yang langgeng. Ingatlah mama-mama, anakmu bukan kamu. Jika kamu tidak cocok dengan temanmu, tidak berarti anakmu juga tidak cocok dengan anak temanmu. Mengajari anakmu untuk menjauhi temannya hanya karena kamu berselisih dengan orang tua anak itu, hanya akan memberi teladan yang buruk bahwa mama tidak bisa mengelola emosi, mengkarantina masalah, dan menyelesaikan konflik.

Tentu saja, semua hal yang saya sebut di atas jauh lebih mudah ditulis daripada dilakukan. Hal mendasar dalam pertemanan adalah fairness and respect, keadilan dan rasa hormat. Keadilan membuat mama bisa tetap ingat kalau masalah yang dia hadapi bukanlah masalah yang anaknya hadapi. Rasa hormat membuat mama bisa tetap menghargai orang yang sedang tidak dia sukai sebagai manusia yang punya sudut pandang dan pendapat lain, yang mungkin sering kali tidak cocok dengan sudut pandang dan pendapat yang dia sendiri miliki. Sama halnya jika terjadi perselisihan di antara anak-anak, mama-mama perlu menekankan kepada anak-anak untuk tetap memiliki fairness and respect itu. Jadilah pendengar jika anak ingin berkeluh-kesah akan masalahnya, beri pendapat jika diminta, tahan diri untuk tidak cepat mengkritik pihak sana. It takes two to tango, dalam semua problem ada dua pihak yang berkontribusi untuk menciptakan (dan juga mengakhiri) konflik. Jadilah sumber air yang mendinginkan kepala yang panas dan memulihkan hati yang terluka bagi anak-anak. Di situlah mama-mama bisa membuktikan tingkat kedewasaan yang kelak harus dimiliki oleh anak-anak seiring dengan mereka beranjak dewasa.

Sekalipun mama/anak memutuskan untuk tidak menyukai atau tidak berteman lagi dengan mama/anak lain, itu tidak apa-apa. Kita diciptakan tidak untuk berteman dengan semua orang. Sama halnya dengan frekuensi radio, kadang kita menemukan orang yang frekuensinya sama atau kadang kita menemukan orang yang frekuensinya berbeda sama sekali dengan kita. Tidak apa-apa jika tidak nyambung; berteman adalah pilihan dan tidak bisa dipaksakan. Nikmati pertemanan dengan orang-orang yang punya banyak kesamaan dengan kita, bersikap ramahlah terhadap orang-orang yang tidak cocok dengan kita.

Pleasant Coincidences

Last month my French teacher/neighbor had her farewell party and there she introduced me to her friend. Lena was from Germany and before Cikarang she and her family lived in KL for several years. As we chatted she asked me if I knew any German, because Maud told her that I speak other languages than English. I said yes, I had been studying it since I was a kid because my mother insisted me to. As we started to speak in German, she asked me if I had spent time talking with native speakers. I told her that I spent a couple of days in my uncle’s home in Heidelberg five years ago, and that’s about it. She was very surprised because she happened to go to the University of Heidelberg and she knew the area where my uncle is living with his family. Out of so many cities and so many universities in Germany, it was a pleasant coincidence to meet someone new who happened to know where I had been. Then we started talking about Heidelberg’s old town, her apartment, which was located very close to the university in the downtown, and the grandeur and gorgeous H & M store right around the city square’s corner. Women can easily bond through shopping and the experience of doing so, ha-ha.

 

When I first went backpacking to South Korea in 2004, the hotel which I had booked through email was closed on the day I arrived. Back then I didn’t know booking.com, so I went there with faith that everything would go well. I didn’t have any credit card either, so I brought quite a lot of cash for emergency situation. It was my first backpacking experience and a very nerve-wrecking one. I got into a taxi, which was much cheaper than in Japan, and told the driver to go to the nearest tourist information center. I relied heavily on my Lonely Planet’s guide to South Korea and a few Korean phrases it included. The taxi driver took me instead to a police station where nobody could speak English there. Back then, internet was scarce and I didn’t have any Google translator with me. I was so frustrated that I just asked them how to go to YMCA, because the hostel was mentioned in the book. It’s so funny that even though they didn’t speak any English, they could spell ABC in English. A police car took me from Namdaemun area to Itaewon area. It’s indeed an amusing experience for a first-time backpacker. In YMCA I stayed in a room with six bunk beds and spent two days there before I headed to Daegu and then Busan. The hostel had a common kitchen and one night when I was making a spicy ramen, I got into a conversation with an African-American man who just arrived in the city.

He           : Where are you from?

Me           : Indonesia, currently living in Tokyo.

He           : Really? I’m actually on my way there to visit a friend. I decided to explore Seoul for a couple of days before flying to Tokyo.

Me           : That’s nice. Maybe I know your friend (jokingly said. The fact is, it’s quite impossible to know other foreigners in Tokyo if we don’t share some common backgrounds. Not forget to mention that Tokyo is humongous)

He           : Do you go to church?

Me           : Yes, why?

He           : My friend joins a choir in Tokyo Baptist Church. Her name is Tracy and she’s also African-American.

Me           : (dumbfounded) I sing in soprano section with Tracy.

Then we both rolled out with laughter. Out of so many cities and so many hostels in South Korea, I happened to meet a friend of my friend who was on his way to see her, ha-ha.

 

Five years ago we went to London for the 2012 Olympics and stayed at my college friend’s place for a week. Since we already had the UK visa, we decided to fly to Edinburgh a couple of months after that. We liked collecting Hard Rock Café t-shirts for their good quality of fabric and unusual designs, so the night before we flew back to Switzerland my husband told me to go to HRC to buy some t-shirts for our family. We stayed in Edinburgh for five days and the weather there had been crazy; heavy rain then bright sun all of a sudden. On our last day there we hiked to Arthur’s Seat and our 3-year old daughter was too exhausted to take another bus. So I went to HRC alone and my family went back to the hotel. The café was quite empty that night so a shopkeeper came to help me picking out designs and sizes.

He           : Where are you from?

Me           : Indonesia, currently living in Switzerland.

He           : Cool.

Me           : Are you from around here? You speak differently.

He           : As the matter of fact I came from London. I just started university here.

Me           : Really? From which part of London are you? We went there for the Olympics last July.

He           : (waved his hand) You probably never heard of it; it’s quite far from the city center and the tourist attractions.

Me           : (made a random guess because the name suddenly crossed my mind) Peckham?

He           : (gasped) How did you know?

Me           : (shrugged) I was just guessing, but it’s such a nice coincidence that you’re from Peckham as I stayed there for one week at a friend’s house.

He           : Wow, such a nice coincidence!

Me           : No offense, you don’t actually fit the demographic of Peckham residents.

He           : (grinned at me) None taken, I know it’s rare to see a white guy coming from Peckham.

Me           : (laughed) Exactly, everyone is multicolored there expect for the policemen, I suppose. On the day we arrived, a police officer approached us because he saw my husband taking out his Ipad from his backpack. The officer told us that it’s not safe to do so in Peckham.

He           : It is not. Peckham is sadly still an area with one of the highest crime rates in London.

Out of so many cities in the UK and so many HRC shops, I ran into someone who came from an area where I stayed during my visit to London.

 

All my life I have experienced these kinds of pleasant coincidences and they gave me warm feelings. The world is indeed a small place and I could get connected to someone suddenly, instantly, even though I come from halfway across the world from them. The key to be experiencing all these is to travel a lot and to muster up courage to speak with new people. There is no other way.

 

Remembering this encourages me to browse the internet for our next travel destination. Where shall we go from here?

The Weirdest Dreams I’ve Ever Had

In 2003 I had two classmates in college I didn’t have much interaction with. I was in several group works with them, a boy and a girl, but we never clicked and made it more than a passing acquaintance. One night I dreamed of them telling me that they’re starting to date each other. The dream was so random, it was out of nowhere, and yet it felt so real. The next morning I met them in our morning class and without thinking I asked them, “Are you two dating?” To my surprise they said, “Yes, since last night. We haven’t told anyone about it. How did you know?” I was too dumbfounded to answer so I just told them that I knew it from a dream and left. Later on the girl approached me and asked me again how I knew, since they had been very cautious and secretive about their relationship (they came from different races, religions, socioeconomic status, and so on, and so forth). I only shrugged and told her the same answer; I knew it from a dream.

Was it a premonition? I wasn’t sure, but it was not the only experience I had with having a dream and seeing the realization of it. Back in 2013 I even had a dream about a former friend who wanted to cut ties with me, and the next day he did exactly that through a text message. What an annoying coincidence, ha-ha. The funny thing is it usually has something to do with the people around me, whom I know well or not. I have had thousands of dejavus during my 35 years of living and I never take them seriously. But whenever I had vivid dreams about other people, the next morning I quickly contacted them and asked them how they were doing.

I lived in Tokyo for a year from 2003 to 2004 and I’m still in touch with the people I befriended while studying there. A couple of months ago, I suddenly had a dream of a person from that period of life who told me excitingly that he’s getting a new job. The dream was so weird because I wasn’t even thinking of YSEP (that’s the name of our program) people or seeing the latest Facebook news feeds of any of them recently. So I messaged that friend and I asked him randomly whether he’s changing/getting a new job. I also straightly told him that I saw it in my dream. It was a very ridiculous way to start a text conversation, but I told him nevertheless because he had been a good friend to me back then. To my surprise he told me that he’s going to a seminary soon and is probably getting a new job in the new place. I was once again dumbfounded. Did I have a premonition again? We ended up talking about other things after that but I still had this weird feeling that it wouldn’t be the last random and manifested dream I’d be having.

Fast forward to about a week ago when I had another dream about that same person. In it I saw him being restless and kind of sad, and I was telling him not to worry. I told him that he wouldn’t feel lonely in the new place because our God would provide him with new friends. Friends are given and the best of them will be given by the best Provider. I texted him exactly the same sentences I told him in my dream (yes, the dream was so vivid and every time I had this kind of experience I’d remember the details of what I saw, said, and heard during the surreal experience). To my surprise the friend replied, “Thank you, I needed to hear that.”

What is dream, what is reality, what is deepest wish and hope, and what is a mere fantasy? I’m not saying that I had premonitions, until now I’m not sure about what I had, but I’m glad that I was reminded through dreams to check whether the people who are now in my life, or once crossed their paths with me, are doing well. I like to hear that they’re getting a new job, that they’re embarking on a new career, that they’re having a newborn, and that they’re starting a new relationship. Regardless how absurd the dreams had been, I would never ignore them. I would think about them till I knew what I’d do with them. Through them I had been reaching out to old friends, giving encouragement, making their day. A simple thing like a random dream can be used as an excuse to exchange greetings and what’s going on lately in each other’s lives.

And whenever I had bad dreams about other people, I would be on my knees to pray that the bad things weren’t happening to them. My memory’s pretty good and it made me feel upset for a couple of days if I could still remember the bad images I saw in my dreams.

I’m sending all my love and prayer to those who did and still do cross their paths with me. I hope you all are safe and sound.