Happy White Day!

Happy Valentine’s Day!

Tentu kita sudah familiar dengan seruan di atas untuk merayakan hari kasih sayang/hari cinta yang jatuh pada tanggal 14 Februari setiap tahunnya. Sama seperti tanggal 1 Januari yang dirayakan sebagai penanda tahun yang baru di kalender Masehi yang dipakai secara internasional, Valentine’s Day juga dirayakan secara internasional. Semua orang yang terekspos dengan sumber berita dan informasi pasti tahu semua kehebohan, pernak-pernik, kebiasaan, dan barang/jasa yang diperdagangkan khusus untuk menyambut hari ini.

Asal-usul Valentine’s Day bisa dibaca di sini. Kebenaran dan kesahihan informasi yang ada di artikel tersebut tidak bisa saya konfirmasi ya, karena semua orang bisa menulis apa saja di Wikipedia. Yang pasti Valentine’s Day sejak dua puluh tahun terakhir bukan melulu tentang pasangan kekasih, tapi merambah juga ke ungkapan kasih sayang antar anggota keluarga, saudara, teman, dan lain sebagainya. Yah, pinter-pinternya orang marketing saja untuk mencocokkan produknya dengan momen Valentine’s Day. Jadi jangan heran kalau sebuah produk detergen pun menjanjikan baju yang super harum dan lembut setelah dicuci, demi penampilan terbaik Anda saat makan malam romantis dengan pasangan (halah).

Nah, mari kita membahas White Day sekarang.

Saya pertama kali tahu tentang White Day waktu SMA dan sedang menggandrungi serial cantik komik Jepang. Dari alur cerita beberapa komik saya mendapat informasi kalau di Jepang sana Valentine’s Day adalah hari untuk wanita mengungkapkan rasa cinta pada pria dengan cara memberikan cokelat (atau hadiah lainnya). Rasa hati tak enak dong jika tidak membalas hadiah yang sudah diberikan. Maka ditetapkanlah White Day yang jatuh satu bulan setelah Valentine’s Day sebagai hari di mana pria mempunyai kesempatan untuk membalas cokelat/hadiah tersebut sebagai tanda membalas perasaan si wanita.

Pikiran saya waktu itu ada dua:

  1. Wanita Jepang agresif ya? Mungkin anak-anak jaman now sudah berbeda jauh dengan generasi saya 20 tahun lalu, tapi sepanjang saya menempuh pendidikan SMA di Bandung hampir tidak terdengar ada wanita yang menyatakan suka lebih dulu pada pria. Persepsi waktu itu, ini hal tabu. Pria masih dipandang sebagai pihak yang mengejar dan wanita dipandang sebagai pihak yang menerima/menolak tawaran untuk masuk ke dalam suatu hubungan romansa. Memang sih, ada saja pria-pria pemalu yang sulit untuk berkata suka (walaupun jelas-jelas wanita yang diincarnya mempunyai perasaan yang sama), tapi tetap saja urusan “tembak-menembak” itu masih merupakan dominasi kaum pria. Pernah saya dengar di angkatan adik saya seorang wanita yang menembak duluan dan si pria menerima. Pria itu kemudian curhat ke adik saya kalau harga dirinya turun sedikit karena bukan dia yang menyatakan suka duluan, dan seharusnya wanita itu sabar menunggu sampai si pria siap menaklukkan. Masuk akal sih. Dan lebay. Haha.
  2. Bagaimana kalau si pria tidak suka pada wanita yang memberinya cokelat? Jadi ruwet deh. Kalau cokelat dibalas waktu White Day, nanti si wanita bisa salah paham. Kalau tidak dibalas, rasanya juga tidak enak karena kesannya tidak menghargai pemberian. Untuk menyikapi ini muncul  giri-choco (義理チョコ), sebuah istilah dalam bahasa Jepang yang artinya courtesy chocolate, atau cokelat yang diberikan hanya karena tata-krama. Kalau menerima giri-choco apa perasaan si wanita tidak makin pedih ya? Dapat cokelat tapi tidak jadian dengan si pria pemberi cokelat. Hiks-hiks. Eh tapi katanya wanita juga bisa memberikan giri-choco ini lho, kepada pria yang ia kagumi dan hormati seperti kakak kelas atau atasan di tempat kerja.

Itu informasi yang saya dapat waktu Mbah Google belum ada ya. Mari kita tilik sekarang apa sih yang sebenarnya dirayakan oleh White Day dan dari manakah kebiasaan ini berasal.

Alkisah pada tahun 1977 sebuah perusahaan permen asal Fukuoka, yang bernama Ishimuramanseido, memasarkan marshmallow (yang pada umumnya berwarna putih) untuk pria hadiahkan pada wanita yang berarti baginya pada tanggal 14 Maret, dan menyebut hari itu sebagai Marshmallow Day. Marshmallow secara perlahan digantikan oleh cokelat putih (white chocolate) yang lebih bergengsi dari marshmallow, dan tanggal 14 Maret pun resmi dinobatkan sebagai White Day. White Day pertama kali dirayakan di Jepang pada tanggal 14 Maret 1978 dan penggerak utamanya adalah National Confectionery Industry Association (NCIA) Jepang yang merasa perlu ada satu hari dalam kalender dimana pria membalas cokelat dan hadiah lain yang mereka terima dari wanita pada Valentine’s Day. Dengan kata lain perlu ada satu hari lagi dalam kalender saat orang-orang berbondong-bondong membeli cokelat/makanan manis lainnya.

Jadi berbeda dengan Valentine’s Day yang merujuk pada sosok seseorang yang penuh cinta kasih yang hidup sebelum abad ke-14, White Day ini murni strategi marketing. Dengan tujuan apa? Menjual lebih banyak cokelat, permen, marshmallow, dan semua makanan manis yang bisa digolongkan sebagai confectionery.  Siapa yang diuntungkan? Tentu saja para pedagang, apalagi yang bisa jualan specialty chocolate dua kali dalam setahun, hehehe.

Apalagi tradisi White Day tidak hanya dirayakan di Jepang, tapi sudah menyebar ke negara Asia lain seperti Korea Selatan, Cina, Taiwan, dan Vietnam. Hadiah balasan yang diberikan pada White Day juga tidak terbatas pada cokelat putih saja, tapi bisa juga cokelat hitam, perhiasan, bahkan lingerie.

Saya tidak menemukan penelitian atau data statistik tentang pergerakan komoditi dan uang selama Valentine’s Day di Jepang atau negara lain, namun saya bisa melihat gambaran besarnya hanya dengan melihat semua aktivitas marketing dan gimmick untuk merayakan hari yang katanya spesial ini di Indonesia.

Tidak hanya dari sektor makanan yang manis-manis, sektor pariwisata juga ikut mendulang keuntungan. Sebutlah beberapa website agen perjalanan yang menawarkan romantic traveling, traveling hanya berdua dengan pasangan tepat pada hari Valentine. Belum lagi deretan hotel dan restoran yang menawarkan paket menginap dan candle light dinner nan romantis dengan kekasih hati. Bukan hanya cokelat yang jadi tambah laku dijual, tapi juga kamar hotel, tiket pesawat/kereta, bunga dan minuman beralkohol seperti anggur, dan sederet benda lainnya yang bisa dihubung-hubungkan dengan Valentine’s Day.

Bagaimanakah dengan perayaan White Day di Indonesia? Apakah sudah ada gejala merayakan hari ini, setidaknya di kota-kota besar? Apakah wanita Indonesia saat ini mengacu pada pakem Valentine’s Day (hari menyatakan cinta atau hari memberikan cokelat) – White Day (hari untuk tahu ditolak/diterima oleh si pria atau hari menerima cokelat) seperti di Jepang? Saya jadi penasaran.

Akhir kata, Happy White Day! Wahai para pria yang pernah memberikan cokelat di tanggal 14 Maret pada wanita yang menyukai dirimu, mari berbagi sedikit pengalaman, hehe.

Advertisements

Calon Politikus: Mencari Dukungan Lewat Jaringan Pertemanan

Pada tahun 2017 lalu saya diajak mengikuti reuni dengan teman-teman kuliah untuk merayakan 17 tahun sejak pertama kali berkenalan. Sebelum reuni berlangsung saya juga diundang masuk ke group Whatsapp alumni angkatan, dimana saya masih bertahan di situ sampai sekarang. Teman-teman kuliah saya adalah orang-orang yang tidak pernah kontak/berkomunikasi dengan saya selama kurang-lebih 13 tahun sejak saya kembali ke Indonesia dari mengikuti program pertukaran mahasiswa, jadi saya menganggap reuni dan keterlibatan dalam group WA sebagai sebuah kemungkinan awal yang baru dari sebuah pertemanan, tanpa embel-embel nostalgia atau kenangan dari masa kuliah dulu.

Seiring dengan berjalannya waktu saya mulai bisa memetakan isi percakapan di dalam group WA, antara lain sebagai berikut:

  1. Berdagang: informasi, penawaran, dan promosi barang/jasa yang dijual anggota-anggota group.
  2. Pertukaran informasi: mulai dari cara mendapatkan tabung elpiji 3 kg berwarna pink sampai dengan cara menggunakan kartu e-toll.
  3. Mencari informasi: buat yang memerlukan jasa asisten rumah tangga, konfeksi, review film di bioskop yang aman buat anak-anak, dll.
  4. Pertukaran pikiran: berhubung teman-teman seangkatan saya rata-rata sudah memiliki posisi mapan di perusahaan-perusahaan tempat mereka bekerja, group WA menjadi ajang buat mereka bertukar ide tentang tren dan kebutuhan dunia kerja ke depan, mendirikan start-up company, sampai menjadi social entrepeneur.
  5. Politik: diskusi tentang peta politik tanah air (sebuah tindakan yang bisa membuat dikotomi di dalam group WA itu sendiri) sampai ajakan untuk masuk ke dunia politik praktis.

Poin 1 sampai 4 lazim ditemui di group-group WA lain di mana saya tergabung, namun poin 5 baru kali ini saya temui di group WA almamater kuliah ini.

Pancingan utama supaya orang-orang seusia saya ikut terlibat dalam dunia politik praktis adalah ajakan untuk membuat perubahan.

Saya dan teman-teman seangkatan berada di usia produktif dimana kami mulai memikirkan bagaimana cara memberikan kontribusi positif dan menjadi agen perubahan bagi masyarakat di sekitar kami selain bagi keluarga dan tempat kerja. Ada yang memilih berubah dari diri sendiri dan lingkungan terdekat, dan ada juga yang mencari wadah yang lebih besar untuk membawa perubahan pada khalayak yang lebih luas.

Saya sendiri memiliki sikap apatis dan pesimis terhadap dunia politik di Indonesia. Menjadi politikus sebagai agen perubahan untuk menciptakan kehidupan masyarakat yang lebih baik di sekitar kita adalah suatu gagasan yang idealis, romantis, dan tidak praktis.

Republik Indonesia sudah berdiri selama hampir 73 tahun dan sistem pemilihan wakil rakyat di badan legislatif daerah dan pusat masih tetap melalui kendaraan partai politik, walaupun: 1) cara ini telah terbukti tidak efektif dan efisien untuk mendapatkan orang-orang yang benar-benar peduli dengan orang-orang yang diwakilinya, dan 2) cara ini telah terbukti paling mudah dikorupsi untuk kepentingan pribadi.

Yang maju menjadi calon wakil rakyat pada umumnya bukanlah orang-orang yang punya rekam-jejak memperjuangkan kepentingan dan kesejahteraan publik melalui pekerjaan/peran sosialnya di dalam masyarakat tempat ia tinggal, seperti yang dilakukan oleh mantan presiden Amerika Serikat Barack Obama dan perdana menteri Kanada saat ini Justin Trudeau (detailnya bisa dibaca di Wikipedia). Untuk maju menjadi wakil rakyat diperlukan dana besar untuk setoran ke partai dan untuk kampanye; hal yang berujung pada mentalitas “balik modal” saat sudah menjabat, sebuah mentalitas yang menganggap semua uang yang sudah dikeluarkan untuk mencapai posisi wakil rakyat sebagai hutang yang harus dilunasi, dan bukan sebagai bagian dari pengorbanan supaya bisa menjadi agen perubahan.

Tadi pagi pada pukul enam lewat masuk WA dari seorang teman kuliah  yang akan maju sebagai caleg dari sebuah partai baru yang beranggotakan orang-orang muda berusia 20-30 tahun. WA tersebut masuk pada saat saya, dan mungkin kebanyakan orang, sedang sibuk mempersiapkan diri untuk bekerja dan anak-anak untuk sekolah. Dia tidak menyebutkan namanya dan nomor dia tidak ada di phonebook  saya. Satu-satunya alasan saya menanggapinya karena dia menyapa saya dengan nama panggilan saya sewaktu kuliah. Tanpa banyak basa-basi dia meminta tolong saya membuat video dukungan selama 45 detik untuk bekal dia maju sebagai caleg.

Saya yakin kalau saya bukan satu-satunya orang di phonebook dia yang dihubungi untuk dimintai dukungan, dan dari WA singkat itu ada dua hal yang membuat saya cepat memutuskan untuk tidak “menolongnya”.

1. Saya tidak punya ingatan sama sekali tentang kepribadian, sikap, dan tingkah lakunya selama kami menempuh pendidikan di universitas yang sama (17 tahun lalu). Kami tidak pernah sekelas, tidak pernah mengobrol selain bertegur-sapa kalau berpapasan di jalan, hanya tahu nama tapi tidak kenal orang. Saya tidak bertemu dengannya di reuni tahun lalu jadi saya tidak berinteraksi dengan dia untuk tahu kepribadian/sikap/tingkah lakunya saat ini, apalagi motivasinya untuk masuk ke dunia politik praktis. Bagaimana mungkin saya membuat video untuk mendukung orang yang saya tidak kenal baik? Bisa-bisa dukungan saya sebatas lip service yang dapat membentuk pendapat yang keliru tentang dirinya di benak orang lain.

2. Teman saya ini akan maju sebagai caleg dari sebuah provinsi yang saya tahu tidak berhubungan dengan latar belakang keluarga ataupun tempat kerjanya saat ini. Begitulah sistem partai dan pemilihan legislatif di Indonesia. Seseorang bisa maju sebagai caleg dari provinsi yang mungkin tidak pernah dia kunjungi seumur hidup, tidak pernah dia ketahui tentang kehidupan/kebiasaan/masalah-masalah penduduknya, hanya karena partai politik dimana dia tergabung memiliki posisi kosong caleg untuk provinsi itu. Jika teman saya ini benar-benar ingin mendapatkan dukungan, ada baiknya dia terjun langsung ke daerah yang dia berniat untuk wakili. Temui orang-orang di sana, tampung pendapat dan keluh-kesah mereka, buat rencana kerja untuk mengatasi masalah mereka, dapatkan hati mereka. Saya rasa dia akan dengan mudah mendapatkan video dukungan selama 45 detik, atau bahkan lebih, dari setiap penduduk setempat jika dia menunjukkan bahwa dia memang benar-benar mau bekerja untuk orang lain. Usaha seperti itu makan waktu dan biaya dong? Tentu saja! Pertanyaan sekarang adalah: siap, mau, dan mampukah si caleg melakukan semua itu supaya orang-orang memilih dirinya bukan karena diiming-imingi uang, tapi karena si caleg ini memang tulus ingin menjadi agen perubahan bagi daerah yang disodorkan oleh partainya untuk diwakili?

Di tahun politik ini sampai akhir dari pemilihan presiden RI pada tahun 2019, akan ada banyak sekali calon politikus, calon legislatif yang memanfaatkan jaringan pertemanannya untuk mendapatkan dukungan. Saya yakin “permintaan tolong” dari dia hanyalah awal dari permintaan tolong orang-orang lain yang saya tahu punya ambisi di bidang itu, baik melalui media sosial, group WA, maupun pesan langsung. Ada caleg yang menerima penolakan seperti yang saya lakukan dengan ucapan terima kasih dan hati besar, namun ada juga yang jadinya merongrong dan mendesak untuk didukung atas nama pertemanan. Kalau sikapnya jadi berubah seperti itu mau tidak mau saya jadi bertanya, “Anda mau meminta tolong, Anda ingin didukung, atau Anda hanya berniat memanfaatkan orang lain sih?”

Reaksi saya terhadap “permintaan tolong” jenis ini akan konsisten. Selama saya tidak tahu kredibilitas dan kapabilitas orang yang mau maju sebagai caleg, dan selama saya tidak punya interaksi sosial dan ikatan emosional dengan orang tersebut, saya tidak akan mengindahkan dia.

 

Black Panther: Sebuah Perkenalan Pada Afrika

Setelah film animasi Coco yang membahas ritual Hari Orang Mati di Meksiko, dan film animasi Ferdinand yang membahas kebudayaan Matador di Spanyol di penghujung 2017 lalu, Hollywood kembali menawarkan angin segar tema film dengan Black Panther yang dibesut oleh Marvel. Sebagai sebuah film, Black Panther adalah spin-off dari film Marvel yang berjudul Captain America: Civil War di tahun 2016. Dikisahkan di dalam film tersebut T’Chaka sebagai Raja Wakanda, sebuah negara dunia ke-3 di benua Afrika, terbunuh dalam serangan teroris di markas PBB. Putranya, T’Challa, mendapat warisan kekuatan Black Panther dari ayahnya dan bersumpah untuk mengejar penjahat yang mendalangi aksi terorisme. Dalam film ini Black Panther sudah ditampilkan utuh sebagai sebuah karakter yang punya latar belakang dan tujuan, yaitu untuk membalas dendam. Penampilannya dengan kostum superheronya dan aksi berkelahinya pun sudah lengkap, sehingga saya sangat mengantisipasi menonton film Black Panther yang baru tayang ini.

Menurut saya Black Panther lebih dari film tentang superhero yang berkulit hitam, karena film ini mewakili pengetahuan dan persepsi kita tentang ras negroid di muka bumi, yaitu:

  1. Mereka yang bermukim di Amerika Serikat, yang disebut sebagai African-American, dan terpapar kepada kita lewat berita dan film. Informasi general tentang mereka sudah cukup terpatri: sebagai bekas budak di dunia Barat, sebagai kelompok yang termarginalkan bahkan sampai sekarang, sebagai kelompok yang berusaha memperbaiki diri lewat jalur pendidikan, dan sebagai kelompok yang ditekan dan dijajah (seperti kata Erik Killmonger, tokoh antagonis di film ini).
  2. Mereka yang berasal dan bermukim di benua Afrika, yang sering diberitakan mengalami perang saudara berkepanjangan dan kelaparan. Informasi seperti kontur alam mereka yang indah dengan gunung-gunung dan padang rumput, suku-suku bangsa yang ada di benua ini dengan pekerjaan masing-masing sebagai orang gunung/penggembala/petani/dll, kebudayaan mereka lewat bahasa, tarian, nyanyian , dan ritual lainnya, bukanlah sesuatu yang terekspos dengan mudah selayaknya informasi tentang negar-negara Barat.

Jadi saya sangat gembira karena selama lebih dari 2 jam film ini terus mengungkapkan keunikan dan keindahan sebagian kecil dari Afrika yang diwakil negara fiktif bernama Wakanda. Eksotisme Afrika sudah dimulai sejak T’Challa akan dinobatkan sebagai Raja Wakanda menggantikan ayahnya T’Chaka yang sudah meninggal. Adegan eye-catching pertama adalah saat penobatan T’Challa dimana dia berdiri di pinggir tebing air terjun. Di tebing gunung di hadapannya berdiri orang-orang yang mewakili empat suku yang mendukung pemerintahan Wakanda; mereka tampil dengan pakaian terbaik, menyanyi, menari, dan bersahut-sahutan untuk menyambut raja mereka yang baru. Keempat suku yang memakai pakaian tradisional dengan berbagai bentuk dan beraneka-warna dan mewakili mata pencaharian orang-orang di benua Afrika adalah sebuah gambaran yang gamblang tentang keragaman di benua Afrika.

Pada saat upacara penobatan itu hak T’Challa atas tahta ditantang oleh M’Baku, pemimpin suku Jabari yang tinggal di pegunungan dan mengasingkan diri dari orang Wakanda lainnya. Adegan perkelahian yang sangat manly dan raw antara T’Challa dan M’Baku adalah adegan eye-catching yang kedua, Tidak sulit membayangkan orang-orang Afrika pada jaman dahulu memang bertarung dengan pedang, tombak, dan tangan kosong untuk memperebutkan kekuasaan. T’Challa menang dan akhirnya duduk sebagai Raja Wakanda yang baru. Setelah itu ada adegan eye-catching ketiga dimana T’Challa meminum suatu ramuan dan dikubur supaya dia bisa bertemu leluhurnya di alam yang lain. Sebuah penggambaran yang tepat tentang Afrika, tata-cara spiritualisme di sana, dan rasa hormat dan kedekatan mereka terhadap arwah leluhur.

Setelah naik tahta T’Challa berusaha untuk menangkap dan mengadili Ulysses Klaue yang membunuh keluarga W’Kabi, teman terdekatnya. Usahanya ini membawa T’Challa, Nakia (kekasihnya), dan Okoye (pengawalnya) ke kota Busan di Korea Selatan, karena mereka dengar di sana Klaue akan menjual mata kapak yang terbuat dari vibranium yang dia curi dari display kebudayaan Afrika di sebuah museum di kota London kepada seorang Amerika. Transaksi jual-beli kapak itu sebenarnya adalah jebakan yang diatur oleh CIA, namun sayangnya rencana itu gagal karena T’Challa, Nakia, dan Okoye ikut campur. Klaue tetap tertangkap dan diinterogasi oleh Agen Ross dari CIA, walaupun T’Challa sudah ngotot mau membawa Klaue ke Wakanda untuk diadili.

Plot lain yang sudah dikembangkan dengan baik sejak awal film adalah tentang Pangeran N’Jobu, adik Raja T’Chaka, yang menyelundupkan vibranium waktu dia tinggal di Amerika Serikat. Pangeran N’Jobu berpikir vibranium jika dijual bisa memberi akses kepada uang dan kekuasaan untuk membantu orang-orang kulit hitam lain yang tertindas di berbagai belahan dunia, sedangkan Raja T’Chaka bersikeras Wakanda harus tetap menjaga kerahasiaan lokasi dan keterbatasan aksesnya dari dunia luar. Akhir dari plot ini adalah Raja T’Chaka yang tak sengaja membunuh adiknya yang saat itu hendak membunuh Zuri, mata-mata yang dikirim Raja T’Chaka untuk menangkap basah kejahatan Pangeran N’Jobu.

Memang Wakanda yang digambarkan di film ini bukanlah tipikal negara Afrika yang miskin dan terbelakang. Diceritakan bahwa di balik rakyatnya yang kebanyakan berprofesi sebagai petani, Wakanda adalah negara yang sangat maju sains dan teknologinya, dengan kota futuristik yang memakai vibranium sebagai bahan dasar untuk hampir semua barang. Sebuah kontras yang dibangun dengan sangat apik melalui adegan kapal canggih milik T’Challa yang melewati padang gersang dimana ada beberapa penggembala untuk menuju Wakanda yang tersembunyi dari penglihatan manusia biasa. Kalau saya jadi Raja T’Chaka yang memiliki vibranium, saya juga akan memiliki kekhawatiran yang sama. Bahkan satu suku bangsa yang memiliki warna kulit yang sama terdiri dari berbagai macam orang dengan tujuan dan pemikirannya masing-masing. Membuka akses terhadap vibranium itu seperti memberikan pedang bermata dua. Bukan karena pedangnya yang memiliki potensi membahayakan orang lain, tapi karena pemegang pedang bisa dibagi menjadi dua jenis: orang baik dan orang brengsek, orang bertanggung jawab dan orang tidak bertanggung jawab, orang tulus dan orang licik, dan seterusnya.

Saat diinterogasi di Busan, Klaue akhirnya diselamatkan oleh anak buahnya, dimana salah satunya adalah Erik Killmonger. Profesi resmi Killmonger adalah agen CIA yang bertugas menginfiltrasi negara-negara yang sedang terguncang pemerintahannya. Pernyataan Agen Ross di film ini membuat saya teringat pada konflik di Timur Tengah saat pemimpin-pemimpin karismatik banyak negara Arab terguling satu-persatu. Memang benar ada “tangan” yang lebih besar yang memainkan dinamika politik dan membentuk pendapat dengan cara menyetir konten media mainstream. Oleh karena itu sebelum pendapat kita terbelah, bangsa kita terbelah, ada baiknya kita pilah informasi yang kita terima. Ini adalah pelajaran yang saya dapat dari latar belakang seorang Erik Killmonger.

Selain sebagai agen CIA, Killmonger sebenarnya adalah anak dari Pangeran N’Jobu. Raja T’Chaka dan Zuri meninggalkan Erik di Oakland dan hal ini mengakibatkan anak itu menaruh dendam kesumat untuk membalas kematian ayahnya. Kedatangan dia di Wakanda dengan membawa jasad Kalue mendapat simpati dari W’Kabi, dan dengan dukungannya Killmonger menantang tahta yang diduduki T’Challa. T’Challa menerima tantangan itu karena dia baru tahu tentang sepupunya yang terbuang itu dari Zuri, dan dia ingin memperbaiki kesalahan yang telah diperbuat ayahnya.

Pelajaran lain yang saya ambil dari sini, dendam bisa menjadi nahkoda hidup seseorang. Sebagai tokoh yang muncul sekilas di awal dan tampil sangat signifikan di paruh terakhir film, Michael B. Jordan bisa menyampaikan perasaan dendam itu dengan sangat baik melalui mimik wajah dan tindak-tanduknya. Di awal film dia menantang petugas museum di London dengan mengatakan bangsa Inggris mencuri artefak orang-orang Afrika. Sebuah pernyataan sederhana yang menyimpulkan perasaan kemungkinan banyak orang Afrika. Orang kulit putih datang ke benua ini, memecah belah suku bangsa, menjadikan mereka daerah kolonial, mengambil artefak kebudayaan Afrika tanpa ijin dan tanpa membeli, menguasai sumber daya alam, menjadikan orang Afrika budak di benua Eropa dan Amerika Utara, dan seterusnya. Sikap Killmonger yang langsung menempatkan diri sebagai bagian dari orang tertindas dan ingin melepaskan quote unquote 2 milyar orang kulit hitam lain dari penindasan adalah motif yang tepat dan masuk akal untuknya menguasai Wakanda dan vibranium.

Akhir dari film ini cukup klise dengan T’Challa membunuh Killmonger dalam pertaruangan satu lawan satu. Adegan dua Black Panther yang bertarung cukup lama namun tidak membosankan menurut saya sangat eksotis, karena seperti menyaksikan dua panther sungguhan berkelahi. Menjelang akhir film T’Challa membawa Erik menyaksikan matahari terbit, sebuah pemandangan paling indah di dunia yang sangat dirindukan oleh ayah Erik. Saya sempat berharap Erik mau disembuhkan dari lukanya dan akan bahu-membahu dengan sepupunya T’Challa memimpin Wakanda, namun ternyata tidak. Mungkin karena ada pepatah people don’t change; they just adapt, jadi sulit membayangkan karakter Erik yang tiba-tiba bertobat dan jadi orang baik setelah dia berusaha membalas dendam dengan begitu brutal.

Di penghujung film ada adegan pertarungan di padang rumput antara suku perbatasan yang dipimpin W’Kabi dan mendukung Erik dan suku Jabari yang dipimpin M’Baku dan mendukung T’Challa. Tentara kerajaan yang dipimpin Okoye pun akhirnya kembali mendukung T’Challa dan bahu-membahu melawan suku perbatasan. Terlihat ya kalau manusia itu makhluk yang setia. Hanya karena ketaatan dan ketundukan pada satu figur pemimpin mereka rela terluka, sakit, dan berdarah-darah. Apakah pernah terlintas di benak pemimpin yang mengajak rakyatnya berperang kalau rakyat mereka punya kehidupan sendiri dan lebih perlu dilindungi daripada dipakai untuk mewujudkan ambisi si pemimpin? Saya penasaran saja.

Pada akhirnya Wakanda di bawah kepemimpinan T’Challa berniat membuka diri terhadap dunia luar, memberikan bantuan kepada mereka yang membutuhkan. Pidato T’Challa di depan anggota PBB menurut saya sangat berkesan.

In the time of crisis, the wise builds bridge, but the fool builds barriers.

Dia juga mengajak mereka yang hadir di rapat itu untuk membenahi dunia dengan mengambil posisi sebagai sebuah suku bangsa, one tribe, alih-alih melihat penduduk bumi sebagai manusia yang sangat beragam warna kulit, suku, dan lain-lainnya.

Catatan terakhir buat film ini dari saya adalah sebagai berikut:

  1. Para pengawal T’Challa yaitu pasukan khusus wanita Dora Milaje benar-benar menarik di mata. Walaupun semua wanita botak dan kekar, mereka tetap tampil feminin dengan seragam merah dan teknik bertarung yang tidak terlalu macho. Diana Prince/Wonderwoman dan para wanita Amazon mah lewat. Saya jauh lebih suka pasukan elit Dora Milaje dari Wakanda.
  2. Percakapan antara orang-orang Wakanda dilakukan dalam bahasa Inggris dan bahasa Wakanda, dimana pergantian bahasa dilakukan secara halus dan sesuai konteks. Misalnya: saat Agen Ross ngotot tidak mau melepas Klaue, T’Challa bicara dalam bahasa Wakanda dengan Okoye, sebuah hal yang masuk akal karena kita sering menggunakan bahasa yang orang lain tidak mengerti untuk menjaga kerahasiaan isi percakapan kita. Walaupun mereka berbahasa Inggris, tapi aksen Afrika-nya sangat kental dan enak didengar. Akhiran -er seperti father, brother diganti dengan bunyi yang lebih terdengar seperti -ah, jadi father, brother terdengar seperti fathah, brothah. Sebuah kebiasaan yang masih dipakai oleh keturunan orang Afrika di Amerika Serikat sana yang seperti membentuk bahasa Inggris mereka sendiri. Jadi tidak usah malu jika berbicara bahasa Inggris dengan aksen Sunda, Jawa, dll. Saya malah heran dengan Youtube Channel seorang Amerika yang meledek orang Indonesia yang berbicara bahasa Inggris dengan aksen bahasa daerah. Bahasa Inggris memang bukan bahasa ibu kita kok, dan tuntutan untuk bertutur di dalamnya dengan cara persis sama dengan orang di benua Amerika atau Eropa sana menurut saya konyol. Orang Afrika di film ini berbicara Inggris dengan lancar, walaupun dengan logika kalimat yang sepertinya terjemahan langsung dari kalimat dalam bahasa mereka, dan tetap terdengar indah.
  3. Saya menonton film ini dengan seorang teman orang Korea yang sedang belajar bahasa Indonesia. Pengalaman ini sangat berkesan bagi dia karena dia jadi belajar membaca subtitle dalam bahasa Indonesia, dan kami mengakhiri acara menonton kami dengan makan martabak telor. Ini kali pertama teman saya makan martabak telor dan dia suka sekali, sampai-sampai menandai tempat abang martabak di Google Maps di HP-nya. Hahaha. Oya, kami juga cukup bahagia saat lokasi film berpindah dari Wakanda ke Busan. Sebagai orang Korea, teman saya cukup merasa nostalgia mendengar orang-orang berbicara bahasa Korea di dalam film dan melihat setting pasar tradisional dan pertokoan di Busan. Sedangkan buat saya yang sudah sering ke Busan, mengenali tempat-tempat yang saya pernah kunjungi (terutama Gwangan Bridge) sungguh membuat hati saya hangat.Dua Ajumma

Di akhir kata, bahkan jika Black Panther bukan bagian dari Marvel Cinematic Universe, film ini sangat layak ditonton karena keunikan setting dan pesan yang hendak ia sampaikan. Saya tidak akan ikut berkomentar tentang film ini sebagai film orang kulit hitam karena sutradara dan aktor-aktornya yang dari ras negroid. Bagi saya film itu bagus karena ide cerita, visualisasi, dan pesan yang saya bisa dapat dari film itu; saya tidak mengindahkan warna kulit dari mereka yang membuat film tersebut.

Film Black Panther adalah awal yang sungguh baik untuk tahun 2018 dimana Marvel Cinematic Universes memperingati sepuluh tahun dia berkarya.

 

Menghadapi Penolakan

Hidup tidak pernah berjalan mulus dan kita tidak selalu mendapatkan hal yang kita inginkan. Terlepas dari apakah seseorang mempercayai keberadaan Tuhan/kekuatan yang lebih besar dari dirinya, ada banyak hal yang di dunia ini yang tidak bisa kita kendalikan. Kita menyebut hal-hal tersebut sebagai sebuah takdir, nasib, kebetulan, dan lain sebagainya. Untuk mencapai tujuan/mimpi/cita-cita tentu diperlukan kerja keras. Walaupun demikian ada saja satu dan lain hal, sebuah faktor X, yang bisa menggagalkan kita dari mencapai tujuan/mimpi/cita-cita tersebut.

Penolakan-penolakan yang umumnya muncul di dalam hidup kita adalah:

  1. Penolakan masuk suatu sekolah.
  2. Penolakan masuk suatu tempat kerja.
  3. Penolakan cinta.

Penyebab dari penolakan-penolakan tersebut sebenarnya bisa dikelompokkan menjadi dua bagian besar:

  1. Penolakan karena kita punya kekurangan (kompetensi, pendidikan, tampang, kekayaan, tinggi badan, dll.).
  2. Penolakan karena hal yang kita tuju punya spesifikasi yang berbeda dengan spesifikasi yang kita punya sekarang,

Yuk, kita bahas satu-persatu.

Misalnya penolakan untuk masuk suatu sekolah. Biasanya sekolah memiliki standar nilai tertentu yang menjadi patokan bagi mereka yang ingin mendaftar masuk ke sekolah itu. Kita bisa ditolak jika nilai kita di bawah standar, yang artinya kita punya kekurangan nilai dan ketidaksesuaian spesifikasi dengan yang diminta oleh sekolah tersebut. Hal yang sama terjadi juga di dunia kerja. Misalnya kita lulus dengan kompetensi sebagai desainer produk, namun dunia kerja yang kita ingin masuki adalah dunia kerja perbankan yang memerlukan lulusan dari jurusan ekonomi. Ketidaksesuaian spesifikasi pendidikan yang kita tempuh dengan pekerjaan yang kita idamkan bisa berujung pada penolakan.

Nah, bagaimana dengan penolakan cinta? Sama halnya dengan dua jenis penolakan yang saya sebut sekelumit di atas, penolakan cinta juga bersifat subyektif (karena keputusan bergantung pada orang yang sedang ingin didapatkan cintanya) dan obyektif (karena keputusan untuk menerima/menolak cinta dibuat setelah melihat spesifikasi orang yang menawarkan cinta). Jadi wajar kalau cinta ditolak karena, misalnya, orang yang sedang mengejar memiliki kekurangan di mata orang yang sedang dikejar (kekurangan tampang/latar belakang keluarga/kekayaan, dll. dsb.), berhubung orang yang sedang dikejar memiliki spesifikasi yang saklek yang harus diketahui dan dipenuhi oleh mereka yang ingin mendapatkan dirinya.

Dalam menghadapi penolakan reaksi pertama kita pastinya adalah kecewa. Hal ini wajar dan manusiawi karena sebagai manusia tentu kita gemas kalau semua usaha yang kita keluarkan (tenaga/pikiran/uang/dll) tidak membuat kita mencapai target. Nah, reaksi kedua kita adalah cerminan kekuatan mental kita.

Apakah kita akan terus kecewa, bermuram-durja, menyalahkan diri sendiri/orang lain/takdir/nasib/faktor X? Atau apakah kita akan menerima kenyataan kalau kita sudah ditolak, cepat bangkit kembali, dan menyusun strategi untuk mencapai target berikutnya?

Saat seseorang ditolak masuk ke suatu sekolah/tempat kerja, lebih cepat dia mengejar ketertinggalan kompetensi dirinya dari standar yang diminta sekolah/tempat kerja yang dia targetkan adalah lebih baik. Saya tahu seseorang yang mencoba UMPTN pada tahun 2000-an sampai tiga kali sampai akhirnya ia diterima di ITB,. Saya juga tahu seseorang yang sangat mengidamkan bekerja di Pertamina namun karirnya setelah lulus kuliah berjalan mulus di dunia perbankan. Hampir satu dekade kemudian dia akhirnya pindah haluan ke industri perminyakan, meninggalkan posisi managerial di bank tempat dia bekerja untuk memulai lagi dari nol sebagai Management Trainee. Begitu pula dengan penolakan cinta. Saya tahu seseorang bermata juling yang mengoperasi mata kirinya di usia 22 tahun (sebuah keputusan yang memiliki resiko kesehatan yang besar) supaya sang pacar dan keluarga besar sang pacar bisa menerima kehadirannya.

Akan tetapi …, jika semua usaha untuk menutup kekurangan/ketidaksesuaian spesifikasi itu dirasa terlalu melelahkan dan mengganggu ketenangan pikiran kita, selalu ada pilihan lain.

Tinggalkan dan bergerak majulah.

Masih banyak ikan di laut. Masih banyak sekolah/tempat kerja yang bisa menerima kita. Masih banyak orang yang mau menerima cinta kita dengan rasa syukur.

Hari Jumat kemarin saya mengalami penolakan yang berkesan karena membuat hati saya hancur.

Sebagai seorang penulis yang memulai lagi aktivitas menulis pada tahun 2016 setelah hiatus selama 16 tahun, saya bermimpi buku saya diterbitkan oleh salah satu penerbit mayor di tanah air. Oleh karena preferensi saya untuk menulis dalam bahasa Inggris tidak cocok dengan preferensi penerbit-penerbit yang ingin menerbitkan buku dalam bahasa Indonesia saja, pada tahun 2016 saya (dengan dukungan keluarga dan sahabat) memutuskan menerbitkan buku kumpulan cerpen berbahasa Inggris berjudul Randomness Inside My Head secara independen/indie. Perjalanan setelah menjadi penulis indie adalah perjalanan naik roller coaster yang saya sangat nikmati, namun ini tidak menyurutkan minat saya untuk menjadi penulis buku yang bekerja sama dengan sebuah penerbit.

Di akhir Desember lalu saya tiba-tiba mendapat WA dari sebuah penerbit mayor yang meminta naskah novel dalam bahasa Inggris. Seperti gayung bersambut, saya langsung bekerja keras meringkas novel setebal 385 halaman yang sudah saya tulis di pertengahan tahun 2017 menjadi sebuah sinopsis setebal 15 halaman saja. Setelah mengirimkan naskah, saya pun menunggu dengan harap-harap cemas. Terus-terang saya tidak berani menanyakan apa alasan penerbit yang dulu menolak naskah saya karena berbahasa Inggris akhirnya sekarang meminta naskah dalam bahasa itu.

Satu minggu berlaku dan jreng jreng jreng saya mendapatkan email yang membuat saya terduduk lemas. Dan sedih. Naskah saya tidak diterima. Bukan karena ceritanya tidak bagus, tapi karena ceritanya tidak sesuai dengan target pembaca yang berusia 13 sampai 25 tahun.

Setelah cukup merasa sedih, kecewa, dan mengasihani diri sendiri, otak saya mulai berputar. Berarti ada permintaan untuk naskah dalam bahasa Inggris, walaupun dengan catatan khusus. Jadi kalau merujuk pada dua hal penyebab penolakan yang saya jabarkan di atas, naskah saya tidak punya kekurangan secara plot cerita NAMUN naskah saya tidak sesuai spesifikasinya sebagai bacaan market yang disasar penerbit tersebut.

Pada akhirnya saya memberanikan diri untuk menawarkan naskah novel lain (dalam bahasa Inggris) yang saya masih kerjakan, dimana tokoh utama dan pergulatannya ada di rentang umur tersebut. Walaupun nanti saya akan menunggu dengan harap-harap cemas (lagi) keputusan dari penerbit, saya masih punya satu mantra ajaib yang selalu berhasil membuka jalan untuk saya mencapai mimpi saya: menulis cerita fiksi yang bisa menghibur dan menginspirasi orang lain.

NASKAH DITOLAK, INDIE BERTINDAK.

Hahaha. Sembari menyempurnakan naskah, biarkan saya makan dua kotak coklat Ragusa yang ada di gambar sambil mengeringkan air mata. Hiks.

Memaknai Bahwa Hidup Adalah Pilihan

Hidup adalah pilihan.

Frase ini sering sekali kita dengar, tapi apakah kita mengerti betul maknanya?

Malam ini saya dan keluarga diundang makan malam di rumah seorang teman dekat saya. Kami berkenalan satu tahun lalu waktu kedua anak bungsu kami satu kelas di sekolah. Benar kata orang, berteman itu seperti menemukan frekuensi radio. Tanpa banyak basa-basi kami berdua langsung cocok dan sering bertemu di sekolah dan pada akhir pekan.

Teman saya ini seorang yang berkepribadian kuat, tapi kekaguman saya terhadap dia baru mencapai puncaknya hari ini.

Dia seorang istri yang sehari-hari bekerja di pabrik. Dia mengurus kedua anaknya dengan telaten dan sepenuh hati, selalu menyempatkan diri untuk mengantar-jemput sendiri anaknya ke dan dari sekolah, tahu betul apa yang dipelajari anak-anaknya di sekolah. Dia beberapa kali diperdaya oleh asisten rumah tangga padahal hatinya sangat baik dan tidak pernah segan membantu orang lain dalam hal perhatian dan uang, sampai akhirnya dia bertahan dengan satu orang asisten saja untuk mengurus rumah. Dia sabar luar biasa dalam menghadapi tekanan. Dia memegang prinsip bahwa kesusahan akan selalu ada tapi tidak boleh berlama-lama diam dalam kesusahan. Dalam setiap kesusahan dia akan cepat bangkit untuk menemukan jalan keluar; solusi di depan lebih penting daripada berkeluh-kesah sekarang.

Hidup teman saya ini penuh dengan tantangan tapi dia selalu bisa tersenyum dalam menghadapi setiap badai. Selama hampir dua tahun mengenalnya saya hanya satu kali melihatnya menitikkan air mata karena stres, padahal saya kalau curhat ke teman perempuan pasti sudah menangis bombay kalau lagi kalut banget, haha. Dia bisa menceritakan masalah-masalahnya yang sudah lewat ataupun yang masih terjadi dengan sikap santai dan can do spirit yang luar biasa. Dia yakin semua kesulitan pasti akan berlalu dan dia selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk orang-orang di sekitarnya.

Saya tahu pasti kalau saya ada di posisi dia, memegang peranan-peranan yang dia pegang sebagai istri, ibu, dan karyawan di kantor, saya akan remuk-redam.

Saya tidak bisa membayangkan bekerja penuh waktu di kantor sambil tetap memonitor perkembangan anak-anak di sekolah dan mempercayai seorang ART untuk menjaga anak-anak selama saya bekerja. Saya tidak berpengalaman mengurus anak dan saya tahu saya tidak bisa mempercayakan anak saya pada pengasuh/pembantu, sehingga saya langsung mengundurkan diri dari perusahaan setelah melahirkan anak pertama delapan tahun lalu, dan tidak kembali lagi ke dunia korporasi sampai sekarang. Saya mempunyai standar kebersihan yang tinggi dan sedari saya kecil dan masih tinggal bersama orang tua saya kurang mempercayai hasil bersih-bersih seorang ART. Menjadi ibu rumah tangga adalah pilihan yang tepat untuk saya dulu dan saat ini karena saya bisa memfokuskan pikiran dan energi pada hal-hal yang paling penting, yaitu: suami, anak-anak, dan rumah.

Sewaktu saya masih bekerja di perusahaan saya sering membawa masalah di tempat kerja ke rumah. Mengartikulasikan emosi negatif (kemarahan, kekecewaan, kekesalan, kesedihan, dan sejenisnya) secara verbal dan tepat tanpa berujung pada melampiaskan emosi secara searah pada orang yang tidak tahu apa-apa selalu menjadi tantangan buat saya. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana kalau saya bekerja di kantor dengan segudang masalah dan pulang ke rumah untuk menemui segudang masalah lain dengan anak-anak dan ART. Pasti ujung-ujungnya saya bisa meledak karena tekanan yang berat dari dua buah hal yang menjadi tanggung jawab saya.

Tapi teman saya ini tidak. Dia tidak remuk di bawah tekanan; dia mengambil sisi positif dari setiap masalah yang dia hadapi untuk menjadikan dirinya lebih kuat dan tangguh.

Malam ini dia mengajari saya tentang memaknai hidup itu adalah masalah pilihan.

Dia bisa memilih tidak bekerja di kantor dan hanya mengurus rumah tangga, tapi dia memilih untuk tetap bekerja, membagi dirinya dengan orang-orang selain keluarganya, menerima tugas dan tanggung jawab baru, menyelesaikan setiap tugas, dan bersukacita atas pencapaian-pencapaian kecil dan besar. Saat ada banyak masalah di tempat kerja, dia memilih untuk bertahan dan menghadapi masalah-masalah itu. Dia tidak pernah berpikir untuk cepat-cepat mencari pekerjaan di perusahaan lain. “Saya memilih untuk tetap berada di perusahaan ini, jadi setiap masalah yang saya temui adalah bagian dari pilihan saya,” begitu katanya pada saya. Bertolak-belakang sekali dengan sikap banyak orang yang saya tahu yang cepat-cepat resign jika tidak cocok dengan bosnya.

Dia bisa memilih memiliki lebih dari satu asisten rumah tangga untuk membuat pekerjaannya di rumah lebih mudah, tapi dia bertahan dengan satu orang ART saja yang sudah ikut dia bertahun-tahun. Tentu saja dia jadi harus ikut ambil bagian dalam setiap pekerjaan rumah tangga, seperti: mencuci pakaian dan memasak, tapi dia lakukan semuanya tanpa mengeluh. Dia bangun sangat pagi, membereskan semua keperluan suami dan anak-anaknya, mengantar anak-anak ke sekolah, dan kembali ke rumah untuk membereskan pekerjaan rumah sebelum akhirnya dia berangkat ke kantor. Tugasnya begitu banyak dan tekadnya begitu kuat untuk menyelesaikan semuanya dengan sebaik-baiknya.

Saat anaknya kena suatu penyakit yang membuatnya harus mengubah drastis gaya hidup dan pola makan seluruh anggota keluarga, dia melakukannya dengan sigap. Dia membaca banyak buku, mengikuti kursus-kursus, berkonsultasi dengan banyak ahli dan praktisi kesehatan, belajar memasak sendiri makanan-makanan yang selama ini bisa dibeli dengan mudah di restoran. Untuk saya yang tidak pernah suka memasak, hal ini luar biasa. Saya tidak bisa membayangkan diri saya membuat roti sendiri, saus spaghetti sendiri, dan es krim sendiri. Makanan di luar rumah begitu bervariasi dan begitu mudah diakses sehingga saya hampir tidak pernah terpikir untuk membuat sendiri apa yang saya bisa beli. Dari dia saya jadi belajar tentang makanan organik, tentang eating clean, dan tentang memperbaiki gaya hidup untuk menjalani hidup dengan lebih sehat. Dia bisa memilih untuk membeli saja produk makanan organik, tapi dia memilih untuk belajar membuat semuanya sendiri demi kesehatan seluruh anggota keluarganya. Termasuk untuk menanam sayur-mayur sendiri di halaman rumahnya. Memang dia tidak pernah berhenti menginspirasi saya.

Waktu dia, dan saya, merasa lelah dengan semua kewajiban dan rutinitas, kami sering berandai-andai sedang bersantai di pantai, tidur siang, minum jus kelapa muda, dan tidak melakukan apa-apa selama sehari penuh. Sebuah khayalan yang sangat menyenangkan dan ingin saya wujudkan untuk dia. Saya rasa teman saya ini yang sangat tabah, bijak memilih, dan sabar menghadapi setiap konsekuensi dari setiap pilihannya sangat pantas mendapatkan itu.

Sebelas Tahun dan Sepanjang Hayat

Saya dan suami menikah tanggal 8 November 2008 (8-11-8) yang kalau dijumlah sama dengan kelipatan 9 (ketahuan banget cinta mati sama HMS, haha). Tanggal 8 November kemarin adalah ulang tahun pernikahan kami yang ke-9 yang tidak dirayakan sama sekali. Tanggalnya jatuh di tengah minggu jadi hari itu berlalu seperti biasa dengan segala kesibukan pekerjaan di kantor, di rumah, dan membantu PR anak-anak.

Akhir pekan ini suami mengajak untuk liburan, alias leyeh-leyeh, di sebuah hotel di Jakarta. Kami senang sekali karena pemandangan di luar jendela kami adalah gedung-gedung tinggi yang memadati pusat kota Jakarta dan gedung apartemen tempat pengiring pengantin saya tinggal. Anak pertama saya yang sangat dekat dengan tantenya langsung mengenali gedung itu dan menanti-nantikan untuk bertemu hari ini.

Hari ini Sandra datang dengan kejutan. Dia tidak hanya membawa bakpau hadiah untuk anak saya yang pertama karena sudah berhasil mengerjakan tes Matematika soal perkalian dan bakpau berbentuk Totoro untuk anak saya yang kedua, tapi juga membawa hadiah untuk ulang tahun pernikahan kami (foto di awal post ini). Hadiahnya berupa foto selfie kami yang diambil dari FB, dipercantik dengan berbagai macam hiasan dan bunga yang dibentuk dari kertas daur ulang (intip IG: learteid ya untuk inspirasi aksesoris pemanis rumah), dan dibingkai dengan rapi. Tidak hanya itu, pengiring pengantin saya ini juga membuat beberapa bakpau yang dihias dengan tulisan nama kami dan selamat merayakan ulang tahun pernikahan.

Saya dan suami terharu banget sampai mata berkaca-kaca.

Persahabatan saya dengan Sandra dimulai tahun 2005, sekitar satu tahun sebelum saya berkenalan dengan suami. Kami dulu satu kos, satu kantor, dan setelah melalui pindah banyak kota dan banyak perjalanan hidup, kami tetap ada dalam hidup masing-masing. Dia yang membawa kedua cincin pernikahan kami ke altar. Namanya juga kami berikan sebagai nama tengah anak kami yang pertama. Satu hal yang membuat saya sangat mensyukuri pernikahan kami adalah adanya sahabat-sahabat, teman-teman yang ada dalam cerita kami sejak awal. Saya dan suami mulai pacaran tahun 2006 dan menikah tepat 2 tahun kemudian di tanggal kami jadian, artinya kami sudah saling mengenal satu sama lain selama 11 tahun dan menikah selama 9 tahun.

Benar kata pepatah, hari-hari terasa panjang namun tahun-tahun terasa pendek. Sebelas tahun lewat begitu saja padahal sudah banyak sekali yang terjadi. Jatuh cinta, mulai saling mengerti, bertengkar hebat, patah hati, saling mendukung, berjanji sehidup semati, sampai ada anak-anak yang dikaruniakan pada keluarga kami, semuanya telah dilalui selama sebelas tahun dan kami menantikan perjalanan panjang berikutnya di tahun-tahun mendatang.

Semuanya bukan karena kuat gagah kami; semua karena kasih karunia Tuhan. Terima kasih untuk mereka yang sudah dan masih mendoakan kami.

Untuk suami, terima kasih untuk sebelas tahun dan aku menantikan sepanjang hayat bersamamu.

SIQC 9

Waktu kami jadi MC di SIQC ke-9. Semua berawal dari sini.

 

20171111

Saya dan mereka sebelas tahun kemudian.

Menghadapi Orang yang Sulit

Apakah yang dimaksud dengan orang yang sulit?

Orang yang sulit adalah orang yang memiliki masalah dengan:

  1. pola pikirnya,
  2. cara merespon hal-hal di luar dirinya,
  3. cara dia berkomunikasi, dan
  4. relasinya dengan orang lain.

Seperti yang sudah kita ketahui bersama, manusia adalah makhluk sosial. Ia tidak dapat hidup sendiri; ia harus menjadi bagian dari sebuah kelompok tertentu. Sebagai anggota kelompok, ia harus tunduk pada aturan kelompok dalam hal berkomunikasi, bertingkah laku, berpendapat, dan lain sebagainya. Sebagai anggota kelompok, ia harus menjalankan nilai-nilai yang dituntut oleh kelompoknya.

Sebagai contoh: seorang anak adalah anggota dari sebuah kelompok yang dinamakan keluarga. Setiap keluarga memiliki nilai-nilai, cara komunikasi, dan cara pandang tertentu dalam menjalani kehidupan. Jika keluarga itu menganut nilai bahwa cara berbicara yang baik adalah dengan cara berbisik-bisik, maka anak yang berbicara dengan cara berteriak-teriak akan dianggap melanggar nilai kelompoknya. Keluarga di mana anak itu berada akan berusaha untuk meluruskan perilaku si anak supaya sesuai dengan nilai-nilai yang sudah disepakati bersama sebagai kelompok.

Seseorang yang hidup di tengah kehidupan masyarakat akan tergabung dalam beberapa kelompok sekaligus selama hidupnya, entah itu keluarga, sekolah, tempat kerja, lingkungan tempat tinggal, organisasi, dan lain sebagainya. Dia akan menghadapi kompleksitas nilai-nilai, cara komunikasi, dan cara pandang yang bisa berbeda-beda antara semua kelompok di mana dia tergabung. Dia harus cerdik melihat situasi dan memutuskan perilaku seperti apa yang bisa atau tidak bisa diterima oleh kelompoknya, dan perilaku seperti apa yang lumrah diaplikasikan untuk menghadapi suatu situasi.

Orang yang sulit tidak memiliki kemampuan ini. Masalah utama yang dimiliki orang yang sulit adalah pola pikirnya. Orang yang sulit biasanya memiliki prinsip bahwa dia adalah pusat dari segala sesuatu. Jika dia dirugikan, dia akan mencari segala cara untuk mengganti kerugian itu dan mencari pihak lain yang bisa disalahkan karena merugikan dirinya. Jika dia merugikan orang lain, dia akan mencari segala cara supaya dirinya aman dari kerugian. Emosinya yang gampang tersulut ditambah pola pikir seperti ini akan mempengaruhi cara dia berkomunikasi dengan sekitarnya. Oleh karena tujuan utama orang yang sulit adalah tercapainya kepentingan diri sendiri, dia tidak akan segan memutar-balik fakta dalam komunikasinya dengan orang lain supaya dirinya aman, tidak disalahkan, dan tidak dirugikan. Dia tidak akan segan menyangkal atau membumbui cerita supaya terlihat bahwa dia adalah pihak yang tidak bersalah yang harus diselamatkan. Hasil dari cara berkomunikasi seperti ini sudah bisa ditebak. Orang yang sulit tidak akan memiliki relasi yang baik dengan orang lain di sekitarnya. Ketidakmampuannya untuk menempatkan diri di posisi orang lain dan mencoba melihat suatu hal dari sudut pandang orang lain akan membuat hubungan sosialnya buruk karena dia akan dinilai sebagai orang yang tidak memiliki simpati/empati dan selalu mau menang sendiri. Dalam menghadapi suatu masalah, oang yang sulit tidak akan memikirkan solusi untuk kepentingan bersama; yang dia pikirkan adalah solusi yang paling menguntungkan dirinya sendiri.

Bagaimana menghadapi orang yang sulit?

Tanamkan dalam benak kita bahwa saat ini pepatah ‘Yang waras, ngalah’ sudah tidak tepat. Yang tepat adalah ‘Yang waras harus mempertahankan kewarasannya’. Biarkan pepatah itu melekat di kepala kita bahwa kita tidak akan mengalah dalam menghadapi orang yang sulit. Salah satu penyebab orang yang sulit tidak mudah berubah adalah karena kelompok/lingkungan tempat dia bernaung cenderung mengalah, enggan menegur dan mengingatkan dia supaya dia berubah. Keengganan itu timbul mungkin karena orang yang sulit sudah terlalu bebal untuk berubah, atau mungkin karena kelompok/lingkungan sudah tidak mempedulikan dia lagi (fakta yang sebenarnya menyedihkan). Dalam menghadapi orang yang sulit tanamkan di benak kita bahwa masing-masing pihak harus tahu pendapat dan sudut pandang pihak yang lain supaya bisa mencapai solusi yang menguntungkan semua pihak. Orang yang sulit akan berbicara berbelit-belit, melantur, memberikan jawaban yang tidak sesuai dengan pertanyaan, bahkan berbohong untuk menunjukkan bahwa dia adalah pihak yang selalu benar. Butuh kesabaran ekstra dari orang yang menghadapi orang yang sulit, tapi hal ini perlu dilakukan karena jika dibiarkan orang seperti ini lama-kelamaan akan menjadi duri dalam daging dalam kelompok.

Dalam menghadapi cara komunikasi yang cenderung serampangan dari orang yang sulit, ada baiknya orang yang waras menyiapkan hal berikut: rekaman percakapan dalam bentuk tulisan (isi chatting, SMS, dll.) dan lisan (rekaman percakapan telepon jika perlu). Hal ini bisa dipakai untuk membantah usaha orang yang sulit untuk memutar-balik fakta. Melibatkan orang yang mempunyai kekuasaan atau disegani dalam kelompok juga akan membantu menyelesaikan permasalahan yang kita miliki dengan orang yang sulit. Intinya adalah mempertahankan kewarasan dan bisa dimulai dengan cara yang sangat sederhana seperti: 1) tarik nafas dalam-dalam, 2) hitung sampai sepuluh, 3) ingat baik-baik perkataan yang kita keluarkan/hal yang kita perbuat yang bisa sewaktu-waktu dipakai untuk menyerang kredibilitas kita, dan 4) siapkan perkataan/tindakan bantahan yang didukung fakta.

Menghadapi orang yang sulit memang tidak mudah tapi tidak mustahil dilakukan. 

Kuatkan diri untuk menghadapi orang yang sulit hingga kita sadar kalau kesabaran kita sudah habis, hingga kita sampai di satu titik untuk mempertahankan diri kita sebagai orang yang waras, sedangkan pihak sana adalah orang yang sebaliknya.