Memaknai Bahwa Hidup Adalah Pilihan

Hidup adalah pilihan.

Frase ini sering sekali kita dengar, tapi apakah kita mengerti betul maknanya?

Malam ini saya dan keluarga diundang makan malam di rumah seorang teman dekat saya. Kami berkenalan satu tahun lalu waktu kedua anak bungsu kami satu kelas di sekolah. Benar kata orang, berteman itu seperti menemukan frekuensi radio. Tanpa banyak basa-basi kami berdua langsung cocok dan sering bertemu di sekolah dan pada akhir pekan.

Teman saya ini seorang yang berkepribadian kuat, tapi kekaguman saya terhadap dia baru mencapai puncaknya hari ini.

Dia seorang istri yang sehari-hari bekerja di pabrik. Dia mengurus kedua anaknya dengan telaten dan sepenuh hati, selalu menyempatkan diri untuk mengantar-jemput sendiri anaknya ke dan dari sekolah, tahu betul apa yang dipelajari anak-anaknya di sekolah. Dia beberapa kali diperdaya oleh asisten rumah tangga padahal hatinya sangat baik dan tidak pernah segan membantu orang lain dalam hal perhatian dan uang, sampai akhirnya dia bertahan dengan satu orang asisten saja untuk mengurus rumah. Dia sabar luar biasa dalam menghadapi tekanan. Dia memegang prinsip bahwa kesusahan akan selalu ada tapi tidak boleh berlama-lama diam dalam kesusahan. Dalam setiap kesusahan dia akan cepat bangkit untuk menemukan jalan keluar; solusi di depan lebih penting daripada berkeluh-kesah sekarang.

Hidup teman saya ini penuh dengan tantangan tapi dia selalu bisa tersenyum dalam menghadapi setiap badai. Selama hampir dua tahun mengenalnya saya hanya satu kali melihatnya menitikkan air mata karena stres, padahal saya kalau curhat ke teman perempuan pasti sudah menangis bombay kalau lagi kalut banget, haha. Dia bisa menceritakan masalah-masalahnya yang sudah lewat ataupun yang masih terjadi dengan sikap santai dan can do spirit yang luar biasa. Dia yakin semua kesulitan pasti akan berlalu dan dia selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk orang-orang di sekitarnya.

Saya tahu pasti kalau saya ada di posisi dia, memegang peranan-peranan yang dia pegang sebagai istri, ibu, dan karyawan di kantor, saya akan remuk-redam.

Saya tidak bisa membayangkan bekerja penuh waktu di kantor sambil tetap memonitor perkembangan anak-anak di sekolah dan mempercayai seorang ART untuk menjaga anak-anak selama saya bekerja. Saya tidak berpengalaman mengurus anak dan saya tahu saya tidak bisa mempercayakan anak saya pada pengasuh/pembantu, sehingga saya langsung mengundurkan diri dari perusahaan setelah melahirkan anak pertama delapan tahun lalu, dan tidak kembali lagi ke dunia korporasi sampai sekarang. Saya mempunyai standar kebersihan yang tinggi dan sedari saya kecil dan masih tinggal bersama orang tua saya kurang mempercayai hasil bersih-bersih seorang ART. Menjadi ibu rumah tangga adalah pilihan yang tepat untuk saya dulu dan saat ini karena saya bisa memfokuskan pikiran dan energi pada hal-hal yang paling penting, yaitu: suami, anak-anak, dan rumah.

Sewaktu saya masih bekerja di perusahaan saya sering membawa masalah di tempat kerja ke rumah. Mengartikulasikan emosi negatif (kemarahan, kekecewaan, kekesalan, kesedihan, dan sejenisnya) secara verbal dan tepat tanpa berujung pada melampiaskan emosi secara searah pada orang yang tidak tahu apa-apa selalu menjadi tantangan buat saya. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana kalau saya bekerja di kantor dengan segudang masalah dan pulang ke rumah untuk menemui segudang masalah lain dengan anak-anak dan ART. Pasti ujung-ujungnya saya bisa meledak karena tekanan yang berat dari dua buah hal yang menjadi tanggung jawab saya.

Tapi teman saya ini tidak. Dia tidak remuk di bawah tekanan; dia mengambil sisi positif dari setiap masalah yang dia hadapi untuk menjadikan dirinya lebih kuat dan tangguh.

Malam ini dia mengajari saya tentang memaknai hidup itu adalah masalah pilihan.

Dia bisa memilih tidak bekerja di kantor dan hanya mengurus rumah tangga, tapi dia memilih untuk tetap bekerja, membagi dirinya dengan orang-orang selain keluarganya, menerima tugas dan tanggung jawab baru, menyelesaikan setiap tugas, dan bersukacita atas pencapaian-pencapaian kecil dan besar. Saat ada banyak masalah di tempat kerja, dia memilih untuk bertahan dan menghadapi masalah-masalah itu. Dia tidak pernah berpikir untuk cepat-cepat mencari pekerjaan di perusahaan lain. “Saya memilih untuk tetap berada di perusahaan ini, jadi setiap masalah yang saya temui adalah bagian dari pilihan saya,” begitu katanya pada saya. Bertolak-belakang sekali dengan sikap banyak orang yang saya tahu yang cepat-cepat resign jika tidak cocok dengan bosnya.

Dia bisa memilih memiliki lebih dari satu asisten rumah tangga untuk membuat pekerjaannya di rumah lebih mudah, tapi dia bertahan dengan satu orang ART saja yang sudah ikut dia bertahun-tahun. Tentu saja dia jadi harus ikut ambil bagian dalam setiap pekerjaan rumah tangga, seperti: mencuci pakaian dan memasak, tapi dia lakukan semuanya tanpa mengeluh. Dia bangun sangat pagi, membereskan semua keperluan suami dan anak-anaknya, mengantar anak-anak ke sekolah, dan kembali ke rumah untuk membereskan pekerjaan rumah sebelum akhirnya dia berangkat ke kantor. Tugasnya begitu banyak dan tekadnya begitu kuat untuk menyelesaikan semuanya dengan sebaik-baiknya.

Saat anaknya kena suatu penyakit yang membuatnya harus mengubah drastis gaya hidup dan pola makan seluruh anggota keluarga, dia melakukannya dengan sigap. Dia membaca banyak buku, mengikuti kursus-kursus, berkonsultasi dengan banyak ahli dan praktisi kesehatan, belajar memasak sendiri makanan-makanan yang selama ini bisa dibeli dengan mudah di restoran. Untuk saya yang tidak pernah suka memasak, hal ini luar biasa. Saya tidak bisa membayangkan diri saya membuat roti sendiri, saus spaghetti sendiri, dan es krim sendiri. Makanan di luar rumah begitu bervariasi dan begitu mudah diakses sehingga saya hampir tidak pernah terpikir untuk membuat sendiri apa yang saya bisa beli. Dari dia saya jadi belajar tentang makanan organik, tentang eating clean, dan tentang memperbaiki gaya hidup untuk menjalani hidup dengan lebih sehat. Dia bisa memilih untuk membeli saja produk makanan organik, tapi dia memilih untuk belajar membuat semuanya sendiri demi kesehatan seluruh anggota keluarganya. Termasuk untuk menanam sayur-mayur sendiri di halaman rumahnya. Memang dia tidak pernah berhenti menginspirasi saya.

Waktu dia, dan saya, merasa lelah dengan semua kewajiban dan rutinitas, kami sering berandai-andai sedang bersantai di pantai, tidur siang, minum jus kelapa muda, dan tidak melakukan apa-apa selama sehari penuh. Sebuah khayalan yang sangat menyenangkan dan ingin saya wujudkan untuk dia. Saya rasa teman saya ini yang sangat tabah, bijak memilih, dan sabar menghadapi setiap konsekuensi dari setiap pilihannya sangat pantas mendapatkan itu.

Advertisements

Sebelas Tahun dan Sepanjang Hayat

Saya dan suami menikah tanggal 8 November 2008 (8-11-8) yang kalau dijumlah sama dengan kelipatan 9 (ketahuan banget cinta mati sama HMS, haha). Tanggal 8 November kemarin adalah ulang tahun pernikahan kami yang ke-9 yang tidak dirayakan sama sekali. Tanggalnya jatuh di tengah minggu jadi hari itu berlalu seperti biasa dengan segala kesibukan pekerjaan di kantor, di rumah, dan membantu PR anak-anak.

Akhir pekan ini suami mengajak untuk liburan, alias leyeh-leyeh, di sebuah hotel di Jakarta. Kami senang sekali karena pemandangan di luar jendela kami adalah gedung-gedung tinggi yang memadati pusat kota Jakarta dan gedung apartemen tempat pengiring pengantin saya tinggal. Anak pertama saya yang sangat dekat dengan tantenya langsung mengenali gedung itu dan menanti-nantikan untuk bertemu hari ini.

Hari ini Sandra datang dengan kejutan. Dia tidak hanya membawa bakpau hadiah untuk anak saya yang pertama karena sudah berhasil mengerjakan tes Matematika soal perkalian dan bakpau berbentuk Totoro untuk anak saya yang kedua, tapi juga membawa hadiah untuk ulang tahun pernikahan kami (foto di awal post ini). Hadiahnya berupa foto selfie kami yang diambil dari FB, dipercantik dengan berbagai macam hiasan dan bunga yang dibentuk dari kertas daur ulang (intip IG: learteid ya untuk inspirasi aksesoris pemanis rumah), dan dibingkai dengan rapi. Tidak hanya itu, pengiring pengantin saya ini juga membuat beberapa bakpau yang dihias dengan tulisan nama kami dan selamat merayakan ulang tahun pernikahan.

Saya dan suami terharu banget sampai mata berkaca-kaca.

Persahabatan saya dengan Sandra dimulai tahun 2005, sekitar satu tahun sebelum saya berkenalan dengan suami. Kami dulu satu kos, satu kantor, dan setelah melalui pindah banyak kota dan banyak perjalanan hidup, kami tetap ada dalam hidup masing-masing. Dia yang membawa kedua cincin pernikahan kami ke altar. Namanya juga kami berikan sebagai nama tengah anak kami yang pertama. Satu hal yang membuat saya sangat mensyukuri pernikahan kami adalah adanya sahabat-sahabat, teman-teman yang ada dalam cerita kami sejak awal. Saya dan suami mulai pacaran tahun 2006 dan menikah tepat 2 tahun kemudian di tanggal kami jadian, artinya kami sudah saling mengenal satu sama lain selama 11 tahun dan menikah selama 9 tahun.

Benar kata pepatah, hari-hari terasa panjang namun tahun-tahun terasa pendek. Sebelas tahun lewat begitu saja padahal sudah banyak sekali yang terjadi. Jatuh cinta, mulai saling mengerti, bertengkar hebat, patah hati, saling mendukung, berjanji sehidup semati, sampai ada anak-anak yang dikaruniakan pada keluarga kami, semuanya telah dilalui selama sebelas tahun dan kami menantikan perjalanan panjang berikutnya di tahun-tahun mendatang.

Semuanya bukan karena kuat gagah kami; semua karena kasih karunia Tuhan. Terima kasih untuk mereka yang sudah dan masih mendoakan kami.

Untuk suami, terima kasih untuk sebelas tahun dan aku menantikan sepanjang hayat bersamamu.

SIQC 9

Waktu kami jadi MC di SIQC ke-9. Semua berawal dari sini.

 

20171111

Saya dan mereka sebelas tahun kemudian.

Menghadapi Orang yang Sulit

Apakah yang dimaksud dengan orang yang sulit?

Orang yang sulit adalah orang yang memiliki masalah dengan:

  1. pola pikirnya,
  2. cara merespon hal-hal di luar dirinya,
  3. cara dia berkomunikasi, dan
  4. relasinya dengan orang lain.

Seperti yang sudah kita ketahui bersama, manusia adalah makhluk sosial. Ia tidak dapat hidup sendiri; ia harus menjadi bagian dari sebuah kelompok tertentu. Sebagai anggota kelompok, ia harus tunduk pada aturan kelompok dalam hal berkomunikasi, bertingkah laku, berpendapat, dan lain sebagainya. Sebagai anggota kelompok, ia harus menjalankan nilai-nilai yang dituntut oleh kelompoknya.

Sebagai contoh: seorang anak adalah anggota dari sebuah kelompok yang dinamakan keluarga. Setiap keluarga memiliki nilai-nilai, cara komunikasi, dan cara pandang tertentu dalam menjalani kehidupan. Jika keluarga itu menganut nilai bahwa cara berbicara yang baik adalah dengan cara berbisik-bisik, maka anak yang berbicara dengan cara berteriak-teriak akan dianggap melanggar nilai kelompoknya. Keluarga di mana anak itu berada akan berusaha untuk meluruskan perilaku si anak supaya sesuai dengan nilai-nilai yang sudah disepakati bersama sebagai kelompok.

Seseorang yang hidup di tengah kehidupan masyarakat akan tergabung dalam beberapa kelompok sekaligus selama hidupnya, entah itu keluarga, sekolah, tempat kerja, lingkungan tempat tinggal, organisasi, dan lain sebagainya. Dia akan menghadapi kompleksitas nilai-nilai, cara komunikasi, dan cara pandang yang bisa berbeda-beda antara semua kelompok di mana dia tergabung. Dia harus cerdik melihat situasi dan memutuskan perilaku seperti apa yang bisa atau tidak bisa diterima oleh kelompoknya, dan perilaku seperti apa yang lumrah diaplikasikan untuk menghadapi suatu situasi.

Orang yang sulit tidak memiliki kemampuan ini. Masalah utama yang dimiliki orang yang sulit adalah pola pikirnya. Orang yang sulit biasanya memiliki prinsip bahwa dia adalah pusat dari segala sesuatu. Jika dia dirugikan, dia akan mencari segala cara untuk mengganti kerugian itu dan mencari pihak lain yang bisa disalahkan karena merugikan dirinya. Jika dia merugikan orang lain, dia akan mencari segala cara supaya dirinya aman dari kerugian. Emosinya yang gampang tersulut ditambah pola pikir seperti ini akan mempengaruhi cara dia berkomunikasi dengan sekitarnya. Oleh karena tujuan utama orang yang sulit adalah tercapainya kepentingan diri sendiri, dia tidak akan segan memutar-balik fakta dalam komunikasinya dengan orang lain supaya dirinya aman, tidak disalahkan, dan tidak dirugikan. Dia tidak akan segan menyangkal atau membumbui cerita supaya terlihat bahwa dia adalah pihak yang tidak bersalah yang harus diselamatkan. Hasil dari cara berkomunikasi seperti ini sudah bisa ditebak. Orang yang sulit tidak akan memiliki relasi yang baik dengan orang lain di sekitarnya. Ketidakmampuannya untuk menempatkan diri di posisi orang lain dan mencoba melihat suatu hal dari sudut pandang orang lain akan membuat hubungan sosialnya buruk karena dia akan dinilai sebagai orang yang tidak memiliki simpati/empati dan selalu mau menang sendiri. Dalam menghadapi suatu masalah, oang yang sulit tidak akan memikirkan solusi untuk kepentingan bersama; yang dia pikirkan adalah solusi yang paling menguntungkan dirinya sendiri.

Bagaimana menghadapi orang yang sulit?

Tanamkan dalam benak kita bahwa saat ini pepatah ‘Yang waras, ngalah’ sudah tidak tepat. Yang tepat adalah ‘Yang waras harus mempertahankan kewarasannya’. Biarkan pepatah itu melekat di kepala kita bahwa kita tidak akan mengalah dalam menghadapi orang yang sulit. Salah satu penyebab orang yang sulit tidak mudah berubah adalah karena kelompok/lingkungan tempat dia bernaung cenderung mengalah, enggan menegur dan mengingatkan dia supaya dia berubah. Keengganan itu timbul mungkin karena orang yang sulit sudah terlalu bebal untuk berubah, atau mungkin karena kelompok/lingkungan sudah tidak mempedulikan dia lagi (fakta yang sebenarnya menyedihkan). Dalam menghadapi orang yang sulit tanamkan di benak kita bahwa masing-masing pihak harus tahu pendapat dan sudut pandang pihak yang lain supaya bisa mencapai solusi yang menguntungkan semua pihak. Orang yang sulit akan berbicara berbelit-belit, melantur, memberikan jawaban yang tidak sesuai dengan pertanyaan, bahkan berbohong untuk menunjukkan bahwa dia adalah pihak yang selalu benar. Butuh kesabaran ekstra dari orang yang menghadapi orang yang sulit, tapi hal ini perlu dilakukan karena jika dibiarkan orang seperti ini lama-kelamaan akan menjadi duri dalam daging dalam kelompok.

Dalam menghadapi cara komunikasi yang cenderung serampangan dari orang yang sulit, ada baiknya orang yang waras menyiapkan hal berikut: rekaman percakapan dalam bentuk tulisan (isi chatting, SMS, dll.) dan lisan (rekaman percakapan telepon jika perlu). Hal ini bisa dipakai untuk membantah usaha orang yang sulit untuk memutar-balik fakta. Melibatkan orang yang mempunyai kekuasaan atau disegani dalam kelompok juga akan membantu menyelesaikan permasalahan yang kita miliki dengan orang yang sulit. Intinya adalah mempertahankan kewarasan dan bisa dimulai dengan cara yang sangat sederhana seperti: 1) tarik nafas dalam-dalam, 2) hitung sampai sepuluh, 3) ingat baik-baik perkataan yang kita keluarkan/hal yang kita perbuat yang bisa sewaktu-waktu dipakai untuk menyerang kredibilitas kita, dan 4) siapkan perkataan/tindakan bantahan yang didukung fakta.

Menghadapi orang yang sulit memang tidak mudah tapi tidak mustahil dilakukan. 

Kuatkan diri untuk menghadapi orang yang sulit hingga kita sadar kalau kesabaran kita sudah habis, hingga kita sampai di satu titik untuk mempertahankan diri kita sebagai orang yang waras, sedangkan pihak sana adalah orang yang sebaliknya.

 

 

 

Mamatomo: Saat Mama-mama Berteman

Kata mamatomo dibentuk dari 2 buah kata dasar, yaitu: mama dan tomo (kependekan dari tomodachi yang berarti teman dalam bahasa Jepang). Saya baru tahu istilah ini beberapa minggu lalu dari teman saya yang tinggal di Jepang, dan menurut saya istilah ini tepat untuk menggambarkan hubungan pertemanan yang muncul ketika kita sudah berkeluarga dan mempunyai anak-anak. Secara harafiah mamatomo berarti sekumpulan mama yang menjadi teman karena anak-anak mereka sudah lebih dulu berteman. Mamatomo terbentuk karena aspek kesamaan komunitas dan hubungan baik yang sudah dijalani duluan oleh anak-anak dari mama-mama tersebut.

Orang-orang yang tidak memiliki hubungan darah dengan kita menempati posisi berikut dalam hidup kita: orang asing (stranger), kenalan (acquaintance), teman (friend), sahabat (best friend), kemudian sahabat yang lebih akrab dibandingkan anggota keluarga sendiri. Langkah pertama dalam memiliki hubungan dengan orang lain adalah menjadi stranger dan kemudian acquaintance bagi mereka. Begitu kita ada di dalam komunitas/lingkungan pergaulan tertentu, stranger dan acquaintance adalah dua hal normal pertama yang akan kita temui. Untuk menjadi friend atau bahkan best friend diperlukan waktu dan usaha dari semua pihak yang terlibat. Pertemanan akan terjalin saat kedua belah pihak sama-sama meluangkan waktu untuk saling mengenal karakter dan kebiasaan masing-masing, dan juga bersedia menghabiskan waktu bersama-sama untuk suatu kegiatan yang sama-sama disukai. Waktu pula yang akan menguji apakah pertemanan itu akan langgeng begitu karakter dan kepribadian seseorang pelan-pelan terungkap di hadapan teman barunya. Mempunyai atau tidak mempunyai teman adalah sebuah pilihan.

Orang dewasa lebih sulit untuk memiliki teman baru dibandingkan anak-anak. Ini kenyataan hidup yang tidak bisa dipungkiri. Orang dewasa kenyang dengan pengalaman menyakiti/disakiti dan mengecewakan/dikecewakan oleh orang lain. Oleh karena itu orang dewasa cenderung lebih berhati-hati dalam membina suatu hubungan. Buat mama-mama, kecocokan dengan mama-mama lain diikuti dengan harapan akan ada kecocokan antara para suami dan anak, syukur-syukur kalau seluruh anggota keluarga bisa berteman. Teman-teman yang bertahun-tahun ada dalam hidup kita, dengan siapa kita merasa nyaman, biasanya adalah teman lama yang didapat di sekolah atau tempat kerja karena sempat ada frekuensi berinteraksi yang intens antara kita dengan mereka.

Mama adalah makhluk perempuan paling protektif dan defensif terhadap anak-anaknya. Mama memiliki peran dominan dalam  mendidik dan menanamkan nilai-nilai moral dan etika yang akan dianut oleh anak-anaknya. Jadi wajar saja jika mama sering kali menjadi filter untuk menentukan apakah anak-anak sedang terlibat dalam pergaulan yang baik atau yang buruk. Mama harus tahu teman dari anak-anak mereka, dan juga harus tahu orang tua dari teman-teman tersebut. Di sini mama bisa mengembangkan lingkup pergaulannya. Dari yang sekedar tahu, berinteraksi, banyak mengobrol, sampai akhirnya juga berteman dengan mama dari teman anak mereka. Itu idealnya. Ada juga kasus mama yang keberatan anaknya berteman dengan orang lain karena mungkin ada ketidaksesuaian tata krama, nilai moral dan etika, dan lain sebagainya. Jika ini terjadi, kecil kemungkinan mama akan menjalin pertemanan dengan orang tua dari anak tersebut.

Memiliki mamatomo memiliki tantangan tersendiri karena yang terlibat dalam pertemanan itu bukan hanya mama-mama tapi juga anak-anak. Mustahil menemukan orang dengan karakter dan nilai-nilai yang sama persis dengan kita. Bagaimanapun juga kita harus mempunyai sikap menerima dan toleransi terhadap orang lain, seperti orang lain menerima dan bertoleransi terhadap kita. Misal Mama A selalu membuang sampah pada tempatnya, namun Mama B sering membuang tissue di lantai saat mereka makan bersama. Ketidakcocokan seperti ini bisa berujung kepada empat hal:

1) Mama A menggunjingkan kebiasaaan jelek Mama B dengan mama-mama lain tanpa sepengetahuan Mama B.

2) Mama A menegur langsung Mama B, Mama B tidak terima, dan akhirnya mereka putus pertemanan.

3) Mama A menegur langsung Mama B, Mama B terima dan mengubah perilakunya, mereka berdua tetap berteman.

4) Mama A hanya menyimpan ketidaksukaannya dalam hati, namun secara tidak sadar mempengaruhi anaknya untuk menjauhi anak Mama B karena khawatir anak Mama B juga memiliki kebiasaan buruk itu.

Tantangan bagi mamatomo adalah memisahkan konteks pertemanan anak mereka dengan konteks pertemanan mereka sendiri. Jika misalnya anak-anak bertengkar karena berbeda pendapat, pantaskah mama-mama ikut campur untuk ikut berdebat? Anak-anak adalah individu sendiri yang wajib menyelesaikan masalahnya sendiri. Sikap mama to the rescue hanya akan membuat anak tidak mandiri dalam mempertahankan pendapatnya dan dalam menyelesaikan konflik. Yang penting di sini adalah mama-mama untuk menahan diri, tidak bersikap subjektif terhadap teman si anak, bersikap rendah hati dan terbuka untuk menerima koreksi terhadap kepribadian si anak, tega membiarkan anaknya memiliki dan menghadapi konflik tanpa bantuan orang tua. Kalau mama-mama tidak menahan diri, konflik antar anak bisa melebar kepada konflik antar mama. Perselisihan menjadi lebih runcing dan solusi sulit didapat karena mama-mama cenderung sangat membela anaknya sendiri, menganggap anaknya paling benar dan menganggap anak orang lain paling salah.

Bagaimana jika mama-mama yang bertengkar? Ini lebih pelik karena mama-mama cenderung mau dibela oleh anaknya. Mereka mungkin tidak mengatakan terus-terang kalau mereka sedang ada masalah dengan teman mereka, namun biasanya secara tidak sadar/sadar mereka akan mempengaruhi anak mereka untuk ikut membela mereka. Mama jadi sulit untuk tetap bersikap objektif terhadap teman anak mereka kalau mama punya sikap “it’s us against them”, sebuah sikap yang tidak sehat untuk menjalin pertemanan yang langgeng. Ingatlah mama-mama, anakmu bukan kamu. Jika kamu tidak cocok dengan temanmu, tidak berarti anakmu juga tidak cocok dengan anak temanmu. Mengajari anakmu untuk menjauhi temannya hanya karena kamu berselisih dengan orang tua anak itu, hanya akan memberi teladan yang buruk bahwa mama tidak bisa mengelola emosi, mengkarantina masalah, dan menyelesaikan konflik.

Tentu saja, semua hal yang saya sebut di atas jauh lebih mudah ditulis daripada dilakukan. Hal mendasar dalam pertemanan adalah fairness and respect, keadilan dan rasa hormat. Keadilan membuat mama bisa tetap ingat kalau masalah yang dia hadapi bukanlah masalah yang anaknya hadapi. Rasa hormat membuat mama bisa tetap menghargai orang yang sedang tidak dia sukai sebagai manusia yang punya sudut pandang dan pendapat lain, yang mungkin sering kali tidak cocok dengan sudut pandang dan pendapat yang dia sendiri miliki. Sama halnya jika terjadi perselisihan di antara anak-anak, mama-mama perlu menekankan kepada anak-anak untuk tetap memiliki fairness and respect itu. Jadilah pendengar jika anak ingin berkeluh-kesah akan masalahnya, beri pendapat jika diminta, tahan diri untuk tidak cepat mengkritik pihak sana. It takes two to tango, dalam semua problem ada dua pihak yang berkontribusi untuk menciptakan (dan juga mengakhiri) konflik. Jadilah sumber air yang mendinginkan kepala yang panas dan memulihkan hati yang terluka bagi anak-anak. Di situlah mama-mama bisa membuktikan tingkat kedewasaan yang kelak harus dimiliki oleh anak-anak seiring dengan mereka beranjak dewasa.

Sekalipun mama/anak memutuskan untuk tidak menyukai atau tidak berteman lagi dengan mama/anak lain, itu tidak apa-apa. Kita diciptakan tidak untuk berteman dengan semua orang. Sama halnya dengan frekuensi radio, kadang kita menemukan orang yang frekuensinya sama atau kadang kita menemukan orang yang frekuensinya berbeda sama sekali dengan kita. Tidak apa-apa jika tidak nyambung; berteman adalah pilihan dan tidak bisa dipaksakan. Nikmati pertemanan dengan orang-orang yang punya banyak kesamaan dengan kita, bersikap ramahlah terhadap orang-orang yang tidak cocok dengan kita.

Oleh-oleh dari Luar Negeri

Ciri khas orang Indonesia kalau ada teman/keluarga/handai taulan yang mau ke luar negeri pasti yang pertama diminta adalah oleh-oleh, bukan mengucapkan selamat bersenang-senang. Saya pernah tinggal di luar negeri dan sering melancong ke tempat lain selama di sana. Ga ada teman-teman/keluarga di sana yang langsung nodong oleh-oleh kayak di Indonesia, dengan ga mempedulikan apakah si teman/keluarga/handai taulan itu ke luar negeri buat kerja (meeting/conference) dengan waktu terbatas, bukan buat plesir (padahal waktu terbatas juga). Permintaan buat tidak lupa bawain oleh-oleh kadang bisa diulang-ulang berkali-kali. Cilakanya banyak yang klaim kalau oleh-oleh juga diminta oleh orang lain. Contohnya: jangan lupa ya beli gantungan kunci buat si Tante X, dia kan sering kirim kue waktu kamu kuliah. Padahal si Tante X mah boro-boro tahu kalau kita mau pergi dan ga pernah bilang pengen oleh-oleh dari kita.

 

Kenapa orang yang bepergian pulang ke negaranya membawa oleh-oleh?

 

1. Karena dia mengingat orang-orang dekatnya dan ingin membawa kenang-kenangan.

Saya pernah denger ada yang ngomong gini: cih bawa oleh-oleh buat pamer kalo udah pernah ke luar negeri. Kalau saya berpikiran positif, bawa oleh-oleh karena ingin berbagi. Kadang oleh-oleh yang dibawa juga kecil, simpel, dan general, kayak gantungan kunci dan tempelan magnet kulkas. Kadang lebih spesifik kalau ingat orang tertentu yang misalnya demen banget sama makanan khas dari satu negara. Motivasi dari alasan pertama ini adalah karena adanya hubungan dekat dengan si penerima oleh-oleh. Kita bersaudara, bersahabat, bertetangga, berelasi kerja, makanya saya ingat kamu dan ingin bawain sesuatu buat kamu. Yang perlu diingat di sini, perasaan dekat itu kadang tidak berbalas. Tidak apa-apa kalau orang yang kita rasa dekat, ternyata tidak merasakan kedekatan yang sama. Itu normal dan manusiawi. Makanya jangan pernah berharap kita akan menerima balasan dari orang yang pernah kita beri oleh-oleh. Kalau motivasi awalnya udah mengharapkan pamrih gitu, mending ga usah ngasih sekalian. Dan kalaupun oleh-oleh kita dibalas, ga usah menaksir-naksir apakah nilai oleh-oleh dia lebih besar/lebih kecil dari oleh-oleh yang kita pernah kasih. Buat apa menyimpan buku “utang-piutang”, saya udah kasih sekian ke si X makanya saya harus menerima persis sekian balasan dari dia.

2. Karena dititipin.

  1. Dititipin spesifik barang apa dan uang untuk membelinya.

Yang kayak gini namanya tahu diri. Ada yang nitip karena barang itu ga ada di Indonesia, atau udah lama ngincer barang yang cuma ada/ternyata lebih murah di luar negeri. Saya mah ga keberatan dititipin gini asal jelas barang apa, nyarinya di mana. Lebih seneng lagi kalau dititipin uangnya, karena ke luar negeri/ke daerah di luar tempat tinggal saya sehari-hari pasti membuat saya punya dua buah keterbatasan: waktu dan biaya. Waktu kita di luar negeri pasti terbatas karena kita sudah punya rencana duluan. Kalau nitip perlu diingat orang yang dititipin itu punya keperluan lain, entah dia mau meeting/conference/kerja/jalan-jalan/bersantai, dll. Dia bukan jasa kurir yang spesifik nyariin barang titipan. Kalau mau yang barang langsung nyampe di rumah setelah dipesan, mending belanja online aja (walaupun artinya mesti impor). Meskipun si penitip udah jelas bilang barang bisa ditemuin di toko mana, orang yang dititipin harus keluar usaha ekstra lho buat nyari lokasi, nyari dan bayar transport ke toko itu, dan bawa-bawa barang titipan (dari toko, ke hotel, ke bandara, belum lagi kalau ganti-ganti moda trasportasi selama di negara wisata). Belum lagi urusan kalau diperiksa sama bea cukai di bandara Soetta. Kalau udah tahu bakal repot begini, sewajarnya orang yang nitip juga ngasih uang buat beli ya. Kan bisa cek kurs dulu kira-kira harga barang berapa kalau dalam Rupiah. Jangan udah ngerepotin buat nyari barang titipan, minta ditalangin dulu pula. Alamak! Dan walaupun udah nitip uang, ingat juga kalau barang baru dibeli kalau si pelancong punya waktu buat nyari dan beli. Jadi jangan ngambek kalau ternyata waktu terbatas dan barang titipan ga sempat dibeli.

      2. Dititipin barang ga spesifik dan ga dititipin uang untuk beli.

Minta barangnya terserah apa aja, ga spesifik merk apa dan tipe apa. Sering kali cuma bilang, pokoknya baju. Terus pas kita WA mau baju kayak apa, keluar tuh syarat-syarat kayak: baju Hard Rock Café ya, tapi harganya di bawah 200 ribu, jangan berkerah V, harus warna gelap karena tar gue keliatan gendut pake warna terang, dan sejuta syarat lainnya. Bah yang model gini bikin kening saya berkerut. Udah kita sengaja meluangkan waktu buat nyari titipan, mesti pula live consulting pas mau beli (yang artinya mesti cari Wifi/pake roaming), kalo ga si penitip bakal ngomel karena barang yang dibeli ga sesuai dengan keinginan. Terus mesti nalangin dulu dengan uang sendiri karena si penitip ga kasih modal. Saya lagi-lagi pasti nyaranin, beli online aja. Jangan ngerepotin yang dititipin dalam hal waktu, biaya, dan kerepotan ekstra. Saya paling ga mau dititipin kayak tas/sepatu. Kalo barangnya ternyata ga ada, saya mesti diskusi panjang-lebar tentang seberapa bagusnya barang substitusi barang yang diincer pertama kali. Belum lagi kotak pembungkus tas dan sepatu kan besar dan makan tempat. Diskusi satu barang titipan aja bisa tiga puluh menit sendiri. Gimana kalau yang nitip lebih dari satu orang, atau satu orang nitip lebih dari satu barang? Kasihan sama teman kita bepergian yang jadi ikut nungguin.

 

Mendingan ubah pola pikir. Orang lain ke luar negeri? Yeay, bagus dong, semoga mereka bisa bersenang-senang di sana. Ga perlu minta oleh-oleh. Kalau dikasih, bersyukur karena udah diperhatikan. Balaslah saat kita sendiri ada kesempatan untuk membalas perhatiannya. Kalau engga dikasih oleh-oleh, ga usah merajuk, mengeluh sampe mengungkit-ungkit di grup WA. Menyedihkan banget deh. Kalau segitu pengennya oleh-oleh dari luar negeri, mendingan belanja aja ke Tanah Abang di pusat Jakarta. Di sana dijual lho segala macem suvenir kecil dari berbagai negara. Gantungan kunci, magnet kulkas, sendok hias, bola salju, jam dinding, kaos, semua ada! Apa sih yang ga ada di Indonesia? Sama-sama buatan China, dan harganya jelas lebih murah dari yang dijual di luar negeri. Lokasi Tanah Abang juga ga susah dicari. Kalau segitu ngebetnya pengen menuhin itu kulkas di rumah pake magnet, beli segepok deh di Tanah Abang yang pake tulisan mulai dari New Zealand sampe Iceland. Terus kalau ada tamu datang ke rumah dan tanya, “Wah baru ke luar negeri ya?” Mesem-mesemlah dikit terus jawablah dengan suara merendah, “Oh enggak, semua ini oleh-oleh.”

Beres kan?

Why Do You Stay Single?

“Why do you stay single?”

 

Nosy society 

This is one of the most intimidating questions existing on planet earth. This kind of question piques people’s curiosity regardless whatever the answers are. And a single answer will be followed by bombarded sequential questions. Why, why, and why? People are just never tired of being curious. Being single starts to feel like social “curse” when one is in their late 20s or early 30s. Especially in Indonesia where one’s issue is everybody’s issue, and where family (and other social groups) gatherings are common and often. The question pops up too many times. Why do you stay single? You’re smart (or rich, or educated, or whatever), but why can’t you find someone to be with? As if to get into a relationship is the easiest thing to do. And if one doesn’t give straight answer why he is still single, people around him will make up the answers for him. You shouldn’t be too choosy; nobody’s perfect. You should go out and make new friends. You might find a spouse from one of those new communities you’re entering. Do you want me to introduce you to someone? What’s your criteria? One might smile at these naggings, or exit the social groups altogether to keep some inner peace.

 

The Concept of Having to Find THE ONE

This is one-million-dollar question that intrigues me since I was a teenager. Is spouse predestined or a result of choice? I’ve read and observed in many cultures that predestination is used for the base of marriage. Two people meet and get married because they’re predestined for each other; because they’re meant to be with each other. Confusion arises when divorce and death happen. Can there be one or more persons predestined for one person? The Greek says about man trying his whole life to find his other half, who’s separated from him due to the wrath of the gods. Other cultures say about our soulmate is engraved on the palm lines of our hand. Human ages and skin wrinkles. I can say that a soulmate claim based on palm lines is a bit invalid.

These dogmas lead human to always try to find THE ONE. The one that’s a part of him; the one who will complete him; the one who is a perfect match for him. And if that ONE hasn’t been found yet, what does it mean? Should he be looking in another place? Should he be waiting a little bit longer (until when)? Should he just give up the idea of finding that ONE?

But what if THE ONE is not predestined but chosen by the people involved in a relationship? Man chooses to be with someone despite of (or because of, or whatever) something. This will explain when break-up happens along the way. The people just choose not to be together any longer (be it in a dating or a married relationship). I’m more inclined to say that marriage is a result of choice, instead of predestination. It is a hard work that one commits to, that man will undergo until death separates him and his spouse. This means he’s completely aware of what he’s getting into, of what kind of ups and downs he’ll be experiencing, and of how to manage his expectations.

 

Difference and Uncertainty

I am now married and I personally believe that it is not good for someone to be alone. I believe in getting married and growing old with a spouse. But I accept that people remain single for many reasons, and for private justification. Some remain single for religious reason and emotional reason (personal trauma, unwillingness to have children, etc.), and others remain single because they are choosy. I think people are entitled to be choosy when it comes to selecting a partner for life.

Many times society judges the readiness of marriage based on one’s age, career stability, the need to continue the family line, and so on, and so forth. It is likely that a person is more stable, character and financial-wise, as he gets older. When one has been independent enough and is okay to have himself as a company, it will be harder to get into a relationship.

These two questions might stay at the back of one’s head:

  1. How can I handle the differences I have with my future partner? I’m good by myself. Why would I waste my time and energy trying to bridge the differences we have? If the love and commitment are not enough, there will be break-up.
  2. How can I be certain that I will end up marrying her? Why would I be emotionally and physically invested in that person, if at the end of the day we decide not to get married? It will feel like, again, a waste of time and energy.

 

Some single people I’m close with deal with these conflicting thoughts all the time. They don’t want to be alone for the rest of their lives, but they’re reluctant to take that leap of faith. Eventually they just shut off themselves and stop looking, but they never stop hoping and waiting!

I think it’s a personal choice to be single or to be married. Even in this era, marriage is not something we take lightly. We still aim for a lifetime commitment and companionship, and I can understand why my friends are cautious when getting into a relationship, that might eventually lead to marriage.

A question that always breaks my heart whenever I hear it is ‘Will I ever find someone?’. I will solemnly answer him/her, “I do not know, but I hope you will. Don’t lose your faith. Don’t listen to people who keep asking the same question. The only person you need to answer to is yourself.”

Letakkanlah Barang Pada Tempatnya!

Awal dari peristiwa ini adalah keberangkatan suami saya ke Surabaya dengan pesawat sore pada hari Selasa lalu. Pagi hari dia berangkat ke kantor seperti biasa dan pulang ke rumah sekitar pukul 1 siang. Hati girang bukan kepalang, jarang-jarang suami pulang siang. Ya kan?? Kami berdua pun masak dan makan siang bersama sampai taksi yang akan mengantar ke bandara datang pada pukul 2. Mobil suami diparkir melintang di depan carport dan menghalangi akses keluar masuk mobil saya yang sudah diparkir duluan di dalam carport. Posisi kedua mobil kurang lebih seperti ini (abaikan bantal-guling yang sedang dijemur ya, hehe):

Saturday Morning

Pada pukul 3 sore saya hendak menjemput anak-anak dari sekolah dan saya baru sadar kalau kunci mobil suami tidak tergantung di tempat biasa. Di manakah tempat biasa itu? Di gantungan berwarna coklat dan berdesain meriah yang dipaku di dinding yang hanya berjarak kurang-lebih 1 meter dari pintu depan rumah. Saya mulai panik, apa kunci mobil dia terselip di suatu tempat (kan susah ketemunya karena kunci tidak bisa di-missed call), atau jangan-jangan masih berada di saku bajunya dan jadi terbawa ke Surabaya? Saya coba telepon suami sambil jalan kaki ke sekolah di bawah cuaca terik dan gerah (untung jarak rumah ke sekolah dengan berjalan kaki cuma sekitar 7 menit kalau berjalan sendiri). Telepon tidak ada nada panggil, telepon tidak aktif, dll. sampai akhirnya telepon tersambung dan suami mengakui kalau kunci mobil masih ada di dalam tas kerjanya yang dia bawa ke Surabaya.

Saya ga tahu harus marah atau ketawa. Pertama, mobilitas di perumahan dan sekitar perumahan untuk aktivitas sekolah/les/belanja itu hampir mustahil dilakukan kalau tidak ada kendaraan pribadi. Sekolah memang terletak dekat dengan rumah (bisa ditempuh dengan 2 menit nyetir atau 7 menit jalan kaki) sehingga saya masih agak lega walau kedua mobil tidak bisa dipakai. Namun masalah timbul jika saya mau pergi  ke tempat lain (les/belanja makanan) dengan angkot. Akses ke angkot: jalan kaki 2 kilometer dari rumah (one way), itupun angkot tidak bisa mengantar sampai tempat les Taekwondo yang letaknya kurang-lebih 6 kilometer dari rumah saya. Kedua, gara-gara posisi mobil suami yang melintang, akibatnya mobil saya ikut-ikutan jadi tidak bisa dipakai padahal kuncinya ada. Suami saya pun berjanji akan menghubungi pihak rental mobil untuk mengantarkan kunci serep, tapi sementara itu anak saya ada les renang pukul 4.15 dan baju & kacamata renangnya ada di dalam mobil suami!

Bukan orang Indonesia kalau tidak bisa mengucap syukur dalam keadaan kritis. Untung tiket masuk kolam renang sudah saya masukkan ke dalam dompet saya hari Minggu lalu. Untung anak saya ada baju renang cadangan. Untung flippers dan pelampung yang wajib dipakai saat les ternyata ada di dalam mobil saya dan bisa diambil. Kurang satu nih, kacamata renang. Untung ada tetangga/teman sekelas anak yang mau meminjamkan kacamata renang miliknya. Untung juga kolam renang terletak hanya kurang-lebih 1.5 kilometer dari rumah saya. Waktu pulang sekolah kami perlu waktu hampir 20 menit untuk berjalan pulang karena kedua anak saya yang sibuk mampir di setiap pekarangan rumah yang kami lewati (untuk mengomentari hewan peliharaan atau bunga), jadi saya cukup menghela nafas berusaha sabar saat kami perlu waktu sekitar 25 menit untuk berjalan dari rumah ke kolam renang bersama anak tetangga kami yang juga ikut les. Memang berjalan kaki dengan 3 anak aktif itu banyak mampirnya!

Oya, untung berikutnya adalah saat tetangga saya datang menjemput ke kolam renang seusai les dan kami bisa nebeng mobilnya. Yang ini untung banget karena anak ke-2 mulai kelihatan ngantuk dan mustahil saya menggendong dia sambil membawa 2 pasang flippers, 2 pelampung, dan 1 ransel besar. Setelah itu muncul deretan hal yang membuat saya terharu. Hal yang mengharukan pertama adalah saat si tetangga baik hati menawarkan saya untuk memakai mobilnya untuk mobilitas selama suami (dan kunci mobil suami) masih berada di Surabaya (4 hari). Hal yang mengharukan kedua adalah saat satu teman yang saya batal temui untuk ngopi bareng karena saya tidak ada kendaraan, langsung memberitahu kondisi saya di Kakaotalk Group Taekwondo sehingga saya bisa nebeng salah satu senior kalau mau pergi ke dojang pada hari Rabu pagi.

Puncak dari semua ucapan “untung” itu adalah saat orang dari rental mobil suami datang ke rumah pukul 8 malam membawa kunci serep mobil. Mobil saya dikeluarkan dari carport dan sebagai gantinya mobil suami dimasukkan ke dalam carport, tak lupa saya mengeluarkan semua keperluan renang anak-anak dari mobil tak berkunci tersebut. Waktu saya minta supaya kunci serep ditinggal di rumah saya, pihak rental mobil menolak. Ternyata di dalam polis asuransi yang mereka ikuti ada klausul bahwa dua buah kunci mobil (1 utama dan 1 cadangan) tidak boleh berada di tangan satu pihak saja untuk mencegah kemungkinan terjadinya persekongkolan yang mengarah pada peristiwa hilangnya mobil. Wih, saya tidak menyangka ada klausul seperti itu, tapi alasan pihak asuransi masuk akal juga ya.

Dua hal yang saya pelajari dari peristiwa ini adalah:

  1. Pertolongan Tuhan tepat pada waktunya dan tidak pernah terlambat.

Mulai hari Selasa malam Cikarang diguyur hujan lebat dan non-stop, dimana hujan berlanjut sepanjang hari Rabu sampai hari Kamis siang. Saya bisa bayangkan kalau mobil saya tidak bisa dikeluarkan bagaimana repotnya saya dan anak-anak beraktivitas normal seperti pergi ke sekolah, tempat les, belanja, dll. dengan berjalan kaki di tengah guyuran hujan. Iya, iya, sejak kembali ke Indonesia tahun 2012 badan saya jadi manja dan malas berjalan kaki; ke Indomaret aja harus pakai mobil, haha.

  1. Letakkanlah barang pada tempatnya!

Semua orang di rumah kami sudah tahu kalau gantungan kunci yang ada di awal post ini adalah tempat menggantungkan: 1) kunci rumah, 2) kunci mobil, 3) ID card/Library card, 4) senter, dan 5) USB flash drive. Kami berempat tahu itu, kami berempat selalu ingat hal itu sampai hari Selasa siang suami saya lupa untuk pertama kalinya. Untunglah (lagi) dia langsung sigap mencari bantuan, dan untunglah (lagi-lagi) mood saya sedang relatif bagus sehingga saya tidak marah-marah berlebihan. Saya ada sih cerita/komplain sama teman-teman dekat dan ujung-ujungnya kami semua ketawa karena ya elah kan konyol banget kunci mobil bisa terbawa sampai ke Surabaya! Jadi ingat ya, letakkanlah barang pada tempatnya (tempat semestinya, tempat seperti biasanya, you name it), entah itu kunci mobil, sampah, ataupun mantan pacar. Hehe.