21.3.21: Book Launching “The Cringe Stories”

Hari ini adalah hari bersejarah di dalam perjalanan saya sebagai seorang penulis. Selain karena tanggal cantik (21.3.21, teuteup ya, bok), hari ini saya mengadakan book launching untuk buku saya yang terbaru, kumpulan cerpen saya yang pertama di dalam bahasa Indonesia, yang saya persembahkan untuk ketiga anak saya.

The Cringe Stories.

Buku ini diterbitkan pada bulan Oktober tahun 2020 dan sudah dicetak kedua kali pada akhir bulan Januari tahun 2021. Book launching kali ini didukung oleh tak lain dan tak bukan Kelas Literasi Ibu Profesional (KLIP), sebuah komunitas yang bergerak di bidang literasi dan yang menjadi tempat saya mengembangkan diri sebagai penulis sejak bulan Januari tahun 2020.

Terakhir kali saya mengadakan book launching adalah pada tanggal 8 April 2017 di Gramedia Central Park Mall, Jakarta, untuk buku saya yang pertama: “Randomness Inside My Head” (2016). Book launching ketika itu berlangsung secara fisik dengan para undangan yang datang ke tempat, sungguh sangat berbeda dengan book launching di masa pandemi seperti sekarang yang dilangsungkan secara visual.

Persiapan untuk kedua book launching dimulai sejak sebulan sebelum tanggal acara. Empat tahun lalu saya dibantu oleh sebuah management company untuk urusan mencari sponsor, humas, dan menyebarkan undangan. Agenda book launching saat itu adalah bedah buku, peluncuran Creative Writing Workshop untuk sekolah-sekolah di Jabodetabek, dan kompetisi Read Out Loud satu bagian dari buku “Randomness Inside My Head”. Yang diundang adalah para siswa SMP dan SMA se-Jabodetabek, sebuah target market yang cukup besar.

Agenda book launching untuk “The Cringe Stories” ada tiga juga, yaitu:

  1. Perkenalan profil saya sebagai penulis.
  2. Bedah buku bersama 3 narasumber, para pengulas pertama dari buku ini, yaitu Mbak Shanty, Lendy, dan Dian K.
  3. Door prize yang berhadiah buku “The Cringe Stories” dan buku saya yang akan terbit selanjutnya yaitu “Crazy Sick 2020”.

Hal pertama yang saya siapkan adalah host. Pada awal bulan Februari saya dan suami sedang mengobrol ngalor-ngidul dan tiba-tiba saya kesambet ide untuk mengadakan peluncuran buku. Saya bilang kepada suami, seharusnya book launching di masa sekarang berjalan lebih mudah karena kita semua tidak terhalang lagi oleh jarak. Selama ada informasi yang tepat mengenai acara, konektivitas internet, dan ketersediaan waktu dari para audiens, maka acara dapat dilangsungkan tanpa kendala.

Seperti telah saya duga, kakak kembar saya yaitu Kak Dwi langsung menyanggupi sebagai host. Ini yang saya suka setiap kali bekerja sama dengan Kak Dwi: orangnya tak pernah gentar menerima tantangan baru.

Sejak tahun lalu, sejak kami dan teman-teman lain mendirikan Drakor Class, sudah tak terhitung berapa kali Kak Dwi didapuk menjadi host di berbagai event kami dan juga event KLIP. Menjadi host untuk book launching akan menjadi pengalamannya yang pertama, tapi Kak Dwi dengan percaya diri mengambil pekerjaan ini. Terima kasih banyak, Kakak.

Setelah itu saya mem-forward beberapa contoh virtual book launch yang ada di Youtube dan flyer promosi dari acara book launching buku “Randomness Inside My Head” empat tahun lalu ke Kak Dwi. Selain bertugas sebagai host, Kak Dwi akan menangani pembuatan flyer. Dirinya memang jago mengutak-atik Canva, jadi saya pikir ruang lingkup pekerjaan ini sudah cocok dengan passion yang dia miliki.

Bagaimana dengan sponsor? Dari awal saya sudah berniat menggandeng KLIP untuk melangsungkan acara ini karena buku “The Cringe Stories” adalah buku yang saya tulis tahun lalu sejak bergabung dengan KLIP. Kesembilan cerita di dalamnya adalah kumpulan tulisan fiksi yang saya pilih dari total 272 setoran harian selama bergabung dengan KLIP pada tahun 2020.

Wah, 272 tulisan dalam setahun? Terlihat sangat banyak ya, tapi waktu menjalaninya hari demi hari rasanya mudah. Memang KLIP sangat berhasil dalam membentuk kebiasaan saya menulis hampir setiap hari dan membuat saya berkompetisi dengan diri sendiri untuk selalu mengalahkan personal best.

Sejak bangun pagi pada Hari-H saya sudah merasa sangat gugup. Perut terasa sangat melilit, nafsu makan tidak ada, dan kepala pusing. Padahal saya sudah terbiasa berbicara di depan umum, tapi entah kenapa saya khawatir sekali acara berjalan tidak lancar walaupun semua persiapan sudah dituntaskan.

Akhirnya setelah makan siang saya memutuskan untuk tidur sejenak. Saya bilang ke anak yang sulung untuk membangunkan saya ketika alarm HP berbunyi, sekitar 1 jam kemudian. Tak disangka saya terbangun pukul 14.07 dengan keadaan panik dan grogi. Studio di Streamyard akan dibuka pada pukul 14.30, saya bakal terlambat, pikir saya.

Ternyata suami dan anak-anak mengira acara book launching akan dimulai pukul 16.00. Haduh, perasaan kepepet begini sama seperti empat tahun lalu. Ketika itu kami terjebak kemacetan dalam perjalanan dari rumah ke Central Park Mall yang berjarak sekitar 70 km dari rumah sekali jalan. Acara akan dimulai pukul 15.00 dan kami baru tiba di lobi mal pada pukul 14.40. Karena memakai jasa valet, sandal si Abang sempat hilang. Walhasil suami dan anak-anak melipir dulu ke toko Crocs untuk membeli sandal baru.

Yang saya syukuri adalah dukungan keluarga untuk acara book launching ini. Mereka mencoba mencerahkan mood saya dengan memberikan kue syukuran peluncuran buku “The Cringe Stories”. Rasanya saya tidak sanggup makan, tapi anak-anak langsung menyambar hiasan cokelat yang terpampang. Kuenya memang enak sekali sih, sudah ludes dalam waktu kurang dari 24 jam.

Maafkan saya, para audiens ketika itu, kalau saya terlihat ngos-ngosan dan salah tingkah. Demam panggung seperti itu jarang-jarang saya alami, tapi begitu sekali menyerang, butuh waktu cukup lama untuk membaik. Walaupun saya berada di ruang tamu yang ber-AC, baju saya basah kuyup oleh keringat karena saking gugupnya. Untungnya BB Cream yang saya gunakan (ternyata masih punya BB Cream dan sedikit lipstick setelah 1 tahun tidak ber-make up) membuat wajah saya tetap terlihat rapi di depan kamera.

Kak Dwi sebagai host yang selalu bisa diandalkan membuka acara dengan santai dan mengajak saya mengobrol seperti biasanya. Yang agak berbeda hanyalah kecepatan bicara dan suara tawa membaha yang biasanya ada di antara kami setiap kali kami berbincang-bincang seru.  

Di awal acara Kak Dwi membacakan profil saya, sedikit tentang latar belakang pendidikan, pekerjaan sekarang, dan buku-buku yang sudah ditulis. Setelah itu saya sharing sedikit tentang kesibukan saya sebagai ibu rumah tangga yang mengurus keluarga dengan 3 anak, rumah, dan bengkel untuk membuat furnitur. Saya juga bercerita bahwa saat ini saya les piano, bahasa Korea, dan muay thai, selain tentu saja sibuk menulis dan menghasilkan buku-buku.

Kak Dwi menunjukkan wajah terkejut dengan segudang kesibukan saya dan saya sudah biasa melihat ekspresi seperti itu dari orang yang mengobrol dengan saya. Saya membagi tips bagaimana mengelola waktu sehari-hari yaitu dengan membagi 24 jam menjadi part kecil berdurasi 15 menit.

Dengan part waktu yang lebih kecil saya menjadi lebih cepat bekerja dan lebih fokus karena yang mau dikerjakan sangat banyak dalam waktu yang sangat terbatas. Saya juga tidak berlama-lama mengambil keputusan karena setiap detik rasanya seperti berpacu dengan checklist yang harus diselesaikan. Jika saya terlihat sedang aktif di media sosial, maka itu berarti semua tanggung jawab saya yang lain sudah selesai dan saya memiliki waktu luang.

Kak Dwi kemudian bertanya tentang bagaimana saya memulai menulis. Saya menceritakan kembali tentang wali kelas saya di kelas 1 SD yang mendapati saya berbohong. Alih-alih memarahi saya, beliau memanggil Bapak saya untuk kemudian memperkenalkan saya pada perpustakaan sekolah. Jadi daripada berbohong tanpa arah, lebih baik “berbohong” dalam bentuk tulisan fiksi. Tuangkan khayalan itu dalam sebuah bentuk yang bisa menghibur orang lain. Fiksi adalah kebohongan yang bisa dimaklumi, kurang lebih begitu yang saya ingat dari ibu guru tersebut.

Untuk teman-teman yang berprofesi sebagai guru, kamu tidak pernah tahu bagaimana tindakan kecilmu dapat mengubah hidup muridmu secara drastis. Jika ketika itu saya dimarahi habis-habisan, maka yang saya ingat dari masa itu mungkin hanya rasa malu dan (mungkin) kapok. Yang ibu guru lakukan justru mendidik dan mengarahkan saya ke jalan yang benar, dan hasil baiknya baru terlihat sekarang. Tiga puluh dua tahun kemudian.

Walhasil seiring dengan mulai terbentuknya kebiasaan saya membaca, kebiasaan saya menulis (terutama cerpen) pun terbentuk. Buku-buku yang pertama-tama diberikan kepada saya untuk saya baca adalah tentang hewan. Dari situ saya belajar tentang attention to detail, dengan mengamati bagaimana dari satu hewan saja bisa terurai banyak aspek yang membuat satu buku memiliki ketebalan minimal 20 halaman.

Pembekalan ini dilanjutkan ketika saya menempuh pendidikan di SMP yang berada di bawah naungan yayasan yang sama. Di sekolah itu saya memiliki 2 guru Bahasa Indonesia dan 3 guru Bahasa Inggris. Pelajaran kesusastraan dalam kedua bahasa berlangsung dengan seimbang. Pada kedua pelajaran bahasa saya disuruh membaca dan membuat resensi dari banyak sekali buku yang tidak bisa saya ingat satu per satu, terutama buku-buku dari para penulis klasik.

Satu hal yang saya sadari bertahun-tahun kemudian adalah bagaimana membuat resensi adalah latihan untuk menganalisa empat elemen utama dalam menulis kreatif. Di dalam resensi saya harus mengenali siapa saja karakter di dalam cerita, setting waktu dan tempat, alur, dan akhir cerita. Ini menjadi bekal saya untuk membuat kerangka cerita ketika ide dan imajinasi sedang tidak bisa mengalir lancar.

Kemampuan menulis saya saat ini adalah hasil mengumpulkan bekal selama bertahun-tahun. Tidak ada ilmu yang sia-sia, tidak ada perjalanan yang tidak membuahkan hasil. Bahkan pada tahun-tahun saya tidak menulis, saya melatih hal lain, yaitu kepekaan terhadap manusia dan lingkungan di sekitar saya yang multidimensi dan multiaspek.

Di dalam acara bedah buku, saya berbincang-bincang dengan para narasumber tentang cerita-cerita yang menjadi favorit mereka. Saya juga membagikan sumber inspirasi dari beberapa cerita, seperti misalnya cerita “Gendut” yang “menyambet” saya ketika saya sedang makan donat (tipe Boston dari Dunkin Donuts yang enak banget. Catet).

Ada juga cerita “Cermin” yang menginspirasi saya ketika saya sedang bengong menunggu giliran potong rambut di sebuah salon. Atau cerita “Mobil di Pengkolan” yang terinspirasi dari mobil rongsokan yang terparkir bertahun-tahun di dekat rumah orang tua saya.

Dan terakhir ada cerita “Rekening” yang menghampiri benak saya gara-gara sebuah percakapan basa-basi dengan teller di sebuah bank. Oleh karena kedatangan saya pada akhir jam operasional bank tersebut dan kami sudah saling mengenal cukup lama (di kota kecil kami, semua orang mengenal semua orang), akhirnya saya mewawancarai si Mbak teller dan supervisornya selama sekitar 20 menit.

Menulis cerpen pun membutuhkan riset dan cerita “Rekening” adalah cerpen dengan riset paling intensif dari buku “The Cringe Stories”, yang mencakup ilmu seputar perbankan dan hukum. Jadi penasaran ‘kan dengan ceritanya? Ayuk beli bukunya. Hehehe.

Saya bersyukur atas antusiasme audiens selama acara berlangsung. Oleh karena sifat acaranya yang merupakan broadcast dari studio virtual Streamyard, saya tidak bisa melihat langsung audiens kecuali lewat komentar mereka di Facebook Group dan di Youtube KLIP yang di-upload ke layar oleh Mbak Halida selaku operator acara. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan juga bagus, mulai dari cara mengatasi writer’s block, buku-buku yang menjadi inspirasi saya menulis fiksi, dan tanggapan saya tentang pembajakan buku.

Ketika mengalami writer’s block, hal yang biasa disarankan adalah melakukan hal-hal selain menulis untuk menyegarkan pikiran, seperti: membaca, jalan-jalan, menonton, atau hal lain. Pendapat saya sedikit berbeda. Yang saya pelajari dari menghadapi writer’s block selama bertahun-tahun adalah: ketika kita kedinginan, janganlah menjauh dari api. Kita harus mendekati api supaya tetap merasa hangat.

Ketika kita merasa tidak termotivasi/terinspirasi untuk tetap menulis, bergabunglah dengan komunitas menulis seperti KLIP supaya dorongan itu muncul kembali. Melihat anggota lain dalam komunitas masih bisa menulis tentu akan mendorong saya melakukan hal yang sama, supaya saya bisa tetap berenang di dalam kolam dimana saya dicemplungkan. KLIP, atau komunitas menulis lain bagi orang lain, adalah api yang tetap menghangatkan ketika semangat menulis itu mulai dingin.

Soal buku-buku yang menjadi inspirasi saya, saya mulai sejak kecil dari membaca buku-buku tentang hewan yang menjadi alat saya belajar memperhatikan dan menuangkan detail ke dalam tulisan. Saya juga belajar banyak dari buku klasik terutama dalam hal menyeimbangkan porsi narasi, dialog, dan penggambaran ciri fisik seseorang. Saat ini saya masih terus membaca fiksi karya orang lain karena kemampuan saya menulis cerpen ataupun novel masih harus terus dikembangkan.

Untuk pertanyaan soal pembajakan buku, saya menceritakan sedikit tentang pembajakan buku “Randomness Inside My Head” pada awal tahun 2017. Mengejar dan menyetop para pembajak buku memerlukan alokasi waktu, tenaga, dan biaya yang tidak main-main. Saya memilih melanjutkan berkarya dan berdoa Tuhan sajalah yang membalas perbuatan orang yang merugikan saya. Sepanjang tahun 2017 saya menulis 3 buah novel dan hal ini saya percayai sebagai pertolongan Tuhan karena saya memasrahkan kesulitan saya ini kepada-Nya.

Dari bedah buku saya jadi tahu apa yang teman-teman saya sukai dari buku “The Cringe Stories”. Mbak Shanty paling menyukai cerita “Suara” padahal sebenarnya dia sangat tidak menyukai karakter si ibu di dalam cerpen ini. Saya juga tidak menyukainya makanya saya bisa menuliskannya dengan mendetail. Salah satu tips menulis cerpen ala saya adalah menciptakan karakter berdasarkan karakter orang yang kita tidak sukai. Sering kali kita lebih mengenal kepribadian orang yang kita benci daripada yang kita cintai. Benar apa betul?

Lendy juga menyukai cerita “Suara”, tapi dia membahas cerita “Cermin”. Dari cerita itu dia terinspirasi oleh Tini, karakter pegawai salon yang tidak merasa superior, tidak merasa lebih baik dari siapa pun. Menurut Lendy, dari cerita itu dia belajar perlunya mengoreksi diri jika tidak disukai oleh orang lain. Mungkin yang salah adalah orang yang bersangkutan (seperti karakter pemilik salon) dan bukan salah lingkungan di sekitarnya.

Dian paling menyukai cerita “Handphone” yang mengingatkannya untuk selalu waspada apalagi di tengah kehidupan di kota besar. Kebaikan yang kita maksudkan mungkin ditanggapi berbeda oleh orang lain, dan alih-alih membawa kebaikan bagi orang lain malah membawa kecelakaan bagi kita. Selalu hati-hati dan waspada adalah pesan moral yang Dian ambil.

Acara book launching diakhiri dengan door prize yang terbagi ke dalam 3 sesi. Sesi pertama adalah lomba membuat ulasan dari acara peluncuran buku dalam bentuk tulisan atau audio (podcast). Lomba ini diinisiasi oleh KLIP dengan tenggat waktu 26 Maret untuk pengumpulannya. Pemenang terpilih akan mendapatkan 1 buah buku “The Cringe Stories”. Artikel ini saya private sampai lomba berakhir supaya peserta tidak mendapat contekan dari reportase yang saya tulis di sini, hehehe.

Door prize sesi kedua adalah menebak bagian mana yang fakta dan bagian mana yang imajinasi dari cerpen pertama dari buku “The Cringe Stories” yang berjudul “Pisau”. Tidak ada audiens yang menjawab 100% benar, jadi pemenang yang dipilih adalah yang menjawab paling mendekati dan paling cepat. Kebanyakan audiens tidak mengira bahwa bagian yang seram memang merupakan fakta dan bukan imajinasi saya sebagai penulis. Memang seram sekali sih, kalau mau tahu apa itu, beli bukunya di bit.ly/SkyBooks ya.

Door prize sesi ketiga adalah menebak nama lengkap saya. Sesi ini paling seru karena bertebaran spoiler dari Mama saya yang mengikuti acara dan dari teman-teman yang pernah mentransfer ke rekening saya, hahaha. Jadi pemenangnya adalah dia yang menjawab paling cepat sebelum ada spoiler. Seru banget.

Akhir kata, saya mengucapkan terima kasih untuk KLIP yang selain membidani kelahiran buku “The Cringe Stories” juga memberikan ruang untuk peluncurannya melalui “Ruang Berbagi”. Pada akhir pekan sebelumnya saya juga baru mengisi “Ruang Berbagi” melalui workshop membedah karakter pada fiksi. Saya berharap akan ada banyak kesempatan lain untuk saya berbagi ilmu dengan teman-teman di KLIP sepanjang tahun ini dan pada tahun-tahun mendatang.

Terima kasih dan sampai jumpa di peluncuran buku selanjutnya!

10 thoughts on “21.3.21: Book Launching “The Cringe Stories”

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s