Karena Mama (2)

Pada tulisan sebelumnya saya menceritakan pengalaman mama saya membekali saya dengan kemampuan bahasa Jerman. Pada tulisan kali ini saya akan cerita pengalaman saya membekali anak saya dengan keahlian di bidang musik.

Mengapa musik?

Apakah harus musik?

Apa manfaatnya?

Ya, tidak harus musik sih, ada begitu banyak bidang studi dan keilmuan yang dapat dipelajari di muka bumi ini dan musik hanyalah sebagian kecil dari cabang-cabang ilmu tersebut.

Saya pernah menulis di sini tentang manfaat belajar musik bagi orang dewasa. Saya berargumen bahwa belajar musik itu bermanfaat bagi anak-anak dan orang dewasa.

Bagi anak-anak, belajar musik berguna untuk mengasah jiwa seni, mengasah kemampuan linguistik, mengasah kemampuan matematika, dan menanamkan disiplin.

Sedangkan bagi orang dewasa, belajar musik berguna untuk relaksasi, menjaga kesehatan mental, perwujudan aktualisasi diri, dan potensi sumber penghasilan.

Dengan berbagai manfaat tersebut, saya memberikan pendidikan musik bagi anak-anak saya sejak usia dini.

Si Kakak belajar piano sejak berusia 3 tahun. Dua tahun lalu dia mulai belajar biola juga. Jadi, saat ini ada tiga alat musik (termasuk pianika) yang dia kuasai.

Si Abang belajar piano sejak berusia 6 tahun. Pelajaran pianonya hanya bertahan 1 tahun karena dia lebih berminat mempelajari drum (dan kemudian gitar sejak tahun ini). Hari ketika guru pianonya memecat si Abang sebagai murid adalah salah satu hari yang sukses bikin hati saya kacau.

Musik memberi anak-anak tujuan dan sense of accomplishment ketika mereka bisa menyelesaikan tahap demi tahap, level demi level pada ujian lokal dan internasional.

Apalagi pada masa remaja yang penuh dengan gejolak hormon, kegalauan, kegamangan identitas, dan pengaruh kelompok. Musik memberi keteguhan jati diri dan path untuk terus belajar supaya nantinya bisa bermanfaat bagi orang lain (entah memainkan musik untuk menghibur, atau mengajar jika memungkinkan).

Si Kakak pernah berganti 4 guru piano dalam rentang waktu 5 tahun. Gurunya yang keempat telah bertahan mengajarnya selama 5 tahun terakhir. Kami sangat bersyukur karenanya.

Si Kakak pernah bertengkar hebat dengan papanya gara-gara piano. Apa pasal? Si Kakak malas latihan piano dan papanya mau menyumbangkan buku pianonya ke orang lain yang lebih membutuhkan.

Suami saya marah besar karena si Kakak tidak memanfaatkan berkat. Si Kakak sedang dalam tahap pemberontakan dan tidak ingin disuruh-suruh.

Walhasil satu buku piano sobek dan tercerai-berai akibat pertengkaran itu. Siapa yang pergi ke tukang fotokopi untuk menjilid lembar demi lembar yang terlepas? Sayalah, siapa lagi.

Perlu tanduk dan taring dan pecut untuk membuat anak-anak rajin latihan musik.

Pelajaran dengan guru mereka singkat sekali; hanya 2 jam dalam sebulan. Yang krusial adalah latihan mandiri memainkan lagu-lagu di luar jam les.

The tide has turned.

Sejak mengikuti ujian ABRSM Grade 3 pada bulan Juli lalu, si Kakak jadi rajin sekali latihan piano. Sekarang dia sedang mendalami lagu “Fur Elise”, “Canon in D”, dan “River Flows in You” karya Yiruma.

Kami senang sekali sekarang rumah selalu diisi dengan melodi indah dari denting piano. Si Kakak kini sedang mempersiapkan diri untuk ujian ABRSM Grade 4 tahun depan.

Apa yang telah ditabur dengan bercucuran air mata, kini dituai dengan sorak sorai.

Kemarin saya merekam si Kakak memainkan lagu “Canon in D”. Belum sempurna, masih banyak selip, tapi hatinya mantap untuk belajar. Puji Tuhan.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s