Anak Ditolak, Mamak Bertindak

Bukan ditolak yang bagaimana sih. Ini cerita tentang penolakan yang mungkin berujung pada kebaikan, walaupun yang ada sekarang adalah rasa tidak nyaman dan pertanyaan.

Jadi, anak saya yang tengah, si Abang, itu suka sekali dengan musik. Suka banget-banget. Dia bisa bersiul sejak umur 4 tahun. Belajarnya dalam waktu 1 minggu saja dengan meniru papanya.

Dia mulai mengutak-atik piano pada umur yang sama. Oleh karena dia belum bisa membaca not balok pada waktu itu, dia menandai not C di bagian tengah piano (C middle) sebagai angka 1. Lalu dia mencoba memainkan semua nursery rhyme yang dia ingat dan menuliskan notnya sebagai angka. Saya masih simpan koleksi 20 lagu sederhana yang notnya dia tulis dengan bahasanya sendiri.

Setelah melihat arah minat dan bakatnya, saya minta guru piano saya dan si Kakak untuk mengajari si Abang. Eh langsung ditolak dong. Alasannya, lebih baik belajar musik waktu si anak sudah lancar baca tulis. Kalau belum bisa, betapa kerepotannya dia harus menghafal alfabet dan not balok sekaligus.

Mengingat pengalaman memberi les piano ke si Kakak sejak dia berusia 3 tahun dan berujung berganti 4 guru dalam 5 tahun, saya putuskan untuk menunda memberi si Abang les piano. Tapi keinginannya bermain musik tidak pernah surut. Kadang-kadang dia juga ikut memukul-mukul drum set milik papanya.

Tepat pada ulang tahunnya yang ke-6 saya membawa dia ke guru piano kami. Antusiasme belajarnya tinggi. Dia semangat mempelajari apa yang kakaknya bisa baca dan mainkan dengan lancar di rumah. Tantangan dalam mengajar dia bukan intelegensianya, tapi naik-turun mood-nya.

Sejak kelas 1 SD dia menghabiskan waktu 6.5 jam di sekolah setiap harinya, jauh di atas 4 jam pada jenjang TK. Awalnya dia merasa sangat lelah, pulang ke rumah pasti langsung makan siang (lagi) dan tidur siang. Begitu dia mulai terbiasa dengan ritme di kelas 1, saya mulai les pianonya 30 menit setelah pulang sekolah.

Saya memang membiasakan begitu untuk anak-anak: les langsung setelah pulang sekolah supaya di rumah tinggal belajar dan istirahat. Lagipula les-les yang mereka ikuti adalah olahraga dan musik, jadi hitung-hitung istirahat sejenak buat otak mereka sebelum berkutat dengan PR pada malam harinya.

Si Abang sangat menyukai musik, piano, dan drum. Dia sangat senang belajar, tapi dia seorang perfeksionis sejati. Yang ini pasti dia peroleh dari orang tuanya, tidak diragukan lagi. Dia takut melakukan kesalahan waktu sedang belajar jadi dia sangat berhati-hati. Namun yang menjadi kontraproduktif adalah ia akan menunda belajar saking berhati-hatinya.

Kontraproduktif dan kontradiktif.

Kecemasannya karena takut melakukan kesalahan diwujudkan dengan tingkah laku rewel tanpa sebab. Selama 8 bulan membawa dia ke tempat les piano 1 kali seminggu sepulang sekolah, sudah tidak terhitung berapa kali dia tiba-tiba menangis, mogok main piano, duduk mematung di pojok ruangan, berguling-guling di lantai, kabur ke mobil dan mengunci mobil dari dalam, dan lain sebagainya, dan seterusnya.

Semua itu dia lakukan tanpa sedikit pun memikirkan saya yang membujuknya sambil menggendong adiknya yang bayi. Guru piano kami sudah sering sekali mengganti jadwal lesnya, dengan harapan mood si Abang nantinya bisa membaik, karena kasihan pada saya.

Sejak bulan April lalu kami sekeluarga les musik dengan video call. Awalnya kami canggung sekali mengarahkan kamera, tapi sekarang sudah biasa. Mood swing si Abang tidak juga membaik. Selama berlatih lagu dengan saya, dia akan sangat antusias. Akan tetapi, keesokan harinya pada hari les, dia akan tiba-tiba bad mood dan menolak les saking takut salah.

Begitu terus, saya hitung sudah 9 minggu seperti ini. Guru saya meminta supaya saya panjang sabar. Si Abang anak tengah yang sedang minta dan mencari perhatian. Kalau dia tidak bertingkah, mungkin saya tetap sibuk mengurus adiknya yang masih bayi dan tidak mengindahkannya.

Itu teori guru piano saya yang juga memiliki 3 orang anak dan menghadapi isu yang sama waktu anak tengahnya seusia si Abang. Saya tidak mau terjebak di dalam pengalaman hidup orang lain, walaupun niatnya baik, jadi saya mencoba mencari tahu sendiri mengapa Abang seperti benci tapi cinta pada pelajaran piano (dan kadang-kadang drum).

Sore ini anak saya ini akhirnya mengeluarkan isi hatinya. Rabu kemarin dia menangis-nangis waktu kami berlatih lagu. Lelah menangis membuat dia tertidur dan tidak jadi les. Hari ini ada les pengganti dan dia tiba-tiba mogok, duduk diam 10 menit tanpa melakukan apa-apa.

Saya naik pitam. Sungguh rasanya putus asa mencoba menebak arah kemauannya. Waktu dia menangis menjadi-jadi keluarlah kalimat berikut:

“Aku ga pintar.”

“Aku ga bisa.”

“Aku ga mau salah.”

Oalah, anakku ini ternyata bukan hanya perfeksionis, dia juga tidak percaya diri. Dia tidak pernah menemui kesulitan dalam belajar di sekolah, bahkan saat menghadapi matematika dan sains. Namun dia belum lancar sight-reading di piano, yaitu sebuah kemampuan menyebutkan nama not begitu melihat letaknya di dalam birama.

Dia gemetar waktu membaca partitur. Apalagi sekarang dia harus memakai kedua tangan (tangan kiri: bass clef, tangan kanan: treble clef) untuk memainkan sebuah lagu. Untuk meminimalisir kesalahan, dia menghafal setiap not. Ini bisa untuk lagu yang pendek. Begitu dia menghadapi lagu sepanjang 2 halaman, hafalannya buyar. Dan saya jadi tambah marah karena dia tidak mau membaca setiap not yang tercantum.

Tadi seusai les guru kami mengambil sebuah keputusan sulit: dia tidak akan memberi les piano lagi pada si Abang. Saya sangat kaget mendengarnya karena ini kali pertama saya tahu ada guru les menolak murid. Dia bilang pelajaran si Abang tidak efektif karena dia selalu takut (les) pada setiap pertemuan, sedangkan waktu berlatih bersama saya si Abang baik-baik saja. Saya pernah memvideokan latihan kami beberapa kali sebagai bukti.

Guru kami tahu bahwa saya belajar piano supaya saya bisa mengajari anak-anak saya. Saya tidak menduga, hari untuk menjadi guru itu datang terlalu cepat, hanya 2 tahun sejak saya mulai belajar piano dari nol. Saya coba membujuk guru kami supaya si Abang tetap les dengannya, dia tetap menolak. Hanya buang waktu, tenaga, dan uang; si Abang lebih baik di bawah bimbingan saya dulu, katanya. Beliau juga berjanji untuk membimbing saya kalau saya ada kesulitan dalam mengajar si Abang.

Jujur saja, perasaan saya campur aduk setelah mendengar keputusannya. Saya sedih kenapa kesannya anak saya ditolak. Guru kami berusaha meyakinkan saya bahwa niatnya baik dan ini berdasarkan pengalaman dia mengajar anak-anak selama 30 tahun. Mau tak mau saya harus percaya padanya.

Waktu saya sampaikan hal ini ke si Abang, saya tidak menyangka ia akan melompat kegirangan. Dia langsung memeluk saya dan berjanji akan belajar dengan rajin dan patuh. Ternyata dia lebih rileks kalau melakukan kesalahan di depan mamanya daripada di depan orang lain/orang asing! Satu lagi misteri akan perilaku si Abang terkuak.

Minggu depan adalah kali terakhir si Abang les piano dengan ibu guru. Dia hanya mendapat 1 PR, lebih sedikit dari biasanya 3 PR yang jarang sekali lulus semua setiap kali les. Semoga minggu depan dia tidak bertingkah waktu belajar bersama saya ataupun bersama guru.

Semoga saya bisa menjadi guru piano yang sabar untuk anak saya, dan mungkin untuk anak orang lain di kemudian hari, hehehe.

 

 

5 thoughts on “Anak Ditolak, Mamak Bertindak

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s