Ujian Piano ABRSM Grade 3

Maret 2020. Pandemi Covid-19 secara resmi melanda Indonesia. Anak-anak mulai belajar di rumah di bawah bimbingan dan pengawasan orang tua. Dan saya mulai mempersiapkan diri mengikuti ujian piano untuk Grade 3, yang diselenggarakan oleh ABRSM (Associated Board of the Royal Schools of Music) yang berpusat di London, Inggris.

Pada bulan September dan Oktober tahun sebelumnya (2019), anak saya yang sulung sudah mengikuti ujian praktek dan teori piano untuk Grade 1 dan lulus dengan nilai paling memuaskan. Setelah saya mencoba lagu buat ujian si Kakak, saya berkata pada guru kami bahwa materinya terlalu mudah.

Pada bulan Maret tahun 2020 saya sudah di Grade 3. Saya memilih mengambil ujian langsung untuk Grade 3 saja dan melewati Grade 1 dan 2, demi menghemat waktu. Usia saya sudah banyak, tahun depan saya akan berumur 40 tahun. Saya tidak punya kemewahan untuk berlama-lama dan berkubang dalam pertimbangan saat mengejar sesuatu.

Akhirnya bulan-bulan yang berat untuk mempersiapkan diri menghadapi ujian dimulai. Berhubung pandemi, proses belajar piano dialihkan menjadi virtual dan ini merupakan tantangan tersendiri bagi saya. Selain harus menguasai tiga lagu dengan tiga tipe berbeda, saya juga harus bisa menguasai beberapa scale (tangga nada), beberapa variasi permainan nada (arpeggio yang bukan semata-mata broken chord), dan lain sebagainya.

Belajar piano secara virtual sama saja dengan belajar mandiri tanpa bantuan guru. Saya hanya bisa meraba-raba cara guru menekan tuts, menjaga tempo, dan sebagainya, lewat kamera handphone yang terkadang tidak berfungsi baik karena terkendala sinyal dan jaringan. Guru saya tidak berada di samping saya untuk mengoreksi secara langsung. Hal ini berat bagi kedua belah pihak.

Pada bulan Juli tahun 2020 kami menerima kabar bahwa ABRSM menghentikan ujian piano secara tatap muka. Waktu itu jumlah kasus penderita Covid-19 di berbagai negara terus meroket. Indonesia hanya satu dari sekian banyak negara yang menutup perbatasan dan membatasi pergerakan manusia dari dalam ke luar negeri, dan sebaliknya. Mendatangkan penguji dari London seperti kebiasaan pada tahun-tahun sebelumnya jelas tidak lagi memungkinkan.

Dengan ditundanya jadwal ujian entah sampai kapan, saya juga mengajukan istirahat sejenak dari les piano. Mendampingi anak-anak Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) sambil bekerja, mengurus rumah, dan membersamai pertumbuhan si bayi, membuat saya kewalahan. Walaupun saya sudah menguasai ketiga lagu untuk ujian, saya masih harus mempelajari banyak hal dan terus terang saya tidak punya lagi waktu dan energi untuk mengerjakannya.

Minggu demi minggu terus berlalu dengan cepat, kami kembali bertemu waktu les dan saya belum juga sempat berlatih. Rasanya hanya membuang-buang waktu dan uang les. Guru saya pun setuju untuk memberikan saya break dan progress belajar saya di awal Grade 4 pun terhenti.

Bukan manusia namanya kalau tidak bisa beradaptasi. Dengan pandemi yang sepertinya belum mereda, ABRSM mengumumkan akan tetap menyelenggarakan ujian secara online untuk teori piano dan recorded untuk praktek piano.

Alih-alih bermain piano langsung di hadapan penguji yang datang dari London, saya akan bermain empat lagu (tidak hanya tiga) tanpa henti, merekamnya, dan mengirimkannya ke ABRSM pada tanggal yang ditentukan. Jangan-jangan cara ini akan dipakai seterusnya mengingat pandemi yang belum jelas kapan titik akhirnya.

Sedangkan untuk ujian teori piano, anak saya akan mengambil ujian online yang diselenggarakan serentak. Si Kakak sudah cukup familiar dengan cara ini karena toh dipakai sehari-hari di sekolah. Dia akan menghadapi soal pilihan ganda dan isian dan mengerjakannya selama durasi tertentu. Setelah selesai, dia akan menekan tombol submit dan menunggu pengumuman nilai dan sertifikat.

Dibandingkan dua tahun lalu ketika kami harus menginap di hotel demi mengantar si Kakak ujian praktek piano yang dimulai pada pukul 10 pagi dan ujian teori piano yang dimulai pada pukul 11 siang, ujian online dan recorded seperti ini jauh lebih praktis. Waktu dan tenaga si Kakak tidak habis di jalan dari rumah ke Jakarta, dan tidak teralihkan kepada hal-hal yang bisa mengganggu persiapan ujiannya.

Dua tahun lalu anak-anak senang sekali karena kami semua menginap di hotel, jadi berasa sedang staycation. Saya harus bolak-balik mengingatkan si Kakak supaya tidak terlalu lama berenang pada sore sebelumnya. Kalau dia terlalu lelah, nanti konsentrasinya buyar untuk ujian pada keesokan paginya.

Pada bulan Januari lalu saya melanjutkan lagi les piano karena jadwal ujian praktek untuk saya sudah tersedia. Dengan cepat saya menguasai kembali tiga lagu yang saya sudah latih tahun lalu. Lagu keempat yang saya harus latih adalah sebuah lagu karya Beethoven berjudul “Romanze”.

Sepertinya saya memang tidak cocok memainkan karya-karya musisi ternama ini. Sebelum memainkan “Romanze”, saya pernah memainkan lagu-lagunya yang lain yang sudah disederhanakan untuk pembelajar piano pada Grade 2 dan Grade 3. Orang bilang musiknya indah dan menarik. Saya bilang, saya sulit menguasai sesuatu yang tidak berpola.

Bagian Intro biasanya memiliki kemiripan dengan Outro/Conclusion, sedangkan Verse, Bridge, dan Chorus biasanya unik sendiri. Nah, di lagu-lagu karya Beethoven yang saya mainkan, bagian Intro, Verse, Bridge, Chorus, dan Outro tidak memiliki kemiripan. Ini sulit bagi saya yang mudah mengenali pola. Akhirnya setelah hampir dua bulan mempelajarinya, saya meminta lagu lain dari guru saya.

Kata guru saya, apa tidak sayang men-drop lagu yang sudah dilatih lama? Argumen saya, ujian adalah momen penentu bagi saya pribadi untuk mengukur progress dan achievement. Memilih lagu lain yang lebih mudah tidak berarti saya gagal melewati Grade 3, tapi saya memilih lagu yang paling mungkin menunjukkan kelebihan saya dengan waktu latihan yang teramat minim.

Iya, waktu untuk latihan piano yang saya punya tahun ini tidaklah lebih banyak dari tahun lalu. Saya masih memiliki banyak kesibukan yang semuanya harus dijalankan dengan seimbang sesuai dengan skala prioritas. Oleh karena itu saya berusaha showcasing as much as I can, despite of my limitation.

Guru saya akhirnya setuju dan memberi saya lagu “Deutscher Tanz” karya … Beethoven. Alamak! Saya ternyata tidak bisa lepas juga dari Beethoven. Akan tetapi, guru saya sudah memilih lagu yang pasti saya sukai: berirama Waltz dan memiliki banyak pola yang direpetisi. Guru saya benar sekali; dalam satu pertemuan saya sudah menguasai lagu ini dan tinggal meningkatkan temponya dalam latihan selama satu bulan ke depan.

Hari ini saya resmi mendaftarkan diri dan membayar untuk ujian piano Grade 3 ABRSM yang akan diselenggarakan pada tanggal 1-12 April mendatang. Waktu untuk berlatih tidak banyak lagi dan saya sangat gugup. Tidak ada lagi jalan untuk mengurungkan niat. Semua persyaratan administrasi sudah dipenuhi, sekarang waktunya saya berlatih giat demi mencapai nilai terbaik.

Si Kakak akan mengambil ujian praktek piano Grade 3 juga (melewati Grade 2 karena dia optimis bisa mengerjakan lagu-lagu untuk Grade 3) dan ujian teori piano Grade 3 pada bulan Juni mendatang, setelah semua urusan kelulusan sekolah tuntas. Dari sekarang dia pun mencicil berlatih karena dia juga mempunyai segudang kesibukan. Saya bahagia sekali bisa belajar dan mempersiapkan diri untuk ujian bersama si Kakak.

Oya, saya belum cerita ya bahwa saya ingin menjadi guru piano. Jika saya sudah lulus ujian piano Grade 5 ABRSM, maka guru saya akan mempersiapkan saya untuk mengajar di sekolah musik miliknya. Tujuan saya belajar piano dulu hanya untuk bisa mengajari anak saya. Saya bersyukur jika Tuhan menganugerahkan kesempatan untuk bisa mengajari anak orang lain juga.

Soli Deo Gloria.

2 thoughts on “Ujian Piano ABRSM Grade 3

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s