Karena Mama

Banyak hal terjadi karena ada mama. Jasa mama tidak terbatas dan berhenti sejak mengandung, melahirkan, dan membesarkan. Akan tetapi, jauh melampaui itu.

Orang mengenal mantan kekasih, mantan suami, mantan istri, mantan mertua, dan mantan menantu. Namun, tidak pernah terdengar ada mantan orang tua dan mantan anak.

Sekali anak, akan tetap menjadi anak, sekali pun si anak sudah meninggalkan rumah dan membina keluarganya sendiri, memiliki anak-anaknya sendiri.

Ada mama yang berkarya di dalam rumah; ada juga yang berkarier di luar rumah. Di mana pun mama memilih bersumbangsih bagi orang di sekitarnya, mama akan selalu memikirkan keluarga dan anak-anak. Mama akan selalu mementingkan kebutuhan orang-orang terkasih di luar dirinya.

Well, in most cases, ya. Saya tidak akan membicarakan mama-mama tipe “first is I, me, and myself“.

Mama adalah pendidik pertama. Ia mengajari membaca, menulis, dan berhitung jauh sebelum bimbel/les baca tulis Kumon dan AIUEO berdiri.

Mama juga memastikan pendidikan anak-anaknya berjalan lancar.

Siapa yang bertugas mengambil rapot ke sekolah? Mama.

Siapa yang mencarikan guru les pelajaran jika anak kesulitan mengikuti pelajaran di sekolah? Mama.

Siapa yang mencarikan les supaya anak-anak memiliki keterampilan lain di luar kegiatan akademik di sekolah? Mama.

Dulu saya hanya mengikuti dua, eh tiga les. Les bahasa Jerman, les bahasa Inggris, dan les menyetir. Dua les pertama diwajibkan oleh orang tua mama. Les yang terakhir diwajibkan oleh kantor karena kendaraan disediakan untuk memutari Pulau Kalimantan.

Entah bagaimana cara pikir orang jaman dulu sehingga mereka tiba pada sebuah kesimpulan: bahasa Inggris, komputer, dan menyetir adalah tiga keterampilan dasar untuk bertahan hidup jika terjadi musibah.

Saya ikuti saja, namanya juga anak yang belum makan asam garam sebanyak orang tua.

Dalam hal les (terutama les bahasa Jerman yang mahawajib oleh beliau) prinsip mama saya cuma satu:

Come hell or high water, kalau belum sakit parah dan terkapar, harus pergi les.

Dan itu yang saya lakukan semasa SMA dan kuliah. Saya hanya tidak les bahasa Jerman ketika kelas 3 SMA karena mempersiapkan diri untuk menghadapi UMPTN dan ketika tingkat 4 kuliah karena mengerjakan skripsi.

Tahun-tahun selain itu? Harus tandem les bahasa Inggris dan Jerman.

Sering kali saya mengambil kelas Sabtu untuk les bahasa Jerman yang mengharuskan belajar sebanyak straight 5 jam. Mengapa begitu? Karena dua weekday lainnya sudah saya pakai untuk les bahasa Inggris.

Untunglah les bahasa Inggris saya selesai ketika kelas 3 SMA, jadi sepanjang kuliah saya hanya fokus di les bahasa Jerman.

Tahu ‘kan bahwa kuliah di Kampus Gajah itu susah? Dalam sehari ada tugas, praktikum, UTS/UAS, kerja kelompok, dan sebagainya. Belum lagi ada ospek, asistensi di lab, ekskul, hang out sama teman, dan seterusnya.

Di masa-masa seperti itu ada banyak godaan untuk tidak les. Duh, tugas banyak, kapan ngerjainnya kalau harus les 2.5 jam plus 1 jam untuk waktu di jalan? Dan itu mesti dijalani dua kali dalam seminggu.

Akan tetapi, mama saya (yang tidak selalu menjadi guru saya di Goethe Institut, tapi selalu bisa memantau saya lewat teman-temannya) tidak menerima alasan apa pun.

‘Kan come hell or high water? Ada UTS, tugas, praktikum, de es be? Bagi waktu, susun ulang prioritas. Pasti bisa les bahasa setelah kuliah. Nggak ada yang susah, semua bisa, pasti bisa.

Dan benar saja, saya bisa. Oleh karena mama ngotot saya harus belajar bahasa Jerman, saya berhasil mendapat beasiswa ke Jepang karena pewawancara waktu tes terkesan dengan kemampuan saya berbahasa asing selain Inggris.

Bagaimana belajar bahasa seterusnya dari bahasa Jerman ke bahasa Jepang? Ceritanya panjang dan bisa kamu baca di sini kalau berminat.

Adik saya yang kuliah di Jakarta pun tidak luput dari keharusan belajar bahasa Jerman. Mama menilai 6 bulan cukup untuk dia menyesuaikan diri dengan kehidupan sebagai mahasiswa perantau. Pada semester ke-2 mama dengan gesit mendaftarkannya belajar di Goethe Institut Jakarta.

Kemampuan bahasa Jerman saya dan adik saya sangat bermanfaat ketika kami menghadapi rasisme di Swis dan Jerman.

Di pikiran kebanyakan orang Swis dan Jerman, terutama mereka yang berusia lanjut, orang-orang yang berkulit tidak putih datang untuk merebut pekerjaan penduduk asli. Mereka juga memiliki stigma bahwa para imigran menolak membaur dan mempelajari bahasa dari negara yang menerima mereka.

Saya enggan menjelaskan bahwa suami saya datang ke Swis dengan undangan dan dia bukan pekerja kerah biru. Ah buat apa juga menyebarkan informasi itu?

People believe what they want to believe.

Yang penting ketika kami dirasanin oleh pegawai toko, kami bisa berceletuk dengan bahasa Jerman yang lengkap tanpa kesalahan grammar.

Melihat wajah malu, salah tingkah, dan tidak enak hati itu pernah menjadi hiburan tersendiri bagi saya dan adik saya ketika dia mengunjungi kami di Swis dan kami plesiran ke berbagai kota di Eropa.

Pada kesempatan lain, saya dan mama saya yang sedang mengunjungi kami di tengah-tengah summer school yang sedang dia ikuti di Jerman, pergi melihat-lihat jam tangan di toko Swatch di kota Zurich.

Jika kamu pikir toko Swatch di sana wah dan eksklusif, maka kamu salah besar.

Swatch, H&M, dan Paul Bakery di Eropa sana lazim dijumpai di dalam stasiun atau pusat perbelanjaan di dekat stasiun. Tokonya sederhana dan cenderung sempit karena memajang banyak barang dagangan. Pokoknya seadanya banget, deh.

Produk mereka bukan high-end yang gimana-gimana, lho. Cuma di Indonesia, ketiga toko tersebut masuk mal dan upgraded jadi high class. Aslinya mah enggak; toko-toko itu menjual barang-barang yang biasa.

Waktu saya dan mama saya sedang melihat-lihat jam KARENA BERNIAT MEMBELI, datanglah si penjaga toko yang masih muda dan berdiri di dekat kami dengan pose berkacak pinggang.

Kami tidak mengacuhkannya karena masih melihat-lihat. Sampai akhirnya mama saya meminta DALAM BAHASA JERMAN untuk diperlihatkan satu model yang dipajang di balik etalase.

Mungkin dipikirnya kami turis kere yang cuma asal comot kata-kata bahasa Jerman dari buku Lonely Planet, jadi dia nyerocos dalam bahasa Jerman yang intinya:

“Kamu mau lihat memangnya kamu punya uang untuk beli?”

Yang langsung dibalas dengan kalimat dengan banyak anak kalimat oleh mama saya:

“Saya mau lihat karena saya mempertimbangkan untuk beli. Saya punya uangnya, kok. Kalau saya suka, saya akan ambil barang ini. Kalau tidak cocok, saya akan cari toko lain yang pegawainya lebih ramah dari Anda.”

Saya marah sekali, ingin lanjut memaki-maki dalam bahasa Jerman, tapi buat apa, ya? Toh toko Swatch ada juga di kota lain (dan akhirnya kami membeli jam tangan untuk mama di Neuchatel, tempat saya tinggal waktu itu).

Kemampuan berbahasa asing itu penting supaya bisa berkomunikasi, diterima, dan mendapatkan respek dari orang lintasnegara dan lintasbudaya. Saya sendiri merasakannya, apalagi di Eropa di mana orang-orang sangat bangga dengan bahasa ibu mereka masing-masing (Jerman, Perancis, Italia, dan seterusnya) dan langsung agresif/defensif kalau ditanya oleh turis dalam bahasa Inggris.

Itulah sedikit sharing pengalaman baik yang saya alami karena mama. Mama yang “memaksa” saya belajar bahasa Jerman di tengah keputusasaan saya belajar bahasa mesin di bangku kuliah (eaaa) ternyata sedang menabur benih keahlian yang saya baru tuai, baru saya gunakan bertahun-tahun kemudian.

Vielen Dank, Mama. Ich habe dich sehr lieb.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s