Review Film Korea: Sweet and Sour

SERIAL LOVER

Jika seorang serial killer mengambil barang korbannya sebagai memento dari perburuan/pembunuhan yang dia lakukan, maka seorang serial lover memberikan barang yang sama kepada setiap korbannya untuk menandai mereka.

Itulah yang tersirat di benak saya usai menonton film Korea “Sweet and Sour” (2021). Itulah yang saya tangkap dari karakter Da Eun yang diperankan oleh Chae Su Bin.

Da Eun adalah seorang serial lover akut dan saya merasa kasihan pada korban-korbannya.

PREMIS CERITA

Menurut poster dan pernyataan resmi dari Netflix, film ini berkisah tentang perjuangan sepasang kekasih menjalani hubungan jarak jauh.

Salah besar.

Film ini, meskipun dengan gamblangnya menggambarkan perselingkuhan Jang Hyuk (Jang Ki Yong) dengan teman sekantornya Bo Yeong (Krystal Jung) gara-gara sering lembur berdua, sebenarnya adalah tentang Da Eun dengan semua personal issues yang dia miliki.

Masalahnya ada di Da Eun. Karakter Da Eun lah yang menyebabkan cerita bergulir.

DA EUN DAN HYUK NOMOR 1

Dikisahkan Da Eun adalah seorang suster di sebuah rumah sakit yang merawat Lee Jang Hyuk (Lee Woo Je), seorang pegawai kantoran yang menderita hepatitis.

Status Da Eun sebagai pegawai kontrak membuatnya sering bekerja rodi dan kelelahan setiap saat. Lee Jang Hyuk yang terpesona dengan manipulasi dan kelicikan kecantikan dan keramahan Da Eun tak lama kemudian mengambil posisi sebagai “pelindung” bagi Da Eun.

Da Eun yang “sepertinya” mengandalkan Hyuk

Hyuk memberikan makanannya untuk Da Eun santap.

Hyuk membiarkan Da Eun tidur-tidur ayam di tempat dia dirawat setiap kali gadis itu kebagian sif malam.

Hyuk membiarkan dirinya disangka merokok dan dimarahi oleh suster kepala, padahal yang sebenarnya merokok adalah Da Eun.

Da Eun yang sok akrab kemudian mulai memanggilnya dengan sebutan Hyuk Oppa.

Hyuk (kita sebut saja Hyuk Nomor 1) pun semakin kasmaran dan terbang tinggi, apalagi setelah dia berhasil mendapatkan nomor telepon Da Eun sekeluarnya dari rumah sakit.

Hyuk yang polos (akting Lee Woo Je pas sekali di sini) dengan mudah mengutarakan cinta via telepon. Da Eun mengundangnya ke apartemennya dan Hyuk menghabiskan malam di situ.

Pagi harinya Da Eun memintanya mengganti bola lampu dan membuang sampah. Hyuk melakukannya dengan sukacita, tidak menyadari sama sekali bahwa dia sedang dimanfaatkan.

Ga bener banget si Da Eun ini, batin saya.

Penonton film ini pasti dengan mudah mengambil kesimpulan demikian, walaupun sepertinya Hyuk tidak keberatan dengan perbudakan Da Eun yang disamarkan oleh paras cantik dan senyum manis.

Saking sukanya Hyuk pada Da Eun, dia pun berjanji untuk diet. Dia ingin suatu saat memakai couple shirt dengan Da Eun, bukan hanya couple sneaker.

Ternyata, sneaker itu yang menjadi sumber petaka kesalahpahaman bagi penonton film ini.

DA EUN DAN HYUK NOMOR 2

Adegan Hyuk Nomor 1 yang overweight berlari dengan sneaker pemberian Da Eun berlanjut ke adegan seorang pria tinggi-langsing-tampan (Jang Ki Yong) berlari dengan sneaker yang sama.

Di sini terletak “kelicikan” penulis skrip.

Entah bagaimana penonton digiring untuk percaya bahwa Hyuk yang gendut yang menerima sneaker dari Da Eun adalah Hyuk yang sama yang sedang berlari dengan sneaker itu.

Padahal tidak ada keterangan berapa lama waktu telah berlalu sejak pertemuan pertama Hyuk (Nomor 1) dan Da Eun.

Tidak ada juga konfirmasi bahwa Hyuk yang gendut telah berhasil menjalankan diet sehingga dia bertransformasi menjadi pria se-singset Hyuk Nomor 2.

Dari sisi tinggi badan, perubahan perawakannya masuk akal. Dari sisi wajah, saya kira penulis skrip berpatokan pada anggapan orang bahwa wajah orang yang menggendut/mengurus itu cenderung berubah.

Bener-bener deh, film ini menitikberatkan pada asumsi dan persepsi orang-orang kebanyakan.

Gara-gara sneaker itu penonton pun mahfum dengan perkembangan plotnya.

Cuit, cuit, yang lagi pacaran

Oh, ternyata Da Eun dan Hyuk (kita sebut saja Hyuk Nomor 2) benar-benar sudah menjalin hubungan. Mereka tinggal bersama dan hidup bahagia.

Tiba-tiba mereka menghadapi sebuah dilema: Hyuk dikirim perusahaannya bekerja kontrak di kantor di luar Seoul. Ini kesempatan yang bagus buat karir Hyuk. Namun, akibatnya dia harus pergi pagi pulang malam setiap harinya dan memiliki sedikit waktu untuk Da Eun.

Demi bisa commuting setiap hari, Hyuk pun membeli mobil. Pilihan mobilnya yang culun untuk pria semodis Hyuk menggiring penonton kepada “kesalahpahaman” kedua.

Mobil itu menggiring penonton untuk otomatis berpikir lagi bahwa Hyuk yang kurus yang saat ini tampil di layar adalah sama dengan Hyuk yang gendut yang pada awal film sangat kasmaran pada Da Eun.

Ilusi demi ilusi yang satu per satu ditampilkan oleh film ini sungguh luar biasa.

Jalan cerita selanjutnya sebenarnya bisa ditebak. Hubungan antara Hyuk yang kelelahan karena setiap hari harus commuting dan Da Eun yang secara konstan meminta perhatiannya akhirnya merenggang.

Hyuk malah jadi dekat dengan Bo Yeong, teman kantornya yang sama-sama dikontrak dan tak diacuhkan oleh para pegawai tetap di kantor mereka.

Kerja bareng yang berujung saling suka

Witing tresno jalaran soko kulino, kata orang Jawa. Cinta tumbuh karena sering bersama-sama.

Walaupun pada awalnya Hyuk tidak menyukai Bo Yeong yang jorok dan serampangan, lama kelamaan dia merasa lebih nyaman dengan Bo Yeong di kantor dibandingkan dengan Da Eun di rumah yang selalu menyuruhnya mengganti bola lampu dan membuang sampah setiap kali ia pulang kerja.

Siapa juga yang suka disuruh-suruh begitu masuk ke rumah dengan badan penat karena menembus kemacetan setiap hari, begitu mungkin pikir Hyuk.

Sampai akhirnya Da Eun hamil dan menggugurkan kandungannya karena dia dan Hyuk sama-sama tidak siap menjadi orang tua. Setelah itu Hyuk yang merasa lega malah kelepasan menyebut Da Eun sebagai “Bo Yeong-nya yang cantik”.

Ouch, ketahuan deh bahwa hati Hyuk telah mendua.

NASIB HUBUNGAN DA EUn DAN HYUK

Masih dengan Hyuk Nomor 2, Da Eun pun antara putus dan tidak putus dengannya. Dia telah mengembalikan cincin yang Hyuk berikan dan Hyuk dengan sembarangan menyimpannya di kantor. Mereka pun tidak berkomunikasi lagi.

Hubungan antara Hyuk dan Bo Yeong pun semakin berkembang. Tidak ke arah yang serius, tapi cukup untuk mengalihkan pikiran Hyuk dari Da Eun. Dia juga menyuruh Da Eun pergi berlibur ke Jeju dengan orang lain, sesuatu yang mereka rutin lakukan setiap Hari Natal.

Pada sebuah pesta di kantor Hyuk menyadari bahwa ia tidak ingin kehilangan Da Eun. Ia pun memanggil taksi dan menyusul Da Eun ke Bandara Incheon.

Begitu turun dari taksi, Hyuk bertabrakan dengan seorang pria bertubuh tinggi besar yaitu Hyuk … Nomor 1.

KAPAN KESALAHPAHAMAN ITU DILURUSKAN?

Sneaker. Jawabannya ada di sepasang sneaker, Saudara-saudara.

Sneaker yang dipakai oleh seorang pria disorot mendekat sebanyak tiga kali:

  1. Ketika Hyuk Nomor 1 yang gendut berniat untuk diet.
  2. Ketika Hyuk Nomor 2 yang langsing tampil pertama kali di layar.
  3. Ketika Hyuk Nomor 1 dan Hyuk Nomor 2 bertabrakan di Bandara Incheon, dan di dekat mereka berdiri Da Eun dengan wajah terkejut yang kemudian berganti menjadi wajah tenang.

Waktu Hyuk Nomor 2 melihat Hyuk Nomor 1 dengan polos berjalan ke arah Da Eun yang sudah menunggu dengan koper (pastinya karena mau terbang ke Jeju), dia dan penonton pun baru sadar:

Kita semua sudah dikibulin, Guys.
Oleh sutradara, penulis skrip, dan Da Eun.

Hyuk yang kita lihat di awal film (Hyuk Nomor 1) berbeda dengan Hyuk yang kita lihat sesudahnya di hampir sepanjang alur cerita (Hyuk Nomor 2).

Bukan Hyuk Nomor 1 yang berhasil diet, menjadi kurus, dan bersalin rupa menjadi Hyuk Nomor 2, tapi memang ada dua Hyuk yang merupakan dua orang yang berbeda dan sialnya terkait dengan Da Eun.

Kita kira yang jahat di sini adalah Hyuk Nomor 2 yang berselingkuh.

Krystal Jung berkata di konferensi pers film “Sweet and Sour” bahwa dia mengkhawatirkan citra dari karakter pelakor yang dia mainkan di film ini.

Lho, bagaimana mau dibilang merebut laki pacar orang, kalau si laki-lakinya tidak pernah mengakui bahwa dia sudah memiliki pacar di Seoul? Hyuk tidak pernah bercerita pada Bo Yeong bahwa dia menjalin hubungan dengan Da Eun.

Kesan bahwa Hyuk adalah bajingan yang tidak setia lagi-lagi hanyalah ilusi penonton semata.

KITA KIRA DA EUN ADALAH KORBAN DARI HYUK NOMOR 2 YANG PATUT DIKASIHANI.

Kita (lagi-lagi) salah besar. Da Eun sama brengseknya dengan Hyuk Nomor 2. Sama seperti Hyuk Nomor 2 yang berselingkuh dengan Bo Yeong, Da Eun juga berselingkuh dengan Hyuk Nomor 1 untuk mengisi kekosongan tempat yang ditinggalkan oleh Hyuk Nomor 2.

Dan percaya atau tidak, sutradara dan penulis skrip pada akhir film menjelaskan bahwa semua kejadian yang melibatkan Hyuk Nomor 1 dan Nomor 2 sebenarnya berlangsung secara simultan dengan Da Eun sebagai pusatnya.

Bagian akhir film ini membawa saya kepada kesimpulan berikut.

Da Eun, Si Serial Lover

Da Eun sebagai seorang serial lover memiliki beberapa kesamaan dengan seorang serial killer, atau pembunuh berantai:

  1. Tempat Berburu

Tempat Da Eun berburu adalah di rumah sakit tempatnya bekerja. Sebagai suster, dia memiliki akses tak terbatas pada pasien. Di situlah dia mendekati Jang Hyuk (Hyuk Nomor 2) yang dirawat lebih dari satu tahun yang lalu dan kemudian berpacaran dengannya.

Di tempat yang sama tiga bulan yang lalu dia mulai memburu Lee Jang Hyuk (Hyuk Nomor 1) ketika Jang Hyuk mulai mengabaikan hubungan mereka. Da Eun dengan cepat menarik simpati dari Hyuk Nomor 1 karena dia selalu kelihatan lelah, mengantuk, dan kelaparan.

Iyalah, wong lagi hamil gitu, lho.

2. Modus Operandi (MO)

MO dari Da Eun sangat tertebak. Mendekati pasien dengan bermanis-manis pada mereka, membuat mereka merasa dibutuhkan olehnya, mencurahkan isi hatinya pada pasien, dan semuanya itu dikemas dalam bentuk paras cantik, senyum menawan, dan rambut yang di-perm.

Oke, hal yang saya sebut terakhir sebenarnya hanya bentuk kejengkelan saya pada karakter Da Eun.

3. Fettish

Yang membuat Da Eun turned on, yang membuatnya memutuskan siapa yang menjadi mangsanya adalah kesediaan mereka mengganti bola lampu dan membuang sampah.

Seriously, dasar Da Eun, wanita arogan dan pemalas.

Apa susahnya sih mengganti bola lampu sendiri? Hari gini bisa pakai stik khusus untuk menjangkau langit-langit kalau tinggi badan tidak memadai.

Apa susahnya sih membuang sampah sendiri? Tempat sampahnya hanya selemparan batu dari tempat Da Eun tinggal. Tinggal ngesot doang juga sampai.

Ingin rasanya saya memarahi Da Eun sekaligus mengagumi strateginya yang berhasil menggandeng dua orang pria sekaligus.

4. Nama Korban

Ini entah pun intended oleh penulis skrip atau bagian dari fettish yang dimiliki Da Eun, tapi saya menduga poin kedua adalah alasan Da Eun mengincar Lee Jang Hyuk.

Lee Jang Hyuk menjadi target karena dia memiliki penggalan nama yang sama dengan Jang Hyuk, kekasih Da Eun.

Oleh karena itu, dia memanggil Hyuk Nomor 1 dengan sebutan Hyuk Oppa dan bukan Jang Hyuk Oppa, supaya tidak siwer dengan Hyuk, pacar sebenarnya (karena “Jang” adalah nama keluarga dari Hyuk Nomor 2).

Kesimpulan Film “Sweet and Sour”

Film ini bukan tentang romansa, bukan tentang hubungan jarak jauh yang mengalami cobaan, dan bukan tentang pria yang berselingkuh karena wanita yang dekat (Bo Yeong) lebih available dibandingkan wanita yang jauh (Da Eun).

Film ini adalah tentang Da Eun yang “sakit”, yang berburu selayaknya serial lover, yang menandai korbannya dengan couple sneaker yang sama persis dari satu pria ke pria berikutnya, yang egois dan mementingkan diri sendiri.

Kalau tidak percaya, tonton saja film ini di Netflix. Saya ingin tahu pendapat kamu.

Akhir kata, menurut saya penulis skrip dan sutradara film “Sweet and Sour” ini HEBAT!

2 thoughts on “Review Film Korea: Sweet and Sour

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s