IG Live 18 Juni 2021: “Yuk Belajar Hukum Bersama K-Drama Law School”

Malam ini adalah kali ke-2 saya menjadi pemandu acara pada bulan ini (cerita kali pertama bisa dibaca di sini) dan kali ke-4 menjadi host untuk IG Live oleh Drakor Class.

Lega, hati ini rasanya lega sekali karena untuk pertama kalinya saya bisa menyelesaikan IG Live tepat waktu. Tahu sendiri bahwa IG Live diset maksimum 60 menit dan setelah itu terputus.

Bincang-bincang malam ini adalah dengan dua orang praktisi hukum yaitu Mbak Jihan yang berprofesi sebagai pengacara di Madiun, dan Mbak Evita yang berprofesi sebagai corporate lawyer di Surabaya.

Pandemi dan teknologi membuat segala sesuatu menjadi mungkin. Kami bertiga yang tidak saling mengenal sama sekali bisa rehearsal kemarin malam untuk menemukan chemistry, supaya tektokan waktu acara IG Live berjalan lancar.

Drama yang dibahas pada malam hari ini tak jauh-jauh dari profesi kedua bintang tamu, yaitu “Law School” yang baru berakhir minggu lalu.

Saya sempat menulis kesan pertama dan review finalnya. Senang sekali Mbak Jihan dan Mbak E mengikuti dan sangat menyelami drama yang sama sehingga pembicaraan kami nyambung.

Sedari awal saya penasaran, seberapa dekatnya penggambaran kuliah hukum di “Law School” dengan kondisi perkuliahan hukum sebenarnya di Indonesia, atau lebih tepatnya di almamater Mbak Jihan (Universitas Airlangga) dan almamater Mbak Evita (Universitas Gajah Mada).

Ternyata menurut pengakuan Mbak Jihan, dirinya lebih mirip Kang Sol A di bangku kuliah yang jarang mencatat karena lebih senang mendengarkan penjelasan dosennya.

Sebaliknya, Mbak Evita rajin sekali mencatat dan menjadi sumber catatan untuk teman-teman sekelasnya, mirip dengan karakter Kang Sol B.

Saya pun berkelakar, kalau mereka berdua kuliah di tempat yang sama, mereka berdua pasti berteman akrab karena saling melengkapi, hehehe.

Keberadaan moot court dan kompetisi moot court pun ada seperti di dalam K-Drama. Moot court atau peradilan semu adalah simulasi peradilan sesungguhnya yang melibatkan argumentasi dari sebuah perkara.

Lucunya, Mbak Jihan dan Mbak Evita sama-sama pernah berperan sebagai hakim dan pengacara saja, tidak pernah sebagai jaksa. Mbak Evita juga pernah berperan sebagai saksi dan katanya gugup sekali karena takut memberikan keterangan yang salah.

Di dalam IG Live kali ini kami membahas empat dari banyak kasus yang dijabarkan di “Law School”.

PembUnuhan Profesor sEo

Baru episode pertama dan langsung disuguhi konflik? Luar biasa nih drakor ini, pikir saya waktu itu.

Mungkin itu untuk menarik minat penonton. Daripada hanya menonton mahasiswa hukum menghafalkan berkitab-kitab aturan, yekan? Lebih baik langsung kasih kasus hukum yang harus dipecahkan.

Di episode pertama juga ditunjukkan bagaimana polisi dan kejaksaan sangat ngebet membuat Prof. Yang sebagai tersangka padahal barang bukti belum lengkap.

Menurut penjelasan Mbak Jihan dan Mbak Evita, ini ada kaitannya dengan waktu maksimal polisi bisa menahan seorang terduga/tersangka, dan pencegahan tersangka menghilangkan barang bukti.

Ketika identitas Profesor Yang diumbar ke media padahal proses penyelidikan masih berlangsung dan pelaku pembunuhan Prof. Seo belum ditemukan, kami pun masuk ke poin yang kedua.

AsaS praduga tak berSalaH

Prof. Yang jelas telah kehilangan haknya untuk dianggap tidak bersalah sampai hukum pembuktian menyatakan sebaliknya.

Menurut Mbak Evita, seharusnya tersangka sebuah kasus kejahatan pun memiliki hak untuk melindungi privasinya. Semua itu telah diatur oleh Undang-Undang tentang Hak Asasi Manusia.

Sayangnya, jauh panggang dari api, apalagi jika seorang tersangka yang ternyata tidak bersalah meminta pihak kepolisian dan kejaksaan untuk memulihkan nama baiknya. Hal seperti itu nyaris tidak pernah terdengar dalam peradilan di Indonesia.

Kekerasan dalam hubungan personal

Sesudahnya kami membahas kasus Ye Seul yang mengalami kekerasan ketika berpacaran dengan anak dari Assemblyman Ko.

Hukum di Indonesia tidak ada yang spesifik melindungi perempuan. UU KDRT pun hanya melindungi perempuan yang berada dalam pernikahan.

Ini PR besar DPR di Indonesia supaya meloloskan undang-undang yang bisa menghukum pelaku kekerasan, bahkan dalam hubungan personal sekalipun.

Rekayasa komentar jahat di internet

Masih terkait kasus Ye Seul, menurut Mbak Jihan dan Mbak Evita banyak kasus buzzer dan hate speech yang bisa dihukum walaupun awalnya sulit untuk dibuktikan.

Bagian cyber crime di kepolisian sudah canggih dan ini memberikan jaminan kepastian dan keamanan di tengah era internet. Orang tidak bisa lagi berlindung di balik anonimitas akun.

TonTon saja

Rekaman IG Live tadi bisa disaksikan di IGTV Drakor Class. Banyak insight baru yang saya dapatkan dan semoga penonton juga menganggapnya bermanfaat.

Apalagi sebagai penutup Mbak Jihan dan Mbak Evita memberikan kesimpulan yang sangat menyejukkan hati. Kamu dijamin akan tergerak juga, deh.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s