Kesan Pertama Drama Korea: Nevertheless

Orang yang menjalankan bisnis pasti pertama dan utama memikirkan kepentingan dari penyandang dana untuk bisnisnya, sama seperti sebuah Perseroan Terbatas memikirkan kepentingan investornya.

Stasiun televisi dan rumah produksi drama Korea pasti pertama dan utama memikirkan kepentingan dari mereka yang membiayai produksi itu.

Jika sebuah drakor memiliki banyak sponsor, maka produser, sutradara, dan penulis skrip akan berpikir keras bagaimana memasukkan semua produk dari sponsor ke dalam drama.

Jalan cerita bisa dipuntir. Aktor dan aktris bisa dikondisikan. Tak mengapa asalkan logo produk bisa ditampilkan di layar walaupun sepersekian detik.

Jika penyandang dana utama produksi sebuah drakor memiliki nilai-nilai yang harus dimasukkan ke dalam plot, maka sutradara dan penulis skrip mau tak mau menurut. Karena lagi-lagi penyandang dana yang punya uangnya.

Begitu pula yang terjadi dengan Netflix dan semua drama Korea yang menyandang predikat original Netflix series.

Kiblat Netflix sendiri sudah jelas, mereka mengacu pada tren dan kebudayaan di dunia belahan Barat di mana ada demand yang konstan terhadap dunia entertainment.

Hiburan itu tidak murah, Kawan. Perlu pemenuhan sandang, pangan, dan papan dulu sebelum berpikir untuk membeli televisi sebesar 50 inchi dan berlangganan TV kabel.

Mayoritas dari kekayaan di dunia berputar di dunia bagian Barat. Mereka yang sudah beres urusan sandang, pangan, dan papannya akan mencari hiburan.

Pelaku industri entertainment semestinya menyediakan hiburan yang selaras dengan tren dan kebudayaan yang bakal diterima konsumennya.

Apa gunanya membuat karya yang bagus, tapi tidak laku dijual? ‘Kan begitu pola pikirnya, kurang lebih?

Jadi, jangan heran jika drama Korea akhir-akhir ini, apalagi yang ditayangkan eksklusif di Netflix, tidak seperti drama Korea yang kita kenal lima tahun lalu.

Nilai-nilai dari Barat mulai disisipkan. Sedikit demi sedikit lewat konflik, lewat dialog, lewat yang lain, dan itu tidak subtle.

Penonton drakor setahun terakhir mungkin tidak ngeh dengan perbedaannya. Akan tetapi, penonton lama sejak jaman jebot pasti merasakan ada yang berbeda dengan drama Korea akhir-akhir ini.

Itulah yang terjadi dengan drama Korea yang baru tayang tanggal 19 Juni kemarin yaitu “Nevertheless”.

Dibintangi oleh Song Kang, si bocah kesayangan Netflix yang sudah membintangi 4 judul drama dalam setahun terakhir, dan Han So Hee, pemeran pelakor yang dihujat oleh banyak wanita di dalam drama “The World of the Married”.

Premisnya “katanya” sederhana, tentang seorang mahasiswa seni yang skeptis akan cinta karena baru putus dan patah hati (Han So Hee), yang tertarik pada adik kelasnya yang charming tapi playboy (Song Kang).

Entah apakah ini berkaitan dengan drama Song Kang sebelumnya yaitu “Navillera” (2021) yang ditulis sebagai 나빌레라, Nabilrera dalam aksara Korea, Hangeul, karakter Song Kang di sini belum lepas dari kupu-kupu (나비, nabi dalam bahasa Korea).

Park Jae Eon (Song Kang) memiliki tato bergambar kupu-kupu di tengkuknya. Dia langsung tertarik pada Yoo Na Bi (Han So Hee) pada pertemuan pertama. Diceritakan dia juga beternak kupu-kupu di rumahnya dan membuat instalasi seni patung yang terinspirasi oleh kupu-kupu.

Everything about this guy is about butterfly. Termasuk soal ketidaksetiaannya. Jae Eon ibarat kupu-kupu yang bebas hinggap dan berpindah dari satu bunga ke bunga lainnya.

Jae Eon tidak mengidentifikasi dirinya sebagai playboy. Dia hanya menganggap tidak perlu menyandang status pacar dari seseorang. Dia ingin dekat (secara fisik) kapan saja dengan orang yang dia mau.

Hellow, apa kabar nilai-nilai Asia dan ketimuran yang berorientasi pada komitmen dan kesetiaan?

Kabarnya, nilai-nilai seperti itu yang digerus oleh Netflix dan kebudayaan yang dia representasikan.

Saya tidak mengatakan semua yang dari Barat seperti itu, ya. Namun, tidak bisa dipungkiri kita mengenal istilah one night stand, friends with benefit, love hotel, itu dari mana? Ya, dari tontonan yang diproduksi oleh Planet H.

Rasanya patah hati melihat arah plot dari drama “Nevertheless” ini. Beginikah nasib drama Korea yang diproduksi oleh pemain global di dunia entertainment, semuanya disetir sesuai dengan kemauan dari yang punya duit?

Banyak kok drama Korea yang setting-nya di seputar kehidupan kampus dan memiliki kisah yang bagus.

“Weightlifting Fairy Kim Bok Joo” (2016) yang mengambil setting di sebuah universitas olahraga adalah contohnya. Atau drama “Law School” tentang mahasiswa sekolah hukum yang baru saja tamat minggu lalu.

Semuanya mengedepankan nilai-nilai positif: tentang perjuangan mewujudkan cita-cita, kerja keras untuk menjadi yang terbaik, membangun jejaring untuk kehidupan di masa depan, dan seterusnya.

Romansanya tetap ada, tapi bukan hal utama yang dikejar. Kalau romansa (atau lust) adalah yang paling dikedepankan, setting sekolah seni seperti di drakor “Nevertheless” hanya berfungsi sebagai tempelan.

For all I know, cerita antara Na Bi yang kesengsem dan terobsesi pada Jae Eon yang bebas seperti kupu-kupu bisa terjadi di akademi kepolisian atau di kantor pegawai negeri, tidak harus di sekolah seni.

It won’t matter, karena yang utama bagi drama ini adalah bagaimana Na Bi dan Jae Eon bisa bersama. Dan itu membosankan bagi saya.

Apalagi, saya tidak menyukai karakter seperti Na Bi yang tidak mengenal dirinya sendiri, yang gampang terombang-ambing oleh cinta dan perbudakan dedikasi, yang tidak bisa menempatkan hal penting dan tidak penting.

Menonton Na Bi dan Jae Eon hanya pemborosan waktu saya menonton drakor yang sudah terlanjur sedikit. Tidak ada faedahnya melihat pergumulan batin untuk hal-hal yang sudah jelas.

Cinta yang murni, komitmen, dan kesetiaan adalah virtues di tengah dunia yang rusak ini.

Buat apa saya menonton sesuatu yang tidak sejalan dengan ketiga hal itu?

Kesimpulan dari kesan pertama akan drama ini adalah: DROP.

While we’re at it, saya jadi ingin ikut memprotes nilai-nilai LGBT yang disisipkan secara halus di dalam drama “Move to Heaven” dan “Mad for Each Other” yang keduanya ditayangkan di Netflix tahun ini.

Please, kembalikan drama Korea-ku. Hiks.

3 thoughts on “Kesan Pertama Drama Korea: Nevertheless

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s