Teknologi dan Ketergantungan Kita

Pandemi menyebabkan kita menjadi sangat bergantung pada teknologi. Mau bagaimana lagi, kontak fisik dibatasi, perkumpulan dan kerumunan manusia apalagi, jadi berelasi secara virtual adalah satu-satunya cara untuk tetap menjadi makhluk sosial yang tetap sehat badan, jiwa, dan pikirannya.

Hari ini saya awali dengan segudang kesibukan. Hari Minggu esok saya akan menjalani ujian piano Grade 3 dari ABRSM secara online. Fokus rasanya terpecah antara menyiapkan IG Live dan ujian piano. Akan tetapi, kekhawatiran tidak menghilangkan keberadaan tugas. Yang saya bisa lakukan adalah mencoba mengerjakan apa yang saya bisa kerjakan di tengah kendala keterbatasan waktu.

Suami saya juga bekerja penuh waktu di hari Sabtu, sehingga saya mengasuh anak-anak sambil berusaha mengerjakan yang lain-lain. Begitulah ibu rumah tangga, yang juga lulusan Teknik Industri, sagala rupa sagala aya. Banyak hal yang bisa dikerjakan dan menuntut perhatian yang mendesak. Masalahnya, mau mulai mengerjakan apa dan dari titik mana?

Untuk IG Live, saya dan teman-teman Drakor Class sudah gladi bersih pada hari Jumat malam. Kami juga terkendala waktu. Yang tadinya berencana gladi bersih mulai pukul 8 malam eh baru mulai pukul 9 malam karena saya terjebak kemacetan di tol.

Memang ya orang Indonesia gemar sekali menonton kecelakaan. Sebuah truk terguling dan tempat kejadian sudah dipagari pembatas supaya tidak mengganggu laju di jalan tol. Petugas juga sudah diturunkan untuk mengarahkan kendaraan yang melintas. Eh, tetap saja semua kendaraan di depan mobil saya melambat karena kepo, ingin tahu maksimal ada kejadian apa. Apakah mereka orang-orang yang kekurangan hiburan? Hmmm ….

Gladi bersih untuk IG Live tanggal 10 April 2021 bertujuan mengkondisikan saya mengobrol dengan Kak Nurhilmiyah. Kakak yang saya sapa dengan nama Kak Mia (atau Park Mi Ya, hehehe) adalah dosen Fakultas Hukum di Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara. Sudah lebih dari 1 tahun kami berinteraksi melalui chat di grup Whatsapp Kelas Literasi Ibu Profesional (KLIP), tapi kami belum pernah bertatap muka melalui layar dan mengobrol langsung.

Adudu, mengobrol dengan Kak Mia itu seru sekali. Pengetahuannya sangat luas, memuaskan keingintahuan saya sebagai anak dari seorang pengacara dan penonton setia serial kriminal akan banyak aspek dari hukum.

Awalnya kami hanya akan mengobrolkan tentang hukum properti yang menjadi bagian premis dari drama Korea “Vincenzo”, tapi Kak Mia mengaitkannya juga dengan hukum pidana (tindak kejahatan yang dilakukan Vincenzo sendiri), hukum warisan (emas yang seharusnya menjadi hak ahli waris dari si taipan dari Cina), hukum keluarga (pengangkatan anak yang dialami oleh Vincenzo yang diadopsi oleh pasangan dari Italia), dan lain sebagainya.

Gladi bersih yang dilangsungkan via aplikasi Zoom berjalan lancar. Nah, saya harap-harap cemas untuk eksekusi IG Live hari ini. Soalnya, sudah dua kali IG Live yang melibatkan saya sebagai host berakhir gagal total. Pertama kali waktu IG Live dengan Riela untuk membahas proses kreatif penulis novel. Yang kedua waktu IG Live dengan Asri dan Nadia untuk membahas proses kreatif penulis cerpen. Setiap kali IG Live entah berapa kali koneksi putus-nyambung tanpa harapan.

Masalahnya hanya satu: koneksi internet yang mati segan, hidup malu-maluin.

Padahal provider-nya adalah salah satu pemain besar di industri telekomunikasi, lho. Semua rumah dan ruko di perumahan tempat saya tinggal hanya memakai jasa mereka. Eh, setiap kali IG Live pasti ada masalah, yang tidak terjadi ketika saya menggunakan aplikasi lain seperti Streamyard dan Zoom.

Ya, kondisi kita yang saat ini masih berada di tengah pandemi memang membuat kita sangat mengandalkan teknologi untuk berinteraksi. Tidak ada tatap muka tak apalah, asalkan masih ada tatap layar. Keberadaan teknologi memberi harapan akan kelancaran interaksi dan komunikasi antar sesame manusia.

Ketergantungan pada teknologi itu yang membuat suasana hati sangat terpengaruh ketika koneksi dan sinyal terganggu, atau modem yang mati sendiri berkali-kali. Saya sudah optimis akan menjalani peran sebagai host IG Live malam ini dengan lancar. Persiapan sudah matang, materi sudah khatam, chemistry dengan narasumber sudah terbangun,  eh kok tapi terkendala sinyal yang bikin saya pengen menggigit modem?

Baru 14 menit mengobrol dengan Kak Mia, modem di rumah saya mati tiba-tiba. Saya coba restrart sambil setengah mati mencari sinyal 3G. Tentu saja gagal karena koneksi telepon dan 3G di rumah saya hanya bisa dilakukan di … jalan depan rumah. Minimal di depan meteran listrik yang berada di teras, deh. Di dalam rumah tidak ada sinyal telepon sama sekali. Semua SMS baru masuk ketika kami keluar dari rumah. Oleh karena itu, kami sangat bergantung pada teknologi, dalam hal ini internet dan WIFI dalam kehidupan sehari-hari.

Untungnya, teman-teman di Drakor Class sigap sekali membantu. Saya sempat tidak tahu harus bagaimana karena sinyal untuk sekedar chat di grup Whatsapp pun timbul tenggelam, tak dapat ditebak. Namun, saya sempat mengetik “help” dan teman-teman yang belum pernah saya temui secara langsung sejak kami berkenalan pada bulan Januari 2020 ini, langsung turun tangan membantu saya.

DK sebagai ketua tim IG Live dan menghadiri gladi bersih kemarin dengan sigap mengambil alih akun Drakor Class dan menjadi host menggantikan saya. Dengan lancar DK mewawancarai Kak Mia sambil tetap berusaha mengundang saya masuk.

Sedihnya, aplikasi IG saya perlu di-update supaya memungkinkan kami mengobrol bertiga. Nah, untuk meng-update aplikasi saya perlu internet yang kuat seperti WIFI. Dengan sinyal 3G yang susah payah saya cari di jalan depan rumah, updating berjalan sangatttttt lambat. Berpuluh menit berlalu dan update-nya berhenti di angka 60%.

Oh, well ….

Desperate times call for desperate measures, kata Alec Baldwin di franchise sukses film “Mission Impossible”. Updating IG tidak berhasil sehingga saya meminta untuk bergantian dengan DK menjadi host dengan akun Drakor Class. Jadi, IG Live yang sudah 2 sesi terpaksa distop lagi untuk sesi ke-3 dengan saya sebagai host dan Kak Mia sebagai narasumber.

Setelah restart modem sebanyak lima kali dan duduk manis di depannya, akhirnya koneksi internet berjalan mulus kembali. Saya berkesempatan mengobrol dengan Kak Mia selama 70 menit yang sangat berfaedah. Kalau tidak disela oleh anak-anak, mungkin kami bisa mengobrol sampai pagi saking menariknya materi yang dibahas.

Teman saya, DK, akan menuliskan reportase dari acara IG Live ini beberapa hari ke depan di drakorclass.com, jadi saya hanya akan memberi kesimpulannya saja pada tulisan saya ini.

Hukum dan keadilan tidak selalu berjalan seiring. Hukum di Indonesia memercayakan penyelesaian masalah pada pihak-pihak yang terlibat melalui proses mediasi. Negara baru akan campur tangan jika ada konflik atau kejadian yang mengancam kepentingan pihak lain. Proses mediasi ini yang terkadang menimbulkan kesan hukum “tajam ke bawah dan tumpul ke atas”, karena orang yang berkecukupan (atas) tentu memiliki sumber daya yang lebih melimpah dibandingkan orang yang kekurangan (bawah) untuk melancarkan proses mediasi.

Di sisi lain, hukum di Korea Selatan menghadirkan peran pemerintah untuk mengatur kegiatan di masyarakat. Pada Commercial Building Lease Protection Act (CLBPA) yang menjadi landasan saya menulis artikel ini di Drakor Class, saya menemukan bahwa pemerintah Korea Selatan membebaskan kesepakatan di antara landlord dan tenant mengenai harga sewa sebuah properti, tapi ikut campur soal kenaikan harga sewa yang dikunci di angka maksimal 5% dari harga sewa sebelumnya. Tindakan ini berguna untuk mengontrol harga dan inflasi di tengah masyarakat.

Drama Korea terutama dengan genre hukum dan kriminal bisa menjadi sumber insipirasi yang tak terbatas untuk Kak Mia mengajar hukum di universitas. Kak Mia pernah mengambil contoh drama “While You Were Sleeping” untuk membahas pentingnya barang bukti di proses persidangan. Saya juga memberi beberapa saran drama lain yang membahas daluarsa (batas waktu suatu kasus masih dapat diselidiki) dan penghinaan pengadilan (contempt of court) yang juga terjadi di drakor “Vincenzo” ketika Vincenzo dan teman-temannya dengan sengaja melepaskan tawon di ruang persidangan untuk menahan kerja seorang hakim yang terkenal korup dan memihak Perusahaan Babel.

Intinya, banyak sekali hal, tidak hanya dari sisi hukum, yang bisa dipelajari dari drama Korea. Wah, untuk menonton drama Korea kita juga tergantung pada teknologi, lho. Diberkatilah mereka yang menciptakan televisi, gadget, internet, dan berbagai platform yang menawarkan hiburan di genggaman tangan.

Ketika semuanya mudah dijangkau, tantangannya sekarang hanya satu: sejauh mana kita membiarkan ada/tidak adanya teknologi memengaruhi kelancaran aktivitas kita sehari-hari, atau bahkan mood kita? Eh, ini mah berlaku untuk saya saja yang selalu jengkel setiap kali harus IG Live. ☹

One thought on “Teknologi dan Ketergantungan Kita

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s