It Comes Down to This

Belajar musik itu seperti lari marathon. Perlu persiapan yang panjang dan matang, perlu stamina, dan perlu tekad yang bulat dan tak goyah dimakan waktu.

Pada tulisan lain saya akan membahas tips belajar musik untuk orang dewasa, sekaligus dengan alasan-alasan mengapa piano adalah alat musik yang paling mudah dipelajari pada usia berapa pun. Pada tulisan kali ini saya akan bercerita sedikit tentang perjuangan saya menguasai piano sampai pada hari ini saya menjalani ujian musik saya yang pertama seumur hidup.

Oke, ujian di mata pelajaran Seni Musik selama duduk di bangku sekolah SD sampai dengan SMA itu tidak dihitung karena materi yang dicakup terlalu generik. Ujian musik yang saya maksud adalah ujian untuk memainkan alat musik tertentu, dengan menggunakan standar kelulusan tertentu, dan diselenggarakan secara internasional. Mendaftar untuk ujian seperti ini mudah, tapi lulus dari situ dengan nilai memuaskan ibarat unta yang berjuang keras melewati lubang jarum.

Tidak mungkin ‘kan bagi si unta? Tidak masuk akal ‘kan si unta bisa melewati lubang jarum dengan tubuh sebesar Gaban?

Sulit, tapi tidak mustahil. Kunci keberhasilannya hanya satu: rajin berlatih.

Belajar musik adalah perkara belajar secara independen. Bayangkan, setiap pelajaran musik biasanya diselenggarakan dalam waktu 30 menit saja. Mengapa demikian? Karena belajar musik memerlukan konsentrasi dan daya ingat yang tinggi, yang biasanya berlangsung selama 15-20 menit saja sebelum manusia memerlukan rehat sejenak. Dengan waktu belajar 30 menit per minggu, atau 2 jam per bulan, mungkinkah menguasai sebuah alat musik dalam waktu sewajarnya?

Pasti tidak mungkin.

Tantangan dalam belajar musik adalah keharusan mengulang semua materi yang diberikan di kelas. Di kelas, guru musik hanya memberi pengarahan dan petunjuk. Not ini dibacanya bagaimana, tangga nada ada apa saja, istilah dalam bahasa Latin ini berarti apa, dan seterusnya. Akan tetapi, selepas dari ruang kelas, tanggung jawab untuk mempelajari ulang, mengerjakan PR, mencoba lagu baru sebelum bertemu lagi dengan guru di kesempatan berikutnya, semuanya itu ada di bahu siswa yang belajar musik.

Tanpa tekad untuk berlatih, mustahil mempelajari materi yang seharusnya pada kurun waktu yang semestinya, dan mustahil melanjutkan ke jenjang-jenjang berikutnya. Belajar musik adalah perkara berlatih terus menerus dan tanpa kenal lelah, tanpa harus diminta/disuruh/diawasi oleh guru musik. Tanggung jawab itu murni berada pada diri siswa. Jika dia tidak rajin mengulangi pelajaran yang dia terima di kelas, maka niscaya proses belajarnya hanya akan berjalan di tempat.

Waktu saya mulai belajar piano pada bulan April tahun 2018, tekad saya sederhana saja: saya ingin belajar piano supaya saya bisa mengajari anak-anak saya. Si Kakak mulai diikutkan les piano sejak dia berusia 3 tahun. Sampai berusia 7 tahun, si Kakak sudah berganti guru piano sebanyak 4 kali. Rata-rata satu guru piano mengajarnya selama 1 tahun, bahkan ada yang kurang dari itu.

Ketika itu saya memiliki beberapa dugaan mengapa dia sering sekali berganti guru piano:

  1. Dia memang tidak memiliki minat dan bakat akan bidang musik.
  2. Dia mulai belajar pada usia yang terlalu muda.
  3. Belum ada guru piano yang cocok mengajarnya.

Akan tetapi, saya pribadi berprinsip bahwa sekali masuk ke satu bidang, tidak boleh berhenti/mundur/menyerah, kecuali keadaannya gawat sekali. Berkaca pada pengalaman masa kecil dan remaja dimana saya menemukan penghiburan dan ketenangan ketika memainkan alat musik organ di tengah perjuangan mencari teman dan jati diri, saya pun memproyeksikan hal yang sama untuk anak-anak saya.

Musik memberi tujuan dan kesibukan di tengah masa muda yang menawarkan banyak pergumulan sekaligus banyak waktu luang.

Selama saya memiliki sumber daya yang cukup untuk menjalankannya (uang, tenaga, waktu), maka anak-anak saya harus belajar memainkan minimal piano sebagai alat musik. Suami saya juga menyetujui pemikiran saya ini. Sebagai pianis yang belajar piano secara otodidak, dia menyesali ketiadaan kesempatan untuknya dulu belajar musik secara formal. Dan sekarang dia menginginkan hal yang berbeda untuk anak-anak kami.

Lima tahun lalu kami menemukan guru piano yang cocok sekali mengajar si Kakak. Beliau sangat sabar dan punya berbagai trik untuk membuat anak saya belajar latihan piano sendiri di rumah. Semua pelajaran selama 4 tahun terakhir dirombak, diperbaharui, dan diajarkan dengan cara baru. Kami semua sangat bersyukur.

Dua tahun setelah itu, ketika baru mengandung anak ketiga, ada dorongan yang sangat kuat untuk saya belajar piano juga. Saat itu piano rutin dimainkan di rumah oleh suami dan anak saya yang sulung. Mendengar keindahan not-not yang dimainkan, saya jadi tertarik untuk belajar. Dua puluh tahun sebelumnya saya pernah mempelajari organ selama 2 tahun saya. Saya sudah lupa cara memainkan instrumen musik tersebut, tapi saya tidak pernah melupakan teori musik.

Oleh karena itu, saya memberanikan diri meminta guru piano si Kakak untuk juga mengajari saya dari dasar sekali  dan beliau bersedia. Sebulan setelahnya saya juga mulai les flute di tempat lain. Kehamilan ketiga memang dipenuhi dengan usaha untuk belajar musik dan rasanya sangat menenangkan. Saya memiliki kesibukan yang membahagiakan di tengah kelelahan karena menjalani LDM dan mengurus 2 orang anak sendirian 5 hari dalam seminggu.

Teori musik yang pernah saya pelajari 2 dekade sebelumnya membuat saya cepat belajar. Dalam setiap pertemuan saya bisa menyelesaikan 7 sampai 9 lagu. Seiring dengan peningkatan level, kecepatan belajar saya pun menurun menjadi tinggal 3 sampai 5 lagu per pertemuan. Ini wajar, pelajaran pasti tambah susah setiap kali naik tingkat.

Pada akhir tahun 2019 saya sudah menamatkan Grade 3 dalam kurun waktu kurang dari 2 tahun. Jumlah level pada piano dengan kurikulum ABRSM ada 11, yaitu 3 level Pre-primary dan setelah itu Grade 1 sampai dengan 8. Guru piano kami menawari saya untuk juga mengikuti ujian piano seperti si Kakak. Pada bulan Oktober tahun 2019 itu dia memang baru menyelesaikan ujian teori dan praktek Grade 1 dan mendapat predikat Distinction dan Merit. Saya tidak perlu berpikir lama, saya tahu benar bahwa ujian diperlukan untuk mengecek pemahaman dan keterampilan. Jadi, walaupun saya sudah ibu-ibu dengan segudang kesibukan, saya ingin mempertanggungjawabkan hasil belajar saya kepada keluarga.

Pada awal tahun 2020 saya mendapat silabus untuk materi ujian Grade 3 yang berisi lagu-lagu yang harus dipilih untuk diujikan di depan guru dari ABRSM di London. Setelah memilih lagu, saya berlatih lagu dan scale pada setiap kesempatan les. Apa daya, pada bulan Maret 2020 pandemi merebak di seluruh dunia dan kegiatan les dipindahkan dari offline menjadi online.

Belajar piano secara online itu penuh dengan tantangan. Perlu waktu lebih lama untuk memahami instruksi guru, apalagi jika ada kaitannya dengan mencontohkan cara memencet tuts piano. Pada awal masa belajar online, kami benar-benar repot mengarahkan kamera handphone supaya bisa menangkap seluruh pergerakan jari ketika sedang bermain piano.

Untunglah masa-masa itu cepat berlalu, tapi kemudian datang masa lain. Masa-masa yang penat dan membuat saya burned out karena harus mengawasi anak-anak belajar di rumah sambil membersamai seorang bayi, bekerja di bengkel, dan mengurus rumah tangga. Begitu saya tahu bahwa seluruh ujian dari ABRSM dibatalkan di seluruh dunia, saya pun memilih rehat dari les piano selama 6 bulan.

Pada awal tahun ini saya kembali les dan kembali mempersiapkan diri untuk ujian. ABRSM sudah menentukan ujian secara online dan mengganti keharusan memainkan scale dengan lagu keempat (lagu yang dipilih untuk ujian biasanya hanya ada tiga saja).

Sejak bulan Januari saya kelimpungan menemukan lagu yang cocok. Yang jelas, saya sangat menyukai pola dan rutinitas. Jadi, saya sangat menyukai lagu yang bercorak Waltz dan Tango, dan sangat tidak menyukai lagu yang bercorak Jazz. Sayangnya, guru saya sulit menemukan pilihan lagu seperti itu pada silabus tahun-tahun sebelumnya. Setelah berganti lagu beberapa kali, akhirnya pilihan saya jatuh pada sebuah lagu dari silabus 8 tahun yang lalu. Untunglah saya memiliki waktu sekitar 1.5 bulan untuk menguasainya.

Pada ujian online, saya diharuskan memperkenalkan diri, membacakan lagu-lagu yang akan dibawakan, dan membawakan 4 lagu tanpa henti. Saya teramat gentar karena memainkan langsung 4 lagu memerlukan stamina dan konsentrasi sangat tinggi. Total durasi memainkan 4 lagu memang hanya 3.5 menit, tapi perbedaan corak, tangga nada, dan lain sebagainya membuat saya harus cepat menyesuaikan diri begitu menutup lembar satu lagu dan pindah ke lagu berikutnya.

Akhirnya hari ini semua tuntas sudah. Saya sudah melewati ujian Grade 3 ABRSM dengan hasil yang tidak bisa ditebak. Saya tidak tahu bagaimana sistem penilaian mereka sekarang untuk ujian di tengah pandemi; saya sama sekali tidak ada gambaran. Saya hanya berharap koneksi internet tidak memengaruhi kualitas dan ketepatan suara piano yang mereka dengarkan di benua seberang sana. Fingers crossed.

Pada bulan April ini saya sudah les piano selama tepat 3 tahun. Sekarang saya berada pada level yang sama dengan si Kakak dan sudah bisa mengajari anak saya yang tengah yang lebih memilih belajar pada saya dibandingkan pada guru piano kami. Semua hasil belajar selama 3 tahun terakhir dan fokus pada lagu ujian selama hampir 1 tahun teruji sudah hari ini.

Apa pun hasilnya, saya serahkan pada Tuhan. Tak percuma saya sering latihan diam-diam sebelum seisi rumah bangun dan sesudah semua anggota keluarga tidur. Tuts piano saya tekan pelan-pelan supaya tidak membangunkan siapa pun, terutama tetangga di kanan dan kiri rumah. Yang penting saya memiliki waktu tenang untuk belajar cara memainkan lagu-lagu untuk ujian.

Yang sebenarnya saya kejar dari ujian ini adalah pengalamannya. Ini adalah kali pertama saya mengikuti ujian musik dan tidak bisa dipungkiri bahwa saya gugup dan cemas sekali. Saya perlu mengikuti ujian untuk Grade 3 yang merupakan level terakhir dengan tingkat kesulitan Beginner. Sesudah ini, saya berencana mengikuti lagi ujian untuk Grade 5 yang merupakan level terakhir dengan tingkat kesulitan Intermediate. Grade 6 dan seterusnya masih di awang-awang, fokus saya sekarang adalah menyelesaikan ujian sampai Grade 5 supaya berkompeten mengajar piano untuk murid di level Pre-primary.

Iya, itu cita-cita saya yang baru terpikirkan di saat usia saya sudah tidak muda lagi: menjadi guru piano yang bisa mengajari anak-anak saya dan anak-anak orang lain.

Everything comes down to this purpose.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s