21 April, 21 Jam Tanpa Internet

Gimana rasanya?

Senang, sedih, kesal, biasa aja?

Anxious yang pasti karena kok ya mati pas hari yang penting buat kami sekeluarga?

Jadi, hari ini adalah hari pertama dari rangkaian virtual book week di sekolah anak saya. Ini adalah book week pertama yang diselenggarakan online dan saya tahu benar sekolah mereka berusaha memasukkan semua kegiatan yang biasa dilakukan ketika book week offline, yaitu:

  1. Membaca bersama: silent reading dan read aloud.
  2. Berdiskusi tentang tema book week dan buku yang dipilih setiap anak.
  3. Culminating activity. Contohnya adalah book week dua tahun lalu yang bertema kota Cirebon dan membaca buku tentang seni pembuatan topeng dari Cirebon. Sekolah mendatangkan seorang penulis untuk bercerita dan mendampingi anak-anak membuat topeng khas Cirebon.
  4. Penjualan buku.

Tema tahun ini sudah pasti berkaitan dengan pandemi, jadi anak-anak memilih buku-buku yang menceritakan tentang Covid-19. Buku-buku untuk kelas si Abang sangat informatif dan penuh ilustrasi. Satu judul yang saya sukai adalah “Even Superhero Stays Home”. Kesimpulannya, ga ada orang yang super ketika menghadapi virus Corona yang kasatmata. Jadi, sebisa mungkin tidak usah bepergian dan tetaplah menjaga jarak fisik. Dan seperti si superhero, please selalu pakai itu masker ….

Berhubung si Kakak sudah kelas 6 dan sedang ujian akhir sekolah (syukurlah tidak ada lagi UN), angkatannya tidak terlalu terlibat di dalam book week. Saban hari saya lihat mereka sibuk mempersiapkan presentasi, alat peraga, poster, pokoknya apa pun yang diperlukan saat ujian praktek (untuk semua mata pelajaran).

Oleh karena itu, betapa kalutnya kami ketika tidak ada internet padahal hari ini penting sekali, terutama buat si Kakak.

Kemarin malam menjelang pukul 12 saya sempat menyalakan TV untuk menonton “Navillera“. Baru 10 menit berlalu, koneksi internet down. Saya tinggal tidur saja. Eh pagi-pagi suami bilang bahwa ada maintenance dan itu bakalan sampai pukul 8 malam.

Mbok ya kalau mau maintenance malam hari saja waktu orang-orang sedang istirahat, bukan waktu orang-orang sedang berkegiatan produktif???

Pandemi begini berarti sekolah dari rumah, les dari rumah, kerja dari rumah, dan internet sudah menjadi kebutuhan sepokok sandang, pangan, dan papan.

Selain anak-anak sekolah dari rumah sejak pukul 7.30 sampai 14.30, hari ini ada les bahasa Korea dan piano untuk saya, dan les piano untuk si Kakak. Ditambah saya sedang proses finalisasi bidding, perasaan semakin ga karuan karena tiba-tiba kembali ke jaman batu saat harus berkirim pesan lewat SMS.

Parahnya lagi, di rumah saya itu ga ada sinyal. Nada. Zero. Untuk menelepon pakai jaringan biasa dan menerima/mengirim SMS kami harus berdiri di tengah jalan depan rumah, sekitar 8 meter dari pintu depan rumah. Kalau lagi beruntung, ada sinyal saat berdiri di bawah meteran listrik.

Itu ‘kan tidak efisien dan mustahil dilakukan sepanjang hari oleh anak-anak.

Suami meninggalkan HP-nya di rumah untuk tethering ke 1 laptop, 1 PC, dan 1 HP (HP saya). Kami sudah jungkir-balik pindah posisi dari library di bagian belakang rumah yang dekat dengan jalan raya, sampai ke ruang tamu di bagian depan rumah yang dekat dengan meteran listrik untuk menangkap sinyal 3G.

Pukul 7.30 – 11.30 semua masih berjalan normal tanpa kendala. Anak-anak harus mematikan video karena sinyal tidak kuat. Setelah makan siang, anak-anak mencoba join Teams lagi dan tidak bisa. Saya terpaksa mengirim SMS(!) ke admin sekolah, minta mereka info ke wali kelas kedua anak mengapa anak-anak saya terpaksa tidak ikut belajar lagi.

Sinyal dari HP suami mati segan, hidup malu-maluin. Di sisi lain, sinyal yang ditangkap HP saya tidak ada, bahkan untuk membuka Whatsapp. Lagi butuh kontak seonsaengnim dan bengkel dan klien, tapi tidak ada internet tuh rasanya kayak … pengen gigit HP yang belum lunas.

Setiap beberapa jam ada chat yang masuk di WA, tapi entah kenapa ga berurutan dan rasanya ga nyambung. Beberapa kali saya coba pergi ke jalan di depan rumah buat telepon, eh suara saya ga kedengeran sama sekali sama orang di ujung sana.

Kesel.

Gregetan.

Desperate.

Apalagi menjelang pukul 2 siang waktunya les bahasa Korea. Tanpa ada tanda-tanda sinyal internet HP akan bersahabat, saya kirim SMS (!) ke ssaem buat info kemungkinan tidak masuk kelas, atau kalau masuk kelas saya akan off-cam waktu Zoom. Soalnya salah satu aturan kelas online di King Sejong Institute adalah kamera menyala sepanjang waktu. Mereka mengantisipasi “penyusup” yang tidak terdaftar sesuai prosedur.

Ssaem kalau mengajar cepatnya bukan main, cepettt banget dan gonta-ganti antara 3 buku dan screen sharing. Saya sering mem-forward materi ke teman-teman sekelas yang tidak masuk dan selalu terheran-heran: dalam 2 jam setiap pertemuan kok banyak sekali yang dipelajari? Bisa hampir 10 halaman slide dan itu belum termasuk buku.

Jadi, saya keder banget ngebayangin nanti harus belajar sendiri sebanyak apa. Apalagi hari ini review bab yang sekarang tentang cuaca dan akan mulai bab baru tentang waktu. Astaga, bakalan belajar menunjuk jam, hari, tanggal, bulan, dan tahun, dan tanpa bimbingan Ssaem? Rasanya udah hopeless duluan.

Pukul 2 siang saya bawa semua buku ke teras dan berusaha masuk ke Zoom. Gagal. Setelah 30 menit berlalu tanpa hasil, akhirnya saya kembali ke ruang tamu dan berusaha sekeras mungkin belajar sendiri tanpa kamus. Soalnya saya biasa pakai Google Translate dan waktu ga ada internet gini saya cuma bisa tebak-tebak buah manggis: ini maksudnya disuruh ngapain, ya …?

Pukul 6 sore adalah waktunya les piano. No internet? No les. Kata guru kami, malam juga tidak apa-apa setelah murid terakhir. Walhasil kami baru mulai les pukul 9 kurang karena internet baru benar-benar up and running pukul 9 malam. Pada pukul 8 malam, sesuai janji si provider, hanya modem yang menyala tapi tetap tidak ada sinyal. Jadi kudu piye ‘kan?

All in all, it’s been an exhausting and frustrating day.

Beberapa waktu lalu saya menulis tentang pentingnya teknologi buat kita ketika saya gagal terus connect ke IG Live. Saya ga nyangka hari ketika internet tidak ada waktu dia sangat diperlukan akan datang juga. Ini pengalaman yang tidak menyenangkan, tapi ga ada yang saya bisa lakukan untuk mengatasinya.

Bisa apa coba kalau sinyal HP di rumah nyaris tidak ada dan kami menjadi sangat bergantung pada WIFI? Begitu WIFI mati, ya bubar jalan dunia persilatan. Ingin hati menyalahkan provider saja. Mbok ya kalau maintenance itu malam hari saja? Tidak ada hiburan TV pas malam hari tidak masalah dibanding tidak bisa sekolah/les/kerja pada siang hari.

Tanggal 21 April adalah pertama kalinya kami mengalami 21 jam tanpa internet. Anak-anak catch up materi pelajaran yang ketinggalan pada malam hari ketika mereka seharusnya sudah beristirahat. Saya juga begitu dengan pekerjaan dan les. Semuanya jadi ekstra lelah karena tidur lebih larut.

Semoga tidak terjadi lagi. Kapan pun.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s