Pokoknya Harus Belajar Matematika

Waktu komunitas Mamah Gajah Ngeblog (ibu-ibu blogger yang merupakan alumni ITB) yang saya ikuti menentukan tema “mengapa memilih kuliah di jurusan masing-masing” sebagai tantangan menulis bulan Maret 2021, saya cukup tergelitik. Pasalnya, perjalanan saya sampai memutuskan ingin kuliah di kampus Gajah dengan jurusan itu bukanlah hasil dari kontemplasi berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun.

Keputusan itu saya ambil setelah sebuah percakapan dengan seorang mantan kecengan pada suatu siang yang panas pada akhir tahun 1999 di sekolah yang berlokasi di Jalan Belitung, Bandung.

Too much information, ya? Hehehe.

Oh iya, saya tidak kuliah di jurusan Matematika seperti yang disiratkan oleh judul tulisan ini. Saya memilih sebuah jurusan yang saya harap dan saya kira akan terus menggunakan Matematika dan mengabaikan Fisika. Ternyata saya salah besar, Saudara-saudara. Berikut ini cerita lengkapnya.

Lahir dari orang tua yang berprofesi sebagai pengacara dan dosen bahasa Jerman membuat saya ingin menekuni bidang yang sama sejak usia dini. Waktu saya berusia 11 tahun, bacaan favorit saya adalah koran Kompas dan majalah Tempo. Saya akan membahas berbagai peristiwa politik, sosial, dan ekonomi dengan Bapak, dan membahas tata bahasa dari penulisan artikel di koran/majalah dengan Mama.

Sepanjang duduk di bangku SMP saya bercita-cita menjadi pengacara seperti Bapak. Akan tetapi, berprofesi di bidang hukum bukanlah hal yang mudah untuk dilakoni sehari-hari. Ada terlalu banyak resiko keamanan untuk diri sendiri dan keluarga. Mulai dari telepon iseng sampai orang-orang yang mendatangi rumah karena ketidakpuasan penyelesaian sebuah kasus, semua sudah saya dan adik-adik alami sejak kecil. Apakah kami ketakutan karenanya? Awalnya saja, lama-lama terbiasa.

Titik penentunya terjadi sewaktu saya duduk di bangku SMA. Salah seorang sepupu yang berprofesi sebagai pengacara memiliki anak yang diculik akibat sebuah sengketa hukum. Sejak saat itu keputusan dari kedua orang tua saya sudah final: tidak boleh kuliah hukum. Padahal belajar hukum bisa saja berakhir menjadi notaris ya, tapi larangan itu sudah keluar dan saya menurut saja karena saya sudah melihat hal terburuk yang mungkin terjadi dari profesi ini.

Memilih belajar dan berkarir di bidang bahasa asing juga ditentang oleh Mama yang sudah menekuni pengajaran bahasa Jerman sebagai bahasa asing sejak beliau masih SMA (bisa dibaca di sini, jika berminat). Saya sudah mempelajari bahasa Inggris dan Jerman sejak masih SD. Lingkungan di rumah kondusif untuk menguasainya karena Bapak dan Mama adalah penutur aktif dari kedua bahasa asing tersebut.

Namun, Mama menyarankan kemampuan bahasa asing sebagai nilai plus saja untuk melengkapi portfolio atau CV saya, dan bukan sebagai bidang utama yang dipelajari untuk dijadikan mata pencaharian. Saya kembali menurut karena toh saya sudah memiliki gambaran kalau saya kuliah bahasa pada akhirnya saya akan bekerja sebagai apa.

Sejak SD saya sudah mengikuti Mama mempersiapkan bahan mengajar dan memberikan ujian. Waktu SMA saya bahkan membantu Mama menilai hasil ujian berbasis komputer dari mahasiswa-mahasiswanya. Saya juga selalu duduk di samping Mama ketika beliau membolak-balik kamus untuk menerjemahkan buku demi buku dari bahasa Jerman ke bahasa Indonesia.

Sebagai cucu dari anak yang paling kecil, saya sudah melihat sepupu-sepupu saya yang lebih tua memasuki dunia perkuliahan. Ada yang mengambil jurusan bahasa Inggris, sosial-politik, teknik elektro, hukum, teknis pertambangan, sekretaris, dan seterusnya. Semua jurusan itu tidak menarik minat saya sama sekali, termasuk jurusan kedokteran yang pada tahun 90-an masih menjadi favorit orang-orang. Pertama, saya tidak nyaman melihat darah. Kedua, saya enggan berurusan dengan tubuh orang lain.

Akan tetapi, satu hal yang saya tahu, saya sangat mencintai pelajaran Matematika. Di saat keluarga dan teman mengecewakan (eciye), angka, data, dan fakta memberikan ketenangan bagi jiwa saya. Asli, nulis ini bikin saya cringing sendiri, ehehe.

Saya mencintai matematika sama seperti saya mencintai bahasa (Indonesia dan lainnya). Kedua subyek ini persis sama adanya karena berurusan dengan: 1) pengenalan pola, 2) pembentukan kelompok, dan terakhir 3) pembentukan formula. Saya pernah menulis surat terbuka untuk Menteri Pendidikan mengenai mengapa matematika, bahasa, dan sains adalah tiga mata pelajaran padanya mata pelajaran lain bertumpu.

Suka belajar bahasa adalah sebuah keniscayaan karena latar belakang orang tua, tapi suka matematika itu hal yang berbeda di tengah keluarga yang berjiwa cenderung ke ilmu humaniora dibandingkan eksakta. Saking sukanya pada matematika, saya menyelesaikan soal-soal di dalam buku Matematika Dasar yang tebal itu 1.5 tahun sebelum mengikuti Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN).

Apakah itu berarti saya sudah siap mengikuti UMPTN dan sudah bertekad bulat mau mengambil jurusan apa dan di kampus mana? Tidak sama sekali.

Waktu di caturwulan terakhir di kelas 2 SMA, saya iseng mengikuti try out dari salah satu bimbel terbesar pada jamannya. Tanpa persiapan sama sekali, ternyata skor saya menempati posisi ke-3 dari sekian ratus orang peserta try out. Saat itulah saya baru tahu yang namanya passing grade dan jurusan favorit di kampus favorit.

Semua jurusan yang berlabel teknik tidak menarik minat saya kecuali jurusan Matematika. Bahkan dengan skor yang saya dapat, saya belum mampu menembus passing grade untuk jurusan Matematika di Institut Teknologi Bandung (ITB). Harus kerja lebih keras nih, pikir saya waktu itu.

Mengapa di ITB? Hanya satu alasan sebenarnya, saya bersekolah di sebuah SMA dimana siswa-siswanya masuk ke ITB seperti naik kelas saja, hanya sebagian kecil dari setiap angkatan yang tidak berhasil masuk ke ITB. Pada akhir kelas 1 dan kelas 2 SMA saya melihat berderet-deret nama siswa yang masuk ITB dan UNPAD dituliskan di kertas, kain, atau baju seragam bekas oleh kakak-kakak kelas 3 yang datang ke sekolah untuk merayakan kelulusan mereka dari UMPTN.

Lulus SMA itu perkara biasa, lulus UMPTN di SMA saya itu juga perkara biasa. Saking dianggap normal, siswa yang tidak masuk ke ITB dan UNPAD (dengan beberapa pencilan masuk ke UI dan universitas negeri lainnya di luar Bandung) akan dipandang dengan tatapan kasihan. Pembicaraan akan menjadi tidak nyaman, semua orang akan merasa bersalah karena segelintir teman-teman seangkatan itu tidak akan melanjutkan perjalanan bersama-sama lagi.

Mengapa masuk PTN (Perguruan Tinggi Negeri) menjadi sangat penting pada jaman itu? Selain faktor biaya yang jauh lebih murah dibandingkan PTS (Perguruan Tinggi Swasta), ada juga faktor gengsi. Masuk ke PTN berarti berhasil mengalahkan banyak orang (jumlah pastinya tergantung nama kampus dan jurusan yang dituju) yang bersaing masuk ke jurusan yang diincar.

Sejak SMA saya sudah bisa menduga belajar di ITB akan seperti apa. Saya yang menempuh pendidikan di sekolah swasta selama 10 tahun sebelum masuk ke SMA Negeri tahu pasti apa yang membuat sekolah-sekolah negeri begitu unggul. Bukan fasilitasnya, bukan infrastukturnya, bukan guru-gurunya, tetapi murid-muridnya sendiri.

Sekolah negeri adalah kolam yang berarus air deras dan diisi oleh ikan-ikan yang berotot kuat. Mengapa bisa begitu? Karena tidak ada pilihan lain, semua ikan (baca: siswa) di kolam sekolah negeri harus pandai berenang, melawan arus kalau perlu, supaya bisa survived. Tidak ada yang namanya bersantai-santai karena ada tuntutan untuk memenuhi standar akademik supaya bisa melewati tahapan demi tahapan pendidikan.

Anak-anak di SMA saya itu tipikal yang kelihatan santai di luar dan mendapat nilai-nilai cemerlang di kelas. Orang-orang mencap sekolah saya sebagai sekolah yang hanya berisi kutu buku. Salah besar, mereka yang gemar belajar terlalu keras sampai keletihan adalah mereka yang gemar bermain. Walaupun saya rajin belajar waktu SMA, saya juga rajin bersenang-senang dan melewati masa remaja yang indah. Saya tidak ingat betul siapa saja yang menjadi langganan juara kelas semasa SMA karena semua orang yang saya temui di sana adalah orang-orang yang teramat cerdas.

Kembali lagi ke soal mau kuliah apa dan di kampus mana.

Masuk ke jurusan IPA waktu kelas 3 SMA adalah sebuah perjuangan tersendiri ketika itu. Saya payah sekali di mata pelajaran Fisika dan Biologi. Maaf saja, saya tidak menyukai sains. Lebih menarik mempelajari isi hati dan pikiran manusia dibandingkan mempelajari alam semesta dan makhluk hidup selain manusia (eaaa).

Pelajaran Kimia masih bisa saya toleransi karena banyak bicara tentang kondisi ekuilibrium dimana materi di sebelah kiri persamaan harus sama persis dengan materi di sebelah kanan persamaan, persis seperti matematika dan bahasa yang saya libas dengan sepenuh hati. Masuk ke jurusan IPA dengan nilai pas-pasan itu rasanya seperti melewati lubang jarum.

Dari awal kelas 3 SMA saya bertekad untuk tidak kuliah di jurusan yang masih mewajibkan mempelajari Fisika dan Biologi. Jurusan apa pun jadilah, asalkan tidak ada kedua subyek itu. Saya dan teman-teman masih mengikuti berbagai try out dimana saya sudah berhasil melewati passing grade untuk jurusan Matematika di ITB.

Diam-diam pandangan saya mengarah ke atas. Ada begitu banyak jurusan berlabel teknik yang menetapkan passing grade yang jauh lebih tinggi dari Matematika. Apa keunggulan mereka? Mengapa mereka sangat diminati? Bagaimana peluang bekerja setelah lulus dari situ? Itu hanya sedikit dari sekian banyak pertanyaan yang berkecamuk di kepala.

Tempat terbaik untuk bertanya-tanya tentang jurusan adalah para kakak kelas yang sudah duluan memasuki ITB. Setiap hari Jumat biasanya banyak alumni yang datang bertandang ke sekolah untuk sekedar nongkrong di kantin atau di pelataran parkir motor. Hari Jumat menjadi hari yang ditunggu-tunggu teman-teman seangkatan saya karena itulah waktu untuk berburu informasi.

Beberapa kakak kelas dengan aura kepemimpinan yang kuat berkali-kali mengorganisir pertemuan seusai jam sekolah. Mereka yang berasal dari berbagai jurusan akan presentasi tentang apa itu ITB, apa saja jurusan yang ada, apa tantangan dan kesulitan belajar di sana, dan seterusnya. Saya dan teman-teman akan mengikuti sesi demi sesi dengan senang hati untuk memantapkan pilihan kami.

Suatu Jumat siang yang panas pada akhir tahun 1999, si mantan kecengan ternyata datang juga ke sekolah untuk presentasi mengenai jurusannya. Hati saya sedikit berdegup lebih kencang karena teringat masa saling mengirim surat lewat laci meja. Yang mau tahu detailnya boleh membeli buku saya “Randomness Inside My Head” di bit.ly/SkyBooks. Sekalian promosi, hehehe.

Setelah dia presentasi, kami berbincang-bincang sejenak. Lebih tepatnya dia yang bertanya tentang jurusan yang saya pilih, persiapan yang saya sudah lakukan, dan seterusnya. Ketika itu saya lebih banyak manggut-manggut, menjawab sekenanya dengan wajah merah padam karena akhirnya bisa mengobrol lagi dengan mantan kecengan setelah sekian lama. Nervous, bok.

Anyhow, dia bilang begini: try out (apalagi dari bimbel sejuta umat itu) sangat mendekati soal-soal riil di UMPTN. Jika saya sudah berhasil melewati passing grade untuk jurusan Matematika, maka sebaiknya saya menempatkan Matematika sebagai pilihan kedua dan memilih teknik sesuatu sebagai pilihan pertama.

Di situlah saya bingung, mau memilih teknik apa saking banyaknya pilihan di ITB. Dia tanya balik, memangnya ga merhatiin waktu kakak-kakak yang lain pada presentasi. Tengsin dong kalau saya jawab, enggak, Kak, saya cuma merhatiin Kakak. Bahahaha.

Mulailah dia cerita tentang jurusannya dan tak lama kemudian saya stop. Jadi harus belajar Fisika di jurusan itu? Iya, dong, mau gimana mengulik mesin kalau ga pakai Fisika (eaaa, jadi ketahuan deh jurusan si Kakak, hahaha). Saya tanya lagi, ada ga jurusan yang ga harus belajar Fisika? Ada, katanya. Selain di Tahap Persiapan Bersama (TPB) yang mengharuskan belajar Fisika Dasar 1 dan 2, ada satu jurusan yang isinya ilmu sosial dan manajemen.

Saya langsung tertarik, dong. Sebagai anak yang lahir dari orang tua yang berilmu humaniora, tertarik pada ilmu sosial dan manajemen itu sebuah keniscayaan, walaupun jurusan psikologi tidak menarik minat saya sama sekali . Lalu saya tanya lagi, mengapa nama jurusannya Teknik Industri kalau belajar ilmu sosial dan manajemen di sana? Kata si Kakak, di jurusan itu kamu bakal diajarin jadi manajer yang mengelola industri.

Sampai sekarang saya tidak habis pikir bagaimana bisa saya menelan informasi itu mentah-mentah, padahal si Kakak itu kuliah di jurusan yang bukan Teknik Industri. Akan tetapi, saya menurut saja waktu dia menyuruh saya membuat pilihan pertama Teknik Industri dan pilihan kedua Matematika di semua try out yang saya jabani selama 6 bulan menjelang dan pas waktu UMPTN. Kedua pilihan itu tidak pernah berubah bagaimanapun kakak-kakak kelas yang lain bilang Teknik Elektro lebih keren, lulusan Teknik Tambang lebih mudah mendapat pekerjaan, dan seterusnya. Ya, semua orang ‘kan  cenderung membanggakan rumahnya masing-masing.

Setelah saya berhasil masuk ke ITB kami bertemu dan dia hanya senyum-senyum melihat excitement saya. Mungkin dalam hati dia berpikir, lebih baik tidak mematahkan semangat menggebu-gebu seorang mahasiswa baru dengan kenyataan pahit bahwa saya tidak akan pernah lepas dari pelajaran Fisika.

Iya, tidak pernah, dan masuklah saya ke jurang depresi karena harus mempelajari subyek itu selama dua tahun berkelana ke jurusan-jurusan di luar Teknik Industri, seperti Teknik Elektro, Teknik Mesin, Teknik Material, Teknik Informatika, dan Teknik Fisika. Benar-benar ilmu sosial, pikir saya ketika itu, karena kami dituntut untuk bersosialisasi dengan para mahasiswa dan ilmunya sekalian dari segambreng jurusan tersebut.

Yang penting saya lulus tepat waktu. Itu adalah kekhawatiran terbesar saya setelah pulang dari Jepang dan mendapati satu per satu teman diwisuda. Saya tahu keputusan cuti dari ITB untuk mengikuti penelitian di Tokyo Institute of Technology akan berimbas pada masa studi saya. Ini sebuah keputusan yang sulit bagi orang tua, tapi tidak bagi saya. Bagaimanapun juga, ketika itu saya terlalu lelah dengan pelajaran teknik dan ingin sekali mempelajari sesuatu yang berbeda.

Tidak banyak mata kuliah di Tokyo Tech yang bisa dikonversi ke mata kuliah di ITB, jadi sebelum berangkat ke Jepang saya sudah pasrah harus turun angkatan dan menyelesaikan tingkat 4 dengan satu angkatan di bawah saya. Selama melakukan penelitian di Tokyo Tech, saya mengambil berbagai macam mata kuliah yang advanced, diversed, dan mencakup Knowledge Management yang waktu itu (tahun 2003) baru menjadi tren. Pembimbing saya di sana adalah Profesor Enkawa yang merupakan master dari Total Quality Management dan penasihat untuk Toyota dan Densho. Jadi, selain belajar bahasa Jepang, saya keasyikan belajar hal-hal yang jauh berbeda dari kampus di kampung halaman.

Apakah ilmu Teknik Industri terpakai setelah saya lulus dari ITB pada tahun 2005?

Seperti kata orang tua saya, S1 adalah perkara membentuk pola pikir. Jika ingin mendalami keilmuannya, maka saya perlu melanjutkan ke jenjang S2. Memang benar demikian, lulus dari Teknik Industri ITB rasanya seperti memiliki perlengkapan perang untuk menghadapi medan apa pun. Sepanjang kuliah di bidang ini (4 tahun di ITB dan 1 tahun di Tokyo Tech) saya melihat lulusan dari Teknik Industri sebagai orang-orang yang mampu menghadapi whatever coming their way.

Profesi dari para lulusannya sangat beragam, mulai dari pertambangan, perbankan, manufacturing, dan seterusnya. Saya sendiri pertama kali bekerja di divisi Human Resources setelah ditolak oleh divisi Manufacturing dari sebuah perusahaan besar. Apa pasal? Kepala divisinya tidak mau karyawan perempuan karena ada kewajiban untuk masuk shift malam.

Cukup satu lirikan pada CV saya yang menunjukkan mata kuliah “Sumber Daya Manusia” yang saya ambil di tingkat empat, saya pun diwawancarai untuk posisi Management Trainee (MT) di divisi HRD. Padahal sewaktu kuliah saya adalah asisten di Lab Ergonomi, tapi tidak tertarik bekerja di bidang itu selepas lulus.

Gara-gara bekerja sebagai HR Officer setelah lulus program MT, saya diminta seorang teman untuk menjadi MC dari sebuah acara tahunan kantor. Di situ saya bertemu dengan suami yang menjadi pasangan saya ketika memandu acara. Tahun ini adalah tahun ke-13 pernikahan kami, 15 tahun setelah kami pertama kali berkenalan.

Kalau dipikir-pikir, jalan saya untuk perkara studi dan pekerjaaan kok tidak jauh-jauh dari urusan asmara ya, hahaha.

Kalau dipikir-pikir, jikalau apabila dulu saya tidak kuliah Teknik Industri di ITB, maka saya pasti sudah cepat menyerah dan putus asa dalam mendalami satu demi satu pilihan profesi yang sangat terbatas setelah berumah tangga dan memiliki anak. Bidang yang saya tekuni sejak lulus kuliah sangat beragam soalnya.

Saya pernah bekerja di bidang Human Resources dan Supply Chain. Saya pernah membuka toko untuk perlengkapan bayi yang terpaksa ditutup karena kami sekeluarga pindah ke Swis. Sejak 5 tahun terakhir saya mengelola bengkel yang membuat perabotan berbasis kayu. Ketika mulai di sini saya selalu ingat kata-kata seorang dosen yang saya lupa namanya dan mengajar mata kuliah apa.

Semuanya dimulai dari BOM, Bill of Material.

Ilmu yang sudah lama terkubur itu terangkat lagi ke permukaan gara-gara tuntutan pekerjaan di bengkel. Menghitung manhour, waste, productivity, dan sebagainya adalah makanan sehari-hari saya sekarang, yang ternyata sudah ditanam benih pemahamannya oleh mata kuliah yang menyengsarakan dari jurusan-jurusan lain sepanjang tingkat 2, 3 dan 4.

Tidak hanya bekerja di bengkel, saat ini saya juga menulis novel, cerpen, dan blog. Lulusan Teknik Industri itu memang sagala rupa, sagala aya, seperti kata teman saya, Restu. Ilmu di Teknik Industri itu lengkap untuk memberikan kerangka berpikir dan ketahanan mental dalam menghadapi pekerjaan yang terlihat asing dan jauh dari keilmuan yang diperoleh di bangku kuliah.

Siapa sangka sebagai penulis indie saya harus ikut memikirkan tentang produksi buku, teknik marketing, pembuatan kontrak, nondisclosure agreement, dan seterusnya, dan sebagainya. Semuanya itu hanya soal supply chain, salah satu ilmu inti dari Teknik Industri. Oleh karena itu saya menceburkan diri dengan berani dan senang hati ke kolam dunia kepenulisan yang sebenarnya dipenuhi oleh hal-hal teknis selain kemampuan menjalin cerita.

Ah, cerita ini menjadi sangat panjang. Diawali dari kecintaan pada matematika, dilanjutkan dengan pembicaraan dengan mantan kecengan, diteruskan dengan bertemu dengan suami di pekerjaan pertama, dan diakhiri dengan sekarang menjalani profesi yang mengaplikasikan penuh semua ilmu yang menempa saya sepanjang di ITB.

Cerita perjalanan saya selama bersekolah dan bekerja di ranah publik memang cukup menarik dan selalu membuat anak-anak excited setiap kali mendengarnya. Mungkin karena saya tidak ragu untuk menceritakan juga kegagalan saat sekolah seperti mendapat nilai E untuk mata kuliah Gambar Mesin, yang kemudian menjadi B ketika diulangi di semester pendek. Siapa sangka, ilmu dari mata kuliah itu sekarang saya pakai setiap hari saat menggambar desain furnitur.

Berita baiknya adalah anak-anak saya jadi tertarik untuk masuk juga ke ITB. Yang satu ingin masuk ke jurusan Teknik Arsitektur dan yang satu lagi ingin masuk ke jurusan Teknik Sipil supaya bisa mewujudkan apa yang digambar oleh kakaknya.

Cita-cita yang indah. Saya berdoa semoga ada jalan ke sana.

Advertisement

9 thoughts on “Pokoknya Harus Belajar Matematika

    1. Makasih, hehehe … waktu itu ngelewatin kantor International Student Office (ISO) habis kuliah dari IF. Ada pengumuman programnya dan aku iseng ikutan. Yang ngewawancara dosen tekim lulusan Jerman dan kami pun berbicara dalam bahasa Jerman. Kayaknya aku kepilih karena itu deh 😄

      Like

  1. Aku baru tau risiko jadi pengacara sampai kayak gitu.. ngeri ya.. anyway seru baca cerita teteh nih, apalagi bagian yang ada mantan kecengan..hehe.. saya jadi kepo nih teh siapa mantan kecengan di MS? 😁 salam kenal teh, saya ichy

    Liked by 1 person

    1. Hai, teh ichy, dari jurusan ms juga ‘kan? Salam kenal, yaa .. soal si mantan kecengan, ups rahasia, dong, biarlah masa lalu tetap menjadi masa lalu, ahahaha … sampe skrg aku bingung kok bisa percaya2 aja sampe akhirnya bener2 masuk TI 🤣😂😄

      Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s