Mary Higgins Clark, Tak Ada Kata Terlambat untuk Menjadi Novelis

Tulisan ini dibuat untuk memenuhi Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog untuk bulan April tahun 2021. Wih, tak terasa sudah satu bulan berlalu. Rasanya baru kemarin saya menulis alasan saya masuk Teknik Industri ITB, eh sekarang sudah harus menulis dengan tema baru.

Tema tantangannya adalah ulasan buku yang mengangkat perempuan inspiratif, atau ditulis oleh perempuan yang inspiratif.

Nah lho, saya bingung. Selain mengidolakan oppa dan semua boyband yang lahir setelah NKOTB, terus terang saya tidak punya idola dan jarang terinspirasi oleh orang lain. Jadi, kalau sampai saya menulis tentang orang itu, pasti dia hebat banget bisa membuat bocor benteng pertahanan saya (eciyeh).

Tentang Perempuan atau Penulis Perempuan Inspiratif

Perempuan inspiratif. Hmmm …, siapa ya. Saya ingin bilang ibu saya, tapi ibu saya tidak menulis buku sendiri. Dia penerjemah buku-buku teknik dari bahasa Jerman ke Indonesia. Bacaan saya, yang 99.9% adalah fiksi, 90% ditulis oleh penulis pria. Kok bisa saya sama sekali tidak terpikirkan penulis wanita favorit.

Penulis wanita yang karyanya saya baca berulang-ulang pada masa remaja hanya Charlotte Brontë dan Emily Brontë.

Di akhir usia 20-an saya mulai mengenal karya-karya Nora Roberts dan sudah membaca hampir semua e-book-nya yang dibelikan suami 10 tahun lalu.

Novel Agatha Christie tak ada satu pun yang saya bisa tamatkan sepanjang hidup, walaupun saya penggemar cerita detektif dan misteri. Sorry, just not my cup of tea.

Sambil kebingungan menulis tentang perempuan mana yang menulis buku apa yang inspiratif, saya membolak-balik koleksi di perpustakaan rumah kami.

Foto di bawah ini tidak merepresentasikan keadaan sesungguhnya sekarang, di mana setiap sudut lemari disesaki LEGO yang sudah dirakit dan banyak koleksi novel saya yang sudah pindah ke attic karena tidak ada lagi tempat. Plus set komputer dan buku-buku sekolah kedua anak saya yang paling besar.

Perpustakaan rumah kami, lengkap dengan tatami

Pandangan saya kemudian tertumbuk pada hadiah ulang tahun kesekian dari adik saya, si anak nomor 2. Saya dan adik-adik saya memang terbiasa saling menghadiahi buku sejak pada punya penghasilan sendiri.

Hadiah buku pertama yang saya terima dari adik perempuan adalah novel klasik karangan Walter Scott berjudul “Rob Roy”, semacam Robin Hood versi Skotlandia. Bukunya tebal, huruf-hurufnya rapat-rapat, kertasnya cepat sekali menguning, tapi saya suka sekali. Si adik memang tahu benar kalau saya pecinta buku klasik.

Setelah itu ada beberapa hadiah buku karangan Brontë bersaudari dan beberapa Harlequin Series ketika saya sedang menggandrungi roman picisan. Kalau teman-teman membaca tulisan fiksi saya yang bikin bergidik dan ngeri kayak “The Cringe Stories”, pasti tidak menyangka bahwa pada suatu masa saya pernah menjadi romance junkie ….

Lalu dia menghadiahkan beberapa buku karangan Mary Higgins Clark. Namanya mungkin tidak seterkenal Agatha Christie. Adakah yang sudah pernah membaca karya-karyanya?

Sedikit Kilas Balik

Setahun sebelum ulang tahun yang dihadiahi buku itu, saya sekeluarga masih tinggal di Swis karena ikut suami bertugas di sana. Kami tiba di sana tanggal 28 April (baru anniversary nih, ceritanya) dan itu hari Sabtu.

Saya baru ngeh kalau di Swis toko-toko tutup pukul 6 sore pada hari Senin, Selasa, Rabu, dan Jumat, pukul 8 malam pada hari Kamis, pukul 12 siang pada hari Sabtu, dan tidak beroperasi sama sekali pada hari Minggu. Satu-satunya toko yang buka 24/7 di kota Neuchâtel yang kecil hanyalah minimarket yang terletak di stasiun.

Keesokan harinya, hari Minggu, sambil menyusuri alun-alun kota yang sangat sepi dan menyesali kenapa tidak memasukkan 1-3 kardus indomie ke dalam bagasi pesawat, suami bertanya apa saya bakal betah tinggal di Swis dan menjalani kebanyakan hari hanya berdua dengan anak sulung yang masih balita.

Saya sudah menduga posisi suami sebagai ekspatriat akan membuatnya banyak bekerja lembur dan sering bepergian, dan saya tidak apa-apa dengan itu. Lagipula, pertanyaannya terlambat banget ga sih, kami kan sudah kadung ikut ke sana, hehehe. Ini adalah jawaban saya:

“Selama aku tahu di mana harus berbelanja sembako, ke mana harus membawa anak bermain, di mana letak perpustakaan kota, aku akan baik-baik saja.”

Saya cukup tahu tiga poin itu dan saya pasti baik-baik saja. Itu survival tips saya waktu kuliah di Tokyo untuk penelitian, minus poin kedua ya karena waktu itu saya belum menikah. Begitu pindah ke kota/negara baru, saya akan langsung cari tempat belanja dan tempat pinjam buku.

Negara Swis menggunakan tiga bahasa resmi (Jerman, Perancis, dan Italia) dan kota Neuchâtel ada di bagian yang berbahasa Perancis. Di Neuchâtel ada Université de Neuchâtel yang terkenal karena program studi teologi dan filsafatnya. Perpustakaan kota terletak di alun-alun kota dan dikelola oleh universitas ini.

Saya tidak boleh meminjam buku dengan menggunakan paspor. Jadi, sambil menunggu KTP lokal yang keluar satu bulan kemudian, saya harus puas nongkrong di perpustakaan bareng bocah dari siang ke sore, sambil menunggu suami pulang kerja.

Berhubung perpustakaan kota merangkap perpustakaan universitas, bagian buku untuk anak-anak bisa dibilang … tidak ada. Suasana di dalamnya sepiiii sekali, lebih sepi dari kuburan. Anak saya berceloteh sedikit saja langsung dihardik oleh pengunjung lain.

Meskipun kami sangat mencintai kedamaian dan keindahan alam di Swis, selama tinggal di sana anak kami yang sulung menjalani masa kecil yang sangat terkungkung.

Sering saya melihat dia tampak tersiksa karena harus selalu tenang, tertib, diam di tempat publik, berbeda sekali dengan di Indonesia. Sampai-sampai ada anekdot, anjing di Swis bisa cari tempat sampah sendiri untuk membuang kotorannya. Warbiyasa.

Perpustakaan itu tidak memiliki banyak koleksi fiksi dalam bahasa Inggris. Hanya ada satu rak kecil selebar 1 meter, setinggi 2 meter di pojok lantai 2 yang biasanya dipakai untuk belajar, yang berisi sekitar 50 novel karangan penulis berkebangsaan Amerika Serikat dan Inggris.

Nama penulis pria ada banyak. Nama penulis wanita hanya ada dua: Anne Rice (penulis “Interview with the Vampire”, yang diadaptasi menjadi film yang dibintangi Tom Cruise dan Brad Pitt) dan Mary Higgins Clark.

Perkenalan dengan Karya Mary Higgins Clark

Mary Higgins Clark pada tahun 2004 . Sumber foto: LA Times

Mary Higgins Clark adalah seorang penulis dari Amerika Serikat yang hidup pada kurun waktu 1927 – 2020. Lebih dari lima puluh judul novel dan cerpennya bergenre suspense, misteri, dan psychological thriller.

Buku pertama dari Mary Higgins Clark yang saya baca di kota Neuchâtel berjudul “Pretend You Don’t See Her” (1997).

Buku ini berkisah tentang Lacey Farrell, seorang agen properti yang tanpa sengaja menyaksikan pembunuhan ketika hendak menjual sebuah apartemen mewah. Wanita tua yang menjadi korban membisikkan kata-kata terakhir kepada Lacey tentang buku harian anaknya yang baru meninggal akibat tabrak lari. Karena ketakutan, Lacey masuk ke program perlindungan saksi dan mengubah identitasnya. Akan tetapi, dia tidak pernah bisa bersembunyi terlalu lama ….

Terus terang, saya membaca buku ini bukan karena penasaran atau karena tahu profil penulisnya. Saya membaca buku ini hanya karena tidak ada buku lain. Saya sudah membaca habis semua buku di rak itu, minus buku-buku karangan Anne Rice karena saya tidak suka. Ingin meminjam dari perpustakaan lingkungan, eh saya tidak punya KTP lokal.

Saya membaca buku karangan Mary Higgins Clark itu dengan malas-malasan, berhari-hari, dan sering gemas dengan karakter utamanya yang cenderung pasif dan menerima saja jalan hidupnya ditentukan oleh orang lain. Gak gue banget, pikir saya waktu itu.

Akan tetapi, saya berusaha menyelesaikannya karena tidak ada pilihan lain. Plotnya baru terangkat di sepertiga bagian akhir novel, ketika karakter Lacey mulai menjadi lebih kuat dan lebih berani menghadapi orang yang akan membunuhnya.

Memang tujuan setiap karya fiksi adalah perubahan drastis pada karakter-karakter yang dikisahkan. Tanpa itu, penulis dan pembaca hanya membuang-buang waktu.

Setelah memiliki KTP lokal saya banyak meminjam buku belajar bahasa Perancis dan menghabiskan waktu membaca buku-buku tulisan James Patterson, seorang penulis thriller dari Amerika Serikat yang menulis buku “The President is Missing” bersama mantan presiden Bill Clinton. Saya melupakan sama sekali tentang Mary Higgins Clark sampai adik saya menghadiahkan buku “Where Are You Now?” (2008).

Selanjutnya tentang Mary Higgins Clark

Waktu membaca blurb-nya, saya bertanya kepada adik saya apakah dia memilih buku itu karena kisahnya tentang seorang adik yang kehilangan kakaknya, seperti suara hatinya terdalam bahwa adik saya tidak ingin kehilangan saya.

Adik saya yang berkarakter sangat pregmatis hanya mengernyitkan dahi dan menjawab, “Enggak, aku lihat bukunya di rumah Kakak waktu di Swis, jadi aku pikir Kakak suka banget sama pengarangnya.” Memang imajinasi saya sering berkelana liar tanpa arah, hiks.

Padahal buku yang dia lihat sewaktu mengunjungi kami di Neuchâtel tak kunjung dikembalikan ke perpustakaan karena saya ogah-ogahan membacanya, bukan karena saya suka. Persepsi dua orang terhadap satu hal yang sama memang bisa berdeviasi sedemikian jauh.

Buku “Where Are You Now” berkisah tentang seorang adik, Carolyn, yang mencari kakak laki-lakinya, Mack, yang hilang tanpa jejak ketika berumur 21 tahun. Anehnya, setiap Hari Ibu, Mack pasti akan menelepon ke rumah dan memberi kabar bahwa dia baik-baik saja. Anehnya lagi, Mack tidak bisa pulang ketika ayahnya meninggal akibat peristiwa 9/11.

Carolyn yang gemas dengan misteri kepergian kakaknya memutuskan untuk mencari Mack. Usahanya itu malah membuatnya bersinggungan kembali dengan orang-orang di sekitar Mack sebelum dia menghilang, dan kasus orang-orang yang hilang setelah Mack.

Setelah menamatkan buku ini saya mengambil kesimpulan bahwa Mary Higgins Clark adalah perempuan yang inspiratif. Ini dia alasannya:

1.    Menulis novel pertama pada usia 37 tahun

Ketika banyak orang berlomba-lomba menulis dan mempublikasikan karya pada usia 20-an, Mary (untuk lebih singkatnya) baru menulis novel pertamanya pada usia mendekati 40 tahun dengan status janda yang mencari nafkah untuk tanggungan lima orang anak berusia 5 sampai 13 tahun.

Awesome atau daebak, gak tuh?

Kata orang, potensi terbaik sering keluar pada saat terdesak. Memang waktu itu Mary menulis untuk menyambung hidup karena suaminya meninggal muda akibat serangan jantung. Sebelum menulis novel, dia adalah penulis naskah untuk siaran radio.

Mary tidak ujug-ujug menulis novel, lho. Sebelum menulis novel “Aspire to Heavens” (1968), karya faksinya tentang kehidupan masa muda presiden Amerika Serikat pertama, George Washington, Mary sudah menghasilkan banyak sekali cerita pendek yang diterbitkan di berbagai surat kabar dan majalah.

Kesukaannya menulis dan membaca dimulai dari usia sangat belia. Pada umur 7 tahun dia pertama kali membuat puisi dan naskah drama singkat. Sepanjang masa mudanya dia rajin menulis buku harian dan sering menghibur orang lain dengan cerita-cerita khayalannya.

Intinya adalah, untuk mencapai titik perjalanan di mana dia memberanikan diri menulis dan mempublikasikan novel, Mary sudah mengumpulkan bekal selama tiga puluh tahun sebelumnya. Tiga dekade, bayangkan.

2.    Membuka mata hati untuk mendapatkan ide cerita

Mary pernah bekerja sebagai operator di sebuah hotel untuk menangani berbagai keluhan dari pengunjung.  Dia juga pernah bekerja sebagai pramugari yang bepergian ke seluruh dunia dan berinteraksi dengan banyak orang dari berbagai latar belakang. Dari situ dia mendapat ide untuk cerpen-cerpen yang dia tuliskan.

Mary adalah seorang wanita yang suka belajar. Ketika sudah menjadi ibu rumah tangga, ia tidak ragu mengikuti berbagai pelatihan menulis kreatif. Salah seorang dosennya menyuruh mahasiswanya untuk rajin membaca berita di koran untuk latihan membangun plot cerita. Kata dosen itu, selalu akhiri setiap kegiatan membaca koran dengan pertanyaan:

“Bagaimana jika …?”

Bagaimana jika sebuah berita berakhir berbeda? Bagaimana jika ada aktor lain yang ditambahkan ke dalam plot? Bagaimana jika ada peristiwa bencana alam di sepanjang peristiwa dalam berita? Dan sejuta “bagaimana jika” lainnya yang melatih imajinasi Mary untuk memikirkan berbagai kemungkinan.

Ibarat sedang menyusun labirin, seorang penulis harus selalu menyiapkan berbagai alternatif untuk tikungan plot sampai mencapai ending cerita.

Semua pekerjaan yang Mary jalani (operator di hotel, pegawai di biro iklan, pramugari, penulis skrip radio, dan lain-lain) sebenarnya mendukung profesi novelis yang dia jalani sampai akhir hidupnya. Dari pekerjaan-pekerjaan itu Mary mendapatkan ide cerita.

Selama melakukan pekerjaan-pekerjaan itu Mary belajar tentang manusia dan segala karakteristiknya. Tak heran walaupun plotnya berjalan sangat lambat, novel-novelnya yang bergenre thriller sangat sering memainkan sisi psikologis manusia yang enggan kita percakapkan.

3.    Fiksi itu adalah tentang kehidupan nyata

Ini adalah kesimpulan yang saya ambil setelah membaca banyak buku Mary. Premis dalam semua bukunya sangat sederhana, teramat sederhana. Plot yang dibangun adalah semua hal yang kita bisa jumpai dalam kehidupan sehari-hari.

Kita bisa menjumpai seorang polisi yang bertindak begini karena berpikir begitu dalam buku Mary, sama seperti dugaan kita akan pola pikir polisi di kehidupan nyata. Tidak ada yang terlalu mengejutkan. Semua karakter di dalam buku Mary adalah orang-orang biasa yang kita sering jumpai sehari-hari dan kita maklumi keberadaannya.

Meskipun ada beberapa yang seperti itu, karakter-karakter dalam buku-buku Mary tidak melulu tampan, cantik, pintar, kaya, dan memiliki strata sosial paling tinggi. Ada karakter yang cuma seorang gelandangan, tapi memegang peranan penting dalam memecahkan misteri. Ada karakter penyiar radio yang menjadi sandaran dan kekuatan seorang saksi pembunuhan yang sedang dikejar-kejar.

Semuanya datar, semuanya masuk akal, semuanya nyata, jadi apa istimewanya buku-buku Mary? Sampai sekarang saya pun tidak bisa menjawab pertanyaan itu dengan gamblang.

Mary bukanlah Sir Arthur Conan Doyle dengan karakter Sherlock Holmes-nya yang frontal, genius, dan ambisius. Plot di ceritanya tidak ada yang meledak-ledak. Setiap akhir buku saya selalu bergumam pada diri sendiri, “Oh, ternyata begitu. Gue gak heran.”

Iya, setiap selesai membaca buku-buku Mary saya tuh tidak terkejut. Apa saya sudah menduga ending-nya seperti itu? Tidak juga. Terbersit iya, tapi saya tidak yakin itu akan menjadi ending-nya karena Mary sangat jago menghadirkan berbagai kemungkinan.

Mengapa Harus Mary Higgins Clark?

Ah, gara-gara tantangan menulis ini dan keharusan menyetorkan tulisan terakhir bulan April untuk KLIP, akhirnya saya menemukan jawaban mengapa saya tetap berburu buku-buku karya Mary di BBW, walaupun alurnya lambat sekali dan baru tertolong pada bagian tengah sampai akhir.

Mary Higgins Clark bercerita dengan rapi.

Nah itu, plotnya terjalin rapi. Karakter-karakternya mungkin biasa-biasa saja, alur ceritanya mungkin terlalu umum, premisnya mungkin sederhana, tapi dengan jalinan plot yang rapi, pembaca sampai kepada kesimpulan: saya puas sudah menamatkan buku ini.

Iya, itu perasaan saya setiap kali selesai menamatkan buku-buku Mary yang tidak pernah selesai cepat dan sering diabaikan lama setelah dibeli karena saya malas memulai. Rasanya seperti sudah menamatkan five-course meal dan saya merasa kenyang dan puas yang cukup.

Mary selalu memberikan ending dengan porsi cukup, tidak berlebihan yang membuat saya ingin novelnya memiliki sekuel, atau terlalu kurang yang membuat saya ingin ada alternate ending. Semuanya cukup dan itu adalah hasil latihan selama berdekade-dekade sampai Mary tutup usia pada umur 92 tahun.

Mengapa Mary Higgins Clark Inspiratif?

Gara-gara Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog inilah saya jadi sadar, selama menjadi penulis fiksi sejak tahun 2016, saya sudah sangat terinspirasi oleh Mary Higgins Clark.

Pertama, tentang perjalanan karirnya. Sebagai seorang penulis yang baru memulai pada usia 34 tahun, saya sangat bisa relate dengan tantangan dan hambatan yang Mary hadapi ketika mulai menulis secara profesional. Fokus menulis Mary pada awalnya adalah untuk mencari nafkah, fokus saya adalah untuk meninggalkan warisan bagi anak-anak. Tujuannya sama: untuk keluarga yang harus selalu diutamakan.

Kedua, tentang pemilihan latar belakang untuk karakter-karakternya. Tiga tahun berlalu tanpa saya memiliki dan membaca buku karya Mary, tapi ternyata secara tidak sadar saya terpengaruh ketika menulis cerpen-cerpen yang terkumpul dalam “The Cringe Stories” (2020). Orang-orang biasa, orang-orang yang sering diabaikan, ternyata bisa juga memiliki kisah-kisah luar biasa yang membuat kita ternganga. Saya sudah belajar banyak sekali dari Mary.

Penutup

Apakah saya akan merekomendasikan buku-buku karya Mary Higgins Clark?

Tidak, sebab membaca, menyukai, dan menulis adalah perkara pengalaman personal yang tidak bisa distandarkan. Apa yang saya bilang bagus belum tentu bagus untuk orang lain, dan sebaliknya.

Kalau kamu ingin mencoba membaca, bisa berburu buku-bukunya yang diobral di Big Bad Wolf di Tokopedia. Eh, kok jadi iklan.

Ini inspirasi yang saya dapat.

Seperti Mary, saya ingin menulis berpuluh-puluh buku selama berpuluh-puluh tahun ke depan.

8 thoughts on “Mary Higgins Clark, Tak Ada Kata Terlambat untuk Menjadi Novelis

    1. Sampulnya monoton, plotnya monoton, tapi tiap kali sampai ending rasanya kayak abis makan menu lengkap. Nah lho, jago banget kan dia sebagai storyteller 🤣🤣 cobain 1 buku aja, teh andin. Di bbw didiskon jadi 70-90 ribu satunya.

      Like

  1. Jadi inget, dulu waktu ikut pelatihan menulis pas masih kuliah, salah satu latihannya ya itu, bikin berita baru dari berita di koran, hoho…

    Liked by 1 person

  2. Baiklah, aku akan mulai membaca novelnya Bu Mary. Namanya sih familiar banget. Tapi baru tahu kalau backgroundnya seperti ini. Menarik.

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s