30.03.21 Buku “Crazy Sick 2020” Sudah Terbit

Bulan Maret tahun 2021 adalah bulan bersejarah bagi saya secara pribadi. Di bulan ini ada tiga kejadian penting bagi perjalanan saya sebagai seorang penulis.

Pada tanggal 13 saya mengadakan kelas “Membedah Karakter pada Fiksi” di Ruang Berbagi KLIP. Pada tanggal 21 saya mengadakan peluncuran buku “The Cringe Stories” yang masih didukung oleh KLIP. Pada tanggal 30, yaitu tepat hari ini, buku saya yang ke-4 yang berjudul “Crazy Sick 2020” sudah siap untuk dipasarkan. Psst, buku terakhir ini adalah rangkuman dari perjalanan menulis dengan KLIP pada tahun 2020 lalu, lho.

Lagi lagi masih KLIP, hehehe.

Apa sih KLIP? KLIP adalah Kelas Literasi Ibu Profesional, sebuah komunitas yang bergerak di bidang literasi dan berada di bawah naungan Ibu Profesional. Anggota KLIP adalah wanita, tanpa memandang asal-usul, agama, ras, dan status pernikahan. Asalkan mencintai literasi, membaca, dan menulis, maka semua wanita dapat bergabung dengan KLIP.

Komunitas yang serius adalah komunitas yang memastikan komitmen anggotanya. Masuk menjadi anggota KLIP tidaklah mudah, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi. Syarat tersebut tidak sulit selama calon anggota cinta menulis, sebab kegiatan utama di KLIP adalah menulis, dalam berbagai macam bentuk dan pada berbagai macam platform. Anggota yang menulis akan dihargai dengan beberapa jenis badge. Kompetisi adalah dengan diri sendiri, bukan dengan orang lain, dalam hal mempertahankan semangat untuk menulis setiap hari terlepas dari kesibukan, kemalasan, ataupun alasan lainnya.

Tahun 2020 lalu adalah tahun yang historis bagi dunia, bagi kebanyakan orang, termasuk saya. Hidup berubah dengan begitu drastis, saya dan semua orang mau tak mau harus beradaptasi. Catatan perjalanan saya ketika menghadapi satu demi satu hal yang mengagetkan saya tuangkan dalam tulisan hampir setiap hari sepanjang tahun 2020. Mengkurasi 272 tulisan untuk dikumpulkan menjadi sebuah buku adalah ibarat memegang mikroskop yang mengamati hidup yang telah berlalu hari demi hari dalam skala kecil.

Orang bilang: the days are long, but the years are short. Hari-hari bisa terasa sangat panjang, terutama bila manusia tidak memiliki tujuan, kesibukan, atau teman. Akan tetapi, tahun-tahun berlalu dengan sangat cepat di depan mata bila kita memiliki ketiga hal tersebut. Rasanya baru kemarin kita memasuki abad ke-21, tak terasa sudah 21 tahun berlalu sejak tanggal 1 Januari 2020 ketika milenium baru dimulai. Tentu saja itu karena kita sibuk mengisinya sehingga waktu terasa seperti berlari mendahului kita.

Itu yang saya rasakan ketika mulai mengerjakan naskah untuk buku “Crazy Sick 2020” pada awal bulan Oktober 2020. Tekad saya waktu itu hanya satu, mengumpulkan catatan yang terserak setiap hari, minggu, dan bulan. Seperti yang saya tulis pada bagian blurb buku ini: saya mencatat untuk mengingat, mencatat untuk mempelajari, dan mencatat supaya mawas diri.

Waktu saya mulai mengkurasi tulisan-tulisan, saya memulainya dengan sebuah mindset: apa yang bisa menjadi bekal pengetahuan untuk para pembaca dan untuk generasi mendatang. Hal ini tidak terlepas dari motivasi saya ketika menulis buku demi buku. Semua buku saya berlaku sebagai warisan untuk anak-anak, sebagai rekam jejak ibunya di bumi ini, dan sebagai bekal untuk tindak-tanduk mereka di masa depan.

Dengan mindset itu saya mengumpulkan tulisan demi tulisan yang bisa menjadi alat refleksi mereka (dan semoga untuk orang lain juga) tentang sebuah periode di mana kita menyadari bahwa hidup ini begitu rapuh dan ada terlalu banyak hal yang tidak bisa kita kendalikan.

Sebagai manusia yang memiliki iman akan Tuhan, Pencipta alam semesta dan pemegang hidup, pandemi dan semua efek dominonya adalah pengingat untuk kita jauh dari sikap angkuh. Kita ini hanya setitik debu, ada hari ini dan patah esok hari, persis seperti bunga liar di padang. Kesehatan, kesejahteraan, dan semua yang kita miliki adalah anugerah semata-mata.

Saya tidak bermaksud menggurui melalui buku saya, tidak sama sekali. Buku “Crazy Sick 2020” adalah sebuah kumpulan kesadaran karena saya telah melewati titik-titik tinggi dan rendah pada sebuah roda kehidupan. Terlepas dari apakah kumpulan kesadaran itu dapat memberi manfaat bagi orang lain atau tidak, menyusun buku ini sudah membuat saya sangat bahagia.

Buku “Crazy Sick 2020” bersifat berkesinambungan dengan buku sebelumnya yaitu kumpulan cerpen “The Cringe Stories”. Jika “The Cringe Stories” adalah kumpulan pengamatan akan natur manusia yang difiksikan supaya bisa relate dengan konteks pengalaman pembaca cerpen-cerpen di dalamnya, maka “Crazy Sick 2020” adalah kumpulan pengalaman akan perilaku manusia yang bersifat nonfiksi. Tidak ada yang diromantisasi, tidak ada yang dipelintir, tidak ada yang dilebih-lebihkan. Esai demi esai yang berada di dalam buku ini adalah cerminan dari kejadian nyata yang memang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Just the way it is.

Sebelum saya menjelaskan tentang topik-topik apa saja yang dicakup oleh buku “Crazy Sick 2020”, saya akan menjelaskan sedikit tentang judulnya. Mengapa crazy sick? Maksudnya sakit gila, atau bagaimana? Tidak, kata crazy sudah mengalami pergeseran makna dari hanya sifat gila menjadi sesuatu yang kebangetan di dalam bahasa Indonesia. Sesuatu yang overwhelming, berlebihan, melampaui porsi yang seharusnya.

Kita masih dapat mengerti wabah. Penyakit demam berdarah adalah wabah tahunan di Indonesia, sama halnya dengan penyakit malaria. Begitu wabah itu meluas maka terjadilah epidemi. Epidemi bicara tentang perluasan area penyebaran wabah seperti yang terjadi pada awal-awal Covid-19. Dimulai dari kota Wuhan di Cina, status wabah itu meningkat menjadi epidemi ketika infeksi oleh virus SARS-CoV2 juga ditemukan di kota-kota lain di Cina. Yang terjadi terakhir adalah pandemi, ketika epidemi meluas sampai menjangkau seluruh dunia dan penyebarannya tidak terkendali.

Crazy, isn’t it? Kebangetan, ya? Bukan hanya dalam hal penyebaran virusnya yang membuat jutaan orang sakit secara fisik sampai saat ini, tapi juga dalam hal aspek lain yang ikut terporakporandakan oleh karena virus ini, seperti aspek ekonomi, sosial, dan lain sebagainya.

Tiba-tiba kita harus berperilaku ”tidak manusiawi”. Kontak fisik dilarang, pertemuan langsung dihindari, anak-anak yang seharusnya bermain dan bercengkerama bebas dengan teman-temannya di sekolah harus menghabiskan banyak waktu di depan layar untuk mengkompensasi ketiadaan kehadiran guru, teman, dan keluarga secara langsung,

Crazy, isn’t it? Kebangetan, ya? Dan semua itu terjadi pada tahun 2020, tepatnya pada bulan Maret di Indonesia dan lebih awal dari itu di Cina dan banyak negara lain di dunia.

Setelah satu tahun berlalu dan kita masih menghadapi pandemi, bagaimana keadaan kita saat ini? Apa kabar kita? Adaptasi itu sudah pasti terjadi, tapi apakah kita sudah melupakan kesulitan-kesulitan kita di awal?

Masih ingatkah kita dengan kepanikan yang menyebar cepat dan ganas bagai api liar melalui grup-grup di aplikasi chat pada awal pandemi? Saya masih ingat betul pada bulan Maret 2020 tiada hari berlalu tanpa saya menerima berita orang yang terkena infeksi, lengkap dengan pekerjaan dan alamat rumahnya. Data pribadi disebarkan tanpa pertimbangan atas nama usaha membuat orang lain waspada. Entah sejak kasus yang keberapa, grup-grup itu kembali sepi. Semua orang sudah terbiasa dengan kehadiran pandemi, media massa dan media sosial pun tidak diramaikan lagi oleh data kasus orang yang terinfeksi virus Corona.

Masih ingatkah kita dengan kesulitan untuk menyeimbangkan bekerja dari rumah, mengawasi anak-anak belajar dari rumah, sambil mengerjakan pekerjaan rumah tangga yang seperti tidak ada habisnya? Rasanya seperti juggling dengan dua tangan yang terbatas dan setiap malam kita tidur dengan tubuh, jiwa, dan emosi yang lelah karena ditekan dari sana-sini sepanjang hari.

Masih ingatkah kita dengan tahap awal belajar dari rumah untuk anak-anak kita, waktu sekolah mereka terlihat sama-sama clueless dengan kita? Teknologi belum siap, pengajar juga memiliki concern tersendiri akan kehidupan pribadi mereka, dan anak-anak diserahkan kepada kita, orang tua, untuk diajari dengan materi-materi yang kita peroleh dua atau tiga dekade yang lalu.

Saat ini ketika kita diingatkan kembali akan hal-hal itu, mungkin kita hanya akan mengangkat bahu. Semua itu sudah berlalu, saya sudah melaluinya dengan lancar, tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan. Mungkin akan seperti itu tanggapan saya dan Anda. Akan tetapi, catatan akan kesulitan-kesulitan itu bisa menjadi bekal jika kita diperhadapkan pada kondisi yang sama, atau lebih parah, dari yang telah kita hadapi sepanjang setahun terakhir.

Buku “Crazy Sick 2020” tidak hanya bicara tentang kesulitan dan tantangan. Ia juga bicara tentang kesempatan dan perenungan. Mobilitas yang terbatas membuat kita menghabiskan hampir sepanjang waktu di rumah. Ruang-ruang yang biasanya menjadi tempat kita beristirahat tiba-tiba menjadi pusat semesta semua kegiatan kita.

Bekerja, belajar, bersantai, beristirahat, berelasi, semuanya dilakukan di rumah. Kita membutuhkan sesuatu untuk mengatasi rasa bosan. Kita membutuhkan sesuatu untuk selalu melihat rumah sebagai tempat yang exciting, yang selalu memiliki potensi.

Orang-orang menemukan hobi baru, atau bahkan kembali menekuni hobi lama, gara-gara pandemi. Orang-orang mencari cara baru untuk rehat dan melepaskan penat. Orang-orang memutar otak supaya tetap antusias dalam menjalani rutinitas sehari-hari. Buku “Crazy Sick 2020” ini akan memberikan ide-ide berkegiatan yang pasti tidak akan memperbesar kemungkinan penularan virus.

30 Maret 2021, 30.03.21, adalah tanggal cantik yang saya sukai dan pilih untuk meluncurkan buku “Crazy Sick 2020” ini ke hadapan publik. Saya berharap tulisan di atas dapat dijadikan rujukan untuk memasukkan buku ini ke dalam koleksi pribadi Anda.

Buku “Crazy Sick 2020” dapat diperoleh melalui link berikut: bit.ly/SkyBooks dengan harga Rp 62.500,00 per eksemplar.

Terima kasih!

2 thoughts on “30.03.21 Buku “Crazy Sick 2020” Sudah Terbit

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s