Cara Menentukan Nama Karakter Pada Fiksi

Bagaimana seorang penulis menentukan nama dari karakter-karakter yang dia ciptakan dalam tulisan fiksi? Ada banyak cara. Cara paling mudah adalah dengan memakai nama dari anggota keluarga, teman, atau kerabat. Bisa jadi yang kepribadiannya memang mirip dengan kepribadian si tokoh rekaan, bisa juga yang bertolak belakang sama sekali.

Waktu saya menulis “The Cringe Stories” akhir tahun lalu, saya enggan memberi nama pada tokoh utama dari kesembilan cerpen yang ada. Saya memakai sudut pandang pertama untuk penceritaan (Point of View, PoV 1). Saya ingin mengajak pembaca cerita saya mengandaikan diri sebagai tokoh-tokoh sentral di dalam setiap cerita.

Pemilihan PoV memang sangat mempengaruhi kedekatan dan relasi emosional antara alur cerita dan pembacanya. Jika penulis menggunakan PoV 3, baik sebagai pengamat maupun sebagai orang serba tahu, ia seolah-olah mendongeng. Eh, tadi ada kejadian ini lho, si A mengalami ini, terus si B bereaksi begitu, dan seterusnya. Pembaca mungkin terhibur, tapi ada kemungkinan besar pembaca berpikir: apa pentingnya cerita itu bagi saya.

Jika penulis menggunakan PoV 1, maka ia menempatkan diri sebagai karakter utama, pusat kejadian dalam cerita yang ia tuturkan. Kata ganti orang pertama (aku, kami, kita) menegaskan hal itu. Waktu kita membaca ceritanya, di dalam kepala seolah-olah kita mendengar si penulis berbicara langsung kepada kita. Eh aku tadi mengalami ini lho, terus reaksiku begitu, kamu ingin tahu selanjutnya, tidak?

Jawaban dari pertanyaan itu relatif, apakah ceritanya cukup menarik untuk diikuti? Karena pembaca memilih bacaannya, pembacalah yang memilih penulis yang karyanya ingin ia apresiasi. Penulis yang mendapatkan atensi, porsi waktu dan tenaga dari pembacanya adalah penulis yang beruntung.

Ketika memilih PoV 3, maka menamai karakter adalah sebuah keniscayaan. Akan sulit untuk hanya menyebut si tokoh utama sebagai “dia”, apalagi dalam bahasa Indonesia “dia” tidak dibedakan berdasarkan gender. Mengikuti alur pikiran penulis dan siapakah “dia” yang dimaksud akan menjadi tantangan tersendiri.

Di sini kita masuk ke cara memberi nama pada karakter. Ada banyak nama dimana huruf-huruf yang tersusun di dalamnya memberikan kesan tertentu, contohnya nama seperti Bara, Roga, Rick. Ketiga nama itu memberi kesan seorang pria dengan karakter maskulin dan tegas.

Di sisi lain, nama untuk wanita seperti Sofia, Hana, dan Aya juga memberikan kesan karakter yang feminin dan lembut. Nama-nama itu terdengar indah jika diucapkan, jadi pembaca memiliki prasangka bahwa karakter yang menyandang nama itu pasti berparas cantik.

Kita bisa memilih nama-nama dengan kesan/aura seperti itu dari internet. Pada jaman sebelum internet, sumber informasi untuk memilih nama adalah dari buku pintar. Ada satu bagian di halaman paling belakang tentang nama-nama anak, lengkap dengan asal bahasa dan maknanya. Bayangkan cara pengucapan namanya, perasaan apa yang ditimbulkan, dan cari artinya. Jika cocok dengan kepribadian dari tokoh rekaan kita, maka nama itu bisa dipakai.

Yang perlu diperhatikan di sini adalah nama dengan pelafalan yang sederhana akan lebih mudah diserap dan diingat oleh pembaca. Sebagai contoh, pembaca akan lebih mudah mengingat nama Kaylin daripada nama Kaiyleen, nama Malika daripada nama Mahleeca, dan seterusnya.

Memilih nama karakter dari orang-orang yang ada di dalam kehidupan kita adalah cara paling mudah untuk mendapatkan nama. Akan tetapi, di setiap tulisan fiksi akan selalu ada prasangka bahwa karya tersebut adalah otobiografi dari penulisnya. Jadi, jika penulis memakai nama mantan pacar untuk salah satu karakter, maka jangan heran kalau ada tuduhan si penulis belum move on dari hubungan itu. Akan ada tuduhan bahwa si penulis masih terkenang-kenang sampai-sampai nama si mantan diabadikan di dalam karyanya.

Memilih nama karakter dari orang-orang yang kita tidak sukai atau orang-orang yang berbeda kepribadian dan pandangan dengan kita adalah seperti makan buah simalakama. Dimakan ayah mati, tidak dimakan ibu mati. Dipakai, ternyata mengingatkan orang yang mengenal kita tentang ketidakcocokan antara kita dan orang lain. Tidak dipakai, padahal ternyata karakter orang itu sangat sesuai dengan karakter antagonis yang sedang kita bangun.

Dilema, semua serba salah. Dengan pertimbangan seperti itu, memang paling mudah dan aman mencari referensi nama karakter dari internet.

Kita bisa memulai riset dengan membayangkan si karakter lahir dan dibesarkan di dalam keluarga seperti apa. Dalam hal ini Character Development Storyboard (CDS) akan sangat berguna. Karakter yang lahir di tengah keluarga kaya dari Jakarta pantas menyandang nama kebarat-baratan seperti Antoinette. Lain hal jika si karakter dilahirkan di tengah keluarga sederhana dari desa. Nama Wati mungkin lebih cocok untuknya.

Dengan membayangkan asal usul si karakter, kita jadi bisa membayangkan mengapa dia dinamai seperti itu. Misalnya orang tua si karakter berprofesi sebagai profesor dalam bidang kebudayaan Jawa. Karakter si anak yang dinamai dengan bahasa Jawa kuno akan dapat dimaklumi.

Mumpung masih bergelut di situ, si penulis bisa membentuk nama lengkap si karakter yang menyiratkan makna yang ingin disampaikan oleh orang tuanya. Nama seperti Maharani Esa Wibowo, misalnya, dapat memberikan gambaran singkat (yang belum tentu 100% benar) tentang latar belakang si karakter.

PoV 1 yang saya gunakan di dalam “The Cringe Stories” membuat saya merasa tidak perlu membuat nama untuk karakter utama di dalam setiap cerita, kecuali ketika alur cerita mengharuskan dia berinteraksi dengan dan disapa oleh orang lain. Hanya ada tiga dari total sembilan cerpen dimana karakter utamanya bernama.

Edo dari cerita “Handphone” harus bernama karena akan ada dialog intensif antara karakternya dan karakter kedua orang tuanya. Ery dari cerita “Rekening” harus bernama karena dia diceritakan tampil dalam sebuah acara talkshow dan berujung di penjara. Karakter yang berurusan dengan hukum tentu harus bernama untuk tidak membingungkan penyebutan oleh pihak yang berwenang.

Made dari cerita “Ombak” harus bernama karena dalam alur cerita ada perkenalan dengan calon suaminya. Lagipula, bagaimana mungkin saling berkenalan, menyapa, dan akhirnya menikah kalau tidak ada cara yang khas dan unik untuk mengidentifikasi karakter sepasang sejoli ini?

Enam karakter utama dalam enam cerpen lainnya tidak bernama jelas. Mereka dipanggil dengan sapaan umum seperti bapak, kakek, ibu, mbak, mas, dan lain sebagainya. Saya memakai cara ini untuk menunjukkan, kumpulan cerpen ini bukan cerita fantasi. Kumpulan cerita ini adalah kisah nyata yang terjadi di kehidupan sehari-hari, kisah nyata yang mungkin terjadi pada kamu dan saya. Saya bisa mengambil posisi sebagai si kakek yang bosan di usia pensiun, kamu bisa mengambil posisi sebagai ibu pemilik salon, dan seterusnya.

Penggunaan PoV 1 dengan karakter yang tidak dinamai secara definit, tapi disebut dengan cara umum, adalah trik untuk membuat pembaca cepat relate dengan cerita itu. Hal ini tidak berarti si karakter tidak bernama. Bukan begitu. Si karakter bernama, tapi namanya tidak diungkapkan kepada pembaca.

Di dalam “The Cringe Stories”, ada nama satu karakter yang khusus saya dedikasikan untuk teman saya, Dea. Dea adalah sesama fans Dramione dan twitter adalah cara kami fangirling. Jauh sebelum kami aktif di twitter dan membahas Dramione dengan menggebu-gebu, Dea dan saya sering berinteraksi di grup WA KLIP dan Drakor Class.

Beberapa kali Dea menyebut nama suaminya yang secara pelafalan dan makna sangatlah ia sukai. Wajar saja, Dea ‘kan istri si pak suami, pikir saya ketika itu. Akan tetapi, semakin sering saya melihat nama itu dalam percakapan kami di grup, saya semakin memiliki kesan bahwa nama itu cocok untuk karakter seseorang yang tenang dan bisa diandalkan. Cocok sekali dengan karakter si pak polisi yang merupakan keponakan dari seorang mantan kepala penjara yang sedang mengalami kebosanan.

Tepat atau tidaknya kesan yang saya miliki terhadap nama itu bukanlah isu besar. Yang saya ingin tekankan di sini adalah, saya yang merasa berhutang budi pada KLIP dan sistem setoran tulisan yang membuat saya bisa merampungkan “The Cringe Stories”, ingin menamai salah satu karakter dengan nama yang berhubungan dengan salah satu anggota KLIP, yaitu Dea. Jadi, nama itu saya pakai untuk karakter di buku saya, sebagai pengingat dan kenang-kenangan akan perjalanan menulis bersama KLIP yang telah membuahkan, sampai sejauh ini, dua buku.

Nama-nama karakter yang saya ciptakan kebanyakan didapat secara acak dari percakapan dengan orang lain, mendengar radio, menonton berita, dan lain-lain. Saya tidak pernah memakai nama orang yang saya tidak sukai karena saya enggan berurusan dengan emotional baggage yang menyertainya. Begitu juga dengan nama orang yang saya sukai karena toh perasaan manusia bisa berubah. Lebih baik tidak mengabadikan perasaan suka/hormat itu di dalam sebuah tulisan yang notabene berusia panjang.

Kalau Anda seorang penulis fiksi, bagaimana cara Anda menentukan nama karakter pada cerita Anda? Share, yuk.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s