Asyiknya Ikut Klub Buku

Sejak bergabung dengan KLIP 2 tahun lalu saya sering mengikuti klub buku. KBK, atau singkatan dari Klub Buku KLIP, diprakarsai oleh tim ketua kelas. Pada tahun 2020 seingat saya acara ini tidak berlangsung rutin, tapi itu berubah sejak tahun lalu.

Mulai awal tahun 2021 pula rekaman Zoom selama mengikuti klub buku dipenggal-penggal sehingga menjadi beberapa rekaman terpisah. Rekaman-rekaman itu diunggah ke akun Spotify milik KLIP sebagai siniar (podcast).

Jadi, kesannya satu orang menceritakan (minimal) satu buku sehingga ada beberapa rekaman/episode yang bisa diekstrak dari setiap perjumpaan.

Bergabung dengan klub buku adalah impian saya sejak remaja. Sewaktu les bahasa Inggris saat SMA saya mendapat guru-guru yang gemar membahas buku. Sewaktu tinggal di Tokyo saya juga bergabung dengan klub buku di asrama mahasiswa yang saya tinggali. Buku-buku yang diperbincangkan tentu lebih beragam karena pesertanya dari berbagai latar belakang negara.

Membaca buku dan menganalisa buku itu sama asyiknya.

Dengan membaca buku saya menambah wawasan, menambah kosakata, bertukar pikiran, menganalisa kekurangan, mengambil kelebihan gaya kepenulisan, mengkritik pemikiran penulis, sampai pada akhirnya sampai ke level tertinggi:

Enlightened. Tercerahkan.

Di klub buku semua informasi itu tidak saya simpan sendirian. Dengan membagikannya kepada peserta lain, saya juga mendapat input. Mungkin ada penangkapan saya yang keliru. Mungkin pembaca lain dari buku yang sama memahami hal yang mirip atau berbeda sama sekali dari saya.

Jadi, sepanjang klub buku kami tidak hanya mengulas sebuah buku. Kami juga bisa mengajukan pertanyaan atau sanggahan kepada si pengulas.

Pada episode perdana KBK yang saya ikuti saya bercerita tentang novel detektif Sherlock Holmes berisi kumpulan semua kasus yang dia pernah tangani setebal 1.000 halaman yang saya habiskan dalam waktu 1 tahun.

Hah, selama itu?

Iya, karena novel itu saya taruh di mobil dan saya baca pada saat-saat sangat senggang, seperti sedang menunggu anak keluar dari sekolah, sedang antri di bank, sedang menunggu dokter. Pokoknya adalah 5 sampai 15 menit untuk membaca.

Pandemi menyebabkan saya tidak keluar-keluar rumah sehingga buku itu saya ambil dari mobil dan saya habiskan. Cukuplah 1 tahun untuk 1.000 halaman, lain buku seharusnya bisa lebih cepat dan lebih berdedikasi.

Membaca sebentar-sebentar sebenarnya bertentangan dengan preferensi dan kesukaan saya.

Saya suka membaca sekali duduk karena saya tidak mudah terdistraksi oleh hal lain saat membaca. Saya bisa duduk tenang 2 sampai 3 jam dan tenggelam di dalam dunia ciptaan seorang penulis. Kalau prasyarat tempat yang nyaman dan suasana yang tenang tidak terpenuhi saya jadi gampang cranky.

Masalahnya, dengan kesibukan sebagai istri, ibu, dan lain-lain, kapan saya punya privilese duduk santai membaca tanpa gangguan? Kalau bukunya menarik banget saya bakal bela-belain baca sampai subuh. Dan besok paginya saya pasti cranky, hehehe.

Oleh karena itu, sejak beberapa tahun lalu saya memulai kebiasaan membaca sedikit-sedikit, lama-lama menjadi bukit. Supaya informasi yang tersimpan di kepala tidak tercampur-campur, biasanya saya membaca 2 sampai 3 buku saja secara bersamaan, buku di aplikasi digital ataupun buku fisik.

Kembali ke pertemuan pertama KBK yang saya ikuti.

Di situ saya membahas novel Sherlock Holmes dalam bahasa Inggris yang mengalami penerjemahan ke dalam bahasa Indonesia dan adaptasi ke dalam bentuk film layar lebar (dibintangi oleh Robert Downey Jr. dan Jude Law) dan serial televisi (dibintangi oleh Benedict Cumberbatch dan Martin Freeman).

Tak sampai di situ, Sherlock Homes juga menjadi inspirasi bagi Aoyama Gosho untuk menciptakan karakter detektif SMA/detektif cilik yang bernama Shinichi Kudo/Conan Edogawa. Komik Detektif Conan belum menunjukkan tanda-tanda akan usai meskipun sudah memasuki volume ke-100.

Ketika mengulas sebuah buku, saya jadi tertantang untuk melihatnya dari berbagai sudut dan dari berbagai media yang dipakai untuk menyemaikan ide cerita.

Novel Sherlock Holmes yang saya baca itu saya dapatkan dengan harga sangat murah, hanya 50.000 Rupiah. Tebal buku dan bahasa yang digunakan menjadi kendala atau membuat orang urung untuk membeli dan membacanya, kecuali para penggemar Sherlock Holmes.

Ketika didaptasi ke dalam media yang bersifat tiga dimensi seperti televisi dan bioskop, orang jadi lebih tertarik. Mencerna gambar bergerak memang jauh lebih mudah daripada membaca buku dan berimajinasi. Masalahnya, dengan menonton kita menyerahkan manifestasi dari imajinasi kita ke tangan orang lain, yaitu sutradara dan penulis naskah film/serial.

Akan tetapi, mungkin itu sebuah keniscayaan. Platform penulis pemula besutan penerbit paling besar di tanah air juga menawarkan kesempatan untuk memfilmkan sebuah novel. Mereka juga menawarkan pelatihan bagaimana menulis novel yang bisa dilirik oleh rumah produksi alias bernilai komersial.

Jaman sepertinya sudah bergeser. Para pembaca tidak lagi puas dengan kata-kata dan kebebasan untuk berimajinasi sesuai dengan persepsi dan perspektif masing-masing. Mereka juga menggemari tontonan yang berarti durasi lebih singkat dalam mencerna sebuah karya dibandingkan saat membaca buku.

Pada KBK kemarin saya dan teman-teman mendiskusikan arah literasi di Indonesia. Terus terang, sudah lamaaa sekali saya tidak membaca buku karya penullis Indonesia.

Mengapa?

Karena ada keseragaman tema dan itu membosankan. Seperti kata Joko Anwar dalam “Ubud Writers and Readers Festival” yang saya hadiri sekitar 5 tahun lalu, pasar di Indonesia mencaplok sebuah tema dan memerasnya sampai habis tak bersisa. Ketika semua sudah muak jenuh, barulah tema itu akan bergeser.

Ketika satu Production House (PH) membuat film religi, semua PH membuat film religi. Yang lain mengadaptasi novel remaja, semua ikut-ikutan bikin film yang diangkat dari novel remaja. Jamannya film hantu dan pocong, kita cuma bisa menemukan tema horor di bioskop kita.

Jadi, hal itu tidak hanya terjadi di dunia sinematik, tapi juga di dunia literasi.

Dalam KBK saya dan dua orang senior di Kampus Gajah dulu mendiskusikan, atau lebih tepatnya mengeluhkan satu genre yang gitu-gitu aja, yang nggak tahu apa faedahnya. Sampai satu orang kakak berkata, “Heran deh buku kayak gitu bisa masuk ke penerbit X.”

Itu juga pertanyaan saya setiap kali membuka aplikasi baca buku digital dan menemukan cerita demi cerita dengan karakterisasi yang sama: cowok ganteng, tajir melintir, cool bertemu dengan cewek biasa-biasa aja yang kebetulan cantik dan supel.

Plot begitu sudah ada dari jaman komik Candy-Candy, serial Meteor Garden dari Taiwan (2001), sampai dengan Boys over Flowers (2009) yang melambungkan nama Lee Min Ho. Itu bukan tema yang baru, tapi itu tema yang laku, jadi pasti karya seni yang bertema itu tetap bisa dijual dan dicari orang.

Hubungan di antara pembuat pasar dan konsumen pasar itu memang seperti telur dan ayam. Susah dibilang mana yang mulai duluan.

Penerbit melemparkan buku dengan tema A ke pasar. Pasar suka dan mulai mencari-cari tema A. Penerbit kemudian mengeluarkan tema A’, A”, A”‘, pokoknya yang mirip-mirip dengan A supaya pembaca tetap ter-contain.

Untuk meng-counter karya literasi yang berwujud karbohidrat kosong (enak di mulut, ga bermanfaat di perut), ada ekstrim yang satu lagi yang disebut sebagai sastra wangi. Sastra wangi ini mengeksplorasi tubuh, kebebasan, gender, dan hal-hal sejenis yang terus terang membuat para orangtua seperti saya khawatir.

Memang jaman sudah terlalu bebas, informasi mudah didapatkan, dan keluarga adalah benteng pertahanan dan penyaringan pertama untuk semua informasi itu. Tidak semua informasi benar dan baik, tapi kita masih berlandaskan hati nurani dan moral untuk menjalani hidup ini.

Di situ menurut saya penerbit dan penulis seharusnya berbagian. Bukannya mengeksploitasi nafsu dan keburukan manusia semata, tapi juga mengangkat hal-hal yang mulia, yang manis, dan yang bisa membangun orang lain.

Ah, tapi apalah semua niat baik dibandingkan cuan, ya? Itulah mirisnya.

Pada KBK kemarin saya (tidak seperti biasanya) tidak mengulas karya fiksi berupa novel atau buku puisi. Saya mengulas 3 buku yang sedang membantu saya dan si Kakak untuk mempelajari bahasa asing.

Ketiga buku itu diterbitkan oleh Gramedia dan memakai tagline “Lancar Berbahasa xxx dengan 101 Kata Kunci”. Isi xxx dengan bahasa Jerman, Perancis, Korea, dan Jepang. Baru buku untuk keempat bahasa asing itu yang saya unduh dari aplikasi baca buku digital.

Seri buku itu cocok untuk pembelajar pemula dan mudah dipelajari dengan cara dicicil. Daftar tatabahasanya lengkap dan kosakatanya cukup dan diberikan per situasi, ada situasi perkenalan, ada situasi di bandara, di sekolah, di jalan, dan lain sebagainya.

Seri buku ini sangat cocok untuk saya yang sudah mempelajari keempat bahasa itu dengan buku yang dikeluarkan instansi resmi dan berniat mengulang atau me-refresh pengetahuan saya akan tatabahasa dan kosakata sehari-hari.

Bulan depan saya akan membagikan buku apa, ya? Kamu bisa mendengarkan ulasan saya di Spotify. Cari saja akun Klub Buku KLIP dan nama Rijo dengan judul buku yang saya ulas ada di sana bersama dengan ulasan dari teman-teman lain.

1580

Advertisement

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s