Teman Macam Apa?

Pada episode ke-7 drama “Business Proposal” Ha Ri terpaksa berbohong kepada teman-temannya mengenai kencannya dengan pacarnya yang tamvvan dan kaya raya. Untunglah Kang Tae Moo datang dan berinisiatif menambah kebohongan dengan mengaku-aku sebagai pacar Ha Ri.

Drama ini udah super receh, tapi penuh kebohongan. Dahlah, terima aja.

Anyway, teman-teman Ha Ri meragukan Tae Moo sebagai pacar benerannya, terutama Yoo Ra, pacar Min Woo sekarang. Yoo Ra memang diam-diam memusuhi Ha Ri. Pasti karena dia sudah mengendus bahwa Min Woo sebenarnya suka sama Ha Ri selama 7 tahun bersahabat.

Di belakang Ha Ri, mereka ngerasanin Ha Ri dan Tae Moo.

Nggak mungkin itu pacar Ha Ri. Keren gila gitu. Bukan levelnya Ha Ri.

Jangan-jangan Ha Ri yang beliin semua barang branded yang cowok itu pake. Masak sih itu cowok matre?

Ha Ri nggak bohongin kita ‘kan? Ceritanya kurang bisa dipercaya sih….

Perkara punya teman yang judgy dan kepo banget sama kehidupan percintaan sesama teman bukan sekali saya temukan di drama Korea.

Di drama “Hometown Cha-Cha-Cha” pun “teman-teman” Hye Jin (Shin Min Ah) sangat menilai Du Shik (Kim Seon Ho) dari penampilan dan kemampuannya bermain golf.

Mereka merendahkan Hye Jin yang pindah dari Seoul ke Gongjin, sebuah desa kecil di pinggir laut. Mereka juga meragukan kualitas pria yang berhasil Hye Jin gaet. Orang kampung bangetkah, atau cukup decent untuk Seoulite semacam mereka?

Mengapa saya menaruh tanda petik dua sebelum dan sesudah kata ‘teman-teman’? Karena saya ragu orang-orang yang pernah satu sekolah, atau satu profesi dengan kita, otomatis adalah teman kita.

Kebudayaan di Korea Selatan dan di Indonesia soal penyebutan ‘teman’ ini ada miripnya.

Pada level pertama, tataran yang paling luar ada kenalan atau aneun saram, 아는 사람 (orang yang diketahui).

Lalu pada level berikutnya ada teman sekolah, teman kerja, teman di klub hobi yang menyandang status ‘teman’ atau chingu, 친구.

Padahal mungkin kita tidak pernah bertegur sapa dengan orang itu. Kita tidak mengenal, tidak pernah mengobrol dengannya. Kebetulan saja kita satu sekolah/kantor/klub yang membuatnya menyandang status sebagai teman (sekolah/kantor/klub).

Teman pun ada yang kenal biasa, ada yang kenal lebih dekat, ada yang menjadi sahabat. Levelnya berbeda-beda, udah mirip sama level kepedasan keripik setan. Pedesnya tergantung jumlah cengeknya. Kedekatan dalam hubungan pertemanan bergantung pada usaha untuk membuat pertemanan itu tetap terjalin.

Teman-teman Ha Ri tidak cocok disebut sebagai teman. Yeong Seo itu teman dan sahabat bagi Ha Ri, tapi yang lain lebih cocok disebut sebagai kenalan. Oleh karena itu, mereka merasa tidak bersalah menilai-nilai Tae Moo.

Kamu punya teman semacam apa? Kamu pernah menjadi teman semacam apa?

Hidup selama hampir empat dekade membuat saya pernah menjalani berbagai macam pertemanan.

Mengalami pertemanan dekat dengan lawan jenis? Pernah.

Teman yang asyik pas sama-sama jadi TKI dan merenggang pas udah balik ke Indonesia? Ada.

Teman satu lab, satu tempat kerja sambilan, satu asrama, dan satu-satu lainnya yang dengan cepat terlupakan wajah dan namanya? Melimpah.

Teman yang menjadi teman justru satu sampai dua dekade setelah tidak lagi satu sekolah/kantor/klub? Ada banyak banget.

Teman-teman yang ikut campur karena berniat baik dan mencampuri karena kebanyakan waktu luang? Ada beberapa.

Pertemanan yang saya alami tidak ada yang sedangkal pertemanan Ha Ri dengan Yoo Ra dan dayang-dayangnya (karena dua cewek itu selalu mengintil di belakang Yoo Ra).

Akan tetapi, ada beberapa kejadian epik yang saya alami akibat teman-teman saya waktu itu.

Jadi begini, jika drama “BMKG” adalah tentang office romance yang gagal dan mengundang kejulidan, office romance yang saya alami berhasil sampai ke jenjang pernikahan.

Jangan salah, Isabella, jalan yang saya dan suami lalui jauh dari kata mulus dan lancar jaya. Jalannya berliku-liku dan dipenuhi batu kerikil yang bernama pendapat orang lain.

Oleh karena si pacar yang sekarang menjadi suami bergerilyanya lewat AOL (kalau kamu tahu ini aplikasi apa, tos dulu kita seumuran), semua teman saya dan teman dia kaget ketika kami jadian.

Deklarasinya sederhana saja. Pada acara ulang tahun sahabat saya (ketika itu), kami datang berdua. Sesudahnya dia mengantar saya dan tiga orang teman lain pulang. Di mobil dia menyelimuti saya dengan jaketnya karena saya kedinginan.

Teman-teman saya (ketika itu) antara percaya dan nggak percaya. Ini kapan pendekatannya kok tiba-tiba sudah pacaran? Yang epiknya adalah banyak dari mereka yang berniat baik membawa suami masuk dan diterima ke dalam suku saya.

Kami berbeda suku bangsa dengan segala adat istiadatnya. Teman-teman saya (termasuk seorang kolega yang lebih tua dan saya panggil ‘abang’) dengan sengaja mengundang pacar saya ke rumahnya dan memberikan penataran bagaimana menjadi orang Batak.

Semua informasi seputar mengambil marga, persyaratan adat, dan sebagainya diberikan dengan lengkap. Atas dasar rasa hormat, kami mendengarkan saja. Tidak ada seorang pun teman saya (bukan teman dia, karena concern soal beda suku ini hanya datang dari teman saya) yang bertanya:

memangnya kamu mau jadi orang Batak?

Saya terlahir sebagai orang Batak tanpa bisa memilih. Suami saya bisa menjadi orang Batak karena pernikahan, karena diangkat sebagai anak oleh orang Batak. Namun, kami tidak mau itu. Dia terlahir sebagai orang Jawa, ya sudah. Toh dia juga tidak bisa memilih asal-usulnya.

Teman-teman saya (ketika itu) ikut campur karena sangat concerned dengan galur murni saya. Memangnya saya tanaman dari Toko Trubus, haha. Lucunya, hanya segelintir dari teman-teman itu yang bertahan sampai sekarang, 15 tahun kemudian.

Saya juga bertanya-tanya, saya pernah menjadi seorang teman seperti apa, ya? Apa yang sudah menjadi kontribusi saya bagi orang lain?

Di tengah pandemi dimana pertemanan terjalin online karena sering mengobrol, saya hampir lupa bagaimana rasanya bertemu secara fisik, bertatap muka dan benar-benar bergaul dengan orang lain.

Nama-nama yang saya ingat sekarang hanya segelintir. Saya sekarang lebih sering mengingat wajah dan tempat bertemu, daripada nama dan urutan peristiwa.

Waktu berlalu, saya menua, dan memori terseleksi.

Saya belum pernah memiliki teman semacam teman-teman Ha Ri, dan semoga tidak akan pernah.

As someone gets older, his circle goes smaller and deeper.

Kayaknya itu yang sekarang sedang terjadi pada saya dan teman-teman sebaya saya. Banyak yang pergi, sangat sedikit yang terkenang. Berbagai usaha dilakukan untuk menyambung kembali tali silaturahmi yang sempat terputus, termasuk dengan reuni.

Relevansi, masih nyambung nggak kalau ngobrol, itu perkara belakangan. Pokoknya reuni dulu, ketemu dulu, kumpul dulu, dan ngobrol dulu. Kalau masih nyambung, syukur. Kalau nggak, ya sudah, paling tinggalkan grup WA sepi tanpa jangkrik dan dipenuhi laba-laba bernama pengacuhan.

Bagaimana ceritamu tentang teman: kamu yang menjadi teman orang lain, atau orang lain yang menjadi temanmu. Orang-orang macam apakah kita dulu dan sekarang?

Share di kolom komentar, yuk.

1341

Advertisement

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s