Don’t Argue with Strangers

Jadi…, hari Jumat kemarin (siang hari) saya membentuk kelompok dengan Honorary Reporter dari Nigeria dan Yunani untuk mengerjakan Korea.net September Mission #2.

Pembicaraan di antara kami dimulai dengan baik. Awalnya dari mengirimkan direct message di FB Messenger berganti menjadi saling menambahkan nomor telepon pribadi dan membentuk (another) Whatsapp group.

Hari Sabtu pukul 1 dinihari tiba-tiba masuk pesan WA:

I quit this group. I’m sorry.

Astaga, ada apa gerangan? Kerja aja belum, baru kenalan, tukeran nama dan asal negara/kota, saling mengecek timezone di negara masing-masing biar tahu waktu terbaik untuk rembukan, ini apa-apaan main berhenti aja.

Deb, HR dari Nigeria yang sedari awal menguarkan aura lembut dan menengahi (saya jadi penasaran apa pekerjaannya yang sebenarnya) meminta Shin (dia memakai nama “Koreanya”), HR dari Yunani itu untuk bersabar. Tunggu respon dari Rijo, katanya.

Salah satu prinsip dalam hidup saya adalah:

jangan menahan orang yang ingin pergi.

Apa pun alasannya, mau semasuk akal atau seabsurd apa pun, kalau hatinya sudah tidak di sini bersama saya, lebih baik berpisah jalan.

Moralnya sudah tidak bagus untuk melanjutkan bekerja sama. Buat apa pula memaksakan, toh keikutsertaan dalam mission ini bersifat sukarela, meskipun sangat menentukan keterpilihan kami pada rekrutmen HR berikutnya.

Jadi, saya pun membalas dengan:

OK, best of luck.

Alih-alih segera hengkang dari grup WA, dia malah ranting and complaining buat hal-hal yang aneh menurut saya.

Kalau mau pergi ya pergi saja, nggak ada kok yang melarang. Saya jadi curiga dia sebenarnya punya masalah lain, tapi melampiaskannya pada saya dan Deb.

Disclaimer dulu.

Ada lima jenis bahasa cinta, yaitu:

  1. Words of affirmation
  2. Acts of service
  3. Receiving gifts
  4. Quality time
  5. Physical touch

Seumur hidup, saya sering berkonflik dengan orang-orang yang membutuhkan word of affirmation sebagai tanda sayang dan peduli.

Di tengah jaman internet, group chat, dan tornado of unread messages, orang-orang yang menggunakan bahasa cinta jenis pertama ini sering spaneng sendiri kalau kita tidak langsung bereaksi terhadap kebutuhan mereka.

Mereka akan marah kalau chat hanya dibaca, tidak langsung dibalas. Mereka akan merasa was-was dan gelisah kalau tidak segera ditanggapi.

Ya kali kalau hidup gua hanya untuk pegang hape dan mantengin Whatsapp.

‘Kan enggak? Dunia tidak selebar layar hape, apalagi sesempit chat dengan satu orang saja.

Dulu-dulu sih saya masih sabar menjelaskan, saya tidak langsung membalas chat kamu tidak berarti saya tidak peduli. Bisa jadi saya sedang mengerjakan hal lain yang lebih penting yang juga membutuhkan Whatsapp, makanya status saya terlihat sebagai online.

Lama kelamaan, saya masa bodo. Terserah deh mau mikir apa, I reply when and how I want to reply.

Aplikasi Whatsapp saya bukan hanya untuk pergaulan; ia juga digunakan untuk relasi keluarga, bekerja, berkomunikasi dengan sekolah anak, mencari peluang bisnis, berkomunitas, dst., dsb.

Semua chat dibalas berdasarkan skala prioritas dan ketersediaan waktu. Marah karena chat tidak segera ditanggapi? Ya, karepmu.

Rupanya Shin ini tipe orang yang memakai bahasa cinta jenis pertama. Ketika pertanyaan dia terlewat oleh saya dan tidak saya jawab, dia marah. Dia murka. Dia kecewa.

Memang pertanyaan macam apa sih?

Sini saya bisikin:

Rijo, what idea do you have for our group?

Itu pertanyaan yang asli kelewat, nggak bermaksud apa-apa, seriously honest mistake, dan saya malah menanggapi dengan menanyakan di Thessaloniki, Yunani sekarang jam berapa.

Ignorant-nya saya, lagi-lagi menurut Tuan Putri Shin, adalah ajakan lanjutan saya untuk kami saling bertelepon sekali untuk saling mengenal, dan bukannya menjawab pertanyaan dia tentang tema proyek.

Wajar toh saya menyarankan video call. Kami akan bekerja bersama selama 2 minggu ke depan, across continents pula (Eropa, Afrika, dan Asia), apa salahnya lihat wajah teammate sekali doang?

Mulailah dia mengoceh lanjutan soal wasting time, buat apa nanya timezone dan ajak Zoom, padahal harusnya kita menentukan tema dan menulis.

Ujung-ujungnya dia bilang lagi: I quit. Good bye.

Saya jawab lagi: OK, good bye.

Dia lanjut lagi mengoceh: I’ve published numerous articles and worked with other HR’s. This is wasting my time. Why do we need to do Zoom? It’s not like we’re going to shoot a movie. Are you new to the program?

Saya mulai naik pitam, tapi saya teringat prinsip hidup saya.

Don’t argue with strangers.

Nggak ada faedahnya sama sekali. Nggak ada ujungnya, cuma ngehabis-habisin napas saya aja.

Saya balas begini:

With all due respect, I’m done with this conversation.

Terus saya tendang dia keluar dari grup.

Saya punya dignity dan saya pantang diinjak-injak sama orang yang saya nggak kenal. Saya pantang jadi merasa tidak enak hati gara-gara orang asing.

Waktu berbalas pesan di FB Messenger seharusnya saya sudah melihat tanda-tanda dia bersikap rasis, tapi saya tidak mengacuhkan dan berbaik sangka saja.

Masak saya ditanya dari negara mana dan emang bisa bahasa Inggris?

Lu pikir gua keterima di program Honorary Reporter ini pake bahasa kalbu?

Terus ditanya apa punya pengalaman di luar negeri, sebuah pertanyaan yang nggak relevan sama sekali dengan apa yang kami akan kerjakan karena tema tugas kami adalah seputar Korea Selatan.

Iya, saya pernah tinggal di Swis dan saya tadinya mau mengunjungi negara kamu untuk berwisata. Sayangnya, waktu itu ada demonstrasi besar-besaran karena negara kamu bangkrut dan perlu pertolongan Uni Eropa. Mending saya melancong ke Italia yang aman.

Doi langsung mingkem deh.

Selain not arguing with strangers, saya juga ogah menjelaskan diri saya ke orang yang saya tidak kenal. Masuk kuping kanan, keluar kuping kiri mereka palingan. Buang-buang waktu dan tenaga saya yang sudah susah payah menjelaskan.

Deb menyesalkan Shin yang keluar, tapi dia setuju we got off to a bad start. Too much negativity bisa memengaruhi kinerja kami nanti, padahal kami ingin memenangkan mission ini.

Ah, semoga nggak bertemu dengan orang setipe Shin lagi, kapan pun, di mana pun. Capek bener harus selalu siap meladeni baginda putri.

Buat kamu yang cepat jengkel karena chat tidak langsung dibalas … (deep sigh)… mengirim pesan lewat Whatsapp itu tidak seperti duduk bersebelahan dengan seseorang dan mengobrol dengannya. Ada rentang waktu dan jarak yang terlibat.

Kalau kalian duduk bersebelahan dan kamu ga direken, lumrah kalau kamu toel orang yang kamu ajak bicara dan tidak langsung menanggapimu.

Kalau dengan Whatsapp, masak iya langsung marah-marah karena lawan bicara tidak available (bukan tidak online ya, dia online/tidak online pun bukan urusan kamu) saat itu juga?

8 thoughts on “Don’t Argue with Strangers

  1. Baper memang nggak cuma di Indo saja ya. Memang komunikasi di WA bisa terjadi miss. Kalau di WAG juga harus sebisa mungkin nggak baperan, krn bisa jadi nggak sengaja ada yg ga dibalas/terlewat. Kalau ikut baper bs cape hati juga.

    Like

  2. Sama, aku dulu masih suka nanggepin. Now I’m getting old. Udah mulai prioritasin yang mana yang penting dan mana yang enggak. Arguing yang kayak gitu juga aku anggap gak penting, hehehe 😬

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s