Akhir dari Kelas, Awal dari Pembelajaran

Sejak bulan Januari tahun 2020 saya berkomunitas di Kelas Literasi Ibu Profesional (KLIP). Akhir bulan Juli lalu teman saya yang merupakan ketua KLIP, Erna, memberi tahu rencana membuat buku antologi.

Buku tersebut rencananya adalah kumpulan cerpen oleh para peserta yang lulus program KLIP tahun lalu. Sebagai salah satu peserta yang lulus saya ditanya kesediaan untuk ikut serta dalam proyek buku antologi sekaligus … menjadi pemateri untuk kepenulisan cerpen. Hehehe.

Sebenarnya banyak penulis yang lebih mumpuni dari saya, yang karya-karyanya jauh lebih banyak, yang malang melintang di dunia sastra dan blogging. Mengapa saya yang dipilih? Semata-mata karena anugerah saja.

Percayalah, semua yang kita miliki di dunia yang fana ini adalah anugerah, bukan karena kuat dan gagah kita.

Kita sehat, berkecukupan, dan bahagia? Semua karena anugerah dari Sang Mahapencipta. Dan anugerah itu diberikan untuk dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan dengan cara dibagikan kepada sesama.

Siapa yang memiliki banyak, daripadanya akan dituntut banyak.

Kalau punya banyak talenta, harus banyak berkarya. Kebetulan salah dua talenta yang saya miliki adalah mengajar dan menulis. Jadilah saya diminta untuk mengajar tentang serba-serbi menulis cerpen kepada teman-teman dari KLIP.

Apakah itu berarti ilmu yang saya sudah lengkap? Tentu saja belum.

Ilmu menulis baru saya timba secara formal sejak tahun 2016, sejak menerbitkan buku pertama “Randomness Inside My Head”. Training-nya saya jabani sejak berusia 6 tahun dan sepanjang masa sekolah SD sampai dengan SMP.

Memang benar bahwa ilmu harus diamalkan, harus diaplikasikan supaya ngelotok, supaya semakin melekat di otak dan batin. Jadi, Erna dan saya berharap setelah pembekalan melalui workshop, “gelas” para peserta akan penuh lagi supaya mereka bisa mengalirkan keluar air yang segar berupa cerita pendek karya mereka.

Pembekalan yang direncanakan ada dua tahap:

  1. Serba-serbi menulis cerpen: 7 Agustus 2001
  2. Pembahasan cerpen yang sudah masuk: 28 Agustus 2021, yang dilanjutkan dengan materi swasunting oleh teman saya, Wika.
Poster acara tahap ke-2.
Poster acara tahap ke-1 ada di awal tulisan ini.

Mengapa tahap kedua diperlukan?

Sebab setelah diulas dan dikoreksi oleh saya dan Wika mulai tanggal 14-28 Agustus 2021, cerpen perlu dibahas bersama-sama supaya perombakannya maksimal.

Mengapa perlu belajar swasunting juga?

Ibarat hubungan antara tubuh dan jiwa/roh, belajar tentang menulis cerpen tidak bisa dilepaskan dari belajar tentang swasunting.

Dalam membahas teori penulisan cerpen saya bicara tentang membangun jiwa/roh dari sebuah cerita. Saya berfokus pada keberadaan dan keseimbangan antara keempat elemen tulisan kreatif: Karakter – Setting – Alur – Tujuan.

Belajar swasunting adalah ibarat menyiapkan tubuh yang sehat dan kuat untuk jiwa/roh itu berdiam. Masih ingat ‘kan pepatah dalam bahasa Latin: mens sana in corpore sano? Dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat? Tanpa kaidah tata bahasa dan aturan kepenulisan yang tepat, sebuah cerpen tidak dapat dimengerti oleh pembaca dan maknanya tidak dapat tersampaikan.

Wika hadir dengan sesi swasuntingnya untuk mengingatkan peserta akan pentingnya mengulas dan merevisi tulisan sendiri supaya sedekat mungkin sesuai dengan aturan berbahasa yang berlaku.

Sesungguhnya kumpulan aturan itu dekat dengan kita dan mudah diakses secara daring/luring. Yang kita perlukan adalah strong why, alasan kuat mengapa kita perlu berbahasa dengan benar untuk menghasilkan cerita yang layak baca.

Dalam sesinya, Wika tidak bicara secara terperinci mengenai kata-kata baku dan tidak baku. Dia lebih menggali strong why dan memberikan bimbingan supaya keterbacaan sebuah cerpen lebih baik, supaya “tubuh” cerpen itu kuat seperti “jiwa/rohnya” yang lengkap dan utuh lewat K-S-A-T.

Dari dua sesi tersebut saya mendapat banyak sekali pertanyaan yang saya tidak pernah temui sebelumnya ketika mengajar anak-anak di sekolah sebelum pandemi, atau pun dalam workshop bersama KLIP di masa lalu.

Ada pertanyaan mengenai lebih baik memperbanyak porsi narasi/deskripsi atau dialog dalam cerpen.

Jawaban saya adalah: tergantung kebutuhan cerita. Jika mau mengacu pada teori yang benar, maka tidak ada teori kepenulisan kreatif yang absolut.

Tidak ada yang baru di bawah matahari.

Tidak ada teori kepenulisan kreatif yang benar-benar baru. Semuanya hasil daur ulang. Dari sekitar 20 workshop kepenulisan yang saya ikuti, tidak ada teori yang benar-benar sama antarpemateri. Mirip dan beririsan? Banyak.

Sejak struktur tiga babak diperkenalkan oleh Aelius Donatus seorang guru dari Roma pada tahun ke-4 Masehi, teori kepenulisan cerita terus berkembang. Dan tidak ada satu pun dari mereka yang mengajar tentang menulis berani mengklaim ajaran mereka paling benar.

Ada juga yang bertanya mengenai memasukkan unsur bahasa daerah ke dalam cerpen.

Hal ini perlu dilakukan dengan hati-hati dan berimbang. Memasukkan bahasa daerah bisa membuat sebuah cerpen menarik dan dibaca sampai tuntas, atau ditinggalkan karena tidak dipahami oleh target pembacanya.

Jadi, perlu ada riset terlebih dahulu untuk menentukan berapa banyak porsi bahasa daerah yang bisa dimasukkan tanpa mengurangi penyampaian pesan oleh penulis.

Terakhir, ada sebuah isu yang saya soroti dari naskah cerpen yang masuk, yaitu tentang seberapa banyak porsi dari kehidupan nyata penulis (nonfiksi) yang bisa dimasukkan ke dalam cerpen (fiksi).

Saya tekankan berulang-ulang bahwa faksi (gabungan antara nonfiksi dan fiksi) itu sah-sah saja. Akan tetapi, perlu diingat bahwa faksi bukanlah tulisan curhat.

Dalam menulis faksi, penulis tetap harus menjaga jarak dengan tulisannya supaya pembaca tidak menganggap si karakter/setting/alur tidak plek-plek dari kehidupan pribadi penulis.

Untuk hal ini saya mengambil contoh dari kehidupan pribadi Nora Roberts.

Nora Roberts adalah penulis berkebangsaan Amerika Serikat. Ia berusia 70 tahun dan sudah menulis selama 41 tahun. Ia telah menghasilkan lebih dari 200 novel yang kebanyakan bertengger di New York Times Bestseller.

Latar belakang kehidupan pribadinya tidak bisa dibilang mulus. Ia menikah di usia sangat muda. Ia kemudian bercerai dari suaminya yang abusif dan memeras kekayaan orangtua dari Nora. Ia membesarkan dua putra remaja sendirian sampai akhirnya menikah untuk kedua kali dengan kontraktor yang membangun rumahnya.

Apakah Nora pernah memasukkan elemen dari kehidupan pribadinya itu ke dalam cerita-cerita yang ia tulis?

Sejak tahun 2011 saya sudah membaca sekitar 150 novel karya Nora Roberts, dan saya berani bilang tidak ada novel yang plek-plek dari kehidupan pribadinya. Ada novel dengan karakter janda dengan anak kecil, tapi tidak pernah karakter janda dengan dua anak laki-laki seperti yang ia alami sendiri.

Dalam berbagai wawancara, saya membaca tekad Nora Roberts untuk memisahkah kehidupan pribadi dan profesionalnya. Ia tidak ingin pembaca menyimpulkan perjalanan karakter dalam ceritanya sebagai perjalanan hidup diri dan anak-anaknya.

Penulis sebuah cerita bukanlah cerita itu sendiri.

Itu prinsip yang saya tangkap dari Nora Roberts dan sebaiknya diterapkan jika teman-teman KLIP ingin meningkatkan kemampuan menulis. Menulis bukan hanya sekedar passion, tapi meningkat menjadi skill dan ujung-ujungnya mastery. Penguasaan bidang kepenulisan kreatif (atau cerpen dalam hal ini).

Kelas telah berakhir pada tanggal 28 Agustus lalu. Setelah workshop, peserta diminta untuk memperbaiki cerpen mereka berdasarkan saran dari saya dan Wika, dan juga dari materi workshop. Hasil revisi tidak dikirimkan lagi kepada kami, tapi kami berharap karya-karya itu sudah dipoles supaya lebih indah dan bermakna.

Seperti kata Wika, kelas boleh berakhir, tapi pembelajaran baru saja dimulai. Sumber ilmu boleh saja banyak, tapi proses belajar adalah sebuah hal yang personal, yang unik bagi setiap orang.

Seandainya Wika punya blog, pasti sudah saya tag di tulisan ini.

Selamat menikmati belajar!

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s