Masih Tentang Pertukangan

Masih seputar pertukangan.

Malam ini saya pergi dengan ibu dan adik saya ke toko bangunan besar untuk belanja cat tembok, cat plafon, pokoknya cat, deh. Memang benar kalau renovasi itu rentan merembet ke sana-sini yang bisa berakibat pada membengkaknya budget. Tapi atas nama slogan “sekalian kerja, sekalian kotor”, sebaiknya memang setelah ganti kusen dilanjutkan dengan mengecat rumah yang sudah 7 tahun ini tidak dicat.

Saya tiba di sana sudah pukul 7.30 malam. Baiklah, masih ada sekitar 1.5 jam lagi, pasti sempat, pikir saya. Begitu masuk ke toko saya diukur suhu tubuh dan disuruh memakai hand sanitizer. Checked.

Begitu melewati pintu menuju rak-rak di dalam toko, saya diserbu oleh setidaknya 5 orang. Aduh, ga nyaman banget. Memang pekerja di toko bangunan itu banyak sekali, satu merk bisa punya satu SPG/SPB, dan mereka semua ditarget untuk jualan setiap hari. Tapi dengan mengerubungi begitu, padahal saya sudah menjelaskan saya tahu mau ke mana dan mencari apa, apa sih yang akan didapat selain customer yang merasa bete karena dikuntit?

Saya hitung nih, sejak masuk ke bagian barang dagangan sampai saya tiba di bagian yang menjual cat, ada setidaknya 10 orang SPB yang menguntit saya. Saya yang awalnya mencoba bersikap ramah, lama-lama jadi judes. Please deh, tolong menyingkir dulu, saya ini lagi sibuk cari keluarga saya.

Setelah saya bertemu ibu dan adik yang ternyata menunggu di bagian keramik karena di situ ada tempat duduk, kami kembali ke rak bagian cat. Ada 5 orang lagi yang langsung mengerubungi. Kami sudah bilang berkali-kali, iya, sebentar, kami mau melihat-lihat dulu, eh mereka pura-pura atau memang tidak mau mendengar. Kami diberondong dengan promosi segala macam merk beserta keunggulan masing-masing.

Saya perhatikan ya, hanya merk yang tidak bagus yang merasa perlu promosi jor-joran. Merk bagus, terpercaya, tahan lama bertahun-tahun seperti yang saya pakai, merasa tidak perlu mengutus SPG/SPB-nya. Hanya ada satu orang petugas dari merk itu yang berjaga-jaga di sekitar mesin tinting dari merk itu.

Setelah “menghalau” banyak sekali mas-mas yang terlalu antusias untuk membantu kami, akhirnya kami mendapat juga katalog warna dari merk yang kami inginkan. Itu pun kami tidak ditinggalkan sendirian, masih ada beberapa orang yang terus “berdengung” dan memantik naluri saya untuk bersikap sangat judes.

Kata ibu saya, “Sudahlah, namanya juga orang usaha, mau jualan.”

Saya jawab, “Iya, saya mengerti, tapi mereka juga harus ngerti customer-nya mau apa. Kalau terus maksa, kita bisa ilfil dan malah pergi.”

Mungkin suara saya cukup keras ya, yang pasti satu per satu dari mereka perlahan-lahan pergi meninggalkan kami memilih-milih sendiri.

Memilih warna cat itu tidak mudah, Saudara-saudara. Bagi ibu dan adik saya, tapi tidak bagi saya. Ini pasti turunan dari bapak yang juga gemar bertukang. Sedari kecil saya sangat menikmati proses merenovasi sesuatu. Saya bersorak kalau diminta memilih motif keramik, warna cat, jenis HPL, pokoknya saya senang mengerjakan semua detail kecil yang bisa membuat banyak orang “mabok”.

Adik saya adalah salah satunya. Dia tidak mengerti dan memusingkan yang namanya palet warna. Dia cenderung memilih warna-warna netral yang itu-itu saja, untuk pakaian maupun perabot rumah. Ketika ditanya ibu saya warna apa yang cocok untuk cat tembok, dia cuma mengangkat bahu dan bilang:

“Aku pusing.”

Saya mau ga mau ketawa pas mendengarnya. So typical of her, hahaha.

Untungnya saya sudah menyiapkan senjata yaitu foto kusen, daun pintu, daun jendela terbaru di rumah orang tua saya, beserta palet warna perabotan yang mereka miliki. Dari situ baru kami berdiskusi memilih warna yang sesuai, yang terkoordinasi, yang tidak membuat bosan dalam jangka waktu lama, dan yang pasti enak di mata.

Orang kira memilih cat adalah hal yang mudah. Tidak sama sekali. Selain berurusan dengan pemilihan warna, kita juga berurusan dengan kemampuan cat itu sendiri. Ada cat dinding yang biasa, artinya hasil setelah diaplikasikan di dinding tidaklah istimewa. Cat dinding yang biasa dapat kita temui di fasilitas umum yang memang tidak perlu cat dengan tampilan yang wah.

Lain cerita kalau cat diaplikasikan pada tembok rumah. Untuk rumah, kita pasti ingin memilih yang terbaik, yekan? Kualitas terbaik untuk waktu yang panjang, karena mengecat ulang sebuah rumah sangat menghabiskan waktu, tenaga, dan uang. Bukan hanya soal menemukan tukang yang tepat yang sesuai dengan budget, tapi juga menunggui mereka bekerja dan membereskan semua kekotoran di rumah. Semua itu sangat melelahkan buat orang tua saya yang sudah sepuh.

Oleh karena itu adalah tugas saya sebagai anak sulung yang tahu banyak soal renovasi untuk membantu mereka mengambil keputusan yang terbaik. Sayangnya, karena saya wanita, saya dianggap tidak tahu apa-apa oleh para SPG/SPB di toko itu (dan di toko bangunan sejenis). Serius nih? Cuma karena gender, saya dikira tidak knowledgeable?

Padahal saya sudah sering mondar-mandir di sana. Saya termasuk member yang sering dan banyak berbelanja. Setiap kali datang, saya selalu mantap mau pergi ke rak mana untuk membeli apa. Setiap pembelian saya bahkan direkap dengan sangat baik, sehingga kalau saya mau mengulang membeli satu merk cat mereka tinggal membuka history saya. Namun lagi-lagi saya dikira clueless sehingga harus dikerubungi oleh banyak pegawai toko.

Ketika saya memilih cat yang bisa dilap jika kotor karena noda tangan atau coretan pensil, salah seorang SPB bilang bahwa cat itu kemahalan, kenapa tidak ambil yang biasa saja. Wong saya mau belanja lebih, kok malah dihalangi? Aneh.

Tapi saya keukeuh mau cat jenis itu. Saya juga keukeuh memilih cat paling murah untuk plafon, karena toh cuma plafon dengan warna netral putih. Nah untuk cat minyak saya keukeuh mau merk yang water-based. Eh saya diketawain, dikira saya ga tau kalau cat minyak ada solvent-based (pakai thinner) dan water-based (pakai air).

“Based” di sini maksudnya cairan yang diperlukan untuk mengencerkan cat dan mencuci kuas yang dipakai. Water-based tentu lebih murah karena saya tidak perlu membeli minimal 1 kaleng thinner sebagai solvent-nya. Harga 1 kaleng cat minyak solvent-based adalah 60.000 ditambah harga 1 kaleng thinner 15.000. Ini lebih mahal dari 1 kaleng cat minyak water-based seharga 63.800.

Oleh karena saya pernah membeli merk itu beberapa waktu yang lalu, saya tidak ragu untuk pergi ke rak yang sama untuk mengambil barang yang sama. Eh, saya dicegat dong. Dengan tidak sopannya. Dikira saya tidak tahu kalau tidak semua cat minyak membutuhkan thinner.

Setelah lolos dari SPB cat minyak, saya kembali ke tempat kami memilih cat tembok untuk interior dan eksterior. Oh ya untuk interior saya memilih yang easy clean, mudah dibersihkan dengan lap basah, mengingat enam cucu orang tua saya masih kecil-kecil dan suka belepotan dan pabalatak saat berkunjung ke rumah oppungnya.

Selepas dari memilih warna cat tembok, kami diperhadapkan pada masalah baru. Cat itu tidak ready, harus dibuat dengan 4 komponen: base A, B, C, dan D. Masalahnya warna yang kami pilih adalah warna muda yang membutuhkan banyak base B, dimana base B ini baru saja habis karena ada customer lain yang memborong 5 pail. Kami cuma membutuhkan 1 pail, btw. Jadilah kami memilih yang levelnya lebih tinggi dari easy clean yaitu ambience yang selain mudah dilap, juga memberikan tampilan glossy yang mewah.

Akhirnya kami kembali ke katalog untuk memilih warna lain yang mendekati dan yang tersedia untuk kategori ambiance. Tentu saja hal ini membuat ibu dan adik saya tambah sakit kepala. Warna yang tersedia ada ratusan, bagaimana harus memilih satu dari sekian banyak warna?

Untungnya katalog warna dari merk itu tidak berupa buku, tapi berupa kumpulan strip dimana satu strip terdiri dari 6 warna yang satu tone dengan gradasi dari warna paling muda ke tua. Jadi saya cukup menunjukkan kepada mereka, underlying tone apa yang diinginkan/tidak diinginkan dari sebuah warna. Dari situ kami mempersempit pilihan dari beberapa strip saja.

Misalnya tadi ibu saya memilih warna krem untuk cat interior. Nah krem ini punya underlying tone biru, hijau, pink, abu-abu, dan seterusnya. The possibilities are endless. Contoh gambarnya seperti di bawah ini.

Katalog virtual yang kami lihat sebelum datang ke toko. Warna di sini cukup berbeda dengan warna di katalog fisik dan warna cat jadi. Semua penampakan memang tergantung pencahayaan.

Melihat semua pilihan dan gradasi itu cukup membingungkan mereka yang tidak terbiasa. Jadi saya bolak-balik memilihkan strip yang kira-kira cocok dan berulang kali bertanya mana warna yang mereka sukai.

Misalnya ada strip A, B, dan C untuk memilih warna cat interior. Saya bandingkan dulu strip A dan B, ternyata ibu saya memilih warna B. Setelah itu saya bandingkan strip A dan C, ternyata ibu saya tidak ada memilih strip apa pun. Kembali saya sandingkan strip B dan C, ternyata ibu saya memilih strip B. Okeh, berarti strip B adalah pemenangnya.

Syukurlah ibu saya tidak memerlukan banyak strip untuk perbandingan, cukup 3 sampai 4 buah saja. Kalau enggak, saya yang puyeng tujuh keliling, karena pemilihan ini bukan hanya untuk cat tembok interior saja tapi juga untuk cat tembok eksterior.

Oya, kembali sebentar ke soal cat minyak. Akhirnya dengan berat hati si SPB menunjukkan kepada saya cat minyak yang water-based. Eh ternyata tinggal tersisa 1 kaleng yang berisi 0.9 liter, padahal saya perlu setidaknya 2 liter. Ada juga kemasan 2.5 liter, tapi harus di-tinting. Mas yang merupakan SPB dari merk lain dan awalnya membantu saya lama-lama jadi bete karena tidak jadi jualan, dan meninggalkan saya begitu saja.

Astaga ….

Dari mengkonfirmasi merk, warna, dan ukuran kemasan setiap cat sampai kami menerima barangnya, perlu waktu sekitar 1 jam lagi. Jadi setelah PO (atau bon) dibuat, saya harus membayar di kasir di lantai 1. Setelah itu kasir akan notify ke bagian cat di lantai 2 untuk mulai mengerjakan tinting. Proses pencampuran cat berlangsung selama 15-20 menit (teorinya). Karena ada 2 jenis cat dari merk yang sama yang dibuat dengan cara tinting, jadinya durasi itu harus dikali dua.

Sambil menunggu mulailah saya window shopping. Toko bangunan is my happy place, my playground, saya selalu bahagia bila berada di sini. Walaupun tidak membeli apa-apa, saya selalu sangat puas melihat tren warna dan model keramik terbaru, cat terbaru, dan sejenisnya. Persis bapak saya, hehe.

Eh pas muter, tiba-tiba saya ingat bahwa pintu kamar mandi di rumah orang tua saya perlu diganti juga karena kusennya sudah dimakan rayap. Akhirnya kami mulai hunting pada pukul 9.30 malam, di saat para pegawai mulai berkumpul untuk briefing malam. Gudang pun sudah ditutup jadi si mas SPB tidak bisa mengecek ketersediaan stok. Akhirnya kami berjanji untuk melanjutkan transaksi besok lewat Whatsapp Business dan transfer bank.

Ah, diberkatilah mereka yang menciptakan teknologi. Saya tidak harus kembali ke toko itu lagi. Selama saya sudah menyimpan informasi dan foto tipe dan model pintu yang saya mau beli, transaksi bisa dilaksanakan dan pintu bisa dikirim langsung ke rumah orang tua saya.

Semua urusan beres pada pukul 9.45. Hampir 3 jam, jauh lebih lama dari estimasi saya yang hanya 1.5 jam. Mas SPB yang pada awalnya melayani kami memilih cat interior dan eksterior, di tengah-tengah transaksi tiba-tiba pergi begitu saja. Rupanya dia bete karena tidak berhasil mengubah keputusan saya untuk memakai merk D sebagai merk langganan. Bagaimanapun dia berbusa-busa menjual merk J, saya tidak tertarik karena tidak punya pengalaman memakai merk itu.

Kami sekeluarga sangat mempercayai merk D, terpercaya sejak tahun 2009, sangat awet, tahan lama, tanpa kekurangan apa pun. Eh ada ding satu kekurangannya: kurang murah, hehehe.

Kalau kamu mau tahu merk apa yang saya maksud, japri ya? Sungguh, tulisan ini bukan endorsement, hanya sharing pengalaman pergi ke toko bangunan sebagai wanita yang dianggap tidak tahu apa-apa dan menjelang toko tutup.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s