Tips Bermain-Main dengan Kata

Huruf adalah unit terkecil dari sebuah bahasa, tapi kata adalah ibarat nukleus dari sebuah atom. Kalimat, paragraf, dan tulisan utuh adalah perluasan ide, tapi kita bergerak dari kata menuju mereka semua.

Kata adalah perihal perasaan, bukan semata buah pikiran. Dengan kata kita mengeksplorasi makna, kita bermain-main dengan penyampaian maksud. Komunikasi yang mangkus dan sangkil adalah tujuan kita, supaya semua pihak berbicara dengan bahasa yang sama, supaya tidak terjadi kesalahpahaman di antara para penutur.

Setiap bahasa di dunia memberi ruang untuk kita bermain-main dengan kata demi mengasah rasa. Wujud permainan itu dalam bentuk fiksi dan nonfiksi, baik berupa cerita maupun tulisan berbasis fakta. Kita ingin memiliki perbendaharaan kata yang luas, supaya ada banyak pilihan untuk menggambarkan sebuah suasana.

Hanya untuk sebuah aktivitas sederhana yang melibatkan mata, misalnya, tersedia banyak sekali kata yang mewakilinya. Melihat, menatap, memandang, berkedip, melotot, dan sebagainya, dan seterusnya. Tersedia banyak sekali kata karena melihat tidak melulu tentang melihat, ada faktor lain yang perlu dipertimbangkan seperti gerakan bola mata, durasi dan intensitas mata yang terekspos pada obyek lain.

Bagaimana memperluas perbendaharaan kata?

Dengan banyak membaca, tentu saja. Tidak ada jalan lain. Pelajarilah ilmu orang lain, bagaimana dia memilah dan memilih kata. Kita bisa mengadopsi cara tersebut untuk menyampaikan maksud yang sama. Sekarang bukan jamannya lagi kita berkutat dengan buku ilmu bahasa yang tebal-tebal; semua informasi ada di ujung jari, begitu terjangkau. Luangkan waktu setiap hari untuk belajar.

Kata orang, ilmu itu ibarat bulir-bulir yang mengisi padi. Semakin padi berisi, ia semakin menunduk. Semakin banyak ilmu, seseorang semakin rendah hati. Ilmu juga bisa diibaratkan air. Ditampung di dalam sebuah wadah, yaitu benak dan kalbu kita, untuk kemudian dialirkan ke wadah lain. Jika tidak dialirkan, maka wadah itu, diri kita, akan kepenuhan dan pada akhirnya pecah. Menjadi tidak berguna dan akhirnya dibuang orang.

Pengalaman pertama saya bermain-main dengan kata adalah pada usia 12 tahun ketika duduk di kelas 1 SMP. Guru bahasa Indonesia kala itu ada dua orang, satu orang mengajari tata bahasa dan satu orang lagi mengajari sastra. Guru bahasa Inggris ada tiga orang, satu orang mengajari tata bahasa, satu orang mengajari perbendaharaan kata, dan satu orang lagi mengajari sastra. Sekolah saya itu sungguh sangat memperhatikan kemampuan bahasa (dan matematika) dari siswanya.

Pelajaran pertama di kelas sastra adalah mengelompokkan kata-kata berdasarkan persamaan bunyi huruf vokal + konsonan atau persamaan bunyi huruf vokal saja di akhir sebuah baris.

Sebagai contoh:

  1. Kelompok kata berdasarkan persamaan bunyi huruf vokal + konsonan di akhir baris

taman dan kawan

marah dan tambah

berat dan kerat

pasar dan tampar

mewah dan marwah

2. Kelompok kata berdasarkan persamaan bunyi huruf vokal di akhir baris

tiba dan sangka

mati dan suri

tahu dan mau

nanti dan mampir

murah dan rumah

Praktek yang paling lazim adalah mengelompokkan kata-kata yang memiliki kesamaan bunyi huruf vokal di akhir baris, walaupun mungkin bunyi huruf konsonannya berbeda. Contoh pengaplikasiannya adalah pada pembuatan pantun dan puisi.

Pada tahun itu saya membuat sebuah puisi yang diberi nilai kurang oleh guru, karena tidak menerapkan prinsip yang diajarkan di atas. Puisi ini saya temukan baru-baru ini di rumah orang tua saya bersama dengan buku harian semasa SMP.

Senja Merah

Aku berjalan di tepi pantai

Memandang ombak berkejaran

Deru, deru hanya itu yang kudengar

Burung camar terbang berkeliaran

Mencari penginapan ‘tuk semalam

Merapatkan diri, berkumpul dalam sepi

Aku meratap

Senja merah ‘kan berakhir

Kepak sayap burung camar tak terdengar lagi

Siapakah yang menjadi penghiburanku kini?

Catatan dari guru saya ketika itu adalah puisi saya tidak memakai pola yang jelas. Pola yang dimaksud adalah pengulangan antar baris dari bunyi huruf vokal yang diletakkan di akhir. Cara mudah untuk mempelajari hal ini adalah dengan berlatih membuat pantun dimana satu bait terdiri dari empat baris. Pola yang biasanya dipakai adalah a-a-a-a (semua baris memiliki bunyi huruf vokal yang sama) atau a-b-a-b (bunyi huruf vokal sama pada baris yang berselang-seling). Ada juga pola a-b-b-a (bunyi huruf vokal sama pada baris pertama dan terakhir, kedua dan ketiga), namun pola ini jarang digunakan.

Untuk puisi “Senja Merah” saya memakai dua bunyi huruf vokal yaitu bunyi /i/ dan /a/. Setelah mendapat catatan dari guru, saya kemudian menelaah lagi pola pada puisi saya. Ternyata pola yang saya pakai adalah:

/i/ – /a/ – /a/ – /a/ – /a/ – /i/ – /a/ – /i/ – /i/ – /i/ atau disederhanakan sebagai a-b-b-b-b-a-b-a-a-a.

Sebuah pola yang kacau, bukan? Namanya juga usaha seorang anak SMP, hahaha. Sebelum bereksperimen membuat puisi modern, memang ada baiknya saya hapal betul pakem pembuatan pantun, baru melebarkan sayap dari situ.

Membuat pantun, dan kemudian puisi, adalah latihan yang diberikan kepada kami supaya peka terhadap kata. Untuk setiap tugas yang diberikan, kami harus memikirkan kumpulan kata yang berbunyi huruf vokal sama dan juga memiliki makna seperti yang kami maksudkan. Belum lagi ada tuntutan untuk selalu menggunakan bahasa Indonesia yang baku, baik, dan benar. Wah otak ini semakin bekerja keras untuk menyimpan dan menarik sebanyak mungkin kata ketika diperlukan.

Setelah bermain dengan bunyi huruf vokal dan/atau konsonan di akhir sebuah baris, permainan berikutnya melibatkan jumlah suku kata di dalam setiap baris. Permainan ini bertujuan melatih kami menemukan keseragaman jumlah suku kata yang membuat baris demi baris enak untuk dibaca. Saya beri contoh sederhana:

Namanya Rita, anaknya gendut (10 suku kata)

Wajahnya tirus, suka cemberut (10 suku kata)

Saat tertawa, mulutnya lebar (10 suku kata)

Ketika marah, tampangnya sangar (10 suku kata)

Cobalah membaca keempat baris tersebut. Mengalir dan mengalun sekali, bukan? Mari bandingkan dengan bait di bawah ini.

Buah mangga, buah kedondong (9 suku kata)

Dibeli pagi, sebelum matahari terbit (14 suku kata)

Pakai sambal rujak, pasti sedap dong (11 suku kata)

Liur menetes tak henti (8 suku kata)

Terasa kagok, ya? Tidak ada rima dan derap yang persis sama antar baris seperti pada contoh sebelumnya. Jadi ketika membuat sebuah pantun atau puisi, ada baiknya kita memperhatikan juga jumlah suku kata pada setiap baris dan antar baris untuk membuat bunyinya lebih menarik bagi pembaca. Bermain-main dan bereksperimen dengan kata yang tepat dan dengan jumlah suku kata yang tepat adalah hal yang saya sangat sukai dari membuat puisi/pantun.

Semoga tips yang saya kemukakan di atas bermanfaat untuk Anda.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s