Dua Profesi yang Selalu Menyalahkan Koleganya

Tadi sore saya ke rumah orang tua saya untuk bertemu dengan tukang yang sedang bekerja di rumah mereka. Kusen, pintu, dan jendela rumah itu sudah lama dimakan rayap. Akhir-akhir ini aktivitas rayapnya semakin menjadi-jadi; kedua orang tua saya harus membersihkan serbuk kayu yang berceceran di sekitar kusen selama beberapa kali dalam sehari. Sungguh pekerjaan yang melelahkan dan tidak membawa manfaat sama sekali.

Setelah lama menimbang-nimbang, mereka akhirnya memutuskan untuk mengganti semua kusen, pintu, dan jendela dari bahan kayu ke aluminium. Minggu lalu akhirnya mereka mendapatkan tukang dengan harga yang sesuai dengan budget. Kalau soal mutu pekerjaan, nanti dulu. Walaupun ada referensi dari tetangga dan kenalan yang lain, semua itu hanya bersifat circumstantial dan tidak berlaku untuk semua kasus. Pekerjaan di klien yang satu mungkin memuaskan, di klien yang lain mungkin amburadul. Jadi semua penilaian sebaiknya ditahan sampai proyek beres.

Hari ini adalah hari keempat tukang dan anak buahnya bekerja di rumah orang tua saya. Dari hari pertama saya hanya melihat hasil kerjanya melalui foto dan video. Mumpung hari ini adalah akhir pekan, maka saya memutuskan untuk mengunjungi rumah orang tua dan melihat langsung hasil pekerjaan mereka, sekalian berdiskusi untuk proyek selanjutnya. Sebab begitulah kalau sudah merenovasi rumah; lingkup pekerjaan kadang bertambah tak terkendali dan melampaui budget. Banyak mau, tapi uangnya tidak cukup, lah piye? Jadi saya datang juga untuk menyelaraskan kembali antara wants dan needs orang tua saya.

Perbincangan berjalan lancar; bahasa kami sama dan tukang tersebut bisa mengerti apa yang kami (yang diwakili oleh saya) mau. Setelah tawar-menawar selesai, saya pun berkeliling dengan beliau untuk mengecek secara lebih teliti setiap hasil pekerjaan.

Di depan jendela kamar utama, saya meraba dinding baru yang sudah selesai dicat. Ketika kusen beserta pintu dan jendela yang menempel padanya dibongkar, temboknya pun ikut dibongkar. Akan ada kekosongan tempat yang harus diisi oleh batu bata atau semen baru (jika lubang yang terbuat tidak terlalu besar).

Berkaca pada pengalaman saya waktu mengganti kusen kayu ke aluminium sekitar tiga tahun lalu, saya kecele sekali ketika dinding baru di sekitar kusen baru mulai menunjukkan bercak air seperti bekas rembesan setelah beberapa waktu berlalu. Saya sempat memanggil kembali tukang saya dan menyuruh dia merapikannya.

Penyebab bercak itu saya tahu benar; acian dinding baru belum kering ketika cat dasar dan kemudian cat utama diaplikasikan pada tembok. Saya tidak mungkin mengubah lagi acian, karena pasti makan terlalu banyak waktu dan tenaga. Jadi saya menyuruh tukang untuk mengamplas dinding itu, melapisinya dengan cat Aquaproof bening, menunggu sampai dinding kering, baru mengecatnya dengan cat warna utama. Bercak airnya memang masih ada, tapi sudah berkurang banyak.

Hal ini saya tanyakan kepada tukang yang saya temui tadi; apakah ia memakai teknik yang sama untuk mencegah bercak air timbul pada dinding baru yang notabene mengelilingi kusen-kusen yang baru dipasang. Saya merasa perlu menanyakannya, sebab memperbaiki sesuatu membutuhkan lebih banyak waktu dan kesabaran dibandingkan membereskan apa yang masih dalam proses pengerjaan.

Tanpa ragu, tukang itu tertawa keras dan kemudian menyalahkan apa yang tukang saya dulu praktekkan. Dia bilang tukang saya itu keliru, mengaplikasikan Aquaproof tidak akan menyelesaikan masalah dinding. Memang tidak menyelesaikan 100% , tapi itu hal minimal yang saya dan tukang saya dulu bisa lakukan.

Tadi saya dengan sengit membela keputusan yang saya ambil dulu, karena yang namanya hasil pekerjaan sipil itu bersifat circumstantial, bisa tidak sama antar tempat karena banyak faktor penyebab. Yang pasti, jika kasus bercak air timbul pada dinding rumah orang tua saya, saya minta untuk diperbaiki sampai tembok mulus kembali seperti semula. Untung saja tukang itu menyanggupi. Kalau tidak ‘kan males banget; sudah keukeuh, ga mau tanggung jawab pula.

Gara-gara percakapan kami itu, saya jadi teringat sebuah peristiwa hampir satu dekade lalu.

Sebelum kami menikah pada tahun 2008, suami saya sudah membawa mobil pertama yang dia beli dari Surabaya ke Jakarta. Oleh karena usianya yang sudah tua dan biaya perawatannya yang semakin lama semakin meroket, pada tahun 2011 kami memutuskan untuk menjualnya.

Selama berada di Jakarta, mobil itu tidak diservis di bengkel resmi karena lokasinya puluhan kilometer dari rumah kami. Akhirnya kami berlangganan ke sebuah bengkel besar, malah terbesar di kota mandiri tempat kami tinggal. Kami berlangganan di situ cukup lama, hampir 3 tahun, dan selama itu kami percaya betul pada montir dan timnya yang menservis mobil kami, yang memperbaiki jika ada kerusakan, yang memberikan peringatan jika ada spare part yang harus diganti, dan lain sebagainya.

Nomor polisi yang masih berstatus kota Surabaya membuat kami mengirimkan mobil kembali ke sana untuk dijual di sana. Sebelum menjualnya, suami saya membawanya ke bengkel langganan dia dulu ketika masih bujangan. Alangkah kagetnya dia karena belum satu hari berlalu montirnya sudah menelepon dia sambil marah-marah.

“Ya apa, sih, Mas? Ini filter bensinnya ga pernah diganti, jadi ada karat, kotoran, bla bla bla, na na na, … (dan seterusnya).”

Suami saya mendengarkan dengan setengah kuping. Pertama, karena si montir menelepon pada jam kantor ketika dia masih sibuk dengan berbagai urusan. Kedua, karena selama ini dia memercayai montir dan pemilik bengkel yang di Jakarta, dan ternyata pekerjaan mereka tidak benar. Suami saya sangat ingat bahwa kami selalu ditagih biaya filter ini-itu, tapi memang kami tidak pernah melihat langsung barangnya. Selama ini kami percaya saja dan pada akhirnya kami ditipu mentah-mentah.

Pada sore hari setelah menelepon balik ke bengkel di Surabaya, dia berkata begini kepada saya:

“Memang ya montir itu selalu nyalahin pekerjaan montir sebelumnya. Ingat ga montir di Jakarta dulu juga mengomel waktu pertama kali servis mobil kita?”

Iya, saya ingat betul, dan memang benar montir di Jakarta menyalahkan yang di Surabaya, begitu pula sebaliknya. Entah kenapa montir-montir itu tidak punya standar yang sama, SOP yang sama dalam bekerja. Kalau ada ‘kan enak sekali, bisa memudahkan semua pihak, baik montir, pelanggan, maupun pemilik bengkel. Yang saya bayangkan adalah sebuah manual yang menjadi panduan, item apa saja yang harus diperiksa/diperbaiki, dan bagaimana cara melakukannya.

Yang saya pernah tahu adalah pelatihan tukang bangunan oleh sebuah perusahaan yang memproduksi gypsum board dan papan GRC. Saya tahu dari tetangga saya yang merupakan kepala pabrik yang memproduksi papan tersebut. Saya juga pernah mendengar ada pelatihan serupa untuk (lagi-lagi) tukang bangunan saja yang diselenggarakan oleh Litbang dan Kementerian PUPR.

Saya tidak mencari informasinya secara detail, hanya cukup untuk memuaskan rasa ingin tahu apakah kompetensi dan sertifikasi tukang (yang bergerak di dalam bidang apa pun) termasuk hal yang diperhatikan di negeri ini seperti halnya di negara maju. Sepertinya sih tidak, ya. Jikalau ada pelatihan dan sejenisnya, maka informasinya masih sangat terbatas. Padahal pelatihan berkala sangat berguna untuk mempertahankan kompetensi tukang.

Saya membayangkan ada satu set kompetensi yang harus dicapai dalam kurun waktu tertentu. Jika seseorang adalah tukang bangunan, maka ia akan belajar cara mengaduk semen, cara mengecat dinding, cara memasang keramik, dan lain sebagainya. Tukang listrik dan montir tentu memiliki set kompetensi tersendiri. Set kompetensi yang sama untuk seluruh Indonesia dan cara asesmen yang sama akan menghasilkan tukang-tukang yang memiliki keahlian yang relatif sama.

Jadi, tidak ada lagi ceritanya tukang dan montir yang menyalahkan kolega mereka yang bekerja sebelumnya karena kurang melakukan ini dan itu. Jika semua tukang bersekolah di tempat yang mengajarkan hal yang sama, maka tidak sulit membayangkan pekerjaan ini sebagai pekerjaan yang memiliki standar mutu yang sama, di manapun pekerjaan ini dilangsungkan. Selamat tinggal tukang-tukang yang belajar secara otodidak, selamat datang tukang-tukang yang bersertifikasi. Harapan saya sih begitu.

Semoga suatu hari nanti. Sungguh setiap kali saya berganti tukang, saya bosan mendengar mereka yang dengan gampang menyalahkan tukang lain yang notabene adalah koleganya, hanya karena mereka memiliki pemikiran dan cara kerja yang berbeda. Kalau soal montir sih, saya tidak berkomentar lagi. Bengkel yang saya sebutkan di atas sudah masuk ke blacklist saya karena ternyata banyak orang lain yang ditipu seperti kami.

Kalau curang dalam bekerja, lama-lama pasti kena batunya.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s