“Cepetan Dong, Ah” Dalam Bahasa Korea

빨리 빨리! Romanisasi: palli palli!

Diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sebagai “hurry up”, dan ke dalam bahasa Indonesia sebagai “cepetan dong, ah”. Terjemahan ke dalam bahasa Indonesia saya rasa lebih tepat; saya akan ceritakan alasannya nanti.

Waktu writing challenge WAG Drakor dan Literasi sampai pada topik ke-9 yaitu bahasa Korea apa yang sering terbawa ke percakapan sehari-hari, sontak saya bertanya kepada kedua anak saya yang tahu betapa saya menggemari segala sesuatu yang berasal dari negaranya Lee Min Ho tersebut. (Eh kok LMH disebut-sebut lagi? Katanya (mantan) bucin, wkwkwk.)

Saya: “Mama paling sering bilang apa dalam bahasa Korea?”

Si Sulung dan si Tengah menjawab kompak: “Palli palli!”

Kalau saya pikir-pikir, kata itu bukanlah kata pertama dalam bahasa Korea yang saya tahu. Sebelum mengunjungi Yu Yu Jin di Daegu, saya sempat mengambil kursus singkat bahasa Korea di kampus. Ini sebuah kelas yang unik untuk menyambut libur tengah semester.

Saya dan puluhan mahasiswa Jepang dan negara lain menggunakan bahasa Jepang untuk mempelajari bahasa Korea. Enam puluh persen waktu kami dihabiskan untuk menonton “Winter Sonata” dengan subtitle Nihongo karena Kankokugo Sensei (guru bahasa Korea) kami cinta mati pada Bae Yong Joon. Ahem!

Nah berbekal pengetahuan dari kelas itu dan buku Lonely Planet, saya pun mendarat di Seoul pada suatu hari di awal musim semi tahun 2004. Hostel yang sudah saya booking di daerah Itaewon ternyata tutup pada hari kedatangan saya. Dengan cemas saya mendatangi pos polisi terdekat dan kata pertama yang saya dengar dari bapak polisi yang menggaruk-garuk kepalanya adalah 어떻게 (eoteohke), alias “duh, gimana dong”.

Berhubung tarif taksi di Seoul sangat murah dibandingkan di Jepang (1 Yen Jepang = 10 Won Korea, di Korea tiba-tiba saya merasa tidak miskin-miskin banget), saya tidak keberatan ketika pak polisi memanggil taksi untuk mengantarkan saya ke Hostel YMCA di daerah Insadong. Pegawai hostel tersebut fasih berbahasa Inggris dan bersama dia saya mengucapkan terima kasih (감사합니다, gamsahabnida) kepada bapak supir taksi.

Yu Jin tahu bahwa kemampuan bahasa Korea saya hanyalah sebatas membuka halaman terakhir buku Lonely Planet yang berisi vocabulary sederhana. Jadi, sebelum saya datang dia meng-email kalimat-kalimat penting yang perlu saya ucapkan kepada kakek neneknya selama saya menginap di rumahnya.

Pertama kali tiba di rumah Yu Jin, saya mengucapkan 안녕하십니까 (annyeonghasibnika) dan menyebutkan nama saya sambil membungkuk dalam-dalam. Kakek dan nenek langsung tersenyum sumringah, tapi kemudian mereka membalas salam saya dengan bahasa Jepang! Mereka tetap senang dengan usaha saya, namun mereka tidak memaksa saya berbahasa Korea. Syukurlah, hehehe.

Selama menginap di sana, Yu Jin mengajak saya mengelilingi kota Daegu dari pagi sampai malam hari. Bahkan kami pernah sekali pulang pada pukul 1 pagi setelah menonton film “Troy”. Kenapa malam sekali? Karena penayangan larut malam adalah waktu sebuah film Hollywood ditayangkan tanpa di-dubbing ke dalam bahasa Korea. Sampai sekarang saya tidak bisa membayangkan kata “saranghaeyo” keluar dari mulut Brad Pitt ….

Pada pagi hari sebelum kami meninggalkan rumah, biasanya saya dan Yu Jin akan mengucapkan kalimat-kalimat berikut kepada orang rumahnya:

1. Sebelum sarapan: 잘 먹겠습니다 (jal meoggesseubnida), yang berarti mari makan.

2. Sesudah sarapan: 잘 먹었습니다 (jal meogeosseubnida), yang berarti terima kasih untuk makanan yang sudah dihidangkan.

3. Ketika meninggalkan rumah, saya mengucapkan 안녕히 계십시오 (annyeonghigyesibsio) dan Yu Jin mengucapkan versi informalnya yaitu 아녕히 계세요 (annyeonghigyeseyo), yang berarti selamat tinggal.

4. Jika orang tua Yu Jin berangkat duluan ke kantor, atau kakeknya pergi ke taman untuk bermain catur, saya mengucapkan 안녕히 가십시오 (annyeonghigasibsio) dan Yu Jin mengucapkan versi informalnya yaitu 아녕히 가세요 (annyeonghigaseyo), yang berarti selamat jalan.

Saya melupakan kalimat-kalimat tersebut bahkan waktu berkali-kali mengunjungi negara ini setelah tahun 2010 karena diajak oleh suami yang harus bekerja di sana. Saya mulai memakainya lagi justru semenjak 4 tahun lalu waktu anak sulung saya mulai ikut les taekwondo.

Di tempat les itu pada tahun tersebut di kelas anak- anak hanya ada 10 orang Indonesia, 2 orang Perancis, dan sisanya sekitar 100 orang Korea. Di kelas ibu-ibu sendiri ada sekitar 13 orang Korea, 2 orang Indonesia, dan 1 orang Perancis. Bahasa pengantar utamanya adalah bahasa Korea dengan beberapa kata yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia atau bahasa Inggris jika benar-benar perlu. Sabeomnim pernah tinggal belasan tahun di Surabaya dan Amerika Serikat, jadi bahasa Indonesia dan Inggrisnya terbilang bagus.

Pertama kali anak saya dan teman-temannya datang trial les, mereka langsung disuruh 앉아 (anja, duduk). Para murid dojang duduk bersila di lantai dan harus siap untuk 일어나, (ileona, bangkit), sesuai instruksi dari Sabeomnim.

Setiap murid di dojang akan mendapat giliran untuk memimpin pemanasan sebelum kelas dimulai. Oleh karena si Kakak dan teman-temannya terhitung sebagai murid baru, Sabeomnim justru sering menugaskan mereka. Walhasil dalam hitungan minggu si Kakak bisa lancar menyebutkan 1 sampai 10 dalam bahasa Korea. Anak-anak memang cepat belajar bahasa seperti spons menyerap air.

Selama mengajar, Sabeomnim sering sekali mengucapkan “palli palli”. Dia memang menuntut kami, para murid baik di kelas anak-anak maupun di kelas ibu-ibu, untuk bergerak cepat, sigap, sesuai instruksi, dan tidak melakukan kesalahan apa pun.

Saya tahu pasti bahwa Sabeomnim hampir tidak pernah menanyakan apakah seorang murid, di kelas anak dan di kelas ibu, baik-baik atau sehat-sehat saja. Jika ada indikasi otot terkilir, Sabeomnim akan cepat menyemprotkan sprain spray ke bagian tubuh yang nyeri, dan memijatnya jika benar-benar perlu. Tipe kepribadian Sabeomnim adalah seorang pelaksana tanpa banyak bicara, yang penting perbuatan nyata.

Kalimat “빨리 빨리” ia ucapkan bukan hanya waktu menyuruh kami pemanasan dengan lari mengelilingi dojang seluas 100 meter persegi. Sabeomnim juga meneriakkan ini waktu menyuruh kami berpasangan untuk melatih tendangan dengan menggunakan mitt.

mit taekwondo

Latihan berpasangan berarti satu orang memegang 2 buah mitt di kedua belah tangan dan mengacungkannya secara bergantian supaya bisa dijangkau oleh kaki pasangannya. Si pasangan akan bergerak maju sambil menendang mitt dengan kedua kaki secara bergantian. Sambil menendang kami harus berteriak “하!” ( ha!) supaya lebih bersemangat. Semakin kami bersemangat, semakin sering Sabeomnim berkata, “Palli palli!”

Anak-anak dan saya rutin latihan taekwondo setiap minggu, sehingga bahasa Korea semakin sering terdengar di rumah kami. Selain taekwondo, anak-anak saya ada banyak les lain sepulang sekolah. Kesibukan mengantar-jemput mereka membuat saya semakin sering mengucapkan “palli palli” supaya anak-anak cepat bergerak.

Dimulai sejak menjemput anak-anak di gerbang sekolah, saya akan berkata “palli, palli” karena ada banyak mobil lain mengantri di belakang saya. Setelah itu kami akan pergi ke tempat les pertama. Seusainya hanya ada jeda 10-15 menit sebelum les kedua dimulai. Di sini saya akan kembali berseru “palli palli”.

Terakhir kali saya mengucapkan kata-kata ini adalah waktu mengajak anak-anak pulang karena hari sudah sore dan saya masih harus memasak makan malam. Anak-anak saya sangat terbiasa mendengarnya keluar dari mulut saya dan menurut mereka kata-kata ini lebih cocok diterjemahkan sebagai “cepetan dong, ah” karena nada suara saya yang tidak sabar.

Gara-gara “palli palli” anak-anak menganggap mama mereka sebagai orang yang tidak sabaran, yang ingin semuanya dilakukan serba cepat. Tidak salah sih, hehehe.

Selain 빨리 빨리, saya juga semakin sering mengucapkan 잘 먹겠습니다 dan 잘 먹었습니다 karena saya sering pergi makan dengan teman-teman Korea saya sampai sebelum pandemi. Ah, jadi tambah rindu pada mereka dan restoran Korea. Sekarang saya harus cukup puas menikmati kimchi dari Kim Ahjumma. 

보고 싶습니다. ❤️

Chingudeul saya yang beraneka warna seperti pelangi juga punya variasi kata-kata dalam bahasa Korea yang mereka mengerti, gemari, dan pakai dalam kehidupan sehari-hari. Ini cerita mereka:

Lala chingu

Rian chingu

Rani chingu

Lendyagasshi chingu

DK chingu

Gita chingu

Risna eonni

Dwi eonni

Ima chingu

Manda chingu

Deya chingu

Nadya chingu

Asri chingu

 

8 thoughts on ““Cepetan Dong, Ah” Dalam Bahasa Korea

  1. Haha…palli palli…
    Tapi aku salut iih…meskipun mereka sering bilang palli palli, tapi kalau lihat kebudayaan mereka saat mengasuh anak, kagum.
    Sering minta maaf dan banyak pujian ke anak.

    Neomuu joha!

    Liked by 1 person

    1. Anak-anak korea waktu dimarahin kakinya dijepit di antara kedua kaki ortunya, tangannya ditahan. Ortu memandang mata anak, memastikan anak bisa lihat gerakan mulut orang tuanya yang sedang memberi nasihat. Ga ada anak korea yg aku tau ngelawan ortunya, semua patuh, tunduk, taat 100%.

      Eh tapi waktu anakku dimarahin pake cara gini sama eonni di tkondo aku nangis lho, ga tega liat anakku nangis kaget 😔😔😔

      Like

      1. Pake parenting ala segala bangsa, hahaha … Aku inget-inget cara ortu dulu membesarkan aku, ambil yg baik, diskusikan dgn suami, dan terapkan ke anak. Parenting bukan ilmu pasti toh dan ga ada yg paling bener sedunia. Hehehe

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s