Membesarkan Anak-anak yang Sibuk

Saya senang kalau sibuk. Saya senang bisa bekerja, produktif, dan menghasilkan banyak hal. Waktu saya masih duduk di bangku SD saya merasa mempunyai banyak kelebihan waktu. Sepulang sekolah sekitar pukul 1 siang saya tidak tahu harus melakukan apa sampai pukul 4 sore.

Pukul 4 sore adalah waktu bermain dengan para tetangga. Cukup dengan memukul pagar rumah tetangga dengan sekeping batu, maka anak-anak sebaya saya akan berhamburan keluar.

Pukul 5 sore saya harus pulang ke rumah. Kegiatan berikutnya adalah mandi, nonton Sesame Street untuk belajar bahasa Inggris, makan malam, dan belajar.

Saya dulu bersekolah di sekolah yang tiada hari tanpa PR dan ulangan. Sekolah itu masih berdiri sampai sekarang, masih dengan gaya mengajar yang sama, dan mungkin masih menghasilkan siswa dengan kualitas yang sama dengan saya dulu.

Di rumah orang tua saya ada banyak buku, koran, dan majalah. Saya senang membaca tapi lama-lama bosan juga. Saya ingin belajar hal yang lain, les ini-itu. Jaman saya kecil les yang populer adalah les piano, atau alat musik lain, dan les bahasa Inggris.

Saya ingin les organ, tapi organ mahal sekali dan biaya lesnya juga selangit. Les musik tidak bisa hanya 1 sampai 2 tahun, harus bertahun-tahun untuk melihat hasil nyatanya. Orang tua saya tidak bisa memberi les musik kepada saya. Dengan kondisi 3 anak yang bersekolah di swasta, les musik adalah suatu kemewahan yang tidak mampu kami miliki.

Suatu hari Bapak memenangkan uang arisan keluarga sebesar 500 ribu Rupiah. Keesokan harinya Bapak dan Mama membeli organ Yamaha seharga 2 juta Rupiah. Beberapa hari kemudian Bapak memberi saya fotokopi buku pelajaran organ level pertama. Bapak menyuruh saya belajar organ sendiri. Beliau dulu bisa menguasai gitar dengan cara itu, semestinya saya juga bisa.

Tanpa direncanakan sebelumnya, tiba-tiba saya mendapati diri saya menikah di usia muda dan segera dikaruniai anak. Begitu memiliki anak, saya ingin ia belajar banyak hal. Saya ingin ia memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Saya ingin ia tidak membuang-buang waktu menonton TV seperti yang saya lakukan dulu karena tidak ada kegiatan.

Selagi saya bisa menyediakan uang, waktu, dan tenaga, saya bertekad memberikan pelajaran informal kepada anak-anak saya, selain kegiatan belajar formal di sekolah. Ini adalah kemewahan yang bisa saya beri untuk memperlengkapi masa depan mereka, bukan untuk kebanggaan saya.

Berbagai pelajaran informal, atau les, saya mulai beri 8 tahun lalu saat si sulung belum bersekolah. Saya langsung mengambil les di 3 cabang yang menurut saya krusial, yaitu: musik, olahraga, dan seni.

Untuk musik saya beri les piano. Jangan ditanya bagaimana jatuh-bangunnya saya untuk membuat si sulung tetap menekuni alat musik ini. Dia pernah berganti 4 orang guru selama 5 tahun! Gurunya yang sekarang sudah menangani dia selama hampir 4 tahun. Akhirnya ada juga guru yang bisa menangani dia. Sekarang dia juga belajar biola atas inisiatifnya sendiri.

Untuk olahraga saya memilih balet, karena balet mengajarkan olah tubuh dan musik sekaligus. Ini les yang cocok untuk si sulung yang tidak bisa diam. Ia menekuni balet selama 5 tahun di 2 sekolah balet. Satu-satunya alasan mengapa ia berhenti adalah karena naik tingkat di balet perlu waktu yang lamaaa sekali dan jadwal ujiannya tidak jelas. Kami, orang tuanya, juga sudah merasa muak dengan sekolah balet yang mewajibkan murid mengikuti performance setiap minggu di mal/tempat keramaian lain, tapi melupakan peningkatan skill mereka. Les balet kemudian diganti dengan les berenang dan kemudian les taekwondo sampai sekarang. Dalam les taekwondo ada jenjang yang jelas dan ujian. Anak saya yang kompetitif sangat menyukai hal ini.

Untuk seni saya memperkenalkan anak pada les gambar. Ini les dengan modal paling murah; cukup dengan selembar kertas dan sebatang pensil anakpun bisa berkreasi. Melalui les gambar saya ingin ia belajar konsep bentuk, warna, mengobservasi objek, dan menginterpretasi objek menurut gayanya sendiri. Dalam 8 tahun anak saya sudah berganti guru gambar sebanyak 3 kali. Gurunya yang sekarang cocok dengan dia, dan juga dengan saya, karena mengajarkan seni rupa seperti yang saya pelajari waktu duduk di bangku SMP. Semua pelajaran diberikan langkah demi langkah yang berkesinambungan dan ada tujuan akhirnya. Saya meminta gurunya untuk memberikan PR setiap kali selesai les supaya saya bisa memonitor kemajuan anak-anak. Hal ini juga saya terapkan untuk les piano, biola, dan drum.

Waktu si sulung berusia 8 tahun kami mulai memberikan les coding karena kami ingin ia mengasah logika dan kemampuan analisanya. Awalnya dia ogah-ogahan, maklumlah gurunya adalah ayahnya sendiri, tapi sekarang dia menyukai bidang ini dan sudah berani bereksperimen membuat sensor menggunakan bahasa Python.

Kami melihat les-les yang kami berikan ke anak kami yang pertama sangat berguna untuk melatih disiplin dalam mempergunakan waktu dan mengembangkan talenta yang ia miliki. Dengan segudang les seperti itu ia dituntut untuk bisa mengatur waktu dan menyeimbangkan antara pelajaran di sekolah dan di les.

Memberi les ke anak tidak hanya berarti saya harus mengalokasikan uang les dan waktu untuk antar-jemput, tapi juga waktu dan tenaga untuk mencek PR dan kemajuan belajarnya. Bimbingan dan pengawasan orang tua membantu anak lebih bertanggung jawab atas waktu saat belajar dengan guru les dan waktu saat berlatih kembali di rumah.

Untuk anak ke-2 kami memberikan les-les yang sama dengan kakaknya. Bedanya hanya dia mau les drum, bukan biola. Saya ijinkan, asal les piano tetap berjalan. Menurut saya belajar piano adalah dasar dan permulaan untuk mempelajari musik.

Dengan 2 orang anak yang mengikuti 6 buah les untuk si sulung dan 5 buah les untuk si tengah setiap minggunya, bagaimana saya mengatur waktu dan tenaga? Jawabannya, saya memilih jadwal les hanya selang 30-60 menit setelah pulang sekolah. Jadi setelah sekolah dan les beres, baru mereka pulang ke rumah. Apakah anak-anak tidak lelah? Justru tidak, karena mereka menganggap les sebagai hiburan dan cara untuk melepas penat. Sepulang les (paling malam pukul 6.20) mereka sudah terlatih untuk tertib, langsung mandi, makan, dan belajar sebelum tidur. Sebagai catatan, les-les yang saya berikan tidak ada les pelajaran jadi mereka tidak jenuh dengan perihal sekolah.

Bagaimana dengan waktu bermain mereka? Waktu bermain ada di akhir pekan dan sekitar 10 menit menjelang tidur malam. Saya tidak mentabukan televisi, tapi anak-anak saya tidak begitu berminat dengan gadget. Mereka lebih senang bergerak, jalan/bersepeda sore, atau merakit Lego. Itulah yang kami inginkan, agar mereka tidak terlalu cepat dewasa karena jaman ini.

Semua keahlian yang anak-anak miliki adalah hasil kerja keras mereka. Kami sebagai orang tua hanya memfasilitasi selagi kami bisa. Tuhan memberkati tahun-tahun dimana mereka terus sibuk belajar, bertumbuh, dan berkembang.

One thought on “Membesarkan Anak-anak yang Sibuk

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s