Sala, Saram, Sarang

Sepanjang saya belajar bahasa Jerman dari bangku SD sampai kuliah, ada satu frase yang selalu diulang-ulang oleh Mama dan guru bahasa Jerman saya yang lain.

Deutsch lernen, Deutschland kennenlernen.

Yang berarti, belajar bahasa Jerman harus satu paket dengan mempelajari negara asal bahasa tersebut beserta penduduk dan adat-istiadatnya.

Akibatnya, selama belajar bahasa Jerman saya juga mendapat informasi tentang komposisi lansia dan orang muda usia produktif terhadap populasi penduduk, bagaimana sekolah menengah kejuruan dianggap bergengsi, apa yang harus dilakukan oleh artis jalanan di sana untuk bertahan hidup, dan usaha Pemerintah Jerman mengintegrasikan para pencari suaka dari negara lain ke dalam tatanan kehidupan sosial masyarakatnya.

Semua itu dijelaskan melalui artikel, potongan berita, dan dialog fiktif di dalam buku “Themen” yang saya pakai untuk belajar bertahun-tahun. Belajar bahasa memang harus disertai dengan belajar karakteristik penutur bahasa tersebut, supaya kita bisa mendapat feel bagaimana bahasa itu digunakan.

Demikian pula dengan bahasa Korea.

Menggemari K-Pop dan drama Korea mau tidak mau pasti disertai dengan ketertarikan untuk mempelajari bahasa Korea. Ada orang yang ingin langsung mempelajari bahasa dalam percakapan sehari-hari, ada orang yang ingin mempelajari bahasa secara terstruktur dengan cara ikut les, semua sah-sah saja dan tergantung motivasi setiap pembelajar bahasa.

Perjalanan saya belajar bahasa Korea dimulai pada tahun 2004 sebelum saya mengunjungi teman saya di Daegu. Setelah vakum selama belasan tahun, saya mulai lagi pada bulan Agustus tahun 2016 waktu saya bergabung dengan kelas taekwondo untuk ibu-ibu. Tiga bulan sebelumnya saya sudah terjun ke dalam drakor wonderland, jadi kepalang basah berinteraksilah saya dengan orang-orang Korea dan mempelajari bahasa mereka.

Seorang teman baru menawarkan diri untuk mengajari saya Hanguk-eo (bahasa Korea) dan dia meminta saya mengajarinya bahasa Indonesia. Kelas bahasa kami berlangsung setiap hari Senin dan Rabu seusai berlatih di dojang dan sebelum saya menjemput si Abang dari sekolah.

Belajar bahasa sambil minum kopi Maxim dan sesekali mengecek gosip artis Korea itu menyenangkan sekali. Kebetulan teman saya ini penggemar variety show “Running Man” dan dia fans berat Kim Jong Kook yang katanya dalam bahasa Indonesia gaul, quote per quote, “macho abis, tidak seperti oppa yang lain”. Wkwkwk.

8BF72ECF-4AAB-4034-AA82-06357C6147E6

Pada waktu yang bersamaan saya juga belajar Hanguk-eo dengan seorang adik kelas waktu kuliah yang sedang bekerja di Seoul. Ilmunya ditukar dengan ilmu bahasa Perancis saya karena kebetulan dia sedang mempersiapkan diri untuk studi lanjutan di sana. Pelajaran bahasa Korea saya berlangsung selama beberapa bulan saja.

Guru bahasa Korea saya yang ketiga adalah seorang ibu rumah tangga yang berasal dari Gwangju. Dia berpendidikan tinggi dan menguasai 4 bahasa: Korea, Mandarin, Inggris, dan Indonesia. Dia bahkan belajar bahasa Indonesia khusus selama 6 bulan di Universitas Indonesia. Keseriusannya dalam menyanyikan lagu “Ampar-Ampar Pisang” pada saat acara kelulusan dari kursusnya membuat saya kagum.

Bersama Miss Noh saya belajar bahasa Korea dengan menggunakan buku dari King Sejong Institute. Buku tersebut saya peroleh dari adik saya yang sempat mempelajari bahasa Korea di Korean Cultural Center Indonesia, Jakarta setiap akhir pekan. Saking fasih dan nyamannya adik saya dengan bahasa Korea, ia sering menulis teks dalam bahasa Indonesia dengan menggunakan Hangeul. Daebak banget.

Dari pengalaman saya, cara paling efektif mempelajari sebuah bahasa asing adalah dengan menggunakan buku ajar standar yang dipakai di berbagai negara. Sebagai contoh, untuk bahasa Jerman menggunakan buku “Themen” (ketika ujian profisiensi masih berupa ZD (Zertifikat Deutsch), semacam TOEFL untuk bahasa Jerman), untuk bahasa Jepang menggunakan buku “Minna no Nihongo”, dan untuk bahasa Korea menggunakan buku dari King Sejong Insititute.

Tahu King Sejong, kan? Beliau adalah pencipta sistem fonetik asli Korea yang kemudian disebut Hangeul (한글). Bahasa Korea adalah Hanguk-eo (한국어), karakter “어” (eo) di sini berarti bahasa seperti Yeong-eo (영어) yang berarti bahasa Inggris, sedangkan sistem hurufnya adalah Hangeul, yang diatur seperti alfabet yang kita kenal sehari-hari.

Mempelajari Hangeul tidaklah sulit, cukup luangkan waktu 2 sampai 3 jam untuk menghafal cara menulis dan lafal setiap karakter. Yang sangat menantang adalah cara penulisan setiap kata (yang terdengar sering berbeda dengan yang tertulis) dan tata bahasa Korea. Kalau kamu ingin tahu lebih detail bagaimana mulai belajar bahasa Korea, kamu bisa baca tulisan saya di sini dan di situ.

Pertanyaan yang saya pernah dapat setelah menulis kedua artikel tersebut adalah, bahasa pengantar apa yang sebaiknya dipakai saat mempelajari bahasa Korea? Bahasa Indonesia atau bahasa Inggris?

Setelah menimbang-nimbang dan berkaca pada pengalaman saya belajar beberapa bahasa asing, saya mantap mengatakan lebih baik menggunakan bahasa Inggris untuk mempelajari bahasa Korea.

Langkah awal mempelajari sebuah bahasa asing adalah mengenal sistem fonetik/sistem hurufnya terlebih dahulu. Dari segi sistem fonetik, bahasa Inggris dan bahasa Korea berbeda jauh. Bahasa Inggris tidak mengenal sistem silabel (suku kata), seperti pada bahasa Korea. Sistem fonetik bahasa Korea lebih dekat ke bahasa Indonesia.

Akan tetapi, materi pembelajaran bahasa Korea di dalam bahasa Inggris ada berlimpah di internet, baik yang gratis maupun yang berbayar, dan sangat mudah diakses. Seiring dengan Hallyu Wave yang melanda dunia melalui musik dan sinematografi, orang-orang berlomba-lomba untuk mempelajari bahasa ini. Penyedia platform pembelajaran online pun berlomba-lomba menyediakan kelas bahasa Korea dengan berbagai tingkat kesulitan. Kamu bisa memilih belajar secara mandiri atau dengan bantuan guru dari jarak jauh.

Secara tata bahasa, Hanguk-eo sangat mirip dengan bahasa Jepang. Keunggulan Hanguk-eo adalah pemisahan antar kata dalam sebuah kalimat dengan tanda spasi, tidak seperti kata-kata yang sambung-menyambung menjadi satu dalam sebuah kalimat dalam bahasa Jepang. Pembelajar bahasa Jepang sering kesulitan “memenggal” kata-kata yang berentetan di dalam sebuah kalimat, apalagi karena huruf Hiragana, Katakana, dan Kanji dipakai secara bergantian.

Secara struktur kalimat, Hanguk-eo sangat mirip dengan bahasa Jerman, dimana kata kerja diletakkan pada akhir kalimat. Akibatnya, pendengar bahasa Korea harus mendengar sampai kalimat selesai diucapkan untuk menebak kerangka waktu yang digunakan, apakah masa lampau, masa kini, atau masa depan. Namun tak seperti kalimat dalam bahasa Jerman yang jarang meniadakan subyek dalam pengucapannya, sebuah kalimat dalam bahasa Korea tanpa subyek tetap masuk di akal selama ada predikat (kata kerja/kata sifat/dll) di dalamnya.

Secara kemudahan pelafalan dan pembelajaran sistem fonetik/sistem huruf, Hanguk-eo sangat mirip dengan bahasa Indonesia. Biasanya kita membaca sebuah kata sesuai dengan apa yang tertulis, tentu saja dengan beberapa penyesuaian untuk konsonan berdempet seperti “ng”, “ny”, “kh”, dan sebagainya. Bahasa Korea pun demikian. Beberapa karakter seperti “이” dan “우” dilafalkan sebagai “i” dan “u” baik dalam bahasa Korea maupun Indonesia. Kedua karakter tersebut terpaksa diromanisasi menjadi “lee/yi” dan “woo” untuk mencegah dilafalkan sebagai “ai” dan “yu” seperti dalam bahasa Inggris.

Secara penggunaan tenses dan pola kata majemuk, Hanguk-eo sangat mirip dengan bahasa Inggris. Kata kerjanya berubah sesuai dengan kerangka waktu (past, present, future). Dan tidak seperti bahasa Indonesia yang menggunakan Hukum D-M (Diterangkan-Menerangkan) untuk kata majemuk, Hanguk-eo dan bahasa Inggris sama-sama menggunakan Hukum M-D (Menerangkan-Diterangkan). Contohnya adalah kata “눈물” atau nun mul, dimana nun = mata, mul = air, namun kata ini tidak dibaca sebagai mata air melainkan air mata.

Walaupun bahasa Inggris paling nyaman digunakan untuk mempelajari bahasa Korea, penggunaan Hanguk-eo dalam kehidupan sehari-hari lebih mirip bahasa Indonesia. Unsur sebuah kalimat banyak dipenggal (kadang kalimat hanya berisi subyek/predikat/obyek/keterangan), namun penutur dan pendengar kalimat itu bisa sama-sama mengerti maksudnya.

Hal ini cukup jelas terlihat saat saya menonton drakor sambil membaca subtitle dalam bahasa Inggris. Ada banyak kata yang lebih mantap kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Contohnya:

1. 싫어 (shirheo) yang diterjemahkan sebagai “I don’t want to” lebih cocok diterjemahkan sebagai “ogah”.

2. 됐어 (dwaesseo) yang diterjemahkan sebagai “forget it” lebih cocok diterjemahkan sebagai “udahlah”.

3. Pada episode ke-6 drakor “Crash Landing on You” digambarkan Yoon Se Ri sedang mengecek apakah ada rumah sakit terdekat untuk mengobati luka Kapten Ri yang tertembak. Kalimat yang dia ucapkan adalah, “있어, 없어 (isseo, eobseo)?” yang diterjemahkan sebagai “where is it?”. Kalimat ini lebih cocok diterjemahkan sebagai “ada ga?”.

Belajar bahasa Korea itu sangat menarik. Jika kita sudah lebih dulu menyukai seni dan budayanya (K-Pop dan drakor), maka tak ada salahnya sekalian mempelajari bahasanya. Pelan-pelan saja, luangkan waktu 2 sampai 3 jam per minggu untuk mendapatkan pengetahuan baru.

Oleh karena guru-guru bahasa Korea saya sudah pindah dari kota saya, sekarang saya terdaftar di kursus “First Step Korean” yang diselenggarakan oleh Yonsei University pada platform coursera.org. Materi pelajaran disampaikan melalui video interaktif dan ada kuis pada akhir setiap tema untuk mengecek pemahaman kita.

Saya juga mengajak anak-anak saya untuk bersama-sama belajar karena materinya seputar bahasa yang digunakan di dalam kehidupan sehari-hari. Ini bisa membantu mereka berinteraksi dengan teman Korea mereka di dojang taekwondo.

Belajar bahasa baru itu bisa karena biasa. Frekuensi dan intensitas adalah kuncinya.

Semakin kita sering mengakses materi pembelajaran (frekuensi), entah itu materi dari tempat les atau menonton drakor dan mendengarkan K-pop, semakin banyak kosakata dalam bahasa Korea yang kita bisa ingat. Semakin kita berkonsentrasi dalam mempelajari dan melatih bahasa baru (intensitas), semakin cepat kita naik tingkat dari hanya mengucapkan kata “saranghaeyo” menjadi membuat satu kalimat lengkap di dalam bahasa Korea.

Sebagai penutup, mungkin kamu bertanya-tanya, apa sih “sala, saram, sarang” yang saya tulis sebagai judul tulisan ini? Ketiga kata ini pertama kali saya dengar bersama-sama waktu anak saya yang sulung ujian taekwondo untuk memperoleh sabuk hitam. Definisi kata-kata tersebut adalah:

sala = 살아 = to live,

saram = 사람 = human, dan

sarang = 사랑 = love.

Sabeomnim (guru taekwondo) dengan lantang menyebutkan “sala, saram, sarang” untuk menekankan pentingnya cinta kasih di dalam kehidupan manusia. Oleh karena itu para taekwondo-in pemegang sabuk hitam tidak boleh petantang-petenteng memamerkan ilmunya, tapi harus selalu menggunakannya untuk melindungi dan mengasihi mereka yang lemah.

Filosofi dari rangkaian ketiga kata ini begitu melekat di dalam benak dan hati saya, sehingga waktu mengerjakan topik ke-10 writing challenge WAG Drakor dan Literasi saya langsung teringat pada mereka. Sama halnya dengan warna biru, merah, dan kuning dan karakter “ㅇ”, “ㅣ”, dan “_” yang melambangkan harmoni di antara langit/surga, manusia, dan bumi, “sala, saram, dan sarang” juga menjadi panduan orang Korea (dalam hal ini taekwondo-in/pelaku olahraga taekwondo) untuk berelasi dengan orang lain.

Keindahan filosofi di balik kata-kata yang ada di dalam bahasa Korea adalah satu dari banyak alasan bagi saya untuk mempelajari bahasa ini, selain tentu saja:

1. supaya saya bisa bercakap-cakap dengan lancar dengan para eonni di les taekwondo yang memiliki kemampuan bahasa Indonesia terbatas,

2. supaya saya bisa langsung mengerti caption di setiap posting IG dari bias saya tanpa harus membuka Google Translate.

Ah, Korea memang tidak ada lawannya soal membuat romantis hal-hal sepele, dimulai dari kata-kata sampai benda-benda yang terlihat sederhana seperti payung dan hujan. Lihat saja beribu judul drakor yang membuat penduduk dunia baper berbulan-bulan, hahaha.

Akhir kata, 한국어를 배워야 할까, maukah kita belajar bahasa Korea bersama-sama?

Chingudeul saya ada yang mau dan ada yang tidak. Ini pendapat mereka masing-masing:

Lala chingu

Gita chingu

Ima chingu

Rani chingu

Lendyagasshi chingu

Risna eonni

Deya chingu

Rian chingu

Nadya chingu

Dwi eonni

Asri chingu

DK chingu

 

6 thoughts on “Sala, Saram, Sarang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s