Belajar Membuat Keramik

Beberapa minggu lalu saya bermimpi seorang teman lagi sakit. Seperti biasa, setiap kali saya bermimpi seperti itu saya akan cek langsung kondisi orangnya. Saya kontak dia via WA dan kami pun ngobrol panjang-lebar. Ujung-ujungnya kami janjian untuk ketemu hari Minggu ini sebelum dia pergi sekolah ke negara lain.

Kami berjanji ketemu di Cafe Batavia di kawasan Kota Tua, Jakarta. Buat orang Jakarta atau yang sudah pernah ke kawasan Kota Tua pasti tahu dong ya gimana ruwetnya situasi lalu-lintas dan perparkiran di sekitar kawasan itu. Sepulang gereja saya bilang ke suami kalau saya lelah jika harus nyetir ke sana, bagaimana kalau saya naik bis saja? Kontan saya dikasih pandangan meragukan oleh suami. Kalau saya ingat-ingat, terakhir kali pakai angkutan umum di Jakarta seorang diri itu tahun 2003 waktu saya kerja praktek di Siemens, Jakarta Pusat. Tahun 2008 saya sempat bekerja dan kost di Jakarta Selatan, tapi waktu itu ada mobil jadi tidak pernah pakai bis/angkot/ojek. Jadi hari ini saya beranikan diri untuk pakai kendaraan umum menuju ke dan di dalam kota Jakarta setelah sekian lama tidak mencobanya.

Tahap 1: siapkan kartu Flazz untuk membayar tiket busway. Tahap 2: bawa minum, cemilan, dan jaket karena AC di bis sering dingin banget. Saya naik bis jam 11 siang dan ternyata bis penuh walau kondektur kasih tahunya setelah saya naik (errr ….). Akhirnya saya duduk di lantai di sebelah pintu bis selama 1 jam-an. Saya turun di Komdak bawah dan menyeberang ke halte busway untuk ambil bis ke arah Kota. Nunggu bis 25 menit, perjalanan di bisnya 15 menit 😅. Di dalam bis saya ga dapat tempat duduk juga, huhu. Setiba di halte Kota Tua saya  menderita karena panas terik dan udara yang lembab, bener-bener kebalikan dari udara dingin nan sejuk dari AC di dalam 2 bis yang saya tumpangi.

Dari perhentian bis saya menyeberang jalan ke arah alun-alun di depan Museum Fatahillah untuk menuju Cafe Batavia. Masuk cafe ini berasa seperti ada di negara lain (Eropa) dengan interior yang klasik, dinding yang ramai dengan foto-foto yang dipajang artistik, dan chandelier-chandelier yang bikin ngiler.

IMG_7644.JPG

Hallo, liebe Freundin! 😘

Setelah kenyang makan dan puas ngobrol, kami pun berjalan ke Museum Senin Rupa dan Keramik yang berada di arah jam 10 dari pintu masuk Cafe Batavia. Tiket masuknya Rp 5.000,00. Kalau tidak salah sedang ada pameran sesuatu di dalam museum, tapi saya dan teman saya langsung menuju ke tempat membuat keramik.

Kenapa saya ingin belajar membuat keramik? Waktu tante saya meninggal akhir bulan Juli lalu, saya sedang membaca buku “The Happiness Project” karangan Gretchen Rubin. Seperti Gretchen pada waktu dia memulai project ini, hidup saya juga tidak sedang tidak bahagia. Namun ada 2 hal penting yang saya tangkap dari buku ini, yaitu tentang: 1) menghargai masa kini yang sedang saya jalani (enjoying the present) dan 2) mendorong diri saya untuk mencoba hal-hal baru untuk mendapat perspektif-perspektif baru. Naik kendaraan umum – CHECKED. Sekarang saya mau mencoba membuat barang dari tanah liat.

Biaya proyek ini Rp 50.000,00 untuk 1 kg tanah liat dan instruktur. Dari awal saya sudah kasih tahu pengajar saya kalau saya mau membuat 2 buah mug untuk 2 anak saya (suami ga kebagian, hehe). Ada beberapa hal yang saya pelajari di sini:

1. Membentuk keramik intinya adalah tentang memanfaatkan momentum yang diciptakan oleh roda pemutar. Roda pemutar digerakkan oleh kaki (secara bergantian), dan gaya sentrifugal yang diakibatkan putaran roda itu kita manfaatkan untuk membentuk tanah liat ke atas atau ke samping. Dalam proses ini sebenarnya tangan kita tidak bekerja banyak dan ini membuat saya sedikit frustasi. Saya sering bekerja dengan tangan (menjahit, menggambar, dan sederetan pekerjaan rumah tangga), jadi saya asing dengan konsep bekerja dengan tangan tanpa banyak mengeluarkan tenaga. Kedua tangan saya cuma menempel di tanah liat, tapi karena momentum yang diciptakan oleh roda bentuk mug yang saya inginkan terwujud juga.

2. Letting go dan giving up itu beda tipis (Danke, Maria!). Waktu membentuk mug saya suka gemes kalau bagian pinggirnya tidak sama rata, bagian dalamnya ada yang coak, dll. Dan saya yang perfeksionis ini sangat stres waktu mengukir nama anak-anak di permukaan mug. Saya mengukir nama dengan tusuk gigi dan pasti ada tanah liat yang tercongkel dan permukaan yang jadi tidak halus lagi. Waktu membuat mug pertama, saya kurang perfeksionis karena belum familiar banget dengan tanah liat. Waktu membuat mug kedua, saya menghabiskan waktu jauh lebih banyak karena saya sudah tahu cara memutar roda dan menghapus bagian yang sudah saya ukir. Akibatnya saya mengukir nama anak ke-2, yang cuma 3 huruf, sebanyak 3 kali karena saya bolak-balik menghapusnya. Akhirnya saya memutuskan bahwa “It’s enough” karena jam kunjung museum yang hampir berakhir, haha.

Kedua mug yang masih basah dimasukkan ke dalam kotak nasi Padang dan saya bawa dengan hati-hati sekali di perjalanan pulang (kali ini dengan taksi lalu dengan bis). Apa daya, waktu turun dari bis di dekat rumah kotak di tangan saya tersenggol orang di sebelah saya dan mug anak-anak agak penyok (nangis bombay). Katanya saya harus menjemur mug di bawah sinar matahari tidak langsung selama 3 hari supaya tanah liatnya kering benar.  Wah, saya sudah tidak sabar! Oya, instruktur di museum ini bisa dipanggil lho untuk mengadakan workshop membuat keramik di luar museum (misalnya workshop untuk ibu-ibu arisan, ehehehe). Jumlah instruktur yang bisa mengajar ada 3 orang dan mereka akan membawa 3 roda pemutar yang ukurannya besar itu.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s