Saling Memahami Antara Suami-Istri

Setiap hari Senin pagi biasanya mood saya ga bagus. Akhir pekan terlalu cepat berlalu, dan saya ga bisa lagi bangun siang dan tidur subuh demi menulis, hehe. Udah mood ga bagus, males pergi latihan taekwondo, pagi ini saya dan suami sedikit berdebat pula tentang makanan.

S(uami)            : Mam, ini ada nasi sisa tadi malam. Mau bikin nasi goreng tapi ga ada bumbunya nih.

I(stri)               : Bumbu jadi maksudnya? Bukannya kita ga suka pake bumbu jadi?

S                      : Bukan bumbu jadi. Kemiri ada, bawang merah ada, tapi cabe merah ga ada.

I                       : Ada, kok, di kulkas. Cabe merah kecil dan cabe hijau kecil ada semua.

S                      : Ga bisa cabe merah kecil. Harus cabe merah besar, biar nasi gorengnya enak dan lebih wangi.

I                  : (mengernyitkan dahi dalam-dalam) Serius? Jadi gimana nih nasinya? Aku makan aja buat makan siang?

S                 : Jangan, tar kamu beli cabe merah besar dulu. Aku masak nasi goreng malam aja buat makan malam.

ASTAGAAA … percakapan yang panjang banget ya hanya untuk masak nasi goreng, Saudara-saudara? Buat suami saya yang suka masak dan yang hampir selalu mengejar rasa masakan terbaik, ketersediaan dan kualitas bahan makanan (termasuk bumbu-bumbu printilan) itu penting banget banget. Buat saya yang prinsipnya adalah eat and be done with it, semua kerepotan demi memasak satu masakan selalu saya hindari sebisa mungkin. Mau masak nasi goreng? Asal ada mentega, telur, garam, bawang putih, nasi goreng pun jadi. Bumbunya pun dipotong kecil-kecil dan cepat-cepat, ga seperti suami yang harus blender semua bumbu, tumis dulu dengan minyak zaitun sedikit, barulah nasinya dimasukkan terakhir. Rasa nasi goreng bikinan dia saya harus akui memang enak banget banget, tapi saya ga berminat meniru cara dia. Bumbu-bumbu buat bikin nasi goreng ga ada? Ya sudah, makan nasi polos aja. Masak itu sesuai dengan bahan makanan yang tersedia di kulkas. Saya sudah menyerah coba membuat menu mingguan, karena biasanya masak sesuai mood dan sesuai permintaan anak-anak per harinya.

Gara-gara percakapan pagi hari ini saya jadi teringat dengan konseling pranikah yang kami ikuti 11 tahun lalu. Sesaat setelah kami memutuskan berpacaran, kami segera mengikuti kelas konseling pranikah yang diadakan oleh gereja tempat suami berjemaat. Dari awal pacaran kami memang sudah yakin mau menikah jadi lebih cepat ikut konseling, lebih baik. Kelasnya sendiri bukan one-on-one session dengan pendeta, tapi seperti kelas umum dengan peserta 10 – 20 orang setiap hari Sabtu malam. Saat pertemuan kedua atau ketiga (saya lupa tepatnya) kami yang keras kepala dan sok tahu ini sudah menghadap pendeta untuk memprotes konsep dia yang mengatakan kalau mau menikah cari orang yang berbeda dari kamu. Hah, mana mungkin? Bukankah karena ada kesamaan minat, hobi, dll. dua orang bisa saling tertarik dan akhirnya memutuskan jalan bersama? Lalu bapak pendeta yang sangat sabar tersebut memberikan analogi roda gigi. Kalau 2 roda gigi punya ukuran dan tekstur yang persis sama, roda hanya akan berjalan di tempat. Kalau roda gigi punya ukuran dan tekstur yang berbeda dan saling melengkapi, roda pasti akan berjalan dengan lancar. Karena penasaran dengan maksud bapak pendeta, kami pun selalu rajin mengikuti kelas demi kelas konseling pranikah.

Sampai pada akhirnya konseling dilanjutkan ke sesi hanya antara pendeta dan pasangan yang mau menikah. Ini terjadi beberapa saat sebelum kami berpisah kota dan pacaran jarak jauh (fyi, kami hanya bersama di satu kota selama 6 bulan dan menghabiskan 1.5 tahun berikutnya pacaran antar kota Surabaya-Balikpapan, Cikarang-Balikpapan, Cikarang-Jakarta, sebelum akhirnya menikah 2 tahun pas setelah jadian). Nah di sesi ini kami disuruh pak pendeta untuk menuliskan hal-hal dalam diri pacar saya yang saya harus terima dan tidak bisa saya ubah, dan hal-hal dalam diri saya yang dia harus terima dan tidak bisa dia ubah. Pacar saya juga menuliskan hal-hal yang sama. Akhirnya kami pergi ke Mal PTC di Surabaya, duduk di restoran A & W, dan sibuk menuliskan di kertas folio bergaris hal-hal yang diinstruksikan oleh pak pendeta.

Beberapa jam berlalu dan kami pun kebingungan. Kertas di hadapan kami masih relatif kosong karena kami tidak bisa menuliskan hal-hal apa yang kami harus terima/tidak bisa ubah dari diri pasangan kami. Ternyata ya selama usia pacaran yang seumur jagung kami lebih sering membicarakan hal-hal di luar diri kami, tentang si ini/si itu, kejadian ini/kejadian itu, dan sangat jarang membicarakan tentang diri kami sendiri, bagaimana sikap/tindakan saya dan dia jika menghadapi suatu kondisi. Waktu itu kami masih menutup-nutupi siapa diri kami sebenarnya, dan tidak tahu sama sekali tentang diri pasangan kami. Latihan itu membongkar semua kepura-puraan dan pencitraan sedari dini. Kata orang, 6 bulan pertama dalam pacaran, kotoran pun akan terasa seperti coklat. Kalau buat kami, semua aib terungkap sudah dalam 6 bulan pertama. Saya yakin hal itu yang membuat kami bisa bertahan menjalani pacaran jarak jauh, dan pernikahan dimana 4 dari 9 tahun menikah dijalani dengan tinggal terpisah di dua kota. Konseling pranikah yang kami jalani selama dua tahun memberi kami bekal untuk memahami diri sendiri kami sendiri dan pasangan kami.

Banyak orang yang kaget setelah menikah dan bisa bertengkar karena masalah sepele seperti kebiasaan mengorok saat tidur, mengeluarkan odol dari ujung atas/ujung bawah tub, dan lain sebagainya. Konseling pranikah yang kami jalani tidak meniadakan perbedaan-perbedaan dan argumen karena perbedaan-perbedaan itu kok, tapi membuat kami lebih bersikap santai dalam menghadapinya. Contoh kasus: suami saya sudah maklum kalau saya ini paling malas memanaskan makanan dari kulkas. Saya sering memasak rendang/semur dalam jumlah banyak untuk lauk makan beberapa hari. Tiap kali saya mau makan saya tambahkan saja rendang/semur itu ke nasi yang masih panas mengepul, nanti kan rendang/semur jadi ikutan hangat. Suami saya selalu geleng-geleng kepala sambil mendesis, “Males banget sih”. Kalau dia juga mau ikut makan, baru deh saya panasin lauknya. Seringnya sih dia yang dengan baik hati memanaskan lauk untuk saya. Jadi dia sadar kalau ini hal yang tidak bisa diubah dan harus diterima dari diri saya, dan dia memposisikan diri sebagai penolong dalam kemalasan saya.

Lain saya, lain dia. Suami saya itu paling ga bisa menutup pintu lemari/laci setelah mengambil pakaian/barang di gudang. Kami menikah hampir 9 tahun dan ini kebiasaan dia yang bikin saya geleng-geleng kepala minimal 2 kali sehari. Setelah dia berangkat ke kantor, tugas saya adalah menutup semua pintu yang dia tinggalkan terbuka. Menjengkelkan tapi harus saya terima karena itu sifat dia yang nyaris tidak bisa diubah. Kenapa nyaris? Kadang-kadang dia ingat sih menutup pintu lemari, dll. kalau saya berjaga-jaga di dekat dia untuk mengingatkan, ha-ha. Eh ngomong-ngomong soal menutup pintu, lama-lama saya curiga kalau ini kebiasaan yang mendarah-daging di diri laki-laki. Saya sudah menemui dua orang teman kami laki-laki yang punya kebiasaan serupa, dan istri-istri mereka juga mengeluhkan hal ini seperti saya. Sekarang anak kami yang laki-laki mulai kelihatan suka lupa menutup pintu. Ada apakah antara laki-laki dan kemampuan/kemauan menutup pintu?

Kembali ke nasi goreng. Jadi suami saya mengharapkan saya membeli cabe merah besar untuk dia masak nasi goreng tar malam. Apa daya, teman-teman saya siang ini datang ke rumah dan nasi yang akan dibuat nasi goreng sudah ludes kami habiskan. Sebagai gantinya, ada sambal krecek buatan teman saya buat makan malam nanti ya, sayang. Hehehe.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s