Who Broke The Cup?

Bulan lalu saya pergi ke Museum Seni Rupa dan Keramik di Kota Tua, Jakarta dengan teman saya untuk belajar membuat keramik. Teman saya sudah pernah ke sana dan berhasil membuat sebuah mangkok besar, sedangkan kali ini adalah kali pertama untuk saya. Di sana saya membuat 2 buah cangkir untuk kedua anak saya dari 1 kilogram tanah liat khusus. Waktu pembuatan sekitar 1 jam dan cangkir dibawa pulang dalam keadaan basah. Cerita perjalanannya bisa diintip di sini.

Nah, karena cangkir yang dibawa pulang masih lembek, bapak yang mengajari saya membuat cangkir memberitahu saya supaya cangkir diangin-anginkan beberapa hari dengan cara ditaruh di tempat terbuka yang tidak mendapat sinar matahari langsung. Saya membawa pulang cangkir dengan kotak nasi Padang dan naik bis. Waktu turun dari bis, kotak yang saya pegang tersenggol orang di depan saya jadi cangkir agak penyok. Rasanya pengen banget nangis deh, tapi untung anak-anak masih antusias dengan cangkir handmade yang saya buat untuk mereka. Di rumah saya berusaha untuk meratakan bagian yang penyok, tapi apa daya, tanpa roda pemutar tanah liat permukaan cangkir mustahil dibentuk menjadi mulus lagi.

Kedua cangkir ini akhirnya kering setelah satu minggu saya letakkan di taman dalam rumah. Bentuk akhirnya berantakan, dengan banyak tanah liat yang mengelupas di sana-sini. Proses final pembuatan perabot dari tanah liat memang dengan cara pembakaran, yang sayangnya tidak dimiliki oleh museum ataupun saya. Saya taruh kedua cangkir ini di tempat yang sama selama satu minggu lagi untuk mendapatkan bentuk yang lebih rigid.

Pada suatu hari Minggu pagi yang tenang, saya bangun dan mendapati handle salah satu cangkir sudah patah seperti di gambar di atas. Kontan saya bertanya: Who did this? Who broke the cup? Wah kalau saya kira pelakunya akan segera mengaku, saya salah besar. Kedua anak saya datang dan sama-sama bilang: I don’t know. It wasn’t me. Hmmm, mencurigakan. Tidak mungkin handle-nya patah sendiri karena tanah liat sudah mengeras setelah 2 minggu. Setelah interogasi selama beberapa menit, anak yang tidak sengaja mematahkan handle karena dia ingin mengamati ukiran namanya pada cangkir akhinya mengaku juga. Tapi …, tetap perlu waktu lho untuk membuat anaknya mengaku dengan embel-embel mamanya harus lebih dulu berjanji tidak akan marah besar dan akan memaafkan dia.

Saya jadi berpikir, kenapa ya manusia berbohong? Siapa yang mengajari kita? Kapan kita mulai melakukannya? Apa tujuan akhir kita?

Waktu saya kelas 1 SD saya pernah mencontek teman sebangku saya waktu ulangan Bahasa Sunda. Waktu itu saya duduk di dekat meja guru tapi saya entah kenapa berani melakukannya. Setelah itu guru saya memanggil saya dan bertanya, “Kamu tadi nyontek ya waktu ulangan?” Jawaban saya waktu itu otomatis adalah: tidak (padahal ibu guru pasti bisa melihat saya melakukan hal itu), hehe. Pada akhirnya saya kemudian mengakui perbuatan saya dengan penuh perasaan bersalah dan malu. Malu karena ketahuan atau malu karena menyesal sudah mencontek? Sepertinya waktu itu sih saya merasa malu karena ketahuan, bukan karena menyesal. Saya bersyukur waktu itu saya ketahuan mencontek dan ketahuan berbohong. Peristiwa itu membuat saya berusaha untuk tidak mencontek lagi seumur hidup (dengan beberapa kegagalan waktu mengerjakan ulangan waktu kelas 1 SMA, hiks.)

Kita berbohong untuk melindungi diri, betul kan? Kita pikir kalau fokus tudingan sudah beralih dari diri kita ke orang lain, maka kita aman, kita akan bebas dari sorotan. Terkadang kita tidak berpikir sebelum kita berbohong, tiba-tiba saja kebohongan itu sudah keluar dari mulut kita. Kita ingin mencari aman untuk reputasi kita, tapi sebenarnya kita merendahkan harga diri kita sendiri. Kebohongan tidak akan menyelesaikan masalah dan kebohongan akan diikuti dengan kebohongan-kebohongan lainnya. Kita bisa berkilah kalau kita ‘kepleset’ berbohong tentang suatu hal di suatu waktu, tapi jika kebohongan itu dibentuk, dipelihara, dan dibiarkan sedemikian rupa sampai akhirnya kita bingung mana yang benar dan mana yang bohong, sesungguhnya kita sedang membangun jalan menuju kehancuran diri kita sendiri. Berbohong adalah salah satu perbuatan natural manusia yang dilakukan tanpa ada yang mengajari dan bisa mulai dilakukan sejak kecil. Terlepas dari agama dan iman apapun yang beredar di bumi ini yang mengkategorikan berbohong sebagai perbuatan dosa, mengucapkan kebohongan termasuk pada pelanggaran nilai moral. Kebenaran adalah nilai moral yang universal, dan kebohongan adalah antitesa dari usaha manusia untuk menjadi pribadi yang berintegritas.

Sampai saat ini saya sudah bertemu banyak orang yang membangun kebohongan untuk menciptakan reputasi diri. Mengaku anak orang kaya, mengaku sering jalan-jalan ke luar negeri, mengaku punya pacar cakep, dll. Dan waktu mereka ketahuan, tiada ampun. Teman-teman hilang satu demi satu dan tidak ada lagi yang mempercayai mereka. Jika kebohongan sudah sistematis seperti itu, itu bukan lagi untuk melindungi diri, tapi ada faktor kejiwaan lain seperti kecenderungan narsisme (perasaan cinta berlebihan pada diri sendiri) dan sifat delusional.

Bagaimanakah mengajari anak-anak supaya tidak berbohong? Langkah pertama yang paling penting menurut saya adalah menciptakan kondisi di mana anak-anak merasa bebas bercerita apa saja pada orang tua. Waktu insting kita memberi peringatan bahwa ada sesuatu yang salah, upayakan untuk tetap tenang dan tidak bertanya dengan nada menuduh. Hal ini penting supaya anak tidak merasa tersudutkan. Efek domino dari perasaan tersudut jelas sekali bukan?

Ada hal yang salah – orang tua bertanya dengan nada menuduh – anak merasa tersudutkan – anak berusaha melindungi diri – anak berbohong – orang tua tambah marah karena tahu anak sudah membohongi mereka.

Kalau orang tua tidak segera menanamkan kepada anak kalau berbohong itu salah, cycle di atas akan terus berulang dan sulit dipatahkan. Akibatnya diskusi menjadi buntu, dengan orang tua tetap merasa anak salah dan anak tetap merasa orang tua berlebihan. Tentu saja hal ini lebih indah secara teori dan sulit (bukan mustahil) untuk dilakukan. Jika orang tua tetap tenang, bertanya dengan nada netral, memberikan gesture yang menandakan bahwa semua akan baik-baik saja, anak akan dengan rela bercerita dan tidak menyembunyikan apa pun dari orang tua. Tantangan pertama dan terberat adalah bagaimana memformulasikan pertanyaan yang bisa membuat anak merasa terbuka, bukan  bagaimana membuat anak cepat-cepat mengakui kesalahan mereka.

Kembali pada kasus cangkir keramik yang pecah tadi. Saya belum mencapai level nada suara dan pertanyaan yang cukup untuk membuat anak nyaman bercerita, tapi saya berusaha untuk menuju ke sana. Saya melihat mekanisme melindungi diri ini semakin kuat seiring dengan pertambahan usia, dan tambah besar anak akan tambah mudah berbohong, apalagi jika tidak ada yang pernah menegur dan memberi tahu kalau berbohong itu salah. Orang tua perlu mendampingi supaya anak tetap menjadi pribadi yang jujur di setiap waktu, di segala kesempatan. Ciptakan suasana yang kondusif untuk anak-anak bercerita, dan jika kebohongan sudah terlanjur diucapkan, ajak anak untuk mendiskusikan hal apa yang salah dan harus diperbaiki. Tentu saja kita sebagai orang tua harus memberikan contoh terlebih dahulu. Anak-anak juga bisa merasakan lho kalau kita tidak sedang berkata yang sebenarnya.

Good luck to all parents.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s