Pengabdi Sertifikat dan PPT

Dua tahun lalu ketika pandemi mulai melanda tiba-tiba ada banyak tawaran kelas, seminar, webinar, talkshow lewat Zoom di WA, email, dan media sosial lainnya.

Semua-muanya online, semua-muanya Zoom. Orang-orang yang dulu punya keterbatasan jarak dan waktu untuk mengejar ilmu tiba-tiba mendapat peluang untuk belajar hanya dengan bermodalkan HP dan internet.

Teman saya menyebut tahun 2020 sebagai tahun tsunami Zoom. Ada begitu banyak sesi berbagi informasi yang tersebar dan semuanya berebut atensi dan partisipasi kita.

Kita kewalahan, kita merasa seperti dilanda tsunami.

Saya setuju dengan teman saya. Selain itu, saya juga memperhatikan satu fenomena lain: banyak orang menjadi pemburu sertifikat dan PPT (alias materi presentasi yang diberikan).

Why? What happened? Aya naon?

Kenapa bisa muncul fenomena seperti itu? Saya berpikir-pikir dan tiba pada sebuah kesimpulan.

Pengabdi Sertifikat

Kita semua butuh pengakuan. Kita semua perlu dihargai. Kita semua merasa harus mendapat bukti atas pencapaian kita.

Saya kira itu dasarnya mengapa hampir semua penyelenggara sesi Zoom yang saya amati bersliweran di media sosial menjanjikan sertifikat bagi yang hadir.

Masalahnya, apakah sertifikat itu berharga atau bernilai sesuatu?

Sebagai mantan orang HRD (Human Resources Department), saya akan berkata begini:

Sertifikat akan berarti hanya jika disertai dengan pembuktian skill baru.

Mendapatkan knowledge itu mudah; hanya dengan membaca, mendengar, bercakap-cakap kita bisa memperolehnya. Akan tetapi, mengubah knowledge itu menjadi skill adalah perkara lain.

Butuh lebih banyak waktu (dan tenaga dan usaha) untuk melakukannya. Butuh jam terbang tinggi yang tidak bisa didapatkan dari hanya mengikuti Zoom selama 1-2 jam.

Jadi, saya sering merasa geli jika di fitur chat Zoom muncul pertanyaan “Ada sertifikatnya nggak?”, “Kapan sertifikat dibagikan”, ketika sesi baru berjalan beberapa menit.

Lah situ datang buat mempelajari hal baru atau buat mendapat sertifikat?

Kalau buat mendapat sertifikat, kira-kira apa nilai dari sertifikat setelah mengikuti, contohnya, sesi “Membersamai Tumbuh-Kembang Anak”?

Sertifikat itu mau dibanggakan ke siapa? Mau dipakai untuk melamar pekerjaan di mana? Mau mendapat pengakuan dari siapa?

Ketika hidup terus berjalan dan waktu semakin sedikit, semestinya kita lebih bijak memutuskan mau mengikuti sesi Zoom apa untuk mempelajari apa. Untuk meningkatkan sesuatu di dalam diri kita.

Bukan demi selembar file Canva dengan nama kita tertera di atasnya, yang tertumpuk di dalam inbox email yang kemungkinan besar tidak akan kita akses lagi.

Pengabdi PPT

Sebelas dua belas dengan para pengabdi sertifikat, para pengabdi PPT juga memenuhi fitur chat di Zoom segera begitu sesi dimulai.

Lebih dari setahun lalu saya menulis tentang kairos, tentang mengetahui waktu yang tepat untuk memanfaatkan peluang dan membuat pilihan yang tepat.

Bersedia mengikuti sebuah sesi Zoom berarti berkomitmen untuk hadir di sana, secara fisik dan pikiran, dan mengikutinya sampai akhir.

Hadir di sana berarti mengikuti pembahasan demi pembahasan, mendengarkan penjelasan, dan memperhatikan pembicara dan materi yang disampaikan.

Be present adalah kata koentji-nya.

Saya menduga para pengabdi PPT mengikuti sesi Zoom sambil-sambil. Sambil di jalan, sambil makan, sambil menyetrika, dan sebagainya, jadi konsentrasi mereka terpecah.

Mereka tidak dapat mencatat materi dan memahaminya di tempat karena mereka masih harus memikirkan hal lain. Oleh karena itu mereka cepat-cepat bertanya: “Boleh minta PPT-nya?”

Saya jamin 100%, mereka yang mendapat PPT tidak akan langsung mempelajarinya seperti yang diniatkan. Materi itu akan teronggok lama di dalam WA atau email dan syukur-syukur dibuka ketika diperlukan.

Ketika harus belajar, ya belajar. Ketika harus mengerjakan yang lain, ya kerjakan yang lain. That’s what kairos is all about.

Melewatkan kesempatan berarti melewatkan kairos. Waktu (chronos) tidak bisa diulang, kairos juga tidak bisa. Begitu dia lewat, ya sudah, dia lenyap dan tidak bisa ditangkap lagi.

Oleh karena itu setiap kali saya mengadakan workshop dan ditanya “Boleh dapat PPT-nya?”, saya akan cepat menjawab: “Tidak boleh”.

Waktu dan kesempatannya sudah lewat, tidak bisa diulang lagi. Semoga saja ada kesempatan di masa depan untuk belajar lagi hal yang sama. Kalau tidak ada, ya sudah.

Saya selalu meng-encourage para peserta workshop saya untuk mencatat ketika materi dibagikan.

Dengan mencatat kita mengkoordinasikan otak dan tangan untuk mengingat: dari muscle memory menjadi brain memory. Orang yang mencatat akan mengingat lebih banyak dan lebih baik.

Selain itu, pembuat materi mesti dihargai.

Membuat PPT itu tidak mudah, Saudara-saudara. Tidak mudah untuk merangkum banyak sekali hal di otak yang ingin disampaikan menjadi poin-poin penting, yang kemudian dilisankan kembali kepada para peserta sesi.

Hargailah usaha pemateri saat mempersiapkan PPT dan mempresentasikannya. Be present untuk belajar, atau tinggalkan sesi dan hadir kembali di lain waktu dan kesempatan.

Saya Termasuk yang Mana?

Tahun lalu saya mengikuti serangkaian Zoom seputar podcasting dan public speaking. Jam belajarnya sangat padat, Sabtu dan Minggu selama 3 pekan.

Berhubung waktu workshop adalah akhir pekan di saat ada keluarga yang harus diurus dan dibersamai, saya hanya bisa duduk diam, berkonsentrasi penuh selama 2 dari 6 sesi.

Empat sesi lainnya bagaimana? Saya download rekamannya di YouTube dan saya biarkan di folder di dalam HP saya, bahkan empat bulan setelah kelas itu selesai dilangsungkan. Belum pernah sekalipun saya putar rekamannya untuk belajar.

Lho kok bisa? Ya begitulah, karena merasa nanti juga ada rekaman, saya bisa belajar lagi kapan-kapan (entah kapan), saya jadi took the class for granted dan melewatkan kairos untuk belajar.

Enggak lagi-lagi seperti itu, cukup sekali saya jadi Pengabdi Rekaman.

Kalau kamu termasuk yang mana?

1123

7 thoughts on “Pengabdi Sertifikat dan PPT

  1. Kak.. aku sungguh merasa tohok 😂😂
    Bukan di bagian sertifikat dan PPT melainkan di bagian rekaman. Aku termasuk yang sering nonton relay sebaaaab jam live ga sesuai jam disini. Misalnya subuh ato pas jam kerja. Naaah tapi ya itu mengatur waktu untuk menonton siaran ulang dan konsisten jadi tantangan.

    Sungguh menjamurnya kegiatan online di masa pandemi ini merupakan keuntungan bagiku yang tinggal di luar negeri. Karena kegiatan2 di Indonesia yang menarik bisa ikut kunikmati juga melalui online

    Liked by 1 person

      1. Tapii tapi sebenarnya perbedaan waktu ini ga bisa selalu dijadikan alasan sii.. intinya (menurutku) kalau sudah komitmen daftar belajar berarti sudah siap untuk belajar dengan sungguh-sungguh. Sudah memperhitungkan waktu dan juga konsekuensi untuk konsisten nonton rekaman di hari yang sama. Kalau rekaman telat ya segera secepatnya setelah rekaman tayang 😁

        Aku suka tulisan kak Rijo 👍

        Liked by 1 person

      2. terima kasih… terus terang aku masih malu lho sama kamu karena terlalu cepat berpendapat, lupa memasukkan kemungkinan2 lain seseorang perlu rekaman sebuah sesi zoom. wkwkwk.

        Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s