Tentang Menjuri

Hari ini di sela-sela kesibukan mengunjungi tiga lokasi proyek, saya memberi saran tentang kegiatan menjuri oleh Drakor Class dan menjalankan tugas sebagai juri untuk tantangan bulanan dari komunitas Mamah Gajah Ngeblog.

Kegiatan menjuri pertama yang saya lakukan dalam hidup adalah ketika menjadi asisten untuk Laboratorium Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi di Kampus Gajah pada tahun 2004 lampau.

Selama satu tahun saya dan teman-teman satu lab dan satu angkatan membantu berjalannya praktikum yang diselenggarakan oleh laboratorium kami dan menilai tugas-tugas yang dikerjakan oleh para adik kelas.

Hal pertama yang saya pelajari dalam hal menjuri (atau secara umum menilai sesuatu) adalah perlunya bersikap seobjektif mungkin.

As objective as possible, yang tentunya sulit walaupun tidak mustahil untuk dicapai, karena manusia adalah makhluk yang sangat subjektif.

Kita berasal dari berbagai latar belakang, dibesarkan dengan berbagai dogma, tumbuh dengan berbagai pemikiran. Sebagai contoh, “satu” di benak saya belum tentu sama dengan angka “satu” di benak orang lain.

Secara harafiah, mungkin maknanya sama. Akan tetapi, jika saya dan orang lain disuruh menggambar angka “satu” yang kami mengerti, pasti ada perbedaan di dalam gambar kami.

Angka “satu” di benak saya memakai “topi”, sehingga sering disalahpahami sebagai angka “tujuh”. Angka “satu” di benak orang lain adalah satu batang lurus dan kurus.

Ini baru bicara tentang angka “satu” yang bisa didefinisikan secara fisik, belum menyangkut hal abstrak seperti makna kehidupan dan kematian bagi setiap orang.

Wah, bisa-bisa berujung debat kusir yang memaksa kita untuk sepakat untuk tidak sepakat saja daripada berujung perang dunia. Agree to disagree.

Untuk meminimalkan subjektivitas itu, kriteria penilaian harus dibuat seterperinci mungkin.

Katakanlah, sebuah lukisan dibilang indah.

Apa yang dimaksud dengan kualitas “indah”?

Apakah menyangkut penggunaan warna?

Atau jenis sapuan kuas?

Atau disebut indah karena objek yang dilukis?

Atau disebut indah karena membangkitkan emosi tertentu di dalam diri orang yang melihat lukisan itu?

Atau bahkan tergantung nama pelukisnya?

Ada jutaan definisi dari kata “indah” untuk lukisan yang bisa jadi berbeda untuk kata “indah” yang dikenakan pada seorang wanita.

Untuk membantu menjawab pertanyaan itu, kriteria sebuah lukisan dibilang “indah” perlu dijabarkan.

Contohnya, sebuah lukisan dibilang indah jika menghadirkan warna primer (merah, kuning, biru) dan minimal tiga warna sekunder (pencampuran warna primer).

Atau sebuah lukisan dibilang indah jika menggambarkan objek pemandangan di desa. Kriteria ini bisa sedikit atau banyak tergantung dari kepentingan tim penilainya, atau dengan kata lain tim jurinya.

Pada diskusi siang ini dengan teman-teman Drakor Class, kami mencoba mengubah subjektivitas menjadi objektivitas dengan cara mengekivalensikan sebuah kualitas dengan sebuah nilai.

Contohnya saja, sebuah tulisan dikatakan bagus karena telah memenuhi kaidah di dalam PUEBI.

Bagus yang bagaimana maksudnya? Daripada bingung menjawab pertanyaan seperti ini, kami membuat skala penilaian.

Jika lebih dari atau sama dengan 50% isi tulisan mengikuti kaidah PUEBI, maka kami memberikan skor 100. Jika kurang dari 50%, maka kami memberikan skor 60.

Jadi, saat membaca kami sekaligus memindai tulisan berdasarkan ambang batas 50% tadi dan mengekivalenkan hasil pindaian kami dengan skor 100 atau 60.

Contoh lain, jika sebuah tulisan banyak menghadirkan kata “di” yang berfungsi sebagai preposisi dan imbuhan, dan penulisnya sering keliru menaruh “di” disambung atau dipisah dengan kata berikutnya, maka kekeliruan seperti ini memandu kami untuk memastikan ambang batas 50% itu terpenuhi atau tidak.

Semakin detail sebuah skala penilaian, semakin berkurang subjektivitas juri yang menilai, dan semakin fair untuk semua peserta sebuah kontes.

Lain cerita di Drakor Class, lain cerita di Mamah Gajah Ngeblog.

Saya merasa subjektivitas saya sangat berpengaruh ketika menjalankan tugas sebagai juri untuk 31 tulisan bertema masakan andalan untuk keluarga untuk tantangan blogging bulan Mei lalu.

Ada tiga aspek yang dinilai, dimana setiap aspek memiliki poin maksimal 10. Oleh karena saya dan juri-juri lain memasukkan nilai di Google Sheets, pada akhirnya saya jadi bisa melihat nilai-nilai yang teman-teman juri berikan.

Dalam hal ini saya tidak mengalami bias penilaian karena: 1) mengenal penulis artikel yang saya nilai, atau 2) melihat nilai yang diberikan oleh juri lain untuk sebuah artikel.

Saya menyadari bahwa rentang skala yang besar (0-10) dan preferensi saya terhadap konten sebuah artikel sangat mempengaruhi subjektivitas saya dalam menilai.

Untuk beberapa tulisan, saya melihat nilai yang saya berikan cukup jomplang dengan nilai yang diberikan oleh juri-juri lain. Namun, itu tidak membuat saya mempertimbangkan ulang nilai yang saya berikan.

Saya memiliki prinsip: “Do it, and be done with it.” Angka pertama yang terbersit di benak saya adalah pendapat saya yang paling jujur terhadap sesuatu.

Ada beberapa tulisan yang tanpa ragu saya beri nilai 10 dari segi konten karena secara pribadi saya sangat menyukai tulisan-tulisan yang bersifat:

  1. Breakthrough: memberikan ide baru yang solutif, seperti memanfaatkan freezer untuk menjaga variasi masakan di rumah, atau cara mengolah nasi sisa.
  2. Nostalgic: menceritakan latar belakang tulisan yang berkaitan dengan pengalaman personal atau menunjukkan kedekatan emosional antara penulis dan obyek yang ditulis, seperti memasak resep dari mertua, atau makanan favorit ketika hidup merantau di negeri orang.

Tentu saja preferensi saya itu berbeda dengan juri-juri lain. Sebuah artikel yang saya nilai 10 dinilai 7 atau 8 saja oleh juri-juri lain, dan itu tidak apa-apa. Namanya juga penilaian subjektif.

Pada intinya, menilai dalam sebuah kontes dengan skala penilaian yang terperinci ataupun tidak, menjadi juri adalah sebuah amanah yang harus dikerjakan dan dipertanggungjawabkan sebaik-baiknya.

Kamu punya pengalaman menjadi juri? Bagikan di kolom komentar, yuk.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s