Hari Perpisahan

Hari ini saya mengalami dua peristiwa perpisahan.

Yang pertama tadi pagi sewaktu mendampingi anak sulung menjalani upacara kelulusan. Graduation ceremony kali ini berlangsung secara virtual seperti halnya tahun lalu ketika pandemi mulai merebak.

Naga-naganya anak-anak kami tidak akan mengalami lagi dalam waktu dekat upacara kelulusan secara luring, di dalam sebuah gedung serbaguna dengan kehadiran teman-teman seangkatan, guru-guru, dan para orangtua.

Pada pukul 9 pagi kami bergabung dengan Teams si Kakak. Walikelasnya memberikan pengarahan terakhir untuk mengikuti upacara kelulusan lewat YouTube. Ada rasa haru di wajah Ibu guru, wajah anak kami, dan wajah teman-temannya.

This is it. Our journey in primary school is to end today.

Si Kakak merasa mellow kemarin malam, tapi hari ini dia merasa cukup bersemangat dan cenderung baik-baik saja. Sebaliknya saya yang mulai merasa sedih, terharu, ingin menahan laju waktu supaya tidak terlalu cepat.

Rasanya baru kemarin dia masuk Taman Kanak-kanak, ternyata hari ini dia dinyatakan lulus dari SD. Ke mana saja delapan tahun itu pergi?

Seperti semua acara daring lainnya, acara upacara perpisahan secara virtual ini pun menitikberatkan pada proses editing.

Semua kata sambutan dari pihak sekolah, perwakilan orangtua, dan perwakilan murid telah direkam.

Semua student performances yang melibatkan seni suara, seni tari, dan seni musik telah direkam terpisah oleh setiap penampil.

Tugas dari panitia adalah menggabungkan semuanya supaya upacara secara virtual pun terlihat berjalan secara mulus bak upacara secara langsung.

Ada sedikit perasaan hampa dan tak nyaman melihat keseluruhan prosesi yang berlalu begitu saja.

Ketika nama murid dipanggil, orangtua di setiap rumah diminta untuk mengalungkan sendiri medali kelulusan ke leher anaknya. Itulah yang kami lakukan dan mau tak mau kami teringat prosesi anak kami berjalan ke panggung untuk menerima medali kelulusannya dari TK enam tahun lalu.

Semuanya begitu berbeda sekarang, tetapi itulah new abnormal normal.

Hal lain yang membuat kami nelangsa adalah minimnya kenangan yang anak kami buat dengan teman-temannya selama setahun terakhir.

Pada segmen Kaleidoscope foto-foto anak kami dan teman-temannya berebutan memenuhi layar, mulai dari mereka duduk di Grade 1 sampai dengan Grade 5.

Puluhan foto dari berbagai project, experiment, presentation, field trip, sport day, dan seterusnya selama lima tahun pertama di SD ditampilkan dengan apik dan estetik di layar.

Satu tahun terakhir hanya diisi dengan screenshot dari berbagai conference dan ujian praktek di kelas virtual. Tidak ada kontak fisik, tidak ada pertemuan, tidak ada lagi kebersamaan justru di tahun terakhir anak-anak ini masih punya waktu untuk masih bisa bersama-sama.

Sedih.

Saya yakin banyak orangtua yang tadi pagi menitikkan air mata mengamati pertumbuhan anak-anaknya, mengucap syukur atas tahun-tahun yang telah dilalui dengan baik sampai pada akhirnya satu tahapan pendidikan telah diselesaikan.

Banyak orangtua yang seperti kami mendoakan pandemi ini cepat berlalu. Kami memikirkan anak-anak kami yang lain, adik-adik dari si Kakak yang dalam waktu dekat kemungkinan besar tidak akan mengalami berteman secara langsung.

Hati kami juga sedih untuk mereka.

Satu hal yang menghibur kami adalah usaha anak kami mengasah dan menggunakan bakatnya untuk melayani di dalam upacara kelulusan ini. Bersama teman-temannya dia bermain biola dan menyanyi.

Kami sangat bersyukur.

Kami juga bersyukur untuk Firman yang diberikan yang memberikan kekuatan untuk si Kakak melanjutkan ke tingkat SMP:

“Jangan takut. Ada harapan di dalam Tuhan.”

Fear not, for God is with you, ini pesan dari kami.

Setelah itu saya mengikuti ujian bahasa Korea dari King Sejong Institute. Ini adalah ujian terakhir yang diselenggarakan dalam dua hari pada minggu ini.

Ujian pertama adalah mendengarkan dan membaca pada hari Rabu lalu. Ujian hari ini adalah menulis dan berbicara. Semuanya berakhir pada pukul 4.30 sore dan dimulailah segmen kesan dan pesan.

Sedih (lagi).

Bersama orang-orang ini saya belajar bahasa Korea dua kali dalam seminggu selama empat bulan terakhir.

Jatuh-bangun kami tak terhitung, mulai dari mempelajari dan membiasakan diri dengan Hangeul, menulis kalimat sederhana sampai tiba-tiba jadi tulisan 1 halaman ukuran A4, berdiskusi tentang aturan tata bahasa, semuanya kami jalani dengan sukacita dan saling membantu.

Ada teman-teman yang berhenti di awal dan di tengah jalan. Lebih banyak lagi teman yang sama-sama berjuang sampai akhir, sampai menyelesaikan keempat ujian dengan baik.

Pada acara perpisahan kami saling mengucapkan terima kasih pada Seonsaengnim yang telah begitu sabar dalam mengajar, dan pada setiap orang dari kami yang telah menjadi teman belajar yang berharga. Kami semua berharap bisa sekelas lagi atau minimal bisa bertemu secara langsung suatu hari nanti.

Saya akan sangat merindukan teman-teman sekelas saya ini, “adik-adik” baru yang sangat ramah dan baik hati. Akan ada jeda dua bulan sebelum term berikutnya dimulai. Semoga kami bisa saling menyemangati untuk tetap belajar walaupun sedang libur.

Oh, hari yang berkesan. Hari yang penuh dengan kesesakan, kesedihan, dan ucapan syukur.

04.06.2021

Hari ketika hatiku terporakporandakan.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s