Refleksi Hari Pendidikan Nasional, Pendidikan Dimulai dari Kepedulian

Semua orang bisa mengajar.

Selama seseorang memiliki pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan oleh orang lain, membuat orang lain dari tidak tahu menjadi tahu dan dari tidak terampil menjadi terampil, dia pasti bisa mengajar.

Tidak semua orang bisa mendidik.

Jika mengajar berbicara tentang perubahan kognitif, maka mendidik berbicara tentang aspek yang lebih holistik dari itu. Pendidikan menyentuh banyak perkara mulai dari mengubah cara pikir, mengubah nilai-nilai, mengubah hidup, sampai ke mengubah nasib seseorang.

Banyak orang sukses di dunia yang awal hidupnya berada di dalam kemiskinan, namun sekarang sudah menjadi orang yang penting dan berarti di masyarakat. Di Indonesia ada sebut saja presiden Republik Indonesia saat ini, Joko Widodo, dan mantan menteri BUMN, Dahlan Iskan. Masa kecil mereka terbilang sederhana, tetapi pendidikan memberikan mereka pilihan dan akses untuk mencapai hal-hal yang berada di luar jangkauan kedua orang tua mereka.

Tahun ini adalah tahun kedua sistem pendidikan di seluruh dunia lebih bertumpu pada pengajaran dan bukan pendidikan. Di tengah situasi sekolah harus ditutup dan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) dipindahkan dari sekolah ke rumah, sekolah dan orang tua lebih berfokus pada pemenuhan kebutuhan siswa akan pengajaran, akan pengetahuan yang bersifat kognitif. Aspek keterampilan dan pendidikan terpaksa dikesampingkan karena KBM dari rumah ditambah dengan pandemic fatigue membuat semua orang lelah.

Justru karena ini adalah tahun kedua dan belum ada tanda-tanda pandemi akan berakhir (atau setidaknya mereda), kita sebagai pemerintah, sekolah, dan orang tua, para stakeholder yang berkepentingan atas pendidikan anak-anak kita, semestinya memikirkan sesuatu untuk tetap memenuhi kebutuhan mereka akan pendidikan.

Ada banyak contoh dan inspirasi dari dunia di luar sana yang kita bisa pakai untuk memotivasi kita dalam mendidik anak/siswa. Semua contoh dan inspirasi itu dapat kita tiru dan modifikasi sesuai dengan kondisi masing-masing keluarga dan/atau sekolah.

Saya paling gemar mengambil contoh pendidikan dari buku dan film. Tentu saja metode, nilai, dan aplikasi yang ditampilkan di kertas atau layar tidak saya telan mentah-mentah. Tetap harus ada proses berpikir, mengkritik, dan menyesuaikan dengan tantangan yang saya hadapi secara personal.

Ada sebuah film yang spirit­­-nya adalah pendidikan yang saya ingin bahas kali ini. Film ini berkisah tentang guru, murid, relasi di sekolah, dan guru yang mengubah hidup murid-muridnya. Akan tetapi, ia bukanlah film yang secara frontal mendikte dan berpropaganda tentang suatu nilai. Caranya “mengajari” sangat halus, membuat kita berpikir dan maklum: memang mendidik itu seharusnya seperti demikian.

Film ini justru mengusung sebuah hal dasar yang membuat pendidikan bisa berputar dengan natural dan berlangsung secara berkesinambungan dalam jangka waktu lama. Apakah itu?

Kepedulian.

Pendidikan hanya dapat dimulai oleh rasa peduli.

Orang yang mengajar tidak harus peduli pada orang yang dia ajar. Selama pengajar memiliki kompetensi, pengajar mendapatkan imbalan, dan keberadaan sarana lain, semua pengajaran dapat dilangsungkan.

Namun demikian, orang yang mendidik mau tak mau harus peduli pada orang yang dia didik. Dia harus personally invested, emotinally invested dengan orang yang dia didik. Seorang pendidik harus memiliki nilai-nilai yang baik dan berkomitmen mengarahkan anak didiknya untuk memiliki nilai-nilai tersebut. Dia harus mengupayakan anak didiknya membuka hati mereka dulu sebelum dia bisa masuk dengan pendidikan dan pengajaran.

Film yang akan saya diskusikan berangkat dari kepedulian guru yang sekaligus menjadi pendidik, dan bekerja keras supaya didikannya dapat mengubah hidup orang lain.

Coach Carter (2005)

Film yang saya akan ulas kali ini adalah salah satu film favorit saya. Dibintangi oleh Samuel L. Jackson, film ini berkisah tentang coach Ken Carter, seorang tokoh nyata yang merupakan pelatih bola basket di Richmond, California dan menuai kontroversi pada tahun 1999 karena melarang bertanding timnya yang selalu menang tetapi memiliki performa akademik yang buruk.

Coach carter dengan tim biola basket yang dia harus bina

Masih ingat Samuel L. Jackson sebagai Nick Fury di dalam rangkaian film “Avengers”? Masih ingat dong dengan gayanya yang slenge’an, kata-katanya yang selalu kasar, dan sikapnya yang tidak tedeng aling aling?

Nah, karakter Coach Carter di dalam film ini lebih lembut dari karakter Nick Fury. Kata-kata kasar masih keluar dari mulutnya, karena sepertinya sudah satu paket dengan perbendaharaan kata kebanyakan orang di Amerika Serikat sana, tetapi karakternya di sini terlihat lebih ramah dan lebih peduli pada orang lain.

Dia peduli yang benar-benar peduli, lho, bukan peduli untuk image pribadi atau peduli karena memiliki agenda tersembunyi.

Alkisah Coach Ken Carter adalah adalah alumni dari SMA Richmond yang meninggalkan SMA itu tiga puluh tahun sebelumnya. Sebelum mulai melatih, Coach Carter membuat kontrak dan menyuruh semua anggota timnya untuk menandatangani. Isi kontraknya adalah para pemain selain harus bermain dengan gemilang harus bisa juga mencapai indeks prestasi rata-rata 2.3 (setara dengan nilai C+).

Coach Carter datang ke lapangan basket dengan setelan jas lengkap. Sepanjang perkenalan dirinya, dia menampilkan persona sebagai seseorang yang terhormat, terpelajar, dan bisa dipercaya. Semua anggota tim bola basket yang berasal dari latar belakang kelas marjinal, dengan ras dan warna kulit minoritas, dan lingkungan tempat tinggal yang tidak kondusif untuk tumbuh kembang seorang anak dan siswa, menyepelekan usaha Coach Carter dan mau bermain basket saja. Mereka enggan belajar.

Coach Carter bergeming. Ia berkata bahwa banyak siswa berharap jadi student athlete untuk memiliki opsi hidup yang lebih baik: masuk ke perguruan tinggi, lepas dari kemiskinan, dan lain sebagainya. Coach lebih menekankan kata student daripada kata athelete. Sebelum mereka memilih berkarir sebagai atlet (dengan umur karir yang tidak panjang), pertama-tama mereka adalah siswa SMA yang harus belajar baik-baik supaya memiliki masa depan.

Perjalanan Coach Carter tidak mudah, tetapi setiap tonggak pencapaian kecil yang dia raih mengharukan saya sepanjang menonton film ini. Memang ada banyak deviasi antara kisah hidup Ken Carter sebenarnya dengan Ken Carter yang diperankan oleh Samuel L. Jackson, tapi inspirasinya tetap sama.

1. Respect is earned.

Rasa hormat dari orang lain tidak didapatkan dengan mudah hanya karena seseorang lebih tua, lebih kaya, lebih pintar, atau lain sebagainya. Rasa hormat dari orang lain harus didapatkan, diusahakan dengan kerja keras, dan semuanya itu dimulai dengan rasa hormat pada diri sendiri.

Ada satu hal yang saya ingat dari masa remaja saya yang penuh dengan pemberontakan. Perdamaian dengan diri sendiri dan orang lain didapat jika seseorang telah berdamai dengan Tuhan, Penciptanya. Jika seseorang sudah mengerti dan menerima tujuan dia diciptakan, mengerti peran Tuhan dalam hidupnya, maka dia akan mencintai diri sendiri dan tidak akan menemui kesulitan saat akan mencintai orang lain.

Siswa-siswa yang Coach Carter latih adalah anak-anak yang membenci diri mereka sendiri. Mereka merasa lahir dalam lingkungan yang salah, terjebak dalam komunitas yang salah, segala sesuatu begitu membuat mereka putus asa sehingga mereka kehilangan harapan akan masa depan.

Bayangkan, anak SMA mana dalam kehidupan normal harus belajar di sekolah sambil mengedarkan narkoba? Atau anak SMA mana dalam kehidupan normal harus memikirkan aborsi atau mempertahankan bayi yang dikandung pacarnya? Atau anak SMA mana dalam kehidupan normal yang begitu mengkhawatirkan kondisi keuangan keluarganya sehingga ia selalu siap untuk drop out kapan pun diminta?

Banyak kejadian seperti itu di sekitar kita, di berbagai belahan dunia, tapi bukan itu kondisi normal dan ideal yang kita bayangkan akan dijalani oleh anak-anak SMA. Meskipun mereka berada di batas antara menjadi anak-anak dan orang dewasa, mereka adalah remaja yang masih memerlukan bimbingan, rasa aman, dan kepastian.

Coach Carter mendidik mereka untuk mencintai dan menghormati diri mereka sendiri dengan memberi contoh. Children see, children do. Anggota timnya yang awalnya selalu membangkang dan memberontak lama-lama menuruti teladan yang dicontohkan oleh Coach Carter karena melihat dampak perubahannya pada kepribadian mereka dan pada penerimaan orang lain akan mereka.

Semua anggota tim basket diwajibkan untuk memakai setelan jas lengkap ketika mereka tidak berada di lapangan. Ketika mereka bertanding ke sekolah lain, mereka harus menampilkan diri mereka sebagai orang-orang sopan, terpelajar (karena mereka siswa SMA), mampu menghormati diri sendiri dan orang lain.

Masa-masa saat mereka tampil urakan dengan tato dan tindikan di sana-sini, pakaian tak pantas, dan mulut penuh sumpah serapah sudah lewat. Coach Carter mengubah mereka menjadi sosok-sosok yang tidak dipandang sebelah mata hanya karena penampilan fisik mereka. Terlebih dari itu dia juga mengubah sesuatu yang lebih penting yang saya akan jabarkan pada poin berikutnya.

Coach Carter dengan timnya yang selalu menang

2. Brain over muscle.

Kebanyakan anggota tim yang dibina oleh Coach Carter memandang bola basket sebagai tiket untuk keluar dari neraka yang mereka hidupi. Mereka berharap direkrut oleh para pemandu bakat tim besar, mereka berharap mendapat beasiswa atlet untuk melanjutkan ke perguruan tinggi, sampai-sampai mereka lupa bahwa bola basket bukanlah yang pertama dan utama.

Coach Carter mendidik bahwa hidup ini tidak adil. Tidak semua pemain basket berubah dari amatir menjadi profesional. Tidak semua pemain basket dikontrak lama dan menjadi selebriti seperti Kobe Bryant dan Michael Jordan. Tidak semua pemain basket hidup bergelimang kekayaan seperti yang digembar-gemborkan media.

Rentang waktu karir yang bisa dimiliki oleh seorang atlet sangatlah pendek, apalagi kalau mereka mengalami cedera. Taruhlah mereka pensiun di usia 30 tahun, lalu sesudahnya apa? Bagaimana para anak muda yang optimis dan antusias ini dapat menyambung hidup kalau mereka tidak memiliki kapasitas otak yang cukup dan bekal pendidikan yang memadai?

Oleh karena itu, Coach Carter memaksa mereka tetap memiliki prestasi belajar yang baik. Otak lebih penting daripada otot. Coach Carter bahkan tega mengunci tempat latihan bola basket dengan rantai dan gembok, membatalkan banyak pertandingan, supaya anggota timnya mengingat kembali isi kontrak mereka: mereka boleh bermain basket jika IP mereka memenuhi standar.

Walaupun dikecam oleh kepala sekolah, para orang tua dari anggota timnya, dan masyarakat di sekitar sekolah yang membanggakan SMA Richmond dengan prestasi bola basket mereka, Coach Carter bergeming. Dia berkata bahwa anak-anak itu harus diajarkan rasa hormat pada perjanjian komitmen yang mereka buat dengan sadar. Pilihan untuk tidak setuju dan meninggalkan tim bola basket sudah ditawarkan di awal, kok.

Standar yang dia terapkan tidak tinggi-tinggi amat sebenarnya karena banyak anggota timnya yang memiliki kesulitan mendapatkan gizi cukup dan lingkungan kondusif untuk belajar. Namun demikian, standar itu cukup untuk memperkuat martabat mereka sebagai seorang pelajar yang sedang mengupayakan masa depan mereka.

Basis dari pendidikan yang diterapkan oleh Coach Carter adalah rasa peduli. Kepedulian itu yang membuat dia all out membantu siswa-siswanya untuk berubah menjadi lebih baik. Kepedulian itu yang diterima dengan terbuka oleh anak-anak SMA yang sering merasa terbuang. Kepedulian itu yang membuat coach dan nilai-nilainya dapat diterima oleh para anggota timnya.

Selain peduli, Coach Carter juga konsisten. Dia tidak mudah mundur dari kesepakatan yang dia buat sendiri (kontrak dengan timnya) hanya karena satu, dua kasus yang mengharukan seperti anggota timnya yang terjebak rantai perdagangan narkoba dan anggota timnya yang harus menjadi ayah di usia belasan tahun.

Sikap konsistennya tidak berarti dia tidak peduli. Justru dia berusaha membantu, menawarkan bantuan pada anggota timnya yang menghadapi masalah. Basisnya lagi-lagi adalah rasa peduli dan ini dimiliki oleh seorang pengajar sekaligus seorang pendidik.

Saya pribadi memberi angka 4 dari maksimal 5 untuk film ini. Aspek mendidik dari Coach Carter begitu ditonjolkan, lebih dari soal dia mengajar cara bermain basket yang benar, sehingga saya merasa sangat tersentuh dengan perubahan demi perubahan yang terjadi pada diri anggota timnya.

Film “Coach Carter” dapat ditonton di platform Netflix. Film ini adalah inspirasi yang tepat untuk menambah motivasi saya, atau mereka yang berprofesi sebagai guru, dalam mendidik dan bertanggung jawab atas didikan tersebut, di satu lagi Hari Pendidikan Nasional yang kita peringati.

Kata kunci dari pendidikan hanya satu: kepedulian.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s