To Focus or To Venture Out; That Is the Question

Gua pake judul bahasa Inggris karena kalau pake bahasa Indonesia amboi panjangnya. Lebih baik fokus pada satu hal atau mencoba hal baru? Kurang lebih begitu esensinya.

Kemarin gua nyoba nulis di jurnal. Kayaknya udah seabad lamanya gua ga nulis pake tangan jadinya tangan cangkeung habis nulis 8 halaman. What, 8 halaman? Iya, dalam sekejap gua menulis 8 halaman yang berisi perenungan gua akan pertanyaan yang menjadi judul tulisan ini.

Gara-garanya suami gua baru ngomongin hal ini beberapa hari lalu, dan … dia ulang lagi tadi malam pas ngomong-ngomong di rumah adek gua pada malam menjelang pergantian tahun. Suami gua itu orang yang sangat cerdas dan penuh taktik. Dia tahu bahwa ngulangin pesan dia ke gua di depan anggota keluarga yang lain akan amplifying the effects. Dan seperti yang gua duga, orang tua dan adek-adek gua sangat setuju dengan pendapat suami.

Hari Senin lalu gua bilang ke suami bahwa gua mau belajar main drum. Dia sangat kaget, terkaget-kaget sampai lama banget baru kasih respon. Pas dia tanya, kenapa bisa kepikir gitu, gua bilang kayaknya main drum asyik. Gua lihat anak gua yang tengah sepanjang liburan ini dikit-dikit nyalain drum elektrik dan gebuk-gebuk. Dalam setahun dia udah belajar banyak, feeling-nya udah lebih terasah, dia peka sama ketukan di lagu. Gua jadi kagum dan jadi berpikir: harusnya ga mustahil ya belajar drum di umur segini?

Eits, apa sih yang mustahil? Sulit iya, mustahil itu enggak. Dia usia yang ke-38 tahun gua dengan gampang bisa me-recall hal-hal yang gua lakukan karena awalnya penasaran dan akhirnya gua seriusin:

1. Menerbitkan buku kumpulan cerpen sendiri pada usia 34 tahun dan sampai sekarang sudah 6 buku ber-ISBN atas nama gua. Ga sampe di situ, gua juga bikin pelatihan menulis buat ibu-ibu dan anak-anak sekolah berusia 10-17 tahun. Bapak-bapak belum ada yang pernah join nih, hehe.

2. Mulai belajar taekwondo pada usia yang sama dan sekarang gua megang sabuk biru. Gua udah melalui sabuk putih, kuning, hijau, dan biru; tinggal perlu sabuk merah untuk mencapai sabuk hitam. Sayang, gara-gara pandemi latihan taekwondo buat ibu-ibu ditiadakan untuk waktu yang belum bisa ditentukan.

3. Mulai belajar piano dari nol pada usia 36 tahun. Sekarang gua ada di grade 4 dari total 8 grade yang dianut sistem di sekolah musik yang mengajar gua dan anak-anak. Tujuan gua belajar di usia tua begini sebenernya simpel banget, gua pengen bisa bantu proses pembelajaran musik ketiga anak gua. Apalagi setelah si Kakak ganti guru piano sampe 4 kali dalam 5 tahun. Wah, mama harus terjun langsung biar dia bisa belajar lebih baik.

4. Mulai belajar bahasa Korea di usia 34 tahun gara-gara kebutuhan berinteraksi di dojang taekwondo dengan sabeomnim dan para eonni. Sekarang gua masih ambil free courses di Udemy dan Coursera. Next goal: terdaftar di King Sejong Institute!

5. Gua seneng desain furniture terutama kitchen set, tapi gua ga pernah kepikiran bakal mengelola sebuah workshop. Sampai partner bisnis yang tepat datang pada waktu yang tepat dengan membawa proyek-proyek yang tepat 5 tahun lalu. Udah ga kehitung berapa proyek yang gua jabanin sambil bawa anak-anak buat survei lokasi, ngobrol dengan klien, sampai instalasi lemari-lemari segede gaban. Gua seneng dapat nafkah, anak-anak seneng karena rasanya kayak petualangan.

Habis gua uraikan semua hal yang gua tekuni dengan serius ke suami, gua ditanya lagi: ga mending fokus aja, raih mastery di satu atau dua bidang dulu tahun ini, baru tahun depan pindah ke bidang lain? Terus suami gua mengingatkan lagi tentang protes si anak sulung di awal Desember lalu yang sampe sekarang masih sukses bikin gua sedih dan mikir sekaligus.

Gua tahu kenapa gua maruk begini, pengen banget belajar segala hal walaupun usia gua sudah tua. Ya karena itu, gua sudah tua. Di saat orang lain mulai belajar musik dan olahraga di usia anak-anak, memberanikan diri nulis buku di usia 20-an, gua mulai melakukan itu semua di usia 34 tahun. Pertengahan 30 dengan status berkeluarga dengan dulu 2 dan sekarang 3 anak yang masih kecil-kecil.

Adek gua mengkhawatirkan anak-anak gua ga keurus karena urusan self actualization (istilah yang dipake si Batman). Gua bilang, enggak sih. Kalau disangka gua ga ngajarin mata pelajaran di sekolah, ya memang enggak. Dua anak gua yang paling besar itu sangat mandiri dan mereka tahu banget kalau yang sekolah itu mereka, bukan gua.

Kalau ada yang ga dimengerti, tanya ke siapa pertama-tama? Ya ke bapak/ibu guru dong, bukan ke mamanya. Mengajari dan membuat siswa mengerti itu tugas sekolah. Tugas gua selama PJJ ini cuma merekam dan meng-upload tugas video buat si Abang. Kalau si Kakak? Wah, dia mah udah jalan sendiri, udah ahli masang tripod, take/retake video, dan upload ke Teams. Bukannya nanya ke gua hal yang dia ga ngerti, lebih seringnya dia jelasin ke gua hal-hal yang dia pelajari di sekolah. Gua bersyukur dua anak gua (dan si bungsu yang akan nyusul dalam beberapa tahun) dididik di sekolah itu, walaupun ada drama-drama terutama setelah ada pandemi.

Kalau soal mengurus rumah dan tetek-bengek lainnya gimana, masih kepegang ga, tanya si Adek. Kepegang dong, jawab gua. Bikin aja jadwal kapan masak, vacuum, ngelap-lap, ngepel, nyuci-jemur-ambil-lipetin jemuran, bersihin taman, belanja sayur, dll, dsb. Manageable, kok. Kata orang kerjaan rumah ga ada habisnya. Ember. Maka dari itu belajar cukupkan ngerjain ini cukup buat hari ini, ngerjain itu ya buat hari berikutnya.

Overall, gua ngerti concern suami dan adek-adek gua: keluarga, anak-anak, dan rumah tetap yang utama. Setelah itu menyusul soal mencari nafkah, baru ke perintilan hobi-hobi yang gua tekuni sampai tahun ini, dan hobi-hobi yang sudah lama gua abaikan karena satu dan lain hal seperti menjahit dan bermain flute. Sungguh, gua kangen banget sama mesin jahit dan flute gua.

Berbekal pesan suami dan kesadaran akan keterbatasan gua (well, gua cuma punya 24 jam dalam sehari yang harus gua bagi dan pake baik-baik), gua bikin daftar “things on my plate” dan menaruhnya pake urutan prioritas. Gua dapet 10 items dan setelah banyak berpikir gua putuskan untuk melepaskan sebagian di antaranya. Sedih? Sedikit sih, tapi ga apa-apa, tujuan gua kan hanya satu: mencapai keseimbangan dalam hidup sambil berusaha berkontribusi pada orang lain.

Tahun ini gua mau fit lagi. Sembilan bulan ga olahraga teratur bikin ritme hidup gua kacau, badan gua selalu lelah, dan emosi gua ga stabil. Setelah banyak menimbang, gua daftar les muay thai deket rumah. Dan ga pake lama gua langsung beli alat-alatnya sebelum gua berubah pikiran. Gua emang gitu, harus join olahraga yang berbayar biar ngerasa rugi kalau ga rajin latihan.

Latihannya bakal capek banget, astaga dragon, ngeliat video-video yang di-post di IG gym itu aja gua langsung rungsing. Gimana caranya gua push up, sit up, dll lagi setelah nyaman rebahan hampir setahun? Yang lumayan menghibur hati gua adalah: muay thai banyak tendang-tendang! Okeh, gua suka di situ makanya gua sangat menikmati taekwondo. Latihan buat gua bakal dimulai senin depan. Duh deg-degan sekaligus excited. Gua udah bilang target gua hilangin 20 kg dalam 1 tahun. Coach gua dengan pedenya bilang di WA: okeh, kita wujudkan, Bu. Gua sebagai seorang pesimis selalu suka orang-orang yang optimis.

Gua akan istirahat menerbitkan buku secara indie dan berfokus pada dua hal sepanjang tahun ini: 1) ikut workshop menulis di mana-mana, dan 2) menembus penerbit mayor. Gua juga akan fokus mempromosikan 6 buku ber-ISBN yang sudah ada, dimana ada yang belum dicetak, belum selesai dicetak, atau belum dicetak ulang. Gua jadi inget tahun 2017 waktu gua sibuk promosi (book launching, interview tv, interview radio, webinar, dll) dan sekaligus menulis 3 novel dan banyak cerpen. Tahun yang sungguh produktif dan gua pengen mengulangi lagi efektivitas seperti itu di tahun ini.

Untuk tahun ini sudah jelas bahwa gua perlu motivasi tambahan untuk olahraga, tapi gua ga perlu lagi motivasi tambahan untuk menulis. Gua join KLIP awal tahun 2020 karena gua perlu itu: a little nudge to start writing and rolling again. Di penghujung tahun lalu gua sadari, gua udah bisa gerak sendiri kapan pun gua perlu dan mau.

Titik awalnya adalah “perlu”; gua perlu menyelesaikan naskah, gua perlu menyampaikan kritik atas isu sosial, gua perlu membagikan kebahagiaan karena sudah nonton satu film/drakor, ya pasti gua akan nulis. Kalau pake titik awal “mau”, bakal ada korslet. Pas lagi angot-angotnya kesambet, gua mau nulis 5 jam nonstop. Tapi anak-anak kan perlu diurus dan dimasakin, cuy, jadi gua bakal kacau sendiri kalau mulai menulis karena gua “mau”.

Oleh karena itu gua masih bertanya-tanya sama diri sendiri: apa gua masih perlu bergabung dengan KLIP? Sebagai pengabdi badge sejati, kesenangan gua mendapat badge mencapai titik henti pas bulan Desember kemarin. Gua sudah pernah dapat 3 macam badge, gua sudah pernah ngerasain telat nyetor tulisan, gua sudah pernah nulis sesuatu yang ga-bermutu-sama sekali-dan-akhirnya-bikin-gua-kesel karena tuntutan setoran dan akhirnya gua jadi ga bahagia.

Meskipun demikian, KLIP membantu gua merumuskan naskah untuk 2 buku gua yang terakhir. “The Cringe Stories” gua rampungkan setelah nulis berseri-seri untuk setoran KLIP dari Juli sampe November. “Crazy Sick 2020” adalah perenungan gua selama setahun terakhir yang tentu saja gua cicil sebagai tugas setoran harian ke KLIP. Mungkin aja hal yang sama bakal terjadi lagi di penghujung tahun 2021, gua jadi nulis 2 buku baru gara-gara tugas setoran KLIP.

Waktu bikin daftar prioritas kemarin, gua menahan kegiatan menulis dan melepaskan komunitas menulis. Let’s see how it goes in a few weeks.

Merujuk sama tulisan gua setahun lalu yang berjudul “Apa Kabar, Resolusi?”, gua juga perlu bikin resolusi untuk tahun 2021. Resolusi gua tahun lalu adalah supaya jadi orang yang lebih sabar, sama diri gua sendiri dan sama orang lain. Wih, sejak bulan Maret gua langsung digempur habis-habisan buat ngetes kesabaran yang gua kejar mati-matian.

Kurang sabar apa gua menghadapi suami WFH, anak-anak SFH, 1 bayi, dengan sekolah yang awalnya cuma dumping tugas ke email anak dan berharap orang tua yang ngajar sendiri anaknya? Udah biaya listrik di rumah nambah, uang SPP pake dinaikkan. Waw banget. Pandemi dan semua yang terjadi tahun lalu memang ujian kesabaran banget dan gua seneng karena gua udah bisa melaluinya.

Tahun lalu gua nulis gini, supaya resolusi bisa tercapai ada 3 hal yang perlu dilakukan:

  1. Pecah rentang waktunya
  2. Pecah menjadi smaller goals
  3. Resolusi bukan hanya soal materi

Let’s say gua pengen hilangin 20 kg dalam 1 tahun. What, 20 kg itu kan banyak banget, ngeliat target segitu berat gua pasti langsung otomatis pingsan. Tapi …, kalau gua ganti istilah rentang waktunya dan pecah jadi 12 bulan dan bukan 1 tahun, hilangin 20 kg dalam 12 bulan itu masih kelihatan possible. Gua perlu hilangin 1.7 kg saja dalam sebulan, dan harus terus-menerus sampai tercapai 20 kg gone in 12 months. Possible dan ga bikin gua capek dan nyerah duluan.

Habis rentang waktu dipecah, otomatis goal-nya juga dipecah menjadi lebih kecil. Dua puluh kg jadi 1.7 kg dalam satu bulan. Kalau gua pecah lagi, dalam seminggu gua “cuma” perlu hilangin 425 gram. Wah bisa banget apalagi kalau rajin muay thai. Target kecil gini bikin gua tambah semangat karena dia achievable.

Yang ketiga, resolusi itu bukan soal barang yang bisa dilihat dengan mata aja. Gua ingat, seumur hidup gua cuma 4 kali bikin resolusi. Tahun 1997 gua pengen masuk SMA 3, tahun 2000 gua pengen masuk ITB, tahun 2005 gua pengen dapet kerja sebelum lulus kuliah, dan tahun 2020 gua pengen jadi orang yang lebih sabar.

Tahun ini resolusi gua bukan rumah dan mobil baru atau hal-hal sejenis itu. Gua cuma pengen satu saja yaitu: fokus. Fokus ke beberapa hal saja supaya gua bisa mengubah passion itu jadi mastery. Skill yang intermediate ga boleh cukup, gua harus naik level, harus menguasai lebih banyak hal, harus menuju kepakaran.

Tahun ini gua akan ngambil ujian piano grade 3 yang bubar jalan tahun lalu gara-gara pandemi. Gua sempet lupa passion gua yang satu ini dan suami mengingatkan gua lagi. Gua perlu lulus sampe ujian grade 5 supaya bisa mulai mengajar piano. Itu ‘kan yang gua kejar, mengasah skill untuk menuju ke sebuah profesi yang akan gua tekuni dalam jangka panjang dan sangat memerlukan mastery. Murid-murid pertama gua adalah anak-anak gua yang sekarang sudah dimulai dari si Abang. Gua berharap nanti pada waktu yang tepat gua bisa ngajar anak-anak orang lain juga.

Jadi itulah 3 bidang yang menjadi fokus gua untuk di-upgrade tahun ini: menulis, piano, dan olahraga. Gua ingin mencintai ketiga bidang ini dengan sepenuh hati, berdedikasi penuh untuk mengubah passion menjadi skill lalu menjadi mastery. Gampang sih, gua orang yang either all out or nothing at all. Sekalinya gua berkomitmen, gua bakal jalan terus.

Tulisan ini akan menjadi pengingat, akan gua rujuk berkali-kali selama 12 bulan ke depan di kala ada hal baru yang kelihatannya lebih menarik dan menggoyahkan fokus gua. Pasti kejadian, gua yakin banget. Oleh karena itu gua langsung komit ke 3 training untuk ketiga bidang itu minggu depan. Begitu pula dengan minggu depannya, minggu depannya lagi, dan seterusnya. Step by step, oh baby.

Oh ya, selamat tahun baru! Apa pun resolusimu, ingat ya: pecah rentang waktunya, pecah menjadi smaller goals, ga apa-apa kalau ingin mencapai hal-hal yang tidak bersifat materi. Resolusi sesimpel mau lebih sering telepon orang tua di kampung halaman tahun ini juga bisa, kok. Apa saja yang bisa membuat kita berubah dari status quo ke sesuatu yang lebih baik.

Semangat!

One thought on “To Focus or To Venture Out; That Is the Question

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s