Melepaskan Diri dari Masalah Orang Lain

Siapa di sini yang suka curhat? Banyak dong ya, saya termasuk. Curhat di sini artinya berbagi masalah, keluh-kesah kepada orang yang dikenal dekat dan bisa dipercaya. Tapiii … ada kalanya saya curhat random tak berujung sama orang yang random juga, kayak tukang potong rambut dan CS bank!

Asli, sampai sekarang saya masih malu kalau inget kok bisa saya ngomel curhat panjang kali lebar sama orang yang ga saya kenal, over the phone, dan bisa ditanggapi dengan sangat baik.

“Iya, Bu, saya mengerti. Yang sabar ya, Bu.”

Saya aja udah lupa dulu kena masalah apa, yang keinget cuma tanggapan baik hati dari orang yang dicurhatin. Hehehe. Makasih ya, mbaknya!

Banyak orang curhat bukan buat mendapatkan solusi, melainkan hanya untuk melegakan hati. Tapiii (lagi), masalah hidup sendiri aja udah banyak, mau seberapa ketambahan masalah hidup orang lain, sih?

Banyak orang yang curhat asal mrepet aja yang penting dirinya lega. Pernah ga ya orang itu mikir, yang dijadikan tempat curhat kira-kira hidupnya setelah itu jadi gimana? Apakah tetap santai dan baik-baik saja, menganggap curhatan sebagai angin lalu? Atau malah jadi kepikiran dan malah jadi emosian sendiri?

Kok bisa?

Ya bisa aja, apalagi kalau orangnya sangat berempati sama orang lain. Walhasil dia bakal sulit banget melepaskan diri dari masalah orang lain yang dibagikan kepada dirinya.

Ga bisa lepas ini juga timbul karena perasaan ga berdaya waktu dicurhatin. Dibagi masalahnya, tapi kok saya ga bisa kasih solusi, kasih apa kek yang bisa meringankan beban hatinya? Perasaan tidak punya kendali bisa bikin orang yang dicurhatin lebih terpuruk dari orang yang awalnya curhat.

Generasi orang tua saya lebih parah soal curhat-curhat dan apa-apa dimasukin ke hati. Pandemi inilah buktinya.

Bukan saya tidak bersimpati, tidak berempati kepada korban dan keluarganya yang ditinggalkan, akan tetapi saya menyadari sejak awal bahwa pandemi ini diiringi juga dengan infodemik. Saya tulis di sini betapa kita diserbu oleh terlalu banyak informasi, yang kebanyakan tidak relevan dengan solusi yang sedang kita cari untuk memecahkan masalah.

Waktu awal-awal pandemi, orang-orang gampang heboh oleh status ODP dan PDP. Saya ingat sekali, di pertengahan bulan Maret ada seorang anggota dari gereja saya yang berlokasi di kota lain terkena Covid-19. Berita itu saya dapat awalnya dari WAG (sumber berita paling tidak terpercaya) yang akhirnya dikonfirmasi oleh surat keterangan dari majelis gereja setempat.

Sebelum ada surat konfirmasi itu, saya diserbu dengan banyakkkk banget WA dari orang-orang yang saya kenal dekat dan enggak dekat, yang entah mau bersimpati atau kepo maksimal.

“Lu gereja di situ kan, Jo? Pasti kenal dong sama orangnya?”

Enggak, man. Gua di kota ini, almarhum di kota itu, kagak mungkin ketemu.

“Ternyata dia pelatih paduan suara ya, Jo. Duh, kasihan banget anak-anak yang dia latih. Menurut lo gimana?”

Ya, gimana? Tentu gua berharap ga ada satupun anak-anak dan orang-orang yang kontak dengan almarhum sebelum dia akhirnya dirawat ada yang kena Covid-19. Gua berharap semua orang masih dikasih anugerah kesehatan dan kehidupan. Itu pasti harapan semua orang dong, bukan harapan gua aja.

Ngejawabin WA macem gini satu-satu tuh melelahkan jiwa dan raga. Sampai-sampai saya ngerasa, ini ga ada hubungannya dengan saya. Saya bisa bersimpati, bisa berempati dengan keluarga yang ditinggalkan, tapi saya juga perlu menjaga jarak dengan berita demi satu hal. Apa itu?

Menjaga kewarasan.

Iya, Sodara-sodara. Menjaga kewarasan itu penting. Menjaga kewarasan itu harus. Jadi saya sungguh ga ngerti ketika dicap ga simpatik/empatik sama orang tua saya ketika mereka dengan heboh me-WA saya tentang dokter ke-100 yang meninggal.

Almarhum dokter tersebut ternyata adalah saudara jauh kami. Begini ya urutannya: papa saya punya adik perempuan. Adik perempuan itu punya suami. Si suami punya adik laki-laki. Si adik laki-laki punya istri. Si istri punya adik laki-laki. Nah dialah si dokter ke-100 tersebut.

Hubungannya udah jauhhh banget kan. Saya ga pernah ketemu atau bersinggungan hidupnya dengan almarhum, tapi entah kenapa orang tua dan keluarga besar dari papa saya merasa keluarga terdekatnya sedang diserang. Okelah, buat semua orang Batak kalau dirunut-runut semua bersaudara. Tapi kalau dipikirin terus dan bikin jadi anxious ga jelas, oh well, saya memilih mundur.

Melepaskan diri dari masalah orang lain bukan perkara mudah. Ada orang yang bisa merasa bersalah kalau udah dicurhatin tapi ga kasih solusi. Astaga, yang curhat udah orang dewasa, keleus. Udah pada gede, udah bisa bertanggung jawab atas hidupnya sendiri. Kalau dia mengharapkan solusi mentah-mentah dari orang lain, kedewasaannya perlu dipertanyakan.

Ini juga yang perlu dilatih ketika membesarkan anak-anak yang kemudian menghadapi masalah. Mereka harus belajar menyelesaikan masalah mereka sendiri. Curhat untuk membuat hati plong, curhat untuk meminta pendapat, boleh. Boleh banget. Tapi semua keputusan terakhir ada di tangan orang yang curhat. Jangan berani-berani mengalihkan tanggung jawab atas hidupmu ke tangan orang lain.

Ealah, jadi ngegas. Tulisan sebanyak 988 kata ini berhasil diselesaikan dalam 30 menit. Not bad, man, not bad.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s