Tips Memilih Warna untuk Desain Interior dan Eksterior Rumah

Bulan lalu bengkel yang saya kelola mendapat order membuat beberapa furnitur berbasis kayu untuk sebuah rumah tinggal. Rumah tersebut baru ditinggali beberapa bulan. Sebelum membeli rumah tersebut, pemiliknya selalu indekos dan hidup dengan barang seminimal mungkin. Sekarang dia memerlukan banyak sekali saran yang berkaitan dengan desain interior.

Kami menginventaris satu per satu barang yang ada di rumah itu untuk memutuskan tempat penyimpanan macam apa dan berukuran berapa yang benar-benar dibutuhkan. Tujuan kami adalah supaya tidak membuat furnitur yang hanya makan tempat tapi tidak terpakai. Menurut saya lebih baik berdiskusi alot di awal daripada membuat sesuatu yang mubazir, makan waktu, tenaga, dan biaya.

Setelah menyetujui desain beberapa lemari dan mentransfer DP, klien saya tiba-tiba “menghilang” selama beberapa pekan. Saya telepon tidak diangkat, WA saya pun tidak dibaca. Saya mau produksi barang tapi saya juga gamang; ini ordernya jadi atau tidak ya. Waktu akhirnya dia menjawab panggilan telepon dari saya, saya menanyakan apa yang membuat dia bimbang.

Usut punya usut ternyata beliau sedang galau tentang warna cat rumahnya. Ia ingin furnitur masuk saat rumahnya sudah dipercantik. Rumah-rumah di sebuah kompleks perumahan ‘kan biasanya seragam dalam hal fasad depan dan warna cat tembok, baik eksterior maupun interior. Beliau ingin membuat rumah yang unik dan menggambarkan kepribadiannya, tidak mirip dengan rumah tetangga di sebelah kanan dan kiri.

Oleh karena pekerjaan mengecat bukanlah scope dari bengkel saya, maka saya hanya bisa memberikan saran yang berkaitan dengan penggunaan warna.

Tidak dapat dipungkiri bahwa warna memegang peranan penting di dalam keseharian kita. Ruangan dengan warna tertentu secara tidak langsung dapat mempengaruhi mood dan kenyamanan kita.

Bayangkan suatu ketika Anda pergi ke tempat praktek dokter gigi. Pintu masuk ke tempat praktek itu berwarna putih; sebuah warna yang melambangkan higienitas. Begitu masuk Anda menemui dinding yang dicat warna kuning dan ungu di sebelah kiri Anda. Di sebelah kanan Anda, dindingnya dicat warna biru dan oranye.

Sakit mata.

Mungkin itu yang Anda pikirkan begitu melihat warna-warna yang saling bertabrakan dan memenuhi pandangan Anda. Sayangnya Anda tidak bisa menghindar dari “kepungan” warna-warna itu selama Anda masih punya urusan di sana.

Kita tidak bisa memegang kendali atas penggunaan warna di banyak tempat yang kita kunjungi. Akan tetapi, penggunaan warna di rumah, entah itu untuk cat tembok, cat pintu dan jendela, perabotan, dan lain sebagainya, sepenuhnya berada di bawah kendali kita.

Kepada klien saya memperkenalkan sebuah teknik untuk memutuskan warna-warna apa saja yang saling melengkapi, atau harus saling menghindari, untuk menset mood tertentu dengan menggunakan color wheel.

224DC053-EEE0-4DCB-9DB8-852CEB849457

Color wheel menampilkan warna-warna primer merah, kuning, dan biru, dan warna-warna sekunder yang merupakan pencampuran dari warna-warna primer.

Merah dan kuning dicampur menjadi jingga.

Kuning dan biru dicampur menjadi hijau.

Biru dan merah dicampur menjadi ungu.

Terdengar familiar, bukan? Ya, benar, susunan warna-warna pada color wheel adalah susunan warna-warna pada pelangi yang kita kenal sejak kecil.

Saya memberi tahu klien tentang warna-warna complementary, yaitu warna-warna yang tepat berseberangan pada color wheel. Pemakaian warna-warna complementary membuat setiap warna akan sangat menonjol dan tidak saling meniadakan karena tidak ada kemiripan antara kedua warna itu. Pasangan warna complementary adalah biru-jingga, kuning-ungu, dan merah-hijau.

Perabot berwarna kuning, dan gradasinya seperti pada warna kayu, akan terlihat menonjol apabila diletakkan di depan dinding yang berwarna biru. Pohon Natal yang berwarna hijau akan terlihat sangat cerah dengan kehadiran hiasan yang berwarna serba merah. Itu adalah beberapa contoh dari penggunaan warna-warna yang complementary satu terhadap yang lain di dalam kehidupan sehari-hari.

Contoh visualnya ada pada dua gambar di bawah ini:


Jangan heran jika Anda merasa sangat betah melihat segala macam perabotan di toko perabot rumah tangga yang terkenal itu. Semua perabot disusun, diletakkan berdekatan atau berjauhan, sesuai dengan prinsip penggunaan warna pada
color wheel supaya bisa segera menarik perhatian Anda. Pencahayaan yang tepat dan langit-langit toko yang tinggi juga mendukung penampilan wah dari perabot-perabot itu.

Kembali ke klien saya.

Warna cat dinding interior rumahnya saat ini adalah putih semua. Menurut dia warna itu sangat membosankan, tapi dia ragu-ragu untuk mengganti warna putih itu dengan warna lain karena takut cepat bosan. Maklum, tren warna berubah setiap tahun. Walaupun sumber dayanya ada, dia enggan mengganti cat rumah setiap tahun karena mengikut tren. Apalagi pekerjaan mengecat rumah perlu biaya, waktu, dan tenaga yang tidak sedikit.

Klien saya sudah memilih warna untuk setiap furnitur yang akan dibuat. Kami sudah menghabiskan waktu berjam-jam menganalisa setiap warna yang ada pada katalog HPL (High Pressure Laminate) supaya sesuai dengan selera dan nuansa setiap ruangan yang dia harapkan. Daripada bolak-balik, untuk warna cat dinding saya menyarankan dia memilih warna monokrom dan warna yang complementary terhadap warna furnitur yang dia sudah pesan.

Sebenarnya monokrom bukanlah warna. Monokrom adalah referensi untuk pergerakan warna dari kutub warna hitam ke kutub warna putih. Ketiadaan warna yang satu menghasilkan warna lain. Ketiadaan warna putih menghasilkan warna hitam, dan sebaliknya. Spektrum warna di antara hitam dan putih ini disebut sebagai abu-abu, dengan berbagai gradasinya tergantung seberapa banyak kadar hitam atau putih padanya.

Contoh desain interior dengan warna monokrom adalah sebagai berikut:

FC4D57E0-9C8B-420A-AA3D-0BD2D2D0FFA2

Jika Anda tidak punya ide sama sekali bagaimana mendekorasi sebuah ruangan, mulailah dengan warna monokrom. Warna hitam, putih, dan abu-abu tidak pernah salah. Mereka adalah warna-warna klasik yang tidak pernah lekang oleh waktu dan tidak pernah terpengaruh oleh tren warna setiap tahun. Orang akan selalu melihat warna monokrom sebagai warna yang anggun dan berkelas.

Mulailah dengan satu kutub (hitam atau putih) sebagai warna dominan, pakai warna dari kutub lain (putih atau hitam) sebagai aksen utama, dan pakai gradasi warna abu-abu sebagai aksen pelengkap. Warna monokrom cocok dipakai untuk desain interior, ataupun desain eksterior seperti pada gambar berikut:

4CB0C4E3-F625-43FE-A638-6CA7F7F7A139

Langkah pertama “memecah” warna monokrom supaya tidak terlihat terlalu membosankan adalah dengan memberikan palet warna natural seperti warna cokelat kayu dan warna hijau daun. Untuk desain interior, Anda bisa memasukkan kedua unsur warna ini melalui perabotan ataupun aksesoris seperti tanaman di dalam rumah. Untuk desain eksterior, Anda bisa memakai pintu dan jendela kayu ataupun membuat taman yang rimbun di area yang mengelilingi rumah.

Rumah klien saya sudah bercat dinding putih untuk eksterior dan interior, menggunakan kusen pintu dan jendela berwarna hitam, dan menggunakan daun pintu bermotif kayu. Menurut saya itu adalah basic yang cukup untuk mendekorasinya lebih lanjut. Rumahnya memiliki open plan, tidak ada sekat untuk memisahkan satu ruangan besar itu berdasarkan beberapa fungsi yaitu ruang keluarga, dapur, dan gudang.

Untuk mengatasi hal ini saya menyarankan klien untuk mencat tembok dengan warna yang berbeda untuk “memecah” ruangan itu secara visual. 

Klien saya memilih gorden berwarna abu-abu dengan vitras berwarna putih untuk melengkapi palet warna monokrom di dalam rumah. Ruang keluarga yang mendapat porsi paling besar tetap dibiarkan bercat putih. Akan tetapi, ada dinding yang dicat biru gelap sebagai warna complementary dari rak TV bermotif kayu yang dipasang pada dinding itu (aturan biru dan jingga sebagai pasangan warna complementary).

Pada dinding berwarna biru gelap itu dipasang panel kayu berwarna hitam dan berukuran lebih besar dari televisi, untuk memberikan ilusi ukuran televisi yang lebih besar dari yang sebenarnya. Warna kesukaan klien saya sebenarnya adalah warna merah. Warna ini sulit dimasukkan ke dalam desain eksterior ataupun interior tanpa membuatnya terlihat norak. Saya mengakomodasi selera beliau dengan menyediakan satu bagian berwarna merah di tengah rak TV bermotif kayu, dan menyediakan karpet berwarna senada.

782166C5-A65E-4E0D-B54A-C62B384260B1

Dinding dapur yang terletak di sebelah ruang keluarga dicat dengan warna krem sebagai pembeda atau “sekat” antar ruangan. Kitchen set dan meja makan yang ditaruh di situ tidak menggunakan warna complementary dari warna krem. Klien saya ingin menampilkan dapur yang bernuansa terang. Dia juga ingin ada kesan furnitur yang menyatu dengan dinding background, sehingga warna yang digunakan adalah gradasi dari warna kayu. Palet warna monokrom di ruangan ini adalah warna lantai granit dan warna countertop dan blinds di dapur.

Di depan dapur ada ruangan kecil di bawah tangga yang selama ini dipadati oleh kontainer berisi barang-barang random milik klien. Saya menyarankan untuk membuat rak sepatu dan lemari kecil untuk menyimpan perkakas bertukang. Warna HPL yang dipilih adalah abu-abu untuk mendukung palet warna monokrom. Dinding di sekitarnya berwarna krem karena ruangan ini berada pada satu blok dinding yang sama dengan dapur.

1D2104F4-6B33-41E8-A4DA-711B6EAF2512

Untuk lantai dua rumahnya, klien saya memesan satu unit lemari pakaian dan satu unit lemari buku. Kamar tidur dan perpustakaan tersebut dicat dengan warna selain putih untuk mendapatkan ambiance yang tepat.

Kamar tidur klien saya menghadap ke timur, artinya kamar tersebut mendapatkan cahaya dan panas alami sepanjang hari. Untuk “mendinginkan” ruangan dan membantu kerja AC, saya menyarankan dinding kamar dicat warna biru tua. Lemari pakaian menggunakan warna hitam untuk kesan monokrom. Satu-satunya warna terang di dalam ruangan itu adalah warna langit-langit yang putih. Klien saya memang menginginkan sebuah ruangan yang teduh untuk tidur dan beristirahat.

Dinding perpustakaan pribadi dicat dengan warna krem yang senada dengan warna gorden dan vitras di ruangan itu. Rak buku setinggi dua meter dan selebar dua meter menggunakan warna biru cerah, warna complementary dari warna krem. Foto kedua ruangan tersebut tidak saya masukkan di sini karena alasan privasi.

Sebagai kesimpulan, jika Anda ingin mendesain eksterior dan interior rumah tapi Anda bingung mulai dari mana, maka Anda bisa mengikuti langkah-langkah berikut ini:

1. Mulai dengan palet warna monokrom. Warna hitam, putih, dan abu-abu tidak pernah salah tempat.

2. “Pecah” kesan monoton dari palet warna monokrom dengan menghadirkan warna cokelat dari kayu dan hijau dari daun.

3. Satu ruangan besar yang menggunakan open plan bisa dicat dengan beberapa warna untuk membaginya berdasarkan kegiatan-kegiatan yang berlangsung di dalamnya.

4. Cat beberapa bagian dinding dengan warna yang complementary terhadap warna furnitur yang ditempelkan pada dinding itu. Ingat pasangan warna complementary ini: biru-jingga, kuning-ungu, merah-hijau, dan segala gradasinya.

5. Tambahkan warna kesukaan yang mencerminkan kepribadian Anda melalui aksesoris, seperti: karpet, keset, bantal sofa, lampu meja, pigura foto, dan lain sebagainya. Palet warna monokrom akan menjaga keseluruhan ruangan di dalam rumah Anda terasa rapi dan mengalir. Warna-warna selain monokrom akan membuat rumah Anda terlihat lebih hidup.

Saya menyarankan satu hal ini untuk rumah tinggal setiap klien saya: jangan takut bereksperimen. Tidak akan ada orang yang mengkritik Anda karena warna ini dan itu tidak nyambung, perabot ini dan itu tidak cocok, dan lain sebagainya. Ini ‘kan rumah Anda sendiri, bukan showroom toko IK*A.

Selamat bereksperimen dengan warna-warna yang tak akan pernah salah.

4 thoughts on “Tips Memilih Warna untuk Desain Interior dan Eksterior Rumah

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s