Empat Jenis Perbudakan yang Mungkin Masih Membelenggu Kita

Seorang budak adalah seorang manusia yang dimiliki sepenuhnya oleh manusia lain. Dia dibeli dan harganya telah lunas dibayar. Dia tidak memiliki kehendak bebas untuk bekerja, beristirahat, bepergian, dan beraktivitas lainnya. Semua pergerakan dan kegiatannya harus atas pengetahuan dan persetujuan tuannya.

Sejak Perserikatan Bangsa-Bangsa menetapkan Piagam Hak Asasi Manusia pada tahun 1948 tentang hak manusia untuk hidup, merdeka, bebas dari perbudakan, dan lain sebagainya; satu per satu bangsa di dunia yang masih berada di bawah penjahahan memerdekakan diri dan kolonialisme perlahan-lahan musnah. Walaupun demikian, benarkan perbudakan tidak ada lagi di muka bumi?

Sulit untuk mendapatkan bukti perbudakan fisik pada abad ke-21 ini, tapi bagaimana dengan perbudakan pikiran dan perasaan? Weits, romantis sekali bahasanya, namun saya serius bertanya: apakah pikiran dan perasaan kamu sudah benar-benar merdeka? Apakah pikiran dan perasaan kamu tidak tunduk kepada sebuah tuan, membuat kamu melakukan hal-hal yang tidak kamu kehendaki?

Pada ulang tahun Negara Kesatuan Republik Indonesia yang ke-75 yang jatuh pada hari ini, kiranya ini menjadi pertanyaan bagi kita semua.

Secara fisik kita merdeka, kita tidak terkungkung. Kita dapat melakukan apa saja, pergi ke mana saja selama kita dapat mempertanggungjawabkan tindakan kita. Namun secara pikiran dan perasaan banyak orang yang masih merasa diperbudak. Banyak orang yang merasa: “Seharusnya saya bisa berbuat lebih banyak dari ini, tapi entah kenapa saya tidak bisa.”

Saya mencatat empat hal yang mungkin memperbudak kita saat ini, yang menghambat kita untuk hidup lebih baik, yang menghentikan langkah kita saat kita ingin maju. Yang pasti, kita semua ingin lepas dari keempat hal ini.

1. Kemalasan

“Saya ingin mulai. Tapi nanti.”

“Besok saja. Saya akan mulai besok saja.”

“Masih mager nih. Tar deh kalau udah mood.”

Apakah kamu pernah mengucapkan hal-hal tersebut, kepada diri sendiri atau kepada orang lain, ketika seharusnya kamu melakukan sesuatu? Jika ya, maka kamu tidak sendirian.

Banyak orang, termasuk saya, yang sering merasa malas tiba-tiba. Niat banyak, impian segudang, tapi tubuh-hati-pikiran tidak sinkron dan tidak bisa bergerak untuk melakukan apa pun. Pada akhirnya kita menunggu mood yang tepat, menunggu kesambit sebelum bisa bekerja dan benar-benar menghasilkan sesuatu.

Sebenarnya apa yang kita tunggu? Yang namanya mood/ilham/inspirasi itu datangnya tak tentu. Tahu-tahu hari sudah berganti, kita sudah kehilangan satu hari lagi, dan tidak ada hasil nyata dari tangan kita. Kita mengecilkan arti disiplin dan komitmen terhadap pekerjaan dengan alasan mood/ilham/inspirasi itu akan membuat output kita lebih optimal dibandingkan sekedar bekerja karena rutinitas.

Padahal belum tentu. Tidak ada yang tahu pasti. Thomas Alva Edison sendiri pernah berkata: “Kejeniusan itu 1% inspirasi dan 99% perspirasi”. Perspirasi berarti mengeluarkan keringat, alias bekerja keras. Bakat dan talenta tidak berarti apa-apa kalau tidak diasah, tidak dibentuk, tidak dilatih. Orang yang berbakat tapi malas pasti dikalahkan oleh orang yang tidak berbakat tapi rajin. Nama lain dari kejeniusan adalah kerja keras. Titik.

Kemalasan itu seperti tuan yang memperbudak kita. Ketika kita malas, kita merasa tidak ada pekerjaan kita yang beres, semuanya terasa salah. Mungkin awalnya kita tidak malas tapi malas-malasan karena menunggu mood/ilham/inspirasi yang tepat. Akan tetapi, ketika kita masih menunggu-nunggu, orang lain sudah melangkah lebih jauh di depan kita. Mereka sudah bekerja lebih keras, menghasilkan lebih banyak, dan merasakan lebih banyak kepuasan.

Ketika saya berhenti bekerja di korporasi dan mulai berwirausaha, saya tahu bahwa kemalasan adalah rantai perbudakan pertama yang saya harus putuskan. Saya harus rajin, bagaimanapun malasnya saya. Kalau saya tidak rajin, bagaimana saya bisa mendapatkan uang? Rajin pangkal dapat klien, malas pangkal tidak bisa membayar cicilan. Begitu prinsip saya dari dulu sampai sekarang.

Perjuangan membebaskan diri dari tuan yang bernama kemalasan ini tidak berlangsung sekali saja untuk selamanya. Ia adalah perjuangan tanpa henti setiap detik, setiap hari. Ia adalah perjuangan yang memerlukan keluarga dan teman-teman untuk mengingatkan dan menguatkan.

Ketika kemalasan mulai ingin memperbudak saya lagi, saya akan mengingat apa saja yang seharusnya saya bisa capai jika saja saya tidak malas. Dan saya pun menguatkan tekad untuk melawan kemalasan itu. Saya orang merdeka, saya tidak akan tunduk pada perbudakan yang membuat saya menjadi orang yang tidak produktif, sekalipun perbudakan itu hanya berlangsung di dalam pikiran saya sendiri.

Apakah kamu pernah atau sedang merasa diperbudak oleh kemalasan? Apa yang kamu lakukan untuk membebaskan diri darinya?

2. Iri hati

Setiap manusia pasti pernah iri hati. Walaupun saya menuliskan di sini tentang orang tua saya yang mengajarkan bahwa iri hati itu adalah sebuah kesia-siaan karena setiap orang memiliki lintasan larinya masing-masing dan saya berusaha mengamalkan ajaran itu, sepanjang hidup tentu saja saya pernah merasa iri hati kepada beberapa orang.

Perasaan iri hati biasanya muncul karena kita menargetkan hal yang sama dengan orang lain. Tempat untuk menjadi ranking satu di kelas, tempat untuk menjadi juara satu di sebuah perlombaan hanya tersedia untuk satu orang; orang-orang akan bersaing untuk merebut spot itu. Saya pasti akan iri hati pada orang yang mendapatkannya, tapi rasa iri hati saya tidak boleh dibiarkan lama-lama.

Kata orang, iri tanda tak mampu. Benar juga, banyak orang merasa iri hati karena tidak mampu melakukan/mendapatkan hal yang orang lain lakukan/dapatkan. Nah, setelah merasa iri hati, apa tindakan kita selanjutnya?Apakah terus-menerus merasa iri hati, membiarkan kedamaian hati kita digerogoti, dan membuat kita tanpa sadar jadi membenci orang lain? Atau bagaimana?

Jangan mau diperbudak oleh rasa iri hati. Bebaskan diri kita dari cengkeramannya dengan menjadikan prestasi orang lain sebagai pemicu bagi kita untuk berprestasi juga. Intip sekilas, jadikan cambuk motivasi untuk berbuat lebih baik. “Semua orang makan nasi, kok, kalau dia bisa kenapa kamu tidak bisa?” begitu kata Mama saya.

Beliau mencetuskan kalimat itu sebenarnya untuk menggampangkan kasusnya. Tentu saja tidak semua orang makan nasi. Seperti isi pelajaran waktu SD, ada orang yang makan kentang, ubi, sagu, dan lain sebagainya. Intinya adalah, kalau mau bekerja keras pasti kita bisa mendapatkan prestasi yang sama. Mungkin porsi kerja kerasnya tidak sama, tapi kalau berusaha semua hal pasti bisa diraih.

Membiarkan diri diperbudak oleh rasa iri hati hanya akan merugikan diri sendiri. Pencapaian orang lain adalah kesempatan untuk kita mengecek apakah kita sudah berupaya terbaik atau masih bisa lebih baik lagi, apakah kita sudah menjadi versi terbaik dari diri kita atau belum. Kalau kita berlarut-larut di dalam kubangan rasa iri hati, kita kehilangan momen untuk mengevaluasi diri dan mendapatkan pemacu semangat.

Jika kita merasa diperbudak oleh rasa iri hati yang membuat dunia kita suram dan seperti tanpa masa depan, maka tidak ada salahnya meminta bantuan orang terdekat untuk mengingatkan kita akan potensi kita yang belum tergali. Ini yang saya lakukan setiap kali diganggu oleh tuan yang bernama iri hati.

3. Rendah diri

Perasaan rendah diri memperbudak seseorang supaya selalu merasa bimbang, ragu, dan tidak percaya diri. Orang yang rendah diri sulit untuk maju. Dia akan selalu membandingkan diri dengan orang lain tanpa bisa melihat kebaikan dari dirinya sendiri. Dia menjadikan kesuksesan orang lain sebagai sebuah standar, tapi ia tidak berupaya apa pun untuk mencapai standar itu.

Dia akan berlindung di balik topeng kalimat:

“Ah, saya pasti tidak bisa.”

“Apalah saya dibanding kamu? Hanya remah-remah rengginang.”

“Tolong jangan beri saya tugas ini, saya pasti tidak mampu.”

Ketika kemalasan dan iri hati hanya memperbudak perasaan, rendah diri memperbudak perasaan dan pikiran kita juga. Pikiran kita akan dilumpuhkan, dicekoki dengan sebuah kebenaran palsu bahwa kita pasti tidak bisa, pasti gagal, pasti mengecewakan. Padahal kita belum mencoba, padahal kita hanya melihat dari jauh pencapaian orang lain dan mengira-ngira bahwa kita tidak akan bisa sesukses itu.

Duluuuu sekali saya pernah mengikuti sebuah seminar cara cepat menjadi sukses atas ajakan teman kuliah saya. Di sana pembicaranya berkata bahwa rendah diri adalah kesombongan yang terselubung. Saya tersentak waktu mendengarnya. Kok bisa? Bagaimana mungkin?

Menurut pembicara itu, orang yang rendah diri sebenarnya merasa paling pintar, paling jago, paling berbakat di lingkungannya. Dengan kata lain, dia tinggi hati. Akan tetapi, begitu dibenturkan dengan orang-orang di lingkungan lain, dia akan melihat dirinya ternyata tidak sehebat yang dia pikirkan. Di sinilah dia mulai membungkus diri dengan perasaan minder; semata-mata karena ada perbandingan dengan orang lain.

Apa pendapat kamu, apakah menurut kamu yang pembicara itu sampaikan ada benarnya? Menurut saya, iya. Oleh karena itu rendah diri adalah salah satu dari empat perbudakan yang saya daftarkan. Rantai rendah diri harus dipatahkan supaya kita bisa menempatkan diri kita dan orang lain pada kotak yang benar, pada porsi yang tepat.

Perbandingan pada intinya adalah untuk memecut semangat berjuang, bukan untuk mencapai sebuah standar dan akhirnya menjadi depresi karenanya. Rendah diri harus diganti dengan kepercayaan diri bahwa semua orang unik, bahwa semua orang berlari pada lintasannya masing-masing. Tidak perlu menengok ke lintasan yang lain, cukup berkonsentrasilah pada tugas kita untuk berlari sebaik-baiknya sampai mencapai garis akhir.

4. Terlalu ingin tahu

Rasa ingin tahu membuat pengetahuan berkembang, rasa ingin tahu membuat manusia tidak diam di tempat. Rasa ingin tahu adalah baik untuk membantu manusia senantiasa mengoreksi dirinya terhadap lingkungan sekitarnya. Akan tetapi, rasa terlalu ingin tahu adalah rantai perbudakan yang memperlambat langkah kita untuk bekerja dan berusaha.

Rasa terlalu ingin tahu terhadap apa?

Terhadap kehidupan orang lain. Terhadap pencapaian orang lain, terhadap kegagalannya, terhadap gosip-gosip yang menimpanya. Rasa terlalu ingin tahu membuat banyak orang menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari berkelana di media sosial, mengintip keseharian orang yang mereka kenal dekat ataupun tidak. Apa output yang diharapkan?

Tidak jelas. Atau saya boleh bilang, malah tidak ada.

Media sosial bisa menjadi sarana untuk menjalin silaturahmi antara anggota keluarga inti atau keluarga besar, apalagi kalau kebanyakan tinggal berjauhan dan jarang berjumpa. Scrolling informasi yang mereka unggah di media sosial sebaiknya seperlunya saja. Tidak perlu menghabiskan waktu berjam-jam, tidak perlu terus-menerus memperbaharui newsfeed kita untuk menjadi yang pertama melihat kabar terbaru mereka.

Lepaskanlah diri dari perbudakan rasa terlalu ingin tahu dengan cara berfokus pada kehidupan kamu sendiri. Iya, kehidupan kamu dan orang-orang yang terpenting buatmu. Tidak perlu terlalu ingin tahu akan cerita liburan selebriti A, brand yang di-endorse oleh selebriti B, dan sebagainya. Pakai waktu memainkan gawai dengan bijak dan seperlunya. Jangan sampai kita menua di hadapan layar, bukan di hadapan orang yang mengasihi kita.

Salah seorang teman saya pernah merasa sangat diperbudak oleh “kekepoan maksimal”. Begitu istilah yang dia berikan untuk kebiasaannya yang dia pikir mulai tidak sehat. Sehari-hari dia mem-follow banyak akun selebriti/influencer di media sosial. Dia sangat berdedikasi; dia menyerap semua informasi yang ditampilkan di semua posting sampai-sampai dia tahu secara mendetail si ini hang out sama siapa, bermusuhan sama siapa, suka pakai tas merk apa, dan lain sebagainya.

Waktu dia memutuskan melepaskan diri dari perbudakan terlalu ingin tahu, saya tanya apa yang membuat dia berubah drastis. Yang saya tahu sekarang dia bisa puasa memakai media sosial dan dia berhasil melaksanakan komitmennya itu dengan tertib. Dia menjawab,

“Aku ga pengen nyia-nyiain hidupku lagi.”

Itulah esensi perbudakan. Ia membuat budak yang takluk pada seorang tuan untuk menyia-nyiakan hidupnya sendiri, untuk melakukan apa yang dia tidak inginkan hanya karena diperintah oleh tuannya. Tuan yang bernama kemalasan, iri hati, rendah diri, dan terlalu ingin tahu membuat seseorang menjadi budak yang melepaskan kebebasannya untuk mengelola waktu dan hubungannya dengan orang lain.

Harapan saya pada tanggal 17 Agustus ini, kita semua bisa melepaskan diri dari perbudakan. Kita semua bisa memenuhi kodrat kita sebagai orang-orang merdeka yang punya kebebasan untuk mengelola hidup kita secara bertanggung jawab.

Selamat menikmati kemerdekaan yang saat ini kita miliki. Dan semangat berjuang melepaskan diri dari belenggu perbudakan, jika masih ada.

One thought on “Empat Jenis Perbudakan yang Mungkin Masih Membelenggu Kita

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s