Berkebun Sik

Hari ini adik saya dan suaminya mampir ke rumah saya sepulang kerja. Dia minta saya mengantarnya ke pusat tanaman hias di dekat rumah yang bernama Greenmall. Dia ingin mempercantik teras depan rumahnya yang selama ini tampak plain, sekaligus membuat pembatas supaya orang-orang dari sekitar rumahnya tidak sembarangan menumpang duduk di situ.

Tinggal di perumahan yang memakai sistem klaster memang penuh suka dan duka. Garis pembatas antar rumah terkadang menjadi tidak jelas karena mengatasnamakan kerukunan bertetangga. Pada kasus adik saya, orang-orang yang sedang jalan sore sering tiba-tiba duduk di teras rumahnya tanpa mempedulikan dia sebagai pemilik rumah. Terkadang kalau pandangan mereka bersibobrok, orang-orang itu akan tersenyum dan menganggukkan kepala. Namun mereka tetap duduk di situ; mereka tidak terlihat akan beranjak pergi.

Ketiadaan pagar juga membuat banyak orang sembarangan keluar dan masuk. Pernah suatu kali adik saya sedang duduk di ruang tamu dan tiba-tiba dia mendengar suara berisik orang sedang krasak-krusuk. Rupanya anak-anak tetangga sedang bermain petak umpet dan mereka memutuskan bersembunyi di bawah jendela ruang tamu rumah adik saya. Kali lain mereka bersembunyi di belakang mobilnya.

Padahal jarak antara badan rumah ke bagian paling depan pergola ada sekitar lima meter, kok bisa seenaknya menembus masuk pekarangan orang lain tanpa ijin?

Lain cerita dia, lain cerita saya.

Tetangga saya yang sangat sopan dan manis budi pernah membiarkan saudaranya parkir di carport rumah saya dan mencuci mobil di situ waktu kami sedang keluar kota beberapa hari. Ketika kembali, kami sangat kaget melihat ada orang asing mencuci mobil di situ menggunakan air dari keran kami.

Kami kira begitu kami datang dia akan menyingkir sambil meminta maaf, atau setidaknya memberikan penjelasan deh. Ternyata tidak, kami masih harus menunggu dia selesai mencuci mobilnya sebelum kami bisa masuk ke pekarangan rumah kami sendiri.

Sejak saat itu kami memasang rantai panjang yang dikaitkan di antara tiang pergola dan tiang lampu jalan. Yang tetangga kami lakukan itu tidak sopan dan tidak masuk di akal. Bagaimana mungkin seseorang yang normal, dan berprofesi sebagai dosen pula, bisa bertindak seenak jidat begitu? Setelah ada rantai, tidak pernah ada lagi insiden tetangga menerobos pekarangan depan rumah kami, tapi pekarangan belakang sekarang dijadikan tempat sampah oleh si tetangga.

Potongan kabel listrik, tampah yang rusak, botol minuman dalam kemasan, semua itu hanya sebagian kecil dari banyak barang yang kami temukan di pekarangan belakang setiap kali kami hendak memangkas rumput liar. Rumah tetangga memiliki dua lantai, segala macam sampah berkumpul di sebelah tembok pembatas antara rumah kami dengan rumah mereka. Walau hati tak enak berprasangka buruk, kenyataannya mereka kurang ajar.

Ke depannya suami saya berniat membuat tulisan di atas sehelai kertas A3 yang berbunyi “JANGAN BUANG SAMPAH DI SINI”. Dia akan menggantungkan tulisan itu di pohon cemara yang menjulang tinggi di pekarangan belakang rumah kami dan bisa terlihat dari lantai dua rumah tetangga. Jika mereka tidak merasa tersindir juga dan tidak berhenti membuang sampah ke rumah kami, maka sudah tiba waktunya untuk konfrontasi langsung (sebuah hal yang saya sangat enggan lakukan).

Kembali ke bunga.

Kami langsung menuju toko yang dijaga oleh tukang taman saya. Saya tidak pernah tahu siapa pemilik toko itu; yang saya tahu setiap kali saya membeli tanaman di sana bapak itu selalu sigap melayani. Pak Herman namanya juga merapikan taman di rumah kami seminggu sekali setiap hari Selasa.

Waktu kami tiba di depan toko saya melihat seorang pegawai yang saya belum pernah lihat sebelumnya. Rupanya itu istri Pak Herman. Bapak sedang bantuin pamannya masang genteng, kata ibu itu. Waktu adik saya tanya-tanya harga tanaman, dia tidak tahu apa-apa. Tugas dia hanya menyiram tanaman dan menjaga toko. Menjaga toko tanpa berjualan begitu? Entahlah.

Adik saya yang tidak puas dengan jawaban si ibu kemudian mengunjungi toko-toko lain di sebelahnya. Misi pertama adalah mencari pot yang panjang. Kami berhenti di sebuah toko yang sedang menurunkan pot-pot dan tetek bengek perkebunan lainnya dari atas sebuah truk pick-up. Terus terang saya tidak sreg dengan si ibu pemilik toko. Barang dagangannya terkenal lebih mahal 30% daripada toko-toko lain di Greenmall itu.

Pesaingnya cuma satu: toko pertama yang terlihat dari tempat parkir. Waktu saya minta ibu penjaga toko langganan saya untuk menanyakan apakah toko itu menjual pot atau tidak supaya dipakai untuk tempat tanaman yang saya beli dari si ibu, dia sontak menolak.

Si ibu enggan berhubungan dengan toko itu. Pemiliknya memang terkenal galak dan tidak mau bersosialisasi dengan pedagang lain. Biasanya antar toko saling memberi pinjaman barang jika ada yang kehabisan stok, namun hanya toko itu yang menolak meminjam atau meminjamkan barang dari atau ke toko lain.

Adik saya sudah keburu kepincut dengan tiga tanaman berbunga yang terlihat sangat cantik ketika ditaruh di pot gantung walaupu harganya cukup mahal. Dia membeli tiga tanaman dan tiga pot sebagai pengingat akan anak-anaknya, dan dua buah pot panjang berwarna putih. Saya tanya kenapa tidak warna hitam saja? Rupanya warna putih lebih jelas terlihat walaupun pada malam hari, jadi orang-orang yang mau duduk sembarangan di terasnya akan segera menyadari keberadaan pot-pot itu.

Berhubung toko langganan saya menjual bunga-bunga dengan harga langganan, alias paling murah di seluruh Greenmall, akhirnya adik saya dan suaminya membopong pot-pot yang mereka beli dan media tanam ke toko pertama yang kami kunjungi. Di sini suasananya mulai berubah canggung.

Rupanya si ibu penjaga toko selain tidak tahu harga barang, dia juga tidak pernah memindahkan tanaman dari polybag ke pot. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan sekam dan media tanam yang tersedia. Dia tidak tahu bagaimana membuat tanaman-tanaman itu tersusun rapi di dalam pot.

Dalam keadaan panik, dia mencoba menelepon suaminya. Suaminya juga tidak bisa membantu karena handphone-nya tanpa kamera untuk melangsungkan panggilan dengan video. Saya yang tidak sabar kemudian mengambil alih menanam delapan buah pohon ke dalam dua pot panjang.

Saya menunggu cukup lama sampai si ibu datang membawa sekop kecil untuk mengaduk dan membalik tanah karena saya ogah memegang langsung media tanam yang diselipi kotoran kambing yang masih utuh. Disgusting banget, kata si Abang.

Adik saya memegang anak saya yang masih bayi, sedangkan suaminya menjaga dua anak saya yang lain. Saya minta ibu itu melepaskan tanaman dari sekam di dalam polybag. Sekam yang ada saya campur dengan media tanam. Begitu tanah tercampur, saya masukkan akar tanaman-tanaman itu ke dalam pot. Saya memastikan akar dan sekitar seperlima bagian batang berada di bawah permukaan tanah.

Begitu terus saya lakukan sampai delapan pohon dari tiga jenis tanaman selesai saya susun di dalam pot. Jangan tanya saya nama-namanya karena saya sungguh tidak ingat. Yang saya tahu tanaman yang adik saya pilih adalah tanaman yang tahan sinar matahari yang sangat terik sekalipun dan tidak cepat mati ketika tidak disiram setiap hari. Dua faktor ini sangat penting untuk adik saya yang baru belajar berkebun atau bercocok tanam.

Dia sebenarnya sangat tertarik membeli beberapa pot bunga mawar yang ditawarkan oleh salah satu toko, tapi saya melarang. Merawat mawar itu tidak mudah; kita harus terus memperhatikan kadar air dalam tanah, pupuk untuk menyuburkan tanah, rajin mengguntingi ranting-ranting supaya tunas baru dapat tumbuh, dan seterusnya dan lain sebagainya.

Memelihara dan merawat pohon mawar adalah sebuah tugas istimewa yang sebaiknya tidak dilakoni oleh seorang pemula seperti adik saya. Mendengar dia berkata Good Luck kepada tanaman-tanaman yang dia beli, saya tahu dia juga harap-harap cemas mereka tidak akan mati kepanasan, kekeringan, atau kebanjiran air. Dalam hati saya juga berkata hal yang sama, untuk dia dan untuk peliharaannya yang baru.

Sebenarnya saya juga ingin berbelanja tanaman baru, namun apa daya pekarangan rumah sudah penuh. Ada beberapa pot yang saya kosongkan minggu lalu karena saya ingin mencoba menumbuhkan sayuran dari sisa potongannya, seperti wortel, kentang, dan bawang bombay. Hmm, saya harus mencari video tutorialnya dulu nih di Facebook.

Sepertinya saya sudah pernah menyimpannya, tapi begitulah dengan banyak hal inspiratif di dalam dunia ini: seringkali kita simpan tanpa pernah kita tengok lagi. Kali ini tidak boleh. Pot sudah ada, media tanam sudah ada, jadi sudah waktunya mengumpulkan niat dan benar-benar terjun mengerjakannya.

Mulai besok deh ya ….

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s