Cuti: Seluk-Beluk dan Hakikatnya

Hari ini suami saya cuti mendadak dari tempat kerjanya. Apa pasal? Penyakit migrain saya kumat. Sudah sekitar delapan tahun sejak penyakit ini kambuh sedemikian parah. Kepala terasa mau pecah, ada beribu jarum yang menusuk-nusuk setiap sisi batok kepala. Begitu saya membuka mata, dunia terasa berputar. Kondisi mata saya yang silindris menambah rasa mual yang membuncah di perut.

Sejak kemarin malam saya sudah mengeluh sakit. Setelah minum obat pereda sakit kepala, rasa nyerinya berangsur-angsur menghilang setelah sekian lama. Dosis penghilang rasa sakit yang hanya setengah dari obat saya yang biasanya pasti adalah penyebabnya. Syukurlah saya masih bisa tidur nyenyak semalam. Rupanya memaksakan menulis di handphone dengan kondisi sakit migrain adalah resep manjur untuk kondisi terkapar.

Pagi tadi migrain kembali menyambut saya begitu saya membuka mata. Niat hati ingin mempersiapkan anak-anak untuk PJJ, apa daya saya hanya bisa memanggil suami dengan suara lemah.

“Bisa ijin kerja dari rumah aja ga hari ini?” pinta saya.

“Oke,” jawabnya.

Setelah itu saya kembali membaringkan diri. Kedua anak yang paling besar sudah sangat mandiri; mereka bisa mempersiapkan diri sejak bangun sampai waktunya ikut renungan pagi bersama guru dan teman-teman sekelasnya. Sayup-sayup saya mendengar suara mereka yang memberi salam kepada guru seusai renungan.

Waktu pasti sudah menunjukkan pukul 7.50, batin saya. Saya sungguh berharap suami bisa WFH hari ini. Saya sangat memerlukan bantuan untuk mendampingi dua anak yang belajar dari rumah dan satu bayi yang sedang girang-girangnya bertualang.

Saya tunggu-tunggu tapi suami tidak kembali lagi ke kamar kami. Kepala seperti digandoli batu. Dalam kondisi tak tahan dan mual berat, saya jatuh tertidur lagi.

Begitu saya membuka mata lagi saya terkejut. Si bayi duduk manis di depan saya, menepuk-nepuk wajah saya untuk membangunkan saya, dan dia sudah rapi dan wangi dengan rambut basah karena baru keramas. Ini jam berapa ya, apa suami tidak harus meeting dan lain sebagainya, pikir saya cemas.

Tak lama kemudian suami datang dan berkata,

“Hari ini aku cuti. Dengan istri sakit, dua anak PJJ, dan satu bayi, aku pasti ga akan konsen kerja. Too much to handle.”

Dalam hati saya lega sekali. Karena bukan hanya soal mendampingi anak belajar, tapi juga memenuhi kebutuhan mereka akan:

1) rumah yang bersih (karena mereka alergi terhadap debu),

2) makanan (saya harus masak karena mereka gampang alergi terhadap makanan yang dibeli dari luar),

3) pakaian yang bersih (ada siklus tak pernah terputus yang terdiri atas mencuci, menjemur pakaian, mengambil jemuran, melipat dan menyetrika pakaian).

Saya tidak sanggup melakukan itu semua dengan migrain yang membuat saya sulit untuk berdiri sekalipun.

Suami yang baik hati membiarkan saya beristirahat dan mengambil alih semua tugas dan tanggung jawab saya. Di dalam mimpi saya mendengar suara vacuum cleaner mengitari rumah dan mencium aroma masakan. Dia pintar masak, lho, jauh lebih pintar dari saya.

Sewaktu sedang break antar conference call, anak saya yang kedua datang dan memeluk saya erat sekali.

“I never saw you get sick before.”

Saya hanya tertawa. “They say mommies never get sick.”

Dahinya berkerut. “But you do now.”

Suara bapaknya yang memanggil dia untuk conference call lagi membuat dia harus segera meninggalkan saya. Dia memeluk saya erat sekali lagi sebelum saya kembali berbaring sendirian. Saya tidak tahu waktu sudah menunjukkan pukul berapa. Yang pasti kepala saya terasa sangat berat, saya belum sarapan, dan saya tidak punya tenaga untuk melakukan apa pun juga.

Menjelang makan siang saya bangun dari tidur panjang dan memulai rutinitas. Kepala saya masih berputar tapi sudah lebih baik dibandingkan kemarin malam. Aktivitas yang mendadak banyak membuat saya ngos-ngosan dan berkeringat dingin. Syukurlah suami ada di rumah untuk menemani anak-anak sampai PJJ mereka berakhir hari ini. Dia baru pergi kerja sebentar sore hari ketika kondisi saya sudah membaik.

Pagi ini dia menghabiskan banyak waktu dengan si bungsu. Dia baru mengerti maksud saya waktu saya mengeluh bahwa si Adek susah sekali diajak masuk ke dalam rumah. Begitu dia ada di luar rumah, saya harus siap-siap menghabiskan minimal satu jam untuk menemani dia keluyuran. Akibatnya banyak pekerjaan rumah yang terbengkalai dan saya jadi tidak bisa memantau PJJ si Kakak dan si Abang.

Suami saya memandang dengan takjub bagaimana anak kami yang bungsu dengan luwes keluar masuk ke rumah tetangga di sebelah kanan dan kiri. Rumah-rumah di kompleks kami memang tidak berpagar. Walaupun demikian, saya sungkan jika anak saya terlalu sering berkeliaran di pekarangan rumah orang.

Suami yang lebih gesit dari saya akhirnya bisa menangkap si bungsu dan membopongnya pulang. Pada satu titik dia kabur lagi dan berhasil bersembunyi di belakang pohon cemara di teras kami. Suami saya memanggil sambil menyalakan kamera di handphone-nya. Sedari pagi dia belum memvideokan aksi imut si bungsu.

Setelah beberapa kali dipanggil akhirnya si bungsu keluar juga dan … brak. Dia jatuh terjerembab ke pohon mawar. Tangisnya pecah dan suami saya pun panik. Apalagi mendapati kulit yang tergores-gores tanah yang tidak rata dan duri tajam dari pohon mawar.

Sambil mendengarkan cerita suami, saya sambil memijati kaki si bungsu. Kaki mulus itu perlahan-lahan mendapat luka di sana-sini karena dia terlalu aktif. Saya tersenyum simpul; saya sangat senang suami bisa melihat kesibukan saya sehari-hari.

Hari ini suami membiarkan saya cuti. Cuti ini sangat berharga dan sepertinya baru kali keenam saya ambil setelah menikah hampir dua belas tahun lamanya. Berbeda dengan cuti yang suami ambil dari tempat kerjanya, cuti saya ini tidak dibayar (unpaid leave). Cuti suami hari ini adalah paid leave, cuti yang dibayar dalam artian gajinya tidak dipotong karena dia tidak masuk hari ini.

Cuti dari tempat kerja pada intinya ada dua: 1) paid dan 2) unpaid leave. Cuti yang dibayar adalah cuti yang merupakan hak setiap pekerja. Cuti ini didapatkan sebagai hasil durasi kerja. Setiap pegawai baru tidak berhak mendapat cuti selama masih dalam masa percobaan atau masa kontrak. Pegawai tidak tetap (kontrak) yang diangkat menjadi pegawai tetap akan berhak atas dua belas hari cuti dalam setahun setelah bekerja penuh selama dua belas bulan.

Jadi, hitungan gampangnya dari satu bulan masa kerja setiap pegawai berhak atas satu hari cuti. Jumlah hari cuti dalam setahun bisa bertambah jika masa kerja sudah melampaui angka tertentu. Sebagai contoh, di kantor lama suami saya mendapat jatah cuti empat belas hari dalam setahun setelah bekerja selama lima belas tahun di perusahaan itu.

Selain cuti yang merupakan hak per tahun, ada juga cuti yang diberikan karena suatu kejadian. Cuti yang saya tahu ketika saya masih jadi budak korporasi adalah:

1) cuti karena haid,

2) cuti karena merawat suami atau istri yang sakit,

3) cuti karena peristiwa keagamaan, seperti: acara khitanan dan baptisan anak,

4) cuti karena menjalankan ibadah dalam waktu lama, seperti: umroh dan naik haji.

Ketika masih bekerja di Departemen Human Resources, cuti yang paling pelik untuk diberikan adalah cuti haid. Cuti ini diberikan tanpa pihak manajemen bisa memverifikasi kebenarannya. Apakah pegawai yang mengajukan cuti haid itu benar kesakitan karena haid atau hanya mencari-cari alasan, tidak ada yang tahu. Menyediakan dokter untuk mengecek kebenaran dari setiap pengajuan cuti haid adalah sebuah pemborosan sumber daya: orang dan uang.

Oleh karena itu saya cukup menyambut penghapusan cuti tersebut di Omnibus Law. Biarlah wanita yang memang kesakitan karena mengalami haid mengajukan cuti karena sakit dengan verifikasi dokter, tanpa harus mendetailkan penyebab sakitnya. Ini juga untuk menjaga dignity dirinya di hadapan admin HR yang mengurus pengajuan cuti, perhitungan uang makan, absensi, dan lain sebagainya.

Saya tidak tahu apakah cuti untuk merawat suami atau istri yang sedang sakit dihapus juga di dalam Omnibus Law. Praktek pemberian cuti ini yang saya tahu berbeda antar perusahaan. Di kantor lama, suami saya berhak atas maksimal tiga hari dalam setahun untuk merawat saya jika saya sakit. Di kantor yang sekarang, dia tidak mendapatkan cuti seperti ini. Cuti yang dia ambil hari ini untuk merawat saya dipotong dari jatah dua belas hari dalam setahun masa kerjanya.

Cuti karena peristiwa keagamaan dan menjalankan ibadah juga berbeda prakteknya antar perusahaan. Untuk peristiwa seperti khitanan dan baptis yang lazimnya diselenggarakan di akhir pekan, cuti yang diberikan adalah untuk menambah waktu berkumpul dengan keluarga. Jika cuti ini dihapus, maka pegawai dapat mendapatkan waktu berkumpul itu dengan mengajukan cuti individu yang dipotong dari jatah setahun.

Apapun jenis cutinya, ada dua prinsip pengambilan cuti yang dianut oleh kebanyakan perusahaan, yaitu:

1. Karyawan tidak diganggu pada hari cutinya.

Ini prinsip yang saya dan suami pernah temui di kantor lama (kami dulu rekan kerja dalam satu kantor). Pada hari cuti kami benar-benar tidak diganggu oleh urusan pekerjaan. Kami memiliki waktu untuk membereskan urusan personal yang tertunda seperti mengurus KTP, kartu keluarga, dan SIM. Out of office notice di email kami sudah cukup untuk memberikan informasi bahwa kami sedang cuti, tidak bisa diganggu, dan diskusi bisa dilanjutkan setelah kami masuk kerja kembali.

Kebanyakan rekan kerja bisa memaklumi dan menahan diri untuk menelepon. Akan tetapi, praktek yang berbeda bisa terjadi di satu perusahaan yang sama. Ketika saya dipindahkan dari kantor pusat ke kantor area yang berada di satu pulau tersendiri, bagaimanapun saya mengajukan cuti jauh-jauh hari dan disetujui oleh atasan, saya harus patuh pada prinsip kedua berikut ini.

2. Karyawan dapat diganggu pada hari cutinya dan wajib segera merespon jika perusahaan membutuhkan.

Buat bos saya di kantor area, cuti berarti pindah tempat kerja. Dari ruangan saya di kantor yang bisa dilihat dari ruang kerja si bos menjadi mobile selama handphone saya masih bisa menerima panggilan telepon. Handphone yang berbunyi pada pukul dua belas malam sekalipun harus saya angkat kalau si bos menelepon. Dan ini terjadi bukan satu, dua kali.

Hari-hari cuti saya dipenuhi oleh panggilan telepon dari kantor dan tatapan kesal dari tunangan, orang tua, dan anggota keluarga saya yang lain. Mereka sengaja menghabiskan waktu bersama saya pada hari saya cuti, apalagi ketika itu saya hanya bisa terbang ke Pulau Jawa satu kali dalam sebulan.

Kondisi seperti itu yang membuat saya berpikir beribu kali jika ingin menikah dan tetap bekerja di tempat yang sama. Setelah menikah tentu saja prioritas saya akan berubah. Saya tidak mau menjadi budak korporasi. Saya mau bekerja dalam kondisi menghargai aturan perusahaan dan dihargai hak-haknya sebagai karyawan, termasuk soal cuti ini.

Doa saya didengar; empat bulan sebelum menikah saya pindah ke sebuah perusahaan yang tidak mengusik karyawannya yang sedang mengambil cuti.

Bagaimana dengan di tempat kerjamu, atau di tempat kerja orang yang kamu kenal? Di kantor suami yang sekarang, cuti dipandang dengan prinsip nomor dua. Akibatnya orang kantornya tidak segan menelepon atau mengirimkan pesan, sekalipun sudah ada notifikasi “Sedang Cuti” di email ataupun di profile picture pada aplikasi Whatsapp.

Oh well.

Lain padang, lain belalang.

Lain kantor, lain prakteknya.

Cuti satu, tak tumbuh seribu.

Tak ada darurat, besok bisa tunggu.

 

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s