Parks in Singapore – Part 4: Fort Canning Park

Hi, there! We’re on our fourth day of exploring the parks in Singapore. Information about the parks on the previous three days can be found on the following links:

https://rijotobing.wordpress.com/2016/11/12/parks-in-singapore-part-1-macritchie-reservoir/

https://rijotobing.wordpress.com/2017/01/27/parks-in-singapore-part-2-jacob-ballas-childrens-garden/

https://rijotobing.wordpress.com/2017/01/28/parks-in-singapore-part-3-far-east-organization-childrens-g/

 

This post is long overdue (like almost 2 years, my bad), but I will try my best to dig from my memory what we did in the fourth park in October 2015. For the fourth day, we decided to wander not far away from our hotel in Orchard area. The main reason for that decision was my boy’s crankiness whenever we got off the bus in Singapore. He would be squealing with delight whenever we got on the bus, and he would be throwing a tantrum whenever we got off simply because he loved taking a bus ride. So I thought the shorter the ride was, the better. I looked up on the internet for a nearby park and stumbled across Fort Canning Park. From the Wikipedia I read that Fort Canning Park is a small hill, slightly more than 60-meter high, located near Singapore’s central business district. Our family always loves wandering around body of waters and higher grounds. Whenever we go on a vacation those are two things we will explore right away, so I was totally sold on the idea of exploring this park for a day.

Just like the previous three days we left hotel after ten o’clock in the morning after a long and relaxing breakfast. We took the bus and got off a couple of minutes after. My boy threw a fit right after we went out of the bus door, leaving me embarrassed and exhausted on the side of the road, trying to talk him into getting on his stroller. My overly patient effort came in vain, so I carried him in my arms with one hand pushing the stroller and another hand for my daughter to hold while we crossed the street. I was instantly discouraged when I saw the number of steps leading to the park’s entrance. Sixty meter high it was. Together my daughter and I carried the stroller while my boy kept clinging in my arms. We were all drenched in sweats as soon as we got to the hill. My daughter had been carrying her sketchbook during this trip, so after that exhausting hike she went to a bench and drew a little while her brother kept screaming, asking for a bus ride (oh, my!).

The lush greenery, the fresh air, the singing bird, and the city’s high-rises we could see from where we were sitting were enough to keep us glued to our bench for the next twenty minutes or so. My boy’s mood was still poor but it didn’t stop his sister to start exploring and making sketches of what she was seeing.

We went to see some interesting objects like the house where Sir Stamford Raffles, who founded Singapore, used to live, a light house, and several cannons on the fortress wall surrounding the park. It turned out the now park was once a fortress used as the residence for the Residents and Governors of Singapore. We could still see some military facilities surrounded by wire fences as we strolled deeper into the park. What I liked best was the information boards on every path we took, describing the history of the founding of Singapore up to the history of Fort Canning itself. The kids were happy because they got to play in an open and green area, Mama was happy because Mama got to learn history.

After some time we arrived at this large white gate with a cross and “IHS” writing on the upper part of it. There was no information what “IHS” stood for, unfortunately. The gate reminded me of a gate in Taman Sari in the area of the Sultanate of D.I.Y Yogyakarta. We were surprised by what we saw after we went through the gate. It was a vast field with a colonial style building on the highest ground, overlooking the high-rises around the park. The building was all white and was used as some kind of museum: Pinocothéque de Paris – Fort Canning Arts Center. As tempting as it was to go inside the museum and take a look at their collections, my kids refused to leave the field where they played catch. So I sat on the grass and watched them play for the next thirty minutes or so, after we had our very late lunch.

 

The time passed by and it was almost four o’clock in the afternoon. It’s time to go back before we’re getting trapped in the rush hour. We took a detour and circled the park to get to the bus stop. On our way back we were mesmerized by the contrast views of the city and the greeneries. Before we took the steps down my daughter and I took a really deep breath. My boy was back to being cranky because he was tired after running around in the field, so I had him in one arm (again), and carried the stroller with another arm. I was grateful that my daughter managed to go down by herself. She even checked on how we were doing every now and then. I was so proud of her.

All in all, it’s been a relaxing and short adventure. We’d definitely come back another time with some picnic blanket, abundant snacks, and soccer ball.

Stay tuned for the 5th part of the Parks in Singapore travel report!

 

 

 

 

 

 

 

Kitchen Makeover

Kurang-lebih 3 bulan lalu setelah selesai merenovasi jendela perpustakaan kami yang terkena rayap, saya menulis begini di blog:

It’s almost impossible.

I’m beyond exhausted.

I’m too old for this.

sebagai pembukaan post saya yang berjudul “Renovasi Rumah Sambil Menjadi Taxi Mom”. Kenapa saya tulis begitu? Karena memang pada kenyataannya merenovasi rumah sambil mengurus rumah dan anak-anak, dan menjaga kewarasan seluruh anggota keluarga saat: 1) rumah penuh debu, 2) barang-barang harus dimasukkan ke dalam kardus-kardus, 3) Mama lelah lahir-batin berdiri hampir 8 jam setiap harinya untuk mengawasi tukang dan pergi ke toko material benar-benar BIKIN BADAN RONTOK DAN HATI KAPOK. Namun ternyata saya termasuk makhluk pelupa. Saya lupa capek yang saya rasakan setelah saya melihat hasil final renovasi yang saya kerjakan. Perasaannya kurang-lebih sama dengan perasaan setelah melahirkan dua anak saya. Waktu melihat bayi yang baru lahir, rasa lelah saat mengandung dan sakit saat melahirkan itu ga ada apa-apanya. Akibat sifat pelupa saya, saya jadi selalu merasa siap dan tertantang untuk mengambil proyek berikutnya. Memang saya selalu merasakan kepuasan batin setelah selesai merenovasi sesuatu.

Setelah renovasi tak direncanakan di bulan Mei itu, saya berharap tidak akan ada lagi renovasi sampai tahun 2021 (sesuai program maintenance rumah setiap 6 tahun). Apa daya, kabinet bawah kitchen set di sebelah sink ambruk beberapa minggu kemudian karena udara lembab dan tetesan air dari sink yang bocor. Mau ganti kabinet saja, kok tanggung. Sudah setahun terakhir sebenarnya saya sudah ga sreg dengan tekstur finishing kitchen set yang sekarang. Dulu saya memilih tekstur itu karena barang impor dengan harga terjangkau dan bisa sering dibersihkan saat anak masih 1 orang. Setelah anak menjadi 2 orang dan banyak teman yang sering datang main/makan ke rumah, urusan bersih-bersih dapur dan kitchen set jadi beban tersendiri buat saya. Finishing yang lama memiliki warna krem dan abu-abu, tanpa pola, dan tekstur kasar yang tidak mudah dilap. Akhirnya saya tekadkan, ya sudah ganti kabinet sekalian ganti finishing kitchen set-nya.

HPL yang saya pilih kali ini berwarna putih dengan pola salur abu-abu (supaya tidak tampak terlalu membosankan) dan bertekstur glossy. Mengapa memilih warna putih? Dapur kami adalah bagian dari satu ruangan besar yang dibagi tiga dan minim pencahayaan alami. Cahaya matahari tidak langsung bisa masuk sedikit melalui jendela ke arah ruang tamu (bagian barat rumah) dan jendela ke arah taman dalam (bagian timur rumah). Dapur terletak bersebelahan dengan ruang TV dengan perabotnya yang berwarna gelap, dan dengan gudang yang sudah lebih dulu memakai kabinet dengan finishing HPL putih. Pemilihan warna putih untuk kabinet yang dibangun sampai ke plafon akan memberikan kesan ruangan yang tinggi, terang (karena tekstur HPL merefleksikan cahaya lampu), dan bersih (kesan utama warna putih).

Jumlah tukang yang dikerahkan adalah 8 orang dengan waktu kerja 4 hari. Pekerjaan dimulai dengan mengelupas lapisan HPL lama, mengamplas kayu dari kabinet untuk menyiapkan permukaan yang halus buat HPL yang baru, menempel HPL baru, kemudian instalasi di dapur. Pekerjaan hari pertama seluruhnya berfokus pada 9 pintu kabinet atas dan 1 pintu rak pengering piring. Pekerjaan hari ke-2 berfokus pada pembongkaran kabinet bawah yang rusak dan mengerjakan 6 pintu kabinet bawah (termasuk menservis 2 rak sorong yang sudah berkarat). Pekerjaan hari ke-3 adalah mengelupas list-list dari bagian kabinet yang tidak bisa dibawa keluar rumah. Pada hari ini seisi rumah bau thinner yang dipakai untuk melarutkan lem yang menempelkan HPL lama ke multipleks. Anak-anak saya suruh diam terus di kamar dengan AC dipasang supaya tidak menghirup bau tidak sedap. Bau thinner tidak sedap bagi mereka, tapi sedap bagi saya (entah kenapa saya suka sekali bau thinner). Pekerjaan hari ke-4 adalah penempelan HPL baru pada list-list dan mencat dinding di bawah sink yang jadi terekspos karena kabinet dihilangkan dari bagian ini. Daripada udara lembab menyebabkan kabinet suatu saat lapuk lagi dan saya harus renovasi lagi, lebih baik material kayu dihilangkan dan potensi air yang mengembun di bawah bowl bisa diserap oleh lantai di bawah sink.

Sebelum renovasi dimulai, kami memasukkan semua barang yang ada di dapur ke dalam kardus-kardus. Kami sungguh kaget karena untuk dapur berukuran 2.1 x 1.5 meter persegi saja, barang-barang kami ternyata memenuhi 7 buah kardus TV ukuran 21 inchi. Yak, renovasi ini sekalian kesempatan untuk downsizing, mengurangi jumlah barang yang kami punya sampai tinggal barang-barang yang benar-benar kami pakai. Hal-hal mengejutkan yang kami temui selama proses downsizing:

  1. Astaga, ternyata kami punya 12 pack Nutrijell! Selama ini disimpan di mana saja? Ternyata terselip di antara tumpukan kopi, teh, dan lain-lain sehingga setiap kali ke minimarket pasti saya beli lagi karena saya kira stok habis.
  2. Astaga, buat apa kami punya lebih dari 50 buah tupperware? Teman-teman saya yang orang Korea sering memberi kimchi sekaligus dengan tupperware-nya. Pasti dulu saya simpan karena saya pikir bisa dipakai untuk menyimpan daging/ikan di freezer. Ternyata jumlah tupperware yang dibutuhkan untuk penyimpanan di freezer tidak lebih dari 10 buah untuk setiap kali penyimpanan.
  3. Astaga, ternyata kami punya panci yang belum pernah dipakai! Panci itu kami beli tahun 2015 di Chiang Mai dan benar-benar masih lengkap dengan packaging-nya. Lagi-lagi, ini gara-gara terlalu banyak barang yang ditumpuk di kabinet atas sehingga panci baru terselip di antara barang-barang lain. Dengan kabinet bawah yang baru, semua panci yang digunakan sehari-hari termasuk panci presto dan oven berada dalam jangkauan. Ga ada lagi alasan malas memasak suatu menu karena malas menjangkau panci di kabinet atas.
  4. Astaga, ternyata banyak bumbu yang sudah expired Juli kemarin! Yak, kantong sampah pun penuh dengan bumbu dan bahan makanan lain yang lupa dicek tanggal expiry-nya karena diletakkan terlalu berjejal dengan bumbu/bahan makanan lain.

Setelah semua proses sortir-pertimbangkan-buang/simpan tersebut, dapur dan kitchen set kami kembali terasa lapang dengan barang-barang seadanya. Ternyata punya space besar yang diisi dengan sedikit barang terasa jauh lebih nyaman dibandingkan punya space kecil yang dijejali entah barang apa saja. Semoga kondisi ini bisa bertahan dalam jangka waktu lama: barang-barang konsumsi (bumbu, snack, dll.) baru dibeli setelah stok habis dan barang-barang non-konsumsi (piring, sendok, dll.) tidak bertambah.

Ngomong-ngomong soal downsizing, saya jadi agak ketagihan nih untuk menerapkannya di area lain dalam rumah. Mungkin ini berkaitan dengan perasaan preparing the nest, perasaan wajib bersih-bersih untuk menyiapkan kelahiran bayi yang saya alami selama 2 kali di tahun 2009 dan 2013. Dua anak saya lahir di bulan Agustus, dan saya ingat banget sebelum mereka lahir saya deep cleaning sampai encok saking pengen rumah bersih luar-dalam. Rupanya kebiasaan itu berlanjut setiap tahun di bulan Agustus, yang biasanya dimulai dengan mencuci semua gorden di rumah. Rumah adalah makhluk organik yang perasaannya terus bertumbuh, tapi space-nya ga bertambah. Sudah saatnya menerapkan konsep jika ada barang baru yang masuk, harus ada barang lama yang keluar, supaya tempat yang terbatas tetap memberikan keleluasaan bergerak  dan tetap rapi menyimpan barang-barang kebutuhan semua anggota keluarga.

Yosh, saya mau mulai menyortir pakaian dan mainan anak-anak!

*) Foto di pojok kiri atas adalah dapur lama, foto di  pojok kanan bawah adalah dapur setelah makeover.

Mamatomo

Kata mamatomo dibentuk dari 2 buah kata dasar, yaitu: mama dan tomo (kependekan dari tomodachi yang berarti teman dalam bahasa Jepang). Saya baru tahu istilah ini beberapa minggu lalu dari teman saya yang tinggal di Jepang, dan menurut saya istilah ini tepat untuk menggambarkan hubungan pertemanan yang muncul ketika kita sudah berkeluarga dan mempunyai anak-anak. Secara harafiah mamatomo berarti sekumpulan mama yang menjadi teman karena anak-anak mereka sudah lebih dulu berteman. Mamatomo terbentuk karena aspek kesamaan komunitas dan hubungan baik yang sudah dijalani duluan oleh anak-anak dari mama-mama tersebut.

Orang-orang yang tidak memiliki hubungan darah dengan kita menempati posisi berikut dalam hidup kita: orang asing (stranger), kenalan (acquaintance), teman (friend), sahabat (best friend), kemudian sahabat yang lebih akrab dibandingkan anggota keluarga sendiri. Langkah pertama dalam memiliki hubungan dengan orang lain adalah menjadi stranger dan kemudian acquaintance bagi mereka. Begitu kita ada di dalam komunitas/lingkungan pergaulan tertentu, stranger dan acquaintance adalah dua hal normal pertama yang akan kita temui. Untuk menjadi friend atau bahkan best friend diperlukan waktu dan usaha dari semua pihak yang terlibat. Pertemanan akan terjalin saat kedua belah pihak sama-sama meluangkan waktu untuk saling mengenal karakter dan kebiasaan masing-masing, dan juga bersedia menghabiskan waktu bersama-sama untuk suatu kegiatan yang sama-sama disukai. Waktu pula yang akan menguji apakah pertemanan itu akan langgeng begitu karakter dan kepribadian seseorang pelan-pelan terungkap di hadapan teman barunya. Mempunyai atau tidak mempunyai teman adalah sebuah pilihan.

Orang dewasa lebih sulit untuk memiliki teman baru dibandingkan anak-anak. Ini kenyataan hidup yang tidak bisa dipungkiri. Orang dewasa kenyang dengan pengalaman menyakiti/disakiti dan mengecewakan/dikecewakan oleh orang lain. Oleh karena itu orang dewasa cenderung lebih berhati-hati dalam membina suatu hubungan. Buat mama-mama, kecocokan dengan mama-mama lain diikuti dengan harapan akan ada kecocokan antara para suami dan anak, syukur-syukur kalau seluruh anggota keluarga bisa berteman. Teman-teman yang bertahun-tahun ada dalam hidup kita, dengan siapa kita merasa nyaman, biasanya adalah teman lama yang didapat di sekolah atau tempat kerja karena sempat ada frekuensi berinteraksi yang intens antara kita dengan mereka.

Mama adalah makhluk perempuan paling protektif dan defensif terhadap anak-anaknya. Mama memiliki peran dominan dalam  mendidik dan menanamkan nilai-nilai moral dan etika yang akan dianut oleh anak-anaknya. Jadi wajar saja jika mama sering kali menjadi filter untuk menentukan apakah anak-anak sedang terlibat dalam pergaulan yang baik atau yang buruk. Mama harus tahu teman dari anak-anak mereka, dan juga harus tahu orang tua dari teman-teman tersebut. Di sini mama bisa mengembangkan lingkup pergaulannya. Dari yang sekedar tahu, berinteraksi, banyak mengobrol, sampai akhirnya juga berteman dengan mama dari teman anak mereka. Itu idealnya. Ada juga kasus mama yang keberatan anaknya berteman dengan orang lain karena mungkin ada ketidaksesuaian tata krama, nilai moral dan etika, dan lain sebagainya. Jika ini terjadi, kecil kemungkinan mama akan menjalin pertemanan dengan orang tua dari anak tersebut.

Memiliki mamatomo memiliki tantangan tersendiri karena yang terlibat dalam pertemanan itu bukan hanya mama-mama tapi juga anak-anak. Mustahil menemukan orang dengan karakter dan nilai-nilai yang sama persis dengan kita. Bagaimanapun juga kita harus mempunyai sikap menerima dan toleransi terhadap orang lain, seperti orang lain menerima dan bertoleransi terhadap kita. Misal Mama A selalu membuang sampah pada tempatnya, namun Mama B sering membuang tissue di lantai saat mereka makan bersama. Ketidakcocokan seperti ini bisa berujung kepada empat hal:

1) Mama A menggunjingkan kebiasaaan jelek Mama B dengan mama-mama lain tanpa sepengetahuan Mama B.

2) Mama A menegur langsung Mama B, Mama B tidak terima, dan akhirnya mereka putus pertemanan.

3) Mama A menegur langsung Mama B, Mama B terima dan mengubah perilakunya, mereka berdua tetap berteman.

4) Mama A hanya menyimpan ketidaksukaannya dalam hati, namun secara tidak sadar mempengaruhi anaknya untuk menjauhi anak Mama B karena khawatir anak Mama B juga memiliki kebiasaan buruk itu.

Tantangan bagi mamatomo adalah memisahkan konteks pertemanan anak mereka dengan konteks pertemanan mereka sendiri. Jika misalnya anak-anak bertengkar karena berbeda pendapat, pantaskah mama-mama ikut campur untuk ikut berdebat? Anak-anak adalah individu sendiri yang wajib menyelesaikan masalahnya sendiri. Sikap mama to the rescue hanya akan membuat anak tidak mandiri dalam mempertahankan pendapatnya dan dalam menyelesaikan konflik. Yang penting di sini adalah mama-mama untuk menahan diri, tidak bersikap subjektif terhadap teman si anak, bersikap rendah hati dan terbuka untuk menerima koreksi terhadap kepribadian si anak, tega membiarkan anaknya memiliki dan menghadapi konflik tanpa bantuan orang tua. Kalau mama-mama tidak menahan diri, konflik antar anak bisa melebar kepada konflik antar mama. Perselisihan menjadi lebih runcing dan solusi sulit didapat karena mama-mama cenderung sangat membela anaknya sendiri, menganggap anaknya paling benar dan menganggap anak orang lain paling salah.

Bagaimana jika mama-mama yang bertengkar? Ini lebih pelik karena mama-mama cenderung mau dibela oleh anaknya. Mereka mungkin tidak mengatakan terus-terang kalau mereka sedang ada masalah dengan teman mereka, namun biasanya secara tidak sadar/sadar mereka akan mempengaruhi anak mereka untuk ikut membela mereka. Mama jadi sulit untuk tetap bersikap objektif terhadap teman anak mereka kalau mama punya sikap “it’s us against them”, sebuah sikap yang tidak sehat untuk menjalin pertemanan yang langgeng. Ingatlah mama-mama, anakmu bukan kamu. Jika kamu tidak cocok dengan temanmu, tidak berarti anakmu juga tidak cocok dengan anak temanmu. Mengajari anakmu untuk menjauhi temannya hanya karena kamu berselisih dengan orang tua anak itu, hanya akan memberi teladan yang buruk bahwa mama tidak bisa mengelola emosi, mengkarantina masalah, dan menyelesaikan konflik.

Tentu saja, semua hal yang saya sebut di atas jauh lebih mudah ditulis daripada dilakukan. Hal mendasar dalam pertemanan adalah fairness and respect, keadilan dan rasa hormat. Keadilan membuat mama bisa tetap ingat kalau masalah yang dia hadapi bukanlah masalah yang anaknya hadapi. Rasa hormat membuat mama bisa tetap menghargai orang yang sedang tidak dia sukai sebagai manusia yang punya sudut pandang dan pendapat lain, yang mungkin sering kali tidak cocok dengan sudut pandang dan pendapat yang dia sendiri miliki. Sama halnya jika terjadi perselisihan di antara anak-anak, mama-mama perlu menekankan kepada anak-anak untuk tetap memiliki fairness and respect itu. Jadilah pendengar jika anak ingin berkeluh-kesah akan masalahnya, beri pendapat jika diminta, tahan diri untuk tidak cepat mengkritik pihak sana. It takes two to tango, dalam semua problem ada dua pihak yang berkontribusi untuk menciptakan (dan juga mengakhiri) konflik. Jadilah sumber air yang mendinginkan kepala yang panas dan memulihkan hati yang terluka bagi anak-anak. Di situlah mama-mama bisa membuktikan tingkat kedewasaan yang kelak harus dimiliki oleh anak-anak seiring dengan mereka beranjak dewasa.

Sekalipun mama/anak memutuskan untuk tidak menyukai atau tidak berteman lagi dengan mama/anak lain, itu tidak apa-apa. Kita diciptakan tidak untuk berteman dengan semua orang. Sama halnya dengan frekuensi radio, kadang kita menemukan orang yang frekuensinya sama atau kadang kita menemukan orang yang frekuensinya berbeda sama sekali dengan kita. Tidak apa-apa jika tidak nyambung; berteman adalah pilihan dan tidak bisa dipaksakan. Nikmati pertemanan dengan orang-orang yang punya banyak kesamaan dengan kita, bersikap ramahlah terhadap orang-orang yang tidak cocok dengan kita.

Movie Review: War for The Planet of The Apes

The only reason I went to see this movie was because Dunkirk was showing much later last Saturday night. Many times I don’t really think about a movie’s rating and reviews before watching it in the theater. Be it romantic comedy, superheroes, or thriller suspense movies, as long as I’m drawn to the actors I would very much go, see, and judge for myself. I had expected War for The Planet of The Apes (WFTPOTA) to be a laid back movie, packed with superb and breath-taking actions only. Boy, how could I be so wrong? Fifteen minutes into the movie and I thought, oh crap, it’s mostly a silent film, something I always find distasteful because I like listening to people’s voice and how their emotions are conveyed through it. And more to that, WFTPOTA made me think and contemplate when I just wanted to relax and chew my popcorn.

Caesar, the leader of the apes in this movie, could speak English and so could some of his apes companions/enemies, while the other apes used sign language to communicate with each other and with Caesar. Two subtitles (apes language to English and English to Bahasa Indonesia) were present around seventy percents of the movie. The sentences presented were simple, leaving me to wonder whether these proclaimed intelligent apes were actually intelligent. I watched Rise of The Planet of The Apes (2011) simply because James Franco was starring in it. It was a good enough action movie, not forcing me to think much. I didn’t watch the second installment, Dawn of The Planet of The Apes (2014), and it’s a contributing factor why I felt this movie was difficult to understand without seeing the previous installments.

The number of apes was increasing, they became smarter than humans, they’re wiping off the existent human beings by infecting virus which weakened people, and at the end they could take over the earth so a war needed to be set against them. So what? Caesar didn’t seem to lead that many of apes, and they didn’t seem to occupy earth as much as they’re suggested to. Even the scenes in the soldier camp from the middle to the end of the movie showed that the number of apes was less than the number of the soldiers. The conflict began when a bunch of soldiers were in the hunt for Caesar and came face to face with him and his troop. Caesar spared the lives of the surviving soldiers and by that he sent a message to the Colonel that he wanted no war between the apes and the humans. Like typical human beings, the surviving soldier forgot that he was once saved and joined the killing spree for the apes as he, the Colonel, and many more soldiers invaded the place where the apes lived. Caesar’s wife and son were killed by the Colonel, making Caesar vow to take revenge. Winter, his supposedly trusted aide, betrayed the apes and went to the soldiers’ side. There went Caesar with three of his friends to find the Colonel and kill him; after he sent every ape he led to the dessert to find a new home.

On their way, they encountered a mute human girl who became abandoned because Caesar killed her (supposedly) father. The girl joined their adventure and so would an ape they met on their way to the soldier camp. This ape, calling himself “Bad Ape”, ran away from the zoo and apparently could speak English (hooray!). One of Caesar’s companions was killed when they were spying the soldier camp they’re heading to. Caesar was captured and he, along with other apes, was forced to work in the camp without food and water. When Caesar arrived, the apes were upset with him. If only he hadn’t left them, they wouldn’t have been captured by the soldiers. That disappointment was written all over their ape faces. But when Caesar defended an ape that was too weak and was still forced to work, the whole apes turned to support him. Caesar was beaten but he got to get food and water for the apes. The apes, being grateful and all, made him their leader once again. During his direct encounter with the Colonel, Caesar got to understand the reason why the Colonel was having a vengeance against the apes.

The soldier camp, the Colonel, the flag, the morning salutation were unmistakably inspired by a similar atmosphere set in the World War II (1939 – 1945), especially during Nazi infiltration in west European countries to annihilate the Jews. It’s not difficult to see the red lines: the Colonel was Hitler, his soldiers were Nazi soldiers, and the apes with their said growing intelligence were the Jews who were forced to work to the soldiers’ benefit until they’re not useful anymore and needed to be killed. Caesar here became a symbol of hope, of a wishful thinking of how different things might have become if there had been such leader with the Jews. The story was ending with an invasion by soldiers from the north who disagreed with the Colonel’s ambition to annihilate the apes. Those soldiers bore a significant resemblance with the Allies troops, also from the WW II. The difference between the Allies and these soldiers was probably they didn’t seem to care much about the wellbeing of the apes while they dropped bombs and shot guns at the Colonel’s men.

Caesar’s choice to go on his rampage hunting the Colonel (even in his small group) was exactly the same with the Colonel’s choice to go on a rampage hunting the apes. Caesar talked about having mercy regarding the killing of his wife and son, but he forgot that he didn’t have mercy himself when he killed the Colonel’s son. It’s typical humans, and apes, to demand from others something we don’t demand from ourselves, to forget that we once did what we now condemn other people to do. Many aspects of this movie is about taking a look in the mirror about what kind of personalities we claim to have, what we aim to achieve, and what we insist others to have. The story line was simple, the depicted scenery from rain forest to snowy ground to dessert was beautiful, and the ending was poetic enough with Caesar dying because of a wound. The scene changing was smooth and I couldn’t think of any scene cut to make the movie shorter. 

This movie lasted for almost 2.5 hours, and as much as it made me think, it was depressing enough for me.

Great Insights Coming From Mourning A Loss

The book of Ecclesiastes in the Bible says that it is better to go to a house of mourning than to go to a house of feasting, for death is the destiny of everyone; the living should take this to heart (Ecclesiastes 7:2). 

Over the years I’ve lost considerable amount of close family members, but I never had this kind of revelation until recently. It was indeed good for my soul to mourn over a loss, because I learned so many things within just twenty-four hours I had during the wake of my late Namboru (the younger sister of my father) in Medan yesterday. The insights I got are not new things under the sun; they’re just something that I must bear in mind while taking up my time living in this world. I personally hope these insights will help my friends. Somehow.

1. Money is the root of all evil.

More money leads to more self-righteousness. You think more money makes you better than everyone else, makes you deserve special treatment, and makes you a distinguished member of the society. What it does is making you acting rude and/or being evil to other people whom you presume have less than you do. There is always someone who has more money than you and the comparison/competition will never end. There’s no point of boasting about how much you earn because you can’t bring anything anyway to the after life. Money does get you a better tombstone when you die, but it doesn’t buy the heartfelt condolences people will feel at losing you. You don’t have the right to boss people around just because you assume you have more money than them. You don’t have the right to boss people around unless they are clearly working for you. 

2. Acceptance is the key to relief.

How many times do we say in our lives that that person should be doing this or that, that person should be saying this or that, and that nobody understands what we’re going through? We push our mind frames onto others and get disappointed when they don’t act the way we think they must. The solution to this problem is only one: acceptance. Accept that you are different than other people, that you have different stances and opinions, and that it’s okay to be different. When we accept we manage our expectations, and by managing our expectations we manage our emotions. Acceptance brings so much relief that at the end of the day you might wonder how come you are so bothered by these or those issues. Bear this in mind; you can’t change anyone but yourself. Your perspective, your response, your emotions are your responsibility. People can say/do whatever they want to you, but you have the full control over what to do about those gestures.

3. Be kind. No matter what.

Be kind to everybody; everyone has their own struggle. Be kind and don’t expect your kindness to be returned by the same person, in the near future, within the same context, and with the same scale you apply to yourself. That’s what my late Oppung Inang (my maternal grandmother) often told me, and it was amplified by my late Namboru. She told me that if I ever expect something in return when I do something nice, then it’s not kindness. It is transaction. Be kind not to get a pat on your back. Be kind not to get compliment. Kindness is not a gratification tool. Be kind and do it for your own sake.

4. Gossip benefits no one.

If you are tempted to talk about someone behind their backs, or if your tongue is tempted to say anything about anyone (regardless it’s good or bad), go eat. Gossips have no end and no beginning and they go spiraling out of control very fast. If you’re displeased, talk to the person causing it. If the circumstances don’t allow you to do so, talk to people who are trustworthy if you still have the need to ease your mind. Wrong judgment of choosing confidantes who can keep secrets can cause a misery for a long time. Don’t sweat over small stuffs. If, for example, you’re irritated because someone is using you as his emotional punching bag and there’s no way you can tell him directly that you mind, let it go. Their issues are not your problems. Their inadequate and inappropriate ways to behave and to carry themselves are their own responsibilities, not yours. Don’t be so touché; the world doesn’t revolve around you and how you should be treated. 

5. Don’t quarrel.

When arguing over an issue, we decide on the topic to argue about, we decide on the standpoints we and our opponent take, and we agree whether to agree or to disagree at the end of the argument. That’s a different case with a quarrel. When we quarrel we block other people’s voices and tend to listen only to our own. We argue just for the sake of the argument itself. How many disputes, heartaches, and even wars have happened on this earth just because one party is insisting that he’s right and the others are wrong? If only adults can restrain themselves from behaving like children. I’ve often seen how a quarrel goes when my children have “Yes, he did it/No, I did not” argument just to insist on who broke the Lego set (when they both actually did that even though not in the same time). By quarreling they try to find justification for their actions and they aim for recognition that they are not at fault at all (which is impossible). That’s a very childish act but is surprisingly being done by plenty of adults on a daily basis.

6. Don’t snap.

Hold your tongue, not everyone is used to the way you’re talking. We often forget that within a voice, there is a tone which is as important as the voice itself. Within a news/communication, there is a way to convey the message, and the way taken is as important as the news/communication itself. Even when you’re irritated, cranky, upset, and whatever, don’t leash your negative emotions on people you know or on some strangers. You don’t have the right to be mean, and they are not obliged to listen to your problems.

Right now I’m holding dearly to those insights because they had been proven to be applicable during the wake. Regarding acceptance, I’ve learned that people have their own ways to mourn. Mine was to cry my heart out silently while laying my head near the feet of my late Namboru. I stayed in that position for hours, for as long as I could when not so many guests were around to pay their respect. Within a few hours I was there I had seen people wailing over the death of my Namboru for a second, and in the next second asking their companions to record their mourning process and go live video on Facebook. I personally loathed that practice. Those people made our mourning seem cheap and meaningless, but acceptance made me hold my tongue. If it was their way to prove to the world that they’re the ones who felt the ultimate loss, then who was I to judge and criticize? Nevertheless I did snap once when one distant relative shook the bed on which my late Namboru was lying, just to prove that she suffered a lot (she made sure the phone camera was on while she was doing it, by the way). I was not sorry for losing my temper at that time because what she did was just outrageous.

Regarding gossips, I’ve learned that the most respect paid to the deceased and his/her family is by not evoking thoughts on what things should have been/should have not been done. My late Namboru had cancer and it had spread over many parts of her body over the course of twelve years. While mourning for my loss, I overheard the conversations among the distant relatives and guests about the correct medication she should have been taking. One person, saying that she’s a doctor, even linked my Namboru’s illness with the one Fidelis Ari’s wife had, although all news I have read so far have indicated different names for their illnesses. The “discussion” went out of hand with doubting every effort my family had taken to work on her cure, and it disgusted me. For the sake of my late Namboru, who would have liked me to hold back my temper if something like this had happened, I didn’t snap. I only gave that person a cold stare and said in my heart, how can a supposedly smart person be very stupid and misleading? 

I can believe that my late Namboru is now gone, and she has gone to the best place for her.  When I arrived at her home, it’s as if I saw my heart was taken out of my body and crushed to pieces, transcendentally. But before I left for the airport to go home, I cleaned the remaining nail polish she had on her cold toes and it dawned on me. What was once felt as a loss had changed into a gain. I couldn’t have thought about those insights if I hadn’t taken the time to mourn over her death. My heart was quickly restored and now it was filled with wisdom, understanding, and legacy that only she could have given to me.

Vielen Dank, Bou, you will always be missed.

Rumah

Apakah definisi rumah? Bertahun-tahun lalu rumah adalah rumah orang tuaku di kota Bandung, tempat aku lahir dan dibesarkan. Sejak 9 tahun lalu rumah adalah Cikarang, tempat suami dan anak-anak berada. Rumah bukan semata-mata bangunannya, tapi perasaan nyaman saat pulang.

Pematang Siantar dan Medan tidak pernah menjadi rumahku, walaupun kedua orang tuaku berasal dari sana dan masih banyak keluarga yang berdiam di sana. Waktu kabar Namboru meninggal datang di pukul 6.30 kemarin pagi, hanya satu hal yang terlintas di pikiranku.

Aku ingin pulang.

Aku ingin pulang ke Medan di Pulau Sumatera. Walaupun aku tidak punya ikatan emosional dengan kota dan pulau itu, aku ingin pulang ke rumah Namboru. Aku ingin pulang ke rumahmu seperti 17 tahun lalu, saat kau menerimaku untuk belajar di sana. Aku ingin melihat wajahmu lagi, aku ingin melepas Bou pergi.

Air mata tak terbendung, aku menangis berjam-jam. Dalam keegoisan kemanusiaanku, aku bersikap serakah. Ini bukan kenyataan, belum saatnya, belum cukup waktu, jangan pergi dulu. Dalam kekerdilan imanku, aku tahu kedaulatan Penciptaku yang melampaui langit dan bumi. Siapakah aku ini yang berusaha mengubah ketetapan-Nya?

Dalam hidupnya, Bou adalah teladan iman yang luar biasa. Bou selalu bilang, apapun yang terjadi di dalam hidupku, aku tahu Tuhan baik. Keramahan dan kasih sayangnya melampaui banyak sekat dan menyentuh hati banyak orang. Banyak sekali orang yang mencintainya, banyak sekali orang yang kehilangannya. Bahkan dalam keadaan paling sakit, Bou selalu bisa tersenyum, selalu bisa tertawa, selalu bisa menanyakan kabar orang yang mengunjunginya, selalu lebih memikirkan orang lain daripada dirinya sendiri. Dua belas tahun entah terlalu lama atau terlalu sebentar untuk menguji imannya, tapi pada akhir pertandingan kami bisa menyaksikan imannya kepada Yesus adalah iman yang murni seperti emas.

Imanlah yang memberi kita alasan kenapa kita ada di dunia, yang memberi kita kekuatan saat lintasan kehidupan terlalu berat, dan memberi kita rumah untuk kita tuju setelah nafas ini diambil. Imanlah yang membuat aku yakin Bou pulang ke tempat yang paling baik, ke sisi Allah Bapa. Ke sanalah aku dan kami semua yang percaya akan pulang. Ke rumah yang kekal, rumah yang tidak dimakan serangga dan ngengat, rumah tanpa penderitaan, rumah yang diciptakan hanya untuk memuji dan memuliakan nama Pencipta kami.

Air mataku sudah habis untuk melepas Bou pergi. Sejuta kenangan, beribu penyesalan akan waktu yang tidak cukup, akan kesempatan bertemu yang tidak akan ada lagi. Tidak akan ada lagi sentuhan di wajahku, belaian di rambutku, tepukan di punggungku  kala kita bertemu, untuk mengingatkanku untuk selalu semangat. “Rajin belajar, Nang. Jangan menyerah, buat Bapak dan Mama senang.” Nasihatnya di suatu hari di bulan Juli 17 tahun yang lalu masih terngiang-ngiang sampai sekarang. Aku hari ini karena nasihat dan dukungan Bou bertahun-tahun lalu. Setengah darahku sama dengan darahmu, dan darah itu tidak pernah berhenti berjuang sampai pertandingan itu selesai.

Tangisku pecah melihatmu kemarin sore, tangisku pecah lagi melihat Bapak datang untuk memelukmu terakhir kali siang ini. Namboru hasian, tante terbaik yang aku pernah punya. Selamat jalan pulang ke rumah kekal. Malam ini juga aku akan pulang ke rumahku dan bertemu keluargaku.

“Ika pulang dulu ya, Bou,” begitu bisikku di samping tubuhmu yang terbujur kaku.

Aku masih bisa membayangkan jelas raut wajahmu, nada suaramu, renyah tawamu saat kita akan berpisah di waktu-waktu yang lalu. “Iya, Nang. Hati-hati ya. Sehat-sehat kau. Sampai ketemu lagi.”

Ich habe dich sehr lieb, Namboru hasian, und ich vermisse dich sehr. Sampai ketemu lagi.

In memoriam

Riris Tobing

29 Februari 1963 – 29 Juli 2017

Review Drama Korea: Bride of The Water God

Nam Joo Hyuk dan Bride of Water God sepertinya jadi kata-kata yang paling sering di-Google dan dicari di Instagram (353 ribu sekian post) akhir-akhir ini oleh para pecinta K-drama. Setelah drama “My Secret Romance” dengan Sung Hoon berakhir, kami (#eaaaa) disuguhi drama baru Nam Joo Hyuk yang berjudul “Bride of Water God”. Dalam kurun waktu 1 tahun terakhir, NJH bermain dalam 3 drama yang sangat populer di Indonesia:

 

  1. Moonlovers Scarlet Heart: Ryeo (2016), sebagai 13th Prince Baek Ah (peran pembantu), saudara laki-laki terdekat dan sekutu dari Wang So/Gwangjong (Lee Joon Gi). Baek Ah adalah seorang musisi yang hatinya sangat perasa dan hancur waktu tunangannya bunuh diri. Walaupun rating drama ini rendah di Korea sana, drama ini sangat populer di Asia Tenggara. Scarlet Heart: Ryeo dijamin bakal bikin baper dan penasaran sama episode-episode selanjutnya. Ending-nya mengecewakan dan sama sedihnya dengan drama versi China-nya. Porsi tampil NJH mungkin cuma 10% dari keseluruhan drama, tapi kebeningannya cukup menangkap mata pemirsa, hehehe.
  2. Weightlifting Fairy Kim Bok Joo (2016), sebagai Jung Joon Hyung (salah satu pemeran utama yang akhirnya menjadi kekasih Kim Bok Joo, si fokus cerita). JJH adalah seorang perenang yang masih menjadi mahasiswa di sebuah universitas olah raga. Ealah, NJH di sini bener-bener boyfriend material deh (untuk ukuran anak kuliahan di umur awal 20-an ya). Manis, cakep, jahil, baik hati, suka menolong, ingin orang lain di sekitarnya bahagia, dan seterusnya. Drama ini dijamin bisa bikin nostalgia romantika dan drama cinta masa kuliah. Setidaknya untuk saya.
  3. Bride of Water God (2017), sebagai Ha Baek (ini pemeran utama beneran). Drama ini baru 8 episode (yang ada subtitle 7 episode) dari total 16 episode. Sejauh ini, NJH KARISMATIK DAN COOL ABIS (perhatikan huruf capital, bold, dan underline ya. Ini menandakan saya punya dongsaeng idola baru, hihi). Beda banget dengan karakter-karakter dia sebelumnya yang easy going dan ceria, NJH sebagai Ha Baek sangat sangat serius. Kadang saya kira dia sedang sekuat tenaga menahan ketawa karena pipinya sering kedutan sendiri lho (coba perhatikan deh). NJH banyak dikritik di drama ini karena katanya aktingnya ga bagus dan ekspresinya terlalu monoton. Please deh ah, nonton drama pada akhirnya kan soal selera. Sama halnya dengan makan di restoran, ada masakan yang kamu bilang ga enak tapi kata orang lain enak, begitu pula sebaliknya. Sampai saat ini saya masih semangat mengikuti cerita Ha Baek hanya karena NJH ada di situ (maafkan kebiasanku). Buat saya pribadi, kalau saya ga suka aktor/aktrisnya dijamin saya ga bakalan nonton drama mereka, contoh: saya ga suka Ji Chang Wook dan Yoona dan ga akan nonton drama yang ada mereka di dalamnya.

 

Soal jalan cerita, saya kira BOTWG bakal kurang-lebih sama dengan manhwa-nya, tentang Dewa Air Ha Baek yang meminta seorang gadis cantik dikorbankan untuk menjadi mempelainya supaya suatu desa berhenti mengalami kekeringan. Ternyata plotnya bisa dibilang beda banget. Di drama ini Ha Baek turun ke dunia manusia untuk mendapatkan batu dewa untuk mengukuhkan posisi dia sebagai kaisar dunia dewa (di manhwa Ha Baek adalah dewa air dan posisi kaisar dipegang Shin Nong, musuh dari ayah Ha Baek). So Ah yang menurut manhwa jadi gadis desa yang dikorbankan, digantikan dengan So Ah seorang psikiater, keturunan dari keluarga yang sudah berjanji akan menjadi pelayan dewa. Saya suka sekali karakter So Ah ini. Awalnya saya pesimis waktu lihat profil Shin Se Kyung di Wikipedia, bisa ga ya memerankan karakter perempuan dan dokter yang berbeda dengan dokter-dokter lain di banyak drama dalam setahun terakhir (DOTS, Doctors, dan W: Two Worlds). Ternyata oh ternyata So Ah bisa mencuri perhatian dan memikat saya dengan semua ketidaksempurnaannya. Dia judes, labil, pemalu, baik hati, dan suka menolong (walau suka pura-pura ga peduli). Sikap salah tingkahnya waktu dia mulai suka sama Ha Baek bener-bener bikin saya menghayati perasaan dia. Saya ikutan sedih dan nangis lho waktu dia ngerasa putus asa karena beban hidupnya; saya juga ikutan bahagia waktu dia kira dia bisa bersandar pada Ha Baek. Semoga ritme perkembangan perasaan antara Ha Baek dan So Ah tidak terlalu cepat ya; saya sangat suka situasi malu-malu kucing orang yang lagi PDKT. Memang sih ada kesedihan yang membayangi karena Ha Baek kan dewa, umurnya sudah 3.000 tahun (and still counting). Kalaupun akhirnya dia jadi sama So Ah, So Ah akan meninggal duluan karena kefanaan manusia yang bukan dewa. Jadi penasaran kan gimana akhirnya 2 orang ini bisa dijadikan satu oleh PD-nim? Heuheu.

Krystal sebagai Moo Ra kurang pas, mungkin karena pakaian dan dandanannya yang kayak tante-tante. Saya jauh lebih suka dia waktu jadi Lee Bo Na di Heirs (2013), jutek dan gemesin. Saya ga tahu dan ga pengen tahu siapa yang jadi Bi Ryeom, karena dibandingkan NJH pesonanya masih kalah jauh. Karakter yang bakal menyimpan banyak kejutan ternyata CEO Shin (Lim Ju Hwan, dia main juga di Uncontrollably Fond (2016) barengan Kim Woo Bin). Di episode 7 menjelang 8 baru ketahuan kalau dia demigod (makhluk setengah dewa dan setengah manusia). Apakah dia benar-benar baik seperti tampang luarnya, apakah dia akan mencelakakan So Ah, apakah dia akan berusaha merebut So Ah dari Ha Baek? Ih jadi pengen drama ini cepet selesai, terus nontonnya diulang lagi dari episode 1, hehe. Dan kali ini saya akan nonton serius, ga lagi sambil nyetrika seperti nonton drama-drama lain. Kenapa? Karena ada Nam Joo Hyuk di situ, wkwk.

Seperti kebanyakan drama Korea akhir-akhir ini, BOTWG juga disponsori oleh pemerintah Korea dan brand-brand ternama. Empat brand yang saya spot di sini adalah HP Samsung S8 (berulang-ulang disorot khusus oleh kamera, bok), mobil Hyundai, minuman kemasan sari buah sesuatu, dan salah satu operator taxi di Seoul. Memang sebuah drama perlu sponsor untuk menjamin produksinya berjalan lancar, tapi eksposur berlebihan sebuah brand di sepanjang jalan cerita bisa jadi menjengkelkan. Contohnya: HP Samsung S8 warna biru metalik yang berulang kali di-close up oleh kamera mulai dari episode 1 sampai dengan 7. Kalau mobil Hyundai, eksposur brand-nya waktu So Ah duduk di belakang setir dan kamera menyoroti dia dari depan mobil. Hal ini kurang lebih sama dengan mobil Hyundai Tucson yang dikendarai Kapten Yoo Si Jin (Song Joong Ki) di DOTS. Penjualan mobil Hyundai dikabarkan meningkat tajam setelah brand-nya diiklankan dengan “tidak sengaja” oleh SJK. Minuman sari buah yang katanya disukai oleh Ha Baek dapat 1 kali close up di episode 4, dan 1 kali ad lip waktu Ha Baek jelas-jelas minta minuman itu ke Nam Soo Ri. Mungkin eksposurnya akan bertambah di 8 episode mendatang.

Bisa ga sih iklannya ga terlalu obvious? Waktu di Scarlet Heart, NJH ga ngiklan apa-apa. Ya iyalah kan drama historical (sageuk) yang ga ada akses ke barang-barang modern masa kini. Di Weighlifting Fairy, ga ada eksposur brand yang terang-terangan tapi sweater, jeans, dan jaket seperti yang dipakai NJH dan Lee Sung Kyung mulai menjadi trend yang mungkin nih tidak sengaja tercipta. Buktinya apa? Banyak akun di Instagram yang menawarkan pakaian dengan brand/tampilan yang sama persis/mendekati yang dipakai para aktor di WFKBJ. Saya sendiri sampai sekarang suka sekali dengan pakaian ala anak kuliah: kaos, jeans, sweater, jaket parasut, celana training, dan sneakers. So, I was totally sold dengan barang-barang yang diiklankan oleh aktor-aktor tersebut.

Oh ya, ga bisa dipungkiri kalau NJH bisa mempunyai wajah seperti sekarang dengan permak (ga jelas apakah murni make-up dan perawatan ataukah ada unsur operasi plastik juga). Kalau kita lihat foto dia waktu SMA, wah transformasinya jelas banget. Faktor utama sepertinya di perbaikan gigi yang bikin rahang NJH jadi lebih terbentuk. Alis dan bentuk matanya sama. Bisa dibilang permak yang dialami NJH masih minor dibandingkan Lee Min Ho. Coba bandingkan wajah LMH waktu di Boys Over Flowers (2009) dan Legend of The Blue Sea (2016). Bukan sulap, bukan sihir, bentuk hidung dan rahangnya udah berubah banyak. NJH sekarang berusia 23 tahun dan mulai naik daun. Dia sedikit mengingatkan saya pada Lee Min Ho yang mulai naik daun sejak usia 22 tahun karena memerankan Gu Jun Pyo di Boys Over Flowers. Rating dan kepopuleran sebuah drama dan aktor-aktor pemerannya memang tidak bisa diprediksi. Namun sepertinya drama dengan unsur fantasi dan air masih akan menjadi tren sampai tahun depan, karena episode 1 BOTWG sangat mengingatkan saya pada episode 1 Scarlet Heart: Ryeo waktu Hae Soo tenggelam di danau dan terlempar ke masa lalu, dan episode 1 Legend of The Blue Sea waktu Sim Cheong sebagai mermaid mulai ditampilkan.

Semoga karir Nam Joo Hyuk juga secemerlang karir para seniornya ya. Fighting, uri dongsaeng!