Ah Sudahlah

Sosmed dalam enam bulan terakhir udah kayak medan perang dunia gara-gara pilkada. Ga di FB, IG, dan Twitter semua orang siap dengan amunisinya masing-masing. Cara nembaknya ga melulu frontal pake pistol dan tangan kosong doang lho, cara halus nyindir-nyinyir-nyenggol-nyelekit dikit kayak orang main ketapel juga dipake. Ayolah, manusia-manusia, kapankah semua ini akan berakhir? Naga-naganya ga akan pernah berakhir selama pilkada tetap ada di negara yang rakyatnya belum dewasa ini.

Aura panas sosmed bikin saya jadi melek ciri khas manusia sebagai makhluk sosial dan makhluk individu:

  1. Beraninya kalo rame-rame

Kalau berpendapat sendirian kayaknya ga akan didengar banyak orang (kalau memang bertujuan buat dapet banyak pendengar di sosmed), tapi kalau pendapatnya di-like, di-comment, di-share ratusan sampai ribuan orang? Tiba-tiba pendapat itu jadi trend, jadi fenomena, jadi patokan, dan bisa-bisa jadi kebenaran. Namanya juga pendapat, pasti ada relativitas terhadap pendapat lain. Kalau pendapatnya manut sama pendapat kebanyakan, tambah ngumpul deh massa pendukungnya. Kalau pendapatnya bertentangan sama pendapat kebanyakan, yang ngumpul para pembencinya. Di era sosmed ini tiba-tiba semua orang ngerasa perlu ngomong dan minta didengar, everybody thinks the world owns them something (susah nerjemahin frase ini – red). Sosmed jadi alat propaganda, alat pembentuk pendapat dan kebenaran, dan orang-orang yang kurang bijak mencerna informasi dengan lugunya membantu membentuk kebenaran yang belum tentu benar. Saya suka tagline dari salah satu media online besar di Indonesia: Saring sebelum Sharing. Hari gini jempol kita harimau kita. Salah berpendapat, salah menyebarkan informasi yang salah, bisa berabe semua. Jadi saringlah dulu sebelum kita mengiyakan atau membagikannya. Kadang kita merasa lebih aman kalau ada pendapat lain yang menjustifikasi/mendukung kita, tapi menurut saya kita harus berani berpendapat saat sendiri ataupun rame-rame. Dan karena pendapat sekarang ini kebanyakan dituangkan dalam bentuk tulisan, pikirkanlah baik-baik sebelum menulis. Menulis mengabadikan pikiran kita dalam jangka panjang; dia adalah cermin pribadi kita dan warisan kita untuk orang-orang dalam hidup kita sekarang dan yang akan datang. Dan …, jangan generalisasi, apalagi bawa-bawa massa di belakangmu untuk menguatkan pendapatmu yang pukul rata itu. Please dong ah, di mana-mana ada orang jahat-orang baik, orang judes-orang ramah, orang tulus-orang licik. Satu orang nyolot, masak kamu katain semua suku bangsa dia nyolot? Emangnya dia bisa milih dilahirkan di keluarga yang gimana dan dari suku bangsa apa? Terus gimana dengan orang yang orang tuanya berasal dari dua (atau bahkan lebih) suku bangsa, mau ngatain sifat setiap suku bangsa yang ada di darahnya? Contoh: dasar orang XX-YY emang bla-bla-bla. Bah, mau ngejek, mau menghakimi aja ribet banget. Sama seperti kematian, kelahiran juga kadang bukan suatu pilihan. Kalau soal agama? Agama itu pilihan tiap individu. Tapi kembali lagi ke kenyataan bahwa pada dasarnya manusia terbagi ke dalam dua kutub, jadi ga relevan mengeneralisir satu kelompok agama karena kelakuan salah seorang anggotanya.

 

  1. Ga mau move on

Kenapa manusia ga mau move on (bukan ga bisa lho ya, tapi ga mau aja)? Karena manusia sulit mengucapkan perpisahan.Lihat aja deh fenomena mulai dari kita kecil. Kalau kita naik kelas dan ga sekelas lagi sama BFF kita, pasti deh kita sedih, mewek, pengennya sekelas lagi, masih terpaku aja sama masa lalu yang menyenangkan saat kita dulu masih sekelas. Apalagi kalau ada peristiwa pindah ke sekolah baru, mulai dari usia SD tuh rasanya kiamat kalau tiba-tiba dicabut dari pertemanan yang sudah berakar di sekolah lama, dan dilempar ke lautan pertemanan baru di sekolah baru. Peristiwa meninggalnya orang yang kita kenal/kasihi memberikan pukulan paling berat, karena dengan kematian tidak ada lagi kesempatan untuk bertemu dan berhubungan kembali. Hmm, peristiwa apa lagi ya yang menunjukkan sifat manusia yang sulit berpisah? Oh iya,  saat manusia putus cinta. Ini jenis kiamat kedua. Waktu masih pacaran sama si mantan, rasanya dunia indah, ga ada masalah. Pas mulai cek-cok dan memutuskan berpisah, mulai deh fase mengenang-mengenang dan membanding-bandingkan yang lama dengan yang baru. Dulu dengan si dia rasanya selalu lebih mudah. Lebih mudah atau kitanya aja yang malas untuk memulai baru? Memang sulit melupakan mantan, entah itu mantan pasangan atau mantan jabatan, sehingga kegalauan dan kegelisahannya bisa berlarut-larut. Jadi kenapa manusia sulit beranjak dari hasil pilkada yang udah notabene jadi fakta tak terbantahkan? Karena manusia sulit berpisah dengan rasa nyaman yang dia dapat waktu mendukung salah satu paslon. Kenapa bisa nyaman? Karena ada kesamaan: 1) asal-usul, 2) visi-misi, 3) program, 4) dan daftar ini tak berkesudahan. Jadi kalau si paslon tidak terpilih dan tujuan bersamanya tidak jadi tercapai, berarti kita harus berpisah juga dong dengan idealisme yang kita pikir bisa diwujudkan oleh si paslon. Ini yang membuat banyak orang tidak siap, apalagi kalo sentimen itu dibagi dengan banyak orang lain di berbagai kesempatan. Wah tambah sulit deh untuk mengucapkan cukup kepada satu fase singkat dalam hidup yang panjang ini, dan melanjutkan ke fase berikutnya tanpa berpaling lagi. Buat apa terus menengok ke belakang dan mengenang? Masa itu sudah lewat, waktu tidak bisa diputar kembali, sekarang waktunya melanjutkan hidup. Fakta dan kenyataan di depan ga bisa diubah, tapi sikap kita bisa diubah. Ayo angkat tangan sama-sama dan katakan bye bye bye, kita pisah di sini ya, kepada hal-hal yang kita pikir seharusnya terwujud tapi ternyata tidak bisa diwujudkan.

Yah, niat cuma nulis beberapa ratus kata aja, tiba-tiba jadi banyak. Ah sudahlah, yang penting saya lega karena saya sudah menuangkan uneg-uneg saya. Ayo bikin sosmed menyenangkan lagi; ayo posting foto-foto makan pagi-siang-malammu, foto anak dan bayimu, foto liburanmu, sharing resep, atau bahkan gosip artis (terutama artis Korea, hiahahaha #bias).

Let’s stop this madness, friends. I wrote this because I care about our future, not our past. Let’s nurture our sanity.

People’s Party

The dead body had a peculiar mark on her right arm, a colon with color darker than her skin. Jack saw it the second he laid his eyes on the lifeless body sprawled on the floor. The young detective could tell that it wasn’t a tattoo; it was more like a wound that hadn’t completely healed yet. The arm with the colon mark was facing upward as the dead woman lay on her stomach. Her long hair was spread on her back like silk. The pitch-black hair was spoiled by stream of blood that hadn’t dried up yet. Jack squatted in front of the deceased. He tilted her head a little bit to get a better look at her face. The brown eyes were still wide open, staring in awe at what was coming at her, he supposed. The side of her mouth was filled with drool and blood. Jack reached out to close her eyes. In his opinion, a dead body should depart from this world in peace, and peace was found best when one’s sleeping, or seen as sleeping. The forensic came to Jack as he got up.

“Cause of death?”

“Blunt force trauma. This is the weapon used.” The forensic showed him an orange iron in his hand.

Jack gave him a squeamish look. “Are you kidding me? Was she also killed while ironing the clothes?”

His opponent grimaced. “Apparently so. It looks like she was doing the house chores when they got into the argument. The daughters were ready to testify because they witnessed everything.”

“They did? And the suspect is?”

“Her husband. He has admitted to the crime and can’t seem to stop sobbing over there.” The forensic pointed at the far corner of the small living room where they were standing. Jim and the forensic stared at their suspect. The fact that it was done by someone who might have been the closest to the victim made it even more horrendous.

Jack walked to the husband, over many things scattered on the floor. It was a tiny house, crammed with everything one could think of to fill in a house. There was only one living room adjoining to the kitchen, and he could see the two bedrooms the house had right after he entered the front door. The wall was painted beige and the furniture was all in shades of brown, adding gloom to the already suffocating atmosphere. The only chair in the room, a two-seat sofa, was placed against the wall and was full of piles of clothes and children books. An ironing table was placed between the sofa and the TV cabinet, and the victim’s body lay not far from it. The forensic was probably right; she was likely to be ironing the clothes when she was hit on the head. Jack went to his suspect and squatted in front of him.

The husband lifted up his head when he heard Jack coming. When he met Jack’s eyes, he started wailing, “I didn’t mean that to happen! She made me so mad. I didn’t mean to hit her; I didn’t mean to kill her.” He clutched and shook Jack’s shoulder, as if he was forcing Jack to believe him. “It was an accident; we were just talking and suddenly she’s on the floor with blood on her head. I haven’t been thinking straight; something must have gotten inside of me! What should I do now? What can I do now?” he cried out.

Jim took the hands off his shoulder and put him at arm’s length. “Calm down, Sir, calm down,” Jack snapped at him. “Tell me from the beginning what happened. Pull yourself together and give me the details.”

Tears seemed to fall continuously down the husband’s cheek. He was a big man, with bald head, strong hands and terrified eyes. Jack could see the possibility of his suspect unintentionally killed his wife with his bare hands. The husband was choking on his own tears and kept pleading Jack to let him go, to let his daughters go. He kept shaking his head feverishly, insisting that it was a pure incident. Jack listened to his rant attentively, trying to find some clues from what he said. At one point Jack raised his hand and told the suspect to be quiet. He asked, “What do you mean it was also your late wife’s fault? What did she do exactly?”

“She kept mocking the mayor candidate whom I supported!”

Jack frowned. “The mayor candidate? Are you talking about the recent election of the town’s mayor?”

“Yes! We supported different candidates and mine lost the election. She had been throwing insults at my candidate at how despicable he and his voters were, how he deserved to lose. She just wouldn’t stop!”

“So, you two had different political choices? How long had you been arguing over this?”

The husband shrugged and dried up his tears with the back of his hand. “I don’t know, perhaps a couple of months since the campaign started. I can never understand what qualities she saw in the mayor she supported. He is a fraud and a people pleaser, someone without character. My candidate is a much better person than him. He has better track records than her choice,” he complained.

Jack couldn’t believe what he just heard. From what he saw, the husband didn’t show even a slight remorse of what he had done. He just continued complaining about and criticizing the political choice of his dead wife. Jack raised his hand again, “So you hit her on the head with the iron she was holding.”

“It wasn’t like that!” the husband straightened up, his eyes were filled with petrifying fanaticism and confusion. He lowered down his voice, “It wasn’t exactly like that. She was ironing the clothes over there when I turned the TV on. There was this talk show on TV, inviting the spokespersons of the candidates who won and who lost. They were pointing fingers at each other and arguing about who was cheating during the election, who was more liked by the voters, and so on. We turned our full attention to the show, and we also voiced our own opinions every now and then about what might and should have happened. She made me upset with her arguments. I don’t remember when I snatched the iron she was holding in her hand and hit her head with it. When I looked down she was already on the floor and there was this pool of blood next to her ears. I didn’t mean it to happen! I just wanted her to be quiet!” The suspect was out of breath after his lengthy confession.

Jack was too dumbfounded to even say anything. He felt too sick in his guts to even try to draw conclusion from what his suspect was saying. “You’re saying that you killed your wife over a political choice, over people you aren’t even personally acquainted with? Over people who won’t give a damn about the future of your family, of your children, after we process you for the crime you committed?”

The husband bowed his head and whispered, “She shouldn’t have been saying those nasty things about my candidate. Okay, my candidate lost, her candidate won and will become the next mayor. But it’s not fair for him if he keeps being criticized. Everybody has flaws, don’t they? Why won’t everybody stop discussing about my candidate’s past mistakes? They should all move on.” After saying that, he started wailing again.

The young detective got up and walked to the house’s bathroom. He threw up everything he ate for dinner down the toilet. When he looked at himself in the mirror, he realized he was enraged with the suspect’s stupidity that had cost his wife’s life; that had made his children lose their mother. It was all because of politics. It was because people exercised their rights to choose people over their own conscience and beliefs. The forensic came from behind Jack and startled him. He asked if Jack would like to interview the witnesses now. Jack nodded. Be right there, he said. He needed to regain his composure first.

Jack’s team had put the suspect’s daughters in the children bedroom. As he entered the room he saw the older of the two stroking the back of her younger sister, telling her to calm down. Both of them looked up and stared at him as he walked to the foot of the bed. He pulled a chair from the desk near the door and sit in front of them. A policewoman was there as well to provide psychological support. Jack took a deep breath. He hated what he was going to ask from his witnesses. “I’m sorry for the loss of your mother, and I’m really sorry for having to make you go through everything again by asking you questions,” he said to the older. “Please tell me what you saw. Everything. Enlighten me. I need to know what really happened.”

The older, who was about thirteen years old, stared at Jack with emptiness in her eyes. “We could hear what our father told you earlier in the living room. It was like that. That’s exactly what happened.”

“Their arguments …,” Jack trailed off, trying to find the right words to convey his question. “Have they been having them for a while?”

“Forever,” the younger, who was about ten years old, cut him. She looked at Jack with tears filling her eyes. “They never stopped talking about those candidates. They proudly talked about their strengths. They mocked the other’s weaknesses.”

“They had become emotionally invested,” the older added. “They thought the critics toward their candidates were actually directed at them. Mom saw dad’s candidate’s flaws as dad’s own flaws, and vice versa. We’ve heard nothing but insults, mockeries, and critics thrown at the candidates and at each other. We grew very tired of them.”

“Were you there when your dad hit your mom with the iron?”

The younger nodded. “We were sitting on the floor, doing our homework. We could hear their voices above the voices from the TV. We didn’t quite follow what’s being talked about on TV, but our parents suddenly started screaming and yelling at each other. My sister took me in her arms when dad sprang toward our mom and snatched the iron she was holding.”

“It was only one hit,” the older said with hoarse voice. “I closed my sister’s eyes. I didn’t want her to see how dad hurt our mom.” She started crying again. “Dad only hit her once and then she fell. The blood was too much; everything was too much. It shouldn’t be like that. Dad and mom were wrong to get into politics. Those people are just like other people, some good and some bad. Why did our parents have to argue and have differences over them? Those people are not important to us; they have nothing to do with us. And now they made us lose our parents.” She embraced her younger sister and wept.

The younger looked at Jack in the eyes and said, “Our parents loved those people more than they loved us. They’ve been on their toes for months, ready to attack or to defend their candidates. Mom and dad didn’t care when they yelled and screamed in front of us. I don’t understand why this is happening, but I wonder how the mayor will help us.”

“We won’t receive any help from the mayor or his people,” the older said bitterly. “Why would we after what they did to our family?”

Jack was out of words. He got up and left the room, ready to throw up again this nauseating feeling that’s eating at him. He clenched his fists and leaned on the jamb of the bathroom door. He thought that the reason for the crime committed was as ridiculous as someone telling him that the sun could rise from the west. It was unlikely to happen, but it happened. Someone was already killed, and another person would be sent to prison. His heart broke for the children who got traumatized by the whole ordeal. He cleared his throat when he heard someone approaching him.

“Are you done with the interview?” the forensic asked him.

Jack nodded, “Yes, for now. I didn’t have the heart to continue.”

The forensic pursed his lips. “I know what you mean. We’ll be transporting the body soon. Be prepared, reporters are coming.”

“Why would they?” Jim asked curiously.

“Someone has leaked to the media that the murder was triggered by the recent mayor’s election. They’ll be coming at this crime scene like packs of hungry wolves.”

“It won’t do the children any good,” Jack murmured.

“I agree with you. But I wasn’t surprised when I read the news of this crime on internet already.”

“Seriously? Did the internet reporters come here before us, or what?” Jim raised his voice. He always saw the media as a weak and disturbing link in his and his team’s effort to solve crime and decrease crime rate.

“Maybe it’s one of the neighbors. You know how it is these days; anybody with camera-equipped cell phone can appoint themselves as reporter, regardless how accurate the information they’re reporting about.” The forensic took a look at where the body was found and at the whole house. “They’re not rich people. What good would it do them to get themselves involved in politics up to this rate? A crime happened and there are victims, innocent children, for goodness sake. What a shame.”

“Maybe they dreamed of making a change by supporting certain candidate,” Jack muttered. “But they took it too far, too personally, at the cost of their family. The suspect might have had anger issue before this, considering the facts that he was able to kill his wife with one blow, and didn’t seem guilty at all about it.”

“Noted,” said the forensics. “Gosh, every time I turn my phone on I see people slaughtering each other on social media over their political choices. And in real life, I see real body sprawled on the floor because she didn’t know how to hold back her political opinion and angered her temperamental husband. This is a nightmare. Election is supposed to be a party, people’s party to celebrate people’s freedom of speech, and a party which is filled with contestation of ideas to make this world a better place.”

“Party, my ass. From what I see, political election, and what comes before and after it, provides an arena for people to direct their dislike toward people who are different from them. Everybody thinks the world owes them something; everybody needs to say something and to be heard; everybody has to vent out their emotions. Likewise, in social media and real life. Election is not a party to celebrate democracy anymore. And the ultimate power never belongs to the people; it belongs to a group who has the most money and influence in our society.”

They stopped talking when they heard the ambulance siren stop outside of the house. Jack watched as his partners put the handcuff on the husband’s hands, and as the policewoman led the daughters to one of the police cars lining outside. Jack murmured, “Stupid and unprepared people just take everything in without thinking, and change the whole democracy party into their own killing spree. This isn’t people’s party at all.”

* * *

RANDOMNESS INSIDE MY HEAD: Book Profile

Randomness Inside My Head is the first book from Rijo Tobing, an indie author based in Cikarang.

It is a collection of twelve short stories written in English published in October 2016, with themes ranging from love, family dynamics, and life in general.

Readers will join unexpected journeys in the train of thoughts of the author.

As random as the stories may seem, they have underlying spirits that are familiar to human kind since the beginning of time.

As cited from one of the readers, the women in this book are loving, independent, and decisive. Brave enough to admit their feelings, strong enough to provide support when they themselves are lacking, wise enough to notice the defeat and to walk forward without looking back. (Sandra Soetanto – Finance Professional)

 

EXCERPT FROM ONE OF THE STORIES:

His name was Ali and his life was pretty ordinary. At the moment, he was working in Datuk Lo’s shop and he slept at its terrace every night. One day when he just had dinner, a crash happened just in front of him. Two motorbikes and the men driving them fell on the sidewalk. People started to gather and watch the men argue and fight. They got impatient after a while. The motorbikes were put aside and Ali watched them with wonder.

He never rode a motorbike before, but he had seen people riding it all the time. Without thinking Ali jumped onto the red motorbike and sped up through the busy streets and the traffic jam. He directed the motorbike towards the parking lot of a shopping mall, while the people and the police were chasing after him. Their shouts sounded like roaring thunder in his ears.

As random as the crash, Ali’s decision to steal the motorbike made a turn in his life. Would the crowd catch him, or would he get away with the first crime he ever committed?

“Reading this book is like taking a journey, an imagination one.”

— Helda Manuhutu, HR Professional

 

Enjoy this book on a rainy day with a cup of coffee.

The Tug of Date

He turned to face her. “Yes?”

“What time do you get off work?”

“Why?”

“Dinner at my place. On me,” she said under her breath.

He couldn’t quite hide his smile. “Is it a date?”

“It’s a token of gratitude,” she corrected him. “Are you in or not?”

“I’ll be back at seven.”

“I don’t cook.”

He shrugged, “I don’t mind takeaways.”

 

* * *

 

“Are you sure you’re going to be okay?”

“I am. Besides, your family is waiting for you.”

“I’ll be calling you every five minutes.”

She chuckled, “Don’t. I don’t want to stare at my phone all the time, waiting for your text and call.”

“I did that when we were away from each other the last time.”

She shot him a wide grin. “I know. I did that, too.”

“I should have dropped the phone and flown to where you were,” he added.

“So, why didn’t you?”

 

#afterrandomnessinsidemyhead #thetugofdate #newnovel #englishnovel #indieauthors #jakarta #indonesia #indonesianwriter #indonesianwriters #indonesianwriteronig

 

 

 

 

 

Almamatermu Adalah Kamu

*) Gambar di atas diambil dari sini: https://www.theodysseyonline.com.

Kenapa saya pilih gambar ini? Karena Ryan Gosling tetap kelihatan cakep walau lagi pasang tampang kesal, dan gambar ini bikin saya pengen tanya: what do you REALLY want? ke orang yang jadi inspirasi untuk posting ini. 

Sambil ngantri beli tiket buat nonton FF8 (yang berujung dengan ga kebagian tiket dan balik pulang), saya buka link di FB temannya teman yang isinya tulisan seorang pendukung paslon di pilkada Gubernur DKI, tentang siapa yang mesti dipilih untuk meredakan konflik antar agama. Saya baca dengan serius, kening berkerut banyak, sedikit trenyuh di bagian awal waktu dia membahas sedikit latar belakang keluarganya yang punya issue dengan persatuan. Di bagian tengah saya lihat info kalau saya satu almamater dengan dia. Sampai di bagian akhir, saya jadi setuju dengan orang-orang yang menyayangkan sikapnya yang tidak punya sikap.

Baiklah, mari kita ngomongin topik yang sedikit menyerempet politik, topik yang sedang saya hindari karena memutus persahabatan dan membuat banyak orang jengah.

Masyarakat akan selalu melakukan generalisasi dan mempunyai stigma terhadap kelompok-kelompok yang ada di dalamnya, entah itu berdasarkan suku bangsa, agama, tempat tinggal, sekolah, pekerjaan, dan lain-lain. Apakah hal ini bisa dibenarkan? Tidak, apalagi di era keterbukaan seperti sekarang yang lebih mementingkan hasil kerja daripada latar belakang seseorang. Apakah hal ini wajar? Ya, wajar dan manusiawi, karena itulah manusia. Otaknya dibagi dua, kanan dan kiri. Bilik jantungnya juga demikian, bilik kanan dan kiri. Mustahil kalau seseorang tidak mengelompokkan hal-hal/orang-orang dalam kehidupannya menurut persepsi pribadinya.

Stigma sewajarnya ada dan sewajarnya juga dihilangkan karena itu tidak memberi nilai tambah bagi kehidupan yang lebih baik di bumi ini. Mudah sekali buat orang lain untuk menghakimi kita berdasarkan latar belakang kita, tanpa mempedulikan sisi lain yang baik dari diri kita. Contohnya:

  1. (+) Si itu ga mau minjemin aku duit. (-) Dia kan memang pelit, dasar orang [isi sendiri].
  2.  (+) Eh tau ga kalau si itu masuk penjara kemarin? (-) Wajar sih, habis tinggalnya di [isi sendiri], pasti bergaulnya sama preman.
  3. (+) Si itu masuk kuliah di jalan itu lho. (-) Udah sepantesnya, kan SMA-nya di [isi sendiri]. Dari SMA itu udah kayak naik kelas ke kampus itu. Malu sama teman-temannya kalau dia sendiri yang ga keterima.
  4. dan seterusnya. Daftar stigma sungguh tidak akan berkesudahan, Saudara-saudara.

Mudahkah menghilangkan stigma? Sama sekali tidak. Kita butuh tekad dan usaha keras untuk menghilangkan label yang kita sengaja/tidak sengaja tempelkan ke orang lain. Percuma mengharapkan orang lain menghilangkan stigma yang dia miliki terhadap orang di sekitarnya; usaha itu lebih baik dimulai dari diri sendiri dulu. Berhati-hatilah dalam membawa diri karena banyak label melekat dalam diri kita: suku ini, agama itu, lulusan sekolah X, rumahnya di kawasan Y, dan sebagainya, yang bisa dipakai untuk generalisasi yang tidak perlu.

Yang saya ingin soroti kali ini adalah soal menjaga nama baik almamater sekolah. Sejak SMP sampai kuliah (dan pertukaran pelajar) saya menempuh pendidikan di sekolah-sekolah dengan reputasi yang bagus. Terkenal karena kualitas pendidikannya, terkenal karena kualitas alumninya, terkenal karena sumbangsihnya buat masyarakat. Walaupun terkenal, alumni dari sekolah-sekolah itu juga mendapat label tertentu. Alumni dari Kampus X katanya terkenal sombong dan ga bisa diajak kerja sama. Alumni dari SMA Y katanya selalu merasa paling pintar. Stigma dan pelabelan kebanyakan disebar melalui mailing-list, sedikit sekali dengan disertai contoh konkret siapa yang melakukan dan peristiwa apa yang terjadi. Yang ada adalah generalisasi yang cenderung menakut-nakuti, apalagi kalau posting-nya ditulis sama Head Hunter. Wih, adik-adik kelas yang masih santai di kampus jadi ketakutan sendiri. Jangan-jangan orang melihat saya sok tahu, padahal saya memang tahu lebih; jangan-jangan orang melihat saya terlalu memaksa, padahal saya ingin tujuan pekerjaan ini tercapai; dan sederet ketakutan lain. Ketakutan-ketakutan ini tidak logis dan membuat orang terlalu mengkhawatirkan apa kata orang lain daripada menggunakan kekuatannya untuk bekerja lebih baik.

Stigma muncul secepat kilat kalau alumni dari sebuah almamater dengan reputasi bagus melakukan sesuatu yang tidak sebagus reputasi almamaternya, sesuatu yang tidak sesuai dengan yang orang harapkan. Contoh: alumni yang ditangkap karena korupsi, alumni yang dipenjara karena menyuap pejabat, alumni yang jadi sosok penyebar keresahan di media sosial. Wajar kalau orang-orang yang merasa tidak nyaman dengan sosok si alumni jadi bertanya, lulusan mana sih si itu? Terus kalau udah tahu lulusan dari sekolah mana, komentarnya merembet deh ke kualitas alumni. Kalau udah ada komentar miring gitu, yang kena bukan cuma orang terkait, tapi bisa semua alumni. Catet ya, SEMUA. Saya pernah mengalami ditanya: Pak X ditangkap karena menerima gratifikasi, dulu satu jurusan ga? Si penanya ga tahu kalau jumlah jurusan di kampus almamater saya ada banyak, dan warganya lebih banyak lagi. Yang dia tahu nama kampus saya dan si Pak X sama, dan sayang banget ternyata ada alumni kampus sebaik kampus kami yang masuk penjara.

Jadi kalau ada alumni yang jadi figur publik dan plin-plan sekali, hari ini ngomong A sorenya (bukan besoknya lho) ngomong B, detik ini mencaci-maki si X detik berikutnya mendukung si X, doyan banget memutar-balik fakta dan kenyataan, dan orang-orang tahu dia lulusan dari mana, kebayang kan apa kata orang soal almamaternya? Ga nyangka ternyata lulusan dari situ kualitasnya begitu. Padahal tidak semua figur publik yang pernah kuliah di kampus itu punya sikap plin-plan, tapi itulah kekuatan stigma dan generalisasi. Waktu stigma dan generalisasi masih mencengkeram masyarakat dan kehidupan kita, satu-satunya cara untuk mengurangi efek negatifnya adalah dengan berhati-hati dalam membawa diri.

Almamater kita adalah kita. Penilaian orang terhadap almamater kita terbentuk saat mereka melihat kita. Dan kita adalah cerminan almamater kita. Semua hal baik, membangun, dan berguna yang kita pelajari di almamater kita janganlah dibuang hanya untuk ambisi sesaat. Atau memang pada dasarnya dirimu tidak belajar apapun yang baik selama sekolah di situ. Kalau sudah begitu, kita mau bilang apa lagi.

Saya punya pertanyaan iseng buat dia-yang-tidak-usah-disebut-namanya:

Pertama, apakah dia-yang-tidak-usah-disebut-namanya berhasil jadi pemersatu 6 kelompok yang dia sebut ada di kampus almamater kami? Kalau ya, saya pengen tahu cara yang dia tempuh waktu dia masih sekolah di situ. Karena pada jaman saya, kelompok-kelompok itu ada tapi tidak pernah terjadi konflik, bahkan potensi konflik pun tidak ada. Kita tahu ada kotak-kotak dan tidak mempermasalahkannya. Hal yang wajar buat manusia mencari manusia lain yang serupa dengan dirinya dan membentuk kelompok.

Pertanyaan kedua adalah soal fakta ada anak dari daerah selain Bandung dan Jakarta yang juga kuliah di almamater kami. Nah, mereka ini masuk kelompok yang sok keren atau suka nyindir? Tolong penjelasannya dong, saya bingung.

Semua Orang Pakai Samsung

Minggu lalu saya nongkrong di kedai kopi dengan seorang teman orang Korea. Setelah lama ngobrol-ngobrol dia tanya apa saya bawa charger HP. Saya bilang enggak, tapi saya bawa power bank yang ada kabel untuk charging HP android. Tiba-tiba dia komentar, untung power bank-nya punya dua kabel untuk charging Iphone dan HP android jadi dia bisa pinjam. Dia juga bilang kalau semua orang bawa charger Samsung karena semua orang pakai Samsung. Saya cuma ketawa dan bilang, iya, semua orang Korea, tapi belum tentu semua orang Indonesia.

Kemarin senior saya di Taekwondo mau kirim foto-foto souvenir untuk persiapan festival Taekwondo di bulan Juli. Dia suruh saya nyalain Bluetooth karena dia mau kirim cukup banyak foto. Setelah beberapa lama foto tidak terkirim juga. Baru saya sadar kalau Bluetooth di Iphone dan HP android tidak compatible, jadi akhirnya foto-foto dikirim lewat Kakao Talk. Setelah foto terkirim semua, dia tiba-tiba tanya saya, kamu ga mau ganti HP? Semua orang pakai Samsung. Haha, saya ketawa lagi. Saya jawab, iya, semua orang Korea, tapi belum tentu semua orang Indonesia.

Semua teman saya di kelas Taekwondo memang pakai HP merk Samsung, mulai dari yang model sederhana sampai yang canggih dari seri S dan Note. Ada juga yang pakai Galaxy Tab entah seri berapa, yang kalau nelepon masih harus pakai speaker. Waktu saya tanya apa ga kepikiran pake merk lain, mereka semua bilang enggak. Samsung udah menyediakan banyak pilihan lengkap, mulai dari yang paling murah sampai yang paling mahal, dari yang cuma bisa dipake buat telepon dan SMS sampai yang lengkap dengan browser internet dan lain-lain. Mereka malah tanya balik kenapa saya pakai Iphone. Jawabannya simple, HP saya selalu dipilihkan dan dibelikan suami. Saya cukup kasih tahu dia kalau saya mau pakai HP untuk apa saja. Beberapa teman sempat mengutak-ngatik HP saya dan bilang kalau lebih user-friendly HP Samsung, apalagi kalau mau mengetik dengan bahasa Korea. Saya tunjukin kalau saya juga bisa install keyboard Hangeul. User-friendly atau enggak itu hanya soal kebiasaan, hehe.

Apa merk HP pertamamu? HP pertama saya adalah Siemens tipe C35, HP legendaris di jamannya, dengan SIM card Mentari. Saya masih ingat di tahun 2001 harga HP-nya 700 ribu dan nomornya 300 ribu. Di tahun itu juga saya menemukan ada fitur telepon 2 detik-an, yang sering banget saya pake dengan teman-teman di kampus, cuma untuk bilang “lu di mana?”, “gua di perpus”, “gua nyusul ya”, dan lain-lain. Hemat banget deh buat mahasiswa, haha. Dulu juga masih jamannya cuma bisa kirim SMS ke nomor dari operator yang sama. Jadi sering tuh tanya dan ditanya teman, eh nomor lu Simpati/Mentari/XL? Gua minta SMS dong buat ke nomor Simpati/Mentari/XL. Untung sekarang ga ada lagi ya sekat antar operator HP.

Setelah HP Siemens, saya pakai HP Nokia yang warnanya biru langit dan bentuknya kotak, lupa tipe apa. Setelah itu saya pernah dapet hadiah door prize dari kantor lama, HP merk Motorola warna hitam dan bentuknya persis seperti ulekan. Kedua HP ini KO di keypad dan batere setelah beberapa tahun dan digantikan oleh Sony Ericson warna merah menyala, yang dibeli waktu baru jadian dengan suami. HP Sony ini berjasa membuat langgeng komunikasi pacaran jarak jauh dengan suami selama 1.5 tahun antara Balikpapan-Surabaya-Cikarang. Setelah Sony, saya pakai Samsung seri Galaxy sampai akhirnya sekarang pakai Iphone. Saya bukan penggemar gadget, jadi kalau ditanya mau HP seperti apa jawabannya selalu sama: pokoknya HP bisa dipakai untuk telepon, SMS, dan sekarang ditambah untuk internetan. Hampir semua HP saya dipilihkan/dibelikan orang lain karena saya ga mau repot milih HP. Pilihan merk dan fitur HP ada terlalu banyak, padahal bentuknya relatif sama-sama aja. Lebar dan tipis seperti keramik kalau kata teman saya, Wisnu.

HP apa ya yang lebih bagus dari Iphone? Samsung ya gitu-gitu aja, membosankan. Setelah 5 kali pakai HP merk Samsung, saya ogah untuk pake lagi. Iphone juga ga banyak perubahan signifikan dari Iphone 5S ke 7 Plus, padahal harganya ga masuk akal. Saya sebenarnya tertarik dengan Motorola Moto Mods, yang katanya HP android tertipis dan bisa jadi: kamera (pakai lensa Carl Zeiss), boombox (dari JBL), proyektor, dan power bank! HP model palugada (apa lu mau gua ada) gini cocok banget dengan saya yang banyak maunya dan males ganti-ganti dari satu gadget ke gadget lain. Fitur kamera di HP harus OK dong, karena saya sering foto pakai HP. HP yang bisa dijadikan boombox juga menarik buat saya yang selalu streaming Spotify. Proyektor di Moto Mods bisa berguna buat presentasi saat meeting dan film layar tancep di mobil saat menghadapi kemacetan gila di Jakarta. Fitur power bank-nya sih yang paling berguna buat saya yang bisa charge HP 2-3 kali dalam sehari. Hmm, mungkin nanti saya ganti HP ke Moto Mods kalau Iphone yang sekarang sudah KO.

Ngomong-ngomong, apa merk HP-mu sekarang?

MOTO MODS:

Moto Mods

*) Foto di atas adalah foto Ti-phone yang bundling dengan IM3 di tahun 2008-2009. HP murah ini dijual di kasir Alfamart dan laris manis diborong para pekerja konstruksi/asisten rumah tangga.

 

Sepatu dan Hantu

Ada dua kali kejadian aneh dengan sepatu sekolah anak saya yang pertama. Setiap hari Selasa anak saya ini les musik di rumah gurunya. Setiap kali les dia melepas sepatu sekolahnya dan menaruhnya di teras rumah, persis di depan pintu masuk.

Kejadian pertama di bulan Februari. Terkadang saya menunggui dia selama les yang hanya 30 menit, tapi waktu itu saya tidak menunggui dia. Ketika saya jemput, kami semua kebingungan karena sepatunya hilang. Anak saya sudah mulai menangis karena merasa bersalah. Dia ngotot kalau sepatunya ditaruh di tempat biasa, di undakan di teras. Kami cari-cari ke seluruh bagian teras, carport, dan taman depan, tapi tidak ketemu juga. Iseng saya cari ke pekarangan rumah tetangga guru Mis, eh ternyata sepatu sekolahnya ada di situ, di sebelah tempat sampah besar di carport rumah tetangga. Asli kami semua kebingungan, karena rumah tetangga itu sudah bertahun-tahun kosong. Anak saya dan gurunya juga belajar di ruang depan jadi pasti sadar dan bisa melihat kalau ada orang iseng memindahkan sepatu dari teras rumah si guru ke rumah sebelah. Setelah kejadian itu saya suruh Misael menaruh sepatunya di dalam rumah saja, tepatnya di ruang tamu.

Selama sebulan setelah kejadian itu Mis menaruh sepatu sekolahnya di bawah kursi yang ada di ruang tamu. Akhir Maret kemarin saya menunggui dia les karena masih kepikiran dengan kejadian pertama. Karena ada pekerjaan, saya berdiri di depan pintu rumah sambil menelepon selama 30 menit sambil menunggui dia. Pintu rumahnya ada dua, pintu kayu dan pintu besi. Saya berdiri di luar pintu besi, sedangkan pintu kayunya dibuka. Selama saya berdiri menelepon di sana, tidak ada orang yang keluar dari/masuk ke dalam rumah. Jadi alangkah kagetnya kami karena ketika mau pulang Mis kembali sadar kalau sepatu sekolahnya hilang lagi! Benar-benar aneh. Kami mulai lagi pencarian ke seluruh pojok ruang tamu, ruang les (yang ada di sebelah ruang tamu), teras, carport, dan taman depan. Saya juga melipir ke rumah tetangga guru Mis untuk mencek apakah sepatunya ada di situ seperti kejadian terakhir. Ternyata tidak ada. Kami bingung luar biasa. Siapa atau apa sih yang suka banget sama sepatu sekolah Mis? Sepatunya biasa saja, warna hitam dengan garis biru, setinggi tumit, aromanya juga ga menusuk banget, haha. Pada hari itu, mobil saya yang biasanya diparkir di pinggir jalan saya masukkan ke dalam carport dengan posisi mundur karena tidak ada tamu lain. Saya cari juga di kolong dan sekitar mobil. Awalnya saya pikir apa itu garis biru di ban depan mobil saya. Waktu saya dekati, eh ternyata sepatu sekolah Mis ada di situ! Sepasang sepatu itu ada di sebelah ban depan mobil saya, dengan bagian depan sepatu menghadap ke jalan raya. Saya tanya Mis bagaimana posisi sepatunya waktu disimpan di dalam rumah. Kata dia, sepatu disimpan dengan bagian depan menghadap rumah, sewajarnya bila sepatu dilepas oleh pemiliknya di luar rumah. Lah ini sepatu Mis ditaruh oleh entah siapa/apa dengan posisi dibalik, seperti siap untuk dipakai keluar . Saya bingung sekaligus mangkel. Saya berdiri di depan pintu selama 30 menit dan tidak ada orang lain yang melewati pintunya. Jadi siapa atau apa gerangan yang memindahkan sepatu anak saya?

Di bulan April ini saya suruh Mis untuk menaruh sepatunya di dalam gudang rumah, bersebelahan dengan sepatu anggota keluarga gurunya. Minggu lalu waktu les pertama kali di bulan ini sih tidak ada kejadian aneh. Semoga hari ini tidak ada kejadian aneh juga.

 

Iblis itu nyata.

Setan itu ada.

Hantu itu gentayangan.

Dan saya paling ga suka diganggu di siang bolong.

 

PS: Foto di post ini adalah foto satu-satunya anak saya dengan sepatu miliknya, walau bukan dengan sepatu sekolah yang digemari makhluk lain itu.